Powered By Blogger

Jumat, 29 Agustus 2025

Pawai pelajar Kutoarjo 19 Oktober 1949, sebagai Demo Pelajar Perdana setelah Agresi Militer Belanda II menjadi salah satu elemen penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia.

 PELAJAR KUTOARJO MELAKUKAN DEMO PERDANA BAGI INDONESIA

 

Foto. Demo pelajar pertama pasca Agresi Militer 2 guna memberi semangat juang Tentara Genie Pelajar dan Tentara Republik Indonesia yang menghasilkan pengakuan secara resmi Kedaulatan Indonesia tiga bulan kemudian, Kutoarjo, 19 Oktober 1949 Sumber : National Archief via dan Wereldmuseum Roterdam Belanda.

Pawai pelajar Kutoarjo, sebagai Demo Pelajar Perdana setelah Agresi Militer Belanda II  menjadi salah satu elemen penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia. Pada 19 Oktober 1949, di tengah suasana yang masih dipenuhi ketegangan pasca Agresi Militer Belanda II, sekelompok pelajar di Kutoarjo, Jawa Tengah atau di Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa tengah, turun ke jalan dengan penuh semangat. Mereka berbaris rapi, menggenggam bendera Merah Putih dengan gagah, melangkah pasti di jalanan berdebu, diapit oleh rimbunan pepohonan yang menjadi saksi bisu sebuah perlawanan tanpa senjata. Ini bukan sekadar pawai biasa, melainkan sebuah pernyataan sikap, sebuah bentuk dukungan nyata bagi Tentara Genie Pelajar (TGP) dan Tentara Republik Indonesia (TRI) yang saat itu masih berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa dari rongrongan kekuatan asing. Perjuangan Tanpa Senjata, Suara dari Generasi Muda waktu itu Indonesia masih berada dalam tekanan Belanda yang enggan sepenuhnya melepaskan kekuasaannya. Meskipun perjanjian-perjanjian diplomatik telah dilakukan, tekanan militer dan upaya mempertahankan kolonialisme masih berlanjut. Para tentara Republik, baik yang berasal dari kesatuan reguler maupun pejuang-pejuang rakyat seperti Tentara Genie Pelajar (TGP), terus berperang dengan segala keterbatasan.

Pada hari Rabu tanggal 6 April 1949 sekitar jam 4. 30 WIB Pagi pos Tentara Pelajar di Desa Bonorowo digerebek Belanda dan tertangkap 2 orang anggota tentara Pelajar yaitu : Darwono dan,Sukowardoyo lainnya seperti Sutarman dan Abdul Majid berhasil meloloskan diri, lalu Sutarman dan Abdul Majid menggabungkan diri ke Sie II Kie III Det III Brigade 17 di Desa Wareng kecamatan Butuh, serta nantinya kedua orang tersebut Gugur saat serangan Belanda ke Desa Wareng hari Selasa tanggal 19 April 1949.

Sedangkan Darwono dan Sukowardoyo oleh satuan Regu Anjing NICA ( orang pribumi Indonesia yang berkhianat menjadi tentara Belanda) di bawa ke Sungai Gebang yang pada waktu itu banjir pada hari Sabtu tanggal 9 April 1949 dengan tangan di ikat ke belakang dan dipukuli dengan Popor bedil dan bayonet lalu ditembak mati, jenazahnya dihanyutkan ke dalam sungai yang banjir serta jasadnya tidak bisa ditemukan.

Sesuai keputusan Rapat staf Kie II Det III bulan April 1949 di desa mlaran gebang untuk membentuk Sie Mobil guna melakukan penghadangan-penghadangan di daerah Gombong Dan sumpyuh, serta menetapkan sie II sebagai intinya. Maka komandan kie Wijono dan wakompi/Kastaf Imam pratignyo berangkat ke sumpyuh dikawal oleh Sudiharjo sumo. Berangkat hari Senin tanggal 18 April 1949, Sebelum berangkat mengambil bom tarik (trekbom) di Rumah Harjadi di Desa Ketawang, Kecamatan Grabag kemudian meneruskan perjalanan ke sumpyuh, akan tetapi karena kemalaman di jalan maka rombongan mampir bermalam di Desa Wareng kecamatan Butuh.

Komandan Markas Tentara Pelajar Sie II Kie III Det III Brigade 17 di Desa Wareng pada waktu itu bernama Roesnadi melaporkan bahwa pasukan tentara pelajar Sie II dipimpin Komandannya Sumardi telah berangkat pagi hari Senin 18 April 1949 ke Sumpyuh.

Komandan Kie Wijono, Wakompi Imam Pratignyo, dan Sudiharjo dipersilahkan menginap di kelurahan setelah di jamu makam oleh pak lurah Desa Wareng bapak Fannani dan istrinya kemudian mereka berempat bermain bridge hingga larut malam sekitar jam 1.00, akhirnya tamunya tidak tahan menahan kantuk dan merebahkan diri di bale-bale. Rusnadi pamit pulang ke markas Sie II Kie III Det III Brigade 17 di rumah pak Carik Desa wareng yang bernama Karmin Somomihardjo, Karena Roesnadi merasa bertanggung jawab mengenai Peluru-peluru dan Bom yang dibawa rombongan tamunya.

Pagi harinya Selasa tanggal 19 April 1949 sekitar jam 4. 30 Pagi terjadi penggerebekan pasukan Belanda bersama anjing NICA nya di Desa Wareng dengan kekuatan kurang lebih satu kompi, lalu mereka menggeledah rumah-rumah penduduk yang dijadikan Markas sie II Kie III Det III Brigade 17, Komandan Sie II Kie III Det III Brigade 17 Rusnadi tertangkap dan diikat tangganya lalu dipukuli dengan popor bedil dan dipaksa dengan ancaman Bayonet untuk menunjukkan rumah-rumah penduduk yang menjadi markas Tentara Pelajar.

Berkat jiwa Kepahlawanan dan Patriotisme juga Kesetiakawanan Komandan Sie II Kie III Det III Brigade 17 Roesnadi tidak mau berkhianat dengan menundukkan diri lalu dilewati saja rumah pak lurah desa wareng yang bernama pak Fannani dimana komandan kompi dan Kastaf masih tertidur pulas sekalipun mulut Roesnadi dirobek bayonet, Rusnadi tetap diam seribu bahasa supaya kawan-kawannya dan pak lurah selamat.
Jiwa Mulia Roesnadi patut di jadikan Suritauladan bagi Generasi muda serta patut diapresiasi oleh Bangsa dan Negara Republik Indonesia.
Anggota tentara pelajar lainnya yang tertangkap adalah Soeparto, Soetarman, dan Abdul Majid.
Soetarman berasal dari pos Tentara Pelajar di Tlogo Prembun yang lolos dalam penggerebekan Belanda di pos bonorowo akhirnya gugur di desa wareng, Sungkono yang kebetulan mandi di pagi buta melihat belanda sempat meloloskan diri dalam keadaan bugil, Martono yang tertangkap tentara Belanda selamat dengan menendang dada anjing NICA yang menawannya kemudian berlari secara zig zag di ikuti berondongan senapan tentara Belanda.
Dengan terdengarnya bunyi senapan maka rombongan tamu yang berada di kelurahan wareng kediaman Pak Lurah Fannani yaitu Wijono, Imam Pratignyo, dan Sudiharjo terbangun dengan respon cepat langsung mengambil senapan terus keluar rumah dan oleh penduduk desa diberi tahu bahwa desa wareng digerebek Belanda lalu dengan waspada dan siaga penuh ketiga orang itu mendekati arah suara senapan setelah sampai di sluis wareng lalu mereka diberi tahu warga bahwa belanda telah pergi ke arah timur dengan membawa tawanan yaitu :

1. Roesnadi
2. Suparto
3. Sutarman,
4. Abdul Majid,
5. Carik desa wareng Karmin somomihardjo, dan
6. Bayan desa wareng yang bernama Wagirun mangundihardjo.

Mereka ber-enam telah dibawa Tentara Belanda ke Kutoarjo tetapi ditengah jalan di Desa Pringgoawijayan ke-6 orang itu ditembak mati jenazahnya di bawa oleh Penduduk Desa Wareng dan dimakamkan di desa wareng, lalu kerangka jenazah mereka dikumpulkan dan dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Mini yang di bangun oleh Paguyuban Bekas Tentara Pelajar Kedu

setelah peristiwa Selasa tanggal 19 April 1949 di wareng, para pelajar Kutoarjo tidak tinggal diam. Mereka sadar bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan di medan perang, tetapi juga melalui suara yang menggema di jalanan. Tujuh bulan setelah peristiwa Wareng, Pada tanggal 19 Oktober 1949 Dengan berani para pelajar mereka menggelar demonstrasi damai, menyuarakan semangat nasionalisme yang tak padam meski tekanan masih terasa begitu kuat. Pawai ini bukan hanya sekadar aksi spontan, melainkan wujud perlawanan terhadap upaya Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.

Foto. Demo pelajar pertama pasca Agresi Militer 2 guna memberi semangat juang Tentara Genie Pelajar dan Tentara Republik Indonesia yang menghasilkan pengakuan secara resmi Kedaulatan Indonesia tiga bulan kemudian, Kutoarjo, 19 Oktober 1949 Sumber : wereldmuseum Rotterdam dan National Archief via

 Didalam Sumber Dari wereldmuseum Rotterdam Belanda yang fotonya berjudul "De Dappere Generatie" yang artinya  Para Generasi Pemberani,

π˜Ώπ™š 𝙙𝙖π™₯π™₯π™šπ™§π™š π™œπ™šπ™£π™šπ™§π™–π™©π™žπ™š (𝙋𝙖𝙧𝙖 π™œπ™šπ™£π™šπ™§π™–π™¨π™ž π™‹π™šπ™’π™—π™šπ™§π™–π™£π™ž)

** Kutoarjo, Midden-Java, IndonesiΓ«, 1949.

"De dappere generatie".

   Het hijsen van de rood-witte vlag tijdens de Tweede Nederlandse Militaire Agressie in 1949 was een belangrijk moment in de geschiedenis van de Indonesische onafhankelijkheidsstrijd.
In 1949 werd, onder militaire druk vanuit Nederland, het hijsen van de rood-witte vlag een symbool van de geest van strijd en moed van Indonesische strijders in het hoofd bieden aan de Nederlandse militaire agressie.
Dit moment benadrukt ook de toewijding van IndonesiΓ« aan het behoud van zijn onafhankelijkheid.

Sumber : - wereldmuseum Rotterdam

Terjemahan Bahasa Indonesia :

Kutoarjo, Jawa Tengah, Indonesia, 1949.

"Para Generasi Pemberani".

   Pengibaran bendera merah putih pada masa Agresi Militer Belanda ke-2 pada tahun 1949 adalah momen penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pada Tahun 1949, di tengah tekanan militer dari Belanda,Pengibaran bendera merah putih ini menjadi simbol semangat perjuangan dan keberanian para pejuang Indonesia dalam menghadapi agresi militer Belanda.
Momen ini juga menegaskan komitmen Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya.

sumber ini dari wereldmuseum Rotterdam Belanda, foto dengan judul "De dappere generatie" Yang artinya generasi muda pemberani di kutoarjo tepatnya tanggal 19 Oktober 1949 setelah agresi militer Belanda II anak-anak pelajar kutoarjo melakukan pawai demo secara damai dan tidak anarkis tapi dengan berani membawa bendera merah putih keliling kutoarjo mereka umumnya berasal dari SMP grilya kutoarjo yang dulu adalah sekolah swasta dan digabung dengan SMP Negeri 2 Purworejo pada tanggal 1 Maret 1950 lalu menjadi SMP Negeri 1 kutoarjo sekarang bernama SMP Negeri 3 Purworejo, yang dulunya sebagian muridnya ikut bergerilya melawan Belanda. Pawai pelajar di kutoarjo tahun 1949 menjadi salah satu elemen penting pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda.
Semangat dan Komitmen anak-anak kutoarjo yang Berbuah Pengakuan.
Itu membuktikan bahwa generasi muda kutoarjo dari zaman dahulu adalah pemberani, cerdas, dan terukur

Dampak Pawai Pelajar dari Kutoarjo secara Nasional adalah Menyalakan Bara Semangat Perjuangan
Demonstrasi pelajar ini bukan hanya memberi semangat bagi para pejuang yang masih bertempur, tetapi juga menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Indonesia, termasuk generasi mudanya, tidak akan pernah tunduk pada penjajahan. Mereka ingin membuktikan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya tugas tentara, tetapi juga tanggung jawab seluruh rakyat. Semangat dan Komitmen Pelajar Kutoarjo Berbuah Pengakuan.

Tiga bulan setelah aksi ini, pada 27 Desember 1949, dunia akhirnya menyaksikan pengakuan resmi Belanda atas kedaulatan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag. Meski banyak faktor atau variabel dan element yang melatarbelakangi keputusan ini, semangat rakyat yang tak tergoyahkan, seperti yang ditunjukkan dalam pawai pelajar Kutoarjo, menjadi salah satu variabel dan elemen penting dalam perjuangan diplomasi bangsa Indonesia.

Sejarah sering kali ditulis oleh mereka yang mengangkat senjata, tetapi peristiwa di Kutoarjo (Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo) ini mengajarkan bahwa perlawanan juga bisa dilakukan dengan cara lain. Para pelajar ini, dengan langkah-langkah kecil mereka di jalanan desa, ikut menyumbang api perjuangan yang akhirnya membakar semangat bangsa hingga mencapai pengakuan kedaulatan.
Sampai sepanjang zaman dan sepanjang sejarah, pawai pelajar Kutoarjo tetap menjadi simbol bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya soal melawan penjajah dengan peluru, tetapi juga dengan keberanian menyuarakan kebenaran. Ini adalah pengingat bagi generasi penerus bahwa semangat patriotisme harus terus hidup, tak hanya dalam kenangan, tetapi juga dalam kiprah tindakan nyata untuk menjaga dan membangun negeri ini

SMP Gerilya Kutoarjo selalu menuntut agar diakui sebagai SMP Negeri. Untuk itu SMP Gerilya Kutoarjo dijadikan SMP cabang dari SMP Negeri 2 Purworejo di Kutoarjo, mulai tanggal 1 Maret 1950.

Ujian Akhir tahun (Ebta) pertama diselenggarakan tahun 1950. Semua naskah soal dari pusat namun penyelenggaraan dan pemeriksaannya oleh sekolah masing-masing. Pada tahun ajaran 1950/1951 diberlakukan dua macam instruksi dari departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang berisi :

Jumlah kelas di setiap SMP ditentukan oleh Kantor inspeksi (sekarang kantor wilayah), jumlahnya disesuaikan dengan keadaan ruangan belajar, sehingga pada umumnya jumlah muridnya berkurang.
SMP Negeri 2 Purworejo ditunjuk untuk menyelenggarakan Kursus Guru B K.G.B). Kursus ini mendidik para lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke SMTA untuk di didik selama satu tahun. Mereka dipersiapkan untuk menjadi guru SR. kegiatan kursus ini berlangsung sampai tahun pelajaran 1954/1955 dan dalam waktu sesingkat itu telah berhasil meluluskan 158 orang yang siap menjadi guru SR. Jumlah yang besar di Indonesia waktu itu.

Pada 1949, pelajar di Kutoarjo terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan, salah satunya dengan melakukan demo untuk menyemangati Tentara Genie Pelajar (TGP) dan Tentara Republik Indonesia (TRI) dalam menghadapi agresi Belanda. Selain itu, ada juga SMP Gerilya Kutoarjo yang berjuang untuk diakui sebagai SMP Negeri, dan sebagian muridnya ikut gerilya melawan tentara Belanda pasca-agresi militer kedua.
Berikut adalah beberapa detail mengenai pelajar Kutoarjo pada tahun 1949 :
Demo Pelajar : Pada 19 Oktober 1949, pelajar Kutoarjo mengadakan demo untuk memberikan semangat kepada para pejuang.
Peran dalam Perang Kemerdekaan:
Beberapa murid sekolah ikut serta dalam gerilya melawan tentara Belanda, menunjukkan semangat juang mereka.
SMP Gerilya Kutoarjo : Terdapat sebuah SMP Gerilya di Kutoarjo yang berjuang agar diakui sebagai SMP Negeri, yang akhirnya diakui sebagai cabang dari SMP Negeri 2 Purworejo mulai 1 Maret 1950.
Kondisi Belajar : Akibat pendudukan Belanda di Purworejo pada Desember 1949, sekolah ditutup dan beberapa murid belajar di pengungsian.
Pendidikan Guru : Setelah perang, sekolah juga berperan dalam mendidik para lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke SMTA menjadi calon guru Sekolah Rakyat (SR).

SMP Grilya Kutoarjo awalnya adalah sekolah Swasta yang sebagian muridnya ikut bergrilya melawan Belanda. SMP Grilya Kutoarjo juga berjuang agar diakui menjadi sekolah SMP Negeri dan resmi menjadi sekolah negeri dengan digabung dengan SMP Negeri 2 Purworejo dan menjadi cabang dari SMP Negeri 2 Purworejo pada tanggal 1 Maret 1950, dan tanggal 1 Maret 1950 menjadi Hari Ulang Tahun Sekolah SMP tersebut yang lalu disebut SMP Negeri 1 Kutoarjo yang sekarang menjadi SMP Negeri 3 Purworejo, beralamat di Jln Mardihusodo Kutoarjo. sesungguhnya sekolah tersebut sedikit lebih tua berdirinya.

Foto. SMP Grilya di Kutoarjo yang pada awalnya adalah sekolah swasta yang sebagian murid-muridnya ikut bergrilya melawan Belanda, sekolah swasta ini diperjuangkan untuk menjadi sekolah Negeri dan resmi digabungkan serta menjadi cabang dari SMP Negeri 2 Purworejo Pada tanggal 1 Maret 1950. akhirnya sekolah ini bernama SMP Negeri 1 kutoarjo dan sekarang bernama SMP Negeri 3 Purworejo

By. Ndandung Kumolo Adi

Sumber :

  1. National Archief via
  2. Wereldmuseum Roterdam Belanda
  3. Buku Sejarah Perjuangan Tentara Pelajar Sie II Kie III Det III Brigade 17 yang diterbitkan oleh Yayasan Bhakti Tentara Pelajar Kedu Jakarta.
  4. Wiwoho, Sejarah Tentara Pelajar di Kedu Selatan, transkripsi 1986.
  5. Subarno, pertempuran dan peristiwa yang dialami Tentara Pelajar di Purworejo dan sekitarnya transskiripsi 1987.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kutoarjo

Pawai pelajar Kutoarjo 19 Oktober 1949, sebagai Demo Pelajar Perdana setelah Agresi Militer Belanda II menjadi salah satu elemen penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia.

  PELAJAR KUTOARJO MELAKUKAN DEMO PERDANA BAGI INDONESIA   Foto. Demo pelajar pertama pasca Agresi Militer 2 guna memberi semangat juang Ten...

Kutoarjo