Kunjungan Perpisahan Gubernur A.H. Neys di Purworejo dan Bukti Keberadaan Kabupaten Kutoarjo Tahun 1933 Berdasarkan Surat Kabar De Locomotief
Artikel Afscheidsbezoek Gouverneur Neys. Te Poerworedjo yang dimuat dalam surat kabar De Locomotief edisi 4 Oktober 1933 merupakan salah satu sumber primer yang memberikan informasi mengenai kondisi administrasi pemerintahan di Karesidenan Kedu menjelang reorganisasi pemerintahan Hindia Belanda. Berita tersebut mencatat kunjungan perpisahan Gubernur Jawa Tengah, A.H. Neys, ke Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kutoarjo, serta dihadiri oleh para pejabat Eropa maupun pejabat pribumi dari kedua kabupaten. Kehadiran pejabat dari Kabupaten Kutoarjo menunjukkan bahwa pada 4 Oktober 1933 kabupaten tersebut masih berfungsi sebagai regentschap (kabupaten) dalam struktur administrasi kolonial. Selain menggambarkan hubungan kerja antara pemerintah kolonial dan pejabat pribumi, artikel ini juga menjadi bukti kronologis penting mengenai eksistensi Kabupaten Kutoarjo beberapa bulan sebelum reorganisasi administrasi yang mulai berlaku pada 1 Januari 1934.
Surat kabar: De Locomotief Tanggal: 4 Oktober 1933 Bagian: Derde Blad (Lembar Ketiga) Halaman: Pagina 2 (Halaman 2). Dengan judul : Afscheidsbezoek Gouverneur Neys. Te Poerworedjo." Atau dalam bahasa indonesia
"Kunjungan Perpisahan Gubernur Neys di Purworejo."
Berikut transkripsi dan terjemahan artikel tersebut.
Transkripsi (Belanda)
AFSCHEIDSBEZOEK GOUVERNEUR NEYS.
Te Poerworedjo.
Men telefoneert ons uit Poerworedjo:
Gouverneur A. H. Neys heeft hedenochtend een afscheidsbezoek gebracht aan de regentschappen Poerworedjo en Koetoardjo.
Vergezeld van resident Linck van Magelang en van den resident ter beschikking Van der Elst arriveerde de gouverneur tegen half twaalf in de kaboepaten, waar zich een groot aantal belangstellenden had verzameld. Behalve de regent waren aanwezig de assistent-resident, de Inlandsche ambtenaren uit de regentschappen Poerworedjo en Koetoardjo, de commandant van het ter hoofdplaats gelegerde bataljon met zijne officieren, de hoofdingenieur van den irrigatie-dienst en de sectie-ingenieur, de wijkmeester der Chineezen, de sectie-chef van den prov. waterstaatsdienst en enkele anderen.
Gouverneur Neys wees er in zijn afscheidswoord op, dat het heengaan uit een werkkring bij het bestuur niet licht valt. Het bestuurswerk plaatst den ambtenaar in het midden der samenleving en stelt hem in de gelegenheid veel te doen voor het volk. In het bijzonder richtte hij zich tot de Inlandsche bestuursambtenaren, die in staat zijn veel te doen in het belang van het volk, speciaal ook in deze moeilijke tijden. Spreker was overtuigd, dat een ieder ook in de toekomst alles zal doen wat hij kan in het belang van den bestuurden en tot handhaving van de mooie traditie van het corps.
De regent beantwoordde de rede van den gouverneur. Hij wees er op, dat de samenwerking tusschen de verschillende takken van dienst en het bestuur en die tusschen de samenstellende deelen van het bestuurscorps onder de leiding van gouverneur Neys steeds prettig was. Veel hebben wij Inlandsche bestuursambtenaren van U mogen leeren. Wij zijn U daarvoor dankbaar en wenschen U, nu Gij den dienst gaat verlaten toe, dat Gij een prettige herinnering zult bewaren aan den tijd, dat Gij gouverneur van Midden-Java waart.
Kort hierop nam gouverneur Neys van ieder der aanwezigen persoonlijk afscheid en zette hij zijne reis voort naar Wonosobo.
---
Terjemahan Bahasa Indonesia :
"Kunjungan Perpisahan Gubernur Neys di Purworejo
Purworejo.
Melalui laporan telepon dari Purworejo diberitakan bahwa pada pagi hari itu Gubernur A. H. Neys melakukan kunjungan perpisahan ke Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kutoarjo.
Gubernur datang didampingi Residen Linck dari Magelang serta Residen Van der Elst. Sekitar pukul 11.30, rombongan tiba di pendapa kabupaten, tempat banyak tamu telah berkumpul.
Selain bupati, hadir pula:
Asisten Residen;
Para pejabat pribumi dari Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kutoarjo;
Komandan batalion yang bermarkas di ibu kota kabupaten beserta para perwiranya;
Kepala Insinyur Dinas Irigasi dan insinyur seksi;
Wijkmeester (kepala lingkungan) masyarakat Tionghoa;
Kepala seksi Dinas Pekerjaan Umum (Waterstaat) Provinsi;
Serta sejumlah pejabat lainnya.
Dalam pidato perpisahannya, Gubernur Neys menyatakan bahwa meninggalkan jabatan pemerintahan bukanlah perkara yang mudah. Tugas pemerintahan menempatkan seorang pejabat di tengah-tengah masyarakat dan memberinya kesempatan untuk berbuat banyak bagi rakyat.
Ia secara khusus mengarahkan pesannya kepada para pejabat pemerintahan pribumi, karena menurutnya mereka mempunyai kesempatan besar untuk mengabdi kepada kepentingan rakyat, terutama dalam masa-masa yang sulit. Ia yakin bahwa mereka akan terus menjalankan tugas sebaik-baiknya demi kepentingan masyarakat serta menjaga tradisi baik korps pemerintahan.
Atas nama para pejabat, Bupati memberikan sambutan balasan. Ia menyampaikan bahwa kerja sama antara berbagai dinas pemerintahan di bawah kepemimpinan Gubernur Neys selalu berlangsung dengan baik. Ia juga menegaskan bahwa para pejabat pribumi telah banyak belajar dari Gubernur Neys, mengucapkan terima kasih, serta mendoakan agar beliau menyimpan kenangan yang baik selama menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah.
Setelah itu, Gubernur Neys berpamitan secara pribadi kepada seluruh hadirin, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Wonosobo."
Kunjungan Perpisahan Gubernur Neys di Purworejo
Surat kabar De Locomotief, Derde Blad, 4 Oktober 1933, halaman 2, memuat artikel berjudul "Afscheidsbezoek Gouverneur Neys. Te Poerworedjo." yang dalam bahasa Indonesia berarti "Kunjungan Perpisahan Gubernur Neys di Purworejo."
Berdasarkan laporan tersebut, pada pagi hari tanggal 4 Oktober 1933, Gubernur Jawa Tengah A.H. Neys melakukan kunjungan perpisahan ke Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kutoarjo. Gubernur didampingi oleh Residen Magelang J.H. Linck dan Residen Van der Elst. Setibanya di pendapa kabupaten sekitar pukul 11.30, rombongan disambut oleh para pejabat pemerintahan dan tamu undangan.
Hadir dalam acara tersebut antara lain Bupati, Asisten Residen, para pejabat pemerintahan pribumi dari Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kutoarjo, komandan batalion beserta para perwiranya, Kepala Insinyur Dinas Irigasi, insinyur seksi, Wijkmeester masyarakat Tionghoa, Kepala Seksi Dinas Pekerjaan Umum (Waterstaat), serta sejumlah pejabat lainnya.
Dalam pidato perpisahannya, Gubernur Neys menyampaikan bahwa meninggalkan tugas pemerintahan bukanlah hal yang mudah karena pekerjaan seorang pejabat pemerintahan menempatkannya di tengah-tengah masyarakat dan memberinya kesempatan untuk mengabdi kepada rakyat. Ia juga memberikan penghargaan kepada para pejabat pemerintahan pribumi yang dinilai memiliki peranan penting dalam menjaga kepentingan masyarakat, terutama pada masa-masa yang sulit.
Atas nama para pejabat, Bupati menyampaikan ucapan terima kasih atas kepemimpinan Gubernur Neys serta menegaskan bahwa hubungan kerja sama antara berbagai dinas pemerintahan selama masa kepemimpinannya berlangsung dengan baik. Setelah berpamitan secara pribadi kepada seluruh hadirin, Gubernur Neys melanjutkan perjalanan menuju Wonosobo.
Nilai Historis
Artikel De Locomotief edisi 4 Oktober 1933 merupakan sumber primer yang membuktikan bahwa hingga tanggal 4 Oktober 1933 Regentschap Koetoardjo (Kabupaten Kutoarjo) masih berfungsi sebagai satuan pemerintahan dalam struktur administrasi Hindia Belanda. Hal ini dibuktikan oleh kunjungan resmi Gubernur Jawa Tengah A.H. Neys ke Regentschap Poerworedjo dan Regentschap Koetoardjo, serta kehadiran para pejabat pemerintahan dari kedua kabupaten.
Berita ini juga memperlihatkan pentingnya peran Inlandsche bestuursambtenaren (pejabat pemerintahan pribumi) dalam penyelenggaraan administrasi kolonial pada masa yang oleh Gubernur Neys sendiri disebut sebagai "masa-masa yang sulit" (deze moeilijke tijden). Ungkapan tersebut mencerminkan situasi krisis ekonomi yang sedang melanda Hindia Belanda sebagai dampak Malaise atau Depresi Besar (Great Depression) pada awal dekade 1930-an.
Dalam upaya mengurangi beban keuangan negara akibat krisis tersebut, pemerintah Hindia Belanda melaksanakan kebijakan penghematan (bezuiniging) dan reorganisasi pemerintahan. Salah satu dampaknya adalah dihapuskannya Kabupaten Kutoarjo sebagai regentschap tersendiri dan penggabungannya ke Kabupaten Purworejo yang mulai berlaku efektif pada 1 Januari 1934. Oleh karena itu, artikel De Locomotief ini menjadi bukti primer mengenai keberadaan Kabupaten Kutoarjo beberapa bulan sebelum reorganisasi administrasi tersebut dilaksanakan. Karena Resesi Dunia atau Tragedi Malaise (Depresi Besar atau Great Depression) merupakan latar belakang utama dilakukannya penghematan dan reorganisasi administrasi oleh pemerintah Hindia Belanda
Disusun oleh: Ndandung Kumolo Adi
- De Locomotief. 4 Oktober 1933. Derde Blad, Pagina 2. Afscheidsbezoek Gouverneur Neys. Te Poerworedjo.
- Linck, J.H. 1935. Korte Aantekeningen betreffende de Residentie Kedu. Magelang.
- ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). Daftar Arsip Tekstual Departement van Binnenlandsch Bestuur Jilid I (1910–1942). Sebagai sumber pendukung mengenai administrasi pemerintahan Hindia Belanda.
- The Emergence of a National Economy: An Economic History of Indonesia, 1800–2000. 2002. Allen & Unwin. (Membahas dampak Depresi Besar/Malaise terhadap perekonomian Hindia Belanda dan kebijakan penghematan pemerintah.
- A History of Modern Indonesia Since c. 1200. Edisi ke-4. 2008. Stanford University Press. (Memberikan konteks politik dan administrasi Hindia Belanda pada awal 1930-an, termasuk dampak krisis ekonomi
- Soerabaijasch Handelsblad. 16 Desember 1933. "Opheffing Drietal Regentschappen: Koetoardjo, Kraksaan en Sampang." membahas rancangan penghapusan tiga regentschappen tersebut termasuk Kutoarjo dan penggabungannya dengan kabupaten lain. Dalam konteks ini disebut bahwa tindakan tersebut mempunyai keuntungan dari sisi administrasi dan keuangan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar