Powered By Blogger

Rabu, 25 Desember 2019

KYAI NUR IMAM MLANGI

silsilah Kyai Nur Iman / RM. Sandeyo Mlangi

Sebelum mengupas tetentang Kyai Nur Iman Mlangi, penulis akan memaparkan secara singkat beberapa kejadian berdasarkan sejarah yang sangat erat kaitannya dengan riwayat Kyai Nur Iman Mlangi.
Pada tanggal 06 Juli 1704, Pangeran Puger yang mempunyai nama asli Raden Mas Drajat ( Beliau adalah putera dari Amangkurat I dengan isteri permaisuri keturunan Keluarga Kajoran ) diangkat menjadi raja bergelar Susuhunan Pakubuwana Senapati Ingalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa atau disingkat dengan Pakubuwana I. menurut catatan sejarah, Pangeran Puger juga pernah menyandang gelar sebagai Amangkurat II dikarenakan adanya pertentangan antara kakak pangeran Puger yang bernama Raden Mas Rahmat dengan Amangkurat I (Ayahanda mereka ), sehingga Pangeran Puger diangkat menjadi Putera Mahkota. Ketika terjadi pemberontakan Trunojoyo pada tahun 1677, Mas Rahmat menolak ditugasi ayahnya untuk mempertahankan kraton Mataram Kertosuro yang pada saat itu beribukota di Plered. Ia memilih mengungsi kearah Barat. Pangeran Puger kemudian tampil melaksanakan tugas itu sebagai bukti bahwa tidak semua keturunan Kajoran mendukung Trunojoyo. Dengan kejadian inilah kemudian Pangeran Puger menyandang gelar Amangkurat II. Namun , karena kekuatan pemberontak yang sangat besar akhirnya Pangeran Puger menyingkir ke Jenar. Di sana Beliau mendirikan kerajaan Purwakanda dan berpusat di Jenar. Ia mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Susuhunan Ingalaga. Setelah Trunojoyo kembali ke Kediri, Susuhunan Ingalaga segera merebut Plered dan mengusir anak buah Trunojoyo yang ditempatkan di kota itu.
Amangkurat I meninggal di daerah Tegalwangi / Tegalarum. Raden Mas Rahmat menjadi Raja tanpa Tahta dengan Gelar Amangkurat II. Hal Ini disebabkan karena Plered sebagai ibukota Mataram saat itu diduduki dan dipertahankan oleh Pangeran Puger ( Amangkurat II ) yang lebih memilih mempertahankan Plered daripada mengungsi.
Amangkurat II Raden Mas Rahmat kemudian memilih membangun Kraton baru dengan nama Kartosuro pada bulan September 1680. Ia kemudian memanggil Susuhunan Ingalaga / Amagkurat II Pangeran Puger untuk bergabung dengannya, akan tetapi oleh Pangeran Puger ditolak, sehingga terjadilah perang saudara. Pada tanggasl 28 November 1681.
Susuhunan Ingalaga Amangkurat II Pangeran Puger menyerah kepada Jacob Couper, pemimpin pasukan VOC, yang membantu Amangkurat II Raden Mas Rahmat. Susuhunan Ingalaga kemudian kembali bergelar Pangeran Puger dan RM Rahmat bergelar Amangkurat II. Berdasar peristiwa inilah Kyai Nur Iman Mlangi kadang juga disebut sebagai Amangkurat IV, akan tetapi bukan Amangkurat Jawa, karena Amangkurat Jawa yang ada dalam sejarah adalah RM. Suryo Putro ( putra Pengeran Puger/ Ayah Kyai Nur Iman Mlangi ).
Antara Amangkurat II RM. Rahmat dan Pangeran Puger memiliki perbedaan sikap yang sangat mencolok. Amangkurat II cenderung bersifat lemah hati dan tidak teguh pendirian, sedangkan Pangeran Puger bersifat sangat tegas. Maka gelar Amangkurat II pada saat itu seperti simbol belaka, karena yang lebih banyak menjalankan roda pemerintahan saat itu adalah Pangeran Puger yang memang ditunjuk sebagai tangan kanan Amangkurat II RM. Rahmat.
Pangeran Puger wafat pada tahun 1719.
Salah satu putera Pangeran Puger adalah RM. Suryo Putro. Dikisahkan ia meninggalkan kraton Mataram menuju ke arah timur / brang wetan, tepatnya sampai di Pondok Pesantren Gedangan Surabaya yang pada saat itu diasuh oleh Kyai Abdullah Muhsin. Hal ini dikarenakan adanya perebutan tahta dan perselisihan antar saudara di kalangan istana yang merupakan ulah adu domba Belanda. RM. Suryo Putro kemudian menjadi santri disana dengan berganti nama M. Ihsan. Pada suatu saat tepatnya dalam kegiatan rutin selapanan ( 35 hari sekali ) yang diadakan di ponpes tersebut, diadakan pengajian yang tanpa disangka dihadiri oleh Adipati Wironegoro ( ini adalah gelar anugrah yang diberikan Amangkurat II kepada Untung Suropati yang ikut membantuh dalam pembunuhan Pimpinan Kompeni yang bernama Kapten Tack), M. Ihsan menjadi ketua santri dan ikut menghidangkan hidangan untuk para tamu yang hadir. Saat mondar mandir di depan Adipati tersebut, ia diamati oleh sang Adipati. Karena merasa bahwa adipati pernah bertemu sebelumnya dan yakin bahwa santri tersebut adalah seorang bangsawan, maka setelah pengajian selesai, sang adipati tidak langsung pulang tetapi malah menyuruh Kyai A. Muhsin untuk memanggil Santri M. Ihsan tersebut. Setelah bertemu dan bercakap- cakap akhirnya diketahuilah bahwa M. Ihsan memang seorang bangsawan. M. Ihsan dan Adipati akhirnya berpesan agar Kyai merahasiakan keberadaan M. Ihsan dan menganggap ia sebagai santri biasa agar tidak sampai ketahuan oleh keluarga kerajaan. Sebelum pulang, Adipati Wironegoro berpesan agar M. Ihsan sudi berkunjung ke kadipaten dengan menyamar.
Akhirnya pada waktu yang telah ditentukan M Ihsan bersama Kyai datang ke kadipaten dengan alasan akan menyampaikan pesan kepada adipati tersebut agar tetap merahasiakan keberadaannya kepada kelurga Kraton. Setelah beberapa waktu berjalan dan melalui pertimbangan yang matang, akhirnya diambillah kesepakatan antara Adipati, kyai A. Muhsin dan M. Ihsan untuk menikahkan M Ihsan dengan Putri Adipati tersebut yang bernama RA. Retno Susilowati. Setelah menikah, putri tersebut diboyonglah ke ponpes Gedangan.
Sementara itu, sepeninggal RM. Suryo Putro ternyata keadaan kerajaan semakin kacau hingga akhirnya terciumlah keberadaan M. Ihsan oleh keluarga Kraton. Sang Raja kemudian mengirim utusan untuk menjemput pulang M. Ihsan ke Mataram. Karena itu merupakan perintah Raja, maka M. Ihsan tidak berani menolak. Sebelum ia pulang ke kraton, ia menitipkan istrinya yang sedang hamil ke kyai A. Muhsin dan berpesan "Kelak jika anaknya lahir laki laki harap diberi nama RM. Sandeyo, tetapi jika perempuan, pemberian nama terserah Kyai". Kyai juga diminta mengasuhnya dan mendidiknya hingga mumpuni, karena kelak ia kan dijemput pulang ke kraton Mataram. Ternyata bayi yang lahir itu benar laki - laki dan kemudian oleh kyai diberi nama RM. Sandeyo, selain itu oleh Kyai bayi itu juga diberi nama M. Nur Iman.
Setibanya di kraton Mataram, RM. Suryo Putro langsung dinobatkan sebagai raja bergelar Amangkurat JAWA/ Amangkurat IV. Ia memerintah pada tahun 1719 - 1726. Sebelum Beliau meninggal, Beliau teringat pernah menitipkan istri pertamanya yang sedang hamil di ponpes Gedangan yang diasuh oleh Kyai Abdullah Muhsin, dan mungkin anak dalam kandungan itu telah lahir dan telah dewasa. Akhirnya Beliau mengutus utusan untuk menjemput pulang anak tersebut.
Seiring waktu berlalu Nur Iman / RM Sandeyo telah tumbuh dewasa dan telah menjadi pemuda yang mumpuni dalam ilmu agama dan lainnya, hingga pada suatu saat datang lah utusan tersebut dan meminta RM Sandeyo untuk pulang ke Mataram. Akhirnya M. nur Iman mau untuk pulang, akan tetapi Beliau tidak mau pulang bersama dengan utusan tersebut. setelah pamit pada Kyai Abdullah Muhsin dan mendengarkan semua pesan nasihat dari Kyai, maka RM. Sandeyo berangkat ke Mataram dengan ditemani dua sahabat dekatnya yang bernama Sanusi dan Tanmisani. Sesuai dengan nasihat Kyai, maka sepanjang perjalanannya mereka tanpa henti berdakwah menyebarkan ilmu agama dan mendirikan Ponpes, hingga perjalan sampai ke Mataram memakan waktu agak lama. Ponpes yang didirikan M. Nur Iman antara lain ponpes yang ada di sepanjang Ponorogo dan Pacitan. Kyai Abdullah Muhsin juga mempunyai keyakinan kuat bahwa kelak M. Nur Iman akan menjadi Ulama besar dan termasyhur.
Sesampainya di Kraton, M. Nur Iman langsung sungkem kepada Ayahhandanya ( Amangkurat Jawa / IV ) dan kemudian dikenalkan kepada semua kerabat kraton , juga adik - adiknya. Selain itu ia juga dianugerahi gelar KGHP. Kertosuro dan mendapat rumah kediaman di Sukowati.
Pada saat terjadinya perang saudara antara adik - adiknya yakni Pangeran Sambernyowo / RM. Said dan Pangeran Mangkubumi / RM. Sujono, juga dengan terjadinya huru - hara antara bangsa Tionghoa dengan kompeni Belanda yang terkenal dengan GEGER Pecinan, M. Nur Iman bersama sahabatnya memilih meninggalkan istana ke arah barat untuk mencari tempat yang akan mereka dirikan pesantren. Selain berdakwah, mereka juga menanamkan jiwa patriotisme melawan kompeni kepada para rakyat yang mereka temui. Perjalanan ke barat itu sampai pada daerah hutan. Disana kemudian beliau bersama kedua abdinya bertapa untuk meminta petunjuk yang akhirnya pada waktu duha beliau mendapat petunjuk tempat yang bercahaya dan berbau wangi. Setelah itu beliau kemudian menghentikan tapanya dan membuat selamatan berupa ingkung yang dicampur dengan nasi jagung. Setelah selamatan selesai, beliau kemudian mulai membabad hutan tersebut untuk dijadikan lahan yang akhirnya menjadi desa mlangi. Berasal dari kata melang - melang ( bercahaya ) dan wangi ( harum ) serta tempat untuk mengajar ( mulangi ) agama Islam. tempat bertapa beliau kini berada di antara 4 saka masjid mlangi. Kyai Nur Iman kemudian mulai berdakwah di sana. Suatu ketika beliau pergi ke daerah yang bernama Kulon Progo. kedatangannya diterima dengan senang hati oleh demang yang bernama Hadiwongso ( penguasa daerah Gegulu ), yang kemudian demang beserta keluarganya tersebut memeluk islam. Dengan sangat hormat demang tersebut memohon agar M. Nur Iman sudi menikah dengan putrinya. Akhirnya M. Nur Iman dinikahkan dengan putri nya yang bernama Mursalah, sedangkan kedua sahabatnya juga dinikahkan dengan putrinya yang lain yang bernama Maemunah ( menikah dengan Sanusi ) dan Romlah ( menikah dengan Tanmisani).
Perselisihan antar kedua saudara M.Nur Iman tersebut akhirnya berakhir dengan perjanjian di desa Giyanti pada tahun 1755, kemudian dikenal dengan perjanjian Giyanti yang isinya antara lain :
1. Kerajaan Mataram Kertosuro dibagi menjadi 2 bagian,
- dari Prambanan ke timur menjadi milik Susuhunan Pakubuwono III, beribukota di Surokarto
- dari Prambanan ke barat menjadi milik Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwana I, beribukota di Yogyakarta.
2. Pangeran Sambernyowo / RM. Said diberi kedudukan sebagai adipati dengan gelar Adipati Mangkunegara I dan diperbolehkan mendirikan sebuah Puro yang kemudian diberi nama Puro Mangkunegara.
Setelah peristiwa itu, keadaan kraton baru Jogjakarta masih belum aman. Kemudian atas permintaan dari banyak kerabat, akhirnya Kyai Nur Iman menjabat sebagai Raja I dengan gelar Hamengku Buwana I Yogyakarta. Hal ini untuk mengalap berkah dari beliau sebagai seorang ulama besar, semoga dengan perantara beliau Ketentraman segara tercapai. Setelah keadaan menjadi tenteram, Kyai Nur Iman kemudian kembali lagi ke mlangi dan diserahkannya Kraton Yogyakarta kepada adiknya ( pangeran mangkubumi ) dan bergelar Hamengku Buwana I.
Zaman Pemerintahan Hamengku Buwana I merupakan zaman keemasan Yogyakarta Hadiningrat. Setelah Hamengku Buwana I wafat, pemerintahan digantikan oleh putranya yan g bernama RM. Sundoro yang bergelar Hamengku Buwana II. Beliau sangat nasionalis dan rela berkorban untuk rakyatnya. Terlebih dalam pengembangan agama. hal ini terlihat dengan baiknya hubungan antara ulama dan umaro pada saat itu.
Pada masa pemerintahaan Hamengku Buwana II inilah Kyai Nur Iman Mlangi mengarahkan agar Raja membangun Empat Masjid besar untuk melengkapi dan mendampingi masjid yang sudah berdiri terlebih dahulu yaitu masjid yang berada di kampung Kauman , di samping kraton. Masjid yang akan dibangun tersebut disaranklan oleh Kyai Nur iman dibangun di empat arah dan diberi nama Masjid Patok Nagari. Keempat masjid tersebut adalah :
di sebelah Barat terletak di dusun Mlangi
di sebelah Timur terletak di desa Babadan
di sebelah Utara terletak di desa Ploso Kuning
Di sebelah Selatan terletak di desa Dongkelan.
Adapun pengurus masjid tersebut adalah putra - putra Kyai Nur Iman Mlangi yakni :
Masjid Ploso Kuning di urus oleh Kyai Mursodo
Masjid babadan diurus oleh kyai Ageng Karang Besari
Masjid Dongklelan diurus oleh Kyai Hasan Besari
Masjid Mlangi diurus oleh Kyai Nur Iman Mlangi sendiri
Masjid - masjid tersebut kemudian terkenal dengan Masjid Kagungan Dalem atau Masjid Kasultanan, dan pengurus takmir pada saat itu termasuk abdi dalem kraton.
Sesuai dengan Amanah Hamengku Buwana II, maka Hamengku Buwana III melakukan perlawanan kepada penjajah. Sikap patroitisme dan nasionalisme tersebut beliau wariskan kepada putranya yang bernama Kanjeng Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro dengan semangat tinggi dan keyakinan Jihad Fi sabillillah memerangi Belanda. Hal ini tercermin dari pakaian yang ia kenakan. Perang Diponegoro berlangsung pada tahun 1825 - 1830. Perang Diponegoro ini pun melibatkan anak cucu dari Mbah Kyai Nur Iman Mlangi. salahsatu putr a Kyai Nur Iman Mlangi yang gugur dalam perang ini bernama Kyai Salim. Beliau wafat di desa Ndimoyo. Selanjutnya beliau terkenal dengan sebutan Kyai Sahid.
Tipu daya licik Belanda akhirnya dapat mengakhiri perang Diponegoro. Pangeran Diponegoro tertangkap di Magelang dalam sabuah perundingan. Pengawal Pribadi Pangeran Diponegoro juga iku ditangkap saat itu. Ia bernama Kyai Hasan Besari yang merupakan putra dari Kyai Nur Iman Mlangi. Mereka kemudian diasingkan ke Menado.
Setelah Perang Diponegoro berakhir, kompeni berani menghadap Hamengku Buwana III. Kompeni membujuk dan memutar balikkan fakta kepada Sultan dengan mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro dan pengikutnya adalah pemberontak. hal ini membuat pengikut Pangeran Diponegoro yang masih tersisa termasuk para putra wayah Mbah Kyai Nur Iman Mlangi tidak berani kembali ke desanya karena takut ditangkap kompeni. Di mana tempat yang dianggap aman, disanalah mereka tinggal. Sehingga secara tidak langsung terjadilah penyebaran penduduk dan keturunan dari Kyai Nur Iman Mlangi yang tidak hanya tersebar di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah saja , tetapi juga menyebar hingga ke Jawa Barat dan Jawa Timur, bahkan ada yang di luar Jawa. Sementara itu Mbah Kyai Nur Iman memilih tinggal di desa Mlangi sampai akhir hayatnya. Kyai Nur Iman Mlangi dimakamkan di belakang masjid. Makam tersebut kemudian terkenal denan sebutan makan Pangeran Bei / Pesareyan Kagungan Dalem Kasultanan, sehingga gapura masuk Kompeks tersebut bercirikan Kraton.
Seperti makam para Auliya' dan Ulama besar yang lain, makam Mbah Kyai Nur Iman juga banyak dikunjungi peziarah baik rombongan maupun perorangan yang berasal dari luar daerah, bahkan ada yang berasal dari luar pulau Jawa.
Putra mbah Kyai Nur Iman Mlangi ada yang diangkat sebagai Bupati Kedu, Beliau bernama Kyai Taptojani. Ada juga yang diangkat sebagai penghulu Kraton Yogyakarta. Beliau bernama Kyai Nawawi.
Sampai saat ini di desa Mlangi berdiri beberapa Ponpes yaitu :
1. PP. Al Miftah yang diasuh oleh Kyai Sirrudin dan diteruskan oleh KH. Munahar
2. PP As Salafiyyah yang diasuh oleh Kyai Masduqi dan diteruskan oleh KH. Suja'i Masduqi
3. PP. Al Falahiyyah yang diasuh oleh KH. Zamrudin dan diteruskan oleh Nyai hj. Zamrudin
4. PP. Al Huda yang diasuh oleh KH. Muchtar Dawam
5. PP. Mlangi Timur yang diasuh oleh KH. Wafirudin dan diteruskan oleh Nyai Hj. Wafirudin
6. PP. Hujjatul Islam yang diasuh oleh KH. Qothrul Aziz
7. PP. As Salimiyyah yang diasuh oleh KH. Salimi
8. PP. An Nasyath yang diasuh oleh KH. Sami'an
9. PP. Ar Risalah yang diasuh oleh KH. Abdullah
10. PP. Hidayatul Mubtadin yang diasuh oleh KH. Nur Iman Muqim
Adapun Ponpes yang ada diluar Yogyakarta dan masih keturunan Mbah Kyai Nur Iman Mlangi adalah :
1. PP. Watu Congol Muntilan yang diasuh oleh KH. Ahmad Abdul Haq
2. PP. Tegalrejo Magelang yang diasuh oleh KH. Abdurrahman Khudlori
3. PP. Al Asy'ariyyah Kalibeber Wonosobo yang diasuh oleh KH. Muntaha
4. PP. Bambu runcing Parakan Temanggung yang diasuh oleh KH. Muhaiminan
5. PP. Secang Sempu Magelang yang diasuh oleh KH. Ismail Ali
6. PP. Nurul Iman Jambi yang diasuh oleh KH. Sohib dan Nyai Hj, Bahriyah
Karya Mbah Kyai Nur Iman Mlangi antara lain :
1. Kitab Taqwim ( Ringkasan Ilmu Nahwu )
2. Kitab Ilmu Sorof ( Ringkasan Ilmu Sorof )
Di museum Diponegoro Magelang juga terdapat peninggalan dari Pangeran Diponegoro berupa kitab yang selalu Beliau baca. Kitab tersebut adalah kitab karya Mbah Kyai Nur Iman Mlangi
Pada Tahun 1953 Masjid Mlangi diserahkan kepada rakyat dan diberi nama Masjid Jami' Mlangi. Serah terima dari Hamengku Buwana IX kepada masyarakat diwakili oleh alim ulama dan tokoh masyarakat, antara lain :
1. Kyai Sirudin
2. Kyai Masduki
3. M. Ngasim
Tradisi peninggalan Mbah Kyai Nur Iman Mlangi yang masih dilestarikan sampai saat ini antara lain :
1. Ziaroh / ngirim ahli kubur dengan membaca tahlil dan Al Quran, surat Al Ikhlas dan lain lain.
2. Membaca sholawat Tunjina ( untuk memohon keselamatan di dalam setiap hajatan )
3. Membaca sholawat Nariyah ( untuk memohon keselamatan pada hajatan seperti orang hamil dan lain lain )
4. Membaca kalimat Thoyyibah, tahlil Pitung Leksa ( Khususnya jika diperlukan untuk obat / tombo sapu jagad )
5. Manakib Abdulqodiran
6. Barjanji / Rodadan
7. Sholawatan / Kojan dan lain- lain.
Salahsatu murid Mbah Kyai Nur Iman Mlangi yang berhasil meneruskan perjuangannya di jawa timur adalah Kyai Abdul Karim ( salahsatu dari tiga orang pendiri pondok pesantren Lirboyo Kediri ), dimana salahseorang cucunya yakni Kyai Maksum ( Gus Maksum ) juga mewarisi kakeknya tidak hanya di dunia dakwah, melainkan juga di dunia pencaksilat Indonesia.
Untuk mengenang dan menghormati jasa Mbah Kyai Nur Iman Mlangi, para Alim Ulama dan tokoh masyarakat sepakat mengadakan khaul yang diselenggarakan setiap tahun pada bulan Suro / Muharram malam tanggal 15.
Silsilah Mataram Kertosuro ( PUSTAKA DARAH ) dan Kyai Ageng Mlangi
Brawijaya Terakhir ;
Bondan Gejawan ( Ki Ageng Tarub III );
Ki Ageng Getas Pandawa;
Ki Ageng Sela;
Ki Ageng Nis;
Kyai Ageng Pemanahan;
Panembahan Senopati;
Prabu Anyokrowati;
Prabu Sultan Agung Anyokrokusumo
Prabu Amangkurat I
Prabu Amangkurat II ( Pangeran Puger )
Prabu Amangkurat IV ( Amangkurat Jawa ) RM. Suryo Putro
RM Suryo Putro menurunkan
1. RM. Sandeyo ( Kyai Nur Iman Mlangi / KGP Angabehi Kertosuro )
2. KPA. Mangkunegoro I
3. KPA. Danupojo
4. RA. Pringgolojo
5. K. Susuhunan PB. II Surokarto
6. KPA. Pamot
7. KPA. Hadiwidjojo
8. KPA. Hadinegoro
9. K. Ratu Madunegoro
10. K. Sultan HB. I Ngajogjakarta
11. KP. Rogo Purboyo
12. KGPA. Panular
13. KGPA. Blitar
14. RA. Surodiningrat
15. KPA. Buminoto - Sultan Dandun Mertengsari - Adipati Setjoningrat - Panembahan Bintoro
16. KP. Singosari ( KP. Joko )
17. KGPA. Mataram
18. KGP. Martoseno
19. RA. Hendronoto
20. KGPA. Selarong
21. KGPA. Prang Uledono
22. KGPA. Buminoto
RM. sandeyo ( Kyai Nur Iman Mlangi ) mempunyai 5 orang istri yaitu :
1. Garwa Gegulu, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RM. Mursodo
2. RM. Nawawi
3. RM Syafangatun
4. RM. TAptojani - Kyai Kedu
5. RA. Cholifah / Kyai Mansyur
6. RA. Muhammad
7. RA. Nurfakih / Murfakiyyah
8. RA. Muso - Kyai Sragen
9. RM Chasan Bisri / Muhsin Besari
10. RA. Mursilah Ngabdul Karim
2. Garwa Surati, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RA Muhammad Soleh
2. RM Salim
3. RA. Jaelani
3. Garwa Kitung, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RA. Abutohir
2. RA. Mas Tumenggung
4. Garwa Bijanganten, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RA. Nurjamin
5. Garwa Putri Campa, dari istri ini beliau menurunkan ;
1. RM. Masyur Muchyidinirofingi ( Kyai Guru Loning )
1. KYAI GURU LUNING peputra :
saking garwa Puteri Pengulu Demak :
2. RM. Haji Abdurrahman Pengulu Demak
saking garwa Alang - alang Amba Purworejo :
1. RA. Nyai Haji Abdul Ghani Kauman Purworejo ( putra gawan )
2. RA. Nyai Haji Ishack Alang – alang Amba ( putra gawan )
3. Nyai Fatimah / Kyai Sayyid Taslim Tirip
4. RA. Jamilah ( Nyai Sangid ) Luning
5. RM. Haji Muhammad Nur Pengulu Landrat Purworejo
6. RM. Kyai Bustam Kemiri
saking garwa Puteri Patih Dipodirjo :
1. Haji Yusack al Hafidz ( putra gawan )
2. Palil ( putra gawan )
3. RM. Muhammad Zein guru Qurro Solotiyang Loano
4. RM. Kyai Mahmud Luning Kemiri
5. RA. Nyai Istad ( Kyai Abdurrohman Bedug Bagelen )
6. RM. Haji Soleh Kyai Luning Kemiri
saking garwa Puteri Lurah Kroyo Purworejo :
1. RM. Hamid Sucen Tritis Bayan Purworejo
saking garwa Puteri Kyai Soleh Qulhu Salaman Magelang :
1. RM. Haji Abdullah Mahlan Luning
PRA PUTRA WAYAH SAK TURUNIPUN KYAI GURU LUNING
RA. FATIMAH / KYAI SAYYID TASLIM TIRIP peputra :
1. Sayyid RM. Abdurrahman Kyai Tirip Gebang peputra : ( garwa kyai Sayyid R.Abudrrohman wonten kalih, ananging dereng dipun sumerepi asma – asmanipun. Garwa sepindah saking Sucen, garwa kaping kalih saking Bulus )
Kaliyan garwa Sucen ;
1. Sayyidah RA. Roikhanah Plumbon peputra ;
1. Sayyidah RA. Rughoyah / Makmun Kebumen peputra ;
1. Sayyidah RA. Rokhimah
2. Sayyidah RA. Kharisoh Rantewringin peputra ;
1. Sayyidah RA. Nurul
2. Sayyidah RA. Retno
3. Sayyid R. Beni
3. Sayyidah RA. Khotmah Tasikmalaya peputra ;
4. Sayyidah RA. Halimah Tasik Malaya peputra ;
5. Sayyidah RA. Honimah peputra ;
1. Sayyid R. Muh. Rafi Ananda / Tuti Khusniati Al Maki
2. Sayyidah RA. Aila Rezannia / Poedjo Rahardjo
6. Sayyidah RA. Soimah peputra ;
1. Sayyid R. Arif Hidayat
2. Sayyidah RA. Titin Rahayuningsih
3. Sayyid R. Teguh Priyatno
4. Sayyidah RA. Nur Fatmawati
5. Sayyidah RA. Diyah Kurniasari
2. Sayyidah RA. Rofqoniyah / Kyai Matori Jatisari Kebumen peputra ;
1. Sayyid KH. R. Salim Al Mator Jatisari peputra ;
1. Sayyid R. Tobagus Muslihudin Aziz
2. Sayyidah RA. Hikmatul Hasanah
3. Sayyidah RA. Maksumah Kurniawati
4. Sayyid R. Musyafa Firman Iswahyudi
5. Sayyidah RA. Retno Auliyatussangadah
6. Sayyidah RA. Eta Fatmawati Auliyatul Ummah
2. Sayyidah RA. Songidah
3. Sayyidah RA. Sangadatun Diniyah
4. Sayyid Kyai R. Khumsosi Al Mator peputra ;
1. Sayyidah RA. Siti Khulasoh
2. Sayyidah RA. Siti Fatimah
3. Sayyid R. Lukman Zein
4. Sayyidah RA. Anis Siti Kharimah
5. Sayyidah RA. Siti Khomsiati
6. Sayyid R. Anas Mufadhol
5. Sayyid H. R. Makmuri
6. Sayyid R. Muslim
3. Sayyid R. Sanusi Prembun peputra ;
1. Sayyidah RA. Sol ? Peputra ;
2. Sayyidah RA. Salamah peputra ;
4. Sayyid R. Sugeng
5. Sayyid R. Dulqodir
2. Sayyidah RA. Fatimah peputra ;
Kaliyan garwa I / Jazuli ;
1. Sayyid. R. Mad Amin
2. Sayyidah RA. Rohmah
3. Sayyidah RA. Romlah
4. Sayyidah RA. Ruqoyah
Kaliyan garwa II / Haji Siroj ;
1. Sayyidah RA. Zuhriyah
2. Sayyid R. Yazid
3. Sayyid R. Zahrowardi
4. Sayyidah RA. Nguluwiyah
5. Sayyid R. Zarnuji
2. Sayyidah RA. Jamilah ( Nyai Ibrahim ) Pengulu Landrat Kebumen
3. Sayyidah RM. Aisyah / Kyai Abu Sujak Kemiri
4. Kyai Sayyid R. Abdurrohim bin Kyai Sayyid Taslim ( kagungan garwa kalih inggih punika RA. Baingah binti RM. H. Muhammad Nur bin Kyai Guru Luning kaliyan garwa Alang – alang Amba lan RA. Nafingah binti RM. Chamid Triris bin Kyai Guru Luning kaliyan garwa Putri Lurah Kroyo, ananging dereng dipun sumerepi pundi ingkang garwa sepindah lan pundi garwa ingkang kaping kalih ) :
Saking garwa I peputra :
1. 1. Sayyid R. Mahasin
2. 2. Sayyidah RA. Hasbiyah
3. 3. Sayyid R. Khojin
4. 4. Sayyid R. Baedowi
5. 5. Sayyidah RA. Maksumah
6. 6. Sayyid R. Abdullah
Saking garwa II peputra :
1. Kyai Sayyid R. Muhyi / Mukti alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi
2. Sayyidah RA. Munawaroh ( Sumatera , ananging ngantos dumugi sak punika dereng wonten pawartosipun )
3. KH. Sayyid R Sya'roni alm. Temurjo Purwoharjo Banyuwangi
4. Kyai Sayyid R. Abdal alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi
5. Kyai Sayyid R. Azhad alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi
6. Kyai Sayyid R. Hamdullah Buluagung Siliragung Banyuwangi
7. Kyai Sayyid R. Din Alm.
8. Kyai Sayyid R. Fatkhan
5. Sayyid RM. Jahet Kyai Tirip Gebang kaliyan garwa Putri Termas peputra ;
1. Sayyid R. Nawawi
Kaliyan garwa Syarifah Zaenab peputra ;
1. Sayyidah RA. Nyi Syarifah Baroroh
6. Sayyidah RA. Suyud / Kyai Suyud Karangrejo Kutoarjo
RA. JAMILAH / KYAI SANGID LUNING KEMIRI peputra :
1. RA. Jaenab / Nyai Muhyidin Kuwangsan Kemiri
2. RA. Jemblem / Nyai Muhammad Socheh Sutoragan
3. RA. Klentheng / Nyai Muso Luning
4. RM. Abdul Aziz / Kyai Sucen Beji Bayan peputra ;
1. R. Muh. Royani peputra ;
1. RA. Bahiyah
2. RA. Suwaibah
3. R. Sumedi
4. R. Nurrahman
2. R. Muh. Ibrahim peputra ;
1. R. Haji Muh. Tachrir
2. R. Muh. Jawad ( putra no. 5 )
3. R. Mufid ( putra no. 6 )
3. R. Muh. Juri peputra ;
1. R. Muh. Tafsir
4. RA. Suniyah /Nyai Haji Nur
5. R. Muh. Hasyim
5. RM. Barzachi / Pengulu Naib Garung Wonosobo
6. RM. Muhammad Anis Kyai Luning
7. RA. Suwuh Joyosumarmo
RM. HAJI MUHAMMAD NUR / PENGULU LANDRAT PURWOREJO peputra :
1. RM. Haji Rofingi Ketib Kutoarjo
2. RM. haji Kistubo Ketib Purworejo
3. RA. Chadijah / Kyai Marzuki Kutoarjo
4. RA. Nyai Judi Sucen Tritis
5. RA. Nyai Baingah / Kyai Abdurrohim Gebang
6. RA. Rodiyah / Nyai Tambeh Kutoarjo
7. RA. Tutik / Haji Siraj Ketib Kutoarjo
8. RM. KH. Chusen Pengulu Bayan peputra ;
1. RA. Denok
9. RM. Baliyo Kutoarjo
10. RA. Badaruddin Kyai Solotiyang peputra ;
1. RA. Nyai Siti Hajiroh ( putra no . 4 ) mboten peputra lajeng ngangkat RA. Mustanginah Chalimi
2. Kyai R. Dachlan Kaliboto ( kaliyan nyai Zaenab ) peputra ;
1. RA. Ulfah
2. RA. Mustafidah
3. R. Ahmad Najib
4. RA. Malichah
5. Ra. Zumaroh
kaliyan R. Siti Chotijah Maron peputra ;
1. RA. Cholisoh peputra ;
1. RA. Anis Arifah
2. RA. Naim Mardiyah
3. R. Imron Hakim
4. RA. Umi Latifah
5. R. Agus Sukur Salim
6. R. Muhajir
2. R. Abdul Ghofir peputra ;
1. R. Naufal Mujtaba Alluabab
2. RA. Kuni Sufia Labibah
3. R. Zainal Abidin peputra ;
1. RA. Sofri Inayah
2. R. Chalifurifai
4. R. Dimyati
5. RA. Maghfuroh Muslim peputra ;
1. R. Bahaudin
2. R. Abdul Chamid
6. RA. Wafiroh Rifai peputra ;
1. Choirul Hadi
RM. KYAI BUSTAM LUNING peputra :
1. RM. Suyud Kyai Karang Rejo Kutoarjo
2. RA. Nuriyah Fadil Solotiyang Loano I
3. RM. Muhammad Siraj Kyai Luning
4. RM. Muhammad Jawad Luning ( seda timur )
5. RA. Aminah Nyai Fadil Solotiyang Loano II
NYAI HAJI ISHACK ALANG – ALANG AMBA ( putra gawan ) peputra :
1. Machrus ( putra mantunipun Ki Jayeng Kewuh, mukim wonten ing leripun mesjid Luning )
RA. NYAI ISTAD ( Kyai Abdurrahman Bedug Bagelen ) peputra :
1. RA. Nyai Abu Masngud Sangubanyu Grabag
2. RA. Nyai Abdul Qodir Piyono Grabag
3. RM. Kyai Sadali Bedug Bagelen
4. RM. Kyai Aftadi ( seda timur )
5. RA. haji Abdullah Faqih Kedung Kuali Purwodadi Purworejo
RM. BAHRUN / KH. SOLEH LUNING KEMIRI peputra :
1. RA. Aisyah Nyai Kemangguan Krakal Kebumen
2. RA. Muhammad Sahlan Luning
3. RM. Chaidar Pituruh Kutoarjo
4. RA. Chamidah Pensiunan Mantri Guru Wadaslintang
RM. CHAMID KYAI SUCEN TRITIS BAYAN peputra :
1. RM. Haji Judi Kyai Tritis
2. RA. Ngusman Kyai Tritis Sucen
3. Umi Tambak Banyumas
4. RA. Nafingah / Nyai Abdurrohim Gebang
5. RM. Haji Dachlan Al Hafidz Kalikepuh peputra ;
1. RA. Nyai Saodah
2. RM. Kyai Bastomi ( Klepuh ) peputra ;
1. RA. Nyai Murdiyah Ali
2. RA. Anisah Al Is
3. R.Muhammad Wahyudin F. Arrofingi
4. R. Nurul Ilmi
5. R. Ahmad Sirojudin
6. R. Chamid Dahlan
7. R. Ruqoyah
8. R. Nihayah
3. RA. Nyai Jariyah
4. RM. KH. Abu Hasan / Nur Muhammad Adikarso Kebumen kaliyan Sayyidah Siti Hafsoh binti Kyai Sayyid Ahmad Hisyam bin Kyai Sayyid Habib ibni Sayyidah Nyai Murtaman binti Kyai Sayyid Taslim Tirip peputra ;
1. Kyai Sayyid R. Habibullah
2. KH. Sayyid R. Muh. Nawawi Hisyam ( Gus Wawi Adikarso Kebumen )
3. Kyai Sayyid R. Mahrus Muqorrobin
4. Sayyidah RA. Siti Halimah
5. Kyai Sayyid R. Muh Ali Dimyati
6. Kyai Sayyid R. Zainul Arifin
7. Sayyidah RA. Fatimah
8. Sayyidah RA. Siti Halimah
9. Sayyidah RA. Nafisah
6. RA. Khasanah / Nyai Sayyid Ahmad Al Atas Sucen Tritis peputra ;
1. Sayyid R. Abdurrahman ( kaliyan garwa Rng. Siti Chotijah ) peputra ;
1. Sarifah RA. Syifak
2. Syarifah RA. Nurhayati
3. Syarif R. H. Muhajir
4. Syarif R. Ali
5. Syarifah RA. Slimun
7. RM. Ahmad Kroyo Kutoarjo peputra ;
1. Prof. DR. Internis R. Ali Sulaiman ( putra no. 5 )
8. RM. Haji Bakri Kyai Tritis peputra ;
1. RA. Chabsoh
2. R. Ibnu Kosim
3. RA. Mutmainah
4. R. Toha
5. R. Turkisi peputra ;
1. RA. Fatchuriyah
2. RA. Musarofah
3. R. Nasir Hamid
4. R. Muhajir Sa'dulloh
5. RA. Nur Munawaroh
6. R. Ibrahim Amin
7. R. Ahmad Chomsin
8. R. Makinun Amin
6. RA. Afdoliyah
7. RA. Siti Aisyah
9. RA. Nyai Bahiyah / Nyai Pekalongan Kebumen
10. RM. Kyai Abdullah Mukri Luning
RM. HAJI ABDULLAH MAHLAN LUNING peputra :
1. RM. Imam Sutoragan Kemiri
2. RA. Sofiyah Hadiwinangun Magelang
3. RA. Fatonah Gembor
4. RA. Musoharotun
5. RM. Muhammad Kyai Luning
6. RM. Muhammad Hadikusumo Surabaya
7. RA. Istifaiyah Luning
jangkepan Pra Turunipun Kyai Guru Luning
Kyai Sayyid R. Muhyi / Mukti bin Kyai Sayyid R. Abdurrohim Tirip peputra :
1. Sayyid R. Muflih Perangan
2. Sayyid R. Muh. Miftah Perangan
3. Sayyid R. Mudatsir
4. Sayyidah RA. Muhsonah
5. Sayyidah RA. Mu'awah Seneporejo Siliragung
6. Sayyid R. Muzamil
7. Sayyidah RA. Mudzrikah
8. Kyai Sayyid R. Munhamir Tamanagung Cluring Banyuwangi
9. Sayyidah Mustaqimah Sukorejo
KH. Sayyid R. Sya'roni Temurejo bin Kyai Sayyid R. Abdurrohim Tirip peputra :
1. Sayyidah RA. Mutmainah
2. Sayyid R. Sairu
3. Sayyid R. Khamami
4. Sayyid R. Jami'ah
5. Sayyid R. Jauhar
6. Sayyid R. Halimi
Kyai Sayyid R. Azhad alm. Perangan Purwoharjo bin Kyai Sayyid R. Abdurrohim Tirip peputra :
1. Kyai Sayyid R. Mustofa Azhad Perangan
2. Kyai Sayyid R. Toha Azhad Merauke Irian Jaya
3. Kyai Sayyid R. Musta'in Azhad alm.
4. Kyai Sayyid R. M. Yasin Azhad Perangan
5. Sayyidah RA. Siti Aminah Azhad Ngadirejo Purwoharjo
6. Sayyidah RA. Siti Hanifah Azhad Perangan
7. Kyai Sayyid R. Halimu Shodiq Azhad Perangan
8. Kyai Sayyid R. Nur Hamid azhad Perangan
Kyai Sayyid R. Mustofa Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Ahmad Nasihudin Al Bahiri
2. Sayyidah RA. Latifah
Kyai Sayyid R. Thoha Azhad Merauke Irian Jaya peputra :
1. Sayyid R. Habiburrohim
2. Sayyidah RA. Nihayatus Zuhriya
Kyai Sayyid R. Yasin Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Wafi
2. Sayyidah RA. A' lin Bil Hija
Sayyidah RA. Siti Aminah Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Ahmad Luqman Hakim
2. Sayyid R. Burhanudin Al Maki
3. Sayyid R. Abdurrahman
4. Sayyid R. Abdurrahim
Sayyidah RA. Siti Hanifah Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Utsman
Kyai Sayyid R. Halimu Shodiq Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Wildan Hadziqi
Kyai Nur Hamid Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Alan ' Adzim Al Aufa
Kyai Sayyid R. Hamdullah peputra :
1. Kyai Sayyid R. Ali Masngud Buluagung
2. Sayyidah RA. Sa'adah
3. Sayyid R. Zuhri
4. Sayyid R. Tasip

Senin, 25 November 2019

ERA DISRUPTION

ERA DISRUPSI

Disrupsi dalam bahasa Indonesia artinya kekacauan atau Keadaan yang terpecah-belah, sedangkan disruptif berarti yang mengacau, mengacaukan, atau yang memecah-belah keadaan yang sudah kondusif.

Sebelum adanya internet, Orde Baru seakan-akan dapat berlangsung selamanya untuk mengantarkan kehidupan bangsa Indonesia ke masa depan yang lebih maju. Ternyata dengan masuknya intenet di Indonesia sejak awal 1990-an seperti IndoNet tahun 1998 Orba hancur.

Belum sempat kita menyikapi keadaan pasca runtuhnya Orba, telepon genggam berkembang dengan pesat di tahun 2000an seolah-olah telekomunikasi dengan telepon genggam dapat digunakan sebagai sarana untuk menyatukan, mem-perkuat, dan memajukan Indonesia.
Tak berapa lama dengan tersebarnya telepon genggam dan penggunaan internet di masyarakat, generasi muda malah mendapatkan kemudahan untuk menyebarkan, memaparkan, dan menikmati video porno yang dulunya harus diperoleh dengan sembunyi-sembunyi dari tempat-tempat penyewaan kaset, vcd.

Tidak berapa lama dari keadaan tersebut, smartphone (ponsel cerdas) dari Nokia masuk ke Indonesia pada 2005. Lalu, Android mulai digunakan pada 2008, dan diselingi dengan munculnya blackberry alias BB pada 2004an dan dominasinya runtuh pada tahun 2015. Sejak itu FB, Instagram, WA (WhatsApp Mesenger) yang merupakan aplikasi pesan lintas platform mulai menguasai media sosial di Indonesia. Dengan WA kita dapat mengirim pesan, foto, video, audio, lokasi, dan kontak dengan mudah. Akibatnya, setiap hari kita kebanjiran berita yang tidak kita ketahui kebenarannya alias bisa jadi berita hoax.

Generasi milenial yang dipatok lahir 1990an, yang ditandai dengan tumbuhnya internet di dunia, dihadapkan pada perubahan keadaan yang sangat cepat. Mereka belum sempat untuk hidup mapan pada suatu keadaan, datang gelombang baru yang sulit diantisipasi akibatnya. Mereka belum sempat mem-bangun bisnis yang sesuai dengan trend atau kecenderungan pertumbuhannya, muncul arus baru yang mengacaukan bisnis yang ditekuninya.

Dalam situasi disrupsi, Agama ternyata tidak mampu memberikan solusi bagi umat manusia. Secara faktual, ayat-ayat kitab suci justru dijadikan alat untuk kejahatan dan menyerang pihak lain.
Agama dijadikan pembenaran untuk menyerang dan menghancurkan pihak lain yang tidak sekeyakinan. Akibatnya, generasi milenial yang belum sempat mencerna apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup ini, menjadi korban kebiadaban manusia generasi pendahulunya yg belum ber-spritual alias ber-kesadaran. Akibat perang telah menghancurkan masa depan mereka.

Semoga pemerintah bangsa ini sadar dan menyadari hal ini, dan tidak hanya untuk berburu kekuasaan tetapi melupakan masa depan generasi penerus bangsa. Bila generasi penerus bangsa ini diabaikan, maka jangan berharap Indonesia menjadi Garuda Perkasa yg lebih besar daripada Garuda gagah perkasa seperti zaman sebelum bangsa Portugis Belanda Inggris masuk Nusantara

KERIS DIAKUI DUNIA


Dunia melalui The United Nation Educational, scientifie and Cultural Organizationa disingkat UNESCO
hereby proclaim(dengan ini menyatakan)
the Indonesian keris (keris Indonesia) masterpiece (hasil karya)
of the oral and ingtangible (dari lisan dan tidak berwujud)
heritage of humanity (warisan dari kemanusiaan)
Paris 25 November 2005
Koichiro Matsuura
Director General/direktur jenderal
Keris sebagai hasil karya warisan budaya leluhur Nusantara, dengan ini membuktikan keluhurannya diakui Dunia.
25 November 2019

Rabu, 10 April 2019

Hari ini tgl 10 april 2019 dan seminggu lagi 17 April 2019 adalah pilpres sekaligus pemilu 2019

Seminggu lagi pesta demokrasi, sebagai warga negara Indonesia yang baik kita harus  memeriahkan serta menyukseskannya.
Berikan sumbangsihmu untuk negeri..
Kalau bisanya hanya sekedar taat hukum dan aturan juga membayar pajak itu sudah Bagus tapi kalau bisa tingkatkan lgi untuk kemaslahatan umat.
Salah satunya adalah mensukseskan pemilu 2019.
Seorang warga negara yg baik apalagi seorang MUKMIN ataupun orang  yang Ber-tauhid alias ber-kesadaran murni dalam Hal memilih Pemimpin Haruslah berdasarkan KESADARAN MURNI atau HATI NURANI bukan berdasarkan yang lain.
Bukan karena suka, bukan karena kedekatan, bukan karena tetangga, bukan karena uang maupun jabatan, bukan karena selera dan satu warna, bukan karena janji manis, bukan karena nanti gaji dinaikkan dsbnya

Memilihlah berdasarkan Petunjuk Tuhan yang diberikan pada segenap pikiran, otak, hati Jiwa dan Ragamu..
Memilihlah berdasarkan KESADARAN MURNI mu

#MINTALAH PETUNJUK DARI KESADARAN MURNI MU..

#SHOLAT ISTIKHAROH dan
#Berpuasalah siangnya semampumu agar JIWAMU dapat terlepas dari doktrin2, hypnosis2, keyaqinan keyaqinan yang samar yang sumbernya berasal dari Nafsumu.

Memilihlah dgn KESADARAN MURNI (HATI YANG TELAH MENDAPAT PETUNJUKNYA) bukan memilih lantaran Suka maupun Tidak suka..
Inilah PENGORBANAN seorang MUKMIN, seorang Warga negara yang baik, seorang yang Ber-tauhid, seorang yang ber-kesadaran murni harus rela mengorbankan kepentingan pribadi atau golongan untuk kemaslahatan Ummat Manusia.

By. Nka

Latihan sadar alias khusyuk

Latihan sadar alias khusyuk

Menikmati sadar detik ini saat ini tanpa ada masa lalu dan masa depan.
Kadang manusia dalam sholat, dalam beribadah, dalam bekerja, dalam ber-aktifitas, dalam mengendarai motor atau mobil, bahkan saat makan minum jg minum kopi terkadang pikiran melayang2 kemana2 teringat masa lalu atau kwatir akan masa depan, melamun. Sehingga tidak bisa khusyuk sadar detik ini saat ini dalam sholat, beribadah, bekerja, makan, minum, mengendarai mobil atau motor.
Akhirnya sholat pun hanya sekedar sholat, bekerja pun tidak fokus, mengendarai motor/mobil pun gak hati2, makan dan minum kopi pun gak bisa menikmati.

#latihan_sadar
#latihan_khusyuk
#latihan_tenang
#meditasi_transdental
#mindfulness
#awaken_&_awareness
#confissunness.

By. Nka

Tujuan meditasi



TUJUAN MEDITASI

Abstrak :
Meditasi merupakan salah satu bentuk latihan mental dan spiritual yang telah dipraktikkan dalam berbagai tradisi budaya dan agama sejak zaman kuno. Di masyarakat masih berkembang anggapan bahwa tujuan meditasi adalah memperoleh kesaktian atau kemampuan supranatural. Artikel ini bertujuan meluruskan pemahaman tersebut dengan menjelaskan bahwa fungsi utama meditasi adalah melatih kesadaran (awareness), perhatian (mindfulness), konsentrasi, pengendalian emosi, serta ketenangan batin. Berdasarkan kajian psikologi modern, meditasi berkontribusi terhadap penurunan stres, peningkatan regulasi emosi, dan kesejahteraan psikologis. Dalam perspektif spiritual, meditasi dapat dimanfaatkan sebagai sarana kontemplasi dan introspeksi diri untuk menumbuhkan keikhlasan, kesabaran, pengendalian hawa nafsu, serta kebijaksanaan. Bagi umat Islam, latihan pengendalian diri dapat menjadi pendukung kekhusyukan dalam ibadah, namun bukan pengganti zikir, salat, maupun ajaran syariat. Oleh karena itu, tujuan utama meditasi bukanlah mengejar kesaktian, melainkan membentuk pribadi yang lebih sadar, tenang, bijaksana, dan berakhlak mulia.

Kata kunci: meditasi, mindfulness, kesadaran, psikologi, spiritualitas, pengendalian diri.

PURE CONSCIUNES (KESADARAN MURNI)


PURE CONSCIOUSNESS (KESADARAN MURNI)

Abstrak :

Kesadaran murni (pure consciousness) merupakan konsep yang banyak dibahas dalam filsafat, psikologi transpersonal, dan berbagai tradisi spiritual. Dalam tulisan ini, kesadaran murni dipahami sebagai keadaan batin yang bebas dari dominasi ego, kemelekatan, dan pamrih, sehingga seseorang mampu bertindak dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan tanggung jawab. Dalam perspektif Islam, keadaan ini memiliki kedekatan makna dengan nilai ikhlas, tawakal, ridha, serta penyerahan diri (taslim) kepada Allah Swt. Kesadaran murni bukan berarti pasif atau menyerah tanpa usaha, melainkan tetap melakukan ikhtiar secara optimal, kemudian menerima hasilnya dengan lapang dada sebagai bagian dari ketetapan Allah. Dengan demikian, kesadaran murni dapat dipandang sebagai proses pendewasaan spiritual yang melahirkan kebebasan batin, kemandirian berpikir, serta tanggung jawab moral dalam kehidupan.

Kata kunci: kesadaran murni, pure consciousness, tawakal, ikhlas, spiritualitas, psikologi transpersonal.

---

PURE CONSCIOUSNESS (KESADARAN MURNI)

"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya."
(HR. Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907)

Kesadaran murni (pure consciousness) merupakan keadaan batin ketika seseorang tidak lagi didominasi oleh ego, ambisi, ketakutan, maupun berbagai bentuk kemelekatan yang membelenggu kebebasan jiwanya. Dalam keadaan ini, seseorang bertindak berdasarkan kesadaran yang jernih, bukan semata-mata karena dorongan hawa nafsu atau tekanan dari luar.

Dalam perspektif Islam, kesadaran murni memiliki kedekatan makna dengan sikap ikhlas, tawakal, ridha, dan penyerahan diri (taslim) kepada Allah Swt. Seluruh amal dilakukan semata-mata karena Allah (lillāhi ta'ālā), tanpa pamrih terhadap pujian, kedudukan, ataupun keuntungan duniawi.

Tawakal bukanlah sikap pasif. Tawakal adalah melakukan ikhtiar secara sungguh-sungguh sesuai kemampuan, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Swt. Dengan demikian, usaha dan kepasrahan bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi.

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim No. 2564)

Jiwa yang telah berkembang menuju kesadaran murni memiliki kebebasan batin. Ia tidak diperbudak oleh materi, jabatan, popularitas, maupun ketergantungan yang berlebihan kepada manusia. Kebebasan tersebut bukan berarti bertindak sesuka hati, tetapi kebebasan yang selalu disertai tanggung jawab moral, kasih sayang, dan komitmen untuk menghadirkan kemaslahatan serta menghindari kerusakan.

Dalam proses pembelajaran spiritual, guru berperan sebagai pembimbing yang menunjukkan jalan. Namun tujuan akhir pembelajaran bukanlah menciptakan ketergantungan kepada guru, melainkan membentuk pribadi yang matang, mandiri, dan mampu bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil. Seorang murid yang semakin dewasa akan semakin memahami nilai yang diajarkan, tanpa kehilangan sikap hormat kepada gurunya.

Kesadaran murni juga melahirkan pribadi yang autentik. Setiap manusia memiliki keunikan, karakter, dan cara mengaktualisasikan nilai-nilai kebaikan sesuai potensi yang dianugerahkan Allah Swt. Karena itu, kematangan spiritual tidak menjadikan seseorang sebagai salinan gurunya, melainkan sebagai pribadi yang semakin dewasa dalam menjalankan nilai-nilai kebenaran.

Pada akhirnya, kesadaran murni bukanlah tujuan yang selesai dicapai dalam sekejap, melainkan perjalanan sepanjang hayat untuk terus membersihkan hati, mengendalikan ego, memperbaiki akhlak, serta mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui keimanan, amal saleh, dan pengabdian kepada sesama.

"Ketahuilah, dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599)

Catatan Ilmiah :
Istilah pure consciousness (kesadaran murni) dalam artikel ini digunakan sebagai konsep yang bersifat interpretatif untuk menjelaskan keadaan batin yang jernih, bebas dari dominasi ego, dan terbuka terhadap nilai-nilai moral serta spiritual. Dalam kajian filsafat, psikologi, dan ilmu kesadaran, istilah ini memiliki beragam definisi sesuai dengan kerangka teori masing-masing. Oleh karena itu, penggunaan istilah pure consciousness dalam tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyamakan seluruh konsep tersebut dengan ajaran Islam.
Pembahasan dalam artikel ini merupakan pendekatan konseptual yang menempatkan nilai-nilai Islam—seperti ikhlas, tawakal, ridha, taslim (berserah diri kepada Allah Swt.), dan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa)—sebagai perspektif dalam memahami keadaan batin yang mendekati konsep kesadaran murni. Dengan demikian, tulisan ini merupakan sintesis antara kajian konseptual dan refleksi keislaman, bukan penetapan bahwa istilah pure consciousness merupakan terminologi baku dalam akidah atau syariat Islam.

Oleh: Ndandung Kumolo Adi

Daftar Pustaka :
  • Al-Ghazali. (2011). Ihya' 'Ulum al-Din (berbagai edisi). Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
  • James, W. (1902). The Varieties of Religious Experience. New York: Longmans, Green, and Co.
  • Maslow, A. H. (1971). The Farther Reaches of Human Nature. New York: Viking Press.
  • Nasr, S. H. (2002). The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity. New York: HarperCollins.
  • Qur'an Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur'an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an.
  • Rumi, J. (2004). The Masnavi (terj. Jawid Mojaddedi). Oxford: Oxford University Press.
  • Wilber, K. (2000). Integral Psychology: Consciousness, Spirit, Psychology, Therapy. Boston: Shambhala Publications.
  • Grof, S. (1985). Beyond the Brain: Birth, Death, and Transcendence in Psychotherapy. Albany: State University of New York Press.
  • Hood, R. W., Hill, P. C., & Spilka, B. (2018). The Psychology of Religion: An Empirical Approach (5th ed.). New York: Guilford Press.

PERAN

PERAN

Manusia mempunyai berbagai peran2 kecil ada yang jadi sebagai bapak, ada yang jadi ibu, ada yg jadi suami, ada yang jadi istri, ada yg sebagai anak, ada yg sebagai menantu,  ada yg sebagai pegawai negeri, ada yg sebagai pegawai swasta, ada yg sebagai pegawai BUMN, ada yg sebagai karyawan swasta, ada yg sebagai presiden, ada yg sebagai menteri, ada yg sebagai gubernur, ada yg sebagai guru, ada yg sebagai ketua RT, ada yg sebagai pembantu rumah tangga, ada yg sebagai driver, ada yg sebagai guru ngaji, ada yg sebagai pedagang, ada yg sebagai maling, ada yg sebagai petani, ada yg sebagai buruh, ada yg sebagai petugas keamanan, ada yg sebagai pelajar, ada yg sebagai penjahat, ada yang sebagai pencopet, ada yg sebagai pelacur, ada yg sebagai ulama, ada yg sebagai ustadz, ada yg sebagai bajingan, ada yg sebagai penyebar kebencian, ada yg sebagai teman, ada yg sebagai lawan, ada sebagai trainer, ada yg sebagai atlet, ada yg sebagai pedagang asongan, ada yg sebagai nelayan, ada yg sebagai preman, ada yg sebagai teroris, ada yg sebagai polisi, ada yg sebagai anggota Dewan, ada yg sebagai kuli, ada yg sebagai kakak, ada yg sebagai adik, ada yg  sebagai direktur, ada yg sebagai leader, dan ribuan peran lainnya.

Yang hakekatnya dan intinya semuanya netral2 aja sudah pada perannya masing-masing.. sudah pada jalannya masing-masing.. sudah pada tempatnya masing-masing.. semua netral2 saja..
Manusia bijaksana akan menikmati itu semua jg hidup ini bagaikan makanan ada nasi, kopi, susu, nasi, sayur dengan berbagai bumbu penyedap seperti asin, manis, asem, kecut, pedas, jg berbagai sayuran alias jenis makanan.

Jadi kita tinggal berperan jg melihat peran2 manusia2... Lainnya.
Apa lagi di tahun politik ini sungguh aku melihat di dunia nyata maupun sosmed ada yg pendukung A, ada yg pendukung B, ada yg menjelekan calon A, ada yg menjelekan calon B, ada yg menebar kebencian, ada yg menebar hoax, dsbny pokoknya komplit serta semua sudah pada perannya masing-masing serta semua netral2 aja.

Yg intinya semua peran itu jg peran Tuhan, juga Tuhan yang menggerakkan.

Dan peran Utama manusia di Dunia ini yg di fitrahkan Tuhan adalah sebagai Kholifah.

Nah orang2 yg berjiwa Kholifah ini jg orang2 yg dikehendaki-Nya.
Kalau semua orang di dunia ini sadar jadi Kholifah semua, jadi baik semua, ya gak ramai dunia ini, gak ada tantangan nya, gak ada rasanya, gak ada gregetnya, jg percuma Tuhan menciptakan dunia ini.

Jadi sebenarnya semua sudah netral2 saja serta sudah pada tempatnya masing-masing...

By. Nka

Masa lalu



Masa lalu itu tidak untuk dilupakan tapi tidak juga untuk dikenang.
Masa lalu adalah pembelajaran.
Masa lalu adalah guru.
Berdamailah dengan diri sendiri,
Berdamailah dengan masa lalu,
Semua baik-baik saja dan sudah berjalan sebagaimana mestinya.
Semuanya netral2 saja.
Terima kasih untuk masa lalu yang membuat mata hati ku terbuka.
Terimakasih untuk masa lalu yang membuat aku sadar.
Orang yang tidak bisa belajar dari masa lalu adalah orang2 bodoh.
Orang yang tidak bisa belajar dari masa lalu adalah orang Istiradj yg tertutup mata hatinya.
Orang yang melupakan dan membenci masa lalu adalah orang-orang Egois.
Berbahagialah selalu wahai masa lalu...
Aku selalu mendoakan mu.

Selat Sunda, Jum'at Pagi 24 Maret 2019..
NKA
#InsightPagi

TERKABULNYA DO'A atau HAJAT

TERKABULNYA DO'A atau HAJAT

Alam semesta ini kompleks, dan banyak variabel nya.
Begitu pula dengan terkabulnya doa atau hajat banyak sekali variabel-variabelnya untuk bisa terkabulkan serta terwujudkan.
Sehingga wilayah kita supaya doa atau hajat terkabulkan serta terwujudkan adalah sebanyak mungkin menciptakan sebab2 untuk terkabulnya doa serta sebanyak mungkin mengurangi sebab2 untuk tidak terkabulnya doa.
Kembali lagi gunakan hukum alam semesta atau sunattatuloh yaitu hukum kausalitas (sebab-akibat, aksi-reaksi, tebar-tuai, karma).

Salah satunya adalah bertobat, menebus segala dosa2 dan kesalahan, suka berbuat baik, banyak tabungan2 kebaikan2, membahagiakan orang lain terutama istri, orang tua, anak, saudara, teman dan sebagainya dsbnya.
Dan dipastikan orang yang ber-kesadaran murni tinggi sekali. Kalau berdoa pasti di ijabah karena tak ada hijab serta variabel-variabel nya mendukung...
Teruslah menuju kesadaran murni tinggi...
Ayo ke LoC +5000..
Sanggupkah???...
Bisakah???...

Pasti bisa.

By. Nka

SODRON BERTANYA TENTANG KESAKTIAN WALIYULLAH

SODRON BERTANYA TENTANG KESAKTIAN WALIYULLAH

Argumentasi antara Sodron dan Guru Mursid tentang waliyullah

Sodron : mana buktinya Kalau memang waliyullah itu ada dan benar-benar sakti,” tanya sodron kepada sang mursid, “mengapa mereka diam saja melihat kezaliman yang terjadi di INDONESIA saat ini??...

Sang mursid, tersenyum mendengar ‘gugatan’ muridnya ini.

Sodron terus mengeluarkan isi hatinya, “kenapa para Wali diam saja, bahkan banyak yang menyembunyikan jati dirinya sehingga orang-orang sekitarnya terus meremehkan mereka sementara ketidakadilan terus berlangsung di depan mata para waliyullah.

Guru Mursid : “sodron, dengarkan kisah ini ya?…” Seperti biasa sang guru mursid lebih sering menjawab lewat berbagai kisah dan tamsil.

Sodron mengatur posisi duduknya di dalam rumah kontrakan guru mursid dan bersiap mendengar kisah yang akan diceritakan gurunya.

“Pernah pada suatu masa, satu-satunya mesin untuk pengolah gandum yang dimiliki penduduk desa, rusak. Sementara itu hasil gandum bertumpuk-tumpuk di dalam gudang menunggu untuk dibuat menjadi tepung. Kalau tidak seegra diolah maka gandum akan rusak dan sia-sialah kerja penduduk desa selama ini.”

“Situasi mencekam, karena sudah hari ketiga, dan mesin belum juga berfungsi. Penduduk desa mendatangi seorang sufi yang tinggal di sudut desa itu sendirian. Mereka memelas agar sang sufi turun tangan mengatasi persoalan ini. Semula sang sufi enggan meluluskan permintaan ini, namun tangisan seluruh penduduk desa yang duduk bersimpuh di depan gubuk sang sufi meluluhkan hatinya.”

Sang Sufi kemudian berkata: “Pulanglah kalian semua, besok semuanya sudah beres.”

“Penduduk desa pulang dan tidur nyenyak menanti apa yang terjadi esok pagi. Malam itu, sang sufi mengeluarkan kesaktiannya. Puluhan gudang berisi gandum dia olah sendiri dengan tangannya. Tubuhnya melesat melebihi kecepatan mesin. Semuanya beres dalam semalam seperti yang dia sampaikan.”

“Selamatlah penduduk satu kampung, dan mereka bisa menjual tepung sebagai bekal untuk satu tahun ke depan.”

Sodron terlihat berseri mukanya. Sufi seperti inilah yang ia harapkan.

Sang guru mursid tersenyum melanjutkan kisahnya: “Beberapa tahun kemudian, menjelang wafatnya, sang sufi kerap kali tubuhnya menggelinding jatuh dari tikar yang menjadi alas tidurnya. Beliau kemudian menangis dan meratap: “ampuni aku Ya Allah”

Kejadian itu berlangsung terus sampai 3 hari. Seorang muridnya bertanya: “apa yang terjadi pak yai?”

Sufi itu menjawab dengan linangan air mata: “Ingatkah engkau peristiwa pengolahan gandum beberapa tahun silam ketika aku menolong penduduk desa ini? Aku memang turun tangan tidak tega melihat kesengsaraan penduduk desa, ku gunakan ilmu yang Allah berikan padaku untuk menolong mereka, namun aku melupakan satu hal. Aku khilaf tidak bertanya memohon ijin Allah terlebih dahulu sebelum menolong penduduk desa. Dan kini di akhir hayatku, Tuhan murka dan terus bertanya padaku: "Siapa yang memberi ijin kamu ikut campur terhadap nasib penduduk desa itu???...
Apakah kamu merasa lebih menyayangi penduduk desa itu ketimbang Aku sehingga berani-beraninya tanpa ijin dari Ku mengintervensi semua proses yang tengah berjalan????...
Tahu apa kamu terhadap skenario-Ku akan penduduk desa itu???...”

“Itulah sebabnya aku terus memohon belas kasihan Allah mengampuni tindakanku yang telah menolong penduduk desa tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepada Allah.”

Sodron mendadak tercekat. Tidak menyangka ujung kisahnya akan seperti ini.

Sang guru mursid kemudian berkata santai sambil membereskan sarungnya: “Para kekasih Allah itu tidak akan bergerak tanpa perintah dan ijin-Nya.
Skenario Allah melampaui semua pengetahuan mereka. Kita tidak pernah tahu apa kasih sayang Allah dan pelajaran apa yang hendak diberikan kepada penduduk desa itu sebelum sang sufi ikut campur. Allah membiarkan kekasihNya mengeluarkan ilmuNya menolong penduduk desa, namun Allah mencatat itu sebagai sebuah ‘ketidaksopanan’ karena dilakukan tanpa ijinNya.”

Sodron menundukkan kepala. Air mata menetes ke pipinya. Sodron menyesal telah bertindak tidak sopan menggugat peranan para kekasih Allah karena sesungguhnya diam atau bergeraknya para kekasih Allah semata-mata sesuai perintah dan ijinNya semata.

Sang mursid menutup obrolan dengan berpesan: “Ilmu dari Allah tidak perlu dipamer-pamerkan atau dibangga-banggakan, lha wong menggunakannya dengan niat mulia tapi tanpa ijin Allah saja bisa dipermasalahkan kok..
Kamu sangka saya mau terus menerus berjualan sate di depan Pasar???... Kamu kira saya tidak sedih melihat berbagai kezaliman di INDONESIA ini???...
Para wali belum ada perintah dan ijin Allah untuk saya bergerak.

Maka berbaik sangka pada semua skenario ilahi. Semua netral2 aja dan sudah pada tempatnya, sesuai ijin Allah”.

By. Nka

Banyak ulama/guru yang takut kehilangan muridnya

Banyak ulama yang takut kehilangan murid dan pengikut..

Ulama yg takut kehilangan murid dan pengikut biasanya banyak mendoktrin, mendogma, menghipnotis serta suka membangun kemelekatan dan ketergantungan.

Ulama seperti itu tidak mengajarkan kesadaran Agar menjadi Kholifah dn mudah mengalami Pure Being..
Dan ketika Anda sudah di Pure Being, kita pasti akan saling mencintai secara utuh, dan Anda juga pasti mencintai semua orang tanpa ada sentimen yg bekerja sedikitpun shg kita semua tidak akan berkelompok2..

By. Nka

Penderitaan itu ada karena belum lepas dari ujian

Yang dinamakan penderitaan itu kalau belum lepas dari ujian,
jadi sebenarnya penderitaan adalah bagi orang-orang yg belum lulus ujian..
Dan yg udah lulus disebut melewati ujian.

Jadi sumber ujian2 itu manusia sendiri dari atensi dan request sendiri, berupa lintasan pikiran, perkataan, perbuatan, jg keinginan2 alias cita2, alias harapan.

Seperti diceritakan Nabi Ibrahim pernah sesumbar di depan orang bahwa "untuk membuktikan cintaku kepada Tuhan aku rela memberikan anakku"...

Akhirnya Tuhan menguji keimanan dan cintanya Ibrahim kepadaNya, dengan cara Nabi Ismail jadi kurban untuk disembelih walaupun pada akhirnya digantikan oleh seekor kambing.

Akhirnya lulus juga Nabi Ibrahim dari ujiannya.

Jadi sebenarnya penderitaan itu tidak ada...
Penderitaan ada karena belum lulus.. akhirnya menderita terus.

Dan sejatinya Tuhan itu maha baik, Tuhan maha pengabul, kalau sangkaanmu ini itu ya dikabulkan.
Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu yang merubahnya.
Tuhan sesuai prasangka mu....

Jadi ber-prasangka lah yg baik-baik, kalau prasangkamu dah baik tapi masih kena ujian2 chek dulu pikiran, perbuatan, perkataan ataupun dosa2 di masa lalu... Bisa aja kmu di uji, bisa aja kmu ditegur, bisa aja kmu di ingatkan supaya sadar...
Karena syarat sadar yg makjlebb itu yg nampil banget bagi yg hati nya lunak...
Misalnya kamu pernah ghibah dan menghina orang akhirnya kmu kena ghibah dan dihina orang lain serta kamu sadar bahwa menghina itu menyakitkan....
Kamu pernah menipu orang akhirnya kamu gantian ditipu orang lain akhirnya kmu sadar bahwa ditipu itu menyakitkan...
Dengan ujian2 akhirnya kmu jadi sadar dan tambah sadar serta super sadar...

By.nka

SHOLAT DAIM

KESADARAN MURNI Atau KETAUHIDAN atau JATI DIRI atau MANUNGGALLING KAWULO GUSTI  dan berbagai nama lainnya adalah wilayah SHOLAT DAIM, setelah bisa DAIM pasti bisa PURE BEING alias KEMENJADIAN MURNI alias KEBERADAAN MURNI alias MAKRIFAT

1.). ASHSHALATU ‘IMADUDDIN, FA MAN AQAMAHA FAQAD AQAMADDIN, WAMAN HADA MAHA FAQAD HADA MADDIN"

الصلاة عماد الدين, فمن اقامها فقد اقام الدين ومن هدمها فقد هدم الدين

Shalat itu ialah tiang agama, maka barang siapa yang mendirikannya maka sungguh ia telah menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkannya sungguh mereka telah meruntuhkan agama.” (H.R Bukhari dari Umar R.A)

Sungguh rugilah orang-orang yang meninggalkan shalat. Karena shalat dalam Islam merupakan tiang agama. Ia di wajibkan melakukannya di dalam sehari semalam Lima Kali. Shalat di dalam Islam merupakan ibu dari segala ibadah. Ia juga merupakan salah satu rukun Islam yang Lima. Bahkan ia ialah sebagai tiang utamanya.

Allah SWT telah memperingatkan terhadap orang-orang yang meninggalkan shalat. Firman Allah SWT:

قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ , مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ

Artinya: "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?", Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. (Q.S Al-Muddatstsir 74 : 42-43)

Demikian pula Rasul SAW telah menjelaskan :

"MAN HAFAZHA ALAIHA KANAT LAHU NURAN WA BURHANA, WANAJATAN YAUMAL QIAMAT, WAMAN LAM YUHAFIZH ‘ALAIHA LAM YAKUN LAHU NURAN WALA BURHANUN WALA NAJATUN WAKANA YAUMAL QIAMATI MA’AQARUN, WAFIR’AUN, WAHAMAN WA UBAYYABNA KHALAFI"

Artinya: “Barang siapa memelihara shalatnya, menjadilah shalat itu baginya cahaya keterangan, dan sebab memperoleh kelepasan di hari kiamat, barang siapa tiada memelihara shalatnya, tak ada baginya yang demikian itu, bahkan adalah ia di hari kamat beserta qarun, Fir’aun, Haman, Ubai binKhalaf.” (H.R dari Ibnu Umar R.A sanad yang baik Ath-Thabarany).

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Sahabat Jabir R.A sebagai berikut:

INNA BAIYNARRAJULI WABAYNASY SYIRKI WAL KUFRI TARKASHSHALATI

Artinya: “Sesungguhnya pembeda antara seorang Muslim dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (H.R Muslim No. 987, Abu Daud No. 1658, An-Nasa’i No. 1/231 dan lain2.).

“Innani anallaahu ilaa ha illaa ana fa’budnii wa aqimissholaata lidzikri”
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha : 14)

Kita meraasakan betapa sholat menjadi beban sejak kecil. Kita selalu ketakutan kalau tidak sholat akan dijebloskan ke neraka, sehingga setiap kali ada suara adzan perasaaan takut dan ngeri sering menyelusup ke dalam hati. Tanpa di sadari, secara psikologis pikiran kita terganggu dengan doktrin2 tersebut.

Nabi Muhammad SAW telah mensinyalir hal ini dalam hadisnya :
Yak tii ‘alaannaasi zamaan yusholluuuna walaa yusholluun (Riwayat Ahmad)
”Akan datang suatu masa atas manusia, mereka melakukan sholat namun pada hakikatnya mereka tidak sholat”

Maksudnya dari hadis tersebut supaya kita lepas dari doktrin2 serta ber-kesadaran murni alias bertauhid seutuhnya sehingga ibadahnya karena lilahitangala bukan karena doktrin2 atau ketakutan

"Kam ming qokmim hatzhuhu min sholaatihitt’abu wannashobu" (Riwayat Abu Dawud)
Berapa banyak orang yang sholat namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah

Selama ini kita sholat hanya selalu menggunakan tata aturan otak kiri (menghapal, berhitung, mengingat) yang kenyataannya adalah menghasilkan ketidaknyamanan dan rasa jenuh. Perasaan terpisah karena harus memenuhi logika hukum, sementara aktivitas otak kanan dibiarkan liar oleh karena berprinsip :” Yang penting sudah memenuhi syarat sahnya shalat”. Akibatnya karena menggunakan otak kiri, kita akan merasa capek karena terdoktrin harus berkonsentrasi, dan karena otak kiri lelah, otak kanan bekerja liar kesana kemari, dan mengingat apa-apa yang telah kita lakukan.

Padahal Rasulullah telah memperingatkan, bahwa dalam shalat atau ibadah apapun kesadaran spritual (otak kanan/ emosional) harus diaktifkan, yaitu merasakan kehadiran Allah dihadapan kita dan kita menjadi Ihsan (orang yang berserah diri). Kita tidak pernah disadarkan, bahwa sholat itu untuk kebaikan kita dan bisa dirasakan langsung oleh pikiran dan perasaan hati kita, bahwa sholat itu akan membuat perasaan kita damai dan tenang. Allah tidak butuh sholat kita, tapi kita butuh Allah yang telah menciptakan manusia. Kita sholat merupakan tanda syukur kita kepada Allah Semesta Alam. Bila pikiran dan cara berpikir sudah seimbang, tubuh dan jiwa akan mengikuti kehendak pikiran. Ini adalah sinergi yang diharapkan dapat menampilkan kualitas shalat kita secara optimal. Perasaan khusyuk tidak mungkin bisa didapatkan jika kita tidak memiliki kesadaran dan kepercayaan, bahwa sebenarnya di saat shalat kita sedang berhadapan dengan Allah.

3.). As sholatu mi’rajul mukminin yaitu sholat itu mi’rajnya orang mukmin, sholat ini mempunyai nilai spiritual yang maha tinggi dan hal itu hanya dapat dicapai dengan menyimak arti isra dan mi’raj secara menyeluruh.

Itulah gambaran isra dan mi’raj yang merupakan peristiwa spektakuler yang tidak hanya harus diperingati saja namun harus disimak dan dilaksanakan sesuai contoh yang telah diberikan oleh Nabi Muhammad s.a.w.
Menurut pandangan para akhli tassawuf, gambaran dunia saat ini adalah juga gambaran sebagian besar ummat Islam yang hanya sampai mencapai masjidil Haram (masjid yang dimulyakan), haram berarti pula sesuatu yang terhalangi atau qolbu yang masih terhalangi dan belum bersih, sedangkan masjidil Aqsa (putih, bersih) adalah gambaran qolbu yang bersih yang tidak terhalangi dan sebagai landasan untuk melakukan mi’raj.
Pada saat kita melakukan gerakan takbiratul ihram (takbir larangan) dalam shalat, maka otomatis seluruh syaraf indra tidak menghantarkan impuls getaran dari panca indra, sebab tujuh pintu hawa nafsu yang ada di kepala tidak difungsikan sehingga ruhani perlahan bergerak meninggalkan keterikatannya dengan badan (syahwat). Neuron-neuron akal berhenti bergerak hingga menjadi Nurun ‘ala Nurin, lalu melesat kembali ke pangkalnya, yaitu Cahaya Allah dan Cahaya Terpuji. Pada saat inilah ruhani berserah diri dan lepas bebas dari pengaruh alam-alam, suara-suara ghaib, dan lain-lainnya.

Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada wajah Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukan termasuk orang yang menyekutukan-Nya.” (QS Al An’am 6 : 79)

Ayat di atas merupakan pernyataan setiap kali kita shalat, bahwa kita menyadari sedang menghadapkan wajah kita dengan Wajah Allah Yang Maha Suci (bertawajuh). Kemudian dilanjutkan dengan penegasan bahwa “shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata-mata hanya untuk Allah semata”. Jika keadaan ini yang terjadi, tak mungkin akal kita berkeliaran tak terkendali mengingat selain Allah. Kita juga tidak mungkin melakukan perbuatan yang melanggar tuntunan Allah.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab dan dirikan shalat. Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan ingkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah dalam (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat lain)………” (QS Al-Ankabut 29 : 45)

Allah memberikan gelar kepada orang yang shalatnya tidak sesuai dengan sumpahnya sebagai shalatnya orang munafik.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka dzikrullah kecuali hanya sedikit sekali.” (QS An Nisa’ 4 : 142)

Ketika melakukan shalat, kita sering mengalami rasa jenuh dan tidak khusyu’, padahal dalam doa iftitah kita telah berikrar bahwa kita sedang menghadapkan wajah kita dengan wajah Allah. Hal ini terjadi dikarenakan kita tidak mengetahui bagaimana cara melakukan Takbiratul Ihram dengan baik.

Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, bahwa “shalat itu adalah mi’raj-nya orang-orang mukmin”. Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah.

Mungkin bagi kita yang awam agak canggung dengan istilah mi’raj, yang hanya kita kenal sebagai peristiwa luar biasa hebat yang pernah dialami Nabi Muhammad Saw dan menghasilkan perintah sebuah shalat. Mengapa Rasullullah mengatakan bahwa shalat merupakan mi’raj-nya orang mu’min? Adakah kaitannya dengan mi’rajnya Rasulullah Saw, karena perintah shalat adalah hasil perjalanan beliau ketika berjumpa dengan Allah di Shidratul Muntaha? Mungkinkah kita bisa melakukan seperti yang dilakukan Rasulullah Saw melalui shalat? Apakah kita bisa bertemu dengan Allah ketika shalat? Begitu mudahkah bertemu dengan Allah? Atau jika jawabannya tidak, mengapa kita diperintahkan untuk shalat? Adakah rahasia dibalik shalat?.

4.). Shalat dalam tinjauan tasawuf ada dua macam, yaitu sholat yang bersifat syariat yaitu sholat lima waktu (shalat wajib dan sunnah), sedangkan yang kedua adalah sholat Daim. Adapun daim berarti kekal atau tetap, Shalat daim berarti doa atau dzikir yang kekal dan tetap. Shalat daim, seperti diungkapkan dalam firman Allah:
ٱلَّذينَ هُمْ عَلى صَلاتِهِمْ دائِمُونَ

Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya secara terus-menerus (Qs. al-Ma’arij ayat 23)

Ketika Ruh masih dalam kondisi yang ruhani, Sebelum diberi badan jasmani dan dibentuk oleh Allah. Pada hakekatnya Ruh sudah dibimbing agar selalu ingat (Dzikir) kepada Allah.

وَ إِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَني آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَ أَشْهَدَهُمْ عَلى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قالُوا بَلى شَهِدْنا

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Qs. Al-A‘raf:172)

Shalat daim Tidak seperti shalat lima waktu dan shalat sunah (nawafil), shalat daim tidak terikat dengan waktu, tanpa rukuk, dan tanpa sujud. Sebutan lengkap untuk salat ini adalah shalat daim mulat salira, yaitu zikir yang kekal dan mawas diri.
Mawas diri di sini berarti selalu ingat atau eling kepada Tuhan Yang Maha Esa.
"Eling lan waspodo" alias "awaken awarenes"

“Shalat daim ialah sembahyang yang tetap, yang selalu dilaksanakan, atau sembahyang yang tidak pernah ditinggalkan, mawas diri, dan mawas aku (melihat dengan teliti akan diri sendiri atau dirinya dalam arti yang seutuhnya). Melakukan ini amat penting bagi kita yang mencari ilmu hakikat. Dan melakukan yang demikian inilah yang disebut dengan salat daim mulat sarira.”

Jadi yang dimaksud dengan shalat daim adalah: “memperhatikan dengan seksama rasa hidup kita semua, lalu mengakui dirinya menjadi penampakan lahiriah Tuhan Yang Maha Suci yang sejati, Yang Maha Kuasa, Yang Kuasa menciptakan segala sesuatu.
Kalau sudah bisa demikian, itulah yang disebut shalat daim, yaitu shalat sejati.”

“saya berniat salat daim untuk selama hidupku, berdirinya adalah hidupku, rukuknya adalah penglihatanku, iktidalnya adalah pendengaranku, sujudnya adalah penciumanku, bacaan ayat adalah ucapanku, duduknya adalah imanku, pujiannya adalah keluar masuknya nafasku, zikirnya adalah ingatanku, kiblatnya adalah renunganku, fardu menjalankan yang wajib lantaran kodratku sendiri. Disitu lalu pasrah kepada Zat hidup kita pribadi . jangan ragu-ragu lagi, karena yang demikian itu telah berdiri Zat, sifat dan perbuatan kita ini sudah menjadi Al-Qur’an sejati, sebagai tanda hakikat semua shalat.”

“Itulah shalat daim, yakni salat yang sejati, ia tanpa di antarai waktu, tidak mempunyai hitungan rakaat, mereka ini bisa disebut shalat sambil bekerja, melakukan pekerjaan sambil salat, duduk dengan berdiri, berdiri dengan duduk, lari dengan berhenti, membisu dengan berceritera, bepergian dengan tidur, tidur dengan jaga. Seperti itulah ibaratnya, sebab hakikat shalat daim tanpa sujud dan rukuk, yakni hanya berada dalam rasa hidup kita.”

hakikat shalat terletak pada perbuatan utama, yakni sabar dalam pendengaran, maka jika seseorang bisa menutup telinga untuk tidak mendengar hal-hal yang tidak bermanfaat, berarti ia telah melaksanakan shalat.

Shalat daim merupakan bentuk pengembaraan ahli kerohanian dalam mencari Tuhan. Untuk menemui Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Suci, dan Maha Sempurna, maka dalam pencarian itu seseorang harus suci secara lahir dan batin. Karena itu ia harus menghidupkan hati dan perasaannya untuk selalu ingat dan berzikir kepada Tuhan. Hal ini bisa dicapai dengan cara shalat daim dalam arti tasawuf, yaitu “ ingat dan zikir yang terus-menerus”.

Dengan demikian shalat daim ini tidak dalam arti salat fardu lima waktu dan salat sunah, melainkan lebih sesuai jika diartikan zikir secara sufi yang terus-menerus.
Al-Qur’an menganjurkan banyak berzikir di luar salat. Dalam hubungan ini Allah SWT berfirman:

فَإِذا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَ ابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَ اذْكُرُوا اللهَ كَثيراً لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS.al-jumuah:10)

فَإِذا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللهَ قِياماً وَ قُعُوداً وَ عَلى جُنُوبِكُمْ

Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah pada waktu kamu berdiri, duduk, dan berbaring. (Qs. An-Nisa’: 103)

Rasulullah Saw. adalah contoh yang sempurna, beliau menjalankan shalat lima waktu dan shalat sunnah-sunnah lainnya, tetapi beliau juga menjalankan shalat daim dalam sehari-harinya.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: كان رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يذكر اللَّه على كل أحيانه. رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari `Aisyah radhiyallahu `anha, ia berkata : “Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam selalu berzikir kepada Allah Ta’ala dalam segala keadaan”. (HR. Muslim.)

Sholat Daim inilah yang disebut juga dengan Kesadaran murni, pure consciunes,  jati diri, guru sejati, manunggalling Kawulo gusti, tauhid, setelah bisa DAIM di kesadaran murni maka akan menjadi pure Being alias KEMENJADIAN MURNI alias MAKRIFAT

As sholatu imaduddin yang berarti sholat itu tiang agama, mempunyai nilai ritual yang tinggi dan spiritual yang rendah.
As sholatu li dzikri ialah sholat itu dzikir, mempunyai nilai spiritual yang menengah dan As sholatu mi’rajul mukminin yaitu sholat itu mi’rajnya orang mukmin, sholat ini mempunyai nilai spiritual yang tinggi dan hal itu hanya dapat dicapai dengan menyimak arti isra dan mi’raj secara menyeluruh.
Serta terakhir asholatu daimun mempunyai nilai spiritual yang maha tinggi.

By. Nka

DOKTRIN Ajran suci adalah untuk melepaskan doktrin2 ajaran suci itu sendiri

DOKTRIN AJARAN SUCI adalah Untuk melepaskan Dari DOKTRIN2 AJARAN SUCI

Doktrin hanya sebagai syarat dan sarana untuk ber-tauhid setelah ber-tauhid maka runtuhlah semua doktrin2 dan dogma2 tersebut.

Kita merasakan betapa sholat, puasa, ataupun berbuat baik menjadi beban sejak kecil. Kita selalu ketakutan kalau tidak sholat akan dijebloskan ke neraka, tidak puasa ataupun berbuat baik tidak dapat pahala ataupun masuk surga sehingga setiap kali ada suara adzan perasaaan takut dan ngeri sering menyelusup ke dalam hati. Tanpa di sadari, secara psikologis pikiran kita terganggu dengan doktrin2 dan dogma2 tersebut.

Nabi Muhammad SAW telah mensinyalir hal ini dalam hadisnya :
Yak tii ‘alaannaasi zamaan yusholluuuna walaa yusholluun (Riwayat Ahmad)
”Akan datang suatu masa atas manusia, mereka melakukan sholat namun pada hakikatnya mereka tidak sholat”

Maksudnya dari hadis tersebut supaya kita lepas dari doktrin2  dan dogma2serta ber-kesadaran murni alias bertauhid seutuhnya sehingga ibadahnya karena lilahitangala bukan karena doktrin2 atau ketakutan

"Kam ming qokmim hatzhuhu min sholaatihitt’abu wannashobu" (Riwayat Abu Dawud)
Berapa banyak orang yang sholat (beribadah, puasa, berbuat baik, sedekah dsbnya) namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah

Selama ini kita sholat hanya selalu menggunakan tata aturan otak kiri (menghapal, berhitung, mengingat) yang kenyataannya adalah menghasilkan ketidaknyamanan dan rasa jenuh jg bosan. Perasaan terpisah karena harus memenuhi logika hukum, sementara aktivitas otak kanan dibiarkan liar oleh karena berprinsip :” Yang penting sudah memenuhi syarat sahnya shalat”. Akibatnya karena menggunakan otak kiri, kita akan merasa capek karena terdoktrin, terhipnotis, terdogma harus berkonsentrasi, dan karena otak kiri lelah, otak kanan bekerja liar kesana kemari, dan mengingat apa-apa yang telah kita lakukan.

Padahal Rasulullah telah memperingatkan, bahwa dalam shalat atau ibadah apapun kesadaran spritual (otak kanan/ emosional) harus diaktifkan, yaitu merasakan kehadiran Allah dihadapan kita dan kita menjadi Ihsan (orang yang berserah diri). Kita tidak pernah disadarkan, bahwa sholat itu untuk kebaikan kita dan bisa dirasakan langsung oleh pikiran dan perasaan hati kita, bahwa sholat itu akan membuat perasaan kita damai dan tenang. Allah tidak butuh sholat kita, tapi kita butuh Allah yang telah menciptakan manusia. Kita sholat merupakan tanda syukur kita kepada Allah Semesta Alam. Bila pikiran dan cara berpikir sudah seimbang, tubuh dan jiwa akan mengikuti kehendak pikiran. Ini adalah sinergi yang diharapkan dapat menampilkan kualitas shalat kita secara optimal. Perasaan khusyuk tidak mungkin bisa didapatkan jika kita tidak memiliki kesadaran dan kepercayaan, bahwa sebenarnya di saat shalat kita sedang berhadapan dengan Allah.

Kebanggaan akan nasab atau keturunan Adalah kesadaran rendah

Kebanggaan akan nasab atau keturunan adalah kesadaran rendah alias force,
Banyak orang membanggakan nasabnya, keturunannya, leluhurnya.
Mengaku keturunan Nabi, mengaku keturunan Raja, mengaku keturunan ningrat, mengaku keturunan Adipati, keturunan ningrat, keturunan darah biru.
Boleh saja dan Syah2 saja mengetahui silsilah nasab tapi itu untuk diri sendiri serta tidak boleh dipamerkan apa lagi di banggakan karena itu kesadaran force.
Semua orang punya nasab, saya sendiri punya nasab ada bukunya ada pakemnya tapi itu untuk diri ku sendiri, untuk pengetahuan ku, untuk mengetahui sejarah asal usul, untuk mempermudah menemukan jati diri, untuk mempermudah menemukan passion dari informasi DNA leluhur.
Jadi nasab bukan untuk konsumsi publik, bukan untuk dipamerkan, bukan untuk dibanggakan, cukup diri sendiri aja yg tahu itulah kesadaran power.

Yg penting bagaimana ahlak dan manfaat mu untuk orang lain, bukan nasab atau keturunan mu...

By. Nka

Syariat tanpa hakikat hampa, hakikat tanpa syariat akan batal

Doktrin2, dogma2, bahan2, pedoman2, referensi2, tuntunan2, tehnik2, cara2 tanpa KESADARAN akan hampa alias sia2 dan setiap KESADARAN tanpa doktin2, dogma2, bahan2, pedoman2, tuntunan2 tidak akan pernah sampai pada tujuan wkwk... 🤣😂

Dilihat dari maknanya syariat adalah jalan, tangga, metode, pedoman, tehnik2, cara..ruang waktu..sedangkan Hakikat sendiri bermakna inti, yg benar, yang suci, yg murni dan inilah yg dituju..tujuan murni tanpa sebab ini itu dan tanpa syarat ini itu...
dari makna tsb bisa dipahami..bagaimana mungkin engkau mencapai tujuanmu (berhakikat) atau hanya berhakikat saja tanpa melewati jalanmu (syariatmu)..jika engkau hanya bersyariat maka kamu hanya berputar-putar  dijalan...gk ngerti arah..kosong hampa...maka keduanya adalah sebuah keniscayaan...maka.berlaku ngono yo ngono ning yo ngono..

Asbabun.nuzul dari ungkapan tsb adalah karena banyak pemahaman yg hanya syariat beloko..anti hakikat..dan sebaliknya..berhakikat saja meninggalkan syariat yg menjadi jalannya...

Semoga bisa Daim di kesadaran murni alias hakekat.

Begitu sia2nya seseorang yg bertindak tp dalam kondisi dia tdk mengerti benar apa yg sdg dia kerjakan, sehingga tiada ruh kesadaran dlm semua tindakannya,dan apakah bukan hanya sekedar khayalan ketika dia yg mengaku memegang kesejatian namun tiada pancaran dirinya membawa kedamaian dan kemanfaatan.

By. Nka

Rezeki tidak pernah tertukar

REZEKI TAK PERNAH TERTUKAR

Apa kamu pernah ketika sedang jualan Online, ada yang komentar di Fb atau chatt di inbox atau japri WhatsApp atau DM Instagram menanyakan barang atau produk yang anda jual sampai detail dan lama???.....
Sampai-sampai waktu anda hari itu hanya untuk melayani satu calon pembeli yang tidak jelas itu saja...
Lalu pada akhirnya, sang calon pembeli itu bilang . . .
"Terimakasih Buat Infonya ya mas/mbak/pak"
Atau bilang
"Maaf kemahalan"
Atau bilang "maaf gak sesuai dengan apa yang di inginkan"
Atau "maaf budget saya cuman segini"

Apa perasaan anda???...., jengkel???... menggerutu????... Terus update status kekesalan anda biar dipamerkan ke semua orang???..Dengan men-scrensoot dan serangkaian tindakan lainnya untuk menunjukan kekesalan, kebencian, ataupun Ghibah anda kepada orang itu...

Dan pernahkah anda menghadapi calon pembeli, yang sedikit bertanya, hitungan menit tanya rekening, lalu beberapa saat kemudian dia memberi info kalau sudah transfer ???

Apa reaksi anda???... bahagia???, senang..?, mungkin ada yang loncat-loncat kegirangan . . .

Coba renungkan, pelajaran apa yang bisa anda ambil ???....
Tugas kita hanya memberikan effort/ihtiar/upaya semaksimal mungkin pada usaha yang kita jalani

Hasil akhir?...Biarkan Alloh SWT Yang Maha Kaya yang menentukannya.

Bersyukur ketika diberi, bersabar ketika diuji dn kehilangan..

Gunakan bisnis atau dagang dengan kesadaran murni, pasti metode bisnis daganganmu sama seperti metode Rosulluloh..

Selamat berikhtiar karena Allah.. Lillahitangala
Dan niatkan jualan untuk ibadah kepada Allah...
InsyaAllah Allah akan memudahkan..
Bismillah... La khaula walaa quwwata illa billahil aliyyil Adziiimm....

By. Nka

Kesadaran tidak pernah memaksa

Kesadaran tidak pernah memaksa, mendoktrin ataupun menghipnosis orang untuk sadar, kesadaran hanya memberikan pemahaman, referensi dan bahan supaya biar sadar.
Kalau kesadaran dianggap memaksakan kebenaran diri sendiri kepada orang lain itu salah kaprah
memberikan pengetahuan ataupun informasi tentang kesadaran itu derajatnya biar paham bukan memaksa tapi biar sadar.

Mau sadar apa gak itu hak orang masing-masing.
Karena kesadaran itu untuk diperjalankan serta orang sadar pasti orang yg dikehendaki-Nya.

By. NKA

Pure consciunes secara daim

Orang yg sudah pure consciunes secara Daim maka dia akan mendapatkan kebenaran dari bahan atau referensi dari siapapun, karena di dalam dirinya sudah punya Al Qur'an qodim.
Jadi dia bisa mendapatkan kebenaran atau referensi dari Agama lain, suku lain, negara lain, orang lain dsbnya selama kebenaran itu tidak bertentangan dengan Al Qur'an qodim yg ada di dalam diri jg dengan kemurniannya Sebagai manusia seutuhnya.
Karena orang pure consciunes pasti Universal, pasti seperti matahari yg menerangi.
Seperti contohnya Gus Dur, Cak Nun, Habib Luthfi, Bunda Teresa, Mahatma Gandhi, Dalai Lama....

By. Nka

Hidup itu sejatinya tanpa teori2

Hidup itu sebenarnya tanpa teori2(doktrin2, dogma2, hypnosis yg menjajah, aturan2, tehnik2), teori2 derajatnya cuman menjelaskan.
Itulah pure consciunes alias Kesadaran murni alias ketahuidan.

Kalau dengan teori2 udah bukan kesadaran murni alias ketahuidan.

Manusia yg tanpa teori2 pasti manusia yang murni dan manusia seutuhnya.
Serta Pasti Kholifah sejati.

By. Nka

Melumpuhkan penjahat karena kesadaran


Seorang Sniper/Penembak Jitu yang ber-KESADARAN murni sedang bertugas memantau potensi kerusuhan. Ketika memantau, tidak didapati adanya kerusuhan.. Suatu ketika ia mendapati dari teropong senapannya bahwa ada perampok yang merampas tas seorang ibu, lalu dengan kejamnya ia hendak membacok ibu itu di sebuah lorong yang sepi. Secara hukum, perampokan adalah tindakan yang harus diadili di pengadilan..
Sniper yang tahu kejadian itu, dari kesadarannya muncul kehendak untuk menyelamatkan ibu itu dari perampok yang mengancam nyawa si ibu.
Lalu seketika sniper itu menembak kepala perampok itu dan perampok itu mati tersungkur di tanah.
Tindakan sniper ini bukan Kesadarannya turun..
Ia bertindak karena kehendak murninya menggerakkan untuk menyelamatkan ibu itu shg langkah yang ditempuhnya adalah menghentikan tindakan perampok yang hendak melukai ibu itu dengan cara membunuhnya terlebih dahulu.
Ini adalah realisasi kesadaran murni yang nyata meskipun sifatnya membunuh tanpa proses peradilan.
Dalam situasi tadi, tidak ada pilihan bagi Sniper untuk menyelamatkan ibu itu selain dengan menembak perampok tadi.
Adapun pilihan bahwa sniper itu bisa menembak untuk sekedar melumpuhkan atau ia membutuhnya seketika, itu adalah suatu pilihan yang tidak bisa dipertanyakan secara bahasan hukum. Itu sudah menjadi kuasa dari sniper tadi yang diberikan pengetahuan akan kejadian perampokan tersebut untuk disikapi. Maka tindakan apakah melumpuhkan ataupun membunuh adalah sama2 benar...

Mengangkat pedang

Mengangkat pedang itu tidak selalu dimaknai jatuh kesadarannya.

Sebagaimana Nabi Muhammad SAW mengangkat pedangnya karena dizolimi orang2 yg pengen menghentikan ajaran Kesadaran untuk membuat orang sadar dari kegelapan dan jahiliah, jadi Rosulluloh bukan ingin memerangi ataupun menguasai suatu daerah ataupun pengen menyebarkan ajarannya dengan memaksa orang atupun melakukan terorisme, beliau hanya bertahan dan melindungi dari orang2 yg dzolim yg ingin menghentikan ajaran Islam.

Jg seperti Arjuna mengangkat panahnya karena memang diwajibkan memerangi ketertutupan akan kesadaran..
Krishna membasmi kemelencengan waktu itu bukanlah kesadarannya turun, Namun itu justru karena kesadaran murninya..

Meditasi

Meditasi itu bukan untuk jadi sakti.
Meditasi bukan kosong atau suwung itu hanya istilah karena selama manusia sadar pikiran akan selalu meloncat2 kesana kemari kecuali keadaan tidak sadar seperti tidur, koma, dan mabuk.
Meditasi adalah suatu tehnik atau cara atau metode seorang manusia untuk menguasai perangkat nya yg super canggih yg disebut pikiran dengan cara pikiran di fokuskan atau di kunci pada satu titik misalnya nafas atupun zikir, sehingga manusia dapat mengontrol pikiran nya dan masuk kondisi super sadar, memasuki kondisi mindfulnes sampai kondisi Transendental.
Sehingga dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu super sadar sehingga sholat khusyuk, makan khusyuk, minum khusyuk, bekerja khusyuk, ber-aktifitas khusyuk dsbnya.

Meditasi juga tehnik2 melepaskan kemelekatan.
Meditasi juga cara untuk menjadi manusia seutuhnya.

By. Nka

KEJENIUSAN

Kejeniusan

"didalam otak manusia terdapat milyaran sel, kalau orang biasa otaknya hanya berfungsi sekian persen saja. Tapi Kanjeng Nabi Muhammad SAW Sel-sel otaknya berfungsi semua, sehingga beliau mampu melihat kebelakang tanpa menolehkan pandangannya itulah salah satu kemuliaan yang diberikan kekasih-Nya"

Semua Nabi dan Rosul itu jenius..
Malah di atas jenius, Akhirnya disebut ma'shum.
Ketika seseorang mengikuti Kesadarannya secara murni, ia menempuh jalan yg lurus..
Ia telah ber-Agama yg lurus itu sendiri.
Ia menjadi benar kesadarannya, akhirnya menjadi benar pemikiran, perkataan, perbuatan, dan tingkah lakunya.

Semakin lama seseorang ber-kesadaran dan memegang teguh Jati Diri Manusi sejati, maka semakin bertumbuh mulia dan suci dirinya.
Berliannya semakin muncul dan perform mengkilat menghasilkan kilauan2 yg mulia.

Semua Rosul dan Nabi adalah spritual sejati yang ber-kesadaran luar biasa tingginya.
Yang pasti meninggikan adab daripada ilmu.
Karena adab adalah implementasi dari ilmu, jg menunjukkan ketinggian Kesadarannya.

By. NKA

JUAL BELI DENGAN TUHAN

Jual beli dengan Tuhan

Dulu aku waktu kecil suka jual beli dengan Tuhan, aku jual puasaku, sholat ku, ibadahku, sedekah ku dan sebagainya dengan pahala, surga dsbnya.
Beranjak dewasa aku merenung "mosok Tuhan disamakan jual beli di pasar ataupun barter"
Setelah aku merenung aku rubah semua doktrin2 dan hipnotis tentang agama dan Tuhan, aku rubah doktrin2 dan hypnosis itu dengan kesadaran murni sehingga semua ibadah ku didasarkan karena pengabdian dan cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa istilah orang Jawa Lillahitangla. Iklas tulus tanpa syarat atau doktrin2 berupa pahala, surga dsbnya.

Sebenarnya Agama adalah syarat untuk ber-KESADARAN MURNI sehingga tidak jaminan orang beragama atau sekolah tinggi jadi orang baik kita lihat banyak kejahatan berkedok agama.

By. NKA

TUHAN kok dijadikan lahan bisnis

TUHAN KOK DIJADIKAN LAHAN BISNIS

Ibadah mu, sholat mu, puasa mu, sedekah mu, infakmu, perbuatan baikmu, menolong mu dsbny adalah bukan untuk Tuhan, bukan untuk pengen masuk surga, hidup enak, rezeki balik berkali-kali lipat, takut neraka, takut siksa kubur, takut mati, takut dosa...dsbnya..
Tapi semua untuk dirimu sendiri, bukan untuk  Tuhan.
Tuhan gak butuh itu semua, tapi yang butuh itu manusia, untuk kebaikan manusia.
"Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku" (QS. adz-Dzaariyaat : 56),"
pada dasarnya Tuhan tidak membutuhkan semua ibadah manusia.
Bahkan semisal seluruh makhluk di dunia ini tidak ada yang beribadah, Allah tidak sedikitpun merasa rugi.
Tuhan tidak membutuhkan amal ibadah kita. Tuhan memang memerintahkan kita untuk menyembah-Nya, namun bukan karena Ia butuh untuk disembah.
Allah berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (saja). Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (QS. Adz Dzariat: 56-58)

Kita beribadah atau tidak, kita melakukan amal kebaikan atau tidak, kita taat atau ingkar, kita maksiat atau tidak, sama sekali tidak berpengaruh pada keagungan dan kebesaran Tuhan.

Andai seluruh manusia beriman dan bertaqwa, keagungan Tuhan tetap pada kesempurnaan-Nya.
Andai semua manusia kafir dan ingkar kepada Tuhan, sama sekali tidak mengurangi kekuasaan-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman:
“Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bertaqwa, hal itu sedikitpun tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kekuasaan-Ku” (HR. Muslim, no.2577)

Demikianlah, Allah Ta’ala tidak butuh terhadap ibadah kita. Lalu untuk apa kita berlelah-lelah, menghabiskan banyak waktu untuk beramal dan beribadah? Karena kita yang butuh untuk itu. Allah Ta’ala berfirman:
“Jika kamu berbuat baik, kebaikan itu bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (QS. Al Isra: 7)
surat Al isra ayat 7 memuat sunattatuloh alias hukum kausalitas (sebab-akibat, aksi-reaksi, tebar-tuai, karma).

By. NKA

Ilmu sejati pasti tidak ada sanadnya

ILMU SEJATI PASTI TIDAK ADA SANADNYA, SALAH SATUNYA ILMU DIAM,
Eh tapi yg diam gimana dulu???...
Kalau diam terus ya kejahatan merajalela...
"Seng waras ngalah terus ya wong2 gemblong berkuasa".

Banyak ILMU yang ada di alam ini.
Dari ilmu yang biasa sampai ilmu yang paling mulia,
Ada ilmu yang paling tinggi, ada ilmu yang paling utama,
Ada ilmu induk dari segala ilmu dan sebagainya.

Lalu Ilmu apakah yang paling tinggi itu...???

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:
"Ya Rasulullah, ilmu apakah yang paling tinggi itu...?"

Rasulullah hanya "DIAM"

"DIAM" bukan berarti "TIDAK BICARA"
Tetapi tidak banyak bicara, tidak banyak mengeluh, tidak membuka aib, tidak pamer (riya), tidak sombong, tidak berdebat dan sebagainya...

Ilmu "DIAM" adalah sebuah ilmu yang tidak ada gurunya, tidak ada sanadnya, tidak ada muridnya, tidak ada sekolahnya, tidak ada kitabnya, tidak diajarkan dimanapun.

Dalam DIAM itu tidak ada yang mengetahui kecuali orang yang bersangkutan dengan Tuhannya.

DIAM tetapi tetap terus memperhatikan,
DIAM tetapi terus bergerak (ikhtiar),
DIAM tetapi terus berdoa (berzikir),
DIAM tetapi tetap terus menebar manfaat.

Seperti matahari yang diam tetapi terus bersinar.
Seperti padi yang diam tetapi tetap terus tumbuh.
Seperti tanah yang diam tetapi di dalamnya menyimpan banyak manfaat.
Atau seperti dirimu yang dulu selalu diam ketika di dalam RAHIM ibumu, walau tak nampak, tak bicara, tetapi keberadaanmu membawa berjuta harapan dan kebahagiaan.

🧘🧘🧘
#topo_ngrame
#ber_aktifitas_tapi_selalu_meditatif

By. NKA

Kutoarjo

𝙈𝘼𝙆𝘼𝙈 KYAI 𝙏𝙅𝙐𝙈𝘼𝙉𝙏𝙊𝙆𝙊/𝘾𝙐𝙈𝘼𝙉𝙏𝙊𝙆𝙊 DI BUKIT SATRIA KALIWATUBUMI

  Foto Makam Giri Cumantoko   𝙈𝘼𝙆𝘼𝙈 KYAI 𝙏𝙅𝙐𝙈𝘼𝙉𝙏𝙊𝙆𝙊/𝘾𝙐𝙈𝘼𝙉𝙏𝙊𝙆𝙊 DI BUKIT SATRIA KALIWATUBUMI Jejak Tradisi Lisan, Gen...

Kutoarjo