TRAH MBAH SINGO KARYO: DIASPORA DARI KEPUNDUNG 1950, KROMO REJO, DAN KROMO SENTIKO DI TANAH RANTAU
Ndandung Kumolo Adi
Sejatininghidup02.blogspot.com
Artikel ini merupakan hasil penelusuran sejarah keluarga dan silsilah yang mencakup garis keturunan Mbah Singo Karyo, Kromo Rejo, Suro Taruno, Kromo Sentiko, dan Notodiharjo. Selain merekonstruksi hubungan kekerabatan, tulisan ini membahas asal-usul keluarga, perjalanan migrasi dan diaspora ke Pulau Sumatera, khususnya Lampung, serta proses terbentuknya permukiman dan kehidupan keluarga di tanah rantau.
Perpindahan keluarga dan kerabat tersebut berlangsung melalui berbagai jalur, antara lain kolonisasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda, transmigrasi pada masa Republik Indonesia, serta perantauan mandiri yang dilakukan oleh individu maupun keluarga. Perjalanan tersebut tidak hanya menghasilkan perpindahan geografis, tetapi juga melahirkan proses adaptasi sosial, ekonomi, budaya, dan perkawinan dengan masyarakat di lingkungan baru.
Kajian ini juga menguraikan desa-desa yang menjadi tempat bermukim para keturunan serta dinamika kehidupan mereka dalam membangun keluarga dan masyarakat. Dalam proses tersebut, para perantau Jawa tidak hidup dalam ruang yang terpisah dari masyarakat setempat, melainkan berinteraksi, beradaptasi, dan membangun hubungan sosial dengan masyarakat adat Lampung maupun kelompok masyarakat lainnya.
Penelitian ini disusun terutama berdasarkan sejarah lisan, berupa penuturan para sesepuh dan anggota keluarga yang masih hidup, kemudian dibandingkan dengan dokumen keluarga, arsip, serta sumber-sumber tertulis yang relevan. Keterangan dari berbagai narasumber digunakan secara kritis dengan membandingkan antara satu kesaksian dengan kesaksian lainnya. Oleh karena itu, tulisan ini berusaha membedakan antara informasi yang telah didukung dokumen atau sumber tertulis dengan informasi yang masih bersumber dari tradisi lisan keluarga.
Tujuan utama penulisan ini adalah mendokumentasikan sejarah keluarga, melestarikan ingatan kolektif, serta merekam pengalaman para leluhur dan generasi perantau dalam mempertahankan kehidupan, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan membangun keluarga di tanah rantau.
Penelusuran ini sekaligus menjadi upaya memahami nilai bibit, bebet, dan bobot dalam kebudayaan Jawa sebagai bagian dari pengetahuan sosial keluarga, tanpa menjadikannya sebagai ukuran untuk merendahkan kelompok masyarakat lainnya.
Para keturunan keluarga tetap berusaha memelihara berbagai unsur identitas budaya Jawa melalui bahasa, tata krama, adat-istiadat, semangat gotong royong, kepedulian sosial, tradisi berbagi dan bersedekah, slametan, serta kebiasaan saling membantu. Nilai-nilai tersebut berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan sosial di Lampung, sehingga identitas budaya tidak selalu bersifat statis, melainkan terus mengalami proses pewarisan dan perubahan antargenerasi.
Dalam kehidupan keluarga Muslim, nilai-nilai tersebut ditempatkan dalam kerangka ajaran Islam sebagai pedoman moral dan keagamaan.
Tulisan ini diharapkan dapat menjadi dokumentasi bagi generasi penerus untuk mengenal, memahami, dan menghargai sejarah keluarga, asal-usul leluhur, perjalanan migrasi dari tanah Jawa hingga menetap di Lampung, serta perjuangan generasi terdahulu dalam bertahan hidup, membangun keluarga, dan menciptakan kehidupan sosial di tanah rantau.
Lebih jauh, sejarah keluarga ini diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi internal keluarga, tetapi juga memberikan perspektif sosial-budaya mengenai diaspora Jawa di Lampung, khususnya mengenai migrasi, pembentukan permukiman, hubungan antarkelompok masyarakat, pewarisan budaya, dan pembentukan identitas generasi keturunan.
Kajian semacam ini dapat menjadi bahan awal bagi penelitian lebih lanjut dalam bidang sejarah lokal, genealogi, sejarah keluarga, migrasi penduduk, antropologi budaya, hubungan sosial antarkelompok, serta pelestarian identitas budaya masyarakat perantauan.
Singo Karyo; Kromo Rejo; Kromo Sentiko; Notodiharjo; Kepundung; diaspora Jawa; Lampung; sejarah keluarga; genealogi; migrasi; sejarah lisan; tanah rantau.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Terjemah:
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”
Ayat tersebut memberikan landasan penting bahwa keberagaman manusia, termasuk perbedaan bangsa, suku, keluarga, dan nasab, merupakan bagian dari kehidupan manusia yang dapat menjadi sarana untuk saling mengenal (lita'arafu).
Nasab adalah jalan untuk mengenal.
Mengenal siapa leluhur kita.
Mengenal dari mana keluarga berasal.
Mengenal bagaimana mereka menjalani kehidupan.
Mengenal bagaimana mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Mengenal bagaimana mereka membangun keluarga.
Dan yang tidak kalah penting, mengenal bagaimana generasi terdahulu bertahan menghadapi keadaan yang jauh berbeda dengan kehidupan kita sekarang.
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua.
Tulisan ini tidak mungkin dapat disusun hanya berdasarkan ingatan penulis. Banyak informasi diperoleh melalui cerita, kesaksian, penuturan, dokumen keluarga, serta berbagai keterangan dari para sesepuh yang masih hidup.
Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh saudara-saudari, keluarga, dan pihak-pihak yang telah memberikan informasi, khususnya kepada para narasumber keluarga yang bersedia diwawancarai, dimintai keterangan, diklarifikasi, dan diajak berdiskusi mengenai sejarah keluarga besar.
Di antara narasumber yang memberikan kontribusi penting antara lain:
- Simbah Mareno bin Singo Karyo;
- Mamak Ngatiyem binti Karyo Naroh bin Singo Karyo;
- Lek Legiyo bin Karyo Naroh bin Singo Karyo;
- Pak Sarju bin Notodiharjo;
- Pakde Suwondo bin Suwitodiharjo/Moghol bin Kromo Sentiko;
- Lik Sarwasih binti Notodiharjo;
- serta para sesepuh, anggota keluarga, dan narasumber lainnya yang memberikan informasi dalam proses penelusuran sejarah keluarga ini.
Para sesepuh tersebut mempunyai kedudukan penting dalam penelitian sejarah keluarga karena sebagian di antara mereka merupakan saksi hidup yang mengalami, mendengar langsung, atau menerima cerita dari generasi sebelumnya.
Namun demikian, kesaksian lisan tetap perlu ditempatkan secara hati-hati dalam penulisan sejarah. Sebuah cerita keluarga dapat memiliki nilai sejarah yang sangat penting, tetapi apabila hendak digunakan sebagai fakta historis yang lebih luas, informasi tersebut idealnya dibandingkan dengan sumber lain, seperti dokumen keluarga, arsip pemerintah, surat, akta, catatan desa, peta, surat kabar sezaman, maupun sumber primer lainnya.
Dengan cara demikian, penelusuran sejarah keluarga tidak berhenti pada cerita turun-temurun, tetapi secara bertahap dapat berkembang menjadi dokumentasi sejarah yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Kepada seluruh narasumber, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, umur panjang, keberkahan, dan keselamatan kepada para sesepuh keluarga yang masih diberi kesempatan untuk menyaksikan generasi keturunannya.
Nir sambikala. Aamiin.
Salah satu narasumber penting dalam penelusuran sejarah keluarga ini adalah Simbah Mareno bin Singo Karyo.
Selain sebagai bagian dari garis keturunan keluarga besar Singo Karyo, Simbah Mareno juga memiliki pengalaman langsung mengenai kehidupan para perantau Jawa di Lampung Selatan.
Dalam cerita yang disampaikan kepada penulis, Simbah Mareno merupakan salah satu orang yang ikut merintis dan membangun permukiman yang kemudian berkembang menjadi Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.
Kisah tersebut menjadi penting karena memperlihatkan bahwa perpindahan keluarga dari Pulau Jawa menuju Lampung bukan sekadar perpindahan tempat tinggal.
Mereka harus membuka lahan.
Membangun tempat tinggal.
Mencari sumber penghidupan.
Menyesuaikan diri dengan lingkungan alam.
Membangun hubungan dengan masyarakat sekitar.
Dan secara perlahan membentuk sebuah komunitas.
Dalam konteks seperti inilah istilah tanah rantau mempunyai makna yang sangat dalam.
Tanah rantau bukan sekadar tempat seseorang pergi mencari kehidupan.
Tanah rantau merupakan tempat seseorang mempertaruhkan masa depan keluarganya.
Di tempat baru tersebut, generasi pertama membangun kehidupan yang kemudian diwariskan kepada anak-anak dan cucu-cucunya.
Apa yang pada awalnya hanya berupa hutan dan lahan yang belum berkembang, perlahan berubah menjadi rumah, kebun, sawah, jalan, tempat ibadah, lingkungan sosial, dan akhirnya menjadi sebuah permukiman.
Karena itu, cerita mengenai perintisan Desa Gandri bukan hanya cerita tentang sebuah desa.
Ia juga merupakan bagian dari sejarah perjuangan para perantau yang membangun kehidupan baru di Lampung.
Dalam ingatan keluarga besar Singo Karyo, salah satu titik penting sejarah keluarga berada di Dusun Kepundung, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dari tempat inilah perjalanan salah satu cabang keluarga kemudian bergerak menuju Pulau Sumatera.
Perjalanan tersebut mencapai babak penting sekitar tahun 1950-an, ketika Mbah Karyo Naroh bin Singo Karyo datang ke Lampung Selatan secara mandiri.
Pada masa tersebut, Mbah Karyo Naroh masih berstatus bujang atau belum menikah.
Ia datang ke tanah rantau bukan dalam kondisi membawa kehidupan yang sudah mapan, melainkan sebagai seorang perantau yang berusaha mencari ruang kehidupan baru.
Orang tua, saudara, kerabat, dan keluarga yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya kemudian ikut berpindah dan membangun kehidupan di wilayah Lampung Selatan.
Perpindahan seperti ini merupakan salah satu bentuk migrasi berantai (chain migration), ketika seseorang atau beberapa orang membuka jalan terlebih dahulu, kemudian anggota keluarga atau kerabat lainnya mengikuti setelah mengetahui adanya peluang kehidupan di daerah tujuan.
Kadang-kadang ia dimulai dari satu orang.
Kemudian dua orang.
Lalu beberapa keluarga.
Selanjutnya berkembang menjadi komunitas.
Dan dalam beberapa generasi, komunitas tersebut dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat daerah tujuan.
Generasi pertama yang datang ke Lampung mungkin masih memandang Pulau Jawa sebagai tanah leluhur.
Cucu-cucu mereka lahir di Lampung.
Generasi berikutnya pun semakin memiliki keterikatan dengan tanah tempat mereka dibesarkan.
keturunan Jawa yang lahir dan tumbuh di Sumatera.
Dalam konteks masyarakat Jawa di Sumatera, istilah Puja Kesuma kemudian dikenal sebagai singkatan dari Putra Jawa Kelahiran Sumatera.
Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Tanah Jawa dapat menjadi tanah leluhur.
Lampung dapat menjadi tanah kelahiran dan tanah kehidupan.
Dengan demikian, seseorang tidak perlu memilih antara mencintai tanah leluhur dan mencintai tanah tempat ia hidup.
Keduanya dapat ditempatkan dalam hubungan yang saling melengkapi.
Ketika manusia berpindah tempat, yang ikut berpindah bukan hanya tubuhnya.
Mereka juga membawa:
- bahasa;
- nama keluarga;
- ingatan;
- tradisi;
- nilai moral;
- tata krama;
- pengetahuan pertanian;
- cara membangun rumah;
- cara bermasyarakat;
- makanan;
- kesenian;
- ritual sosial;
- serta keyakinan keagamaan.
Terjadi interaksi dengan lingkungan.
Terjadi perkawinan antarkelompok.
Terjadi pertukaran budaya.
Terjadi perubahan bahasa.
Terjadi perubahan mata pencaharian.
Dan perlahan terbentuk kebudayaan keluarga yang merupakan hasil pertemuan antara warisan leluhur dan pengalaman tanah rantau.
Karena itu, diaspora Jawa di Lampung tidak tepat dipahami hanya sebagai “orang Jawa yang dipindahkan dari Jawa ke Lampung”.
Lebih tepat jika dipahami sebagai sebuah proses sejarah yang panjang, yaitu proses migrasi, adaptasi, interaksi, perkawinan, pembentukan komunitas, dan pewarisan identitas lintas generasi.
Kisah Mbah Singo Karyo dan generasi sesudahnya bukan sekadar kisah keluarga.
Di dalamnya terdapat pelajaran tentang keberanian merantau, ketekunan bekerja, kemampuan beradaptasi, kepedulian kepada keluarga, dan perjuangan mempertahankan kehidupan.
Namun tantangan zaman telah berubah.
Generasi sekarang menghadapi globalisasi, perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan semakin cepatnya perubahan budaya.
Karena itu, perjuangan generasi sekarang bukan lagi sekadar membuka hutan untuk membangun rumah, tetapi juga membuka kembali ingatan untuk menyelamatkan sejarah keluarga.
Jika sejarah keluarga tidak segera dicatat ketika para sesepuh masih hidup, maka suatu hari cerita tersebut dapat hilang bersama mereka.
Bukan untuk membanggakan leluhur.
Bukan untuk merasa lebih tinggi daripada keluarga lain.
Bukan pula untuk menciptakan batas antara “kami” dan “mereka”.
Melainkan agar anak cucu mengetahui:
siapa dirinya, dari mana keluarganya berasal, bagaimana leluhurnya berjuang, dan nilai apa yang layak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dari Kepundung menuju Lampung.
Dari tanah leluhur menuju tanah rantau.
Dari satu generasi menuju generasi berikutnya.
- Sedekah Jariyah
- Ilmu yang bermanfaat
- Anak (cucu dan keturunan) yang selalu mendo'a-kan
- Sejarah berfungsi sebagai peneguh hati.
- Sejarah berfungsi sebagai pengajaran dan informasi. Sejarah merupakan Pendidikan (Ma'uidzah) Alloh terhadap kaum muslimin dan muslimat, sebagai peringatan dalam menjalani risalah Rasul. dalam surat al a'raf 176, Alloh SWT Berfirman : ...."maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah agar mereka berfikir". dengan Sejarah manusia di tuntut berpikir dalam arti menjadikan sejarah sebagai pelajaran dan peringatan untuk menentukan langkah selanjutnya.
- Sejarah berfungsi sebagai peringatan dan nasihat. selain menjelaskan fungsi sejarah, Al Qur'an juga menegaskan tentang akhir dari perjalanan sejarah. Sejarah juga berfungsi sebagai peringatan bagi generasi berikutnya melalui peristiwa yang menimpa generasi sebelumnya. (QS. 2:66 ; 4:84). Banyak ayat-ayat Al Qur'an yang memerintahkan untuk melakukan penelitian (tandzirun) terhadap peristiwa sejarah secara obyektif, ilmiah, dan sains history. (QS. 47:10 ; 12 : 109; 12 : 46).Melalui kajian sejarah yang kredibel, obyektif, akademik, dan bisa dipertanggungjawabkan maka peristiwa besar atau kecil akan disebut sejarah tapi bila tidak maka akan disebut dongeng belaka, mitos belaka, dan legenda belaka.
- Sejarah sebagai sumber kebenaran yang Obyektif dan Kredibel serta Tashdiq (membenarkan dan meneguhkan).Maksudnya adalah sejarah menjadi legalitas yang otentik (landasan kebenaran) dan petunjuk bagi manusia. orang yang memahami sejarah akan mengerti dan punya analisis yang logis bahwa kehidupan dimulai darimana, bagaimana menjalani hidup dan akan kemana tujuan hidup serta perjalanan hidup berakhir. jadi sejarah akan menerangi setiap langkah yang telah, sedang akan dijalani. (QS. 4 : 137-138 ; 12 : 111).
Trias Van Deventer atau terkenal dengan nama Trias Politika, istilah yang dikenal sebagai bentuk kebijakan politik etis dari Hindia Belanda. Kebijakan ini meliputi :
Namun, kebijakan politik Etis tetap memberikan dampak positif diantaranya :
b. Terbangunnya saluran irigasi
c. Terjadinya pemerataan penduduk
d. Berkat politik Etis memunculkan golongan elit baru yaitu kaum terdidik/Terpelajar yang kemudian mendirikan berbagai perkumpulan seperti Budi Utomo, Indische Partij, dan Sarekat Islam. Organisasi inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Nasionalisme, Kebangkitan Nasional, dan kemerdekaan Indonesia.
C. Th. Van Deventer mengusulkan adanya "hutang kehormatan" kepada Hindia Belanda atas eksploitasi yang telah dilakukan. Ia mengemukakan gagasan Politik Etis pada tahun 1890 untuk menyelamatkan hak-hak rakyat Indonesia. Gagasan Van Deventer ini mendapatkan dukungan dari Ratu Wilhelmina, yang kemudian mengeluarkan kebijakan Politik Etis pada 17 September 1901.
- Interpretasinya terhadap Agama Islam dan budaya di Jawa,
- Tidak mewakili Fakta Realitas masyarakat Jawa,
- Tidak mencerminkan dinamika sosial yang lebih kompleks,
- Pendekatan dan kajian serta penelitian Clifford Geetrz juga mengabaikan faktor-faktor struktural, ke-ilmu-an Agama Islam (Al Qur'an, Hadist, Sunnah Nabi, Itjma, Qiyas, Itjihad, Sejarah Islam, Riwayat para sahabat, Tafsir Para Fukoha dan Imam Mahzab, dsbnya)
- Pendekatan, kajian, dan penelitian mengabaikan faktor historis yang mempengaruhi budaya.
- Geertz memandang Agama Islam sebagai bagian integral dari sistem budaya, namun pandangan ini ditentang oleh ilmuwan-ilmuwan yang menekankan aspek-aspek sosial, politik, ekonomi dalam fenomena Agama Islam yang dianggap sebagai simbol semata.
Kepunahan Pengetahuan tentang Asal usul, Tentang Silsilah, Tentang Jati diri, tentang Bahasa ibu alias bahasa lokal leluhurnya atau Linguistik, tentang budaya, tentang norma-norma atau wewaler simbah-simbahnya atau leluhurnya dan sebagainya maka terjadi ketercabutan akar rumput, kehilangan jiwa sosial, kehilangan hati nurani, kehilangan kemanusiaan, kehilangan jati diri, kehilangan karakter, kehilangan adab sopan santun, termasuk kehilangan jati diri bangsa serta kehilangan rasa terimakasih, syukur, tata krama, dan tawaduk kepada generasi tua atau simbah-simbah dan leluhurnya. sehingga mereka sudah tidak mau ber-sosialisasi dengan saudara, tidak mau rewang, tidak mau sambatan, tidak mau gotong - royong, tidak mau takziah, tidak mau nyedulur, tidak mau menyambangi saudara, tidak mau menengok saudara yang sakit, tidak mau ziarah kubur, dan tidak mau silaturahmi akhirnya mereka menjadi tutup mata, Ego dan Apatis serta tertutup kepedulian dan mata hatinya dengan prinsip lho-lho gue-gue. salah satu bentuk sederhana rasa menghargai dan rasa terimakasih kepada simbah-simbahnya adalah mendoakan tapi lebih obyektik dan bisa dibuktikan real secara fisik dengan cara ziarah kubur, bersih makam, merawat makam.
Berikut ini istilah kekerabatan keluarga suku Jawa :
1. Sedulur (saudara)
Sedulur merupakan sebutan untuk saudara kandung atau sedarah. Saudara satu bapak ibu. Kakak laki-laki biasa dipanggil Mas, Kakang, Kangmas atau Raka. Kakak perempuan biasa dipanggil Mbak, Mbakyu. Adik laki-laki biasa disebut Adik, Dik, Dimas, Rayi. Adik perempuan biasa di panggil Adik, Diajeng, Jeng.
2. Misanan (sepupu)
Misanan merupakan sebutan sepupu dalam Bahasa Indonesia. Tunggal Simbah, Misal dua saudara dari ayah atau pun ibu yang masing masing memiliki anak, Ketika anak – anak mereka memanggil satu sama lain maka mereka memanggil satu sama lain dengan sebutan kakak atau adik sepupu.
3. Mindhoan
Mindhoan. Tunggal Buyut, adalah sebutan untuk anak dari anaknya saudara kakek atau nenek. Saudara satu buyut. Anak laki-laki dari anaknya kakak kakek atau nenek disebut mas atau kakak mindhoan. Anak dari anaknya adik kakek atau nenek disebut adik mindhoan. Kerabat
4. Telonan
Telonan. Tunggal Canggah, adalah sebutan untuk anak dari anaknya saudara kakek atau nenek. Saudara satu buyut. Anak laki-laki dari anaknya kakak kakek atau nenek disebut mas atau kakak mindhoan. Anak dari anaknya adik kakek atau nenek disebut adik mindhoan. Kerabat
5. Papatan.
Papatan adalah saudara Tunggal Gantung Udheg-Udheg . Kerabat Jauh
6. Ponakan atau keponakan
Ponakan adalah anak dari sedulur atau saudara kandung. biasanya di panggil dengan sebutan nama atau nak, karena dianggap seperti anak.
7. Pak Lik dan Bu Lik
Pak Lik dan Bu Lik adalah istilah dalam menyebut adik dari ayah atau ibu. Adik laki-laki dari bapak atau ibu biasa dipanggil Pak Lik (Pak Cilik, Pak Kecil, Om). Adik perempuan dari bapak atau ibu biasa dipanggil Bu Lik (Bu Cilik, Bu Kecil, Tante).
8. Pakdhe dan Budhe
Pak Lik dan Bu Lik adalah istilah dalam menyebut kakak dari ayah atau ibu. Kakak laki-laki dari bapak atau ibu biasa dipanggil Pak Dhe (Pak Gedhe, Uwa, Pak Puh). Kakak perempuan dari bapak atau ibu biasa dipanggil Bu Dhe (Bu Gedhe, Uwa, Bu Puh).
9. Putu
Putu dalam Bahasa Indonesia disebut cucu, istilah ini untuk menyebut anak dari anak.
10. Anak Mantu
Anak mantu adalah istilah untuk menyebut istri atau suami dari anak kita. Dalam Bahasa Indonesia disebut menantu. Panggilannya seperti kepada anak.
11. Maratua/Morotuwo
Maratuwa adalah istilah untuk menyebut orang tua nya suami atau istri, dalam Bahasa Indonesia berarti mertua. Panggilannya seperti kepada orang tua sendiri. Pak atau Bu.
12. Besan
Besan merupakan istilah untuk menyebut orang tua nya menantu. Hubungan dua orang yang sama – sama anaknya menjadi suami istri.
13. Ipe
Ipe merupakan sebutan untuk saudara dari suami atau istri. Dalam Bahasa indonesia disebut sebagai ipar. Adik dari suami atau istri (adik ipe/ipar) biasa di panggil dik atau langsung nama. Kakak dari suami atau istri (kakak ipe/ipar) biasa di panggil mas jika laki-laki, jika perempuan dipanggil mbak atau mbok ayu.
14. Bapak Kuwalon atau Bapak Tiri
Bapak Sambungan atau laki-laki yang menikah dengan ibu tetapi bukan bapak kandung kita.
15. Ibu Kuwalon atau Ibu Tiri
Ibu sambungan atau perempuan yang menikah dengan bapak tetap bukan ibu kandung kita.
16. Anak Kuwalon atau Anak Tiri
Anak kandung dari pihak suami atau pihak istri .
17. Sedulur Kuwalon atau Saudara Tiri
Saudara beda bapak satu ibu atau saudara beda ibu satu bapak.
18. Putu Mantu atau Cucu menantu
Putu menantu adalah istilah untuk menyebut suaminya atau istrinya cucu atau putu.
19. Anak Putra atau Jaler
Anak Putra atau Jaler adalah sebutan untuk anak laki-laki.
20. Anak Putri atau Estri
Anak Putri atau Estri adalah sebutan untuk anak perempuan.
21. Anak Pembarep atau Mbarep
Anak Pembarep atau Mbarep adalah istilah untuk anak sulung.
22. Anak Penengah atau Tengah
Anak Penengah atau Tengah adalah istilah untuk anak tengah.
23. Anak Wuragil atau Ragil
Anak Wuragil atau Ragil adalah istilah untuk anak bungsu.
24. Anak Pupon
Anak Pupon adalah istilah untuk anak angkat.
25. Bapak, Bapa, Ayah atau Rama
Bapak atau Bapak atau Rama adalah istilah dalam menyebut bapak.
26. Emak, Ibu, Biyung, ibu, Mama atau Simbok
Emak, Ibu, Biyung, Sibu atau Simbok adalah istilah dalam menyebut ibu.
27. Simbah, Mbah atau Eyang Kakung
Simbah, Mbah atau Eyang Kakung adalah istilah dalam menyebut Kakek.
28. Simbah, Mbah atau Eyang Putri
Simbah, Mbah atau Eyang Kakung adalah istilah dalam menyebut Nenek.
29. Mas atau Mbak Misan
Mas atau Mbak Misan adalah istilah untuk menyebut semua anak dari Pak Dhe atau Bu Dhe.
30. Adik Misan
Adik Misan adalah istilah untuk menyebut semua anak dari Pak Lik atau Bu lik.
31. Mas atau Mbak Mindoan
Mas atau Mbak Mindoan adalah istilah untuk menyebut semua cucu dari Kakak Eyang.
32. Adik Mindoan
Adik Mindoan adalah istilah untuk menyebut semua cucu dari adik Eyang.
33. Bojo atau Garwa
Bojo merupakan kata (baik tulisan maupun ucapan) untuk suami atau istri atau dengan Bahasa Jawa halus disebut juga dengan kata “Garwa”.
Demikianlah istilah kekerabatan masyarakat suku Jawa yang sering digunakan.
Kolonisasi Perdana ke Lampung oleh Pemerintah Kolonial Belanda adalah dari Desa Bagelen di Kabupaten Purworejo dan dikirim ke Gedung Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung pada Tahun 1905, serta pemukiman dari Desa Bagelen Jawa Tengah di pesawaran ini juga dinamakan Desa Bagelen sesuai nama desa asalnya di pulau jawa, disusul Desa Kutoarjo yang sekarang di Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa tengah yang juga di Gedong Tataan, Pesawaran, Lampung serta-merta pemukimannya memakai nama Desa Kutoarjo sesuai tempat asalnya di Jawa bagian tengah. Umumnya nama-nama Desa di Pulau Sumatera khususnya lampung yang di buka dan di huni oleh komunitas jawa adalah Toponim Nama-nama Desa mereka di Jawa.
Mbah Singo Karyo beserta putra-putrinya yaitu Mbah Jeminem, Mbah Karyo Naroh, Mbah Sardi, Mbah Ngadikin, Mbah Margono, dan Mbah Mareno berasal dari Dusun Kepundung, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo, DIY.
- Mbah Mul Bin Suro Taruno, dan
- Mbah Joyo Bin Suro Taruno
Mbah Mul dan Mbah Joyo tinggal Mukim di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung selatan, Gandri sendiri adalah sebuah desa baru yang dirintis oleh orang-orang kepundung serta bukan Desa Transmigran tapi desa para perantau dari Jawa yang menempati tanah Hutan Produksi milik Negara, ada beberapa desa baru di kecamatan penengahan yang usianya di tahun 2025 mendekati 100 tahun semenjak era kolonialisasi 1905 dimana Desa Klaten menurut cerita tutur masyarakat dibuka dari Kolonialisasi Pemerintah Belanda oleh orang jawa pada tahun 1931, Sehingg hari jadi atau hari ulang tahun desa klaten karena berpatokan dari Pemekaran desa Pasuruan dan desa Klaten, Desa Klaten mulai Punya kepala Desa Tahun 1966, Lurah Perdana bernama Mbah Karjo, menjabat seumur hidup karena dipilih masyarakat sampai wafatnya. Dan Desa Klaten mulai jadi Definitif Tahun 1969 bersumber dari data-data otentik dan sumber-sumber primer yaitu pada tanggal 25 Mei 1965.
Dan akhirnya 25 Mei 1965 Menjadi hari jadi Desa Klaten.
dan bertepatan Hari jadi Desa Klaten ke-51 Pada tanggal 25 Mei 2016 juga terjadi peresmian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di desa kelaten yang diresmikan oleh Bupati Lampung Selatan Dr. H Zainuddin Hasan M.Hum, dan menjadi BUMDes Pertama di kecamatan Penengahan.
- Berjanjen
- Yasin-tahlil
- Kenduri
- Slametan Kematian ( 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari dan seterusnya)
- Rejeban
- Ruwahan
- Maulid Nabi
- Khotmil Qur'an atau khataman Qur'an
- Suroaan
- Rebo Wekasan
- Mbubur Suro
- Tumpengan
- Berkatan/Sedekahan
- Brokohan
- Ngupati
- Mitoni
- Tingkeban
- Selapanan
- Sepasaran
- Walimahan
- Among-amongan
- Halal-Bihalal
- Dan sebagainya
Kegiatan Sosial Kemasyarakatan yang masih dilakukan, dilaksanakan, dan dipegang teguh oleh Warga Masyarakat Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan serta menjadi Norma Sosial atau Wewaler juga Kebiasan lama yang luhur/mulia juga menjadi Budaya adat istiadat yang mulia dan relevan sepanjang zaman adalah :
- Musyawarah
- Gotong Royong
- Rewang/lagan
- Halal-bihalal
- Menengok saudara atau tetangga yang sakit ataupun yang baru melahirkan
- Sinoman
- Kerja Bakti
- Sambatan Pembentukan Panitia Hajatan Pernikahan, Panitia Hari Besar Islam, Panitia HUT RI, Panitia kepemudaan, Panitia kelompok tani, Dsb.
- Menggali Kubur
- Ronda Malam
- Dan Sebagainya
Kita tidak tahu Seratus (100) tahun yang akan datang kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan dan Syiar Isami yang telah menjadi Norma, Budaya, dan Istiadat yang luhur dan mulia juga relevan sepanjang zaman ini masih ada, berjalan, dan eksis ditengah gempuran zaman, arus globalisasi, Era kecanggihan teknologi, Era Digital, Era Disrupsi, serta kedatangan para ulama di masyarakat, Sosial Media dan TV dengan Doktrin serta tafsir juga pemahaman Agama yang beraneka ragam dan bebeda-beda. Sehingga Syiar Islami berdasarkan Sunah dan ajaran Nabi Muhammad SAW, Al Qur'an, Hadist, Ijma, Qiyas, Ijihadh malah di Bid'ah-bid'ah-kan, disesatkan, di-musyrik-kan.
Di Kecamatan Penengahan ada desa yang baru berusia baru puluhan tahun yaitu desa Gandri, desa-desa tua yang berusia ratusan tahun yang umunnya juga dihuni penduduk lokal lampung adalalah Desa Penengahan, Desa Kuripan, Desa Tetaan, Desa gayam, Desa Kelau, dan sebagainya. Sebelum jauh kita memahami Silsilah keluarga Besar Eyang Singo Karyo dan Eyang Kromo Rejo kita harus terlebih dahulu mempelajari sedikit sejarah Kecamatan Penengahan yaitu tanah rantau yang ditakdirkan oleh Alloh SWT menjadi tanah keturunan-keturunan eyang, tanah penyangga hidup, tanah untuk hidup, tanah untuk bertahan hidup(Surviving), dan meneruskan peradaban keturunan-keturunan Eyang Singo Karyo dan Eyang Kromo Rejo yang dirintis oleh Eyang Karyo Naroh dimana telah memboyong keluarga besar Singo Karyo dari tanah leluhurnya di jawa ke tanah rantau di lampung selatan tepatnya Kecamatan Penengahan. letak geografis kecamatan Penengahan ada di kaki Gunung Rajabasa, terletak antara 105° 30° - 105° 40° bujut timur dan 5° 42' - 5° 54' Lintang Selatan, adapun batas-batasnya sebagai berikut :
- Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Palas dan Kecamatan Sragi.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bakauheni.
- Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Ketapang.
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kalianda dan Kecamatan Rajabasa.
Dengan letak geografis yang demikian, seperti pada umumnya di Indonesia, Kecamatan Penengahan adalah wilayah tropis. Tanah Kecamatan Penengahan pada umumnya termasuk wilayah subur sehingga memungkinkan tanaman tumbuh dan berbuah setiap tahunnya. Luas wilayah Kecamatan Penengahan adalah 97,59 KM² (Sumber : BPS Lampung Selatan. 2018).
Topografis atau keadaan alam Kecamatan Penengahan terdiri dari Perbukitan dan Dataran rendah dengan lahan sawah dan lahan perkebunan. ketinggian rata-rata wilayah kecamatan Penengahan diatas permukaan laut adalah 127 Mdpl. tapi semenjak dimekarkan Kecamatan Bakauheni, maka Kecamatan Penengahan tidak memiliki garis pantai. dengan gambaran tersebut dapat disimpulkasn bahwa mayoritas penduduk di Kecamatan Penengahan umumnya bermata pencarian sebagai Petani, Pedagang, Peternak, dan Buruh.
Menurut sumber BPS Lampung Selatan Admistrasi kepemerintahan Zaman Belanda, wilayah Kecamatan Penengahan merupakan daerah yang diperintah oleh Kepala Marga yang bergelar Ratu Menangsi, beliau membawahi Lima Marga sampai perbatasan Teluk Betung, antara lain Marga Katibung, Marga Pesisir, Marga Legun (Wilayah kalianda), Marga Dantaran (Ber-Ibukota di Desa Penengahan), dan Marga Ratu (Berpusat di Desa Benteng/Taman Baru dengan wilayah terluas meliputi seluruh Kecamatan Palas sekarang). masing-masing Marga/Bandar dipimpin oleh seorang bergelar Pangeran. adapun desa yang tercatat sebagai desa tua di wilauah Marga Ratu dan berusia ratusan Tahun adalah Desa Taman. Negeri Pandan, Kekiling, Kuripan. Rawi, Ruang Tengah, Kelau, dan Tetaan. Sedangakan Desa-desa tua berusia Ratusan tahun di wilayah Marga Dantaran adalah Desa Penengahan, Desa Kenyayan/Banjarmasin, Desa Tanjung Heran, Desa Gedung Harta, Desa Gayam, Desa Pegantungan/Bakauheni. Perkembangan berikutnya ialah di bukanya Desa-desa baru di tahun 1900-an atau masa kolonial Belanda bahkan ada yang setelah Kemerdekaan Republik Indonesia yang dibuka oleh para Transmigran atau Perantau dari Jawa, Bali, dan Sunda seperti Desa Pasuruan, Desa Klaten, Desa Sukaraja, Desa Ketapang, Desa Karangsari, Desa Totoharjo, Desa Sumur, Desa Semanak, Desa Palas Aji, Desa Bangunan, Desa Gandri, dan sebagainya. Dan Simbah Mareno Bin Singo Karyo adalah salah satu pendiri dan perintis Desa Gandri.
Wilayah Kecamatan Penengahan di masa lalu sangat terbelakang pembangunannanya dibandingkan dengan wilayah Kecamatan Kalianda, hal ini disebabkan oleh alamnya yang kurang mendukung sehingga susah dibangun jalan raya aspal, ditambah lagi dengan adanya sungai-sungai yang jumlahnya hampir mencapai 20-an serta diperlukan pembangunan jembatan yang memenuhi syarat keamanan dan keselamatan agar dapat dilalui kendaraan bermotor terutama roda empat.
Pada zaman Vereenigde Oostindische Compagnie disingkat VOC atau orang Nusantara menyebutkan dengan nama Kompeni dari kata "Compagnie" yaitu Persekutuan atau Perkumpulan para Pengusaha milyuner atau Pedagang Besar asal Belanda yang punya monopoli aktivitas perdagangan di Asia termasuk Nusantara/Indonesia, VOC mendapat dukungan penuh dari Kerajaan Belanda untuk melaksanakan 3G yakni Gold (mencari kekayaan), Glory (memperluas wilayah demi kejayaan), dan Gospel (menyebarkan agama) Berdiri di Abad 17 pada tanggal 20 Maret 1602 tapi bangkrut karena korupsi besar-besaran dan di bubarkan pada Abad 18 tanggal 31 Desember 1799 berdasarkan pasal 247 Staatsregeling tahun 1798. Di zaman VOC wilayah Eks Kawedanan Kalianda yang meliputi lima Marga/Negeri tersebut, yaitu :
- Marga katibung.
- Marga Pesisir.
- Marga Legun.
- Marga Dantaran.
- Marga Ratu.
adalah daerah yang makmur, terbukti dengan dibangunnya dermaga pelabuhan untuk menjual hasil bumi keluar daerah terutama di Pulau Jawa/Batavia yang sekarang disebut Jakarta. Setelah VOC Bangkrut dan bubar pada 31 Desember 1799 lalu otomatis wilayah yang di duduki VOC diambil alih oleh Pemerintah Kerajaan Belanda atau Hindia-Belanda pada tanggal 1 Januari 1800, maka perdagangan berganti dengan Penjajahan yang mengakibatkan pergolakan dan gejolak perlawanan rakyat terhadap penjajah Belanda. Dibawah kepemimpinan Raden Intan I, perlawanan terhadap penjajah dilakukan secara terang-terangan dan terbuka yakni sekitar Abad ke-19 tahun 1805 - 1818. Dengan wafatnya Raden Inten I maka secara otomatis kepemerintahan dipegang oleh anaknya yaitu Raden Imba, akan tetapi karena tidak ada organisasi yang baik dari para pejuang di lampung selatan, maka seluruh wilayah pertempuran jatuh ke tangan Belandas dan Raden Imba dapat dikejar sampai ke Pekanbaru hingga akhirnya tertangkap dan dibuang ke Maluku. Raden Inten II yang waktu itu baru lahir disembunyikan oleh saudara terdekatnya dan ketika beranjak Remaja dilatih dengan berbagai ilmu pengetahuan, setelah berumur kurang lebih 18 tahun. Pada tahun 1850 Raden Inten II mulai dengan terang-terangan melanjutkan perjuangan ayahnya dengan dibantu 3 Orang/Marga lainya yang masih setia dan punya loyalitas tinggi. namun karena cerdik dan liciknya Belanda dalam memprovokasi dan memecah belah antar marga dan suku dengan mengumbar janji manis, setelah 6 Tahun perlawanan Raden Inten II (1850 - 1856) dapat dipatahkan oleh Belanda ditandai dengan gugurnya Raden Inten II di Desa Tetaan ditangan pamannya yang tidak lain saudaranya sendiri yang di iming-iming oleh Belanda sampai tega membunuh keponakannya sendiri pada tanggal 5 Oktober 1856, gugur di usia muda serta belum menikah. Raden Inten II ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional dengan SK No. 082 tanggal 23 Oktober 1986. Di Lampung Nama Raden Inten II diabadikan menjadi nama Bandara, Universitas, Jalan, dan sebagainya.
Setelah Gugurnya Raden Inten II di Desa Tetaan, praktis pengaturan pemerintahan mutlak dipegang oleh Pemerintah Kerajaan Belanda dengan mengangkat kepala-kepala Desa yang bersumpah setia pada Belanda dan dikepalai seorang Letnan Belanda yang berkedudukan di kalianda. sedangkan Marga-marga dikepalai seorang kapten Belanda, keadaan dan kepemerintahan ini berlanjut sampai Perang Dunia II atau Pendudukan Jepang.
Pada zaman Pendudukan Jepang bersamaan dengan pembentukan Kecamatan Kalianda, di wilayah Penengahan dibentuk Kecamatan yang dipimpin langsung oleh orang Jepang yang disebut Fuko gunco yang berkedudukan di Desa Penengahan, jadi embrio mulai terbentuknya Kecamatan Penengahan adalah di zaman Jepang, sebelumnya Kecamatan Penengahan adalah wilayah dua (2) Marga/Negeri yaitu Marga Dantaran (Berpusat di Desa Penengahan) dan Marga Ratu (Berpusat Desa Taman Baru). seperti daerah lainnya, masyarakat penengahan juga ikut dipekerjakan oleh jepang sebagai Romusha/pekerja paksa terutama dalam membangun jalan yang melingkari gunung Rajabasa yang berguna untuk memperlancar pembangambilan hasil bumi terutama Padi guna kepentingan perang selain sebagai patroli pengamanan wilayah jajahan. dapat dikatakan pada saat itru pemerintahan oleh bangsa sendiri belum terlihat. hanya ada latihan-latihan militer bagi para pemuda demi kepentingan strategi militer jepang dan politik.
- Muhammad Yusuf (1946-1949). Camat Perdana Kecamatan Penengahan
- Sarbini (1950-1952)
- Nawawi (1952-1953)
- M. Rozali (1953-1954)
- Barnawi (1954-1955)
- Mangku Ratu (Februari 1955-1955 akhir)
- Abdullah Sani (1956-1958)
- M. Zen (1959-1963)
- Zen Polos (1964-1967)
- Ridwan baringsang (1968-1972)
- M. Rasyid (1972-1974)
- M. Thohir (1974-1977)
- Hasanuddin Basir, BA (1977-1981)
- Drs. Rusdi Ibrahim (1981-1983)
- Burdadi Puspanegara (1983-1985)
- Drs Habiburrahman (1985-1988)
- Drs. Adri latif (1988-1989)
- Faisol yusuf (1989-1991)
- Drs. A.M. Roni (1991 awal-1991 akhir)
- Drs. Ashabul Yamin (1991-1994)
- Drs. Maryanto (1994-1999)
- Maliki Muchtar, SE (1999-2002)
- Ahmad mulkan, SH (2002-2007)
- Darsito, SP (2008-2011)
- Edi Firnandi, S.STP (juli 2011- maret 2012)
- Darsito, SP ( april 2012- Agustus 2012)
- Drs. Evan Zuhri (agustus 2012- September 2012)
- A. Kholil (Oktober 2012- Maret 2014)
- Lukman Hakim ( Maret 2014 -2018)
- Jaelani, S.STP., M.H., (2018 - 21 Maret 2024)
- Muhrizal, SE ( 21 Maret 2024 - 21 April 2025)
- Syaifullah, S.Pd, M.Pd ( 21 April 2025 - 4 February 2026)
- Hermawan, S.H., M.M. Bin Mbah Turus/Kades Klaten ke-3 Ia resmi dilantik pada 04 Februari 2026
- Acmad Akuan (1951 - 1952), Bupati Perdana Lampung Selatan.
- H. Zainal Abidin Pagaralam (1953 - 1955)
- R. Abu Bakar (1955 - 1956)
- Masagus H.A. Rachman (Tjek Ketjik) (1956 - 1960)
- Hasan Basri (1960 - 1967)
- A. Djohansyah (1967 - 1972)
- Pjs. Rustam Efendi (1973)
- Dja'far Hamid (1973 - 1978)
- Mustafa Kemal (1978 - 1982)
- Pjs. Drs. Subki E Harun (1982 - 1983)
- Dulhadi (1983 - 1988/1988 - 1993)
- Drs. H. Sunardi (1993 - 1998)
- Amreyza Anwar, S.I.P (1998 - 1999)
- H. Zulkifli Anwar, S.H (2000 - 2005/2005 - 2008)
- Wendy Melfa (2008 - 2010)
- Rycko Menoza, S.Z.P. S.E, S.H, M.B.A (2010 - 2015)
- Kherlani (6 Agustus 2015 - 17 Februari 2016)
- Dr, H. Zinudin Hasan S.H., M.H. (17 Februari 2016 - 3 Agustus 2018)
- H. Nanang Ermanto (3 Agustus 2018 - 12 Mei 2020 - 12 Mei 2020/12 Mei 2020 - 26 September 2020)
- Drs. Sulpakar, M.M. (26 September 2020 - 5 Desember 2020)
- H. Nanang Ermanto (5 Desember 2020 - 17 Februari 2021)
- Thamrin S.Sos (17 Februari 2021 - 26 Februari 2021)
- Nanang Ermanto (26 Februari 2021 - 20 Februari 2025)
- Radityo Egi Pratama (20 Februari 2025 - ....... )
Kecamatan Penengahan masih punya potensi pariwisata yang cukup tinggi, namun terkendala oleh sarana dan prasarana yang kurang memadai serta promosi yang kurang maksimal juga pengelolaan yang kurang profesional, dukungan pemerintah dan para Stakeholder juga kurang. sebenarnya sektor pariwisa di kecamatan penengahan sangat menunjang untuk kesejahteraan masyarakat setempat seperti perbukitan Merabung di Desa Padan dengan panorama yang asri, Air terjun Way kalam di desa Way kalam, Curug Jati di desa Tanjung heran, Makam pahlawan nasional Raden Inten II di desa Gedung harta, Makam Ratu Darah Putih di desa Kuripan, Pemandian Way Tebing Cepa (WTC) di desa Taman baru, Pemandiaan Way Benteng Kedagaan (WBK) Di desa Padan, Pemandiaan Way Penaga di Desa Banjarmasin, dan sebagainya.
Kurang lebih Tujuh Puluh Lima ±75 Tahun yang lalu Sekitar tahun 1950-an Mbah Karyo Naroh Datang ke lampung dengan membawa harapan merubah nasib keluarga Besar Ayahnya, beliau prihatin, hemat, tekun, rajin dengan membangun, membuka, dan mengolah lahan pertanian di lampung selatan sampai bisa beli tanah dan bangun rumah. Rumah-rumah di tahun 50-an sampai menjelang 90-an umumnya semi permanen alias dari dabag/gedheg atau bambu juga ada yang dari papan kayu dengan atap ijuk atau alang-alang sekalipun ada yang sudah genting tanah liat, itulah ciri khas Style rumah-rumah di tahun itu terutama rumah-rumah petani. sangat jarang rumah gedung bertembok semen batu-bata. Pengorbanan dan Perjuangan Mbah Karyo Naroh Tiap – tiap habis panen dan dapat uang banyak pasti mengambil Adik–adiknya, orang tuanya serta Paman-pamanya yaitu Adik- Adik Mbah Trinil alias Simboknya di Kepundung, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo untuk di bawa ke lahan pertanian dan pemukiman yang beliau bangun di Lampung bagian selatan. Mbah Karyo Naroh membawa Sanak saudaranya, Adik-adiknya, juga orang tuanya karena faktor Ekonomi, Memperpaiki taraf hidup di masa depan, Untuk Kesejejahteraan Keluarga Besar Singo Karyo, Tanah-tanah di lampung masih Subur, luas, dan murah-murah. tapi ada juga ditemukan orang-orang ber-migrasi ke luar pulau Jawa karena faktor politik Nasional Negara Republik Indonesia waktu itu tahun 1950-an, terutama ditahun 1965-an saat meletusnya Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dan pada akhirnya Keluarga besar mereka tersebar di Lampung Selatan terutama Kecamatan Penengahan bahkan ada yang di luar kabupaten Lampung selatan juga di luar Provinsi Lampung,
Karena mereka tinggal di daerah Perantauan ataupun kawasan transmigrasi dan berbaur dengan Penduduk lokal Pribumi asli Sumatera/Lampung, maka pemukiman penduduknya sekalipun di Desa pasti cukup Heterogen atau bisa disebut majemuk seperti Kota meskipun tinggal di Desa, karena Pulau Sumatera menjadi salah satu tujuan Favorit para Transmigran dan Perantau dengan biaya murah, masih tersedia lahan pertanian yang Subur, luas, dan murah. masih banyak peluang ekonomi di sektor informal seperti pertanian, perdagangan dan perternakan. daripada mereka merantau dan adu nasib di kota besar dengan biaya mahal serta dengan hiruk-pikuknya lebih baik merantau ke Pulau Sumatera untuk membuka lahan pertanian, membuat dan membangun desa-desa baru atau desa-desa yang sudah ada di pulau sumatera untuk merubah nasib dan meningkatkan perekonomian sehingga sekalipun di desa masyarakat atau penduduknya berasal dari berbagai daerah, dari berbagai suku, dari berbagai latar belakang, dari berbagai kelompok/komunitas sosial, dari berbagai agama, dari berbagai budaya, dari berbagai adat-istiadat, dari berbagai status sosial, dari berbagai tingkat pendidikan, dari berbagai bahasa daerah yang beragam, berbagai Aliran atau Paham alias Tafsir Agama yang berbeda-beda, contohnya Islam di satu desa ada yang beraliran Manhaj Salafi, Wahabi, Muhammadiyah, LDII, NU dsbnya. Etc.. tapi mereka hidup penuh Toleransi, saling Menghargai, saling menghormati, saling kolaborasi, saling berbagi ide dan inovasi. Sesuai falsafah Jawa dari kitab Sutasoma, karya Empu Tantular Yaitu "Bhinnika Tunggal Ika"
Beda dengan di desa asal mereka di Jawa yang umumnya masyarakatnya Homogen karena dihuni oleh masyarat lokal asli pribumi jawa, satu desa sukunya sama-sama jawa, agamanya mayoritas Islam, Paham aliranya umumnya NU, bahasanya sama, satu desa bila ditelusuri masih ada ikatan kekerabatan bahkan persaudaraan, tetanga-tetangga kalau diurut-urut masih punya ikatan saudara karena simbah-simbah atau leluhur-leluhur mereka sudah tinggal di desa itu beratus-ratus tahun yang lalu.
Tujuan Kolonisasi Era Belanda dan Transmigrasi Era Republik Indonesia adalah untuk meningkatkan kesejahteraan, membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru, pemeraataan penduduk terutama dari pulau jawa apalagi pulau jawa dari zaman majapahit, belanda, bahkan zaman NKRI adalah pusat pemerintahan, pusat pembangunan, dan pusat perekonomian terbesar. Tujuan Transmigrasi di era Republik Indonesia selain disebutkan diatas yang sama seperti di era belanda adalah Memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa NKRI, pemerataan penduduk, mengelola sumber daya alam, membuka lapangan kerja baru, serta mengurangi kepadatan penduduk di pulau jawa. Dan suku jawa mudah beradaptasi, punya toleransi tinggi, punya kelembutan, punya tatakrama, punya adab, punya etika, menghargai orang lain, menghormati orang lain, solidaritas tinggi, membantu orang lain, tidak punya sentimen ke-suku-an, tidak fanatik sempit, berjiwa besar. Suku jawa tidak secara Inheren tidak suka konflik di kawasan kolonisasi/transmigrasi, namun cenderung mudah diterima suku lainya dan meredam ketegangangan melalui sikap mengalah dan damai serta suka dengan pendekatan yang soft, humanis, juga persuasif, secara umum orang jawa punya sifat alami cinta kedamaian rendah hati, tidak merasa paling unggul, serta berperan memimallisir konflik, seni budaya jawa pun bisa di terima oleh suku-suku lainya bahkan ada yang terjadi akulturasi budaya, suku-suku lain juga pandai berbahasa jawa.
Mbah Karyo Naroh menemukan Jodoh yang sama-sama dari Suku Jawa dan menikah di Lampung dengan
istri yang bernama Mbah Sirep Binti Kromo Rejo + Ngadinah, bernama Sirep karena kemungkinan besar Mbah Sirep lahir saat waktu sirep alias Surup menjelang magrib. Dan akhirnya bersama anak-anaknya Mukim tinggal di Dusun Karanganyar, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan. serta Makam alias kuburan Mbah Singo karyo berserta istri yang bernama Mbah Trinil serta makam Mbah Karyo Naroh beserta istri yang bernama Mbah Sirep beserta makam-makam adik-adik dari Mbah Karyo Naroh yaitu Mbah Sardi, Mbah Ngadikin, dan Mbah Margono ada di tanah Rantau yaitu Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Karanganyar, Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Pulau Sumatera. Jasad mereka di Takdirkan di kubur di Pulau sebrang, Tanah perantauan mereka. yang jauh dari tanah leluhur tempat kelahiran dan asal usul mereka yaitu Dusun Kepudung, Desa Giri Purwo, Kecamatan Giri Mulyo, Kabupaten Kulon Progo, DIY. Dengan bukti Artefak Makam dan anak cucu serta saudara-saudaranya juga kerabatnya di dusun karanganyar menandakan Eksistensi (Keberadaan nyata yang diakui) mereka masih utuh sampai sekarang di dusun karanganyar, kecamatan penengahan, kabupaten Lampung Selatan.
Mbah Mul Bin Suro Taruno dengan istri pertama, punya anak/peputro :
1.
Suroto Bin Mbah Mul
2.
Urip Bin Mbah Mul
3. Pandi Utomo Bin Mbah Mul (Lurah Perdana Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan)
Mbah Mul Bin Suro Taruno dengan istri kedua, punya anak/peputro :
1. Giman
2. Ginem
3. Sukiyo
Mbah Joyo Bin Suro Taruno, punya anak/peputro :
1. Sri Binti Mbah Joyo.
2. Marzuki Bin Mbah Joyo.
3.
Kasiyah Binti Mbah Joyo
4. Sulastri Binti Mbah Joyo.
1. Sri Binti Mbah Joyo, punya anak/peputro :
1.1. Sabar
2. Marzuki Bin Mbah Joyo, punya anak/peputro :
2.1. ?
3. Kasiyah Binti Mbah Joyo menikah dengan Pujo Suratin, punya anak/peputro :
3.1. Susanti Binti Pujo Suratin.
3.2. Suwanti Binti Pujo Suratin.
3.3. Waryati Binti Pujo Suratin.
3.4. Subianti Binti Pujo Suratin.
3.5. Susanto Bin Pujo Suratin.
3.6. Sukati Binti Pujo Suratin.
3.7. Mardiyah Binti Pujo Suratin.
3.8. Basiri Bin Pujo Suratin.
3.1. Susanti Binti Pujo Suratin, punya anak/peputro :
3.1.1. Rahayu
3.1.2. Rahmat
3.1.3. Rina
3.1.4. Aminudin
3.1.5. Ning
3.1.6. Leni
3.1.7. Silvi
3.2. Suwanti Binti Pujo Suratin, punya anak/peputro :
3.2.1. Ari wibowo
3.2.2. Umi Kholifah
3.2.3. Titin
3.2.4. Roni
3.3. Waryati Binti Pujo Suratin, punya anak/peputro :
3.3.1. Bangkit
3.3.2. Siti
3.4. Subianti Binti Pujo Suratin, punya anak/peputro :
3.4.1. Arian dana
3.4.2. Dino
3.5. Susanto Bin Pujo Suratin. punya anak/peputro :
3.5.1. ?
3.6. Sukati Binti Pujo Suratin, punya anak/peputro :
3.6.1. Mila
3.6.2. ?
3.6.3. Rindu
3.7. Mardiyah Binti Pujo Suratin dengan suami pertama, punya anak/peputro :
3.7.1. Amel
3.7.2. Hani
Mardiyah Binti Pujo Suratin dengan suami kedua Ustadz Turmudi, punya anak/peputro :
3.7.3. ?
3.7.4. ?
3.8. Basiri Bin Pujo Suratin, punya anak/peputro :
3. 8.1. ?
4. Sulastri Binti Mbah Joyo. punya anak/peputro :
4.1. Sugini
4.2. Elpi
Mbah Karyo Naroh mempunya Peran Utama, Substansial, dan Sentral yang dengan susah-payah membawa Kedua Orang Tuanya, Kedua Pak lik/pamannya, dan Adik- adiknya ke tanah rantau Pulau Sumatera tepatnya di Lampung selatan dari Tanah leluhur Dusun Kepundung, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mbah Karyo naroh punya empat (4) anak, serta semua anak-anaknya adalah kelahiran Lampung serta anak pertama bernama Ngatiyem dan menikah dengan lelaki dari suku jawa kelahiran jawa yang datang ke Lampung di umur 10 tahun kebawah bernama Sarju Bin Notodiharjo, menurut certita tutur langsung dari Bapak Sarju yang sekaligus pelaku sejarah hidupnya, mengatakan kalau Bapaknya kerja di Perusahan Gula Madukismo serta juga seorang senimana Ketoprak yang suka memerankan tokoh wanita. dan rumahnya dulu tidak jauh dari perusahaan gula itu, di DIY satu-satunya perusahaan gula yang eksis setelah kemerdekaan Republik Indonesia adalah PT Madu Baru dengan nama Pabrik Gula dan Spritus Madu kismo sebuah perusaahaan yang awalnya milik Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan Tahun 1955 dan berdiri di Desa/Kelurahan Tirtinirmolo, Kapenewon/kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
serta bapak sarju pernah menengok saudara ke jawa lagi lebih tepatnya ke jogja bersama simboknya saat anak bungsunya berusia dibawah satu tahun, karena keterbatasan juga faktor usia serta jarang ke Jawa bapak sudah tidak tau juga tidak terlalu hafal jalannya, Bapak sarju hanya membawa foto paman-pamanya satu diantaranya ada yang jadi Abdi dalem kraton juga ada yang jadi Tentara. karena perusahahn gula madukismo/madu baru adalah milik Kraton Jogja maka jelas otomatis pekerjanya juga adalah mungkin para abdi dalem atau saudara dan anak-anak dari para abdi dalem. Bapak Sardju waktu itu berusia dibawah 10 tahun di bawa simboknya yang bernama Simbok Mujiyem ke Lampung. waktu itu Mbok Mujiyem juga lagi hamil, hamil mengandung bayi adik kandung Bapak Sardju yang akhirnya lahir dilampung bernama Sarwasih.
C.A. Kromo Sentiko, Punya Anak :
C.A.1. Gethuk Bin Kromo Sentiko
C.A.2. Suwitodiharjo/Kamin/Moghol Bin Kromo Sentiko.
C.A.3. Mujiyem Binti Kromo Sentiko
C.A.4. Kasikem Binti Kromo Sentiko
C.A.2. Suwito Dihardjo/Kamin/Moghol Bin Kromo Sentiko, Peputro :
C.A.2.1. Suharjo Bin Suwito Dihardjo
C.A.2.2. Suwondo Bin Suwito Dihardjo
C.A.2.3. Hartini Binti Suwito Dihardjo
C.A.2.4. Sutriyani/Trini Binti Suwito Dihardjo
C.A.3. Mujiyem Binti Kromo Sentiko
Mujiyem Binti Kromo Sentiko, Peputro :
C.A.3.1. Sardju
C.A.3.2. Sarwasih
C.A.4. Kasikem Binti Kromo Sentiko d/a Way galih golf Tanjung Karang, Kecamatan Tanjung bintang, Lampung Selatan.
Kasikem Binti Kromo Sentiko, Peputro :
C.A.4.1. Sukadi + Samirah... Tukang gamel Jathilan. Perapatan rumah sakit Imanuel ke kanan. Pasar way galih
C.A.4. 2. Sutris almarhum.
C.B. Mbah Mangun Klaten gadah adik Mbah Kromo sentiko.
Mbah Mangun Klaten Peputra :
C.B.1. Saiman + ponem Binti Mangun,
C.B.2. Mujiyem Palas,
C.B.3. Mbah Tuminem/durohman putri karang Anyar,
C.B.4. Mbah Sarto Karanganyar,
C.B.5. Bunikem, sumbersari langkap,
C.B.6. Ngadiyah, Gandri
C.B.1. Saiman + Ponem Binti Mangun, Peputro :
C.B.1.1. Surip Bin Saiman tinggal di Klaten kecamatan penengahan
C.B.1.2. Parjo Bin Saiman + Mbok Semi tinggal di Klaten kecamatan penengahan, Peputro : C.B.1.2.1. Yuswanto Bin Parjo
C.B.12.2. Ninik Binti Parjo
C.B.1.3. Almarhummah Ngadinah Binti Saiman tinggal di Klaten kecamatan penengahan
C.B.1.4. Supardi Bin Saiman tinggal di Klaten kecamatan penengahan
C.B.2. Mujiyem Palas, Peputro :
C.B.2.1. Mujiono ALM. Klaten
C.B.2.2. Sukasih almarhumah. Sidodadi
C.B.2.3. Radiyem. Gandri
C.B.2.4.. Sarjiyah. Gandri
C.B.3. Mbah Tuminem/Durohman putri karang Anyar, Peputra :
C.B.3.1. Bardi
C.B.3.2. Suwarto. ngajeng paud
C.B.3.3. Muktini. sumber sari langkap
C.B.4. Mbah Sarto Karanganyar, Peputro :
C.B.4.1. Giman almarhum
C.B.4.2. Giyanto mbulkeong
C.B.4.3. Sudi Almarhum
C.B.4.4. Sriendi Pasuruan
C.B.4.5. Kajine Erlan, Dusun Karanganyar
C.B.5. Bunikem langkap, Peputro:
C.B.5.1. Mardinem sumbersari langkap
C.B.5.2. Maryono langkap
C.B.5.3. Puji langkap
C.B.5.4. Tintin langkap
C.B.5.5. Baidah Karanganyar depannya bardi
C.B.6. Ngadiyah Gandri, Peputro:
C.B.6.1. Sumadi Gandri
C.B.6.2. Teguh Gandri
C.B.6.3. Saidi Gandri
C.B.6.4. Yu cepon Gandri
C. Notodiharjo (Wafat di Jogja) dan Mujiyem Binti Kromo Sentiko dari Toglengan, kelurahan Sendangarum, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakart wafat di dusu karanganyar, Lampung) Menikah di DIY, Punya anak/Peputro :
Melihat nama-nama dari para simbah-simbah seperti Mbah Singo Karyo dan Mbah Notodiharjo kemungkinan hipotesis saya yang subyektif bahwa mbah singo karyo kemungkinan kerandah atau kerabat keluarga jagoan atau keturunan jagoan ataupun bisa jadi mbah singo karyo adalah jagoan desa. serta Mbah Notodihardjo adalah kerandah atau kerabat atau keturunana Ningrat dari namanya yaitu "Notodihardjo" yang artinya menata kesejahteraan, biasanya nama-nama seperti ini adalah nama-nama orang yang dituakan atau keturunan ningrat, ini hanya asumsi dan hipotesis saya yang perlu ditelusuri lebih lanjut serta perlu di observasi secara mendalam. bila ketemu keluarga atau kerabat Mbah Notodihardjo di bantul dan keluarga atau kerabat Mbah Singo karyo di kepudung Kulonprogo maka bisa dibuktikan fakta obyektik yang kredibel bisa dipertanggungjawabkan.
Kalurahan Giripurwo adalah salah satu Kalurahan di wilayah Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo DIY. Berdasaran maklumat Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 16 Tahun 1946 Kalurahan Giripurwo terdiri dari gabungan tiga bekas Kalurahan lama yaitu Kalurahan Niten, Kalurahan Kepundung, dan Kalurahan Wadas. Nama Giripurwo merupakan akronim dari ketiga nama Kalurahan tersebut. "Giri" dari nama Grigak, nama padukuhan di bekas Kalurahan Niten, kemudian "Pur" dari nama Kepundung, dan "Wo" atau "Wa" dari nama Wadas. Gri-Pu-Wa akhirnya menjadi nama Giripurwo. Penggabungan tersebut terjadi pada tanggal 21 Januari 1947, dan Lurah Honggo Pangreksa, dari Kalurahan Niten menjadi Lurah pertama Giripurwo.
Penggabungan dimaksudkan untuk dapat memenuhi kebutuhan sendiri, sebagaimana penegasan pasal 7 Ayat 2 maklumat DIY No 16 tahun 1946 yang berbunyi : “Jika ternyata ada kalurahan yang tidak memenuhi kebutuhannya sendiri maka harus digabungkan dengan kalurahan lain”. Gabungan 3 (tiga) kalurahan tersebut menjadi kalurahan Giripurwo yang meliputi 15 pedukuhan. Lurah yang menjabat saat penggabungan adalah :
Setelah bergabung menjadi Kalurahan Giripurwo, Lurah Honggo Pangrekso dari Kalurahan Niten menjabat sebagai lurah pertama dengan dibantu Pamong Desa :
A Ada Dua (2) bagan Sorosilah yang saya coba kupas dan paparkan disini, Yaitu Sorosilah Ayah dari Mbah Karyo Naroh yang bernama Mbah "Singo Karyo" dan Sorosilah dari mertua Mbah karyo Naroh alias Ayah dari istri Mbah Karyo Naroh yang bernama Mbah Sirep dan bernama Mbah "Kromo Rejo", bila ada kurang lebihnya mohon di maafkan dan di beri petunjuk serta krtik yang Konstruktif. berikut Sorosilahnya :
KELUARGA BESAR TRAH SINGO KARYO
A.1. Singo Karyo menikah dengan Mbah Trinil Binti Suro Taruno, Punya Anak/Peputro :
A.2.1.
Jeminem, punya anak/peputro : (tinggal di Bengkalis Kepulauan Riau, dan belum terlacak juga ketemu)
A.2.2. Karyo Naroh Bin Singo Karyo menikah dengan Sirep Binti Kromo Rejo + Ngadinah, punya anak/Peputro :
A.2.2.1. Ngatiyem Binti Karyo Naroh Menikah dengan Sardju Bin Notodiharjo + Mujiyem dari Bantul dekat pabrik gula madukismo Desa/Kelurahan Tirtonirmolo, Kapenewon/kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Punya anak/Peputro :
A.2.2.2. Legiyo + Triyanti, Punya anak/Peputro :
A.2.2.3. Yatiyem + Mulyadi, Punya anak/Peputro :
A.2.2.4. Sugito + Tukirah, Punya anak/Peputro :
A.2.3. Karso Sardi punya anak/Peputro :
A.2.4. Ngadikin (Mbah Tirto), Punya anak/Peputro :
A.2.4.1. Sukarjo, Punya anak/Peputro :
A.2.4.2. Sunardi(mati bujang)
A.2.4.3. Sumarno, Punya anak/Peputro :
A.2.4.4. Sudiman, Punya anak/peputro :
A.2.4.5. Sukidi, Punya anak/Peputro :
A.2.5. Margono, punya anak/Peputro :
A.2.5.1. Sujalmo, Punya anak/Peputro :
A.2.5.2. Muryati, Punya anak/Peputro :
A.2.5.3. Poniyah, Punya anak/Peputro :
A.2.5.3.1. Akbar
A.2.5.4. Supratman, Punya anak/Peputro :
A.2.5.5. Suratinem + Pardio, Punya anak/Peputro :
A.2.5.6. Misyanto, Punya anak/Peputro :
A.2.5.7. Herlina Binti Margono + Rohman, Punya anak/Peputro :
A.2.5.7.1. Eli Wiati + Sarjiyanto (Klaten), Punya anak/Peputro :
A.2.5.8. Eva Nurhidayat, Punya anak/Peputro :
A.2.5.8.1. Eri
A.2.6. Mareno, Punya anak/Peputro :
A.2.6.1. Sumardi, Punya anak :
A.2.6.2. Rubiyah, Punya anak :
A.2.6.3. Suratman, Punya anak :
A.2.6.4. Suranto, Punya anak :
A.2.6.5. Siti Trisnawati + Harto/Sowi, tinggal di Dusun Karanganyar Desa Klaten. Punya anak :
A.2.6.6. Suparjo + Rohayati ( Dusun Sidodadi, Klaten), Punya anak :
A.2.2.1.1. Nur
lestari + Kak Ocep (Bogor), Punya anak/Peputro :
A.2.2.1.2. Istanti + Mulyono (Gisting), Punya anak/Peputro :
A.2.2.1.3. Toni (Mati Bayi)
A.2.2.1.4. Irwan
Efendi (Belum Menikah)
A.2.2.1.5. Ayu
Puspita Sari + N.K. Adi, Punya anak/Peputro :
A.2.2.1.5.1. Muhammad Megantara Adijaya
A.2.2.2.1. Okta Buana + Herlina Oktaviani (Toto Harjo), Punya anak/Peputro :
A.2.2.2.2. Nanang Permadi (Belum Menikah)
A.2.2.3.1. Heni Budianti + Aan, Punya anak/Peputro :
A.2.2.3.2. Evi Dayanti + Arjani, Punya anak/Peputro :
A.2.2.3.3. Nazva Al-faza Indah Safitri, (Belum Menikah) :
A.2.2.4.1. Desmi Ramadhani (Belum Menikah)
A.2.3.1.1. Nur + Warno (langkap), Punya anak/Peputro :
A.2.3.1.2. Intan + Reno (Langkap), Punya anak/Peputro :
A.2.4.1.1. Prihatin, Punya anak/Peputro :
A.2.4.1.2. Hermansyah + Reni (Pasuruan), Punya anak/Peputro :
A.2.4.1.3. Memi Susanti (Belum Menikah)
A.2.4.1.4. Susi Lestari + Zainur Rohim Bin Almarh Sumardi (Dusun Karang Anyar, Klaten), Punya anak/Peputro :
A.2.4.1.5. Dico (Belum Menikah)
A.2.4.3.1. Intan, Punya anak/Peputro :
A.2.4.3.1.1. ?
A.2.4.3. 2. Dica (Belum Menikah)
A.2.4.4.1. Rio, Punya anak/Peputro :
A.2.4.4.1.1. ?
A.2.4.4.2. Ria, Punya anak/Peputro :
A.2.4.4.2.1. ?
A.2.5.2.1. Narsih, Punya anak/Peputro :
A.2.5.2.2. Ngaisah, Punya anak/Peputro :
A.2.5.2.3. Paryati, Punya anak/Peputro :
A.2.5.2.4. Yanto, Punya anak/Peputro :
SOROSILAH KELUARGA BESAR KROMO REJO
B. Kromo Rejo menikah dengan Ngadinah, punya anak/Peputro :
B.1. Usreg Binti Kromorejo
B.2. Sirep Binti Kromo Rejo Menikah dengan Karyo Naroh Bin Singo Karyo, Punya anak/Peputro :
B.2.1. Ngatiyem Menikah dengan Sardju Bin Notodiharjo + Mujiyem dari bantul dekat pabrik gula madukismo Desa/Kelurahan Tirtonirmolo, Kapenewon/kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) . Punya anak :
B.2.2. Legiyo + Triyanti, Punya anak/Peputro :
B.2.3. Yatiyem + Mulyadi, Punya anak/Peputro :
B.2.4. Sugito + Tukirah, Punya anak/Peputro :
B.1.4.1. Desmi Ramadhani
B.3. Suyud/Slamet wito lahir 1927, wafat 2012 Bin Kromo Rejo, punya anak :
B.4. Jenjem Binti Kromo Rejo dengan suami pertama, punya anak/peputro :
B.4.1. Supangat, punya anak/peputro :
B.4.2. Sukadi, punya anak/peputro :
B.4.3. Sutinah. (meninggal belum punya anak) :
B.2.1.1. Nur
lestari + Kak Ocep (Bogor), Punya anak/Peputro :
B.2.1.2. Istanti + Mulyono (Gisting), Punya anak/Peputro :
B.2.1.3. Toni (Mati Bayi)
B.2.1.4. Irwan
Efendi (Belum Menikah)
B.2.1.5. Ayu
Puspita Sari + N.K. Adi, Punya anak/Peputro :
B.2.1.5.1. Muhammad Megantara Adijaya
B.2.2.1. Okta Buana + Herlina Oktaviani, Punya anak/Peputro :
B.2.2.2. Nanang Permadi (Belum Menikah)
B.2.3.1. Heni Budianti + Aan, Punya anak/Peputro :
B.2.3.2. Evi Dayanti + Arjani, Punya anak/Peputro :
B.2.3.3. Nazva Al-faza Indah Safitri, (Belum Menikah) :
B.2.4.1. Desmi Ramadhani (Belum Menikah)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Terjemah :
Ayat ini menegaskan pentingnya menjaga hubungan kekerabatan (silaturahmi/rahim), sehingga sangat relevan dijadikan dasar dalam penulisan sejarah dan silsilah keluarga.
Sekitar kurang-lebih ±75 tahun yang lalu Mbah Karyo Naroh berjuang membuat sejarah baru untuk keluarga besar ayahnya yaitu Mbah Singo Karyo, yang akhirnya Mbah Karyo Naroh Sukses berhasil memboyong dan membawa orang tuanya yaitu Bapaknya yang bernama Mbah Singo Karyo beserta Simboknya yang bernama Mbah Trinil juga adik-adiknya serta paman-pamannya yaitu adik-adik Mbah Trinil dari tanah leluhur di Jawa ke tanah rantau di Lampung.
Kurang lebih Tahun 1950-an Mbah Karyo Naroh menginjakkan Kaki di Bumi Lampung selatan, perjuangan, pengorbanan, peluh, air mata, prihatin, dan doa nya membuahkan hasil semua keluarga Besar Singo Karyo berhasil di boyong sebagai bukti, bakti, cinta, sayang, hubungan harmonis, dan rukunnya Mbah karyo naroh kepada orang tuanya, adik-adiknya serta paman-pamannya. Kalau tidak di dasari dan dilandasi bakti, cinta, sayang, harmonisasi, kerukunan, ke-akur-an, serta punya jiwa yang besar, dewasa, juga tanggung jawab mana mau dan mana mungkin Mbah Karyo Naroh berkorban, Prihatin, dan mengambil orang tua serta adik-adiknya ke Lampung. Tanpa Kiprah, Susah-payah, dan Jasa Almarhum Eyang Karyo Naroh mana mungkin Keluarga Besar Singo Karyo beserta keturunan-keturunannya dapat ke-Lampung dan hidu di Lampung, Anak cucu Mbah Singo Karyo serta keturunananya masih ada sampai sekarang di Lampung Selatan. kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran pada mereka bahwa perjuangan dan pengorbanan serta cara surviving yang tidak kenal putus asa, juga rasa tanggung jawab dan harmonisasi serta rasa persaudaraan mereka patut dicontoh dan ditiru. akhirnya anak cucu mereka ataupun generasi keturunannya bisa hidup mandiri serta membangun rumah sendiri-sendiri di lampung selatan.
Dimana setelah di analisa dari beberapa sempel dan contoh generasi dari Pancer Simbah Singo Karyo sudah di generasi ke-5 alias Simbah Canggah.
Berikut ini contoh Sempel silsilah kekerabatan sampai dengan generasi ke-11 :
- Anak. (Razka)
- Bapak/Ibu. (Eli)
- Simbah. (Herlina)
- Buyut. (Margono)
- Canggah. (Singo Karyo)
- Wareng.
- Udheg-Udheg.
- Gantung Siwur.
- Gropak Sente.
- Debog Bosok.
- Galih Asem.
Wallahualam Bissawab. Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh...
Ditulis dan disusun oleh : N.K. Adi
Nomor HP/Whattssap : 0888-0391-6811
Sumber Referensi :
- Nara Sumber Ahli Waris
- Mbah Mareno Gandri Bin Singo Karyo
- Mamak Ngatiyem karanganyar Binti Karyo Naroh Bin Singo Karyo
- Wawancara, Intrograsi, dan investigasi juga klarifikasi dengan Masyarakat
- BPS Lampung Selatan


















Tidak ada komentar:
Posting Komentar