Powered By Blogger

Jumat, 29 Agustus 2025

Pawai pelajar Kutoarjo 19 Oktober 1949, sebagai Demo Pelajar Perdana setelah Agresi Militer Belanda II menjadi salah satu elemen penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia.

 PELAJAR KUTOARJO MELAKUKAN DEMO PERDANA BAGI INDONESIA

 

Foto. Demo pelajar pertama pasca Agresi Militer 2 guna memberi semangat juang Tentara Genie Pelajar dan Tentara Republik Indonesia yang menghasilkan pengakuan secara resmi Kedaulatan Indonesia tiga bulan kemudian, Kutoarjo, 19 Oktober 1949 Sumber : National Archief via dan Wereldmuseum Roterdam Belanda.

Pawai pelajar Kutoarjo, sebagai Demo Pelajar Perdana setelah Agresi Militer Belanda II  menjadi salah satu elemen penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia. Pada 19 Oktober 1949, di tengah suasana yang masih dipenuhi ketegangan pasca Agresi Militer Belanda II, sekelompok pelajar di Kutoarjo, Jawa Tengah atau di Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa tengah, turun ke jalan dengan penuh semangat. Mereka berbaris rapi, menggenggam bendera Merah Putih dengan gagah, melangkah pasti di jalanan berdebu, diapit oleh rimbunan pepohonan yang menjadi saksi bisu sebuah perlawanan tanpa senjata. Ini bukan sekadar pawai biasa, melainkan sebuah pernyataan sikap, sebuah bentuk dukungan nyata bagi Tentara Genie Pelajar (TGP) dan Tentara Republik Indonesia (TRI) yang saat itu masih berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa dari rongrongan kekuatan asing. Perjuangan Tanpa Senjata, Suara dari Generasi Muda waktu itu Indonesia masih berada dalam tekanan Belanda yang enggan sepenuhnya melepaskan kekuasaannya. Meskipun perjanjian-perjanjian diplomatik telah dilakukan, tekanan militer dan upaya mempertahankan kolonialisme masih berlanjut. Para tentara Republik, baik yang berasal dari kesatuan reguler maupun pejuang-pejuang rakyat seperti Tentara Genie Pelajar (TGP), terus berperang dengan segala keterbatasan.

Pada hari Rabu tanggal 6 April 1949 sekitar jam 4. 30 WIB Pagi pos Tentara Pelajar di Desa Bonorowo digerebek Belanda dan tertangkap 2 orang anggota tentara Pelajar yaitu : Darwono dan,Sukowardoyo lainnya seperti Sutarman dan Abdul Majid berhasil meloloskan diri, lalu Sutarman dan Abdul Majid menggabungkan diri ke Sie II Kie III Det III Brigade 17 di Desa Wareng kecamatan Butuh, serta nantinya kedua orang tersebut Gugur saat serangan Belanda ke Desa Wareng hari Selasa tanggal 19 April 1949.

Sedangkan Darwono dan Sukowardoyo oleh satuan Regu Anjing NICA ( orang pribumi Indonesia yang berkhianat menjadi tentara Belanda) di bawa ke Sungai Gebang yang pada waktu itu banjir pada hari Sabtu tanggal 9 April 1949 dengan tangan di ikat ke belakang dan dipukuli dengan Popor bedil dan bayonet lalu ditembak mati, jenazahnya dihanyutkan ke dalam sungai yang banjir serta jasadnya tidak bisa ditemukan.

Sesuai keputusan Rapat staf Kie II Det III bulan April 1949 di desa mlaran gebang untuk membentuk Sie Mobil guna melakukan penghadangan-penghadangan di daerah Gombong Dan sumpyuh, serta menetapkan sie II sebagai intinya. Maka komandan kie Wijono dan wakompi/Kastaf Imam pratignyo berangkat ke sumpyuh dikawal oleh Sudiharjo sumo. Berangkat hari Senin tanggal 18 April 1949, Sebelum berangkat mengambil bom tarik (trekbom) di Rumah Harjadi di Desa Ketawang, Kecamatan Grabag kemudian meneruskan perjalanan ke sumpyuh, akan tetapi karena kemalaman di jalan maka rombongan mampir bermalam di Desa Wareng kecamatan Butuh.

Komandan Markas Tentara Pelajar Sie II Kie III Det III Brigade 17 di Desa Wareng pada waktu itu bernama Roesnadi melaporkan bahwa pasukan tentara pelajar Sie II dipimpin Komandannya Sumardi telah berangkat pagi hari Senin 18 April 1949 ke Sumpyuh.

Komandan Kie Wijono, Wakompi Imam Pratignyo, dan Sudiharjo dipersilahkan menginap di kelurahan setelah di jamu makam oleh pak lurah Desa Wareng bapak Fannani dan istrinya kemudian mereka berempat bermain bridge hingga larut malam sekitar jam 1.00, akhirnya tamunya tidak tahan menahan kantuk dan merebahkan diri di bale-bale. Rusnadi pamit pulang ke markas Sie II Kie III Det III Brigade 17 di rumah pak Carik Desa wareng yang bernama Karmin Somomihardjo, Karena Roesnadi merasa bertanggung jawab mengenai Peluru-peluru dan Bom yang dibawa rombongan tamunya.

Pagi harinya Selasa tanggal 19 April 1949 sekitar jam 4. 30 Pagi terjadi penggerebekan pasukan Belanda bersama anjing NICA nya di Desa Wareng dengan kekuatan kurang lebih satu kompi, lalu mereka menggeledah rumah-rumah penduduk yang dijadikan Markas sie II Kie III Det III Brigade 17, Komandan Sie II Kie III Det III Brigade 17 Rusnadi tertangkap dan diikat tangganya lalu dipukuli dengan popor bedil dan dipaksa dengan ancaman Bayonet untuk menunjukkan rumah-rumah penduduk yang menjadi markas Tentara Pelajar.

Berkat jiwa Kepahlawanan dan Patriotisme juga Kesetiakawanan Komandan Sie II Kie III Det III Brigade 17 Roesnadi tidak mau berkhianat dengan menundukkan diri lalu dilewati saja rumah pak lurah desa wareng yang bernama pak Fannani dimana komandan kompi dan Kastaf masih tertidur pulas sekalipun mulut Roesnadi dirobek bayonet, Rusnadi tetap diam seribu bahasa supaya kawan-kawannya dan pak lurah selamat.
Jiwa Mulia Roesnadi patut di jadikan Suritauladan bagi Generasi muda serta patut diapresiasi oleh Bangsa dan Negara Republik Indonesia.
Anggota tentara pelajar lainnya yang tertangkap adalah Soeparto, Soetarman, dan Abdul Majid.
Soetarman berasal dari pos Tentara Pelajar di Tlogo Prembun yang lolos dalam penggerebekan Belanda di pos bonorowo akhirnya gugur di desa wareng, Sungkono yang kebetulan mandi di pagi buta melihat belanda sempat meloloskan diri dalam keadaan bugil, Martono yang tertangkap tentara Belanda selamat dengan menendang dada anjing NICA yang menawannya kemudian berlari secara zig zag di ikuti berondongan senapan tentara Belanda.
Dengan terdengarnya bunyi senapan maka rombongan tamu yang berada di kelurahan wareng kediaman Pak Lurah Fannani yaitu Wijono, Imam Pratignyo, dan Sudiharjo terbangun dengan respon cepat langsung mengambil senapan terus keluar rumah dan oleh penduduk desa diberi tahu bahwa desa wareng digerebek Belanda lalu dengan waspada dan siaga penuh ketiga orang itu mendekati arah suara senapan setelah sampai di sluis wareng lalu mereka diberi tahu warga bahwa belanda telah pergi ke arah timur dengan membawa tawanan yaitu :

1. Roesnadi
2. Suparto
3. Sutarman,
4. Abdul Majid,
5. Carik desa wareng Karmin somomihardjo, dan
6. Bayan desa wareng yang bernama Wagirun mangundihardjo.

Mereka ber-enam telah dibawa Tentara Belanda ke Kutoarjo tetapi ditengah jalan di Desa Pringgoawijayan ke-6 orang itu ditembak mati jenazahnya di bawa oleh Penduduk Desa Wareng dan dimakamkan di desa wareng, lalu kerangka jenazah mereka dikumpulkan dan dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Mini yang di bangun oleh Paguyuban Bekas Tentara Pelajar Kedu

setelah peristiwa Selasa tanggal 19 April 1949 di wareng, para pelajar Kutoarjo tidak tinggal diam. Mereka sadar bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan di medan perang, tetapi juga melalui suara yang menggema di jalanan. Tujuh bulan setelah peristiwa Wareng, Pada tanggal 19 Oktober 1949 Dengan berani para pelajar mereka menggelar demonstrasi damai, menyuarakan semangat nasionalisme yang tak padam meski tekanan masih terasa begitu kuat. Pawai ini bukan hanya sekadar aksi spontan, melainkan wujud perlawanan terhadap upaya Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.

Foto. Demo pelajar pertama pasca Agresi Militer 2 guna memberi semangat juang Tentara Genie Pelajar dan Tentara Republik Indonesia yang menghasilkan pengakuan secara resmi Kedaulatan Indonesia tiga bulan kemudian, Kutoarjo, 19 Oktober 1949 Sumber : wereldmuseum Rotterdam dan National Archief via

 Didalam Sumber Dari wereldmuseum Rotterdam Belanda yang fotonya berjudul "De Dappere Generatie" yang artinya  Para Generasi Pemberani,

π˜Ώπ™š 𝙙𝙖π™₯π™₯π™šπ™§π™š π™œπ™šπ™£π™šπ™§π™–π™©π™žπ™š (𝙋𝙖𝙧𝙖 π™œπ™šπ™£π™šπ™§π™–π™¨π™ž π™‹π™šπ™’π™—π™šπ™§π™–π™£π™ž)

** Kutoarjo, Midden-Java, IndonesiΓ«, 1949.

"De dappere generatie".

   Het hijsen van de rood-witte vlag tijdens de Tweede Nederlandse Militaire Agressie in 1949 was een belangrijk moment in de geschiedenis van de Indonesische onafhankelijkheidsstrijd.
In 1949 werd, onder militaire druk vanuit Nederland, het hijsen van de rood-witte vlag een symbool van de geest van strijd en moed van Indonesische strijders in het hoofd bieden aan de Nederlandse militaire agressie.
Dit moment benadrukt ook de toewijding van IndonesiΓ« aan het behoud van zijn onafhankelijkheid.

Sumber : - wereldmuseum Rotterdam

Terjemahan Bahasa Indonesia :

Kutoarjo, Jawa Tengah, Indonesia, 1949.

"Para Generasi Pemberani".

   Pengibaran bendera merah putih pada masa Agresi Militer Belanda ke-2 pada tahun 1949 adalah momen penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pada Tahun 1949, di tengah tekanan militer dari Belanda,Pengibaran bendera merah putih ini menjadi simbol semangat perjuangan dan keberanian para pejuang Indonesia dalam menghadapi agresi militer Belanda.
Momen ini juga menegaskan komitmen Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya.

sumber ini dari wereldmuseum Rotterdam Belanda, foto dengan judul "De dappere generatie" Yang artinya generasi muda pemberani di kutoarjo tepatnya tanggal 19 Oktober 1949 setelah agresi militer Belanda II anak-anak pelajar kutoarjo melakukan pawai demo secara damai dan tidak anarkis tapi dengan berani membawa bendera merah putih keliling kutoarjo mereka umumnya berasal dari SMP grilya kutoarjo yang dulu adalah sekolah swasta dan digabung dengan SMP Negeri 2 Purworejo pada tanggal 1 Maret 1950 lalu menjadi SMP Negeri 1 kutoarjo sekarang bernama SMP Negeri 3 Purworejo, yang dulunya sebagian muridnya ikut bergerilya melawan Belanda. Pawai pelajar di kutoarjo tahun 1949 menjadi salah satu elemen penting pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda.
Semangat dan Komitmen anak-anak kutoarjo yang Berbuah Pengakuan.
Itu membuktikan bahwa generasi muda kutoarjo dari zaman dahulu adalah pemberani, cerdas, dan terukur

Dampak Pawai Pelajar dari Kutoarjo secara Nasional adalah Menyalakan Bara Semangat Perjuangan
Demonstrasi pelajar ini bukan hanya memberi semangat bagi para pejuang yang masih bertempur, tetapi juga menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Indonesia, termasuk generasi mudanya, tidak akan pernah tunduk pada penjajahan. Mereka ingin membuktikan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya tugas tentara, tetapi juga tanggung jawab seluruh rakyat. Semangat dan Komitmen Pelajar Kutoarjo Berbuah Pengakuan.

Tiga bulan setelah aksi ini, pada 27 Desember 1949, dunia akhirnya menyaksikan pengakuan resmi Belanda atas kedaulatan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag. Meski banyak faktor atau variabel dan element yang melatarbelakangi keputusan ini, semangat rakyat yang tak tergoyahkan, seperti yang ditunjukkan dalam pawai pelajar Kutoarjo, menjadi salah satu variabel dan elemen penting dalam perjuangan diplomasi bangsa Indonesia.

Sejarah sering kali ditulis oleh mereka yang mengangkat senjata, tetapi peristiwa di Kutoarjo (Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo) ini mengajarkan bahwa perlawanan juga bisa dilakukan dengan cara lain. Para pelajar ini, dengan langkah-langkah kecil mereka di jalanan desa, ikut menyumbang api perjuangan yang akhirnya membakar semangat bangsa hingga mencapai pengakuan kedaulatan.
Sampai sepanjang zaman dan sepanjang sejarah, pawai pelajar Kutoarjo tetap menjadi simbol bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya soal melawan penjajah dengan peluru, tetapi juga dengan keberanian menyuarakan kebenaran. Ini adalah pengingat bagi generasi penerus bahwa semangat patriotisme harus terus hidup, tak hanya dalam kenangan, tetapi juga dalam kiprah tindakan nyata untuk menjaga dan membangun negeri ini

SMP Gerilya Kutoarjo selalu menuntut agar diakui sebagai SMP Negeri. Untuk itu SMP Gerilya Kutoarjo dijadikan SMP cabang dari SMP Negeri 2 Purworejo di Kutoarjo, mulai tanggal 1 Maret 1950.

Ujian Akhir tahun (Ebta) pertama diselenggarakan tahun 1950. Semua naskah soal dari pusat namun penyelenggaraan dan pemeriksaannya oleh sekolah masing-masing. Pada tahun ajaran 1950/1951 diberlakukan dua macam instruksi dari departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang berisi :

Jumlah kelas di setiap SMP ditentukan oleh Kantor inspeksi (sekarang kantor wilayah), jumlahnya disesuaikan dengan keadaan ruangan belajar, sehingga pada umumnya jumlah muridnya berkurang.
SMP Negeri 2 Purworejo ditunjuk untuk menyelenggarakan Kursus Guru B K.G.B). Kursus ini mendidik para lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke SMTA untuk di didik selama satu tahun. Mereka dipersiapkan untuk menjadi guru SR. kegiatan kursus ini berlangsung sampai tahun pelajaran 1954/1955 dan dalam waktu sesingkat itu telah berhasil meluluskan 158 orang yang siap menjadi guru SR. Jumlah yang besar di Indonesia waktu itu.

Pada 1949, pelajar di Kutoarjo terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan, salah satunya dengan melakukan demo untuk menyemangati Tentara Genie Pelajar (TGP) dan Tentara Republik Indonesia (TRI) dalam menghadapi agresi Belanda. Selain itu, ada juga SMP Gerilya Kutoarjo yang berjuang untuk diakui sebagai SMP Negeri, dan sebagian muridnya ikut gerilya melawan tentara Belanda pasca-agresi militer kedua.
Berikut adalah beberapa detail mengenai pelajar Kutoarjo pada tahun 1949 :
Demo Pelajar : Pada 19 Oktober 1949, pelajar Kutoarjo mengadakan demo untuk memberikan semangat kepada para pejuang.
Peran dalam Perang Kemerdekaan:
Beberapa murid sekolah ikut serta dalam gerilya melawan tentara Belanda, menunjukkan semangat juang mereka.
SMP Gerilya Kutoarjo : Terdapat sebuah SMP Gerilya di Kutoarjo yang berjuang agar diakui sebagai SMP Negeri, yang akhirnya diakui sebagai cabang dari SMP Negeri 2 Purworejo mulai 1 Maret 1950.
Kondisi Belajar : Akibat pendudukan Belanda di Purworejo pada Desember 1949, sekolah ditutup dan beberapa murid belajar di pengungsian.
Pendidikan Guru : Setelah perang, sekolah juga berperan dalam mendidik para lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke SMTA menjadi calon guru Sekolah Rakyat (SR).

SMP Grilya Kutoarjo awalnya adalah sekolah Swasta yang sebagian muridnya ikut bergrilya melawan Belanda. SMP Grilya Kutoarjo juga berjuang agar diakui menjadi sekolah SMP Negeri dan resmi menjadi sekolah negeri dengan digabung dengan SMP Negeri 2 Purworejo dan menjadi cabang dari SMP Negeri 2 Purworejo pada tanggal 1 Maret 1950, dan tanggal 1 Maret 1950 menjadi Hari Ulang Tahun Sekolah SMP tersebut yang lalu disebut SMP Negeri 1 Kutoarjo yang sekarang menjadi SMP Negeri 3 Purworejo, beralamat di Jln Mardihusodo Kutoarjo. sesungguhnya sekolah tersebut sedikit lebih tua berdirinya.

Foto. SMP Grilya di Kutoarjo yang pada awalnya adalah sekolah swasta yang sebagian murid-muridnya ikut bergrilya melawan Belanda, sekolah swasta ini diperjuangkan untuk menjadi sekolah Negeri dan resmi digabungkan serta menjadi cabang dari SMP Negeri 2 Purworejo Pada tanggal 1 Maret 1950. akhirnya sekolah ini bernama SMP Negeri 1 kutoarjo dan sekarang bernama SMP Negeri 3 Purworejo

By. Ndandung Kumolo Adi

Sumber :

  1. National Archief via
  2. Wereldmuseum Roterdam Belanda
  3. Buku Sejarah Perjuangan Tentara Pelajar Sie II Kie III Det III Brigade 17 yang diterbitkan oleh Yayasan Bhakti Tentara Pelajar Kedu Jakarta.
  4. Wiwoho, Sejarah Tentara Pelajar di Kedu Selatan, transkripsi 1986.
  5. Subarno, pertempuran dan peristiwa yang dialami Tentara Pelajar di Purworejo dan sekitarnya transskiripsi 1987.

Jumat, 01 Agustus 2025

Trah Mbah Singo Karyo Kepundung 1950 dan Kromo Rejo, Dusun Karanganyar, Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan

Trah Mbah Singo Karyo Diaspora dari Kepundung 1950 dan Kromo Rejo Di Tanah Rantau

            Bismilahirrahmanirrahim... Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.., Terimakasih Kepada Alloh SWT yang telah mencurahkan Rahmat dan Karunianya, Terimakasih Kepada Seluruh Saudara-saudari, Pihak-pihak, terutama khususnya Simbah Mareno Bin Singo Karyo dan Mamak Ngatiyem Binti Karyo Naroh Bin Singo Karyo yang berkontribusi serta menjadi Narasumber untuk saya Wawancarai, Investigasi, Intrograsi, dan Klarifikasi dalam penulisan tulisan sederhana ini, mumpung beliau-beliau masih gesang hidup dan menjadi saksi hidup keluarga besar Singo karyo, saya do'a kan semoga mereka sehat selalu, panjang umur, nir sambikala Aamiin...
Simbah Mareno Bin Singo karyo sendiri adalah salah satu perintis dan pendiri Desa Gandri yang menempati tanah milik Perhutani, beliau menceritakan bagaimana susah payahnya membangun dan membuat Desa. 
Suatu Desa bahkan Suatu Keluarga tentunya pasti punya sejarah masa lalu, Begitu pula dengan Keluarga Besar Singo Karyo yang bisa migrasi atau merantau keluar Pulau Jawa secarara Swadaya mandiri tanpa ikut Program Transmigrasi dari Pemerintah dan Menetap dan bermukim di Pulau Sumatera, tepatnya Lampung. Yang menjadi Diaspora Jawa tentunya ada sejarahnya, ada Dinamika Sosial, Ekonomi, bahkan Politik yang mempengaruhinya. Salah satunya yang bisa dipahami oleh orang awam adalah Meningkatkan kesejahteraan dan Surviving alias bertahan hidup. Migrasi atau perpindahan penduduk ataupun transmigrasi dan yang merantau secara Swadaya mandiri ke luar pulau khususnya Lampung umumnya dilakukan oleh para petani dan pedagang bahkan nelayan, karena banyak ditemukan nelayan-nelayan/pelaut suka ber-migrasi di Indonesia. di pesisir dekat laut lampung. banyak ditemukan keluarga-keluarga nelayan dari luar daerah seperti salah satunya orang bugis sulawesi yang menetap dan beranak pinak di lampung contohnya Kampung Bugis Kelurahan Karang, Kecamatan Teluk Betung, Bandar Lampung. dan tentunya para keturunan-keturunan pendatang/diaspora dari jawa, sulawesi, sunda, palembang, madura, batak, Bali dan lain-lain yang terdiri dari para petani, para pedagang, para nelayan/pelaut ini akhirnya ada yang Jadi PNS, ASN, TNI, Polri, Bupati, wakil Bupati, Gubernur, wakil Gubernur, Pengusaha, perangkat Desa, Anggota Dewan dan sebagainya.
Diaspora berasal dari Bahasa Yunani Kuno "Diaspeirein" yang artinya menyebarkan/menyebar. yaitu sekelompok orang atau kelompok besar yang memiliki Asal-usul, Suku, Budaya dan daerah juga tempat kelahiran yang sama tetapi tinggal jauh atau merantau dari tanah kelahiran mereka dan menetap mukim disana sampai beranak-pinak menjadi beberapa generasi untuk mencari kehidupan yang baik, Surviving, dan kesejahteraan akibat dari kemiskinan, perang, penindasan, politik, juga pendidikan.
            Alloh SWT telah menakdirkan Tanah rantau di Lampung menjadi tanah untuk keluarga besar Singo karyo untuk Surviving/bertahan hidup, untuk kesejahteraan, dan melanjutkan hidup juga peradaban, hidup di tanah bumi lampung dan mati di kubur di tanah lampung.
 
            Kerangka Pikir dalam Penelitian dan Tulisan sederhana ini di dasarkan Pada Realita fakta kenyataan pada Era Disrupsi, Era AI, Era digitalisasi, dan Era Kemajuan teknologi juga Revolusi industri ini kedepan tampaknya adanya kurang pembangunan karakter sehingga mengakibatkan Krisis Bahasa lokal daerah, Krisis adab Sopan-santun/Budipekerti, Krisis Budaya, Krisis Asal-usul, Krisis Persaudaraan, Krisis Silsilah, Jati diri bangsa lemah, ketahanan budaya lemah, bahkan yang parah terjadi Krisis Identitas. oleh karena itu perlu daya upaya untuk pembentukan sikap moral yang baik dengan menanamkan nilai-nilai yang luhur, edukasi, sosialisasi, pelestarian, pengenalan budaya kearifan lokal guna meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyeleksi dan menyerap budaya global atau kebarat-baratan juga informasi-informasi yang tidak memberdayakan. 
Di Era Disrupsi, era kecanggihan teknologi, era digitalisasi, era AI (Articial Intelligence) alias kecerdasan buatan, era kecanggihan internet dan komunikasi. 
Pemerintah Republik Indonesia melalui BPS telah mengkategorikan dan memetakan juga mengklasifikasikan Generasi-generasi melalui tahun kelahiran sesuai dengan Dinamika kehidupan, dinamika politik, dinamika sosial, sejarah, Skala Zaman, dan perkembangan yang muncul pada tahun-tahun tersebut yang mempengaruhi kehidupan, Pola Pikir, Mental, juga psikologi mereka. misalnya generasi The Lost Generation yang lahir antara tahun 1883-1900 yang berdasarkan trauma perang dunia I, lalu generasi The Greatest generation kelahiran tahun 1901 - 1927 yang dikenal dengan semangat heroik pasca perang dunia II, setelah itu ada generasi Pree-Boomer kelahiran sebelum tahun 1928 - 1945, sebuah masa dimana dunia tengah mengalami krisis global.
Apalagi Generasi Z kelahiran Tahun 1997 - 2012 yang tumbuh, lahir, dan hidup di era digital dan akses informasi tanpa batas yang berbeda dengan generasi sebelumnya. keterbukaan informasi membuat wawasan mereka luas, tetapi beban mental yang besar. keterpaparan terhadap media sosial, internet, google dan perkembangan teknologi membentuk karakter mereka, baik dalam cara bersosialisasi, cara begaul, cara adab sopan santun, cara bermasyarakat, cara belajar, cara bekerja, kehiduopan mereka sepenuhnya tergantung bahkan kecanduan teknologi juga menjadi kebutuhan pokok tapi merek rawan kehilangan identitas, rawan tidak punya adab sopan santun, rawan kehilangan sosial kemasyarakatan, rawan tidak tau asal-usul, rawan frustasi, rawan depresi, serta Ego-Apatis. 
Setelah itu ada Generasi Alpha kelahiran tahun 2013 - 2024, Generasi Beta kelahiran tahun 2025 - 2039. serta memunculkan generasi-generasi strowberry. Generasi Strawberry adalah generasi yang manja, yang ego apatis, yang lemah mentalnya, yang tidak bisa mandiri, gampang putus asa, gampang stres, gampang depresi, introvert, suka bergantung pada orang tua, yang kepeduliaan, sosial, dan kemanusiaanya kurang. serta secara spesifik mereka diciptkan oleh orang tuanya menjadi manja, bila anaknya sakit, jatuh, di bully temennya, di hukum gurunya di sekolah orang tuanya langsung panik setengah mati dengan sikap berlebihan sampai lapor kepala sekolah dan polisi. Generasi Strawbery lahir hidup dimana internet dan kemajuan teknologi muncul yang mirip seperti buah strawberry yang imut dan indah dari luar namun mudah rusak bila di tekan. 
Maka Pendekatan Sosialisasi, informasi, edukasi, dan pelestarian lewat berbagai cara dan media termasuk dengan memanfaatkan teknologi itu sendiri seperti internet, sosial media menjadi sangat penting, Fundamental, serta Urgen dilakukan dan dibutuhkan terus menerus. Penelusuran silsilah, Penelusuran Sejarah, Kajian, Penelitian berbasis Sains History, Histiografi, Antropologi, filolog, dan Sosiologi juga Empiris merupakan upaya menolak Lupa dan membangkitka Memori kolegtif, serta Kesadaran kolegtif untuk tidak kepaten obor, mengetahui identitas diri, menemukan jati diri yang sesungguhnya, merekatkan balung pisah, memupuk persaudaraan, memahami asal-usulnya, mengetahui simbah-simbahnya dan saudara-saudaranya, memupuk kesadaran, tidak tercabut dari akar rumputnya, menjadikan kita sebagai pribadi yang mandiri, dan sebagainya. 
Di Masyarakat atau Keluargas Besar harus ada yang peduli dan melestarikan Sejarah keluarganya atau Keluarga Besarnya, sekalipun akan disebut aneh serta beda dengan umumnya tidak masalah. toh mereka secara langsung dan tidak langsung akan memanfaatkan jasa penulisan silsilah dan sejarah keluarga besarnya, sekalipun tidak mengucapkan terima kasih. sesuatu yang ditulis atau dicatata akan lebih obyektif serta tidak mudah lupa juga mempermudah identifikasi dan observasi daripada yang tidak di tulis atau tutur belaka. Budaya Menulis untuk masa depan memang perlu di-budayakan.
 
"Sejarah dan silsilah Perlu ditulis agar menolak lupa, serta dapat di ingat, diriwayatkan, dikaji, dimanfaatkan, juga disejarahkan secara Obyektif"
by. N.K. Adi
 Keluarga Besar Singo karyo bukan sekedar keluarga tapi rumah besar bagi kita semua, seperti Pohon yang memberi teduh tanpa pilih kasih dan sentimen, mari kita menjaga kerukunanan, kebersamaan, Silatutrahmi dan silsilah Keluaraga Besar singo karyo.

            Lewat tulisan ini yang bersumber dari data-data dan sumber-sumber primer dan sekunder juga empiris yang berhasil saya kumpulkan informasinya secara konkret yang bisa diobservasi, ditulis, dan diukur baik melalui metode kuantitatif maupun kualitatif serta dapat diverifikasi kebenarannya. 
Empiris yaitu data yang saya peroleh dengan observasi langsung di lapangan menggunakan segenap panca indra saya, wawancara dengan segenap responden, saksi hidup dan para pelaku sejarah langsung seperti kepada Simbah Mareno, Mamak ngatiyem, keluarga besar, masyarakat sehingga mendapatkan informasi yang obyekti, sahih, terverifikasi, kredibel, serta terkonfirmas juga terkoneksi antara satu sama lainnya. tulisan sederhana yang ilmiah ini untuk mengajak saudara-saudari untuk mengenal, mengetahui, memahami saudara-saudaranya, memahami Dinamika sosial Ekonomi dari masa ke masa, asal-usulnya, riwayat atau sejarahnya, akar rumputnya, identitasnya, sehingga bisa memaknai hidup, mengetahui Start dan Finish diri kita sebagai seorang manusia, mengetahui tujuan hidup yang sesungguhnya, mendapatkan semangat hidup, memperkaya Perspektif, memperkuat Literasi, dan Pengetahuan yang berharga. 
 
Dan Deposit terbesar Bangsa Indonesi tidak cuma berupa Materi Tambang Minyak, Tambang Emas, Tambang Batubara dan sebagainya tapi juga Sumber daya Manusia (SDM)-nya juga Sejarah dan Budayanya. sejarah dan budaya adalah hasil perjuangan dan pemikiran juga karya para leluhur yang diwariskan dari generasi ke kenerasi, membentuk identitas unik bangsa Indonesia.

Apa pentingnya memahami dan mengetahu Silsilah juga ikatan persaudaraan???.....
Nalar logika sederhananya yang mungkin bisa dipahami oleh orang awam adalah kita tidak mungkin ada tanpa adanya kedua orang tua kita, kedua orang tua kita tidak mungkin ada tanpa adanya simbah-simbah kita yang ada empat (4), simbah yang empat ini tidak mungkin ada tanpa adanya simbah-simbah buyut kita yang berjumlah delapan (8), simbah-simbah buyut kita yang delapan orang ini tidak mungkin ada tanpa adanya Simbah-simbah Canggah yang berjumlah enam belas (16), Simbah-simbah canggah yang berjumlah enam belas tidak mungkin ada tanpa adanya Simbah-simbah Wareng yang berjumlah tiga puluh dua (32), Simbah-simbah wareng kita yang berjumlah tiga puluh dua tidak mungkin ada tanpa adanya juga eksisnya Simbah-simbah Udheg-udheg yang berjumlah enam puluh empat (64)... Dan seterusnya yang semuanya saling terhubung, saling terkoneksi, saling berkaitan. 
Kita bukanlah siapa-siapa dan mungkin tidak hidup di dunia ini tanpa peran Generasi tua, orang-orang terdahulu, Simbah-simbah. Untuk itu jangan lupakan Kiprah generasi Tua dan Jangan lupakan Sejarah beserta Silsilah Persaudaraan dan Kekerabatannya.
Dan manusia juga adalah Mahluk Sosial dimana Budaya Ketimuran terutama Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, nilai-nilai kekerabatan, nilai-nilai adab sopan-santun, nilai-nilai ke-keluargaan, nilai-nilai gotong royong, nilai-nilai keadilan sosial, nilai-nilai musyawarah, nilai-nilai ta'awun, nilai-nilai kolaborasi, nilai-nilai persatuan, nilai-nilai saling tolong-menolong, nilai-nilai hati nurani, dan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai itu menjadi Ruh dan esensi dalam persaudaraan Keluarga Besar bahkan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
ada dialog yang setara tanpa membedakan status sosial, setiap orang memiliki posisi yang setara dalam perbedaan kapasitas, kontribusi, etnisitas, dan sosial namun memiliki tujuan bersama serta untuk merekatkan persaudaraan dan persatuaan.
dalam Sambatan, rewang, Lagan, Sinoman, dan gotong royong bukan siapa yang mengatur atau siapa yang diatur namun berprinsip kepada dialog dan musyawarah untuk pemberdayaan dan kebaikan bersama. dimana setiap individu memberikan kontribusi sesuai posisi, kemampuan, dan keadaan. yang esensinya adalah menjalin persaudaraan yang langgeng, hidup bareng, mengerjakan sesuatu bersama-sama untuk menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, kekeluargaan, kemanusiaan, hati nurani, dan persatuan dalam bingkai keluarga besar yang Ber-Bhinika Tunggal Ika.

Dimana Bukti nyata kita punya "Birul Walidain/Bakti" Kepada orang tua, simbah-simbah, leluhur, dimana tanpa mereka kita semua tidak bisa hidup di dunia ini ???...
 
Nabi Muhammad SAW Bersabda dalam Hadist Shahihnya :"Ketika seorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amlanya kecuali Tiga (3), yakni Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh (Keturunan,cucu, cicit, buyut, anak dst) yang berdoa untuknya." (Abu Hurairah)
 
Orang yang sudah meninggal Dunia cuma meninggalka Tiga (3) hal yang Pahalanya terus mengalir, yaitu :
  1. Sedekah Jariyah
  2. Ilmu yang bermanfaat
  3. Anak (cucu dan keturunan) yang selalu mendo'a-kan
Men-do'a-kan disini tentunya tidak cuma dirumah, di waktu setelah sholat tapi juga dengan menengok makam beliau-beliau, ziarah kubur, bersih makam. Apa tega makam simbah-simbah tidak terawat, terbengkalai, dan hilang dipakai orang lain karena tidak pernah ditengok, akhirnya bukti sejarah hilang serta anak cucu jadi kepaten obor. Agama Islam awalnya Melarang Ziarah kubur dikarenakan Zaman Nabi banyak orang Jahiliyah, tapi setelah itu Nabi Muhammad SAW Memperbolehkan dan menganjurkan, hal itu Tertera Dalam Hadist Shahih Nabi.
Nabi Muhammad SAW Bersabda dalam Hadist Shahihnya :
"Dahulu saya melarang berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan air mata, mengingatlah pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah)" (HR. Hakim).
Nabi Muhammad SAW Bersabda dalam hadist Shahihnya :
"Dahulu saya melarang berziarah kubur, tapi(sekarang) berziarahlah kalian" (HR. Muslim)
 
Penelitian dan Tulisan sederhana ini kupersembahkan kepada Mamak Ngatiyem, Mbah Mareno, Keluarga Besar Kromo Rejo, dan Keluarga Besar Singo Karyo. 
 
 "Sejarah itu ibarat Ibu yang melahirkanmu, bila kamu melupakan sejarah sama saja kamu melupakan ibumu yang mempertaruhkan nyawanya demi kelahiranmu"
By. Ndandung Kumolo Adi

Firman Alloh SWT dalam Al Qur'an Surat Al Hasyr ayat 10 :
"Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, "Ya Tuhan Kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman terlebih dahulu (orang tua, simbah-simbah, leluhur, dsbnya) daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang" (Q.S. Al Hasyr ayat 10).
Orang Jawa telah mempraktekkan Surat Al Hasyr ayat 10 ini tidak sekedar men-do'a-kan kepada orang tua yang sudah tiada, Simbah-simbah yang sudah tiada, Para leluhur yang sudah tiada dalam sholat 5 waktu yang kadang mungkin lupa atau bahkan tidak di Do'a-kan sama sekali kepada orang-orang/saudara-saudara yang telah beriman (Ber-syahadat terlebih dahulu, ber-puasa terlebih dahulu, berzakat terlebih dahulu, mendirikan sholat terlebih dahulu, dsbnya) Terlebih dahulu dari kita, tapi dipraktekkan dengan kiprah peran nyata dengan menziarahi makam, merawat makam, membersihkan makam, mendo'a-kan di makam/kuburan, sadranan, ruwahan. selain itu untuk menyambungkan Iman, Iksan, Islam, serta "Birul Walidain/berbakti". Jadi ini bukan urusan Bid'ah Hasanah ataupun Bid'ah Dholala. itulah Nalar logika Ulama-ulama, Aulia-aulia Jawa di Zaman dahulu sampai sekarang yang tetap berlandaskan Al Qur'an, Hadist, Sunnah Rosul, Itjma, Itjihad, dan Qiyas. Orang lain mau buruk sangka dan memfitnah Musyrik, Membangunkan Dajjal, minta-minta ke kuburan, mencari nomor togel dsbnya terserah mereka, karena faktanya tidak semua orang begitu.
Beberapa kebiasaan ataupun nilai-nilai baik dari para simbah-simbah harus kita tiru. contohnya kerukunanya antar saudara, jiwa sosialnya, suka sedekahnya, suka slametan/sedekah, suka sholat malam, suka silaturahmi, dan sebagainya.

Kenapa kita harus belajar Sejarah, yang di dalamnya ada pelajaran, hikmah, Skala zaman, informasi sisilah, informasi persaudaran, dan kekerabatan???...
Didalam Al Qur'an Surat Yusut ayat 111, Alloh SWT Berfirman :
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka(Para Nabi dan Rosul serta umat terdahulu) itu terdapat Pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai Akal(nalar logika akal sehat). Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman"
 
Meskipun ayat diatas ditujukan guna memahami dan mengambil pelajaran dari kisah-kisah (sejarah) Nabi terdahulu beserta umatnya, bukan berarti kita sebagai umat Muslim tidak perlu mengambil pelajaran, hikmah, atau nilai-nilai pendidikan, juga silsilah Keluarga besar kita, Simbah-simbah kita, Leluhur kita di masa lalu termasuk sejarah bangsa dan negara, dalam Surat Yusuf ayat 111 disebutkan bahwa Nalar logika akal sehat tetap jadi Acuan dan landasan.
 
dalam Surat Al Hasyr Ayat 18 dijelaskan "Wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad"(Perhatikan sejarahmu untuk masa depanmu). QS. 59:18
Hampir semua peristiwa penghancuran yang diceritakan dalam Al Qur'an dapat diamati, dikaji, diteliti dengan berbagai penelitian, kajian, Arsip, Histiografi, Antropologi, Filolog, Empirik, serta temuan-temuan arkeologis. Dalam penelitian ini kita akan berhubungan dengan jejak-jejak sisa peninggalan dari beberapa peristiwa penghancuran yang disebutkan di dalam Al Qur'an. sebagai contoh, temuan arkeologis menjelaskan banjir besar semasa Nabi Nuh as yang terjadi di daratan Mesopotamia. kemudian penggalian yang dilakukan ilmuwan arkeolog Sir Leonard Wooley di dataran Mesopotamia mengungkapkan adanya lapisan lumpur tanah liat setebal 2,5 m jauh di dalam bumi. penemuan ini menjadi bagian bukti penting bahwa banjir tersebut hanya terjadi di dataran Mesopotamia. bukti penggalian yang dilakukan Woolley di paparkan oleh seorang arkeolog Jerman, Werner Keller dalam bukunya "The Bible as History: a confirmation of the books". Bukti berikutnya ialah penemuan perahu Nabi Nuh as diatas Gunung Agri atau ararat Turki olrh Ilmuwan Noah's Ark Ministries Internasional ditemukan pada ketinggian 13.000 kaki di gunung Ararat, Turki Timur.
Ilmu Sejarah seperti sains History, Histiografi, Antropologi, Filolog, Arkeologi, Sosiologi, dan Konservasi menjadi vital dan sangat penting dalam Prosesi peningkatan Keimanan dan Ketakwaan Kepada Alloh SWT sehingga tidak sekedar yakin, tidak sekedar taklid(keyakinan buta), tidak sekedar doktrin, dan dogma tapi tetap menggunakan Nalar logika akal sehat, dan penggunaan Nalar logika akal sehat ini dipertegas oleh Alloh SWT lewat Firman-Nya di dalam Kitab suci Al Qur'an salah satunya Q.S Ali Imran ayat 190-191, Q.S Lukman ayat 11, Q.S Al Baqarah ayat 164, Q.S Al Ankabut ayat 43, Q.S Yunus ayat 101.
 
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi orang yang berakal" (QS. Ali Imran 190-191)
"Inilah ciptaan Alloh, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah" (QS Lukman ayat 11).
 QS Lukman ayat 11, dalam ayat ini Alloh menggunakan Qiyas (analogi) untuk mendorong manusia menggunakan nalar logika dalam mempertanyakan dan menyanggah kepercayaan pada sesembahan selain-Nya.
 
Untuk membangkitkan memori kolektif, kesadaran, menguatkan identitas, menemukan jati diri, menolak lupa, juga kepunahan maka perlu Pendekatan Sosialisasi, Informasi, Edukasi, dan Pelestarian akan selalu dibutuhkan terus-menerus, Sebab Sejarah, Sililah, Pengetahuan asal-usul, Identitas, Budaya, Bahasa daerah, Adat-istiadat, Kearifan lokal, Artefak-artefak, Norma-norma dari leluhur, Nilai-nilai dari leluhur, Ikatan persaudaraan akan hilang tergerus zaman bila generasinya tidak punya kesadaran dan kepedulian. Dan semua karya manusia yang sedang hidup saat ini kelak menjadi Artefak, peninggalan sejarah bagi generasi mendatang dan akan dipelajari, dikaji, juga diteliti oleh generasi yang akan datang contohnya Nisan/kijing Makam, Rumah, Prasasti, Masjid, kaligrafi, Tosan aji, Pahatan Ukiran diatas batu ataupun kayu, foto-foto, dan sebagainya.
Praktek penghancuran dan perusakan Gedung-gedung tua, Nisan kijing makam tua, masjid-masjid tua yang dirubah bentuk aslinya harus dihindari dan dicegah dan diarahkan pada konsep Revitalisasi serta pengggunaan baru (New unes) dari bangunan cagar budaya dan bangunan bersejarah.
Tujuan mempelajari Sejarah salah satunya adalah untuk mendapatkan informasi dan pemahaman tentang asal usul, silsilah, identitas diri, jati diri, Perspektif, literasi, wawasan, khasanah budaya, dan kekayaan di bidang lainnya yang pernah diraih oleh simbah-simbahnya, leluhurnya, umat di masa lampau dan mengambil 'Ibrah (pelajaran) dari kejadian, peristiwa, kepribadian, dan fenomena tersebut.
Belajar sejarah yang di dalamnya ada silsilah, informasi kekerabatan dan persaudaraan dapat membentuk watak, karakter, dan kepribadiann yang unggul, Luhur, serta Mulia.
 
            Menurut Kitab Suci Al Qur'an ada empat (4) fungsi sejarah yang terangkum dalam Firman Alloh SWT QS. 11/12O : 
"Dan semua kisah rasul-rasul, kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu kami teguhkan hatimu dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat(pelajaran) dan peringatan bagi orang yang beriman (QS Hud : 120).
 
Ke-empat fungsi itu, yaitu :
  1. Sejarah berfungsi sebagai peneguh hati.
  2. Sejarah berfungsi sebagai pengajaran dan informasi. Sejarah merupakan Pendidikan (Ma'uidzah) Alloh terhadap kaum muslimin dan muslimat, sebagai peringatan dalam menjalani risalah Rasul. dalam surat al a'raf 176, Alloh SWT Berfirman : ...."maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah agar mereka berfikir". dengan Sejarah manusia di tuntut berpikir dalam arti menjadikan sejarah sebagai pelajaran dan peringatan untuk menentukan langkah selanjutnya.
  3. Sejarah berfungsi sebagai peringatan dan nasihat. selain menjelaskan fungsi sejarah, Al Qur'an juga menegaskan tentang akhir dari perjalanan sejarah. Sejarah juga berfungsi sebagai peringatan bagi generasi berikutnya melalui peristiwa yang menimpa generasi sebelumnya. (QS. 2:66 ; 4:84). Banyak ayat-ayat Al Qur'an yang memerintahkan untuk melakukan penelitian (tandzirun) terhadap peristiwa sejarah secara obyektif, ilmiah, dan sains history. (QS. 47:10 ; 12 : 109; 12 : 46).Melalui kajian sejarah yang kredibel, obyektif, akademik, dan bisa dipertanggungjawabkan maka peristiwa besar atau kecil akan disebut sejarah tapi bila tidak maka akan disebut dongeng belaka, mitos belaka, dan legenda belaka.
  4. Sejarah sebagai sumber kebenaran yang Obyektif dan Kredibel serta Tashdiq (membenarkan dan meneguhkan).Maksudnya adalah sejarah menjadi legalitas yang otentik (landasan kebenaran) dan petunjuk bagi manusia. orang yang memahami sejarah akan mengerti dan punya analisis yang logis bahwa kehidupan dimulai darimana, bagaimana menjalani hidup dan akan kemana tujuan hidup serta perjalanan hidup berakhir. jadi sejarah akan menerangi setiap langkah yang telah, sedang akan dijalani. (QS. 4 : 137-138 ; 12 : 111).
            Secara Terminologis, kata "Sejarah" berasal dari Bahasa Arab, 'Syajaratun' yang berarti pohon. Secara istilah, kata ini memberikan gambaran sebuah pertumbuhan peradaban manusia dengan perlambang 'pohon' yang tumbuh bermula dari biji yang kecil menjadi pohon yang lebat, rindang, dan berkesinambungan. Maka sesungguhnya dari petumjuk Al Qur'an pengertian "Syajarah" berkaitan erat dengan perubahan. Perubahan yang bermakna gerak kehidupan dalam menerima dan menjalankan fungsinya sebaga Kholifah (Q,S. 2 : 30), Maka tugas dan kewajiban Manusia dimuka bumi adalah = "Menciptakan perubahan sejarah yang lebih baik" (Khalifah).
Sangat disayangkan bila seseorang individu manusia tidak tahu asal usulnya, tidak tahu identitasnya, tidak tau silsilahnya, tidak tahu simbah-simbahnya, dan saudara-saudaranya, tidak bisa bahasa daerahnya, tidak tahu sejarah para simbahnya juga leluhurnya apalagi sejarah kampungnya, daerahnya, juga negaranya. serta menganggap itu semua tidak penting, ironisnya bukti-bukti sejarah, artefak-artefak sejarah malah mereka jual bahkan hancurkan, serta buku-buku sejarah mereka ternyata di pustaka atau museum negara lain, peninggalan sejarah, artefak-artefak sejarah mereka anggap kotoran, rongsokan, dan seonggok kayu/batu/besi biasa. makam simbah-simbahnya jarang diziarahi juga tidak dikasih kijing, di-kijing pun dibiarkan hancur akhirnya nanti cucunya kepaten obor. bahkan ada orang dan bangsa yang tidak mengenal peradabannya sendiri, leluhurnya sendiri, simbahnya sendiri, saudara-saudaranya sendiri, silsilahnya sendiri. bagi mereka tidak penting, Padahal suatu individu manusia bahkan bangsa tanpa tahu asal-usulnya, silsilahnya, tanpa budaya, dan sejarah adalah manusia yang mati, manusia yang tidak punya identitas, bangsa yang mati dan bangsa yang tidak punya identitas. karena sebagian banyak dari pemikiran dan idiologi masyarakat bergantung pada asal-usulnya, peradaban, budaya, sejarah, dan kesadaran kolegtif. Bangsa ataupun manusia tanpa asal-usul, identitas, peradaban, dan sejarah tak ubahnya seperti boneka mainan kecil yang mudah dimainkan oleh orang lain.
 
"Bangsa yang Survive dan unggul adalah bangsa yang dinamis, yang gemar merantau, mengembara, menjelajah, mengambil resiko dan konskwensi, bertebaran di muka bumi. sebaliknya, bangsa yang statis, jumud, lamban, enggan merantau, enggan berhijrah, akan tersingkir dari percaturan dunia. Dan orang jawa adalah suku perantau serta berani menerima resiko dan tidak pernah meninggalkan identitasnya sebagai orang jawa"
By. Ndandung Kumolo Adi
 
Sejarah mencatat kesuksesan bangsa Arab, Cina, Mongol, Spanyol yang dahulu dengan gagah berani menjelajah dunia dengan kapal. Dunia menyaksikan kedigdayaan Amerika Serikat sebagai negara Super Power dan Adi daya untuk saat ini, yang notabene mereka keturunan para perantau dari Eropa dan budak Negro dari Afrika serta bukan asli Pribumi Benua Amerika, Pribumi asli amerika salah satunya suku Indian. Sekarang Mayoritas Benua Amerika adalah Penduduk Eropa dan Afrika serta mereka yang memegang kepemerintahaan.
Dunia juga mengakui dan menyaksikan keunggulan Bangsa Palestina, bangsa Yahudi/Israel, bangsa kurdi yang selama ini pernah mengungsi ke mana-mana.
Q.S. 12:111, "Laqad kana fi qashasihim 'ibratun li ulil albab" yang artinya Sesungguhnya dalam sejarah terdapat pesan-pesan, hikmah yang penuh perlambang bagi orang-orang yang memahaminya.

"Kita harus tahu siapa kita, siapa diri kita, dan jati diri kita. dan untuk menemukan jati diri, satu hal yang harus dilakukan yaitu dengan penelusuran sejarah" 
By. Peter Carey Seorang Ilmuwan, Sejarawan Internasional 
 
             Tidak kurang Tujuh (7) kali Alloh SWT menyuruh manusia untuk mempelajari kehidupan umat masa lampau untuk mengambil hikmah, Pelajaran, juga pengetahuan berharga seperti Surat Yusuf ayat 111, Surat Thaha Ayat 99, Surat Ali Imron Ayat 137, Surat Al Isra ayat 77, Surat al Ahzab ayat 62, surat Hud ayat 120, Surat Al anfal ayat 33, Surat An Naml ayat 69, Surat Al Hasyr Ayat 18.
Banyak Hikmah dan Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian di masa lalu atau sejarah untuk masa kini dan masa depan. Hikmah dan pelajaran yang baik untuk diteladani, hikmah dan pelajaran yang buruk untuk dijauhi dan tidak di ulang.
Rosulloh SAW bersabda : "Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang beriman. Dimana saia menemukannya maka ambillah". (HR. at Tirmidzi)

            Dulu Suwargi Simbah Putri saya yaitu Rr. Parsilah pernah ngendiko : "Jowo kui artinya SADAR.. Jowo ora bermakna sewates Jeneng Suku opo pulau, tapi seng disebut menongso jowo kui artine Menungso seng berkesadaran tinggi, menungso seng berkesadaran Jati diri... salah siji ciri wong jowo kui supel, luwes, grapyak, seneng bebrayan, seneng ewang-ewang, seneng tetulung... lan iso dadi wong ndayak, iso dadi wong meduro, iso dadi wong bugis, iso dadi wong sundo, iso dadi wong lampung... lan liyan-liyanne.. wong njawani go sandangan pakaian ndayak yo luwes go pakaian sundo yo luwes, go pakaian bali yo luwes, go pakaian batak yo luwes, go pakaian lampung yo luwes, opo maneh pakaian arab yo luwes..lan seteruse.."
Maka siapa yang merasa orang Jawa tetapi tidak bisa memurnikan kesadarannya, itu artinya dia telah lalai. Penjelasan saya ini tidak berkelompok-kelompok atau Sukuisme dan Rasis. Saya sedang menjelaskan pemaknaan tentang Jawa, dan bahkan Jawa dalam makna yang sebenarnya, bukan orang yang berkelompok-kelompok sebagai Suku. Orang Jawa bukan hanya memantaskan busana, melainkan juga dibarengi memantaskan hati yang akhirnya menjadi kesatuan sikap dari dalam yaitu pikiran, tindakan, serta ucapan. Belajar menempatkan diri sekaligus belajar tahu diri, belajar empan papan. Menjadi orang Jawa itu bukan cuma Pakaian jawa dan keris. kalau cuma modal baju surjan dan blangkon semua orang bisa punya. Banyak kan orang Jawa yang kehilangan jawanya, hilang identitasnya, tidak mencerminkan budaya dan adab para pendahulunya, dan parahnya malah alergi dengan seni budaya jawa serta dibilang musyrik, sesat, bid'ah serta dibilang kejawen dalam konotasi negatif. Padahal budaya, adat istiadat jawa adalah kebiasaan dan naluri orang jawa yang adiluhung bahkan bila dikaji, diteliti, dipelajari dengan antropologi budaya. Budaya jawa, kearifan lokal, tradisi jawa bersumber dari fiqih dan tentunya berlandaskan qur'an, Hadist, Sunah rosul yang relevan sepanjang zaman dan bahkan tidak bertentangan dengan Agama apapun. Banyak orang suku jawa malah membuat malu, mending bukan orang suku jawa tapi malah njawani/berkesadaran tinggi. Orang yang udah njawani maka akan cinta damai, punya jiwa sosial, punya jiwa mulia, berjiwa besar, bijaksana, ngayomi, suka mengalah, punya adab sopan santun, Andap asor, Bicara lemah lembut tapi tegas, pandai menempatkan diri, dan disukai banyak orang. Jawa/njawani = Kesadaran Tinggi. mau orang Arab, Amerika, China, Suku Lampung, Suku Batak, Suku Sunda. Suku Bugis, Suku Minang dan sebagainya Tapi kalau Berkesadaran Tinggi berarti dia sudah Njawani.

            Embrio komunitas Jawa atau para Diaspora Jawa di Sumatera Khususnya Lampung beberapa bersumber dari Kolonialisasi Era Pemerintah Kolonial Belanda, Transmigrasi dari pemerintah RI ataupun Perantauan yang merantau secara mandiri ke pulau Sumatera, dimana keluarga-keluarga Jawa hidup susah-payah, berjuang, dan Prihatin membuka lahan pertanian, mengolah tanah untuk bercocok tanam setelah berhasil mereka mengambil/membawa serta sanak-saudaranya yang ada di Jawa untuk dibawa ke pemukiman baru di Pulau Sumatera dan terjadi kawin-mawin dengan keluarga asli Jawa lainnya di Sumatera/Lampung bahkan juga kawin mawin dengan pribumi lokal asli Sumatera ataupun Lampung, keturunan-keturunan mereka akhirnya menjadi sampai 5 generasi, 10 generasi bahkan lebih di pulau Sumatera. akhirnya anak cucu mereka menjadi "Keturunan Jawa kelahiran Sumatera, disingkat "Puja Kesuma". 
Imigrasi atau disebut perpindahan penduduk dan dikenal dengan istilah "Kolonisasi" di era Belanda sebenarnya disebabkan oleh Politik Etis atau Politik balas budi sebagai kebijakan Hindia Belanda sebagai reaksi tuntutan protes dari diterapkannya kebijakan tanam paksa (Cultuurstelsel) yang dilayangkan oleh Van Deventer pada 1901 berupa program kewajiban moral menyejahterakan daerah jajahan terutama Hindia-Belanda yang sekarang disebut Indonesia. 
Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yang dimuat dalam Lembaran Negara tahun 1834 No. 22 dan disebabkan oleh kekosongan Kas Negara Belanda akibat Perang Diponegoro (Perang Jawa) yang terjadi tahun 1825-1830, keputusan itu dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes Van Bosch pada tahun 1830 yang memaksa masyarakat Jawa khususnya dan nusantara umumnya menanam komoditas ekspor dan bekerja tanpa upah demi keuntungan Belanda. Politik etis dipelopori oleh Brooshooft yang merupakan seorang wartawan sekaligus sastrawan Belanda dan Conrad Theodore van Deventer yang merupakan ahli hukum Belanda. Program yang dimaksud dari pemberlakuan politik etis.
Trias Van Deventer atau terkenal dengan nama Trias Politika, istilah yang dikenal sebagai bentuk kebijakan politik etis dari Hindia Belanda. Kebijakan ini meliputi :
1. Irigasi (pengarian; memperbaiki sistem pertanian), 
2. Edukasi (pendidikan; memberikan pendidikan kepada pribumi) dan 
3. Imigrasi (memindahkan penduduk dengan tujuan pemerataan wilayah). 
 
Namun, pada pelaksanaannya, Trias Van Deventer tidak dapat diharapkan sesuai istilahnya. Pemerintah kolonial Hindia Belanda masih enggan mengubah kondisi rakyat dan terus melakukan eksploitasi. Pada pelaksanaannya, Belanda tidak memberi perlindungan atau bantuan kepada usahawan pribumi secara sungguh – sungguh. Pada sektor petanian, irigasi hanya dilakukan pada perkebunan yang memiliki hak utama. Sedangkan pada pendidikan, pelajaran yang diberikan hanya pada pengajaran tingkat rendah dan tertutup pada golongan priyayi atau orang kaya sehingga bisa sekolah tinggi sampai jenjang perguruan tinggi bahkan bisa kuliah di Belanda.
Namun, kebijakan politik Etis tetap memberikan dampak positif diantaranya :
a. Munculnya golongan cendekiawan
b. Terbangunnya saluran irigasi
c. Terjadinya pemerataan penduduk
d. Berkat politik Etis memunculkan golongan elit baru yaitu kaum terdidik/Terpelajar yang kemudian mendirikan berbagai perkumpulan seperti Budi Utomo, Indische Partij, dan Sarekat Islam. Organisasi inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Nasionalisme, Kebangkitan Nasional, dan kemerdekaan Indonesia.

C. Th. Van Deventer mengusulkan adanya "hutang kehormatan" kepada Hindia Belanda atas eksploitasi yang telah dilakukan. Ia mengemukakan gagasan Politik Etis pada tahun 1890 untuk menyelamatkan hak-hak rakyat Indonesia. Gagasan Van Deventer ini mendapatkan dukungan dari Ratu Wilhelmina, yang kemudian mengeluarkan kebijakan Politik Etis pada 17 September 1901.

Keluarga Besar Singo Karyo bukanlah keluarga tanpa masa lalu, ada dinamika sosial ekonomi bahkan politik dari masa ke masa yang harus dimengerti dan dipahami. Dengan menelusuri, mengulik asal usul, silsilah, dan trah sangat penting untuk memper-erat persaudaraan atau silaturahmi, "ngumpulke balung pisah", supaya kita tidak kepaten obor, merekatkan balung pisah, tidak kehilangan identitas seorang manusia, tidak kehilangan akar rumputnya, membangkitkan ingatan kolektif keluarga besar, memperkaya perspektif, memperkuat budaya membaca/literasi, serta memahami dan menghargai perjuangan simbah-simbahnya, orang tua, atau leluhurnya dahulu dalam menjalani hidup juga Surviving (bertahan hidup). Sehingga meminimalisir krisis identitas yang marak terjadi terutama di era globalisasi serta Era Disrupsi, yang mana para generasi muda sudah masa bodoh dan tidak peduli lagi dengan asal-usulnya, akar rumputnya, Bahasa linguistik alias bahasa lokal daerah leluhurnya/bahasa ibu, seni budaya leluhurnya, adat-istiadat leluhurnya, wewaler ataupun norma-norma dari leluhurnya dan sebagainya yang sebetulnya masih efisien dan relevan sepanjang zaman, mereka lebih suka mengikuti trend juga life style atau gaya hidup. 
 
Dan lewat kajian serta penelitan, juga pendekatan Antropologi khususnya Antropologi budaya sejatinya yang sekarang disebut sebagai budaya dan adat istiadat jawa atau Kejawen Islami sebenarnya mengandung Fiqih dan Syiar Islami atau Cahaya Sunnah Nabi yang tetap berlandaskan kepada Al Qur'an, Hadist, Sunnah Rosul, Itjma, Qiyas, dan Istihad ulama-ulama terdahulu. Sehingga mengandung ajaran Islam dan mengandung makna, filosofi, dan fasafah pitutur mulia sehingga akan relevan sepanjang zaman karena ada nilai-nilai islami, luhur, dan itengible. Definisi Sunnah Rosul adalah apa yang Disabdakan Rosul, Apa yang diperbuat Rosul, Apa yang dicontohkan Rosul, dan Apa yang Disetujui Rosul. Selain sunah Rosul juga sesuai dengan Ajaran Rosulloh SAW seperti Selametan/sedekahan/syukuran dan syiar islami lainya dari kehamilan ada ngupati, mitoni, tedak siten. kelahiran ada brokohan, sepasaran, selapanan, aqiqah, khitanan, pernikahan, Selamatan kematian (7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari Dst..) dan lain sebagainya. tapi mereka anggap itu usang, kuno, kebiasaan lama yang harus ditinggalkan, bahkan bagi yang gak paham tidak di dasari akal logika maka akan dibenturkan dengan Agama dengan Tafsiran paham mereka sendiri sehingga timbul fitnah musyrik, sesat, kejawen dalam tanda negatif, dan bid’ah. Akhirnya mereka menjadi kebarat-baratan ataupun ke-arab-arab-an dan memuja-memuji leluhur bangsa lainnya. Belum lagi faktor Film-film Horor semenjak tahun 70-an yang membikin Stigmasisasi Negatif tentang Jawa dan itu terinstal di otak pikiran bawah sadar manusia dibintangi Susana dan kawan-kawan, dimana demi uang sutradara-sutradara film menyudutkan dan memojokkan orang dengan identitas jawanya seperti baju surjan, blangkon, keris, sesajian dengan tokoh antagonis, dukun jahat, dukun santet, pelaku kemusyrikan, pelaku pesugihan. sungguh sangat menyedihkan Pakaian Surjan Ciptakaan Waliyulloh Sunan Kalijaga yang disimbolkan dan disinonimkan sebagai baju rohani yaitu baju takwa yang Tabarukan dengan asmo Kanjeng Nabi Muhammad SAW yaitu "Sirojam" (pelita/cahaya) malah di identik-kan dengan pelaku kemusyrikan, Baju Surjan sendiri dari Firman Alloh SWT di Al Qur'an surat Al Ahzab ayat 46 : "Wa da'iyan ilallohi bi'iznihi wa 'sirojam muniroo'" (dan untuk menjadi penyeru kepada (ajaran/agama) Allah dengan izin-Nya serta sebagai "pelita yang menerangi").  
Kita harus tahu bahwa Nusantara ini, terutama Jawa. budaya dan tradisi dibangun di atas kaidah : "Adat basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah" 
yang artinya : Adat bersendikan Syariat, Syariat Bersendikan Kitabulloh/Al Qur'an".
 
Islamnya orang jawa bagi yang tidak paham serta tidak bisa mengkaji dan meneliti akan di-judge atau di hakimi, dicibir, dan di-klaim Kejawen dalam konotasi negatif, Sinkritisme, ahli Bid'ah, sesat, musyrik, bahkan kafir. Penghakiman tersebut datang dari orang-orang yang tidak paham, tidak punya wawasan, tidak pernah meneliti dan mengkaji, terutama masyarakat awam, serta datang dari pemikiran dan tafsir-tafsir paham teologi Islam sebelah. dan yang paling parah dihakimi oleh orang jawa sendiri tanpa mau mempelajari, memahami, mengupas, mendekat, dan mencicipi. 
Jawa sesungguhnya sangat Islami yang isinya tentang memperkuat dan memperdalam Iman, iksan, Islam, dan kecintaan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, Bersumber dari Ajaran Wali songo, aulia-aulia tanah jawa, dan ulama-ulama tanah jawa yang di era sekarang menganut Teologi pemikiran ke-agamaan Ormas Nahdlatul ulama (NU). tapi sebenarnya ini bukan masalah soal Ormas seperti NU, Muhammadiyah, LDII, Persis, MUI, MTA, Perti, Al Irsyad dan sebagainya termasuk yang tidak mendirikan organisasi yaitu Gerakan Manhaj Salafi dan Gerakan Wahabi. dimana ormas-ormas dan gerakan-gerakan itu muncul di Abad 19 dan Abad-20 mereka mempunyai pemahamaan Agama dan perbedaan Tafsir-tafsir Agama, Perbedaan dalil-dalil Agama, Perbedaan Mahzab, Perbedaan Fukoha, juga metode-metode ber-Agama yang semuanya merasa paling benar, tapi ini soal Syiar budaya Islami dan ajaran-ajaran Islami berlandaskan Fiqih atau Al Qur'an, Hadist, Sunah Nabi SAW, Itjma, Qiyas, Itjihad ulama, Sudah muncul di Abad 15 Saat Wali Songo masih Eksis. serta ini soal melanjutkan dan merawat sejarah, budaya, kearifan lokal, silsilah, persaudaraan, bahasa lokal daerah, juga tatanan yang tidak bertentangan dengan Agama Islam dan usianya lebih lebih tua dari gerakan-gerakan mereka dan ormas-ormas itu. yang tetap bersumber dari :
1. Al qur'an, 
2. Hadist, 
3. As-Sunnah, 
4. Itjma, 
5. Qiyas, 
6. Itjihadh ulama-ulama terdahulu, juga 
7. Mengamalkan ajaran Islam Ahlu Sunnah Wal Jammah yang berpegang nilai-nilai:
                        a. Tasammuh (toleran)
                        b. Tawassuth (moderat)
                        c. Tawazzun (seimbang), dan
                        d. 'Adalah (Adil)
yang tidak condong pada pemikiran Islam Fundamentalis Radikal dan Puritan yang umumnya Radikal serta Intoleransi yang suka menyesatkan dan mem-bid'ah-kan juga meng-kafir-kan saudara se-Muslim dan se-Iman mereka disebut berpaham Takfiri karena suka mengkafirkan saudara se-muslim. dan islam puritan dengan pandangan dan tafsiran mereka, menolak budaya lokal, budaya Nusantara, Budaya Jawa, atau kearifan lokal seperti Tahlilan, Yasinan, Kenduri, Maulud Nabi, sholawatan, ruwahan, merti desa, brokohan, ngupati, mitoni, tedak siten, selapanan, rebo wekasan dan sebagainya sekalipun itu tidak bertentangan dengan agama Islam karena masih berlandaskan Al Qur'an, Hadist, Sunnah Nabi SAW, Itjma, Qiyas, Itjihadh ulama. Tapi bagi Islam Puritan itu semua Bid'ah Dholala dan  hanya mengikuti Islam awal versi tafsir dan Pemahaman juga sudut pandang mereka sendiri.
Islam orang Jawa menganggap Pancasila sebagai Dasar Negara yang Sah dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Islam-nya orang jawa sebelum Ormas NU lahir terlebih dahulu ratusan Tahun sejak masuknya Islam ke Pulau jawa sudah mengikuti salah satu dari dua (2) Imam yaitu Al-Asy'ari dan Al-Maturidi, juga mengikuti salah satu dari empat (4) Imam dalam Ubudiyah yaitu : Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali.
Organisasi NU didirikan pada 16 Rajab 1344 H atau 31 januari 1926 di kota Surabaya oleh para Alim Ulama dan para Pedagang yang mendukung Praktik fiqih Islam di jawa karena berlandaskan pada Al Qur'an, Hadist, Sunah, itjma, qiyas, itjihadh serta sesuai dengan akidah Asy"ariyah dan Fiqih Mahzab Syafi'i.
karena Ormas NU mendukung Syiar Islam jawa maka oleh paham Islam sebelah, NU dianggap tradisionalis. Padahal wajah islam di jawa bahkan Nusantara peninggalan sanad para wali songo dan aulia tidaklah ngawur disitu dijalankan Fiqih dan Sunnah Nabi seperti Silaturahmi, berdo'a ber-sama, ber-zikir bersama, ada hidangan sedekahan (berkataan/bancaan), ada infaq, ada baca Al Qur'an, ada baca Tahmid, ada baca Hamdalah, ada baca Takbir, ada baca Tasbih, ada baca Sholawat, ada Ceramah/tausiah dan sebagainya. Syiar Islami di Nusantara jika dirunut memang dari Jaringan para ulama dan aulia Nusantara termasuk Jawa bahkan do campa vietnam, filipina pattani thailand syiar Islami mirip dengan di nusantara karena memamg para aulia-aulia awal mulanya datang dari sana. sehingga tidak heran disana kita bisa temukan bubur Suro, Berjanjen, yasin tahlil, kenduri, dsbnya.
Para Wali songo dan aulia-aulia Nusantara terutama tanah jawa meniru dalam men-Sinkretisme atau meniru Sunah Nabi Muhammad SAW dalam mengelola Budaya dan Adat-istiadat Pra-Islam atau sebelum Islam datang di Arab yang di Islamisasi oleh Nabi SAW. Jadi Islam sendiri awalnya Sinkretis salah satu contohnya Tarikh Sejarah Aqiqah, Puasa Assyuro dan sebagainya. dan sebenernya Ajaran-ajaran ke-islama-an di Jawa bila dipelajari dengan ilmu Antropologi, bukanlah peninggalan Hindhu-Budha. tapi sayangnya dan sedihnya malah orang jawa yang tidak paham malah meng-iya-kan kalau praktek syiar agama Islam di Jawa adalah peninggalan Hindu-budha.
Terlebih dengan Penelitian, Kajian, dan Perspektif Clifford Geertz seorang Antropologi dari San fransisco Amerika dengan bukunya yang berjudul "The Relegion Of Java" yang diterbitkan tahun 1960 dan bukunya serta penelitiannya tidak menyajikan data-data teoritis-nya juga saintifik-nya, serta dia tidak paham sejarah Islam, ajaran-ajaran Islam, dan ke-ilmuan Agama Islam. Sehingga 'Buku Clifford Geertz menjadi Sumber Kesesesatan Antropologi' sampai sekarang dengan di-kotomi "Santri, Priyayi, dan Abangan". Banyak Ilmuwan-ilmuwan dalam Negeri juga Luar negeri yang menyanggah dan mengkritik penelian Clifford Geertz yang mempermasahkan, tentang :
  1. Interpretasinya terhadap Agama Islam dan budaya di Jawa, 
  2. Tidak mewakili Fakta Realitas masyarakat Jawa, 
  3. Tidak mencerminkan dinamika sosial yang lebih kompleks, 
  4. Pendekatan dan kajian serta penelitian Clifford Geetrz juga mengabaikan faktor-faktor struktural, ke-ilmu-an Agama Islam (Al Qur'an, Hadist, Sunnah Nabi, Itjma, Qiyas, Itjihad, Sejarah Islam, Riwayat para sahabat, Tafsir Para Fukoha dan Imam Mahzab, dsbnya) 
  5. Pendekatan, kajian, dan penelitian mengabaikan faktor historis yang mempengaruhi budaya. 
  6. Geertz memandang Agama Islam sebagai bagian integral dari sistem budaya, namun pandangan ini ditentang oleh ilmuwan-ilmuwan yang menekankan aspek-aspek sosial, politik, ekonomi dalam fenomena Agama Islam yang dianggap sebagai simbol semata.
            Banyak kritikan terhadap Buku Geertz karena menimbulkan kesesasatan Antropologi sampai sekarang, salah satunya dalam kata pengantar Buku Geertz dari Bapak Taufik Abdullah seorang Akademisi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Akhirnya Buku Geertz ini dimanfaatkan oleh orang-orang Islam ber-pemahaman sebelah terutama Islam Radikal untuk menyerang Orang Islam yang suka Slametan. Syukuran, Tahlilan, Kenduri, Merti desa, Brokohan, Mitoni, Tedak Siten, Selapanan, Ruwahan, memperingati Maulid Nabi SAW, dan sebagainya, dengan Istilah Tahayul, Bid'ah, Chufarat. bahkan sesat juga musyrik.
Banyak buku karya tandingan yang menyanggah dan menampik penelitian buku Clifford Geertz yang berjudul The Relegion Of Java, salah satunya buku "Islam Jawa" karya ilmuwan dan antropologi barat yang bernama Mark Woodward. dan Buku "Memahami Islam Jawa" Karya Ilmuwan Indonesia bernama Bambang Pranowo.

Yang bikin Identitas Jawa jadi negatif adalah penyelewangan dan Stigma film, banyak ajaran dan falsafah jawa salah satunya "Eling marang Gusti (Ingat pada Alloh SWT), Rukun marang sesama (akur dengan sesama manusia), Selaras karo alam (selaras dengan alam)."
akhirnya mereka orang jawa lahir di lampung tapi tidak mengakui keturunan jawa, tidak menyerupai orang jawa dengan segala identitas akar rumputnya, dan menyerupai orang lampung pun tidak. tapi lebih bijak orang keturunan jawa yang mencintai budaya serta adat istiadat lampung serta bahasa lampung, daripada jadi orang jawa bukan, jadi orang lampung pun bukan, entah jadi orang mana jadinya??....Orang tanpa identitas akhirnya jadi orang ilang/hilang serta asing di negeri sendiri.. hahaha... 
 
"Belajarlah dari sejarah, karena bangsa yang lupa akan sejarahnya adalah bangsa yang hilang (kehilangan identitas), dan rakyat tanpa masa lalu adalah rakyat yang tiada memiliki lagi jiwa semangat kejuangan. belajar dari sejarah bukan berarti untuk hidup di masa lalu, tapi guna memetik hikmah dari pelajaran sejarah"
By. Bung Karno, Presiden Pertama Republik Indonesia

Kepunahan Pengetahuan tentang Asal usul, Tentang Silsilah, Tentang Jati diri, tentang Bahasa ibu alias bahasa lokal leluhurnya atau Linguistik, tentang budaya, tentang norma-norma atau wewaler simbah-simbahnya atau leluhurnya dan sebagainya maka terjadi ketercabutan akar rumput, kehilangan jiwa sosial, kehilangan hati nurani, kehilangan kemanusiaan, kehilangan jati diri, kehilangan karakter, kehilangan adab sopan santun, termasuk kehilangan jati diri bangsa serta kehilangan rasa terimakasih, syukur, tata krama, dan tawaduk kepada generasi tua atau simbah-simbah dan leluhurnya. sehingga mereka sudah tidak mau ber-sosialisasi dengan saudara, tidak mau rewang, tidak mau sambatan, tidak mau gotong - royong, tidak mau takziah, tidak mau nyedulur, tidak mau menyambangi saudara, tidak mau menengok saudara yang sakit, tidak mau ziarah kubur, dan tidak mau silaturahmi akhirnya mereka menjadi tutup mata, Ego dan Apatis serta tertutup kepedulian dan mata hatinya dengan prinsip lho-lho gue-gue. salah satu bentuk sederhana rasa menghargai dan rasa terimakasih kepada simbah-simbahnya adalah mendoakan tapi lebih obyektik dan bisa dibuktikan real secara fisik dengan cara ziarah kubur, bersih makam, merawat makam.

Kolonisasi Perdana ke Lampung oleh Pemerintah Kolonial Belanda adalah dari Desa Bagelen di Kabupaten Purworejo dan dikirim ke Gedung Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung pada Tahun 1905, serta pemukiman dari Desa Bagelen Jawa Tengah di pesawaran ini juga dinamakan Desa Bagelen sesuai nama desa asalnya di pulau jawa, disusul Desa Kutoarjo yang sekarang di Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa tengah yang juga di Gedong Tataan, Pesawaran, Lampung serta-merta pemukimannya memakai nama Desa Kutoarjo sesuai tempat asalnya di Jawa bagian tengah.Umumnya nama-nama Desa di Pulau Sumatera khususnya lampung yang di buka dan di huni oleh komunitas jawa adalah Toponim Nama-nama Desa mereka di Jawa.

 
Foto, Kantor Kalurahan Giri Purwo. Kapanewon Giri Mulyo, Kabupaten Kulonprogo, DIY
Dusun Kepudung dibawah naungan Kalurahan Giripurwo, 
tempat asal keluarga Besar Singo Karyo dan Mbah Karyo Naroh

             Mbah Singo Karyo beserta putra-putrinya yaitu Mbah Jeminem, Mbah Karyo Naroh, Mbah Sardi, Mbah Ngadikin, Mbah Margono, dan Mbah Mareno berasal dari Dusun Kepundung, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo, DIY.  

Sekitar kurang -lebih 75 tahun yang lalu dari tulisan ini ditulis tahun 2025. Dan yang Perdana datang menginjakkan kaki dan Babad alas membangun pemukiman lahan pertanian dan peradaban untuk Kelurga Besar Singo Karyo adalah Mbah Karyo Naroh di Pasuruhan, Lampung selatan Yang waktu itu Mbah Karyo Naroh masih Bujang atau perjaka alias belum menikah merantau secara swadaya mandiri ke pulau Sumatera tepatnya Lampung selatan pada tahun 1950-an, serta bertahap membawa orang tuanya yaitu Mbah Singo Karyo beserta istri, lalu kakak-nya, adik-adik-nya, juga Pak Lik atau Om atau Paman-pama-nya. Mbah Karyo Naroh Membawa kedua Pak lik adik dari Simbok-nya yaitu Mbah Trinil yang bernama :
  1. Mbah Mul, dan 
  2. Mbah Joyo

            Mbah Mul dan Mbah Joyo tinggal Mukim di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung selatan, Gandri sendiri adalah sebuah desa baru serta bukan Desa Transmigran tapi desa para perantau dari Jawa yang menempati tanah perhutani, ada beberapa desa baru di kecamatan penengahan yang usianya di tahun 2025 mendekati 100 tahun semenjak era kolonialisasi 1905 dimana Desa Klaten menurut cerita tutur masyarakat dibuka dari Kolonialisasi Pemerintah Belanda oleh orang jawa pada tahun 1935, Sehingg hari jadi atau hari ulang tahun desa klaten karena berpatoak dari Pemekaran desa Pasuruan dan desa Klatenbelum bersumber dari data-data otentik dan sumber-sumber primer yaitu pada tanggal 25 Mei 1969. Dan akhirnya 25 Mei 1969 Menjadi hari jadi Desa Klaten. dan bertepatan Hari jadi Desa Klaten ke-51 Pada tanggal 25 Mei 2016 juga terjadi peresmian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di desa kelaten yang diresmikan oleh Bupati Lampung Selatan Dr. H Zainuddin Hasan M.Hum, dan menjadi BUMDes Pertama di kecamatan Penengahan. 

Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan memiliki Tujuh (7) Dusun, dengan luas desa 7.69 Km², Jumlah Penduduk di Tahun 2022 ada 3.293 Jiwa.
 
            Orang yang mempertahankan Identitas, Mempertahankan Budaya, Mempertahankan Seni Budaya, Mempertahankan Kearifan Lokal, Mempertahankan Norma-norma sosial, Mempertahankan artefak, Mempertahankan Cagar Budaya, Mempertahankan Warisan Leluhur, Mempertahan Adat-Istiadat, Mempertahankan adab sopan santun adalah Bukanlah Orang Primitif dan terbelakang di tengah kemajuan Zaman dan Kemajuan Teknologi Juga Era Disrupsi. 
Justru orang yang mempertahankan Budaya, Kearifan Lokal, Seni budaya, artefak, cagar budaya, adab sopan santun, adat-istiadat Ditengah Kemajuan Zaman juga Era Disrupsi adalah suatu kegiatan dan tindakan Positif serta terpuji yang mempertahan dan menunjukkan kebanggan akan Identitas, menjaga Legacy, dan warisan leluhur dan merupakan pelestarian juga pengembangan agar tidak kehilangan Jati diri dan identitas di tengah globalisasi serta era disrupsi dan era krisis identitas. 
Sebaliknya Primitif dan terbelakang justru berlawanasn dengan upaya aktif melestarikan, menjaga, memperkenalkan dan mengembangkan budaya, seni budaya, adat-istiadat, adab sopan santun dan warisan leluhur. Menjaga budaya, adat -istiadat, kearifan lokal bukan berarti menutup diri tapi tetep jangan sampai ketinggalan teknologi. dan memanfaatkan teknologi untuk menjaga dan melestarikan budaya, adat-istiadat, kearifan lokal itu sendiri
Budaya, adat istiadat, kearifan lokal, dan warisan leluhur adalah Pondasi suatu bangsa dan masyarakat yang berarti mempertahankan identitas, jati diri, asal-usul, dan nilai-nilai yang membentuk kita. apalagi umumnya Budaya jawa dan adat istiadat jawa mengandung nilai-nilai mulia, falsafah hidup, dan ajaran Agama Islam yang berdasarkan kepada Fiqih, Sehingga Relevan sepanjang zaman.
Generasi muda yang sadar dan punya panggilan jiwa mempunyai peran penting untuk mengajarkan kepada generasi yang akan datang, sebagai contoh menggunakan bahasa lokal daerah, menggunakan pakaiaan adat pada acara tertentu dan sebagainya
 
Syiar Islami atau oleh orang sekarang hanya disebut Budaya dan Adat-istiadat juga Kebiasaan lama leluhur yang mengandung fiqih, nilai-nilai islami, Al Qur'an, Hadist, dan Ajaran juga Sunah Rosulloh SAW yang Relevan sepanjang Zaman serta  masih berjalan di Desa Klaten atau dilaksanakan oleh Level Pemerintah Desa Klaten, Kecamatan penengahan, Kabupaten Lampung selatan Seperti Menyelenggarakan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Penduduk Desa Klaten umumnya Adalah : 
  1. Berjanjen
  2. Yasin-tahlil
  3. Kenduri
  4. Slametan Kematian ( 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari dan seterusnya)
  5. Rejeban
  6. Ruwahan
  7. Maulid Nabi
  8. Khotmil Qur'an atau khataman Qur'an
  9. Suroaan
  10. Rebo Wekasan 
  11. Mbubur Suro
  12. Tumpengan
  13. Berkatan/Sedekahan
  14. Brokohan 
  15. Ngupati
  16. Mitoni
  17. Tingkeban
  18. Selapanan
  19. Sepasaran 
  20. Walimahan 
  21. Among-amongan
  22. Halal-Bihalal
  23. Dan sebagainya 

Kegiatan Sosial Kemasyarakatan yang masih dilakukan, dilaksanakan, dan dipegang teguh oleh Warga Masyarakat Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan serta menjadi Norma Sosial atau Wewaler juga Kebiasan lama yang luhur/mulia juga menjadi Budaya adat istiadat yang mulia dan relevan sepanjang zaman adalah :

  • Musyawarah
  • Gotong Royong
  • Rewang/lagan
  • Halal-bihalal
  • Menengok saudara atau tetangga yang sakit ataupun yang baru melahirkan
  • Sinoman
  • Kerja Bakti
  • Sambatan Pembentukan Panitia Hajatan Pernikahan, Panitia Hari Besar Islam, Panitia HUT RI, Panitia kepemudaan, Panitia kelompok tani, Dsb.
  • Menggali Kubur
  • Ronda Malam
  • Dan Sebagainya

Kita tidak tahu Seratus (100) tahun yang akan datang kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan dan Syiar Isami yang telah menjadi Norma, Budaya, dan Istiadat yang luhur dan mulia juga relevan sepanjang zaman ini masih ada, berjalan, dan eksis ditengah gempuran zaman, arus globalisasi, Era kecanggihan teknologi, Era Digital, Era Disrupsi, serta kedatangan para ulama di masyarakat, Sosial Media dan TV dengan Doktrin serta tafsir juga pemahaman Agama yang beraneka ragam dan bebeda-beda. Sehingga Syiar Islami berdasarkan Sunah dan ajaran Nabi Muhammad SAW, Al Qur'an, Hadist, Ijma, Qiyas, Ijihadh malah di Bid'ah-bid'ah-kan, disesatkan, di-musyrik-kan.

maka tanggung jawab juga kesadaran kita untuk memahami itu serta memberikan pengertian, nilai-nilai, dan pemahaman terhadap anak-cucu agar nantinya tidak salah kaprah

Di Kecamatan Penengahan ada desa yang baru berusia baru puluhan tahun yaitu desa Gandri, desa-desa tua yang berusia ratusan tahun yang umunnya juga dihuni penduduk lokal lampung adalalah Desa Penengahan, Desa Kuripan, Desa Tetaan, Desa gayam, Desa Kelau, dan sebagainya. Sebelum jauh kita memahami Silsilah keluarga Besar Eyang Singo Karyo dan Eyang Kromo Rejo kita harus terlebih dahulu mempelajari sedikit sejarah Kecamatan Penengahan yaitu tanah rantau yang ditakdirkan oleh Alloh SWT menjadi tanah keturunan-keturunan eyang, tanah penyangga hidup, tanah untuk hidup, tanah untuk bertahan hidup(Surviving), dan meneruskan peradaban keturunan-keturunan Eyang Singo Karyo dan Eyang Kromo Rejo yang dirintis oleh Eyang Karyo Naroh dimana telah memboyong keluarga besar Singo Karyo dari tanah leluhurnya di jawa ke tanah rantau di lampung selatan tepatnya Kecamatan Penengahan. letak geografis kecamatan Penengahan ada di kaki Gunung Rajabasa, terletak antara 105° 30° - 105° 40° bujut timur dan 5° 42' - 5° 54' Lintang Selatan, adapun batas-batasnya sebagai berikut :

  1. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Palas dan Kecamatan Sragi.
  2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bakauheni.
  3. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Ketapang.
  4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kalianda dan Kecamatan Rajabasa.

Dengan letak geografis yang demikian, seperti pada umumnya di Indonesia, Kecamatan Penengahan adalah wilayah tropis. Tanah Kecamatan Penengahan pada umumnya termasuk wilayah subur sehingga memungkinkan tanaman tumbuh dan berbuah setiap tahunnya. Luas wilayah Kecamatan Penengahan adalah 97,59 KM² (Sumber : BPS Lampung Selatan. 2018).

Topografis atau keadaan alam Kecamatan Penengahan terdiri dari Perbukitan dan Dataran rendah dengan lahan sawah dan lahan perkebunan. ketinggian rata-rata wilayah kecamatan Penengahan diatas permukaan laut adalah 127 Mdpl. tapi semenjak dimekarkan Kecamatan Bakauheni, maka Kecamatan Penengahan tidak memiliki garis pantai. dengan gambaran tersebut dapat disimpulkasn bahwa mayoritas penduduk di Kecamatan Penengahan umumnya bermata pencarian sebagai Petani, Pedagang, Peternak, dan Buruh.

Foto. Ziarah Ke Makam Minak Gejala Ratu Atau Muhammad Aji Saka Keratuan darah putih, yang menurunkan Pahlawan Nasional Raden Intan II. makam terletak di Dusun Dua (2) Kramat Saksi, Desa Kuripan, dekat kali pisang, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.

            Menurut sumber BPS Lampung Selatan Admistrasi kepemerintahan Zaman Belanda, wilayah Kecamatan Penengahan merupakan daerah yang diperintah oleh Kepala Marga yang bergelar Ratu Menangsi, beliau membawahi Lima Marga sampai perbatasan Teluk Betung, antara lain Marga Katibung, Marga Pesisir, Marga Legun (Wilayah kalianda), Marga Dantaran (Ber-Ibukota di Desa Penengahan), dan Marga Ratu (Berpusat di Desa Benteng/Taman Baru dengan wilayah terluas meliputi seluruh Kecamatan Palas sekarang). masing-masing Marga/Bandar dipimpin oleh seorang bergelar Pangeran. adapun desa yang tercatat sebagai desa tua di wilauah Marga Ratu dan berusia ratusan Tahun adalah Desa Taman. Negeri Pandan, Kekiling, Kuripan. Rawi, Ruang Tengah, Kelau, dan Tetaan. Sedangakan Desa-desa tua berusia Ratusan tahun di wilayah Marga Dantaran adalah Desa Penengahan, Desa Kenyayan/Banjarmasin, Desa Tanjung Heran, Desa Gedung Harta, Desa Gayam, Desa Pegantungan/Bakauheni. Perkembangan berikutnya ialah di bukanya Desa-desa baru di tahun 1900-an atau masa kolonial Belanda bahkan ada yang setelah Kemerdekaan Republik Indonesia yang dibuka oleh para Transmigran atau Perantau dari Jawa, Bali, dan Sunda seperti Desa Pasuruan, Desa Klaten, Desa Sukaraja, Desa Ketapang, Desa Karangsari, Desa Totoharjo, Desa Sumur, Desa Semanak, Desa Palas Aji, Desa Bangunan, Desa Gandri, dan sebagainya. Dan Simbah Mareno Bin Singo Karyo adalah salah satu pendiri dan perintis Desa Gandri.

Foto. Bersama Salah satu Narasumber Masyarakat dari keluarga pemimpin adat keratuan darah putih bernama Bapak Basuki Rahmad yaitu adik dari Bapak Erwin Syahrial S. Sos alias Raden Intan Kesuma Ratu IV di rumah Lamban Balak (Rumah Besar) milik Pahlawan Nasional Almarhum Raden Intan II. Di desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan

Wilayah Kecamatan Penengahan di masa lalu sangat terbelakang pembangunannanya dibandingkan dengan wilayah Kecamatan Kalianda, hal ini disebabkan oleh alamnya yang kurang mendukung sehingga susah dibangun jalan raya aspal, ditambah lagi dengan adanya sungai-sungai yang jumlahnya hampir mencapai 20-an serta diperlukan pembangunan jembatan yang memenuhi syarat keamanan dan keselamatan agar dapat dilalui kendaraan bermotor terutama roda empat.

Pada zaman Vereenigde Oostindische Compagnie disingkat VOC atau orang Nusantara menyebutkan dengan nama Kompeni dari kata "Compagnie" yaitu Persekutuan atau Perkumpulan para Pengusaha milyuner atau Pedagang Besar asal Belanda yang punya monopoli aktivitas perdagangan di Asia termasuk Nusantara/Indonesia, VOC mendapat dukungan penuh dari Kerajaan Belanda untuk melaksanakan 3G yakni Gold (mencari kekayaan), Glory (memperluas wilayah demi kejayaan), dan Gospel (menyebarkan agama) Berdiri di Abad 17 pada tanggal 20 Maret 1602 tapi bangkrut karena korupsi besar-besaran dan di bubarkan pada Abad 18 tanggal 31 Desember 1799 berdasarkan pasal 247 Staatsregeling tahun 1798. Di zaman VOC wilayah Eks Kawedanan Kalianda yang meliputi lima Marga/Negeri tersebut, yaitu :

  1. Marga katibung.
  2. Marga Pesisir.
  3. Marga Legun.
  4. Marga  Dantaran.
  5. Marga Ratu.

adalah daerah yang makmur, terbukti dengan dibangunnya dermaga pelabuhan untuk menjual hasil bumi keluar daerah terutama di Pulau Jawa/Batavia yang sekarang disebut Jakarta. Setelah VOC Bangkrut dan bubar pada 31 Desember 1799 lalu otomatis wilayah yang di duduki VOC diambil alih oleh Pemerintah Kerajaan Belanda atau Hindia-Belanda pada tanggal 1 Januari 1800, maka perdagangan berganti dengan Penjajahan yang mengakibatkan pergolakan dan gejolak perlawanan rakyat terhadap penjajah Belanda. Dibawah kepemimpinan Raden Intan I, perlawanan terhadap penjajah dilakukan secara terang-terangan dan terbuka yakni sekitar Abad ke-19 tahun 1805 - 1818. Dengan wafatnya Raden Inten I maka secara otomatis kepemerintahan dipegang oleh anaknya yaitu Raden Imba, akan tetapi karena tidak ada organisasi yang baik dari para pejuang di lampung selatan, maka seluruh wilayah pertempuran jatuh ke tangan Belandas dan Raden Imba dapat dikejar sampai ke Pekanbaru hingga akhirnya tertangkap dan dibuang ke Maluku. Raden Inten II yang waktu itu baru lahir disembunyikan oleh saudara terdekatnya dan ketika beranjak Remaja dilatih dengan berbagai ilmu pengetahuan, setelah berumur kurang lebih 18 tahun. Pada tahun 1850 Raden Inten II mulai dengan terang-terangan melanjutkan perjuangan ayahnya dengan dibantu 3 Orang/Marga lainya yang masih setia dan punya loyalitas tinggi. namun karena cerdik dan liciknya Belanda dalam memprovokasi dan memecah belah antar marga dan suku dengan mengumbar janji manis, setelah 6 Tahun perlawanan Raden Inten II (1850 - 1856) dapat dipatahkan oleh Belanda ditandai dengan gugurnya Raden Inten II di Desa Tetaan ditangan pamannya yang tidak lain saudaranya sendiri yang di iming-iming oleh Belanda sampai tega membunuh keponakannya sendiri pada tanggal 5 Oktober 1856, gugur di usia muda serta belum menikah. Raden Inten II ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional dengan SK No. 082 tanggal 23 Oktober 1986. Di Lampung Nama Raden Inten II diabadikan menjadi nama Bandara, Universitas, Jalan, dan sebagainya.

Setelah Gugurnya Raden Inten II di Desa Tetaan, praktis pengaturan pemerintahan mutlak dipegang oleh Pemerintah Kerajaan Belanda dengan mengangkat kepala-kepala Desa yang bersumpah setia pada Belanda dan dikepalai seorang Letnan Belanda yang berkedudukan di kalianda. sedangkan Marga-marga dikepalai seorang kapten Belanda, keadaan dan kepemerintahan ini berlanjut sampai Perang Dunia II atau Pendudukan Jepang.

Pada zaman Pendudukan Jepang bersamaan dengan pembentukan Kecamatan Kalianda, di wilayah Penengahan dibentuk Kecamatan yang dipimpin langsung oleh orang Jepang yang disebut Fuko gunco yang berkedudukan di Desa Penengahan, jadi embrio mulai terbentuknya Kecamatan Penengahan adalah di zaman Jepang, sebelumnya Kecamatan Penengahan adalah wilayah dua (2) Marga/Negeri yaitu Marga Dantaran (Berpusat di Desa Penengahan) dan Marga Ratu (Berpusat Desa Taman Baru). seperti daerah lainnya, masyarakat penengahan juga ikut dipekerjakan oleh jepang sebagai Romusha/pekerja paksa terutama dalam membangun jalan yang melingkari gunung Rajabasa yang berguna untuk memperlancar pembangambilan hasil bumi terutama Padi guna kepentingan perang selain sebagai patroli pengamanan wilayah jajahan. dapat dikatakan pada saat itru pemerintahan oleh bangsa sendiri belum terlihat. hanya ada latihan-latihan militer bagi para pemuda demi kepentingan strategi militer jepang dan politik.

Foto. Kantor Kecamatan Penengahan, di Desa Pasuruhan, tepatnya di Jln. Lintas Sumatera Km. 69, Desa Pasuruhan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. 
Praktis secara otomatis Desa Pasuruhan menjadi Ibukota Kecamatan Penengahan.

Setelah di umumkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, masyarakat Penengahan tidak ketinggalan menyambut dengan membentuk Badan Pemerintahaan Sementara seperti PKR (Penjaga Keamanan Rakyat), API (Angkatan Pemuda Indonesia), dan Laskar Rakyat. Pada Tahun 1946 PKR diubah menjadi BKPK (Badan Keamanan Penjaga Kecamataan). Pada tahun 1946 juga Camat dijabat Pertama kalinya oleh Bangsa sendiri bernama Muhammad Yusuf, namun situasi tidak mendukung sehingga pemerintahaan belum dijalankan dengan baik. bersamaan dengan diadakan Pemilu yang pertama pada tahun 1955, Camat pada saat itu dijabat olenh Mangku Ratu memindahkan ibukota kecamatan ke Desa Taman Baru, kemudian pada tahun 1970 Ibukota kecamatan dipindahkan ke Desa Pasuruan. Dalam perkembangan selanjutnya pada tahun 1971 Kecamatan Penengahan dimekarkan menjadi dua Kecamatan yaitu Kecamatan Penengahan dan Kecamatan Palas. 
Serta Kecamatan Palas dimekarkan pada tahun 2001 lalu terbentuk Kecamatan Palas dan Kecamatan Sragi berdasarkan Peraturan daerah Kabupaten Lampung Selatan Nomor : 42 tanggal 12 Desember 2000, dan diresmikan pada tanggal 5 Februari 2001 oleh Zulkifi Anwar sebagai Bupati Lampung Selatan. 
Dan seandainya ada hari Jadi Kecamatan Penengahan, maka tolak ukur dan dasarnya adalah saat Pelantikan Camat Perdana Kecamatan Penengahan yaitu Bapak Muhammad Yusuf di Tahun 1946, sayang saya belum menemukan Data Primer Tanggal dan Bulanya. Tapi paling tidak bila dihitung dari Tahun 1946 sampai 2025, maka hari jadi Kecamatan Penengahan udah 79 Tahun.
Berikut Nama-nama Camat Penengahan secara definitif, Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, adalah sebagai berikut :
  1. Muhammad Yusuf (1946-1949). Camat Perdana Kecamatan Penengahan
  2. Sarbini (1950-1952)
  3. Nawawi (1952-1953)
  4. M. Rozali (1953-1954)
  5. Barnawi (1954-1955)
  6. Mangku Ratu (Februari 1955-1955 akhir)
  7. Abdullah Sani (1956-1958)
  8. M. Zen (1959-1963)
  9. Zen Polos (1964-1967)
  10. Ridwan baringsang (1968-1972)
  11. M. Rasyid (1972-1974)
  12. M. Thohir (1974-1977)
  13. Hasanuddin Basir, BA (1977-1981)
  14. Drs. Rusdi Ibrahim (1981-1983)
  15. Burdadi Puspanegara (1983-1985)
  16. Drs Habiburrahman (1985-1988)
  17. Drs. Adri latif (1988-1989)
  18. Faisol yusuf (1989-1991)
  19. Drs. A.M. Roni (1991 awal-1991 akhir)
  20. Drs. Ashabul Yamin (1991-1994)
  21.  Drs. Maryanto (1994-1999)
  22. Maliki Muchtar, SE (1999-2002)
  23. Ahmad mulkan, SH (2002-2007)
  24. Darsito, SP (2008-2011)
  25. Edi Firnandi, S.STP (juli 2011- maret 2012)
  26. Darsito, SP ( april 2012- Agustus 2012)
  27. Drs. Evan Zuhri (agustus 2012- September 2012)
  28. A. Kholil (Oktober 2012- Maret 2014)
  29. Lukman Hakim ( Maret 2014 -2018)
  30. Jaelani, S.STP., M.H., (2018 - 21 Maret 2024)
  31. Muhrizal, SE ( 21 Maret 2024 - 21 April 2025)
  32. Syaifullah, S.Pd, M.Pd  ( 21 April 2025 - .......     )
            Kabupaten Lampung Selatan sendiri mulai terbentuk dan berdiri dengan Resmi Perdana ditunjuk sebagai Bupati Kepala Daerah Perdana yaitu ACHMAD AKUAN pada tanggal 4 Juli 1951 serta menjabat dari 1951 - 1952. dengan luas wilayah Kabupaten Lampung Selatan sekarang 2.109,74 km² . dan sekarang terletak antara 105° - 105° 45' Bujur Timur dan 5° 15' - 6° Lintang Selatan. dengan beribukota di Kecamatan Kalianda, Berdasarkan UU No. 22 tahun 1948 maka lahirlah Daerah Tingkat I Propinsi Sumatera Selatan dengan Perpu Nomor 33 tanggal 14 Agustus 1950 yang dituangkan dalam Perda Provinsi Sumatera Selatan Nomor 6 tahun 1950. Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 39 tahun 1950 tentang pembentukan DPRD dan Dewan Pemerintah untuk daerah provinsi, kabupaten, kota besar, dan kota kecil maka keluarlah Peraturan Provinsi Sumatera selatan nomor 6 tahun 1950 tentang pembentukan DPRD Kabupaten di seluruh Daerah Tingkat I Provinsi Sumatera Selatan.
Perkembangan Selanjutnya guna lebih terarahnya Pemberian Otonomi Daerah yang diatur dalam Undang Undan darurat Nomor 4 Tahun 1956 tentang Pembentukan Kabupaten dalam Lingkup Daera Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 14 Kabupaten, diantaranya Kabupaten Daerah Tingkat II Lampung Selatan beserta DPRD dan 7 (tujuh) Dinas Otonom yang ditetapkan Pada Tanggal 14 November 1956 dengan Ibukota di Tanjung Karang - Teluk Betung atau sekarang dikenal dengan Bandar Lampung.dan data di tahun 2017 terdiri dari 17 Kecamatan, 4 Kelurahan, dan 256 desa. mungkin di tahun selanjutnya ada pemekaran sehingga terjadi desa-desa baru dan kecamatan-kecamatan baru di wilayah Daerah Tingkat II Kabupaten Lampung Selatan.
Penyelenggaraan Pemerintah dan Pembangunan Kabupaten Lampung Selatan secara resmi menjadi daerah otonom pada tanggal 14 November 1954, akan tetapi pimpinan daerah telah ada dan dikenal sejak tahun 1946. dan pada awal terbentuk, Lampung selatan Masih merupakan bagian dari wilayah Sumatera Selatan berdasarkan UU No. 14 Tahun 1964 tentang pembentukan Provinsi Daerah Tingkat I Lampung, maka Daerah Tingkat II Lampung Selatan resmi merupakan salah satu Kabupaten dalam daerah Tingkat I Lampung. 
Selanjutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah No.39 tahun 1981 tanggal 3 November 1981, ditetapkan pemindahan ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Lampung Selatan dari wilayah Kota Madya Tanjung Karang - Teluk Betung ke Kota Kalianda yang terdiri dari Tiga (3) Desa yaitu, Desa Kalianda, Desa Way Urang, Desa Bumi Agung. Ke-tiga desa itu naik Statusnya menjadi Kelurahan. 
Berdasarkan Surat Menteri dalam Negeri Nomor 135/102/PUOD tanggal 2 Januari 1982, Peresmiannya dilakukan pada tanggal 11 Februari 1982 oleh Menteri Dalam Negeri waktu itu yaitu Amir Macmud, sedangkan kegiatan Pusat Pemerintahan Kalianda ditetapkan mulai tanggal 10 Mei 1982.
Dan Maka Hari Jadi Kabupaten Lampung Selatan adalah saat Acmad Akuan dilantik sebagai Bupati Lampung Selatan Pada tanggal 14 Juli 1951. itu berarti hari jadi kabupaten lampung selatan di tahun 1951 - 2025 adalah 74 Tahun.
Nama-nama Bupati Lampung selatan Semenjak 4 Juli 1951, adalah :
  1. Acmad Akuan (1951 - 1952), Bupati Perdana Lampung Selatan.
  2. H. Zainal Abidin Pagaralam (1953 - 1955)
  3. R. Abu Bakar (1955 - 1956)
  4. Masagus H.A. Rachman (Tjek Ketjik) (1956 - 1960)
  5. Hasan Basri (1960 - 1967)
  6. A. Djohansyah (1967 - 1972)
  7. Pjs. Rustam Efendi (1973)
  8. Dja'far Hamid (1973 - 1978)
  9. Mustafa Kemal (1978 - 1982)
  10. Pjs. Drs. Subki E Harun (1982 - 1983)
  11. Dulhadi (1983 - 1988/1988 - 1993)
  12. Drs. H. Sunardi (1993 - 1998)
  13. Amreyza Anwar, S.I.P (1998 - 1999)
  14. H. Zulkifli Anwar, S.H (2000 - 2005/2005 - 2008)
  15. Wendy Melfa (2008 - 2010)
  16. Rycko  Menoza,  S.Z.P. S.E, S.H, M.B.A (2010 - 2015)
  17. Kherlani (6 Agustus 2015 - 17 Februari 2016)
  18. Dr, H. Zinudin Hasan S.H., M.H. (17 Februari 2016 - 3 Agustus 2018)
  19. H. Nanang Ermanto (3 Agustus 2018 - 12 Mei 2020 - 12 Mei 2020/12 Mei 2020 - 26 September 2020)
  20. Drs. Sulpakar, M.M. (26 September 2020 - 5 Desember 2020)
  21. H. Nanang Ermanto (5 Desember 2020 - 17 Februari 2021)
  22. Thamrin S.Sos (17 Februari 2021 - 26 Februari 2021)
  23. Nanang Ermanto (26 Februari 2021 - 20 Februari 2025)
  24. Radityo Egi Pratama (20 Februari 2025 - ....... )
            Pada Tahun 1980 Perkembangan dan pertanda baik lainya bagi Kecamatan Penengahan adalah rencana pembangunan Jalan lintas Sumatera melalui Kecamatan Penengahan berikut Calon Pelabuhan dan Dermaga penyeberangan dari Desa Bakauheni yang di tahun itu masuk wilayah Kecamatan Penengahan menuju Pelabuhan Merak, Jawa barat yang sekarang masuk Provinsi Banten. Efek dan akibatnya Kecamatan Penengahan mulai dikenal dan tidak terbelakang lagi serta berbenah diri mengejar ketertinggalan dari kecamatan lainnya karena akan menjadi Pintu gerbang pulau Sumatera melalui Pelabuhan Bakauheni yang dibuka pada 1 Juni 1981, maka peluang ekonomi dan meningkatkan taraf hidup kesejahteraan masyarakat terbuka lebar, warung-warung dan toko-toko mulai menjamur, Jasa warung makan, jasa tiket, jasa angkutan travel, jasa travel, jasa ojek pun laris manis. lapangan pekerjaan di Pelabuhan Bakauheni untuk masyarakat Kecamatan Penengahan sangat banyak, semua hasil pertanian di Kecamatan Penengahan selalu habis terjual bahkan buah-buahan yang belum masanya dipetik pun sudah diborong pengepul atau pedagang dari Jakarta. inilah dampak ekonomi secara langsung yang dirasakan oleh masyarak kecamatan penengahan baik disadari ataupun tidak disadari oleh masyarakat awam. sekalipun ada dampak negatifnya bagi kenakalan remaja seperti Narkoba, Sex bebas, Miras, dan sebagainya. 
 
Foto. Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Salah satu Pelabuhan terbesar di Indonesia, Pintu Gerbang perekemonian dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera yang dibuka tanggal 1 Juni 1981 sangat perdampak positif bagi perekonomian dan kesejahteran masyarakat Kecamatan Penengahan baik disadari ataupun tidak di sadari oleh massyarakat awam. 
Sekalipun nantinya pada tahun 22 Februari 2001 ada pemekaran kecamatan penengahan yaitu kecamatan ketapang. disusul 30 Juli 2007 kecamatan penengahan di mekar-kan kembali yaitu kecamatan bakauheni. Awalnya kecamatan Palas, kecamatan ketapang, kecamatan sragi, kecamatan bakauheni, masuk wilayah kecamatan Penengahan.

            Dalam perkembangan selanjutnya untuk mempermudah Admistrasi kepemerintahan, pada tahun 1991 dibentuklah Kecamatan Pembantu Ketapang yang membawahi 13 desa. Dan pada tanggal 22 Februari 2001 secara resmi Kecamatan Penengahan dimekarkan kembali menjadi dua kecamatan yaitu Kecamatan Penengahan dan Kecamatan Ketapang seiring semakin berkembangnya Desa-desa di wilayah selatan (sekitar Bakauheni) sehingga dibutuhkan akses yang lebih mudah dalam administrasi kepemerintahan, maka kecamatan Penengahan kembali mengalami pemekaraan pada tanggal 30 Juli 2007 Kecamatan Penengahan resmi dimekarkan menjadi dua kembali yaitu Kecamatan Penengahan dan Kecamatan Bakauheni, Kecamatan Bakauheni di tahun 2007 membawahi 5 Desa. Dengan berbagai Pemekaran tersebut maka praktris sekarang Kecamatan Penengahan membawahi 22 Desa. untuk mewujudkan pelaksanaan Pemerintah berdasarkan Surat Keputusan MENDAGRI Nomor : 82/83 tahun 1984 tentang susunan organisasi dan tatakerja wilayah kecamatan.
Pada awalnya sebagian besar penduduk Kecamatan Penengahan adalah Penduduk asli Pribumi Lampung, kemudian seiring digalakkan kolonisasi di era Pemerintah Belanda dan Program Transmigrasi di era Pemerintah Republik Indonesia juga banyaknya perantau-perantau dari jawa yang datang secara mandiri maka berlahan-lahan para pendatang mulai banyak yang mewarnai kecamatan Penengahan, dari segi Suku, etnis, dan Bahasa daerah. mereka umumnya berasal dari Jawa tengah, DIY, Jawa timur, Jawa Barat, Banten, Bali, Batak, Padang, Semendo, dan Madura. dari 22 Desa paling tidak ada 13 desa yang Penduduknya mayoritas orang pribumi Lampung, Etnis Sunda dan Banten menjadi mayoritas di enam desa yaitu Desa Blambangan, Rawi, Padan, Way Kalam, Kampung Baru, dan Tanjung Heran. Sedangkan Suku Etnis Jawa berada di Desa Pasuruan, Klaten, Gandri, serta sebagian ada di Desa Kuripan dan Penengahan.
 
"Siapapun yang tidak bisa dinasehati dan tidak bisa belajar dari sejarah atau masa lalu, maka akan dinasehati oleh kejadian, peristiwa, dan fenomena" 
by. N.k. Adi

            Kecamatan Penengahan masih punya potensi pariwisata yang cukup tinggi, namun terkendala oleh sarana dan prasarana yang kurang memadai serta promosi yang kurang maksimal juga pengelolaan yang kurang profesional, dukungan pemerintah dan para Stakeholder juga kurang. sebenarnya sektor pariwisa di kecamatan penengahan sangat menunjang untuk kesejahteraan masyarakat setempat seperti perbukitan Merabung di Desa Padan dengan panorama yang asri, Air terjun Way kalam di desa Way kalam, Curug Jati di desa Tanjung heran, Makam pahlawan nasional Raden Inten II di desa Gedung harta, Makam Ratu Darah Putih di desa Kuripan, Pemandian Way Tebing Cepa (WTC) di desa Taman baru, Pemandiaan Way Benteng Kedagaan (WBK) Di desa Padan, Pemandiaan Way Penaga di Desa Banjarmasin, dan sebagainya.

Perkembangan suatu Desa, Kampung, Kota atau daerah/kawasan tergantung pada apa yang dimiliki desa atau kampung atau kota atau daerah/wilayah tersebut untuk ditawarkan, dipromosikan, di sosialisasikan, di-informasikan, di-branding kepada masyarakat luar, masyarakat yang melintasi daerahnya, para pengunjung, penanam modal, dan wisatawan baik dari dalam maupun luar daerah. hal ini tidak dapat dilepaskan dari peranan para masyarakat, stakeholder/pemangku kepentingan, instansi pemerintah, pengelola kawasan wisata.
berhasilnya suatu kampung atau desa atau kota atau daerah/kawasan hingga tercapainya kawasan pertanian, kawasan perdagangan, kawasan wisata, kawasan bisnis, kawasan pelayanan jasa, kawasan pusat pendidikan, kawasan pusat kesehatan, kawasan seni budaya dan wisata sangat bergantung pada tiga (3) hal yaitu, Atraksi (attraction), mudah dicapai (Accessibility, dan fasilitas (amenities).
 
A. Atraksi (Attraction)
Atraksi adalah sesutau yang dipersiapkan terlebih dahulu agar dapat dilihat, dinikmati, dan menarik pengunjung/wisatawan.
Kawasan yang mendukung, udara yang sejuk, dan puluhan sumber mata air yang bersih dan jernih, toilrt yang bersih, nushola yang bersih, di dukung tempat aktivitas yangan nyaman dan aman untuk seluruh pengunjung. dalam waktu tertentu diadakan Bazar, UMKM, Pameran, festival, Pentas seni, Pasar malam, pertunjukan musik, Car Free day, lomba olahraga, Acara budaya, upacar ritual agama dan tradisional seperti pawai arak-arakan khotmil qur'an, grebeg, wayangan, jamasan tosan aji, sedekah laut, merti deso, dan sedekah bumi.

B. Aksesibilitas (Accessibility)
Aktivitas pelayanan jasa, bisnis, industri, perdagangan, pertanian, peternakan, pendidikan, kesehatan, dan pariwisata sangat tergantung pada Transportasi, akses jalan yang bagus, letak geografis, letak strategis, Branding, Promosi, dan komunikasi. karena faktor jarak dan waktu sangat mempengaruhi keinginan seseorang untuk melakukan perjalanan wisata, perjalanan dagang, perjalanan bisnis, perjalanan pendidikan. hal yang terpenting adalah transportasi, maksudnya adalah frekuensi penggunaan, kecepatan yang dimilikinya dapat mengakibatkan jarak seolah-olah menjadi dekat. kawasan pelayanan jasa, perdagangan, pendidikan, kesehatan, industri, budaya, dan wisata ini aksesnya sangat mudah dijangkau bagi pengunjung dan wisatawan dari luar daerah misalnya dari pulau jawa berangakat naik kapal penyebarangan turun di pelabuhan bakauheni, dilanjutkan naik travel. Kecamatan Penengahan terletak lumayan strategis di lewati Jalan Nasional.
 
C. Fasilitas (Amenities)
Fasilitas pelayanan jasa, pertanian, peternakan, perdagangan, pendidikan, kesehatan, bahkan pariwisata tidak akan terpisahkan dari akomodasi jasa penginapapan seperti kost, kontrakan rumah, home stay, losmen, dan perhotelan. bahkan pariwisata tidak akan berkembang tanpa penginapan. 
fasilitas wisata merupakan hal-hal penunjang terciptanya keamanan dan kenyamanan wisatawan dan penginap jasa transportasi untuk mengunjungi daerah tujuan wisata, stasiun kereta api, pelabuhan kapal penyeberangan, terminal bus, fasilitas di obyek wisata seperti kolam renang, pemancingan lengkap, kamar mandi, kamar ganti, toilet, mushola dan sebagainya serta kebersihan dan kerapian selalau terjaga.
diharapkan pemangku kepengtingan/stakeholder, dan pemerintah memberikan fasilitas, sarana prasarana yang memadai, yang baik, yang berkwalitas, yang profesional, yang modern, dan lengkap terhadap wilayah Kecamatan Penengahan, Kabupaten Kalianda karena banyak potensi yang belum digarap secara maksimal.

             Kurang lebih Tujuh Puluh Lima ±75 Tahun yang lalu Sekitar tahun 1950-an Mbah Karyo Naroh Datang ke lampung dengan membawa harapan merubah nasib keluarga Besar Ayahnya, beliau prihatin, hemat, tekun, rajin dengan membangun, membuka, dan mengolah lahan pertanian di lampung selatan sampai bisa beli tanah dan bangun rumah. Rumah-rumah di tahun 50-an sampai menjelang 90-an umumnya semi permanen alias dari dabag/gedheg atau bambu juga ada yang dari papan kayu dengan atap ijuk atau alang-alang sekalipun ada yang sudah genting tanah liat, itulah ciri khas Style rumah-rumah di tahun itu terutama rumah-rumah petani. sangat jarang rumah gedung bertembok semen batu-bata. Pengorbanan dan Perjuangan Mbah Karyo Naroh Tiap – tiap habis panen dan dapat uang banyak pasti mengambil Adikadiknya, orang tuanya serta Paman-pamanya yaitu Adik- Adik Mbah Trinil alias Simboknya di Kepundung, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo untuk di bawa ke lahan pertanian dan pemukiman yang beliau bangun di Lampung bagian selatan. Mbah Karyo Naroh membawa Sanak saudaranya, Adik-adiknya, juga orang tuanya karena faktor Ekonomi, Memperpaiki taraf hidup di masa depan, Untuk Kesejejahteraan Keluarga Besar Singo Karyo, Tanah-tanah di lampung masih Subur, luas, dan murah-murah. tapi ada juga ditemukan orang-orang ber-migrasi ke luar pulau Jawa karena faktor politik Nasional Negara Republik Indonesia waktu itu tahun 1950-an, terutama ditahun 1965-an saat meletusnya Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dan pada akhirnya Keluarga besar mereka tersebar di Lampung Selatan terutama Kecamatan Penengahan bahkan ada yang di luar kabupaten Lampung selatan juga di luar Provinsi Lampung, 

            Karena mereka tinggal di daerah Perantauan ataupun kawasan transmigrasi dan berbaur dengan Penduduk lokal Pribumi asli Sumatera/Lampung, maka pemukiman penduduknya sekalipun di Desa pasti cukup Heterogen atau bisa disebut majemuk seperti Kota meskipun tinggal di Desa, karena Pulau Sumatera menjadi salah satu tujuan Favorit para Transmigran dan Perantau dengan biaya murah, masih tersedia lahan pertanian yang Subur, luas, dan murah. masih banyak peluang ekonomi di sektor informal seperti pertanian, perdagangan dan perternakan. daripada mereka merantau dan adu nasib di kota besar dengan biaya mahal serta dengan hiruk-pikuknya lebih baik merantau ke Pulau Sumatera untuk membuka lahan pertanian, membuat dan membangun desa-desa baru atau desa-desa yang sudah ada di pulau sumatera untuk merubah nasib dan meningkatkan perekonomian sehingga sekalipun di desa masyarakat atau penduduknya berasal dari berbagai daerah, dari berbagai suku, dari berbagai latar belakang, dari berbagai kelompok/komunitas sosial, dari berbagai agama, dari berbagai budaya, dari berbagai adat-istiadat, dari berbagai status sosial, dari berbagai tingkat pendidikan, dari berbagai bahasa daerah yang beragam, berbagai Aliran atau Paham alias Tafsir Agama yang berbeda-beda, contohnya Islam di satu desa ada yang beraliran Manhaj Salafi, Wahabi, Muhammadiyah, LDII, NU dsbnya. Etc.. tapi mereka hidup penuh Toleransi, saling Menghargai, saling menghormati, saling kolaborasi, saling berbagi ide dan inovasi. Sesuai falsafah Jawa dari kitab Sutasoma, karya Empu Tantular Yaitu "Bhinnika Tunggal Ika"

Beda dengan di desa asal mereka di Jawa yang umumnya masyarakatnya Homogen karena dihuni oleh masyarat lokal asli pribumi jawa, satu desa sukunya sama-sama jawa, agamanya mayoritas Islam, Paham aliranya umumnya NU, bahasanya sama, satu desa bila ditelusuri masih ada ikatan kekerabatan bahkan persaudaraan, tetanga-tetangga kalau diurut-urut masih punya ikatan saudara karena simbah-simbah atau leluhur-leluhur mereka sudah tinggal di desa itu beratus-ratus tahun yang lalu.

Tujuan Kolonisasi Era Belanda dan Transmigrasi Era Republik Indonesia adalah untuk meningkatkan kesejahteraan, membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru, pemeraataan penduduk terutama dari pulau jawa apalagi pulau jawa dari zaman majapahit, belanda, bahkan zaman NKRI adalah pusat pemerintahan, pusat pembangunan, dan pusat perekonomian terbesar. Tujuan Transmigrasi di era Republik Indonesia selain disebutkan diatas yang sama seperti di era belanda adalah Memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa NKRI, pemerataan penduduk, mengelola sumber daya alam, membuka lapangan kerja baru, serta mengurangi kepadatan penduduk di pulau jawa. Dan suku jawa mudah beradaptasi, punya toleransi tinggi, punya kelembutan, punya tatakrama, punya adab, punya etika, menghargai orang lain, menghormati orang lain, solidaritas tinggi, membantu orang lain, tidak punya sentimen ke-suku-an, tidak fanatik sempit, berjiwa besar. Suku jawa tidak secara Inheren tidak suka konflik di kawasan kolonisasi/transmigrasi, namun cenderung mudah diterima suku lainya dan meredam ketegangangan melalui sikap mengalah dan damai serta suka dengan pendekatan yang soft, humanis, juga persuasif, secara umum orang jawa punya sifat alami cinta kedamaian rendah hati, tidak merasa paling unggul, serta berperan memimallisir konflik, seni budaya jawa pun bisa di terima oleh suku-suku lainya bahkan ada yang terjadi akulturasi budaya, suku-suku lain juga pandai berbahasa jawa.

            Mbah Karyo Naroh menemukan Jodoh yang sama-sama dari Suku Jawa dan menikah di Lampung  dengan istri yang bernama Mbah Sirep Binti Kromo Rejo + Ngadinah, bernama Sirep karena kemungkinan besar Mbah Sirep lahir saat waktu sirep alias Surup menjelang magrib. Dan akhirnya bersama anak-anaknya Mukim tinggal di Dusun Karanganyar, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan. serta Makam alias kuburan Mbah Singo karyo berserta istri yang bernama Mbah Trinil serta makam Mbah Karyo Naroh beserta istri yang bernama Mbah Sirep beserta makam-makam adik-adik dari Mbah Karyo Naroh yaitu Mbah Sardi, Mbah Ngadikin, dan Mbah Margono ada di tanah Rantau yaitu Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Karanganyar, Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Pulau Sumatera. Jasad mereka di Takdirkan di kubur di Pulau sebrang, Tanah perantauan mereka. yang jauh dari tanah leluhur tempat kelahiran dan asal usul mereka yaitu Dusun Kepudung, Desa Giri Purwo, Kecamatan Giri Mulyo, Kabupaten Kulon Progo, DIY. Dengan bukti Artefak Makam dan anak cucu serta saudara-saudaranya juga kerabatnya di dusun karanganyar menandakan Eksistensi (Keberadaan nyata yang diakui) mereka masih utuh sampai sekarang di dusun karanganyar, kecamatan penengahan, kabupaten Lampung Selatan.

Mbah Mul dengan istri pertama, punya anak/peputro :

1.       Suroto

2.       Urip

3.       Pandi

Mbah Mul dengan istri kedua, punya anak/peputro :

1.       Giman

2.       Ginem

3.       Sukiyo

Mbah Joyo, punya anak/peputro :

1.       Sri.

2.       Marzuki.

3.       Kasiyah

4.       Sulastri.

 

1.       Sri Binti Mbah Joyo, punya anak/peputro :

1.1. Sabar

 

2.       Marzuki Bin Mbah Joyo, punya anak/peputro :

2.1. ?

 

3.       Kasiyah Binti Mbah Joyo, punya anak/peputro :

3.1. Susanti, punya anak/peputro :

3.1.1.        Rahayu

3.1.2.        Rahmat

3.1.3.        Rina

3.1.4.        Aminudin

3.1.5.        Ning

3.1.6.        Leni

3.1.7.        Silvi

 

3.2. Suwanti, punya anak/peputro :

3.2.1.        Ari wibowo

3.2.2.        Umi Kholifah

3.2.3.        Titin

3.2.4.        Roni

 

3.3. Waryati, punya anak/peputro :

3.3.1.        Bangkit

3.3.2.        Siti

 

3.4. Subianti, punya anak/peputro :

3.4.1.        Arian dana

3.4.2.        Dino

 

3.5. Susanto. punya anak/peputro :

3.5.1.        ?

 

3.6. Sukati, punya anak/peputro :

3.6.1.        Mila

3.6.2.        ?

3.6.3.        Rindu

 

3.7. Mardiyah dengan suami pertama, punya anak/peputro :

3.7.1.        Amel

3.7.2.        Hani

 

Mardiyah dengan suami kedua, punya anak/peputro :

3.7.3.        ?

3.7.4.        ?

 

3.8. Basiri, punya anak/peputro :

3. 8.1. ?

 

4.       Sulastri Binti Mbah Joyo. punya anak/peputro :

4.1. Sugini

4.2. Elpi

 

            Mbah Karyo Naroh mempunya Peran Utama, Substansial, dan Sentral yang dengan susah-payah membawa Kedua Orang Tuanya, Kedua Pak lik/pamannya, dan Adik- adiknya ke tanah rantau Pulau Sumatera tepatnya di Lampung selatan dari Tanah leluhur Dusun Kepundung, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mbah Karyo naroh punya empat (4) anak, serta semua anak-anaknya adalah kelahiran Lampung serta anak pertama bernama Ngatiyem dan menikah dengan lelaki dari suku jawa kelahiran jawa yang datang ke Lampung di umur 10 tahun kebawah bernama Sarju Bin Notodiharjo, menurut certita tutur langsung dari Bapak Sarju yang sekaligus pelaku sejarah hidupnya, mengatakan kalau Bapaknya kerja di Perusahan Gula Madukismo serta juga seorang senimana Ketoprak yang suka memerankan tokoh wanita. dan rumahnya dulu tidak jauh dari perusahaan gula itu, di DIY satu-satunya perusahaan gula yang eksis setelah kemerdekaan Republik Indonesia adalah PT Madu Baru dengan nama Pabrik Gula dan Spritus Madu kismo sebuah perusaahaan yang awalnya milik Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan Tahun 1955 dan berdiri di Desa/Kelurahan Tirtinirmolo, Kapenewon/kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). serta bapak sarju pernah menengok saudara ke jawa lagi lebih tepatnya ke jogja bersama simboknya saat anak bungsunya berusia dibawah satu tahun, karena keterbatasan juga faktor usia serta jarang ke Jawa bapak sudah tidak tau juga tidak terlalu hafal jalannya, Bapak sarju hanya membawa foto paman-pamanya satu diantaranya ada yang jadi Abdi dalem kraton juga ada yang jadi Tentara. karena perusahahn gula madukismo/madu baru adalah milik Kraton Jogja maka jelas otomatis pekerjanya juga adalah mungkin para abdi dalem atau saudara dan anak-anak dari para abdi dalem. Bapak Sardju waktu itu berusia dibawah 10 tahun di bawa simboknya yang bernama Simbok Mujiyem ke Lampung. waktu itu Mbok Mujiyem juga lagi hamil, hamil mengandung bayi adik kandung Bapak Sardju yang akhirnya lahir dilampung bernama Sarwasih.

C. Notodiharjo (Wafat di Jogja) dan Mujiyem (wafat di dusun karanganyar, Lampung) Menikah di DIY,      Punya anak/Peputro :

                        C.1. Sardju
                        C.2. Sarwasih
 
        C.1. Sardju Menikah dengan Ngatiyem binti Karyo Naroh, Susunan silsilah keluarga sudah                            dikembangakan 
 
        C.2.a. Sarwasih Binti Notodihardjo Menikah dengan Suami Pertama bernama Giat, punya                               anak/peputro : 
                            C.2.a.1. Andi Yuswanto
 
        C.2.b. Sarwasih Binti Notodihardjo menikah dengan Suami Ke-Dua bernama Nyoto, punya                               anak/peputro :
                            C.2.b.1. Ninik Meriyana
                            C.2.b.2. Apri Antoni  

Foto. PT Madu Baru dengan nama Pabrik Gula dan Spritus Madu kismo sebuah perusaahaan yang awalnya milik Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan Tahun 1955 dan berdiri di Desa/Kelurahan Tirtinirmolo, Kapenewon/kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

            Melihat nama-nama dari para simbah-simbah seperti Mbah Singo Karyo dan Mbah Notodiharjo kemungkinan hipotesis saya yang subyektif bahwa mbah singo karyo kemungkinan kerandah atau kerabat keluarga jagoan atau keturunan jagoan ataupun bisa jadi mbah singo karyo adalah jagoan desa. serta Mbah Notodihardjo adalah kerandah atau kerabat atau keturunana Ningrat dari namanya yaitu "Notodihardjo" yang artinya menata kesejahteraan, biasanya nama-nama seperti ini adalah nama-nama orang yang dituakan atau keturunan ningrat, ini hanya asumsi dan hipotesis saya yang perlu ditelusuri lebih lanjut serta perlu di observasi secara mendalam. bila ketemu keluarga atau kerabat Mbah Notodihardjo di bantul dan keluarga atau kerabat Mbah Singo karyo di kepudung Kulonprogo maka bisa dibuktikan fakta obyektik yang kredibel bisa dipertanggungjawabkan.

 
Foto. Bapak Sardju Bin Notodiharjo

            Kalurahan Giripurwo adalah salah satu Kalurahan di wilayah Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo DIY. Berdasaran maklumat Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 16 Tahun 1946 Kalurahan Giripurwo terdiri dari gabungan tiga bekas Kalurahan lama yaitu Kalurahan Niten, Kalurahan Kepundung, dan  Kalurahan Wadas. Nama Giripurwo merupakan akronim dari ketiga nama Kalurahan tersebut. "Giri" dari nama Grigak, nama padukuhan di bekas Kalurahan Niten, kemudian "Pur" dari nama Kepundung, dan "Wo" atau "Wa" dari nama Wadas. Gri-Pu-Wa akhirnya menjadi nama Giripurwo. Penggabungan tersebut terjadi pada tanggal 21 Januari 1947, dan Lurah Honggo Pangreksa, dari Kalurahan Niten menjadi Lurah pertama Giripurwo.

Penggabungan dimaksudkan untuk dapat memenuhi kebutuhan sendiri, sebagaimana penegasan pasal 7 Ayat 2 maklumat DIY No 16 tahun 1946 yang berbunyi : “Jika ternyata ada kalurahan yang tidak memenuhi kebutuhannya sendiri maka harus digabungkan dengan kalurahan lain”. Gabungan 3 (tiga) kalurahan tersebut menjadi kalurahan Giripurwo yang meliputi 15 pedukuhan. Lurah yang menjabat saat penggabungan adalah :

Kelurahan Niten dengan lurah Honggo Pangrekso
Meliputi : Pedukuhan Karanganyar, Nglengkong, Grigak, Sabrang, & Kebonromo
Kelurahan Wadas dengan lurah R. Sugeng Dipo Kawoco
Meliputi : Pedukuhan Wadas, Banjaran, Ngesong, Penggung, & Pringapus
Kelurahan Kepundung dengan lurah Noto Pawiro
Meliputi : Pedukuhan Sidi, Tompak, Kepundung, Bulu, & Sekaro

Setelah bergabung menjadi Kalurahan Giripurwo, Lurah Honggo Pangrekso dari Kalurahan Niten menjabat sebagai lurah pertama dengan dibantu Pamong Desa :

Carik : R. Sugeng Dipo Kawoco ( Kalurahan Wadas )
Djagabaya ( Bag. Keamanan ) : Pawiro Sumardjo ( Kalurahan Niten )
Kamituwa ( Bag. Sosial ) : Noto Pawiro ( Kalurahan Kepundung )
Ulu- ulu ( Bag. Kemakmuran ) : Wongso Pangarso ( Kalurahan Wadas )
Igama ( Bag. Agama ) : Sastro Suwarno ( Kalurahan Niten )
Keenam orang itulah cikal bakal Pamong Kalurahan Giripurwo.
Kemudian Lurah/ Kepala Desa yang menjabat hingga sekarang adalah sebagai berikut :  
1.       R. Honggo Pangrekso : tahun 1947– 1976
2.       R. Suprapto : tahun 1976 – 1995
3.       Russumaji Sigit Pramana (Pj. Kepala Desa ) : tahun 1995 – 1996
4.       R. Trisna Rahardja : tahun 1996 – 2004
5.       Supiyanta (Pj Lurah) : tahun 2004 – 2005
6.       R. Trisna Raharja : tahun 2005 – 2008
7.       Mardi Santosa : tahun 2008 – 2014
8.       Supiyanta ( Pj. Kepala Desa ) : tahun 2014 – 2015
9.       Mardi Santosa : tahun 2015 – 2021
10   Mardi Santosa : tahun 2021 - sekarang

Foto : Kantor Kapanewon/Kecamatan Giri Mulyo, Kabupaten Kulon progo, DIY

 A            Ada Dua (2) bagan Sorosilah yang saya coba kupas dan paparkan disini, Yaitu Sorosilah Ayah dari Mbah Karyo Naroh yang bernama Mbah "Singo Karyo" dan Sorosilah dari mertua Mbah karyo Naroh alias Ayah dari istri Mbah Karyo Naroh yang bernama Mbah Sirep dan bernama Mbah "Kromo Rejo", bila ada kurang lebihnya mohon di maafkan dan di beri petunjuk serta krtik yang Konstruktif. berikut Sorosilahnya :

KELUARGA BESAR TRAH SINGO KARYO

A.1. Singo Karyo menikah dengan Mbah Trinil, Punya Anak/Peputro :

    A.2.1. Jeminem
    A.2.2. Karyo Naroh
    A.2.3. Sardi
    A.2.4. Ngadikin Alias Mbah Tir
    A.2.5. Margono
    A.2.6. Mareno

A.2.1. Jeminem, punya anak/peputro : (tinggal di Bengkalis Kepulauan Riau, dan belum terlacak juga ketemu)

                A.2.1.1. ?

A.2.2. Karyo Naroh Bin Singo Karyo menikah dengan Sirep Binti Kromo Rejo + Ngadinah,  punya anak/Peputro :

                A.2.2.1. Ngatiyem
                A.2.2.2. Legiyo
                A.2.2.3. Yatiyem
                A.2.2.4. Sugito

                A.2.2.1. Ngatiyem Binti Karyo Naroh Menikah dengan Sardju Bin Notodiharjo + Mujiyem                                 dari Bantul dekat pabrik gula madukismo Desa/Kelurahan Tirtonirmolo,                                                 Kapenewon/kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa                                         Yogyakarta (DIY), Punya anak/Peputro :

                                A.2.2.1.1. Nur lestari
                                A.2.2.1.2. Istanti
                                A.2.2.1.3. Toni (Mati Bayi)
                    A.2.2.1.4.  Irwan Efendi
                                A.2.2.1.5. Ayu Puspita Sari

                A.2.2.2. Legiyo + Triyanti, Punya anak/Peputro :

                                A.2.2.2.1. Okta Buana
                                A.2.2.2.2. Nanang Permadi

                A.2.2.3. Yatiyem + Mulyadi, Punya anak/Peputro :

                                A.2.2.3.1. Heni Budianti
                                A.2.2.3.2. Evi Dayanti
                                A.2.2.3.3. Nazva Al-faza Indah Safitri

                A.2.2.4. Sugito + Tukirah, Punya anak/Peputro :

                                A.2.2.4.1. Desmi Ramadhani

A.2.3. Sardi punya anak/Peputro :

                A.2.3.1. Sutiyem
                A.2.3.1. Sutiyem, Punya anak/peputro :
                                A.2.3.1.1. Nur
                                A.2.3.1.2. Intan
                                A.2.3.1.3. Pei

A.2.4. Ngadikin (Mbah Tir), Punya anak/Peputro :

                A.2.4.1. Sukarjo
    A.2.4.2. Sunardi(mati bujang)
    A.2.4.3. Sumarno
    A.2.4.4. Sudiman
    A.2.4.5. Sukidi

A.2.4.1. Sukarjo, Punya anak/Peputro :

                A.2.4.1.1. Prihatin
                A.2.4.1.2. Hermansyah
                A.2.4.1.3. Memi Susanti
                A.2.4.1.4. Susi Lestari
                A.2.4.1.5. Dico

A.2.4.2. Sunardi(mati bujang)

A.2.4.3. Sumarno, Punya anak/Peputro :

            A.2.4.3. 1. Intan
            A.2.4.3. 2. Dica

A.2.4.4. Sudiman, Punya anak/peputro :

            A.2.4.4.1. Rio
            A.2.4.4.2. Ria

A.2.4.5. Sukidi, Punya anak/Peputro :

                A.2.4.5.1. Dedi
                A.2.4.5.2. Ela

A.2.5. Margono, punya anak/Peputro :

                                A.2.5.1. Sujalmo
                                A.2.5.2. Muryati
                                A.2.5.3. Poniyah
                                A.2.5.4. Supratman
                                A.2.5.5. Suratinem
                                A.2.5.6. Misyanto
                                A.2.5.7. Herlina
                                A.2.5.8. Eva Nurhidayat

           A.2.5.1. Sujalmo, Punya anak/Peputro :

A.2.5.1.1. Oki
A.2.5.1.2. Roji (meninggal dunia)

A.2.5.2. Muryati, Punya anak/Peputro :

A.2.5.2.1. Narsih
A.2.5.2.2. Ngaisah
A.2.5.2.3. Paryati
A.2.5.2.4. Yanto

A.2.5.3. Poniyah, Punya anak/Peputro :

A.2.5.3.1. Akbar

A.2.5.4. Supratman, Punya anak/Peputro :

A.2.5.4.1. Robi
A.2.5.4.2. Agustin Setyowati

A.2.5.5. Suratinem + Pardio, Punya anak/Peputro :

A.2.5.5.1. Sulis (Sudah wafat)
A.2.5.5.2. Agus 
A.2.5.5.3. Aji Pangestu (Sudah Wafat)   

A.2.5.6. Misyanto, Punya anak/Peputro :

        A.2.5.6.1. Eko efendi
        A.2.5.6.2. Dwi

A.2.5.7. Herlina Binti Margono + Rohman, Punya anak/Peputro :

A.2.5.7.1. Eli Wiati
A.2.5.7.2. Kurniawan

                            A.2.5.7.1. Eli Wiati + Sarjiyanto (Klaten), Punya anak/Peputro :

                                                       A.2.5.7.1.1 Razka Tirta      

A.2.5.8. Eva Nurhidayat, Punya anak/Peputro :

A.2.5.8.1. Eri

A.2.6. Mareno, Punya anak/Peputro :

                A.2.6.1. Sumardi.
    A.2.6.2. Rubiyah.
    A.2.6.3. Suratman.
    A.2.6.4. Suranto
    A.2.6.5. Siti Trisnawati
    A.2.6.6. Suparjo 

            A.2.6.1. Sumardi, Punya anak :

                A.2.6.1.1. Depi alfiansyah
                A.2.6.1.2. Putra

A.2.6.2. Rubiyah, Punya anak :

                A.2.6.1.1. Tia
                A.2.6.1.2. Salwa

A.2.6.3. Suratman, Punya anak :

                A.2.6.3.1. Hilal
                A.2.6.3.2. Adit

A.2.6.4. Suranto, Punya anak :

                A.2.6.4.1. Kenji
                A.2.6.4.2. Vio
                A.2.6.4.3. Ian

A.2.6.5. Siti Trisnawati + Harto/Sowi Punya anak :

                    A.2.6.5.1. Amel
                    A.2.6.5.2. Fadli
                    A.2.6.5.3. Ramdhan

A.2.6.6. Suparjo + Rohayati ( Dusun Sidodadi, Klaten),  Punya anak :

                A.2.6.6.1. Yoga
                A.2.6.6.2. Sirene

A.2.2.1.1. Nur lestari + Kak Ocep (Bogor), Punya anak/Peputro :

                                 A.2.2.1.1.1. Muhammad Diki Reza
                                 A.2.2.1.1.2. Muhammad Lutfi Alfiansyah
                                 A.2.2.1.1.3. Icha Hanifah Lestari 

           A.2.2.1.2. Istanti + Mulyono (Gisting), Punya anak/Peputro :

                                                A.2.2.1.2.1. Rafa Pria Ramadhan

           A.2.2.1.3. Toni (Mati Bayi)

           A.2.2.1.4.  Irwan Efendi (Belum Menikah)

           A.2.2.1.5. Ayu Puspita Sari + N.K. Adi, Punya anak/Peputro :

                                            A.2.2.1.5.1. Muhammad Megantara Adijaya

            A.2.2.2.1. Okta Buana + Herlina Oktaviani (Toto Harjo), Punya anak/Peputro :

                                             A.2.2.2.1.1. Lusi
                                             A.2.2.2.1.2. Anggie  

            A.2.2.2.2. Nanang Permadi (Belum Menikah)

            A.2.2.3.1. Heni Budianti + Aan, Punya anak/Peputro :

                                            A.2.2.3.1.1. Naila 
                                           A.2.2.3.1.2. Zahira
                                           A.2.2.3.1.3. ....  

            A.2.2.3.2. Evi Dayanti + Arjani, Punya anak/Peputro :

                                        A.2.2.3.2.1. Haqqiu Zain Zulkarnaen
                                        A.2.2.3.2.2. Athar
                                        A.2.2.3.2.3. Khodijah Verlita

            A.2.2.3.3. Nazva Al-faza Indah Safitri, (Belum Menikah) :

            A.2.2.4.1. Desmi Ramadhani (Belum Menikah)

             A.2.3.1.1. Nur + Warno (langkap), Punya anak/Peputro :

                                        A.2.3.1.1.1. ?
                                        A.2.3.1.1.2.

            A.2.3.1.2. Intan + Reno (Langkap), Punya anak/Peputro :

                                        A.2.3.1.2.1. ?
                                        A.2.3.1.2.2. ?

          A.2.4.1.1. Prihatin, Punya anak/Peputro :

                                        A.2.4.1.1.1. Sasa
                                        A.2.4.1.1.2. Sasi
                                        A.2.4.1.1.3. Salwa
                                        A.2.4.1.1.4. Sanum 

         A.2.4.1.2. Hermansyah + Reni (Pasuruan), Punya anak/Peputro :

                                          A.2.4.1.2.1. ?
                                          A.2.4.1.2.2. ?

         A.2.4.1.3. Memi Susanti (Belum Menikah)

         A.2.4.1.4. Susi Lestari + Zainur Rohim Bin Almarh Sumardi (Dusun Karang Anyar, Klaten),                                  Punya anak/Peputro :

                                        A.2.4.1.4.1. Hanna Safira Ramadhani

         A.2.4.1.5. Dico (Belum Menikah)

         A.2.4.3.1. Intan, Punya anak/Peputro :

                                     A.2.4.3.1.1. ?

         A.2.4.3. 2. Dica (Belum Menikah)

         A.2.4.4.1. Rio, Punya anak/Peputro :

                                A.2.4.4.1.1. ?

          A.2.4.4.2. Ria, Punya anak/Peputro :

                                 A.2.4.4.2.1. ?

            A.2.5.2.1. Narsih, Punya anak/Peputro :

             A.2.5.2.2. Ngaisah, Punya anak/Peputro :

             A.2.5.2.3. Paryati, Punya anak/Peputro :

             A.2.5.2.4. Yanto, Punya anak/Peputro :

 

 SOROSILAH KELUARGA BESAR KROMO REJO

B. Kromo Rejo menikah dengan Ngadinah, punya anak/Peputro :

                                B.1. Sirep
                                B.2. Suyud
                                B.3. Jenjem

B.1. Sirep Binti Kromo Rejo Menikah dengan Karyo Naroh Bin Singo Karyo, Punya                                         anak/Peputro :

                                      B.1.1. Ngatiyem
                                      B.1.2. Legiyo
                                      B.1.3. Yatiyem
                                      B.1.4. Sugito

 B.1.1. Ngatiyem Menikah dengan Sardju Bin Notodiharjo + Mujiyem dari bantul dekat pabrik                             gula madukismo Desa/Kelurahan Tirtonirmolo, Kapenewon/kecamatan Kasihan,                                     Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) . Punya anak :

                                      B.1.1.1. Nur Lestari
                                      B.1.1.2. Istanti
                                      B.1.1.3. Toni (Mati Bayi)
                                      B.1.1.4.  Irwan Efendi
                                      B.1.1.5. Ayu Puspita Sari

             B.1.2. Legiyo + Triyanti, Punya anak/Peputro :

                                       B.1.2.1. Okta Buana
                                       B.1.2.2. Nanang Permadi

            B.1.3. Yatiyem + Mulyadi, Punya anak/Peputro :

                                        B.1.3.1. Heni Budianti
                                        B.1.3.2. Evi dayanti
                                        A.1.3.3. Nazva Al-faza Indah Safitri

             B.1.4. Sugito + Tukirah, Punya anak/Peputro :

                          B.1.4.1. Desmi Ramadhani

   B.2. Suyud Bin Kromo Rejo, punya anak :

                          B.2.1. Murjilah
                      B.2.2. Sudarminah
                           B.2.3. Romsih
                           B.2.4. Haryono
                           B.2.5. Suyani
                           B.2.6. Ermawati

    B.3. Jenjem Binti Kromo Rejo dengan suami pertama, punya anak/peputro :

                                     B.3.1. Supangat
             B.3.2. Sukadi
             B.3.3. Sutinah

       B.3.1. Supangat, punya anak/peputro :

                                           B.3.1.1. Sunari
                                           B.3.1.2.  Nuryadi
                                           B.3.1.3.  Budianto
                                           B.3.1.4.  Puji Astuti
                                           B.3.1.5.  Eti Maryani

          B.3.2. Sukadi, punya anak/peputro :

                     B.3.2.1. Jurkoni
         B.3.2.2. Aswin
         B.3.2.3. Dayah
         B.3.2.4. Khoirun

      B.3.3. Sutinah. (meninggal belum punya anak) :

 B.3. Jenjem Binti Kromo Rejo dengan suami kedua bernama Mbah kadar,  
         punya anak/peputro  :
           B.3.1. Sukirdi
           B.3.1. Sukirdi (Desa Langkap). punya anak/peputro :
        B.3.1.1. Hendi
        B.3.1.2. Feri

B.1.1.1. Nur lestari + Kak Ocep (Bogor), Punya anak/Peputro :

                                 B.1.1.1.1. Muhammad Diki Reza
                                 B.1.1.1.2. Muhammad Lutfi Alfiansyah
                                 B.1.1.1.3. Icha Hanifah Lestari 

           B.1.1.2. Istanti + Mulyono (Gisting), Punya anak/Peputro :

                                                B.1.1.2.1. Rafa Pria Ramadhan

           B.1.1.3. Toni (Mati Bayi)

           B.1.1.4.  Irwan Efendi (Belum Menikah)

           B.1.1.5. Ayu Puspita Sari + N.K. Adi, Punya anak/Peputro :

                                            B.1.1.5.1. Muhammad Megantara Adijaya

            B.1.2.1. Okta Buana + Herlina Oktaviani, Punya anak/Peputro :

                                             B.1.2.1.1. Lusi
                                             B.1.2.1.2. Anggie  

            B.1.2.2. Nanang Permadi (Belum Menikah)

            B.1.3.1. Heni Budianti + Aan, Punya anak/Peputro :

                                           B.1.3.1.1. Naila 
                                           B.1.3.1.2. Zahira
                                           B.1.3.1.3. ....  

            B.1.3.2. Evi Dayanti + Arjani, Punya anak/Peputro :

                                        B.1.3.2.1. Haqqiu Zain Zulkarnaen
                                        B.1.3.2.2. Athar
                                        B.1.3.2.3. Khodijah Verlita

            B.1.3.3. Nazva Al-faza Indah Safitri, (Belum Menikah) :

            B.1.4.1. Desmi Ramadhani (Belum Menikah)

 Demikian tulisan sederhana dan susunan Sorosilah atau silsilah yang sedikit berbasic pada antropologi, sains history, historiografi, sosiologi, Fillog, dan Empiris yang bersumber dari data-data dan sumber-sumber primer serta sekunder juga turun tangan langsung di lapangan yang berhasil saya kumpulkan informasinya secara konkret juga bisa di obsevasi, ditulis, dan diukur baik melalui metode kuantitatif maupun kualitatif serta dapat diverifikasi kebenarannya secara obyektif juga kredibel sehinga informasinya benar-benar obyekti, sahih, terverifikasi, serta terkonfirmas juga terkoneksi antara satu sama lainnya juga dengan data lainnya. tulisan sederhana yang ilmiah ini semoga bermanfaat untuk memper-erat persaudaraan atau silaturahmi, Memperkaya Perspektif, Memperkaya wawasan, Memperkuat Literasi/budaya membaca, menyatukan balung pisah, agar kita bisa memaknai hidup, memahami sejarah simbah-simbahnya dalam surviving(bertahan hidup), memahami akar rumputnya, memahami asal-usulnya, mempunyai rasa tawaduk kepada generasi tua, mempunyai hati nurani, mempunyai kemanusiaan, mempunyai adab, mempunyai sopan-santun, mempunyai tata krama, mempunyai andhap-asor, mempunyai rasa terimakasih kepada generasi tua, akhirnya hasilnya bisa memberikan doa kepada generasi tua, punya semangat hidup, punya gairah hidup, dan tidak kepaten obor, juga informasi tentang nilai-nilai, prinsip-prinsip termasuk budaya dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. semoga sorosilah ini bisa dikembangkan oleh keturunan-keturunan berikutnya. Tulisan sederhana ini sebaga pengingat bahwa kita ada dan eksis karena orang-orang dahulu, karena Para Simbah-simbah terutama Mbah Karyo Naroh yang dengan susah payah berjuang dari tanah leluhur di Jawa ke tanah Rantau di Lampung. Juga bersusah payah membangun perekonomian juga membangun Desa.
 
Sebagai generasi yang hidup di Era Modern serba digital dan Era Disrupsi, juga Era generasi Strobery maka sangat Penting menyampaikan Pengetahuan dan pelajaran Sejarah, Nilai-nilai Budaya, Legacy Ajaran-ajaran norma-norma/wewaler dari leluhur, falsafah Ahlak Budipekerti dari Leluhur, Bahasa Daerah, terutama Silsilah Persaudaraan dan Kekerabatan kepada Anak-anak Sejak Dini. karena itu adalah sebuah Bentuk Tanggung Jawab Sosial dan Kesadaran Kita. Kalau tidak maka akan hilang tergerus arus zaman. Perkembangan teknologi dan komunikasi, serta digitalisasi, termasuk AI (Articial Intelligence) dari awal sudah di prediksi akan membuat perubahan besar sekali yang drastis dan dramatis, perubahan tersebut mampu membuat lupa dan memutuskan zaman sekarang dan periode sebelumnya serta menggantikan sistem lama dan tatanan lama dengan sistem dan tatanan baru, Belum Life Style atau gaya hidupnya. Akhirnya Memori Kolegtif dan Kesadaran Kolegtif Manusia bisa lupa bahkan hilang termasuk Budaya ke-timuran yang berlandaskan hati nurani dan kemanusian seperti gotong royong, sambatan, rewang, menggali kubur, adab sopan santun, adab tutur kata, tepo seliro dsbnya.

 Sekitar kurang-lebih ±75 tahun yang lalu Mbah Karyo Naroh berjuang membuat sejarah baru untuk keluarga besar ayahnya yaitu Mbah Singo Karyo, yang akhirnya Mbah Karyo Naroh Sukses berhasil memboyong dan membawa orang tuanya yaitu Bapaknya yang bernama Mbah Singo Karyo beserta Simboknya yang bernama Mbah Trinil juga adik-adiknya serta paman-pamannya yaitu adik-adik Mbah Trinil dari tanah leluhur di Jawa ke tanah rantau di Lampung. 

Alloh SWT telah menakdirkan Tanah rantau di Lampung menjadi tanah untuk keluarga besar Singo karyo untuk Surviving/bertahan hidup, untuk kesejahteraan, dan melanjutkan peradaban, hidup di tanah bumi lampung dan mati di kubur di tanah lampung. 
Mbah Karyo Naroh beserta istri dan anak-anaknya bermukim di Dusun Karanganyar Desa Klaten. Melihat sejarah Kecamatan Penengahan, geografis, sosiologi, antropologi, dan wilayah Desa Klaten, di masa depan Dusun karang anyar kemungkinan bisa berpotensi menjadi sebuah Desa hasil pemekaran dari Desa klaten dengan syarat mempertimbangkan prakarsa masyarakat desa, asal-usul, adat-istiadat, kondisi sosial budaya, kemampua/potensi Desa, Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, jumlah penduduk pembentukan desa di pulau Sumatera paling sedikit 4.000 jiwa atau 800 Kepala keluarga, batas usia desa induk paling sedikit 5 (lima) tahun terhitung sejak pembententukan, wilayah kerja memiliki akses transportasi antar wilayah, sosial budaya yang dapat menciptakan kerukunan hidup bermasyarakat sesuai dengan adab dan adat-istiadat desa, memiliki potensi meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya ekonomi pendukung, sarana-prasarana bagi pemerintah desa dan pelayanan publik, . 

Kurang lebih Tahun 1950-an Mbah Karyo Naroh menginjakkan Kaki di Bumi Lampung selatan, perjuangan, pengorbanan, peluh, air mata, prihatin, dan doa nya membuahkan hasil semua keluarga Besar Singo Karyo berhasil di boyong sebagai bukti, bakti, cinta, sayang, hubungan harmonis, dan rukunnya Mbah karyo naroh kepada orang tuanya, adik-adiknya serta paman-pamannya. Kalau tidak di dasari dan dilandasi bakti, cinta, sayang, harmonisasi, kerukunan, ke-akur-an, serta punya jiwa yang besar, dewasa, juga tanggung jawab mana mau dan mana mungkin Mbah Karyo Naroh berkorban, Prihatin, dan mengambil orang tua serta adik-adiknya ke Lampung. Tanpa Kiprah, Susah-payah, dan Jasa Almarhum Eyang Karyo Naroh mana mungkin Keluarga Besar Singo Karyo beserta keturunan-keturunannya dapat ke-Lampung dan hidu di Lampung, Anak cucu Mbah Singo Karyo serta keturunananya masih ada sampai sekarang di Lampung Selatan. kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran pada mereka bahwa perjuangan dan pengorbanan serta cara surviving yang tidak kenal putus asa, juga rasa tanggung jawab dan harmonisasi serta rasa persaudaraan mereka patut dicontoh dan ditiru. akhirnya anak cucu mereka ataupun generasi keturunannya bisa hidup mandiri serta membangun rumah sendiri-sendiri di lampung selatan.

Dimana setelah di analisa dari beberapa sempel dan contoh generasi dari Pancer Simbah Singo Karyo sudah di generasi ke-5 alias Simbah Canggah.

Berikut ini contoh Sempel silsilah kekerabatan sampai dengan generasi ke-11 :

  1. Anak. (Razka)
  2. Bapak/Ibu. (Eli)
  3. Simbah. (Herlina)
  4. Buyut. (Margono)
  5. Canggah. (Singo Karyo)
  6. Wareng.
  7. Udheg-Udheg.
  8. Gantung Siwur.
  9. Gropak Sente.
  10. Debog Bosok.
  11. Galih Asem.
     Akhir kata bila ada kesalahan baik tulisan, ucapan, perbuatan, juga kata-kata yang tidak berkenan, saya memohon maaf sebesar-besarnya, serta mohon petunjuk, arahannya, juga saran dan kritiknya yang konstruktif dan membangun. Saya harap tulisan dan penelitian sederhana ini bisa dibaca dengan tertib, khusyuk, dan fokus jangan dilewatkan ataupun di scrool saja, Orang tua menjadi contoh agar anak cucu kita tidak menjadi Generasi Stroberi. Sholawat dan Salam kita haturkan ke junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang selalu kita harap syafaatnya, tidak lupa Kita kirim Hadiah Surat Al Fatihah Kepada Para Leluhur dan Simbah-simbah karena tanpa mereka kita tidak pernah ada, Al Fatihah untuk Simbah Eyang Singo karyo, Eyang Putri Trinil, Eyang Karyo Naroh, Eyang Sirep, dsbnya... Semoga Para leluhur, simbah-simbah semasa hidupnya amal ibadahnya diterima Alloh SWT, dosa-dosa, kesalahan, kekhilafan semasa hidupnya diampuni oleh Alloh SWT, Serta Husnul Khotimah, serta kita yang masih hidup dikuatkan Iman, Iksan, Islamnya, Semoga kita semua selalu dalam lindungan Alloh SWT, Semoga kita semua Selalu direkatkan dan dirukunkan persaudaraannya, Selalu diberikan nikmat kesehatan, umur yang panjang, diberikan keberuntungan, diberikan rezeki berupa kekuatan, keselamatam, kesehatan dan berupa materi pundi-pundi rupiah untuk ibadah... Aamiin... Aamiin.. Yaa Robbal Al-Amin. 
Saya tutup dengan Istifar 3x Astafirullahaladzim, Astafirullahaladzim, Astafirullahaladzim... 

Wallahualam Bissawab. Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh...

Tanggal                                  : 01 Agustus 2025
Ditulis dan disusun oleh        : N.K. Adi
Nomor HP/Whattssap            : 0888-0391-6811
Email                                      : ndandungkumala@gmail.com

Sumber Referensi :

  1. Nara Sumber Ahli Waris
  2. Mbah Mareno Gandri Bin Singo Karyo
  3. Mamak Ngatiyem karanganyar Binti Karyo Naroh Bin Singo Karyo
  4. Wawancara, Intrograsi, dan investigasi juga klarifikasi dengan Masyarakat
  5. BPS Lampung Selatan

Kutoarjo

Pawai pelajar Kutoarjo 19 Oktober 1949, sebagai Demo Pelajar Perdana setelah Agresi Militer Belanda II menjadi salah satu elemen penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia.

  PELAJAR KUTOARJO MELAKUKAN DEMO PERDANA BAGI INDONESIA   Foto. Demo pelajar pertama pasca Agresi Militer 2 guna memberi semangat juang Ten...

Kutoarjo