Powered By Blogger

Rabu, 22 Juli 2026

Makam R.M. Ketomenggolo (R.M. Sulaiman/Mbah Tursuli) di Desa Tursino: Jejak Genealogi Keturunan Mataram Islam di Purworejo

Foto: Makam R.M. Ketomenggolo (R.M. Sulaiman/Mbah Tursuli) di Makam Ketileng Desa Tursino. 
Pohon Ketileng (Vitex glabrata R.Br.) ada di dekat makam.

Makam R.M. Ketomenggolo (R.M. Sulaiman/Mbah Tursuli) di Desa Tursino: Jejak Genealogi Keturunan Mataram Islam di Purworejo

Abstrak :
Artikel ini mengkaji keberadaan Makam R.M. Ketomenggolo (R.M. Sulaiman/Mbah Tursuli) di Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, sebagai salah satu cikal bakal dan sesepuh desa sekaligus situs sejarah yang berkaitan dengan genealogi keturunan Kerajaan Mataram Islam. Kajian dilakukan melalui penelusuran Surat Kekancingan Tepas Darah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Buku Pustaka Raja, naskah silsilah, serta berbagai sumber historiografi Mataram. Hasil kajian menunjukkan bahwa R.M. Ketomenggolo merupakan putra Bendara Pangeran Harya Singasari, putra Susuhunan Amangkurat IV, sehingga menjadi bagian dari trah Dinasti Mataram Islam. Keberadaan makam beserta keturunannya di Desa Tursino menjadi bukti kesinambungan sejarah, genealogi, dan identitas budaya masyarakat setempat. Situs makam ini memiliki nilai penting sebagai warisan sejarah lokal yang perlu dilestarikan serta dikaji lebih lanjut dalam konteks sejarah Mataram dan perkembangan masyarakat Purworejo. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi akademisi, sejarawan, arkeolog, antropolog, mahasiswa, serta masyarakat luas dalam memahami sejarah lokal, silsilah, dan warisan budaya Mataram Islam di Kabupaten Purworejo.

Makam R.M. Ketomenggolo (R.M. Sulaiman/Mbah Tursuli) di Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, merupakan salah satu situs penting dalam sejarah lokal yang berkaitan dengan silsilah keturunan Kerajaan Mataram Islam. Berdasarkan Surat Kekancingan dan naskah silsilah yang diterbitkan oleh Tepas Darah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, R.M. Ketomenggolo atau R.M. Sulaiman dikenal sebagai putra Bendara Pangeran Harya (BPH) Singasari.


Foto. Surat Kekancingan dan naskah silsilah yang diterbitkan oleh Tepas Darah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Jalur Amangkurat IV Jawa - B.P.H Singosari - R.M. Ketomenggolo 

Menurut sumber-sumber sejarah Mataram, BPH Singasari merupakan salah seorang putra Susuhunan Amangkurat IV (bertakhta 1719–1726) dari Keraton Kartasura. Nama kecilnya adalah Raden Mas Sunaka. Ia merupakan saudara seayah Pakubuwana II, Bendara Pangeran Harya Buminata, serta Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Sri Sultan Hamengku Buwana I, pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pada masa pemerintahan Pakubuwana II, BPH Singasari bersama BPH Buminata tercatat pernah melakukan perlawanan terhadap pemerintahan keraton. Sejumlah naskah babad menyebutkan bahwa ia membangun kekuatan di daerah Sembuyan (Matesih) dan menggunakan gelar Sultan Dandun Martengsari atau Prabu Jaka. Peristiwa tersebut merupakan bagian dari dinamika politik Kerajaan Mataram pada paruh pertama abad ke-18.

Surat Kekancingan Tepas Darah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat serta Buku Pustaka Raja menyebutkan bahwa salah satu putra BPH Singasari adalah Raden Mas Ketomenggolo atau Raden Mas Sulaiman, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Mbah Tursuli. Dari keturunannya lahir tokoh-tokoh seperti Raden Ayu Soeromenggolo (istri R.M. Soeromenggolo), Eyang Putih (Krentil), dan R.M. Ditoyudo. Makam-makam mereka hingga kini masih terdapat di Desa Tursino dan dihormati sebagai leluhur sekaligus cikal bakal masyarakat Desa Tursino.

Foto: Makam R.A. Soeromenggolo, Putri Dari R.M. Ketomenggolo (R.M. Sulaiman/Mbah Tursuli) di Makam Gedong Desa Tursino.

Penulis : Ndandung Kumolo Adi
Sejatininghidup02.blogspot.com

Sumber Referensi :
  1. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Surat Kekancingan dan Naskah Silsilah Tepas Darah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta.
  2. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Buku Pustaka Raja. Yogyakarta: Tepas Darah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
  3. Mardiwarsito, L. (Peny.). Babad Giyanti. Yogyakarta.
  4. Babad Tanah Jawi (edisi Olthof atau Roorda).
  5. Buku Pustaka Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
  6. M.C. Ricklefs, Jogjakarta under Sultan Mangkubumi, 1749–1792.
  7. Soekanto, Sekitar Yogyakarta 1755–1825.
  8. Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Toponim Kota Yogyakarta. Yogyakarta. (Memuat uraian mengenai BPH Singasari, putra Amangkurat IV, yang bersama BPH Buminata melakukan pemberontakan terhadap Pakubuwana II dan mendirikan kekuatan di Sembuyan/Matesih).

Selasa, 21 Juli 2026

๐™ˆ๐™–๐™ ๐™–๐™ข ๐™Ž๐™–๐™ฎ๐™ฎ๐™ž๐™™ ๐™.๐™ˆ. ๐˜พ๐™๐™–๐™จ๐™–๐™ฃ ๐™™๐™ž ๐˜ฟ๐™š๐™จ๐™– ๐™๐™ช๐™ง๐™จ๐™ž๐™ฃ๐™ค : ๐™…๐™š๐™Ÿ๐™–๐™  ๐™†๐™š๐™ฉ๐™ช๐™ง๐™ช๐™ฃ๐™–๐™ฃ ๐™Ž๐™–๐™ฎ๐™ฎ๐™ž๐™™ ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™†๐™š๐™ก๐™ช๐™–๐™ง๐™œ๐™– ๐™†๐™š๐™ง๐™–๐™ฉ๐™ค๐™ฃ ๐™”๐™ค๐™œ๐™ฎ๐™–๐™ ๐™–๐™ง๐™ฉ๐™–

 

Foto. Makam Sayyid R.M. Chassan Bin Raden Ayu Lukman Hakim di Desa Tursino

๐™ˆ๐™–๐™ ๐™–๐™ข ๐™Ž๐™–๐™ฎ๐™ฎ๐™ž๐™™ ๐™.๐™ˆ. ๐˜พ๐™๐™–๐™จ๐™–๐™ฃ ๐™™๐™ž ๐˜ฟ๐™š๐™จ๐™– ๐™๐™ช๐™ง๐™จ๐™ž๐™ฃ๐™ค : ๐™…๐™š๐™Ÿ๐™–๐™  ๐™†๐™š๐™ฉ๐™ช๐™ง๐™ช๐™ฃ๐™–๐™ฃ ๐™Ž๐™–๐™ฎ๐™ฎ๐™ž๐™™ ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™†๐™š๐™ก๐™ช๐™–๐™ง๐™œ๐™– ๐™†๐™š๐™ง๐™–๐™ฉ๐™ค๐™ฃ ๐™”๐™ค๐™œ๐™ฎ๐™–๐™ ๐™–๐™ง๐™ฉ๐™–

Abstrak :
Artikel ini membahas keberadaan Makam Sayyid R.M. Chasan di Kompleks Makam Gedong, Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, sebagai bagian dari sejarah lokal yang berkaitan dengan penyebaran Islam, tokoh ulama, dan hubungan genealogis dengan keluarga Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kajian ini memanfaatkan pendekatan historis melalui penelusuran sejarah lisan masyarakat, silsilah keluarga, observasi lapangan, serta dokumen primer berupa Surat Kekancingan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Hasil kajian menunjukkan bahwa Sayyid R.M. Chasan merupakan putra Sayyid Lukman Hakim dan memiliki garis keturunan dari R.A. Sangsangid, putri B.P.H. Hangabehi, putra Sri Sultan Hamengkubuwono I. Keberadaan makam tersebut menjadi bukti penting keterkaitan antara tradisi keagamaan, jaringan keturunan Sayyid, dan lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta di wilayah Purworejo. Artikel ini diharapkan dapat menjadi kontribusi bagi kajian sejarah lokal, genealogi, dan pelestarian warisan budaya.

Makam Sayyid R.M. Chasan berada di Kompleks Makam Gedong, Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kompleks makam ini dikenal sebagai tempat pemakaman para ulama dan umaro Desa Tursino.

Menurut tradisi tutur masyarakat setempat, Sayyid R.M. Chasan berasal dari wilayah Tambakrejo, Purworejo. Beliau disebut datang ke Desa Tursino atas dawuh R.M. Soeromenggolo (Glondong Tursino) untuk menjadi ulama dan membina kehidupan keagamaan masyarakat desa.

Foto. Makam Sayyid Lukman Hakim di Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo

Sayyid R.M. Chasan merupakan putra dari Sayyid Lukman Hakim. Gelar R.M. (Raden Mas) yang beliau sandang berasal dari garis keturunan ibunya, yaitu R.A. Sangsangid, putri B.P.H. Hangabehi, putra Sri Sultan Hamengkubuwono I. Dengan demikian, dari garis ibu, Sayyid R.M. Chasan masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Makam Sayyid Lukman Hakim sendiri berada di wilayah Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Makam tersebut terletak di pekarangan warga di tepi Sungai Bogowonto, berbatasan dengan Kelurahan Baledono. Bentuk makamnya sederhana, tanpa menunjukkan kemegahan, meskipun beliau merupakan menantu B.P.H. Hangabehi dan memiliki hubungan keluarga dengan Keraton Yogyakarta.

Surat Kekancingan dari Tepas Darah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tentang Sayyid R.M. Chassan

Berdasarkan Surat Kekancingan resmi dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, silsilah yang berkaitan dengan Sayyid R.M. Chasan adalah sebagai berikut:

Sri Sultan Hamengkubuwono I

B.P.H. Hangabehi

R.A. Sangsangid (istri Sayyid Lukman Hakim)

R.M. Chasan

Penulis : Ndandung Kumolo Adi
Sejatininghidup02.blogspot.com

Sumber Referensi :

  1. Surat Kekancingan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengenai silsilah keluarga Sayyid R.M. Chasan. Dokumen ini merupakan sumber primer. 
  2. Mandoyokusumo, K.R.T. (1980). Serat Raja Putra Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta: Bebadan Museum Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Buku ini membahas sejarah dan silsilah raja-raja Mataram hingga Kesultanan Yogyakarta. 
  3. Sabdacarakatama, Ki. (2010). Ensiklopedia Raja-Raja Tanah Jawa: Silsilah Lengkap Raja-Raja Tanah Jawa dari Prabu Brawijaya V sampai Sri Sultan Hamengku Buwono X. Yogyakarta: Narasi.
  4. Wawancara dengan sesepuh, masyarakat, dan ahli waris

Senin, 20 Juli 2026

๐™‹๐™ค๐™๐™ค๐™ฃ ๐™ ๐™š๐™ฅ๐™ช๐™ (๐™Ž๐™ฉ๐™š๐™ง๐™˜๐™ช๐™ก๐™ž๐™– ๐™›๐™ค๐™š๐™ฉ๐™ž๐™™๐™– ๐™‡.) ๐™ข๐™š๐™ง๐™ช๐™ฅ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™–๐™ก๐™–๐™ ๐™จ๐™–๐™ฉ๐™ช ๐™ช๐™ฃ๐™จ๐™ช๐™ง ๐™ฅ๐™š๐™ข๐™—๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™ก๐™–๐™ฃ๐™จ๐™ ๐™–๐™ฅ ๐˜ฟ๐™ช๐™จ๐™ช๐™ฃ ๐™†๐™š๐™ฅ๐™ช๐™ ๐™™๐™ž ๐˜ฟ๐™š๐™จ๐™– ๐™๐™ช๐™ง๐™จ๐™ž๐™ฃ๐™ค, ๐™†๐™š๐™˜๐™–๐™ข๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™†๐™ช๐™ฉ๐™ค๐™–๐™ง๐™Ÿ๐™ค ๐™†๐™–๐™—๐™ช๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™š๐™ฃ ๐™‹๐™ช๐™ง๐™ฌ๐™ค๐™ง๐™š๐™Ÿ๐™ค

 

Foto. Daun Kepuh dan Buahnya

๐™‹๐™ค๐™๐™ค๐™ฃ ๐™ ๐™š๐™ฅ๐™ช๐™ (๐™Ž๐™ฉ๐™š๐™ง๐™˜๐™ช๐™ก๐™ž๐™– ๐™›๐™ค๐™š๐™ฉ๐™ž๐™™๐™– ๐™‡.) ๐™ข๐™š๐™ง๐™ช๐™ฅ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™–๐™ก๐™–๐™ ๐™จ๐™–๐™ฉ๐™ช ๐™ช๐™ฃ๐™จ๐™ช๐™ง ๐™ฅ๐™š๐™ข๐™—๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™ก๐™–๐™ฃ๐™จ๐™ ๐™–๐™ฅ ๐˜ฟ๐™ช๐™จ๐™ช๐™ฃ ๐™†๐™š๐™ฅ๐™ช๐™ ๐™™๐™ž ๐˜ฟ๐™š๐™จ๐™– ๐™๐™ช๐™ง๐™จ๐™ž๐™ฃ๐™ค, ๐™†๐™š๐™˜๐™–๐™ข๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™†๐™ช๐™ฉ๐™ค๐™–๐™ง๐™Ÿ๐™ค ๐™†๐™–๐™—๐™ช๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™š๐™ฃ ๐™‹๐™ช๐™ง๐™ฌ๐™ค๐™ง๐™š๐™Ÿ๐™ค

Abstrak :
Desa Tursino merupakan salah satu desa di Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, yang memiliki kekayaan sejarah, lingkungan, ekologi, ekosistem, adat istiadat, dan budaya. Salah satu unsur penting yang membentuk identitas wilayah tersebut adalah keberadaan pohon kepuh (Sterculia foetida L.) dan pohon ketileng (Vitex glabrata R.Br.). Kedua jenis pohon tersebut tidak hanya memiliki fungsi ekologis sebagai penyerap karbon, pelindung daerah resapan air, habitat berbagai jenis satwa, serta pembentuk iklim mikro, tetapi juga menjadi bagian dari lanskap budaya masyarakat.
Keberadaan pohon kepuh berkaitan dengan toponimi Dusun Kepuh, sedangkan pohon ketileng menjadi bagian dari identitas sejarah dan lanskap budaya yang tercermin pada toponimi Makam Ketileng. Hubungan antara vegetasi, ruang, dan masyarakat tersebut menunjukkan keterkaitan yang erat antara lingkungan alam dengan kehidupan sosial budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Selain mengulas karakteristik botani, persebaran, manfaat, dan fungsi ekologis pohon kepuh serta pohon ketileng, artikel ini juga membahas nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang melekat pada keberadaan kedua pohon tersebut. Dengan menggunakan pendekatan sejarah lingkungan (environmental history) dan geografi budaya, artikel ini menunjukkan bahwa pohon kepuh dan pohon ketileng merupakan elemen penting dalam pembentukan identitas lanskap Desa Tursino sekaligus menjadi warisan alam dan budaya yang perlu dilestarikan. Kajian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian di bidang sejarah, botani, ekologi, geografi budaya, antropologi, serta menjadi bahan kajian akademis bagi mahasiswa, peneliti, dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap sejarah lingkungan dan pelestarian warisan budaya.

Keberadaan pohon identitas atau history seperti Pohon Winong, Lo, Ketileng, Kepuh, Suren, Tepus, gandri, langkap, Gayam, Kesambi dan sebagainya tidak hanya membentuk karakter ekologis wilayah, tetapi juga berperan dalam pembentukan identitas lokal dan toponimi nama desa, nama dusun, nama daerah, nama kota, nama makam/kuburan, nama hutan.

Sekalipun pohon-pohon itu sudah ada yang sulit ditemui bahkan di indrai dengan pancaindra terutama indra visual penglihatan sehingga masyarakat awam sulit mengidentifikasi.

Foto. Pohon kepuh di Desa Tursino tepatnya di belakang SDN Tursino yang dijadikan nama identitas Dusun kepuh setempat, semoga pohonnya tetap lestari. 

Buah dan biji kepuh (Sterculia foetida L.) mengandung minyak nabati, asam lemak, senyawa fenolik, flavonoid, dan antioksidan. Berdasarkan penelitian fitokimia dan farmakologi, tanaman ini memiliki potensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antimikroba. Kandungan serat pada buah juga berpotensi membantu menjaga kesehatan pencernaan. Namun, sebagian besar manfaat kesehatan tersebut masih didasarkan pada penelitian praklinis sehingga memerlukan penelitian klinis lebih lanjut sebelum dapat dijadikan terapi pada manusia.

Pohon kepuh (Sterculia foetida L.) merupakan tumbuhan khas daerah tropis yang umumnya tumbuh di dataran rendah hingga sekitar 800–1.000 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini berkembang baik pada daerah bersuhu hangat dengan curah hujan sedang hingga tinggi serta mampu beradaptasi pada musim kemarau yang cukup panjang.

Habitat alaminya meliputi hutan musim, hutan sekunder, tepi sungai, kawasan pesisir, dan lahan terbuka. Pohon kepuh tumbuh baik pada tanah yang dalam, subur, memiliki drainase yang baik, serta pH tanah sekitar 6,0–7,5, meskipun masih toleran pada kondisi tanah yang lebih asam maupun lebih basa.

Bunga kepuh berukuran kecil, tersusun dalam malai, berwarna merah hingga merah keunguan, dan mengeluarkan aroma khas yang kurang sedap. Aroma inilah yang melatarbelakangi pemberian nama spesies foetida, yang dalam bahasa Latin berarti "berbau".

Kepuh (Sterculia foetida L.) merupakan pohon berkayu yang termasuk dalam genus Sterculia dan famili Malvaceae. Pohon ini dapat tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar 20–40 meter dan tersebar luas di kawasan tropis, antara lain India, Sri Lanka, Asia Tenggara (termasuk Indonesia dan Filipina), Papua Nugini, Australia bagian utara, serta telah diintroduksi ke berbagai wilayah tropis lainnya seperti Afrika dan Kepulauan Pasifik. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh Carl Linnaeus pada tahun 1753 dalam Species Plantarum.

Potensi manfaat yang telah dilaporkan dalam penelitian:

  • Membantu aktivitas antioksidan.
  • Berpotensi mengurangi peradangan (antiinflamasi).
  • Berpotensi memiliki aktivitas antimikroba.
  • Kandungan serat dapat membantu kesehatan pencernaan.
  • Minyak biji berpotensi dimanfaatkan dalam bidang pangan, kosmetik, dan farmasi setelah melalui proses pengolahan yang tepat.

Ciri-ciri pohon kepuh (Sterculia foetida L.) :

  1. Ukuran pohon

    • Pohon besar yang dapat mencapai tinggi 20–40 meter.
    • Batang tegak, lurus, dan berdiameter besar.
  2. Batang

    • Kulit batang berwarna abu-abu hingga kecokelatan.
    • Permukaan batang relatif halus saat muda, kemudian menjadi agak kasar seiring bertambahnya usia.
  3. Daun

    • Daun tersusun majemuk menjari, terdiri atas 7–9 anak daun (kadang 5–11).
    • Anak daun berbentuk lonjong hingga lanset dengan ujung meruncing.
    • Daun terkumpul di ujung ranting sehingga tajuk tampak rimbun.
  4. Bunga

    • Berukuran kecil dan tersusun dalam malai.
    • Berwarna merah tua hingga merah keunguan, kadang kehijauan.
    • Mengeluarkan aroma yang cukup menyengat, sehingga dinamai foetida (berbau).
  5. Buah

    • Berupa buah berkayu (folikel).
    • Saat muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi merah cerah ketika masak.
    • Satu tandan biasanya terdiri atas beberapa buah yang tersusun seperti bintang.
  6. Biji

    • Berwarna hitam mengilap.
    • Berbentuk bulat telur hingga lonjong.
    • Kaya minyak nabati.
  7. Habitat

    • Tumbuh baik di dataran rendah hingga sekitar 800 meter di atas permukaan laut.
    • Tahan terhadap musim kemarau dan banyak dijumpai di tepi jalan, pekarangan, hutan musim, serta kawasan pesisir.

Keunikan pohon kepuh :

  • Tajuknya lebar sehingga sering dimanfaatkan sebagai pohon peneduh.
  • Memiliki sistem perakaran yang kuat.
  • memiliki kemampuan menyimpan air, meskipun bukan termasuk tanaman sukulen seperti kaktus. Kemampuan ini didukung oleh beberapa karakteristik: yaitu Batang besar yang dapat menyimpan cadangan air dan nutrisi sehingga membantu pohon bertahan pada musim kemarau, Akar tunggang yang dalam dan kuat, memungkinkan pohon memperoleh air dari lapisan tanah yang lebih dalam, Tajuk yang lebar membantu menciptakan naungan sehingga mengurangi penguapan air dari permukaan tanah di sekitarnya, Sebagai pohon besar, kepuh juga berperan dalam meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah melalui sistem perakarannya, sehingga membantu menjaga cadangan air tanah.Karena sifat-sifat tersebut, pohon kepuh sering dianggap memiliki fungsi ekologis penting sebagai:
  1. penyimpan dan penjaga cadangan air tanah,
  2. pelindung daerah resapan air,
  3. peneduh alami,
  4. serta pengurang erosi.
  • Umurnya panjang dan sering menjadi pohon penanda tempat, sehingga banyak dijadikan asal-usul nama desa atau dusun, seperti Kepuh, Kepuhan, atau Kepuhsari.

Pohon kepuh (Sterculia foetida L.) memiliki berbagai fungsi ekologis yang penting bagi lingkungan, di antaranya:

  1. Menjaga siklus air
  2. Akar membantu meningkatkan resapan air hujan ke dalam tanah.
  3. Mengurangi limpasan permukaan dan membantu menjaga cadangan air tanah.
  4. Mencegah erosi
  5. Sistem perakaran yang kuat mengikat tanah sehingga mengurangi risiko erosi, terutama di lereng dan bantaran sungai.
  6. Penyerap karbon (carbon sink)
  7. Menyerap karbon dioksida (CO₂) melalui fotosintesis dan menyimpannya dalam batang, akar, serta biomassa pohon, sehingga membantu mengurangi gas rumah kaca.
  8. Penghasil oksigen
  9. Menghasilkan oksigen yang dibutuhkan makhluk hidup melalui proses fotosintesis.
  10. Habitat satwa liar
  11. Tajuknya menjadi tempat bersarang burung, serangga, kelelawar, dan berbagai satwa arboreal lainnya.
  12. Menjaga iklim mikro
  13. Tajuk yang lebar memberikan keteduhan, menurunkan suhu udara sekitar, serta menjaga kelembapan lingkungan.
  14. Menjaga kesuburan tanah
  15. Daun yang gugur terurai menjadi bahan organik (humus) yang memperbaiki struktur dan kesuburan tanah.
  16. Penahan angin
  17. Pohon yang tinggi dan berbatang kokoh dapat mengurangi kecepatan angin dan melindungi lahan di sekitarnya.
  18. Mendukung keanekaragaman hayati
  19. Menjadi bagian penting dari ekosistem dengan menyediakan sumber makanan, tempat hidup, dan ruang bagi berbagai organisme.
  20. Pembentuk lanskap dan identitas wilayah.

Kepuh (Sterculia foetida L.) merupakan salah satu spesies pohon dari famili Malvaceae (suku kapas-kapasan). Spesies ini memiliki daerah sebaran asli di kawasan Asia tropis hingga Pasifik Barat, meliputi anak benua India, Asia Tenggara (termasuk Indonesia), hingga Papua Nugini dan wilayah Pasifik Barat.

Di Indonesia, pohon ini dikenal dengan berbagai nama daerah, antara lain kepuh atau kepoh (Jawa), kabu-kabu (Batak), dan kalupat (Sulawesi). Nama ilmiah Sterculia foetida pertama kali dipublikasikan oleh Carolus Linnaeus dalam karya Species Plantarum pada tahun 1753.

Klasifikasi Ilmiah :

  • Kingdom : Plantae
  • Subkingdom : Viridiplantae
  • Superdivisi : Embryophyta
  • Divisi : Tracheophyta
  • Subdivisi : Spermatophytina
  • Kelas : Magnoliopsida
  • Subkelas : Dilleniidae
  • Ordo : Malvales
  • Famili : Malvaceae
  • Genus : Sterculia
  • Spesies : Sterculia foetida L.

Sinonim Ilmiah :

  • Clompanus foetida (L.) Kuntze
  • Sterculia mexicana var. guianensis Sagot
  • Sterculia polyphylla R.Br.

Nama Umum :

  • Indonesia : Kepuh/Kepoh (Jawa), Kabu-kabu (Batak), Kalupat (Sulawesi)
  • Inggris : Java Olive
  • Malaysia : Kelumpang Jari
  • Filipina : Kalumpang
  • Myanmar : Letpan-shaw
  • Kamboja : Samrong
  • Thailand : Samrong, Homrong, Chammahong
  • Vietnam : Trรดm

Kayu kepuh dimanfaatkan sebagai bahan bangunan ringan, papan, peti, korek api, pulp, dan berbagai keperluan pertukangan. Biji kepuh mengandung minyak nabati yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel, sabun, kosmetik, dan berbagai produk industri setelah melalui proses pengolahan yang tepat.

Dalam pengobatan tradisional, beberapa bagian pohon kepuh dimanfaatkan sebagai peluruh keringat (diaforetik), membantu meredakan demam, serta mengurangi pegal linu. Namun, manfaat tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui penelitian klinis.

Dalam konteks penelitian sejarah lingkungan, pohon kepuh tidak hanya berfungsi sebagai vegetasi, tetapi juga sebagai pembentuk lanskap ekologis dan lanskap budaya yang memengaruhi identitas suatu wilayah

Lanskap Dusun Kepuh desa tursino terbentuk melalui interaksi antara lingkungan alam dan masyarakat. Pohon kepuh (Sterculia foetida L.) menjadi elemen penting dalam lanskap tersebut karena keberadaannya melatarbelakangi penamaan dusun serta menjadi penanda ruang yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Dalam kajian sejarah dan geografi budaya, fenomena seperti ini dikenal sebagai hubungan antara vegetasi dan toponimi, yaitu ketika suatu jenis tumbuhan menjadi ciri khas suatu tempat sehingga memengaruhi nama dan identitas wilayah. 

Alhamdulillah Pohon kepuh masih banyak dan bisa dilihat secara visul mata terlanjang oleh masyarakat awam sehingga mudah di identifikasi.

Serta budidaya industri pembibitan pohon kepuh masih dapat ditemui di desa-desa kecamatan Kutoarjo dan kecamatan kemiri kabupaten purworejo

Pohon dapat menjadi bagian pembentuk lanskap, terutama jika keberadaannya memiliki pengaruh terhadap identitas suatu wilayah.

Misalnya, dalam konteks sejarah dan budaya di Nusantara terutama Jawa, Pohon kepuh menjadi penanda bentang budaya (cultural landscape) apabila digunakan sebagai penanda batas wilayah, makam, petilasan, jalan, atau sumber toponimi (asal-usul nama desa, dusun, atau tempat).

Keberadaan pohon indentitas dan history seperti kepuh  yang telah lama dikenal masyarakat dapat membentuk landskap sejarah, karena menjadi bagian dari memori kolektif dan perkembangan suatu kawasan.

Jika suatu desa atau wilayah dinamai berdasarkan keberadaan pohon Kepuh, maka pohon tersebut berperan sebagai unsur pembentuk identitas lanskap.

Landskap sendiri  adalah bentang alam atau bentang wilayah yang terbentuk dari perpaduan unsur-unsur alam dan/atau hasil aktivitas manusia sehingga memiliki karakteristik tertentu.

Dalam berbagai bidang, pengertiannya dapat sedikit berbeda :

Geografi: landskap adalah keseluruhan kenampakan suatu wilayah yang meliputi relief, tanah, air, vegetasi, iklim, serta aktivitas manusia.

Arsitektur lanskap: landskap adalah ruang luar yang ditata untuk memenuhi fungsi ekologis, estetis, sosial, dan budaya.

Sejarah dan budaya: landskap dapat dimaknai sebagai bentang alam yang menyimpan jejak sejarah, seperti situs purbakala, permukiman lama, jalan kuno, makam, pohon bersejarah, sungai, dan sawah yang membentuk identitas suatu daerah.

Sebagai contoh, jika dikaitkan dengan penelitian mengenai Kutoarjo dan Purworejo, landskap sejarah dapat mencakup identitas dan history yang mungkin sudah ada yang hilang, punah, dan susah di identifikasi oleh masyarakat awam seperti  pohon winong, pohon suren, pohon lo, pohon ketileng dan sebagainya, aliran Sungai Bogowonto, jalur irigasi, desa-desa tua, makam leluhur, serta situs-situs bersejarah yang bersama-sama membentuk identitas dan perkembangan wilayah tersebut.

Selain memiliki nilai ekologis dan manfaat bagi kehidupan, pohon kepuh (Sterculia foetida L.) juga memiliki nilai budaya yang kuat dalam tradisi masyarakat Jawa. Di berbagai daerah, pohon kepuh yang berukuran besar dan telah berumur tua sering dikaitkan dengan cerita rakyat atau mitos. Salah satu kepercayaan yang berkembang di masyarakat adalah anggapan bahwa pohon kepuh menjadi tempat bersemayam atau tempat tinggal makhluk gaib, seperti genderuwo.

Dalam kajian folklor dan antropologi budaya, kepercayaan tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Mitos tersebut bukan merupakan fakta ilmiah, melainkan cerminan cara pandang masyarakat terhadap alam dan lingkungannya.

Di sisi lain, keberadaan mitos ini memiliki fungsi sosial dan ekologis. Kepercayaan bahwa pohon kepuh dihuni makhluk gaib membuat masyarakat cenderung menghormati, menjaga, dan tidak menebang pohon tersebut secara sembarangan. Secara tidak langsung, mitos tersebut berperan dalam pelestarian pohon-pohon besar yang memiliki fungsi penting sebagai penyimpan cadangan air tanah, penyerap karbon, habitat satwa, peneduh alami, serta pembentuk lanskap budaya.

Dengan demikian, terlepas dari benar atau tidaknya kepercayaan tersebut, mitos tentang pohon kepuh merupakan bagian dari kearifan lokal yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam. Oleh karena itu, tradisi lisan tersebut patut dipahami sebagai warisan budaya yang memiliki nilai historis, ekologis, dan sosial bagi masyarakat.

Di Kabupaten Purworejo sendiri Ada beberapa nama desa dan dusun yang menggunakan nama Pohon kepuh, Ada Desa Kepuh, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo.
Dan ada salah satunya Dusun Kepuh di Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. 
Batas-batas wilayah administrasi Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo secara rinci adalah sebagai berikut: 
  • Sebelah Utara: Berbatasan dengan wilayah Kecamatan Kemiri, khususnya Desa Kedunglo, Desa Rebug, dan Desa Dilem
  • Sebelah Timur: Berbatasan dengan wilayah Kecamatan Kemiri dan Kecamatan Bayan, yaitu Desa Loning dan Desa Pucang Agung.
  • Sebelah Selatan: Berbatasan dengan Desa Karangrejo, Kecamatan Kutoarjo.
  • Sebelah Barat : Berbatasan dengan Desa Wirun, Kecamatan Kutoarjo.
Foto. Pohon kepuh di Desa Tursino tepatnya di belakang SDN Tursino 

Penulis. Ndandung Kumolo Adi
Sejatininghidup02.blogspot.com

Referensi

  • Backer, C.A. & Bakhuizen van den Brink Jr. Flora of Java.
  • Heyne, K. Tumbuhan Berguna Indonesia.
  • IPNI (International Plant Names Index).
  • Plants of the World Online (POWO), Royal Botanic Gardens, Kew.
  • USDA – Natural Resources Conservation Service (NRCS), Plant Profile.

๐™‹๐™ค๐™๐™ค๐™ฃ ๐™ ๐™š๐™ฉ๐™ž๐™ก๐™š๐™ฃ๐™œ (๐™‘๐™ž๐™ฉ๐™š๐™ญ ๐™œ๐™ก๐™–๐™—๐™ง๐™–๐™ฉ๐™– ๐™.๐˜ฝ๐™ง.) ๐™™๐™ž ๐˜ฟ๐™š๐™จ๐™– ๐™๐™ช๐™ง๐™จ๐™ž๐™ฃ๐™ค, ๐™†๐™š๐™˜๐™–๐™ข๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™†๐™ช๐™ฉ๐™ค๐™–๐™ง๐™Ÿ๐™ค, ๐™†๐™–๐™—๐™ช๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™š๐™ฃ ๐™‹๐™ช๐™ง๐™ฌ๐™ค๐™ง๐™š๐™Ÿ๐™ค. ๐™‹๐™ค๐™๐™ค๐™ฃ ๐™ž๐™™๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™ž๐™ฉ๐™–๐™จ ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™™๐™ž ๐™ฃ๐™–๐™ข๐™– ๐™ฉ๐™ค๐™ฅ๐™ค๐™ข๐™ž๐™ฃ๐™ž ๐™™๐™ช๐™จ๐™ช๐™ฃ, ๐™™๐™š๐™จ๐™–, ๐™ข๐™–๐™ ๐™–๐™ข/๐™ ๐™ช๐™—๐™ช๐™ง๐™–๐™ฃ ๐™™๐™ž ๐™…๐™–๐™ฌ๐™–

Foto Pohon Ketileng, Lokasi Pohon : Makam Ketileng di Belakang SD Negeri Tursino. 

 ๐™‹๐™ค๐™๐™ค๐™ฃ ๐™ ๐™š๐™ฉ๐™ž๐™ก๐™š๐™ฃ๐™œ (๐™‘๐™ž๐™ฉ๐™š๐™ญ ๐™œ๐™ก๐™–๐™—๐™ง๐™–๐™ฉ๐™– ๐™.๐˜ฝ๐™ง.) ๐™™๐™ž ๐˜ฟ๐™š๐™จ๐™– ๐™๐™ช๐™ง๐™จ๐™ž๐™ฃ๐™ค, ๐™†๐™š๐™˜๐™–๐™ข๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™†๐™ช๐™ฉ๐™ค๐™–๐™ง๐™Ÿ๐™ค, ๐™†๐™–๐™—๐™ช๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™š๐™ฃ ๐™‹๐™ช๐™ง๐™ฌ๐™ค๐™ง๐™š๐™Ÿ๐™ค. ๐™‹๐™ค๐™๐™ค๐™ฃ ๐™ž๐™™๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™ž๐™ฉ๐™–๐™จ ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™™๐™ž ๐™ฃ๐™–๐™ข๐™– ๐™ฉ๐™ค๐™ฅ๐™ค๐™ข๐™ž๐™ฃ๐™ž ๐™™๐™ช๐™จ๐™ช๐™ฃ, ๐™™๐™š๐™จ๐™–, ๐™ข๐™–๐™ ๐™–๐™ข/๐™ ๐™ช๐™—๐™ช๐™ง๐™–๐™ฃ ๐™™๐™ž ๐™…๐™–๐™ฌ๐™–

Ndandung Kumolo adi
Sejatinghiduo02.blogspot.com

Abstrak :
Pohon ketileng (Vitex glabrata R.Br.) merupakan salah satu jenis pohon yang memiliki nilai penting, tidak hanya dari aspek botani, tetapi juga dalam sejarah dan toponimi di Pulau Jawa. Di berbagai daerah, nama ketileng digunakan sebagai identitas wilayah, seperti nama dusun, desa, kawasan, hingga makam atau kuburan. Salah satu contohnya terdapat di Makam Ketileng, Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, yang dinamai berdasarkan keberadaan pohon ketileng yang masih tumbuh di lokasi tersebut. Artikel ini membahas identitas botani, klasifikasi ilmiah, persebaran, ciri-ciri, manfaat, serta peran pohon ketileng sebagai penanda alam yang membentuk nama-nama tempat. Dokumentasi dan historiografi terhadap pohon ketileng menjadi penting sebagai upaya pelestarian keanekaragaman hayati sekaligus menjaga warisan sejarah, budaya, dan identitas lokal masyarakat Jawa khususnya Desa Tursino. Serta dapat di kaji dan dipelajari generasi selanjutnya termasuk para akademisi, ahli botani, ahli antropologi budaya, dan masyarakat.

Pohon ketileng (Vitex glabrata R.Br.) merupakan salah satu jenis pohon asli kawasan Asia Tropis hingga Pasifik Barat yang telah lama dikenal masyarakat Jawa dengan nama lokal ketileng atau gentileng. Dalam literatur botani, spesies ini termasuk famili Lamiaceae dan memiliki persebaran alami di Pulau Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Australia bagian utara.

Di Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, keberadaan pohon ketileng tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga nilai historis dan kultural. Pohon ini menjadi penanda identitas ruang yang kemudian melahirkan berbagai nama tempat (toponimi), seperti nama dusun, desa, hingga kompleks makam atau kuburan. Dalam tradisi Jawa bahkan Nusantara, penamaan suatu wilayah sering kali berasal dari unsur alam yang paling menonjol, termasuk pohon-pohon besar yang menjadi penanda lokasi, batas wilayah, maupun pusat aktivitas masyarakat.

Dengan demikian, pohon ketileng bukan sekadar vegetasi, melainkan bagian dari memori kolektif masyarakat. Keberadaannya merekam hubungan antara manusia, lingkungan, dan sejarah suatu wilayah. Melalui kajian sejarah lingkungan dan toponimi, pohon ketileng dapat dipahami sebagai identitas lanskap budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pelestarian pohon ketileng beserta sejarah yang menyertainya merupakan upaya menjaga warisan budaya lokal. Ketika pohonnya hilang, bukan hanya keanekaragaman hayati yang berkurang, tetapi juga jejak sejarah dan identitas suatu tempat yang perlahan dapat terlupakan. Jadi penulisan sains secara obyektif sangat penting untuk informasi ke para generasi dan sebagai referensi penelitian kajian akademisi dari para mahasiswa, pakar botani, antropologi budaya, serta masyarakat.

Pohon ketileng (Vitex glabrata R.Br.) memiliki kedudukan penting dalam sejarah toponimi di berbagai wilayah di Pulau Jawa. Nama pohon ini digunakan sebagai identitas suatu tempat, seperti nama dusun, desa, kawasan, hingga makam atau kuburan. Keberadaannya sebagai penanda alam menunjukkan bahwa ketileng bukan sekadar jenis pohon, tetapi juga memiliki nilai sejarah, budaya, dan lingkungan yang diwariskan oleh masyarakat.

Salah satu contohnya dapat dijumpai di Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, di mana masih tumbuh pohon ketileng yang menjadi asal-usul penamaan Makam Ketileng, yang berada di belakang SD Negeri Tursino. Keberadaan pohon tersebut menjadi bukti bahwa vegetasi lokal pada masa lampau sering dijadikan penanda wilayah sekaligus identitas suatu tempat.

Meskipun bukan termasuk pohon langka, ketileng kini relatif sulit dijumpai. Akibatnya, banyak masyarakat yang tidak lagi mengenali bentuk maupun ciri-cirinya sehingga sering tertukar dengan jenis pohon lain. 

Karena jarangnya ditemukan, banyak masyarakat kesulitan mengenal dan membedakannya dengan jenis pohon lain hanya berdasarkan pengamatan visual Indra Penglihatan Mata Telanjang.

Foto. Daun Pohon Ketileng di Makam Ketileng Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah

Nama ilmiah tanaman. Dalam ilmu botani, setiap tumbuhan memiliki nama ilmiah (scientific name atau botanical name) yang mengikuti kaidah tata nama internasional. Nama ilmiah pohon ketileng adalah Vitex glabrata R.Br., yang pertama kali dipublikasikan oleh botanis Robert Brown pada tahun 1810.

Nama Inggrisnya adalah Smooth Chastetree. dalam ilmu botani disebut nama botani (botanical name) atau nama ilmiah (scientific name)

Untuk keperluan identifikasi tanaman atau pohon para pakar akademisi, pakar botani, pakar lingkungan hidup biasanya menggunakan Nama Latin (nama ilmiah) semuanya mengikuti kaidah tata nama ilmiah internasional.

Seperti contohnya Pohon Ketileng nama latin atau ilmiahnya adalah Vitex glabrata R.Br.

Lokasi Pohon ketileng di belakang SDN Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Dan Pohon Ketileng tersebut menjadi identitas nama makam dengan nama " Makam Ketileng"

Ketileng (Vitex glabrata R.Br., 1810), Nama Inggris disebut : Smooth Chastetree

Ketileng (Vitex glabrata R.Br.) merupakan spesies pohon dari famili Lamiaceae (suku nilam-nilaman). Spesies ini berasal dari kawasan beriklim tropis basah dengan persebaran alami yang meliputi Asia tropis hingga Pasifik Barat. Di Indonesia, pohon ini dikenal dengan berbagai nama daerah, antara lain bihbul (Sunda), gentileng, dan ketileng (Jawa).

Nama ilmiah Vitex glabrata pertama kali dipublikasikan oleh botanis Robert Brown pada tahun 1810.

Klasifikasi Ilmiah
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Streptophyta
Kelas : Equisetopsida
Subkelas : Magnoliidae
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae
Genus : Vitex
Spesies : Vitex glabrata R.Br.
Sinonim Ilmiah atau Beberapa nama ilmiah yang pernah digunakan untuk spesies ini antara lain:
Vitex bombacifolia Wall. ex C.B.Clarke
Vitex cunninghamii Schauer
Vitex elegans Griff.
Vitex glabrata f. bombacifolia (Wall. ex C.B.Clarke) Moldenke
Vitex glabrata f. pallida (Wall. ex C.B.Clarke) Moldenke
Vitex glabrata var. bombacifolia (Wall. ex C.B.Clarke) Moldenke
Vitex glabrata var. poilanei Moldenke
Vitex helogiton K.Schum.
Vitex minahassae Koord.
Vitex nitida Merr.
Vitex pallida Wall. ex C.B.Clarke
Vitex pentaphylla Merr.

Nama Umum Pohon Vitex glabrata R.Br. di masing-masing daerah :
Indonesia : Bihbul (Sunda), Gentileng (Jawa), Ketileng (Jawa)
Inggris : Smooth Chastetree,
Filipina : Bongoog, Ampapalut, Talang-pulo
Kamboja : Popoul ach, Popoul tuk
Laos : Khi hen, Khi nok, Tin nok
Thailand : Khainao, Khee hen, Khom khwaan

Morfologi bunga Vitex glabrata R.Br. adalah sebagai berikut :

  1. Perbungaan: Muncul di ketiak daun (axillary), berbentuk cyme (payung menggarpu). Sumbu perbungaan panjang 3,5–7 cm, agak pipih pada penampang melintang. Braktea kecil berbentuk segitiga hingga linear, panjang kurang dari 2 mm, dan umumnya tetap melekat. 
  2. Kelopak (Calyx): Berlekuk 5, berbentuk lonceng (campanulate) dan membesar saat berbuah. Diameter kelopak ketika berbunga sekitar 2–2,5 mm, sedangkan saat berbuah menjadi 7–9 mm. 
  3. Mahkota bunga (Corolla): Berlekuk 5, berwarna putih hingga ungu dengan ujung mahkota lebih gelap. Tabung mahkota panjang 4–6,5 mm. Bibir bawah berbentuk seperti spatula, sedangkan lobus samping dan belakang melengkung ke belakang (reflexed). 
  4. Benang sari (Stamens): Berjumlah 4, panjang tangkai sari 4,5–7 mm, menonjol keluar dari mahkota (exserted). Kepala sari sekitar 0,5 mm. 
  5. Putik (Style): Panjang 4,5–9 mm, juga menonjol keluar dari tabung mahkota. Kepala putik bercabang dua. 
  6. Bakal buah (Ovary): Berbentuk bulat (globose), berdiameter 1,2–1,5 mm. 
  7. Buah: Berbentuk bulat telur hingga agak memanjang (ovoid hingga clavoid), berdiameter 3–16 mm, permukaan licin dan tidak berbulu. 

Bunga ketileng (Vitex glabrata R.Br.) berukuran relatif kecil dan tumbuh bergerombol pada ujung ranting atau di ketiak daun (malai/panikel). Ciri-cirinya antara lain:

  • Warna bunga: putih hingga putih kekuningan, kadang sedikit krem.
  • Ukuran: kecil, sekitar 0,5–1 cm.
  • Bentuk mahkota: berbibir (bilabiata), khas famili Lamiaceae.
  • Jumlah mahkota: 5 helai yang menyatu di bagian pangkal membentuk tabung pendek.
  • Benang sari: 4 buah, umumnya tampak menonjol keluar dari mahkota.
  • Aroma: harum lembut dan dapat menarik lebah serta serangga penyerbuk.
  • Perbungaan: tersusun dalam malai (panicle) yang bercabang dan terdiri atas banyak bunga kecil.
  • Setelah penyerbukan, bunga akan berkembang menjadi buah bulat kecil. Buah yang masih muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi ungu tua hingga hitam ketika masak.

Karena pohon ketileng cukup jarang ditemukan, dokumentasi bunga Vitex glabrata juga masih relatif sedikit dibandingkan spesies Vitex lainnya.
Bahkan di area industry budidaya pembibitan tanaman desa-desa kecamatan kemiri dan kecamatan Kutoarjo, kabupaten purworejo saya tidak menemukan pohon jenis ini.

Foto Bunga Vitex Glabrata alias Ketileng

Persebaran pohon Vitex glabrata atau disebut juga ketileng tersebar secara alami di kawasan Asia tropis hingga Pasifik Barat. Pohon ini umumnya tumbuh di hutan hujan tropis dataran rendah hingga perbukitan, dan berkembang baik pada daerah beriklim tropis basah.

Ciri-ciri Umum :
1. Pohon berukuran sedang hingga besar.
2. Tinggi dapat mencapai sekitar 15–30 meter.
3. Daun majemuk menjari, terdiri atas 3–7 anak daun.
4. Bunga kecil berwarna putih hingga kekuningan.
5. Buah berbentuk bulat kecil yang berubah menjadi ungu tua hingga hitam saat masak.
6. Kayunya keras, awet, dan bernilai ekonomi tinggi.

Manfaat pohon pohon Vitex glabrata atau disebut juga ketileng Selain dimanfaatkan sebagai pohon peneduh, kayu ketileng banyak digunakan sebagai bahan bangunan, kusen, tiang, jembatan, perabot, dan berbagai keperluan konstruksi karena memiliki daya tahan yang baik. Pohon ini juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis.

pohon ketileng (Vitex glabrata R.Br.) dapat menjadi bagian pembentuk lanskap, terutama jika keberadaannya memiliki pengaruh terhadap identitas suatu wilayah. Misalnya, dalam konteks sejarah dan budaya di Jawa:

  • Pohon ketileng menjadi penanda bentang budaya (cultural landscape) apabila digunakan sebagai penanda batas wilayah, makam, petilasan, jalan, atau sumber toponimi (asal-usul nama desa, dusun, atau tempat).
  • Keberadaan pohon ketileng yang telah lama dikenal masyarakat dapat membentuk landskap sejarah, karena menjadi bagian dari memori kolektif dan perkembangan suatu kawasan.
  • Jika suatu desa atau wilayah bahkan makam dinamai berdasarkan keberadaan pohon ketileng, maka pohon tersebut berperan sebagai unsur pembentuk identitas lanskap.

Itu bermakna Pohon ketileng (Vitex glabrata R.Br.) merupakan salah satu unsur pembentuk lanskap budaya di Jawa. Keberadaannya tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga menjadi penanda ruang, identitas wilayah, dan asal-usul toponimi yang terekam dalam sejarah lokal.

Landskap adalah bentang alam atau bentang wilayah yang terbentuk dari perpaduan unsur-unsur alam dan/atau hasil aktivitas manusia sehingga memiliki karakteristik tertentu.Dalam berbagai bidang, pengertiannya dapat sedikit berbeda:

Geografi: landskap adalah keseluruhan kenampakan suatu wilayah yang meliputi relief, tanah, air, vegetasi, iklim, serta aktivitas manusia.

Arsitektur lanskap: landskap adalah ruang luar yang ditata untuk memenuhi fungsi ekologis, estetis, sosial, dan budaya.

Sejarah dan budaya: landskap dapat dimaknai sebagai bentang alam yang menyimpan jejak sejarah, seperti situs purbakala, permukiman lama, jalan kuno, makam, pohon bersejarah, sungai, dan sawah yang membentuk identitas suatu daerah.

Dengan demikian, penelitian dan kajian saya membahas hubungan pohon ketileng dengan nama desa, dusun, makam, atau situs sejarah di Purworejo dan sekitarnya, penggunaan konsep landskap budaya (cultural landscape) sangat relevan.

Penulis : Ndandung Kumolo adi

Sumber Referensi :
  1. Plants of the World Online (POWO). 2024. Vitex glabrata R.Br. Royal Botanic Gardens, Kew.
  2. International Plant Names Index (IPNI). 2024. Vitex glabrata R.Br. The Royal Botanic Gardens, Kew; Harvard University Herbaria & Libraries; Australian National Herbarium.
  3. United States Department of Agriculture – Natural Resources Conservation Service (USDA–NRCS). 2024. Plant Profile.
  4. Brown, R. (1810). Prodromus Florae Novae Hollandiae et Insulae Van Diemen. London: Taylor & Co. (Publikasi pertama yang mendeskripsikan Vitex glabrata R.Br.)
  5. de Kok, R. (2008). The Genus Vitex (Labiatae) in the Flora Malesiana Region, Excluding New Guinea. Kew Bulletin, 63, 17–40. (Revisi taksonomi penting genus Vitex di kawasan Malesia). 
  6. Bramley, G.L.C. (2019). Flora Malesiana, Series I, Volume 23: Lamiaceae. Leiden: Flora Malesiana Foundation. 
  7. Plants of the World Online (POWO). Royal Botanic Gardens, Kew. Vitex glabrata R.Br. 
  8. International Plant Names Index (IPNI). Vitex glabrata R.Br. (Basis data nomenklatur tumbuhan internasional). 
  9. World Flora Online. Vitex glabrata R.Br. (Basis data flora dunia). 
  10. Backer, C.A. & Bakhuizen van den Brink Jr., R.C. (1965–1968). Flora of Java (Spermatophytes Only). Groningen: Noordhoff.
  11. Heyne, K. (1987, cetak ulang). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.
  12. Steenis, C.G.G.J. van (Ed.). Flora Malesiana. Leiden: Noordhoff-Kolff.
  13. United States Department of Agriculture (USDA). Plant Profile.

Penulis : Ndandung Kumolo Adi


Jumat, 17 Juli 2026

Peresmian Perbaikan Jembatan Progo, 17 Juni 1951: Simbol Pemulihan Infrastruktur Pasca Revolusi

Foto. Peresmian Perbaikan Jembatan Progo, 17 Juni 1951 sumber dari buku 20 Tahun Indonesia Merdeka

Peresmian Perbaikan Jembatan Progo, 17 Juni 1951: Simbol Pemulihan Infrastruktur Pasca Revolusi

Ndandung Kumolo Adi 
Sejatininghidup.blogspot.com

Abstrak :
Artikel ini mengulas peresmian perbaikan Jembatan Progo pada 17 Juni 1951 sebagai salah satu tonggak penting dalam pemulihan infrastruktur transportasi di Indonesia setelah masa Revolusi Kemerdekaan. Melalui pendekatan sejarah dengan memanfaatkan sumber primer berupa dokumentasi dalam buku 20 Tahun Indonesia Merdeka serta sumber-sumber pendukung lainnya, kajian ini menjelaskan latar belakang kerusakan jembatan, proses perbaikannya, dan arti penting peresmiannya bagi kelancaran jalur transportasi di selatan Pulau Jawa. Kembalinya fungsi Jembatan Progo tidak hanya memperlancar mobilitas penumpang dan distribusi barang, tetapi juga mempercepat pemulihan aktivitas ekonomi serta memperkuat integrasi wilayah antara Yogyakarta, Kutoarjo, Purworejo, dan daerah sekitarnya. Peristiwa ini mencerminkan komitmen pemerintah Indonesia pada awal masa kemerdekaan dalam membangun kembali sarana dan prasarana strategis sebagai fondasi pembangunan nasional.

๐™…๐™š๐™ข๐™—๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™‹๐™ง๐™ค๐™œ๐™ค ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™œ๐™๐™ช๐™—๐™ช๐™ฃ๐™œ๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™๐™š๐™ก ๐™†๐™š๐™ง๐™š๐™ฉ๐™– ๐˜ผ๐™ฅ๐™ž ๐™”๐™ค๐™œ๐™ฎ๐™–๐™ ๐™–๐™ง๐™ฉ๐™– ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ ๐™ช๐™ฉ๐™ค๐™–๐™ง๐™Ÿ๐™ค ๐™™๐™ž๐™ง๐™ช๐™จ๐™–๐™  ๐™ค๐™ก๐™š๐™ ๐™๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ง๐™– ๐™„๐™ฃ๐™™๐™ค๐™ฃ๐™š๐™จ๐™ž๐™– ๐™Ž๐™–๐™–๐™ฉ ๐˜ผ๐™œ๐™ง๐™š๐™จ๐™ž ๐™ข๐™ž๐™ก๐™ž๐™ฉ๐™š๐™ง ๐™„๐™„ ๐˜ฝ๐™š๐™ก๐™–๐™ฃ๐™™๐™–
Jembatan Progo dirusak saat Agresi Militer Belanda ke- II. Untuk memperlambat laju Pasukan Belanda serta agar jalan rel tidak dapat dimanfaatkan Belanda, tentara Indonesia memutuskan untuk meledakkan salah satu abutment Jembatan Progo. Bom kemudian dipasang di abutment jembatan pihak Sedayu, lalu diledakkan. Akibatnya, abutment tersebut hancur, dan rangka jembatan melorot jatuh ke Sungai Progo di bawahnya, dalam posisi masih berdiri, tidak terjungkal ke sisinya. 

Setelah Pengakuan Kedaulatan oleh Belanda pada 27 Desember 1949, tiga bulan setelah demo pawai pelajar kutoarjo. proses perbaikan Jembatan Progo mulai dilakukan pada tahun 1950. Praktis sejak Agresi Militer Belanda hingga 1951, tidak ada kereta api yang melintas. Perbaikan dimulai dengan memperbaiki abutment jembatan. Setelah abutment selesai diperbaiki, rangka jembatan kemudian didongkrak naik dari dasar sungai, lalu dipasang kembali ke abutmentnya.

Perbaikan Jembatan Progo selesai pada 17 Juni 1951. Dilakukan upacara sederhana, dengan lokomotif C2835 yang menarik rangkaian KLB sebagai KA Pertama yang melintasi Jembatan Progo setelah diperbaiki. Setelahnya, lalu-lintas KA antara Kutoarjo - Yogyakarta kembali normal.

Sumber : Peresmian Perbaikan Jembatan Progo, 17 Juni 1951. Sumber: 20 Tahun Indonesia Merdeka, Jilid V, Departemen Penerangan Republik Indonesia, Jakarta, 1965. 

De Overstrooming op Java: Banjir Besar Tahun 1861 di Kabupaten Kutoarjo dalam Kesaksian Surat Kabar Kolonial, Telegram Pemerintah Hindia Belanda, Instruksi Pemerintah Hindia Belanda, dan Laporan Teknik

Raden Saleh melukis karya yang dikenal dengan judul A Flood on Java/"Banjir di Pulau Jawa" (Eene Vloed op Java / Watersnood op Midden Java/"Bencana Banjir di Jawa Tengah") sekitar tahun 1862–1865. Lukisan tersebut menggambarkan banjir besar yang melanda Jawa Tengah setelah bencana Februari 1861

De Overstrooming op Java: Banjir Besar Tahun 1861 di Kabupaten Kutoarjo dalam Kesaksian Surat Kabar Kolonial, Telegram Pemerintah Hindia Belanda, Instruksi Pemerintah Hindia Belanda, dan Laporan Teknik

Ndandung Kumolo Adi 
Sejatininghidup02.blogspot.com

Abstrak :
Artikel ini mengkaji peristiwa banjir besar yang melanda Jawa bagian selatan, khususnya Karesidenan Bagelen, pada Februari 1861 dengan memberikan perhatian khusus pada wilayah Eks Kabupaten Kutoarjo. Kajian disusun melalui sintesis berbagai sumber primer kolonial, yaitu Javaasche Courant, Java Bode, Bataviaasch Handelsblad, Oostpost Soerabayasche Courant, Nieuwe Rotterdamsche Courant, Koloniaal Verslag 1861, Gedenkboek van den Watersnood in 1861, serta didukung karya Jhr. P.J. Boreel (1901) dan Van Doorn (1926). Hasil kajian menunjukkan bahwa bencana diawali oleh anomali iklim berupa kemarau panjang pada akhir tahun 1860 yang diikuti badai dan hujan ekstrem pada 19–23 Februari 1861. Kondisi tersebut menyebabkan meluapnya sungai-sungai utama di Jawa Tengah bagian selatan, terutama Sungai Bogowonto, Jali, dan Tepus, dan sebagainya sehingga menimbulkan kerusakan besar pada permukiman, lahan pertanian, jaringan transportasi, serta mengakibatkan ratusan korban jiwa.
Kajian ini juga menunjukkan bahwa Kabupaten Kutoarjo merupakan salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah di Karesidenan Bagelen. Besarnya bencana tersebut mendorong pemerintah kolonial bersama para bupati di wilayah Bagelen untuk membenahi sistem pengelolaan air melalui pembangunan bendung, sodetan sungai, saluran drainase, dan kanal pengendali banjir. Di Kabupaten Kutoarjo, upaya tersebut diwujudkan melalui penataan aliran Sungai Jali dan pembangunan Kanal Saudagaran yang berkembang pada masa pemerintahan Bupati Pangeran Adipati Poerboatmodjo (1870–1910). Berdasarkan sumber-sumber kolonial, Pangeran Poerboatmodjo juga dikenal aktif dalam organisasi yang bergerak di bidang pengelolaan lingkungan dan kehutanan di Hindia Belanda, beliau satu-satunya Bumiputera yang tergabung dalam organisasi tersebut. Beliau menunjukkan perhatian terhadap pengelolaan sumber daya alam pada masanya. Dengan demikian, banjir tahun 1861 tidak hanya menjadi salah satu bencana hidrologi terbesar di Jawa Tengah pada abad ke-19, tetapi juga menjadi titik penting dalam sejarah lingkungan serta mendorong perkembangan infrastruktur pengendalian banjir di wilayah eks Kabupaten Kutoarjo.

Indonesia merupakan wilayah yang secara alamiah rawan terhadap bencana karena kondisi geografis dan geologinya. Terletak di pertemuan beberapa lempeng tektonik serta memiliki sistem hidrologi yang kompleks, Indonesia memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai peristiwa alam ekstrem, termasuk bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor (Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2025). Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, bencana didefinisikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan serta penghidupan masyarakat (Tanoyo & Sari, 2022).

Meskipun demikian, kajian mengenai sejarah bencana di Indonesia, khususnya yang terjadi sebelum abad ke-20, masih relatif sedikit dan bersifat terfragmentasi. Pemahaman mengenai bagaimana masyarakat masa lalu merespons serta beradaptasi terhadap bencana dalam kerangka politik dan sosial yang dibentuk oleh kekuasaan kolonial juga masih belum komprehensif. Kurangnya perhatian terhadap kajian ini menyebabkan hilangnya berbagai informasi berharga mengenai ketahanan masyarakat lokal, respons sosial, serta dampak ekonomi jangka panjang yang dibentuk oleh dinamika bencana di masa lalu.

Salah satu peristiwa hidrometeorologi terbesar yang belum memperoleh perhatian akademik secara proporsional adalah banjir besar dan tanah longsor yang melanda wilayah selatan Pulau Jawa pada 21–23 Februari 1861 (Quack, 1862; Watersnood, 1861). Dalam arsip kolonial, peristiwa ini dikenal dengan sebutan Watersnood (bencana banjir besar). Berbagai surat kabar kolonial, seperti Javasche Courant dan Java Bode, mengonfirmasi bahwa bencana tersebut terjadi secara bersamaan di lima karesidenan utama, yaitu Surakarta, Yogyakarta, Kedu, Banyumas, dan Bagelen (Binnenlandsche Berigten, 1861; Watersnood, 1861; Watersnood op Java, 1861).

Bencana ini dipicu oleh meluapnya sejumlah sungai besar, antara lain Bengawan Solo, Serayu, Progo, dan Bogowonto, yang mengakibatkan kerusakan luas pada permukiman, lahan persawahan, serta berbagai infrastruktur penting. Selain menimbulkan kerusakan fisik yang besar, banjir tersebut juga menyebabkan hilangnya harta benda dan banyak korban jiwa (Batavia, 1861).

Ironisnya, besarnya dampak bencana tersebut tidak menjadikan peristiwa tahun 1861 sebagai Kekuatan banjir yang sangat dahsyat mengubah bentang alam Karesidenan Bagelen. Arus air membawa gelondongan kayu, semak belukar, serta berbagai material berat yang menghancurkan segala sesuatu yang dilaluinya (Batavia, 1861b).

Dampak langsung banjir sangat parah dan meluas. Selain menimbulkan banyak korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan kerusakan besar terhadap infrastruktur di seluruh wilayah karesidenan. Distrik Kutoarjo, Prembun, dan Kebumen dilaporkan mengalami kerusakan yang sangat berat. Bahkan Kutoarjo digambarkan dalam laporan kolonial sebagai wilayah yang "hampir terhapus dari muka bumi" (Binnenlandsche Berigten, 1861; Quack, 1862).

Rabu, 15 Juli 2026

Kritik Sumber Sejarah: Menelaah Artikel "Het aanstellen van voorname Inlandsche hoofden" dalam Het Soerabaiasch Handelsblad (1884): Kasus Bupati Sawunggaling dan Bupati Soerokoesoemo di Kutoarjo

Het Soerabaiasch Handelsblad
Verschijnt dagelijks, zon- en feestdagen uitgezonderd
(Terbit setiap hari, kecuali hari Minggu dan hari raya)
32ste Jaargang (Tahun ke-32)
Donderdag, 20 November 1884
No. 269

 Kritik Sumber Sejarah: Menelaah Artikel "Het aanstellen van voorname Inlandsche hoofden" dalam Het Soerabaiasch Handelsblad (1884): Kasus Bupati Sawunggaling dan Bupati Soerokoesoemo di Kutoarjo

Ndandung Kumolo Adi
Senatininghidup02.blogspot.com

Abstrak :
Artikel ini mengkaji secara kritis artikel berjudul "Het aanstellen van voorname Inlandsche hoofden" yang dimuat dalam Het Soerabaiasch Handelsblad tahun 1884 sebagai salah satu sumber sejarah kolonial mengenai pengangkatan pejabat pribumi. Fokus kajian diarahkan pada pemberitaan yang berkaitan dengan Bupati Sawunggaling dan Bupati Soerokoesoemo di Kutoarjo.
 Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kritik sumber, meliputi kritik eksternal untuk menilai keaslian dan konteks penerbitan surat kabar serta kritik internal untuk menganalisis isi, sudut pandang penulis, dan tingkat kredibilitas informasinya. Hasil kajian menunjukkan bahwa artikel tersebut merupakan tulisan opini yang memuat argumentasi dan kritik terhadap kebijakan pengangkatan kepala pribumi, sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah tanpa didukung oleh sumber-sumber primer lainnya. Informasi mengenai Sawunggaling dan Soerokoesoemo perlu diverifikasi melalui arsip pemerintahan kolonial, besluit, staatsblad, laporan residen, serta sumber sezaman lainnya agar diperoleh rekonstruksi sejarah yang lebih objektif. Kajian ini menegaskan pentingnya kritik sumber dalam penelitian sejarah untuk membedakan antara fakta, opini, dan interpretasi yang terdapat dalam surat kabar kolonial, sehingga penulisan sejarah lokal Kutoarjo dapat disusun secara lebih akurat, kritis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Sumber Koran : Het Soerabaiasch Handelsblad, Tahun ke-32, No. 269, Kamis, 20 November 1884, artikel "Het aanstellen van voorname Inlandsche hoofden" ("Pengangkatan Para Kepala Bumiputra Terkemuka"). merupakan surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Surabaya dan menjadi sumber primer sezaman. Koran-koran Belanda seperti ini memang lazim digunakan dalam penelitian sejarah kolonial.
Menyebutkan Nama Bupati Kutoarjo yaitu Raden Toemenggoeng Ario Soerokoesomo dan Raden Toemenggoeng Sawunggaling saat gelar mereka belum Adipati.

Isinya sebagai berikut :

Het aanstellen van voorname Inlandsche hoofden

De maleische bladen hebben de eigenaardigheid, dat ze zich bizonder veel bemoeien met het aanstellen, ontslaan en bevorderen van inlandsche hoofden, nog vrij wat meer dan de in de hollandsche taal, welke hier worden uitgegeven, zich bezig houden met de mutatiรซn in de europeesche ambtenaarswereld.

In den regel zit er bij die inlandsche beschouwingen wat achter en heeft men twee partijen, die ieder hunnen kandidaat aanprijzen en dien van de andere zijde trachten te negeren, in geval van vacatures.

Wij gelooven niet, dat deze tactiek ter bevordering van het eigenbelang bizonder veel geeft, maar toch wordt ze onvermoeid voortgezet, zoodat er slechts eene betrekking, welke ook, vacant is, die van dorpshoofd zelfs dikwijls niet uitgezonderd.

Van dat gearrewar en gescharrel behoeft de europeesche pers gewoonlijk geene notitie te nemen, doch we vonden in de Maleische Bazuin van 18 November een artikel, dat ook wel dat onderwerp behandelt, maar anders dan gewoonlijk, en daarom onze aandacht trok en hier genoemd wordt.

De schrijver, die zich voor deze gelegenheid den weidschen naam van Goentoer Atmodjo heeft gegeven, is nogal vrijloopig.

Als stelling werpt hij op, dat het beter is, als de regeering de ancienniteit volgt in het benoemen van regenten of de gouverneur-generaal daarbij zijn geheugen raadpleegt omtrent oude, bewezen diensten onder de inlandsche ambtenaren, dan wanneer de voordrachten der hoofden van gewestelijk bestuur worden in aanmerking genomen en daarnaar gehandeld.

In het laatste geval loopt de keus dikwijls verkeerd uit en tot bewijs daarvan haalt Goentoer Atmodjo de volgende voorbeelden aan:

Adipati Mangoenkoesoemo, regent van Ledok, bleek niet voor zijne taak berekend en werd op onderstand geplaatst. Van zijne nakomelingen kan men weinig of geene verwachting hebben en onder hen is tot heden niemand, die tot regent kan worden bevorderd.

Adipati Ario Djojodiningrat, regent van Karang-anjar, is gepensioneerd, omdat de dienst hem te zwaar viel en is op die plaats door geen zijner zonen opgevolgd als Toemenggoeng.

Toemenggoeng Ario Soerokoesoemo, regent van Koetoardjo, werd op onderstand geplaatst en geen van zijne kinderen is tot zijn opvolger gekozen.

Pangรฉran Blitar, regent van Ambal, kwam op onderstand, maar had onder zijne nakomelingschap geen opvolger.

Raden Adipati Poerbonegoro, voorzien van de gouden medaille, stierf, doch van zijne zonen is niemand tot heden regent kunnen worden.

Met de spruiten van Raden Toemenggoeng Sacoenggaling, regent van Koetoardjo, ging het niet beter.

Daarna houdt Goentoer Atmodjo eene vrij lange en overbodige redeneering over regentszonen, die in aanmerking zouden kunnen komen voor het regentschap van Ponorogo en haalt er zelfs den Solooschen prins Raden Mas Soesaryo bij, die, omdat hij in Holland geweest is en daar aan den koning is voorgesteld.

Dat betoog heeft wel iets van een sindirian (eene bespottelijke toespeling, voor den Europeaan dikwijls moeilijk te vatten, omdat hij met familieverhoudingen niet voldoende bekend is en bezwaarlijk kan nagaan, wanneer de inlander den ernst laat varen, om aan de spotternij te beginnen).

Doch wat er ook moge gebeuren, zegt de schrijver, laat ons vertrouwen op den Gouverneur-Generaal, die overwegingen voert, waar geen mensch in de wereld bij kan. Juist een inval voor een inlander.

En dan tracht hij nog den landvoogd lekker te maken, door te zeggen:

"O, onze Excellentie van Rees is zulk een edel mensch! Toen hij van de Bagelen naar Soerabaja ging, nam hij een paar inlandsche ambtenaren mede en zorgde daar verder voor hun welzijn. Hij houdt er van hen te helpen, met wie reeds lang bekend is. Ook Goentoer Atmodjo verhief hij van mangga tos, mantri. Maka kita bilang jang Kangdjeng toean besar Gouverneur-Generaal jang baroe ini lebih jang boekan-boekan, mendjadi kasenengannja hamba-hambanja di Ned.-India, soepaja boleh tersiar dalem Ned.-India, bahwa dapet pendjadjian tatkala sekarang berdiri Radja moeda Nederlandsch-Indiรซ enz.! enz.! enz.!"

Dat alles is zeer fraai en voorzeker zal van het bestuur van van Rees misschien niet een der schitterendste maar zeker eene der verdienstelijkste lichtzijden zijn: het in de bres springen voor het geringe, onaanzienlijke ambtenaartje tegenover zijne groote en machtige chefs, zooals nu reeds herhaaldelijk is gebleken, recht doende aan den kant, waar het was.

Maar daarom kunnen wij den schrijver geen gelijk geven, dat de gouverneur-generaal in het aanstellen van inlandsche hoofden slechts zijne reminiscentiรซn zou hebben te raadplegen, en geen acht te slaan op de voordrachten.

Het is reeds zoovele jaren geleden sedert de heer van Rees resident was en sedert dien tijd kan met de inlandsche hoofden, die hij als ambtenaar leerde kennen, zooveel gebeurd zijn, dat dit vertrouwen op het geheugen, hoe sterk dat moge wezen, hem wel eens in de keuze der personen zou kunnen doen mistasten.

Als regel moet worden aangenomen, dat de resident, die voordraagt, dit doet naar zijn beste weten en in het belang van land, volk en regeering, en dat daaraan volgende, zoover dit met dat belang niet in strijd komt.

En daarvan uitgaande, dient evenzeer als regel te gelden, dat de voorgedragene wordt benoemd.

U.

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia :

"Pengangkatan Para Kepala Bumiputra Terkemuka

Surat kabar-surat kabar berbahasa Melayu memiliki kebiasaan yang khas, yaitu sangat sering mencampuri urusan pengangkatan, pemberhentian, dan kenaikan jabatan para kepala bumiputra. Bahkan, perhatian mereka terhadap hal itu jauh lebih besar dibandingkan surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Hindia Belanda, yang lebih banyak membahas mutasi di kalangan pegawai Eropa.

Pada umumnya, di balik pembahasan tersebut terdapat kepentingan tertentu. Biasanya muncul dua kelompok yang masing-masing mengajukan calon mereka sendiri, sambil berusaha menjatuhkan calon dari pihak lain apabila terjadi kekosongan jabatan.

Kami tidak percaya bahwa cara seperti itu banyak memberikan manfaat bagi kepentingan umum. Namun praktik tersebut terus dilakukan tanpa henti, sehingga hampir setiap jabatan yang lowong, bahkan jabatan kepala desa sekalipun, menjadi sasaran perebutan.

Pers Eropa biasanya tidak perlu memperhatikan segala keributan dan intrik semacam itu. Akan tetapi, kami menemukan sebuah artikel dalam Maleische Bazuin edisi 18 November yang membahas persoalan tersebut dengan cara yang berbeda dari biasanya. Karena itulah artikel tersebut menarik perhatian kami.

Penulisnya, yang untuk kesempatan ini menggunakan nama samaran Goentoer Atmodjo, mengemukakan pendapat yang cukup bebas.

Ia berpendapat bahwa akan lebih baik apabila pemerintah mengikuti asas senioritas dalam mengangkat para bupati, atau Gubernur Jenderal menggunakan ingatannya terhadap jasa-jasa lama yang telah dibuktikan oleh para pejabat bumiputra, daripada mengikuti usulan para kepala pemerintahan daerah (residen).

Menurutnya, apabila usulan para pejabat daerah dijadikan dasar pengangkatan, sering kali pilihan yang diambil justru keliru. Sebagai bukti, ia memberikan beberapa contoh.

Adipati Mangoenkoesoemo, Bupati Ledok, ternyata tidak cakap menjalankan tugasnya sehingga diberhentikan dengan memperoleh tunjangan pensiun (onderstand). Dari keturunannya pun hampir tidak ada harapan, dan hingga saat itu tidak seorang pun yang layak diangkat menjadi bupati.

Adipati Ario Djojodiningrat, Bupati Karanganyar, dipensiunkan karena merasa tugasnya terlalu berat. Setelah itu tidak seorang pun dari putra-putranya yang menggantikannya sebagai tumenggung.

Tumenggung Ario Soerokoesoemo, Bupati Kutoarjo, juga diberhentikan dengan tunjangan, dan tidak seorang pun dari anak-anaknya dipilih sebagai penggantinya.

Pangeran Blitar, Bupati Ambal, juga diberhentikan dengan tunjangan, tetapi tidak mempunyai keturunan yang dapat menjadi penerusnya.

Raden Adipati Poerbonegoro, penerima medali emas, meninggal dunia. Namun, hingga saat itu tidak seorang pun dari putra-putranya berhasil menjadi bupati.

Nasib keturunan Raden Tumenggung Sawoenggaling, Bupati Kutoarjo, juga tidak lebih baik.

Selanjutnya, Goentoer Atmodjo mengemukakan uraian yang cukup panjang mengenai para putra bupati yang dianggap layak menduduki jabatan Bupati Ponorogo. Ia bahkan menyinggung seorang pangeran dari Surakarta, Raden Mas Soesaryo, hanya karena yang bersangkutan pernah pergi ke Belanda dan diperkenalkan kepada Raja Belanda.

Pendapat tersebut mengandung unsur sindiran, yang bagi orang Eropa sering kali sulit dipahami karena mereka kurang mengenal hubungan kekeluargaan di kalangan bumiputra dan sulit membedakan kapan seseorang berbicara dengan sungguh-sungguh atau sedang menyindir.

Namun demikian, kata penulis itu, apa pun yang terjadi, kita hendaknya percaya kepada Gubernur Jenderal, karena beliau memiliki pertimbangan yang tidak dapat diketahui oleh siapa pun. Menurut penulis artikel ini, anggapan seperti itu hanyalah cara berpikir khas orang bumiputra.

Kemudian ia berusaha memuji Gubernur Jenderal Van Rees dengan mengatakan bahwa Van Rees adalah seorang yang sangat mulia. Ketika dipindahkan dari Karesidenan Bagelen ke Surabaya, ia membawa beberapa pejabat bumiputra bersamanya dan tetap memperhatikan kesejahteraan mereka. Ia senang membantu orang-orang yang telah lama dikenalnya. Bahkan, menurut penulis itu, Goentoer Atmodjo sendiri pernah diangkat olehnya dari seorang mantri.

Penulis kemudian mengutip sebuah pujian dalam bahasa Melayu yang pada intinya menyatakan bahwa Gubernur Jenderal yang baru sangat menyayangi para pegawai bumiputra di Hindia Belanda sehingga namanya akan selalu dikenang.

Semua itu memang terdengar indah. Bahkan, bisa jadi salah satu sisi terbaik dari pemerintahan Van Rees adalah kesediaannya membela pegawai kecil yang tidak memiliki kedudukan tinggi ketika mereka diperlakukan tidak adil oleh atasan-atasannya yang lebih berkuasa. Hal itu, menurut penulis, memang telah beberapa kali terbukti.

Akan tetapi, kami tidak sependapat dengan penulis tersebut apabila ia menghendaki agar Gubernur Jenderal mengangkat para kepala bumiputra hanya berdasarkan ingatan pribadinya terhadap orang-orang yang pernah dikenalnya, tanpa memperhatikan usulan resmi dari para residen.

Sudah bertahun-tahun berlalu sejak Van Rees menjabat sebagai residen. Selama waktu itu, banyak perubahan yang mungkin telah terjadi pada para pejabat bumiputra yang dahulu dikenalnya. Karena itu, jika hanya mengandalkan ingatan, betapapun kuatnya, bukan tidak mungkin ia akan keliru dalam memilih orang.

Sebagai suatu prinsip, harus diasumsikan bahwa seorang residen mengajukan calon berdasarkan pengetahuan terbaiknya serta demi kepentingan negara, rakyat, dan pemerintah. Oleh sebab itu, selama tidak bertentangan dengan kepentingan tersebut, usulan residen sepatutnya diikuti.

Dengan demikian, sebagai aturan umum, calon yang telah diajukan oleh residen seharusnya diangkat.

— U."


Catatan : Ini adalah artikel opini yang sedang mengkritik pendapat penulis lain (Goentoer Atmodjo). 

Berikut kesimpulannya:

1. Adipati Mangoenkoesoemo, Bupati Ledok

Artikel menyatakan:

"bleek niet voor zijne taak berekend en werd op onderstand geplaatst."

Artinya:

"dianggap tidak cocok atau tidak mampu menjalankan tugasnya sehingga diberhentikan dengan tunjangan (onderstand/pensiun)."

Namun artikel tidak menjelaskan alasan konkretnya. Tidak ada data apakah karena administrasi, politik, kesehatan, atau konflik dengan pemerintah kolonial.

2. Adipati Ario Djojodiningrat, Bupati Karanganyar

Artikel menyebut:

"is gepensioneerd, omdat de dienst hem te zwaar viel."

Artinya:

"dipensiunkan karena tugas dinilai terlalu berat baginya."

Kalimat ini menunjukkan alasan resmi adalah ketidakmampuan melaksanakan beban jabatan, tetapi lagi-lagi tanpa penjelasan rinci.

3. Tumenggung Ario Soerokoesoemo, Bupati Koetoardjo

Artikel hanya menyebut:

"werd op onderstand geplaatst."

Artinya:

 "diberhentikan dengan memperoleh tunjangan."

Tidak dijelaskan mengapa???..apa karena politik??, apa karena Tumenggung Soerokoesomo masih ada ikatan emosional dengan Perang jawa/Diponegoro??... Ini hanya hipotesis. Karena Hingga saat ini belum ditemukan sumber primer yang menjelaskan alasan Tumenggung Ario Soerokoesoemo ditempatkan dalam status op onderstand. Dugaan mengenai faktor politik, termasuk kemungkinan keterkaitan dengan warisan Perang Jawa, masih memerlukan pembuktian melalui arsip-arsip kolonial seperti Besluit Gubernur Jenderal, Arsip Karesidenan Bagelen, atau laporan Residen. Oleh karena itu, dugaan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai fakta sejarah.

Jadi, artikel tidak mengatakan Tumenggung Ario Soerokoesomoe tidak cakap. Itu hanya contoh yang dipakai Goentoer Atmodjo untuk menunjukkan bahwa keturunan bupati tidak otomatis layak menjadi pengganti.

Mengapa anak-anak mereka tidak menjadi bupati?

Menurut artikel, alasannya adalah : Pemerintah kolonial tidak lagi otomatis mengangkat putra bupati sebagai penerus.

Anak-anak mereka dianggap tidak memenuhi syarat atau tidak dipilih.

Jabatan bupati mulai lebih mempertimbangkan rekomendasi Residen dan keputusan Gubernur Jenderal daripada faktor keturunan.

Ini mencerminkan perubahan kebijakan kolonial pada akhir abad ke-19, ketika sistem pewarisan jabatan mulai dibatasi.

Bagaimana nasib keturunan Raden Tumenggung Sawunggaling Bupati Kutoarjo???..

Artikel hanya mengatakan:

"Met de spruiten van Raden Toemenggoeng Sawoenggaling, regent van Koetoardjo, ging het niet beter."

Artinya:

 "Nasib keturunan Raden Tumenggung Sawunggaling, Bupati Kutoarjo, juga tidak lebih baik."

Maknanya adalah: Tidak ada putra atau keturunannya yang berhasil menjadi Bupati Kutoarjo.

Penulis tidak menjelaskan lebih lanjut apakah mereka menjadi wedana, patih, atau pejabat lain.

Artikel koran Het Soerabaiasch Handelsblad. 20 November 1884. Tahun ke-32, No. 269. "Het aanstellen van voorname Inlandsche hoofden." Soerabaja: Kolff & Co sebenarnya sedang membahas perdebatan mengenai sistem pengangkatan bupati, bukan biografi para bupati tersebut.

Pesan utamanya adalah :

1. Penulis Goentoer Atmodjo menganggap pemerintah seharusnya lebih menghargai jasa keluarga para bupati lama.

2. Redaksi surat kabar Belanda menolak pendapat itu dan berpendapat bahwa pengangkatan harus berdasarkan rekomendasi Residen dan kemampuan calon, bukan karena keturunan.

3. Contoh Bupati Ledok, Karanganyar, Kutoarjo, Ambal, dan keturunan Sawunggaling dipakai sebagai argumen dalam perdebatan politik kolonial, sehingga tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta objektif mengenai kualitas pribadi mereka.

Untuk penelitian sejarah Kutoarjo, artikel ini lebih tepat digunakan sebagai sumber mengenai kebijakan kolonial terhadap suksesi jabatan bupati, bukan sebagai bukti bahwa para bupati tersebut benar-benar gagal atau bahwa keturunannya tidak kompeten. 


By. Ndandung kumolo adi

Sumber Referensi : Het Soerabaiasch Handelsblad. 20 November 1884. Tahun ke-32, No. 269. "Het aanstellen van voorname Inlandsche hoofden." Soerabaja: Kolff & Co

Kutoarjo

Makam R.M. Ketomenggolo (R.M. Sulaiman/Mbah Tursuli) di Desa Tursino: Jejak Genealogi Keturunan Mataram Islam di Purworejo

Foto: Makam R.M. Ketomenggolo (R.M. Sulaiman/Mbah Tursuli) di Makam Ketileng Desa Tursino.  Pohon Ketileng (Vitex glabrata R.Br.) ada di dek...

Kutoarjo