Powered By Blogger

Kamis, 30 Juli 2026

Keris (Dhuwung/Curiga) Kyai Surojoyo: Peninggalan Leluhur Keluarga dan Tradisi Penamaan Senjata dalam Islam Berdasarkan Sunnah Nabi Agung Muhammad SAW


Foto: Keris (dhuwung/curiga) bernama Kyai Surojoyo merupakan pusaka peninggalan leluhur keluarga. Keris ini menggunakan pendok dan mendak berbahan perak, deder (gagang) dari gading gajah, serta warangka sederhana berbahan kayu timoho.

Keris (Dhuwung/Curiga) Kyai Surojoyo: Peninggalan Leluhur Keluarga dan Tradisi Penamaan Senjata dalam Islam Berdasarkan Sunnah Nabi Agung Muhammad SAW

Oleh: Ndandung Kumolo Adi 

Abstrak :
Keris (dhuwung/curiga) merupakan salah satu warisan budaya Nusantara yang memiliki nilai sejarah, seni, teknologi metalurgi, serta filosofi yang tinggi. Dalam masyarakat Jawa, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tikam, tetapi juga diwariskan sebagai pusaka keluarga yang menjadi simbol identitas, kehormatan, dan penghormatan terhadap leluhur. Di sisi lain, literatur hadis menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki pedang yang dihiasi dengan perak serta memberi nama kepada beberapa senjata dan barang miliknya. Tulisan ini bertujuan mengkaji Keris Kyai Surojoyo, pusaka peninggalan leluhur keluarga, dalam perspektif sejarah, budaya, dan ajaran Islam. Kajian dilakukan melalui pendekatan deskriptif berdasarkan hadis, literatur sirah Nabawiyah, serta pendapat para ulama. Hasil kajian menunjukkan bahwa menghiasi senjata dengan perak dan memberikan nama kepada senjata merupakan praktik yang dikenal pada masa Rasulullah ﷺ serta dibolehkan dalam syariat selama tidak disertai keyakinan adanya kekuatan gaib pada benda tersebut. Dengan demikian, pelestarian keris sebagai warisan budaya dapat berjalan selaras dengan ajaran Islam apabila tetap berpegang teguh pada prinsip tauhid.

Kata Kunci: Keris, Dhuwung, Curiga, Tosan Aji, Kyai Surojoyo, Sunnah Nabi, Warisan Budaya, Islam.
---
Pendahuluan :
Keris merupakan salah satu mahakarya budaya Nusantara yang telah berkembang selama berabad-abad dan menjadi bagian penting dari sejarah peradaban Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Selain dikenal sebagai senjata tikam tradisional dan senjata simbol, keris juga mencerminkan kemajuan teknologi tempa logam (metalurgi), nilai estetika, filosofi kehidupan, serta identitas sosial masyarakat pada zamannya.

Dalam tradisi Jawa, keris diwariskan secara turun-temurun sebagai pusaka keluarga. Nilai sebuah keris tidak semata-mata terletak pada keindahan bentuknya, tetapi juga pada sejarah kepemilikan, nilai seni, keterampilan para empu, serta penghormatan terhadap para leluhur yang mewariskannya.

Dalam Islam, kepemilikan senjata merupakan sesuatu yang dibolehkan. Bahkan, berbagai riwayat menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memiliki beberapa pedang yang diberi nama dan dihiasi dengan perak. Riwayat-riwayat tersebut menunjukkan bahwa memberikan nama pada senjata dan menghiasinya dengan perak merupakan praktik yang dikenal pada masa Nabi Muhammad SAW selama tidak disertai keyakinan yang bertentangan dengan akidah Islam.
---

Keris Kyai Surojoyo sebagai Pusaka Leluhur :
Sebagai pusaka keluarga saya, Keris Kyai Surojoyo memiliki nilai historis yang diwariskan dari generasi ke generasi. Selain menjadi benda budaya, keris ini juga merupakan bukti keterampilan seni kriya tradisional Jawa yang memadukan fungsi, keindahan, dan nilai sejarah dalam satu karya.
---

Tradisi Menghias Senjata dengan Perak dalam Islam :
Dalam khazanah Islam terdapat sejumlah riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memiliki pedang yang dihiasi dengan perak.

Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu meriwayatkan:
"Gagang (atau bagian sarung) pedang Rasulullah ﷺ terbuat dari perak."
(HR. At-Tirmidzi dan Ad-Darimi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullāh menjelaskan:
«"Pedang boleh dihiasi dengan sedikit perak sebagaimana pedang Nabi ﷺ juga terdapat padanya perak."»
(Majmū' al-Fatāwā, 25/64)

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan hiasan perak pada pedang merupakan sesuatu yang dibolehkan menurut syariat Islam.
---

Tradisi Penamaan Senjata dalam Sunnah Nabi Muhammad SAW :
Selain menghiasi pedangnya dengan perak, Rasulullah SAW juga memberikan nama kepada beberapa pedang yang beliau miliki.

Ibnu al-Qayyim rahimahullāh dalam Zād al-Ma'ād menyebutkan beberapa nama pedang Rasulullah SAW, di antarany:
- Al-Ma'tsur
- Al-'Adab
- Dzul Fiqar
- Al-Qal'i
- Al-Battar
- Al-Hataf
- Ar-Rasub
- Al-Mikhdzam
- Al-Qabidh

Di antara seluruh pedang tersebut, Dzul Fiqar merupakan yang paling terkenal. Menurut riwayat, pedang tersebut diperoleh Rasulullah SAW setelah Perang Badar.

Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhumā meriwayatkan "bahwa Dzul Fiqar merupakan pedang yang tampak dalam mimpi Rasulullah SAW menjelang Perang Uhud" (HR. At-Tirmidzi No. 1561 dan Ibnu Majah No. 2808; disahihkan oleh Al-Albani).

Nama Dzul Fiqar berasal dari kata faqrah, yaitu lekukan atau alur pada bilah pedang.
Riwayat-riwayat tersebut menunjukkan bahwa pemberian nama pada senjata merupakan praktik yang dikenal pada masa Rasulullah Nabi Muhammad SAW 
---

Memberikan Nama kepada Barang :
Rasulullah SAW tidak hanya memberi nama pada pedangnya, tetapi juga pada beberapa hewan tunggangan dan barang miliknya.
Di antaranya:
- Unta beliau bernama Al-'Adhba'.
- Kuda beliau bernama Al-Luhaif.
- Beliau juga pernah menunggangi kuda Abu Thalhah yang bernama Al-Mandub sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari.

Riwayat-riwayat tersebut menunjukkan bahwa memberikan nama kepada barang atau hewan merupakan sesuatu yang dibolehkan dalam Islam bahkan menjadi Sunnah Nabi. Para ulama menjelaskan bahwa penamaan tersebut berfungsi sebagai identitas, memudahkan penyebutan, sekaligus menjadi simbol semangat, harapan, dan optimisme.
Namun demikian, seorang Muslim tetap meyakini bahwa segala manfaat dan mudarat hanya berasal dari Allah Subḥānahu wa Ta'ālā, bukan dari nama maupun benda yang dimiliki.
---

Keris dalam Perspektif Kebudayaan Jawa dan Islam :
Keris, yang dalam bahasa Jawa dikenal sebagai dhuwung atau curiga, merupakan salah satu hasil karya budaya Nusantara yang telah berkembang selama berabad-abad. Selain berfungsi sebagai senjata tikam, keris memiliki nilai seni, sejarah, teknologi metalurgi, serta filosofi yang tinggi.

Memasuki masa Islam di Nusantara, tradisi perkerisan tetap dipertahankan dan mengalami proses akulturasi dengan nilai-nilai Islam melalui dakwah para ulama. Keris kemudian lebih dipahami sebagai bagian dari identitas budaya, karya seni, dan warisan sejarah masyarakat Jawa.

Dari perspektif Islam, keris dipandang sebagai benda atau alat sebagaimana senjata pada umumnya. Syariat tidak melarang kepemilikannya selama digunakan untuk tujuan yang dibenarkan dan tidak disertai keyakinan yang bertentangan dengan akidah.

Islam menolak segala bentuk kesyirikan, seperti meyakini bahwa suatu benda memiliki kekuatan gaib, mampu mendatangkan keberuntungan, menolak bala, atau memberikan manfaat secara mandiri tanpa kehendak Allah Subḥānahu wa Ta'ālā.

Oleh karena itu, apabila keris dipelihara sebagai warisan sejarah keluarga, karya seni, benda budaya, koleksi, atau pengingat jasa para leluhur, maka hal tersebut termasuk perkara yang dibolehkan. Penghormatan terhadap pusaka dipahami sebagai penghargaan terhadap nilai sejarah dan budaya, bukan sebagai bentuk pemujaan terhadap benda.

Dalam konteks inilah Keris Kyai Surojoyo diposisikan sebagai pusaka keluarga yang memiliki nilai historis, artistik, dan kultural. Penggunaan pendok dan mendak berbahan perak, deder dari gading gajah, serta warangka kayu timoho menunjukkan tingginya keterampilan seni kriya tradisional Jawa.

Pemberian nama Kyai Surojoyo dipahami sebagai tradisi penamaan pusaka untuk memudahkan identifikasi dan menjaga kesinambungan sejarah keluarga, bukan sebagai atribusi kekuatan supranatural kepada benda tersebut.
---

Penutup :
Keris merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, seni, dan identitas bangsa. Dalam Islam, keberadaan keris sebagai senjata atau benda budaya tidak bertentangan dengan syariat selama tidak disertai keyakinan yang menyimpang dari prinsip tauhid.

Riwayat mengenai pedang Rasulullah SAW yang dihiasi dengan perak serta diberi nama menunjukkan bahwa menghiasi senjata dengan perak dan memberikan nama kepada senjata merupakan praktik yang dikenal dalam Sunnah Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, penamaan Keris Kyai Surojoyo sebagai pusaka keluarga dapat dipahami sebagai bentuk identifikasi, penghormatan terhadap sejarah keluarga, dan pelestarian budaya, bukan sebagai bentuk pengkultusan benda.

Semoga Allah Subḥānahu wa Ta'ālā senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga beliau, para sahabat, serta menghimpunkan kita bersama beliau dan menganugerahkan syafaatnya pada hari kiamat.

Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb.

Penulis : Ndandung Kumolo Adi 

Daftar Pustaka :
  1. Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad. Beirut: Muassasah ar-Risālah.
  2. Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Mukhtaṣar asy-Syamā'il al-Muḥammadiyyah. Riyadh: Maktabah al-Ma'ārif.
  3. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār Ṭawq an-Najāh.
  4. Al-Kattani, Abdul Hayy. At-Tarātīb al-Idāriyyah. Beirut: Dār al-Kutub al-'Ilmiyyah.
  5. At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan At-Tirmidzi. Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī.
  6. Ad-Darimi, Abdullah bin Abdurrahman. Sunan ad-Dārimī. Riyadh: Dār al-Mughnī.
  7. Bambang Harsrinuksmo. Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004.
  8. Garrett Solyom. The World of Javanese Keris. Honolulu: East-West Center, 1978.
  9. Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Mājah. Beirut: Dār al-Risālah al-'Ālamiyyah.
  10. Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah. Zād al-Ma'ād fī Hadyi Khair al-'Ibād. Beirut: Muassasah ar-Risālah.
  11. Ibnu Taimiyah. Majmū' al-Fatāwā. Riyadh: King Fahd Complex.
  12. UNESCO. Keris of Indonesia: Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Paris: UNESCO, 2005.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kutoarjo

Keris (Dhuwung/Curiga) Kyai Surojoyo: Peninggalan Leluhur Keluarga dan Tradisi Penamaan Senjata dalam Islam Berdasarkan Sunnah Nabi Agung Muhammad SAW

Foto: Keris (dhuwung/curiga) bernama Kyai Surojoyo merupakan pusaka peninggalan leluhur keluarga. Keris ini menggunakan pendok dan mendak be...

Kutoarjo