PENCITRAAN ALAMI VS PENCITRAAN BUATAN
Artikel ini membahas konsep pencitraan (self branding) dari sudut pandang etika dan nilai-nilai Islam. Pencitraan pada hakikatnya merupakan sesuatu yang bersifat netral, dapat terbentuk secara alami melalui akhlak, integritas, dan kontribusi seseorang, maupun dibangun secara sadar untuk tujuan tertentu. Dalam Islam, yang menjadi tolok ukur bukan sekadar citra yang tampak di hadapan manusia, melainkan keikhlasan niat, kesesuaian antara ucapan dan perbuatan, serta manfaat yang diberikan kepada sesama. Oleh karena itu, pencitraan yang dilandasi kejujuran, amanah, dan tujuan yang baik dapat menjadi sarana dakwah dan kemaslahatan, sedangkan pencitraan yang didorong oleh riya', kesombongan, atau manipulasi merupakan perilaku yang tercela.
(HR. Bukhari No. 1; Muslim No. 1907).
SELF BRANDING/Pencitraan adalah proses memasarkan diri dan karier melalui suatu citra yang dibentuk untuk khalayak umum. Citra ini kemudian dapat dipresentasikan lewat berbagai jalur, seperti media sosial, blog, situs web pribadi, hingga perilaku di depan umum.
SELF BRENDING/PENCITRAAN dibagi dua :
1. Alamiah atau NATURAL
2. DISAIN/Buatan Dalam sebuah kalimat, kata "desain" bisa digunakan, baik sebagai kata benda maupun kata kerja. Sebagai kata kerja, "desain" memiliki arti "proses untuk membuat dan menciptakan objek baru".
Self branding atau biasa disebut pencitraan itu bersifat netral, bisa dihasilkan secara natural /by nature, atau bisa juga secara disain /by design.
Orang orang yang menjadi Publik figur, tokoh, sesepuh, panutan, ulama, ustaz, diantara mereka yang dikenali pencitraannya atau self branding nya tercipta secara alamiah.
Terkenal karena dikenali masyarakat, sebagai penghormatan atas keilmuan atau penghargaan karena jiwanya yang luhur dan mulia bukan karena sengaja mengenalkan diri.
Sedangkan pencitraan by design, ini pola yang bersifat sengaja, dibuat karena keperluan branding, ingin dikenali.
Hanya, ada dua model :
1. dikenali karena ada unsur ambisi hawa nafsu setan yang didasari kesadaran rendah berupa Ego, ingin menang, ingin terkenal, atau ada unsur manipulasi, ingin menjatuhkan dan sebagainya.
2. dikenali karena dipayungi kesadaran murni yang luhur, bertujuan mulia. Atau karena ada kebutuhan untuk berbagi manfaat yang lebih luas dan besar. Tidak ada target penambahan jumlah followers atau simpatisan.
Maka, apapun realitanya suatu pencitraan, apakah secara alamiah atau secara buatan atau disain, yang utama adalah bersumber dari kesadaran yang luhur dan bertujuan realita manifestasi yang luhur.
Karena bagi yang berkesadaran luhur, realita apapun, penilaian apapun, respon apapun dari luar diri telah tersadari, dipahami, dimaklumi. Sebab akibat, takdir telah berada dalam keluasan kesadarannya, itu juga suatu kebenaran realita yang orang lain pun tidak bisa bantah.
Pencitraan bukanlah sesuatu yang otomatis baik ataupun buruk. Nilainya ditentukan oleh niat, kejujuran, serta kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Dalam Islam, citra terbaik adalah yang tumbuh secara alami dari akhlak mulia, amanah, dan amal saleh. Jika seseorang membangun citra untuk menyebarkan manfaat, ilmu, dan dakwah dengan niat yang ikhlas, maka hal itu dapat menjadi bagian dari amal kebajikan. Namun, apabila pencitraan didorong oleh riya', kesombongan, atau keinginan memperoleh pujian manusia, maka ia kehilangan nilai di sisi Allah.
By. N. Kumolo Adi

