Pertempuran Kutoarjo dalam Agresi Militer Belanda II, 1948–1949
Menelusuri Perlawanan Republik, Batalyon Sroehardoyo, ALRI, dan Tentara Pelajar melalui Sumber Indonesia dan Belanda
Agresi Militer Belanda II yang dimulai pada 19 Desember 1948 membawa perubahan besar terhadap situasi politik dan militer di wilayah Kedu Selatan, termasuk Purworejo dan Kutoarjo. Pendudukan pusat-pusat kota oleh pasukan Belanda tidak serta-merta mengakhiri perlawanan Republik. Sebaliknya, situasi tersebut mendorong perubahan strategi perjuangan dari pertahanan terbuka menuju perang gerilya.
Artikel ini berupaya merekonstruksi posisi Kutoarjo dalam rangkaian perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada 1948–1949 dengan mempertemukan historiografi Indonesia, sumber lokal, dan dokumentasi Belanda. Pembahasan mencakup struktur pertahanan Republik di bawah Mayor Sroehardoyo, serangan ALRI/Batalyon Kuda Putih terhadap Kutoarjo pada 25 Desember 1948 sebagaimana dicatat dalam History Today TNI AL terbitan Dinas Sejarah Angkatan Laut tahun 2023, serta keterlibatan Tentara Pelajar di wilayah Purworejo dan Kutoarjo.
Dari pihak Belanda, dokumentasi Dienst voor Legercontacten Indonesië dalam koleksi Nationaal Archief memberikan bukti visual mengenai situasi Koetoardjo pada fase akhir Revolusi Indonesia, khususnya proses penarikan dan penyerahan pada 19 Oktober 1949.
Perbandingan berbagai sumber tersebut menunjukkan bahwa Kutoarjo bukan sekadar kota yang mengalami pendudukan militer Belanda, tetapi merupakan salah satu ruang penting dalam jaringan perjuangan Republik.
Koleksi Foto Dienst voor Legercontacten Indonesië (DLC), Reportase / Seri: [DLC] Pengosongan [penarikan dari] Kemiri (Purworejo), Deskripsi: [Kesatuan militer Belanda berdiri dalam formasi/barisan], Tanggal: 18 Oktober 1949, Lokasi: Indonesia, Jawa, Kemiri, Hindia Belanda, Fotografer: Fotografer tidak dikenal / DLC, Pemegang hak: Nationaal Archief (Arsip Nasional Belanda), Jenis bahan: Negatif (hitam-putih), Nomor inventaris arsip: Akses 2.24.04.02, Nomor bagian arsip: Bestanddeelnummer 819, Sumber: Proxy Nationaal Archief: http://proxy.handle.net/10648/caad71c6-49e3-0b01-b211-80b9403b3601, Fotografer: Tidak dikenal / DLCSejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di tingkat lokal memiliki kompleksitas yang tidak selalu terlihat dalam narasi sejarah nasional. Di daerah, perjuangan tidak hanya dilakukan oleh kesatuan militer reguler, tetapi juga melibatkan kelompok pelajar, masyarakat, serta berbagai organisasi perjuangan yang bergerak dalam kondisi perang yang terus berubah.
Di wilayah Purworejo, salah satu struktur militer Republik yang memiliki peranan penting adalah Batalyon III Brigade X/SWK di bawah pimpinan Mayor Sroehardoyo.
Pada awal Agresi Militer Belanda II, pertahanan Republik di wilayah Purworejo berada dalam struktur Batalyon III Brigade X/SWK Purworejo yang dipimpin oleh Mayor Sroehardoyo.
Dalam struktur tersebut terdapat beberapa kompi, antara lain Kompi I di bawah Kapten Soedarsono Bismo, Kompi II di bawah Kapten Sanoesi, dan Kompi III di bawah Kapten Radjiman.¹
Ketika Agresi Militer Belanda II dimulai pada 19 Desember 1948, pasukan Republik melakukan perlawanan terhadap gerak maju pasukan Belanda. Namun, kekuatan militer Belanda yang lebih besar menyebabkan pertahanan terbuka Republik menghadapi tekanan berat.
Penguasaan terhadap pusat-pusat kota kemudian mendorong pasukan Republik mengubah pola perjuangan. Pengunduran dari kota bukan berarti berakhirnya perlawanan, melainkan menjadi bagian dari perubahan strategi menuju perang gerilya.²
Dalam konteks tersebut, Kutoarjo berkembang menjadi salah satu ruang tempat berlangsungnya aktivitas militer dan perlawanan terhadap keberadaan Belanda.
Salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan Kutoarjo terjadi beberapa hari setelah dimulainya Agresi Militer Belanda II.
Menurut History Today TNI AL yang diterbitkan oleh Dinas Sejarah Angkatan Laut pada 2023, halaman 183, pada 25 Desember 1948 terjadi serangan Umum terhadap Kota Kutoarjo yang dilakukan oleh ALRI/Batalyon Kuda Putih di bawah pimpinan Kapten Sudjarwo.³
Keterangan tersebut menjadi salah satu sumber penting dalam merekonstruksi perlawanan Republik di Kutoarjo pada akhir Desember 1948.
Sumber sejarah perjuangan Indonesia juga memberikan keterangan mengenai keberadaan pasukan tersebut di wilayah Desa Senepo, Kutoarjo. Dalam uraian tersebut, serangan terhadap posisi Belanda berlangsung dalam suasana konflik yang masih aktif setelah pendudukan kota.⁴
Perjuangan di wilayah Kutoarjo dan Purworejo tidak hanya dilakukan oleh kesatuan militer. Tentara Pelajar juga menjadi bagian dari jaringan perjuangan di wilayah tersebut.
Salah satu sumber yang penting adalah dokumentasi mengenai perjuangan Tentara Pelajar di Purworejo dan sekitarnya. Sumber tersebut antara lain merujuk pada Sejarah Perjuangan Tentara Pelajar Sie II Kie III Det III Brigade 17, karya Wiwoho mengenai sejarah Tentara Pelajar di Kedu Selatan tahun 1986, serta transkripsi Subarno mengenai pertempuran dan peristiwa yang dialami Tentara Pelajar di Purworejo dan sekitarnya pada 1987.⁵
Sumber-sumber tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas perjuangan tidak hanya terjadi di pusat kota, tetapi juga tersebar di wilayah pedesaan.
Salah satu rangkaian peristiwa penting terjadi di Desa Wareng, Kecamatan Butuh, pada 19 April 1949. lihat : https://sejatininghidup02.blogspot.com/2020/10/mengenang-perjuangan-tentara-pelajar-di.html
Berdasarkan sumber yang dihimpun dalam kajian mengenai perjuangan Tentara Pelajar, pasukan Belanda menyerang basis perjuangan di Wareng. Sejumlah anggota Tentara Pelajar kemudian ditangkap dan dibawa menuju arah Kutoarjo.⁶
Dalam perjalanan tersebut, terjadi peristiwa di wilayah Pringgowijayan yang dalam sumber lokal dikaitkan dengan gugurnya sejumlah anggota Tentara Pelajar dan warga.⁷
Rangkaian Wareng–Pringgowijayan–Kutoarjo memperlihatkan bahwa ruang konflik pada masa Revolusi tidak terbatas pada pusat kota. Desa-desa, jalur pergerakan, tempat persembunyian, dan pos-pos perjuangan merupakan bagian dari jaringan perang gerilya yang lebih luas.
Perspektif Belanda: Koetoardjo dalam Dokumentasi Dienst voor Legercontacten, Untuk memperoleh gambaran yang lebih berimbang, sumber Indonesia perlu dibandingkan dengan dokumentasi dari pihak Belanda.
Salah satu sumber primer yang penting adalah Fotocollectie Dienst voor Legercontacten Indonesië yang tersimpan di Nationaal Archief Nederland.
Dalam koleksi tersebut terdapat seri:
[DLC] Ontruiming [terugtrekking uit] Koetoardjo (Poerworedjo)
Istilah ontruiming berarti pengosongan, sedangkan terugtrekking berarti penarikan atau pengunduran.
Dokumentasi tersebut menunjukkan bahwa pada Oktober 1949 terjadi proses penarikan pasukan Belanda dari Koetoardjo. Salah satu foto, Bestanddeelnummer 814, memiliki keterangan “Nederlandse troepen vertrekken met trucks”, atau **“Pasukan Belanda meninggalkan Koetoardjo dengan truk.”**⁸
Bukti yang sangat penting terdapat pada Bestanddeelnummer 817.
Foto tersebut memperlihatkan perwira Indonesia dan Belanda yang sedang berunding di sekitar sebuah meja dengan dokumen di hadapan mereka.
Keterangan Belandanya berbunyi:
“Indonesische en Nederlandse officieren overleggen rond een tafel. Voor zich hebben ze documenten.”
Artinya:
“Perwira-perwira Indonesia dan Belanda sedang berunding di sekitar sebuah meja. Di hadapan mereka terdapat dokumen-dokumen.”
Yang membuat arsip ini sangat penting adalah anotasi katalog:
“De overgave van Koetoardjo vond plaats op 19-10-1949.”
Artinya:
**“Penyerahan Koetoardjo berlangsung pada 19 Oktober 1949.”**⁹
Dengan demikian, data arsip Belanda secara eksplisit menghubungkan dokumentasi tersebut dengan penyerahan Koetoardjo pada 19 Oktober 1949.
Dokumentasi lain dalam seri yang sama adalah Bestanddeelnummer 810, bertanggal 19 Oktober 1949.
Deskripsi Belandanya menyebut:
“Nederlandse officier schudt de hand van een TNI commandant, daarnaast Indonesische officieren...”
Artinya:
“Seorang perwira Belanda berjabat tangan dengan seorang komandan TNI, di sampingnya terdapat perwira-perwira Indonesia...”
data juga menyebut seorang letnan kolonel KNIL dan seorang pengamat militer asing.¹⁰ Foto tersebut memperlihatkan kontak langsung antara pihak Belanda dan TNI dalam konteks penarikan dari Koetoardjo.
Namun, nama-nama perwira Indonesia dalam foto belum dapat dipastikan hanya berdasarkan foto tapi di sinyalir ada jenderal Ahmad Yani.
Rangkaian dokumentasi tersebut juga memperlihatkan dimensi sosial dari peristiwa 19 Oktober 1949.
Bestanddeelnummer 813 memiliki deskripsi:
“Optocht van de Indonesische schooljeugd met Indonesische vlaggetjes.”
Artinya:
**“Pawai pelajar sekolah Indonesia dengan membawa bendera-bendera kecil Indonesia.”**¹¹
Lihat : https://sejatininghidup02.blogspot.com/2025/08/pawai-pelajar-kutoarjo-19-oktober-1949.html
Dokumentasi tersebut memberikan gambaran bahwa proses penarikan Belanda berlangsung bersamaan dengan munculnya masyarakat Indonesia di ruang publik dengan simbol-simbol Republik.
Jika dokumentasi Belanda tersebut dibaca secara kronologis, terlihat adanya perubahan situasi.
Pada masa Agresi Militer Belanda II, Kutoarjo berada dalam lingkungan konflik bersenjata dan pendudukan Belanda. Perlawanan Republik kemudian berlangsung melalui berbagai bentuk perjuangan.
Beberapa bulan kemudian, dokumentasi Belanda pada Oktober 1949 menunjukkan situasi yang berbeda. Pasukan Belanda meninggalkan Koetoardjo, perwira Belanda berhubungan dengan komandan TNI, dan perwira kedua pihak melakukan perundingan. Pada saat yang sama, masyarakat dan pelajar Indonesia tampil di ruang publik.
Rangkaian dokumentasi tersebut memperlihatkan perubahan dari situasi pendudukan dan konflik bersenjata menuju proses penyerahan Koetoardjo kepada pihak Republik.
Arsip Belanda yang telah ditemukan mengenai Koetoardjo, khususnya seri Ontruiming [terugtrekking uit] Koetoardjo, terutama mendokumentasikan peristiwa Oktober 1949, bukan serangan 25 Desember 1948. Karena itu, arsip tersebut tidak dapat digunakan untuk mengatakan bahwa Belanda secara langsung telah mengonfirmasi seluruh detail serangan 25 Desember 1948.
Untuk peristiwa 25 Desember 1948, sumber yang memberikan keterangan spesifik adalah History Today TNI AL, Dinas Sejarah Angkatan Laut 2023, halaman 183.³
Sementara itu, arsip Belanda memberikan bukti mengenai perkembangan situasi Koetoardjo hingga fase akhir konflik, khususnya penarikan dan penyerahan pada Oktober 1949.
Perbedaan fungsi sumber tersebut justru penting dalam penelitian sejarah. Sumber Indonesia digunakan untuk merekonstruksi peristiwa serangan 25 Desember 1948, sedangkan arsip Belanda digunakan untuk menguji perkembangan situasi Koetoardjo hingga fase penyerahan.
Kutoarjo dalam Jaringan Perang Gerilya Jika berbagai sumber tersebut dibaca secara bersama-sama, Kutoarjo tidak dapat dipahami hanya sebagai kota yang diduduki Belanda.
Kutoarjo merupakan bagian dari ruang konflik yang terus berubah selama Revolusi Indonesia.
Pada tahap awal, pertahanan Republik berada dalam struktur militer di bawah Mayor Sroehardoyo. Setelah pusat kota berada di bawah kendali Belanda, perjuangan tidak berhenti, tetapi berubah menjadi pola gerilya dan serangan terhadap kedudukan maupun pergerakan pasukan Belanda.
Dalam perkembangan berikutnya, sumber Indonesia mencatat keterlibatan ALRI/Batalyon Kuda Putih dan Tentara Pelajar. Jaringan perjuangan juga meluas ke wilayah pedesaan di sekitar Purworejo dan Kutoarjo.
Pada akhirnya, dokumentasi Belanda menunjukkan perubahan situasi pada Oktober 1949, ketika pasukan Belanda meninggalkan Koetoardjo dan proses penyerahan berlangsung.
Berdasarkan perbandingan sumber Indonesia dan Belanda, Kutoarjo merupakan salah satu ruang penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada masa Revolusi 1948–1949.
Pada tahap Agresi Militer Belanda II, pertahanan Republik di wilayah Purworejo berada dalam struktur Batalyon III Brigade X/SWK di bawah Mayor Sroehardoyo. Setelah kekuatan Belanda menguasai pusat kota, perjuangan tidak berhenti, tetapi berubah menjadi perang gerilya.
Menurut History Today TNI AL, Dinas Sejarah Angkatan Laut 2023 halaman 183, pada 25 Desember 1948 terjadi serangan terhadap Kota Kutoarjo oleh ALRI/Batalyon Kuda Putih di bawah Kapten Sudjarwo.³
Sementara itu, dokumentasi primer Nationaal Archief memberikan gambaran mengenai fase akhir konflik. Bestanddeel 810 memperlihatkan hubungan langsung antara perwira Belanda dan komandan TNI; Bestanddeel 813 memperlihatkan pawai pelajar Indonesia; Bestanddeel 814 memperlihatkan pasukan Belanda meninggalkan Koetoardjo dengan truk; sedangkan Bestanddeel 817 mencatat secara eksplisit bahwa penyerahan Koetoardjo berlangsung pada 19 Oktober 1949.⁸⁻¹¹
Sjef Gieben (1925–1949)
Jos, door de familie ‘Sjef’ genoemd, wordt geboren op 27 augustus 1925 in Sint Anthonis, als zoon van smid Piet Gieben en Marie Versleijen die samen een winkel in huishoudelijke artikelen houden. Sjef is erg geliefd, is optimistisch ingesteld en heeft een grote vriendenkring.
Eind 1946 komt hij als dienstplichtig soldaat op bij de Koninklijke Landmacht in Blerick en wordt ingedeeld bij het 4-11 Regiment Infanterie, opgericht in januari 1947. Vanwege het losgebarsten geweld van de Indonesische onafhankelijkheidsstrijd wordt hij na algemene militaire opleiding naar Nederlands-Indië gezonden om er bij te dragen aan het herstel van de rust en het Nederlandse gezag.
Sjef vertrekt op 5 februari 1947 met de Johan van Oldenbarnevelt en gaat na een zeereis van een maand aan land bij Batavia. Daar wordt hij gelegerd en ingezet voor wachtdiensten bij onder andere het paleis van luitenant-gouverneur-generaal Huib van Mook en de woning van legercommandant S.H. Spoor. Ook loopt hij wacht bij de gevangenissen Struiswijk en Glodok.
In de daaropvolgende maanden wordt zijn bataljon gelegerd rond Tangerang, even ten westen van Batavia, waar het gebied middels patrouillegangen en acties wordt gezuiverd.
Tijdens de Tweede Politionele Actie van 19 december 1948 tot 5 januari 1949 wordt Sjef met zijn onderdeel naar Poerworedjo gezonden voor de inname en zuivering van de sector. Daarna gaat het bataljon een zware tijd tegemoet. Met te weinig mensen moet een te groot gebied worden beveiligd, wat door de talrijke infiltraties en guerrilla-aanvallen van de revolutionairen nauwelijks kan worden gerealiseerd.
Na afloop van de Actie blijkt bovendien dat het revolutionaire leger de confrontatie uit de weg was gegaan en nu in staat is om vanuit de binnenlanden de guerrillastrijd tot ongekende hevigheid op te voeren.
In de loop van januari wordt Sjef in Koetoradjo geplaatst, een gevaarlijke sector waar regelmatig aanvallen plaatsvinden van revolutionaire troepen.
In de nacht van 31 januari op 1 februari 1949, een maand na de Tweede Politionele Actie, wordt het kamp opnieuw aangevallen. Tijdens de verdediging raakt Sjef zwaargewond in zijn onderlichaam. Aanvankelijk lijkt de verwonding niet fataal, maar door ernstig bloedverlies verslechtert zijn toestand snel. Diezelfde nacht bezwijkt Sjef aan zijn verwondingen; hij is 23 jaar geworden.
Hij vindt zijn laatste rustplaats op het Nederlands ereveld Candi in Semarang.
Terjemahan bahasa Indonesia :
"Sjef Gieben (1925–1949)
Jos, yang oleh keluarganya dipanggil “Sjef”, lahir pada 27 Agustus 1925 di Sint Anthonis. Ia merupakan putra seorang pandai besi bernama Piet Gieben dan Marie Versleijen, yang bersama-sama menjalankan toko perlengkapan rumah tangga. Sjef sangat disukai, memiliki sifat optimistis, dan mempunyai banyak teman.
Pada akhir 1946, ia masuk sebagai tentara wajib militer pada Koninklijke Landmacht (Angkatan Darat Kerajaan Belanda) di Blerick dan ditempatkan pada 4-11 Regiment Infanterie, yang dibentuk pada Januari 1947. Karena pecahnya kekerasan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, setelah menyelesaikan pendidikan militer umum ia dikirim ke Hindia Belanda untuk membantu memulihkan ketertiban dan kekuasaan Belanda.
Sjef berangkat pada 5 Februari 1947 dengan kapal Johan van Oldenbarnevelt dan setelah perjalanan laut selama sekitar satu bulan tiba di Batavia. Di sana ia ditempatkan dan menjalankan tugas penjagaan, antara lain di istana Letnan Gubernur Jenderal Huib van Mook dan kediaman komandan tentara S.H. Spoor. Ia juga bertugas menjaga penjara Struiswijk dan Glodok.
Pada bulan-bulan berikutnya, batalyonnya ditempatkan di sekitar Tangerang, di sebelah barat Batavia. Wilayah tersebut dilakukan patroli dan berbagai operasi pembersihan.
Dalam Agresi Militer Belanda II (Tweede Politionele Actie), yang berlangsung mulai 19 Desember 1948 sampai 5 Januari 1949, Sjef bersama kesatuannya dikirim ke Poerworedjo untuk melakukan pendudukan dan pembersihan sektor tersebut.
Setelah operasi itu, batalyonnya menghadapi masa yang berat. Dengan jumlah personel yang tidak mencukupi, mereka harus mengamankan wilayah yang terlalu luas. Keadaan tersebut semakin sulit karena banyaknya infiltrasi dan serangan gerilya dari pasukan revolusioner.
Setelah operasi tersebut berakhir, menurut sumber tersebut, tentara revolusioner menghindari pertempuran terbuka dan kemudian mampu meningkatkan perjuangan gerilya dari wilayah pedalaman.
Pada bulan Januari, Sjef kemudian ditempatkan di Koetoradjo (Kutoarjo), yang digambarkan sebagai sektor berbahaya dan sering mengalami serangan pasukan revolusioner.
Pada malam 31 Januari menuju 1 Februari 1949, sekitar satu bulan setelah Agresi Militer Belanda II, kamp tersebut kembali diserang.
Dalam usaha mempertahankan kamp, Sjef mengalami luka berat. Pada awalnya lukanya tidak dianggap fatal, tetapi kondisinya kemudian memburuk akibat kehilangan banyak darah. Pada malam yang sama ia meninggal dunia. Ia berusia 23 tahun.
Jenazahnya kemudian dimakamkan di Nederlands ereveld Candi, Semarang."¹²
Sjef Gieben (1925–1949), prajurit 4-11 R.I. Koninklijke Landmacht, gugur di Koetoardjo (Kutoarjo), Jawa Tengah, pada 31 Januari 1949 akibat luka yang dideritanya dalam serangan terhadap kamp tempat kesatuannya berada.
Lahir : 27 Agustus 1925, Sint Anthonis
Meninggal : 31 Januari 1949
Tempat meninggal : Koetoardjo, Midden-Java, Nederlands Oost-Indië
Usia : 23 tahun
Kesatuan : 4-11 R.I., Koninklijke Landmacht
Sebab kematian : luka akibat tembakan pihak lawan (dodelijke verwonding – vijandelijk vuur)
Dimakamkan: Nederlands ereveld Candi, Semarang, makam C.59.
Brabantse Gesneuvelden Yang menarik, narasi biografinya menjelaskan bahwa ia ditempatkan di Koetoradjo pada Januari 1949, kemudian pada malam 31 Januari menuju 1 Februari 1949 kamp tempat kesatuannya berada diserang. Ia terluka dan kemudian meninggal akibat luka tersebut pada malam itu.
Biografi Sjef Gieben yang diterbitkan oleh Stichting Herdenking Brabants Gesneuvelden menunjukkan bahwa Koetoradjo (Kutoarjo) merupakan salah satu sektor konflik bersenjata dalam periode Revolusi Indonesia. Sumber tersebut mencatat penempatan Sjef Gieben di Koetoradjo pada Januari 1949 dan serangan terhadap kamp pada malam 31 Januari hingga 1 Februari 1949. Temuan ini memperkuat bukti bahwa Kutoarjo mengalami dinamika konflik bersenjata pasca-Agresi Militer Belanda II
Sumber : Stichting Herdenking Brabants Gesneuvelden. “Sjef Gieben, Sint Anthonis 1925.” Brabantse Gesneuvelden 1940–heden. Diakses 17 Agustus 2026.
Rangkaian bukti tersebut menunjukkan bahwa sejarah Kutoarjo tidak berhenti pada pendudukan Belanda. Kota tersebut tetap menjadi bagian dari dinamika perjuangan Republik hingga memasuki fase penyerahan dan penarikan pasukan Belanda pada Oktober 1949.
Sejatininghidup02.blogspot.com
Catatan Kaki :
1. Lihat sumber historiografi mengenai struktur Batalyon III Brigade X/SWK Purworejo dan susunan kompi di bawah Mayor Sroehardoyo.
2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945–1949 Daerah Jawa Tengah (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan).
3. Dinas Sejarah Angkatan Laut, History Today TNI AL (2023), hlm. 183.
4. Sumber sejarah perjuangan ALRI/Batalyon Kuda Putih sebagaimana dikutip dalam historiografi perjuangan Kutoarjo.
5. Wiwoho, Sejarah Tentara Pelajar di Kedu Selatan, transkripsi, 1986; Subarno, Pertempuran dan Peristiwa yang Dialami Tentara Pelajar di Purworejo dan Sekitarnya, transkripsi, 1987; Yayasan Bhakti Tentara Pelajar Kedu, Sejarah Perjuangan Tentara Pelajar Sie II Kie III Det III Brigade 17.
6. Ndandung Kumolo Adi, “Pertempuran Desa Wareng Butuh 19 April 1949: Gugurnya Tentara Pelajar Brigade 17 dan Warga dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia,” Sejatining Hidup, 28 Oktober 2020.
7. Ibid.
8. Nationaal Archief Nederland, Fotocollectie Dienst voor Legercontacten Indonesië, seri “[DLC] Ontruiming [terugtrekking uit] Koetoardjo (Poerworedjo),” Bestanddeelnummer 814, toegang 2.24.04.02, 19 Oktober 1949. Dokumentasi digital juga memuat metadata Nationaal Archief yang sama.
9. Nationaal Archief Nederland, Fotocollectie Dienst voor Legercontacten Indonesië, seri “[DLC] Ontruiming [terugtrekking uit] Koetoardjo (Poerworedjo) of ontruiming Kemiri (Poerworedjo),” Bestanddeelnummer 817, toegang 2.24.04.02, Oktober 1949. Anotasi arsip: “De overgave van Koetoardjo vond plaats op 19-10-1949.”
10. Nationaal Archief Nederland, Fotocollectie Dienst voor Legercontacten Indonesië, seri “[DLC] Ontruiming [terugtrekking uit] Koetoardjo (Poerworedjo),” Bestanddeelnummer 810, toegang 2.24.04.02, 19 Oktober 1949. Metadata mencatat perwira Belanda berjabat tangan dengan komandan TNI serta keberadaan perwira Indonesia, letnan kolonel KNIL, dan pengamat militer asing.
11. Nationaal Archief Nederland, Fotocollectie Dienst voor Legercontacten Indonesië, seri “[DLC] Ontruiming [terugtrekking uit] Koetoardjo (Poerworedjo),” Bestanddeelnummer 813, akses 2.24.04.02, 19 Oktober 1949.
12. Brabantse Gesneuvelden. “Sjef Gieben, Sint Anthonis 1925–Koetoardjo 1949.
Sumber primer :
- Nationaal Archief Nederland. Fotocollectie Dienst voor Legercontacten Indonesië. Toegang 2.24.04.02. Seri [DLC] Ontruiming [terugtrekking uit] Koetoardjo (Poerworedjo). Bestanddeelnummer 810, 813, 814, dan 817.
- Dinas Sejarah Angkatan Laut. History Today TNI AL. 2023.
- Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945–1949 Daerah Jawa Tengah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
- Subarno. Pertempuran dan Peristiwa yang Dialami Tentara Pelajar di Purworejo dan Sekitarnya. Transkripsi. 1987.
- Wiwoho. Sejarah Tentara Pelajar di Kedu Selatan. Transkripsi. 1986.
- Yayasan Bhakti Tentara Pelajar Kedu. Sejarah Perjuangan Tentara Pelajar Sie II Kie III Det III Brigade 17.
- Adi, Ndandung Kumolo. “Pertempuran Desa Wareng Butuh 19 April 1949: Gugurnya Tentara Pelajar Brigade 17 dan Warga dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia.” Sejatining Hidup, 28 Oktober 2020.
- Brabantse Gesneuvelden. “Sjef Gieben, Sint Anthonis 1925–Koetoardjo 1949.”
Khusus arsip Nationaal Archief, Bestanddeel 810 sudah dapat diverifikasi secara independen : tanggal 19 Oktober 1949, Koetoardjo, seri Ontruiming [terugtrekking uit] Koetoardjo, dan akses 2.24.04.02.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar