Powered By Blogger

Senin, 20 Juli 2026

𝙋𝙀𝙝𝙀𝙣 π™ π™šπ™©π™žπ™‘π™šπ™£π™œ (π™‘π™žπ™©π™šπ™­ π™œπ™‘π™–π™—π™§π™–π™©π™– 𝙍.π˜½π™§.) π™™π™ž π˜Ώπ™šπ™¨π™– 𝙏π™ͺπ™§π™¨π™žπ™£π™€, π™†π™šπ™˜π™–π™’π™–π™©π™–π™£ 𝙆π™ͺπ™©π™€π™–π™§π™Ÿπ™€, 𝙆𝙖𝙗π™ͺπ™₯π™–π™©π™šπ™£ 𝙋π™ͺπ™§π™¬π™€π™§π™šπ™Ÿπ™€. 𝙋𝙀𝙝𝙀𝙣 π™žπ™™π™šπ™£π™©π™žπ™©π™–π™¨ 𝙙𝙖𝙣 π™’π™šπ™£π™Ÿπ™–π™™π™ž 𝙣𝙖𝙒𝙖 𝙩𝙀π™₯π™€π™’π™žπ™£π™ž 𝙙π™ͺ𝙨π™ͺ𝙣, π™™π™šπ™¨π™–, 𝙒𝙖𝙠𝙖𝙒/𝙠π™ͺ𝙗π™ͺ𝙧𝙖𝙣 π™™π™ž 𝙅𝙖𝙬𝙖

Foto Pohon Ketileng, Lokasi Pohon : Makam Ketileng di Belakang SD Negeri Tursino. 

 π™‹π™€π™π™€π™£ π™ π™šπ™©π™žπ™‘π™šπ™£π™œ (π™‘π™žπ™©π™šπ™­ π™œπ™‘π™–π™—π™§π™–π™©π™– 𝙍.π˜½π™§.) π™™π™ž π˜Ώπ™šπ™¨π™– 𝙏π™ͺπ™§π™¨π™žπ™£π™€, π™†π™šπ™˜π™–π™’π™–π™©π™–π™£ 𝙆π™ͺπ™©π™€π™–π™§π™Ÿπ™€, 𝙆𝙖𝙗π™ͺπ™₯π™–π™©π™šπ™£ 𝙋π™ͺπ™§π™¬π™€π™§π™šπ™Ÿπ™€. 𝙋𝙀𝙝𝙀𝙣 π™žπ™™π™šπ™£π™©π™žπ™©π™–π™¨ 𝙙𝙖𝙣 π™’π™šπ™£π™Ÿπ™–π™™π™ž 𝙣𝙖𝙒𝙖 𝙩𝙀π™₯π™€π™’π™žπ™£π™ž 𝙙π™ͺ𝙨π™ͺ𝙣, π™™π™šπ™¨π™–, 𝙒𝙖𝙠𝙖𝙒/𝙠π™ͺ𝙗π™ͺ𝙧𝙖𝙣 π™™π™ž 𝙅𝙖𝙬𝙖

Ndandung Kumolo adi
Sejatinghiduo02.blogspot.com

Abstrak :
Pohon ketileng (Vitex glabrata R.Br.) merupakan salah satu jenis pohon yang memiliki nilai penting, tidak hanya dari aspek botani, tetapi juga dalam sejarah dan toponimi di Pulau Jawa. Di berbagai daerah, nama ketileng digunakan sebagai identitas wilayah, seperti nama dusun, desa, kawasan, hingga makam atau kuburan. Salah satu contohnya terdapat di Makam Ketileng, Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, yang dinamai berdasarkan keberadaan pohon ketileng yang masih tumbuh di lokasi tersebut. Artikel ini membahas identitas botani, klasifikasi ilmiah, persebaran, ciri-ciri, manfaat, serta peran pohon ketileng sebagai penanda alam yang membentuk nama-nama tempat. Dokumentasi dan historiografi terhadap pohon ketileng menjadi penting sebagai upaya pelestarian keanekaragaman hayati sekaligus menjaga warisan sejarah, budaya, dan identitas lokal masyarakat Jawa khususnya Desa Tursino. Serta dapat di kaji dan dipelajari generasi selanjutnya termasuk para akademisi, ahli botani, ahli antropologi budaya, dan masyarakat.

Pohon ketileng (Vitex glabrata R.Br.) merupakan salah satu jenis pohon asli kawasan Asia Tropis hingga Pasifik Barat yang telah lama dikenal masyarakat Jawa dengan nama lokal ketileng atau gentileng. Dalam literatur botani, spesies ini termasuk famili Lamiaceae dan memiliki persebaran alami di Pulau Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Australia bagian utara.

Di Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, keberadaan pohon ketileng tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga nilai historis dan kultural. Pohon ini menjadi penanda identitas ruang yang kemudian melahirkan berbagai nama tempat (toponimi), seperti nama dusun, desa, hingga kompleks makam atau kuburan. Dalam tradisi Jawa bahkan Nusantara, penamaan suatu wilayah sering kali berasal dari unsur alam yang paling menonjol, termasuk pohon-pohon besar yang menjadi penanda lokasi, batas wilayah, maupun pusat aktivitas masyarakat.

Dengan demikian, pohon ketileng bukan sekadar vegetasi, melainkan bagian dari memori kolektif masyarakat. Keberadaannya merekam hubungan antara manusia, lingkungan, dan sejarah suatu wilayah. Melalui kajian sejarah lingkungan dan toponimi, pohon ketileng dapat dipahami sebagai identitas lanskap budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pelestarian pohon ketileng beserta sejarah yang menyertainya merupakan upaya menjaga warisan budaya lokal. Ketika pohonnya hilang, bukan hanya keanekaragaman hayati yang berkurang, tetapi juga jejak sejarah dan identitas suatu tempat yang perlahan dapat terlupakan. Jadi penulisan sains secara obyektif sangat penting untuk informasi ke para generasi dan sebagai referensi penelitian kajian akademisi dari para mahasiswa, pakar botani, antropologi budaya, serta masyarakat.

Pohon ketileng (Vitex glabrata R.Br.) memiliki kedudukan penting dalam sejarah toponimi di berbagai wilayah di Pulau Jawa. Nama pohon ini digunakan sebagai identitas suatu tempat, seperti nama dusun, desa, kawasan, hingga makam atau kuburan. Keberadaannya sebagai penanda alam menunjukkan bahwa ketileng bukan sekadar jenis pohon, tetapi juga memiliki nilai sejarah, budaya, dan lingkungan yang diwariskan oleh masyarakat.

Salah satu contohnya dapat dijumpai di Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, di mana masih tumbuh pohon ketileng yang menjadi asal-usul penamaan Makam Ketileng, yang berada di belakang SD Negeri Tursino. Keberadaan pohon tersebut menjadi bukti bahwa vegetasi lokal pada masa lampau sering dijadikan penanda wilayah sekaligus identitas suatu tempat.

Meskipun bukan termasuk pohon langka, ketileng kini relatif sulit dijumpai. Akibatnya, banyak masyarakat yang tidak lagi mengenali bentuk maupun ciri-cirinya sehingga sering tertukar dengan jenis pohon lain. 

Karena jarangnya ditemukan, banyak masyarakat kesulitan mengenal dan membedakannya dengan jenis pohon lain hanya berdasarkan pengamatan visual Indra Penglihatan Mata Telanjang.

Foto. Daun Pohon Ketileng di Makam Ketileng Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah

Nama ilmiah tanaman. Dalam ilmu botani, setiap tumbuhan memiliki nama ilmiah (scientific name atau botanical name) yang mengikuti kaidah tata nama internasional. Nama ilmiah pohon ketileng adalah Vitex glabrata R.Br., yang pertama kali dipublikasikan oleh botanis Robert Brown pada tahun 1810.

Nama Inggrisnya adalah Smooth Chastetree. dalam ilmu botani disebut nama botani (botanical name) atau nama ilmiah (scientific name)

Untuk keperluan identifikasi tanaman atau pohon para pakar akademisi, pakar botani, pakar lingkungan hidup biasanya menggunakan Nama Latin (nama ilmiah) semuanya mengikuti kaidah tata nama ilmiah internasional.

Seperti contohnya Pohon Ketileng nama latin atau ilmiahnya adalah Vitex glabrata R.Br.

Lokasi Pohon ketileng di belakang SDN Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Dan Pohon Ketileng tersebut menjadi identitas nama makam dengan nama " Makam Ketileng"

Ketileng (Vitex glabrata R.Br., 1810), Nama Inggris disebut : Smooth Chastetree

Ketileng (Vitex glabrata R.Br.) merupakan spesies pohon dari famili Lamiaceae (suku nilam-nilaman). Spesies ini berasal dari kawasan beriklim tropis basah dengan persebaran alami yang meliputi Asia tropis hingga Pasifik Barat. Di Indonesia, pohon ini dikenal dengan berbagai nama daerah, antara lain bihbul (Sunda), gentileng, dan ketileng (Jawa).

Nama ilmiah Vitex glabrata pertama kali dipublikasikan oleh botanis Robert Brown pada tahun 1810.

Klasifikasi Ilmiah
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Streptophyta
Kelas : Equisetopsida
Subkelas : Magnoliidae
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae
Genus : Vitex
Spesies : Vitex glabrata R.Br.
Sinonim Ilmiah atau Beberapa nama ilmiah yang pernah digunakan untuk spesies ini antara lain:
Vitex bombacifolia Wall. ex C.B.Clarke
Vitex cunninghamii Schauer
Vitex elegans Griff.
Vitex glabrata f. bombacifolia (Wall. ex C.B.Clarke) Moldenke
Vitex glabrata f. pallida (Wall. ex C.B.Clarke) Moldenke
Vitex glabrata var. bombacifolia (Wall. ex C.B.Clarke) Moldenke
Vitex glabrata var. poilanei Moldenke
Vitex helogiton K.Schum.
Vitex minahassae Koord.
Vitex nitida Merr.
Vitex pallida Wall. ex C.B.Clarke
Vitex pentaphylla Merr.

Nama Umum Pohon Vitex glabrata R.Br. di masing-masing daerah :
Indonesia : Bihbul (Sunda), Gentileng (Jawa), Ketileng (Jawa)
Inggris : Smooth Chastetree,
Filipina : Bongoog, Ampapalut, Talang-pulo
Kamboja : Popoul ach, Popoul tuk
Laos : Khi hen, Khi nok, Tin nok
Thailand : Khainao, Khee hen, Khom khwaan

Morfologi bunga Vitex glabrata R.Br. adalah sebagai berikut :

  1. Perbungaan: Muncul di ketiak daun (axillary), berbentuk cyme (payung menggarpu). Sumbu perbungaan panjang 3,5–7 cm, agak pipih pada penampang melintang. Braktea kecil berbentuk segitiga hingga linear, panjang kurang dari 2 mm, dan umumnya tetap melekat. 
  2. Kelopak (Calyx): Berlekuk 5, berbentuk lonceng (campanulate) dan membesar saat berbuah. Diameter kelopak ketika berbunga sekitar 2–2,5 mm, sedangkan saat berbuah menjadi 7–9 mm. 
  3. Mahkota bunga (Corolla): Berlekuk 5, berwarna putih hingga ungu dengan ujung mahkota lebih gelap. Tabung mahkota panjang 4–6,5 mm. Bibir bawah berbentuk seperti spatula, sedangkan lobus samping dan belakang melengkung ke belakang (reflexed). 
  4. Benang sari (Stamens): Berjumlah 4, panjang tangkai sari 4,5–7 mm, menonjol keluar dari mahkota (exserted). Kepala sari sekitar 0,5 mm. 
  5. Putik (Style): Panjang 4,5–9 mm, juga menonjol keluar dari tabung mahkota. Kepala putik bercabang dua. 
  6. Bakal buah (Ovary): Berbentuk bulat (globose), berdiameter 1,2–1,5 mm. 
  7. Buah: Berbentuk bulat telur hingga agak memanjang (ovoid hingga clavoid), berdiameter 3–16 mm, permukaan licin dan tidak berbulu. 

Bunga ketileng (Vitex glabrata R.Br.) berukuran relatif kecil dan tumbuh bergerombol pada ujung ranting atau di ketiak daun (malai/panikel). Ciri-cirinya antara lain:

  • Warna bunga: putih hingga putih kekuningan, kadang sedikit krem.
  • Ukuran: kecil, sekitar 0,5–1 cm.
  • Bentuk mahkota: berbibir (bilabiata), khas famili Lamiaceae.
  • Jumlah mahkota: 5 helai yang menyatu di bagian pangkal membentuk tabung pendek.
  • Benang sari: 4 buah, umumnya tampak menonjol keluar dari mahkota.
  • Aroma: harum lembut dan dapat menarik lebah serta serangga penyerbuk.
  • Perbungaan: tersusun dalam malai (panicle) yang bercabang dan terdiri atas banyak bunga kecil.
  • Setelah penyerbukan, bunga akan berkembang menjadi buah bulat kecil. Buah yang masih muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi ungu tua hingga hitam ketika masak.

Karena pohon ketileng cukup jarang ditemukan, dokumentasi bunga Vitex glabrata juga masih relatif sedikit dibandingkan spesies Vitex lainnya.
Bahkan di area industry budidaya pembibitan tanaman desa-desa kecamatan kemiri dan kecamatan Kutoarjo, kabupaten purworejo saya tidak menemukan pohon jenis ini.

Foto Bunga Vitex Glabrata alias Ketileng

Persebaran pohon Vitex glabrata atau disebut juga ketileng tersebar secara alami di kawasan Asia tropis hingga Pasifik Barat. Pohon ini umumnya tumbuh di hutan hujan tropis dataran rendah hingga perbukitan, dan berkembang baik pada daerah beriklim tropis basah.

Ciri-ciri Umum :
1. Pohon berukuran sedang hingga besar.
2. Tinggi dapat mencapai sekitar 15–30 meter.
3. Daun majemuk menjari, terdiri atas 3–7 anak daun.
4. Bunga kecil berwarna putih hingga kekuningan.
5. Buah berbentuk bulat kecil yang berubah menjadi ungu tua hingga hitam saat masak.
6. Kayunya keras, awet, dan bernilai ekonomi tinggi.

Manfaat pohon pohon Vitex glabrata atau disebut juga ketileng Selain dimanfaatkan sebagai pohon peneduh, kayu ketileng banyak digunakan sebagai bahan bangunan, kusen, tiang, jembatan, perabot, dan berbagai keperluan konstruksi karena memiliki daya tahan yang baik. Pohon ini juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis.

pohon ketileng (Vitex glabrata R.Br.) dapat menjadi bagian pembentuk lanskap, terutama jika keberadaannya memiliki pengaruh terhadap identitas suatu wilayah. Misalnya, dalam konteks sejarah dan budaya di Jawa:

  • Pohon ketileng menjadi penanda bentang budaya (cultural landscape) apabila digunakan sebagai penanda batas wilayah, makam, petilasan, jalan, atau sumber toponimi (asal-usul nama desa, dusun, atau tempat).
  • Keberadaan pohon ketileng yang telah lama dikenal masyarakat dapat membentuk landskap sejarah, karena menjadi bagian dari memori kolektif dan perkembangan suatu kawasan.
  • Jika suatu desa atau wilayah bahkan makam dinamai berdasarkan keberadaan pohon ketileng, maka pohon tersebut berperan sebagai unsur pembentuk identitas lanskap.

Itu bermakna Pohon ketileng (Vitex glabrata R.Br.) merupakan salah satu unsur pembentuk lanskap budaya di Jawa. Keberadaannya tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga menjadi penanda ruang, identitas wilayah, dan asal-usul toponimi yang terekam dalam sejarah lokal.

Landskap adalah bentang alam atau bentang wilayah yang terbentuk dari perpaduan unsur-unsur alam dan/atau hasil aktivitas manusia sehingga memiliki karakteristik tertentu.Dalam berbagai bidang, pengertiannya dapat sedikit berbeda:

Geografi: landskap adalah keseluruhan kenampakan suatu wilayah yang meliputi relief, tanah, air, vegetasi, iklim, serta aktivitas manusia.

Arsitektur lanskap: landskap adalah ruang luar yang ditata untuk memenuhi fungsi ekologis, estetis, sosial, dan budaya.

Sejarah dan budaya: landskap dapat dimaknai sebagai bentang alam yang menyimpan jejak sejarah, seperti situs purbakala, permukiman lama, jalan kuno, makam, pohon bersejarah, sungai, dan sawah yang membentuk identitas suatu daerah.

Dengan demikian, penelitian dan kajian saya membahas hubungan pohon ketileng dengan nama desa, dusun, makam, atau situs sejarah di Purworejo dan sekitarnya, penggunaan konsep landskap budaya (cultural landscape) sangat relevan.

Penulis : Ndandung Kumolo adi

Sumber Referensi :
  1. Plants of the World Online (POWO). 2024. Vitex glabrata R.Br. Royal Botanic Gardens, Kew.
  2. International Plant Names Index (IPNI). 2024. Vitex glabrata R.Br. The Royal Botanic Gardens, Kew; Harvard University Herbaria & Libraries; Australian National Herbarium.
  3. United States Department of Agriculture – Natural Resources Conservation Service (USDA–NRCS). 2024. Plant Profile.
  4. Brown, R. (1810). Prodromus Florae Novae Hollandiae et Insulae Van Diemen. London: Taylor & Co. (Publikasi pertama yang mendeskripsikan Vitex glabrata R.Br.)
  5. de Kok, R. (2008). The Genus Vitex (Labiatae) in the Flora Malesiana Region, Excluding New Guinea. Kew Bulletin, 63, 17–40. (Revisi taksonomi penting genus Vitex di kawasan Malesia). 
  6. Bramley, G.L.C. (2019). Flora Malesiana, Series I, Volume 23: Lamiaceae. Leiden: Flora Malesiana Foundation. 
  7. Plants of the World Online (POWO). Royal Botanic Gardens, Kew. Vitex glabrata R.Br. 
  8. International Plant Names Index (IPNI). Vitex glabrata R.Br. (Basis data nomenklatur tumbuhan internasional). 
  9. World Flora Online. Vitex glabrata R.Br. (Basis data flora dunia). 
  10. Backer, C.A. & Bakhuizen van den Brink Jr., R.C. (1965–1968). Flora of Java (Spermatophytes Only). Groningen: Noordhoff.
  11. Heyne, K. (1987, cetak ulang). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.
  12. Steenis, C.G.G.J. van (Ed.). Flora Malesiana. Leiden: Noordhoff-Kolff.
  13. United States Department of Agriculture (USDA). Plant Profile.

Penulis : Ndandung Kumolo Adi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kutoarjo

𝙋𝙀𝙝𝙀𝙣 π™ π™šπ™₯π™ͺ𝙝 (π™Žπ™©π™šπ™§π™˜π™ͺπ™‘π™žπ™– π™›π™€π™šπ™©π™žπ™™π™– 𝙇.) π™’π™šπ™§π™ͺπ™₯𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙑𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙩π™ͺ π™ͺ𝙣𝙨π™ͺ𝙧 π™₯π™šπ™’π™—π™šπ™£π™©π™ͺ𝙠 𝙑𝙖𝙣𝙨𝙠𝙖π™₯ 𝘿π™ͺ𝙨π™ͺ𝙣 π™†π™šπ™₯π™ͺ𝙝 π™™π™ž π˜Ώπ™šπ™¨π™– 𝙏π™ͺπ™§π™¨π™žπ™£π™€, π™†π™šπ™˜π™–π™’π™–π™©π™–π™£ 𝙆π™ͺπ™©π™€π™–π™§π™Ÿπ™€ 𝙆𝙖𝙗π™ͺπ™₯π™–π™©π™šπ™£ 𝙋π™ͺπ™§π™¬π™€π™§π™šπ™Ÿπ™€

  Foto. Daun Kepuh dan Buahnya 𝙋𝙀𝙝𝙀𝙣 π™ π™šπ™₯π™ͺ𝙝 (π™Žπ™©π™šπ™§π™˜π™ͺπ™‘π™žπ™– π™›π™€π™šπ™©π™žπ™™π™– 𝙇.) π™’π™šπ™§π™ͺπ™₯𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙑𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙩π™ͺ π™ͺ𝙣𝙨π™ͺ...

Kutoarjo