ππ€ππ€π£ π ππ₯πͺπ (ππ©ππ§ππͺπ‘ππ ππ€ππ©πππ π.) π’ππ§πͺπ₯ππ ππ£ π¨ππ‘ππ π¨ππ©πͺ πͺπ£π¨πͺπ§ π₯ππ’πππ£π©πͺπ π‘ππ£π¨π ππ₯ πΏπͺπ¨πͺπ£ πππ₯πͺπ ππ πΏππ¨π ππͺπ§π¨ππ£π€, πππππ’ππ©ππ£ ππͺπ©π€ππ§ππ€ ππππͺπ₯ππ©ππ£ ππͺπ§π¬π€π§πππ€
Desa Tursino merupakan salah satu desa di Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, yang memiliki kekayaan sejarah, lingkungan, ekologi, ekosistem, adat istiadat, dan budaya. Salah satu unsur penting yang membentuk identitas wilayah tersebut adalah keberadaan pohon kepuh (Sterculia foetida L.) dan pohon ketileng (Vitex glabrata R.Br.). Kedua jenis pohon tersebut tidak hanya memiliki fungsi ekologis sebagai penyerap karbon, pelindung daerah resapan air, habitat berbagai jenis satwa, serta pembentuk iklim mikro, tetapi juga menjadi bagian dari lanskap budaya masyarakat.
Keberadaan pohon kepuh berkaitan dengan toponimi Dusun Kepuh, sedangkan pohon ketileng menjadi bagian dari identitas sejarah dan lanskap budaya yang tercermin pada toponimi Makam Ketileng. Hubungan antara vegetasi, ruang, dan masyarakat tersebut menunjukkan keterkaitan yang erat antara lingkungan alam dengan kehidupan sosial budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Selain mengulas karakteristik botani, persebaran, manfaat, dan fungsi ekologis pohon kepuh serta pohon ketileng, artikel ini juga membahas nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang melekat pada keberadaan kedua pohon tersebut. Dengan menggunakan pendekatan sejarah lingkungan (environmental history) dan geografi budaya, artikel ini menunjukkan bahwa pohon kepuh dan pohon ketileng merupakan elemen penting dalam pembentukan identitas lanskap Desa Tursino sekaligus menjadi warisan alam dan budaya yang perlu dilestarikan. Kajian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian di bidang sejarah, botani, ekologi, geografi budaya, antropologi, serta menjadi bahan kajian akademis bagi mahasiswa, peneliti, dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap sejarah lingkungan dan pelestarian warisan budaya.
Keberadaan pohon identitas atau history seperti Pohon Winong, Lo, Ketileng, Kepuh, Suren, Tepus, gandri, langkap, Gayam, Kesambi dan sebagainya tidak hanya membentuk karakter ekologis wilayah, tetapi juga berperan dalam pembentukan identitas lokal dan toponimi nama desa, nama dusun, nama daerah, nama kota, nama makam/kuburan, nama hutan.
Sekalipun pohon-pohon itu sudah ada yang sulit ditemui bahkan di indrai dengan pancaindra terutama indra visual penglihatan sehingga masyarakat awam sulit mengidentifikasi.
Buah dan biji kepuh (Sterculia foetida L.) mengandung minyak nabati, asam lemak, senyawa fenolik, flavonoid, dan antioksidan. Berdasarkan penelitian fitokimia dan farmakologi, tanaman ini memiliki potensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antimikroba. Kandungan serat pada buah juga berpotensi membantu menjaga kesehatan pencernaan. Namun, sebagian besar manfaat kesehatan tersebut masih didasarkan pada penelitian praklinis sehingga memerlukan penelitian klinis lebih lanjut sebelum dapat dijadikan terapi pada manusia.
Pohon kepuh (Sterculia foetida L.) merupakan tumbuhan khas daerah tropis yang umumnya tumbuh di dataran rendah hingga sekitar 800–1.000 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini berkembang baik pada daerah bersuhu hangat dengan curah hujan sedang hingga tinggi serta mampu beradaptasi pada musim kemarau yang cukup panjang.
Habitat alaminya meliputi hutan musim, hutan sekunder, tepi sungai, kawasan pesisir, dan lahan terbuka. Pohon kepuh tumbuh baik pada tanah yang dalam, subur, memiliki drainase yang baik, serta pH tanah sekitar 6,0–7,5, meskipun masih toleran pada kondisi tanah yang lebih asam maupun lebih basa.
Bunga kepuh berukuran kecil, tersusun dalam malai, berwarna merah hingga merah keunguan, dan mengeluarkan aroma khas yang kurang sedap. Aroma inilah yang melatarbelakangi pemberian nama spesies foetida, yang dalam bahasa Latin berarti "berbau".
Kepuh (Sterculia foetida L.) merupakan pohon berkayu yang termasuk dalam genus Sterculia dan famili Malvaceae. Pohon ini dapat tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar 20–40 meter dan tersebar luas di kawasan tropis, antara lain India, Sri Lanka, Asia Tenggara (termasuk Indonesia dan Filipina), Papua Nugini, Australia bagian utara, serta telah diintroduksi ke berbagai wilayah tropis lainnya seperti Afrika dan Kepulauan Pasifik. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh Carl Linnaeus pada tahun 1753 dalam Species Plantarum.
Potensi manfaat yang telah dilaporkan dalam penelitian:
- Membantu aktivitas antioksidan.
- Berpotensi mengurangi peradangan (antiinflamasi).
- Berpotensi memiliki aktivitas antimikroba.
- Kandungan serat dapat membantu kesehatan pencernaan.
- Minyak biji berpotensi dimanfaatkan dalam bidang pangan, kosmetik, dan farmasi setelah melalui proses pengolahan yang tepat.
Ciri-ciri pohon kepuh (Sterculia foetida L.) :
-
Ukuran pohon
- Pohon besar yang dapat mencapai tinggi 20–40 meter.
- Batang tegak, lurus, dan berdiameter besar.
-
Batang
- Kulit batang berwarna abu-abu hingga kecokelatan.
- Permukaan batang relatif halus saat muda, kemudian menjadi agak kasar seiring bertambahnya usia.
-
Daun
- Daun tersusun majemuk menjari, terdiri atas 7–9 anak daun (kadang 5–11).
- Anak daun berbentuk lonjong hingga lanset dengan ujung meruncing.
- Daun terkumpul di ujung ranting sehingga tajuk tampak rimbun.
-
Bunga
- Berukuran kecil dan tersusun dalam malai.
- Berwarna merah tua hingga merah keunguan, kadang kehijauan.
- Mengeluarkan aroma yang cukup menyengat, sehingga dinamai foetida (berbau).
-
Buah
- Berupa buah berkayu (folikel).
- Saat muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi merah cerah ketika masak.
- Satu tandan biasanya terdiri atas beberapa buah yang tersusun seperti bintang.
-
Biji
- Berwarna hitam mengilap.
- Berbentuk bulat telur hingga lonjong.
- Kaya minyak nabati.
-
Habitat
- Tumbuh baik di dataran rendah hingga sekitar 800 meter di atas permukaan laut.
- Tahan terhadap musim kemarau dan banyak dijumpai di tepi jalan, pekarangan, hutan musim, serta kawasan pesisir.
Keunikan pohon kepuh :
- Tajuknya lebar sehingga sering dimanfaatkan sebagai pohon peneduh.
- Memiliki sistem perakaran yang kuat.
- memiliki kemampuan menyimpan air, meskipun bukan termasuk tanaman sukulen seperti kaktus. Kemampuan ini didukung oleh beberapa karakteristik: yaitu Batang besar yang dapat menyimpan cadangan air dan nutrisi sehingga membantu pohon bertahan pada musim kemarau, Akar tunggang yang dalam dan kuat, memungkinkan pohon memperoleh air dari lapisan tanah yang lebih dalam, Tajuk yang lebar membantu menciptakan naungan sehingga mengurangi penguapan air dari permukaan tanah di sekitarnya, Sebagai pohon besar, kepuh juga berperan dalam meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah melalui sistem perakarannya, sehingga membantu menjaga cadangan air tanah.Karena sifat-sifat tersebut, pohon kepuh sering dianggap memiliki fungsi ekologis penting sebagai:
- penyimpan dan penjaga cadangan air tanah,
- pelindung daerah resapan air,
- peneduh alami,
- serta pengurang erosi.
- Umurnya panjang dan sering menjadi pohon penanda tempat, sehingga banyak dijadikan asal-usul nama desa atau dusun, seperti Kepuh, Kepuhan, atau Kepuhsari.
Pohon kepuh (Sterculia foetida L.) memiliki berbagai fungsi ekologis yang penting bagi lingkungan, di antaranya:
- Menjaga siklus air
- Akar membantu meningkatkan resapan air hujan ke dalam tanah.
- Mengurangi limpasan permukaan dan membantu menjaga cadangan air tanah.
- Mencegah erosi
- Sistem perakaran yang kuat mengikat tanah sehingga mengurangi risiko erosi, terutama di lereng dan bantaran sungai.
- Penyerap karbon (carbon sink)
- Menyerap karbon dioksida (CO₂) melalui fotosintesis dan menyimpannya dalam batang, akar, serta biomassa pohon, sehingga membantu mengurangi gas rumah kaca.
- Penghasil oksigen
- Menghasilkan oksigen yang dibutuhkan makhluk hidup melalui proses fotosintesis.
- Habitat satwa liar
- Tajuknya menjadi tempat bersarang burung, serangga, kelelawar, dan berbagai satwa arboreal lainnya.
- Menjaga iklim mikro
- Tajuk yang lebar memberikan keteduhan, menurunkan suhu udara sekitar, serta menjaga kelembapan lingkungan.
- Menjaga kesuburan tanah
- Daun yang gugur terurai menjadi bahan organik (humus) yang memperbaiki struktur dan kesuburan tanah.
- Penahan angin
- Pohon yang tinggi dan berbatang kokoh dapat mengurangi kecepatan angin dan melindungi lahan di sekitarnya.
- Mendukung keanekaragaman hayati
- Menjadi bagian penting dari ekosistem dengan menyediakan sumber makanan, tempat hidup, dan ruang bagi berbagai organisme.
- Pembentuk lanskap dan identitas wilayah.
Kepuh (Sterculia foetida L.) merupakan salah satu spesies pohon dari famili Malvaceae (suku kapas-kapasan). Spesies ini memiliki daerah sebaran asli di kawasan Asia tropis hingga Pasifik Barat, meliputi anak benua India, Asia Tenggara (termasuk Indonesia), hingga Papua Nugini dan wilayah Pasifik Barat.
Di Indonesia, pohon ini dikenal dengan berbagai nama daerah, antara lain kepuh atau kepoh (Jawa), kabu-kabu (Batak), dan kalupat (Sulawesi). Nama ilmiah Sterculia foetida pertama kali dipublikasikan oleh Carolus Linnaeus dalam karya Species Plantarum pada tahun 1753.
Klasifikasi Ilmiah :
- Kingdom : Plantae
- Subkingdom : Viridiplantae
- Superdivisi : Embryophyta
- Divisi : Tracheophyta
- Subdivisi : Spermatophytina
- Kelas : Magnoliopsida
- Subkelas : Dilleniidae
- Ordo : Malvales
- Famili : Malvaceae
- Genus : Sterculia
- Spesies : Sterculia foetida L.
Sinonim Ilmiah :
- Clompanus foetida (L.) Kuntze
- Sterculia mexicana var. guianensis Sagot
- Sterculia polyphylla R.Br.
Nama Umum :
- Indonesia : Kepuh/Kepoh (Jawa), Kabu-kabu (Batak), Kalupat (Sulawesi)
- Inggris : Java Olive
- Malaysia : Kelumpang Jari
- Filipina : Kalumpang
- Myanmar : Letpan-shaw
- Kamboja : Samrong
- Thailand : Samrong, Homrong, Chammahong
- Vietnam : TrΓ΄m
Kayu kepuh dimanfaatkan sebagai bahan bangunan ringan, papan, peti, korek api, pulp, dan berbagai keperluan pertukangan. Biji kepuh mengandung minyak nabati yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel, sabun, kosmetik, dan berbagai produk industri setelah melalui proses pengolahan yang tepat.
Dalam pengobatan tradisional, beberapa bagian pohon kepuh dimanfaatkan sebagai peluruh keringat (diaforetik), membantu meredakan demam, serta mengurangi pegal linu. Namun, manfaat tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui penelitian klinis.
Dalam konteks penelitian sejarah lingkungan, pohon kepuh tidak hanya berfungsi sebagai vegetasi, tetapi juga sebagai pembentuk lanskap ekologis dan lanskap budaya yang memengaruhi identitas suatu wilayah
Lanskap Dusun Kepuh desa tursino terbentuk melalui interaksi antara lingkungan alam dan masyarakat. Pohon kepuh (Sterculia foetida L.) menjadi elemen penting dalam lanskap tersebut karena keberadaannya diduga melatarbelakangi penamaan dusun serta menjadi penanda ruang yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Dalam kajian sejarah dan geografi budaya, fenomena seperti ini dikenal sebagai hubungan antara vegetasi dan toponimi, yaitu ketika suatu jenis tumbuhan menjadi ciri khas suatu tempat sehingga memengaruhi nama dan identitas wilayah.
Alhamdulillah Pohon kepuh masih banyak dan bisa dilihat secara visul mata terlanjang oleh masyarakat awam sehingga mudah di identifikasi.
Serta budidaya industri pembibitan pohon kepuh masih dapat ditemui di desa-desa kecamatan Kutoarjo dan kecamatan kemiri kabupaten purworejo
Pohon dapat menjadi bagian pembentuk lanskap, terutama jika keberadaannya memiliki pengaruh terhadap identitas suatu wilayah.
Misalnya, dalam konteks sejarah dan budaya di Nusantara terutama Jawa, Pohon kepuh menjadi penanda bentang budaya (cultural landscape) apabila digunakan sebagai penanda batas wilayah, makam, petilasan, jalan, atau sumber toponimi (asal-usul nama desa, dusun, atau tempat).
Keberadaan pohon indentitas dan history seperti kepuh yang telah lama dikenal masyarakat dapat membentuk landskap sejarah, karena menjadi bagian dari memori kolektif dan perkembangan suatu kawasan.
Jika suatu desa atau wilayah dinamai berdasarkan keberadaan pohon Kepuh, maka pohon tersebut berperan sebagai unsur pembentuk identitas lanskap.
Landskap sendiri adalah bentang alam atau bentang wilayah yang terbentuk dari perpaduan unsur-unsur alam dan/atau hasil aktivitas manusia sehingga memiliki karakteristik tertentu.
Dalam berbagai bidang, pengertiannya dapat sedikit berbeda :
Geografi: landskap adalah keseluruhan kenampakan suatu wilayah yang meliputi relief, tanah, air, vegetasi, iklim, serta aktivitas manusia.
Arsitektur lanskap: landskap adalah ruang luar yang ditata untuk memenuhi fungsi ekologis, estetis, sosial, dan budaya.
Sejarah dan budaya: landskap dapat dimaknai sebagai bentang alam yang menyimpan jejak sejarah, seperti situs purbakala, permukiman lama, jalan kuno, makam, pohon bersejarah, sungai, dan sawah yang membentuk identitas suatu daerah.
Sebagai contoh, jika dikaitkan dengan penelitian mengenai Kutoarjo dan Purworejo, landskap sejarah dapat mencakup identitas dan history yang mungkin sudah ada yang hilang, punah, dan susah di identifikasi oleh masyarakat awam seperti pohon winong, pohon suren, pohon lo, pohon ketileng dan sebagainya, aliran Sungai Bogowonto, jalur irigasi, desa-desa tua, makam leluhur, serta situs-situs bersejarah yang bersama-sama membentuk identitas dan perkembangan wilayah tersebut.
Selain memiliki nilai ekologis dan manfaat bagi kehidupan, pohon kepuh (Sterculia foetida L.) juga memiliki nilai budaya yang kuat dalam tradisi masyarakat Jawa. Di berbagai daerah, pohon kepuh yang berukuran besar dan telah berumur tua sering dikaitkan dengan cerita rakyat atau mitos. Salah satu kepercayaan yang berkembang di masyarakat adalah anggapan bahwa pohon kepuh menjadi tempat bersemayam atau tempat tinggal makhluk gaib, seperti genderuwo.
Dalam kajian folklor dan antropologi budaya, kepercayaan tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Mitos tersebut bukan merupakan fakta ilmiah, melainkan cerminan cara pandang masyarakat terhadap alam dan lingkungannya.
Di sisi lain, keberadaan mitos ini memiliki fungsi sosial dan ekologis. Kepercayaan bahwa pohon kepuh dihuni makhluk gaib membuat masyarakat cenderung menghormati, menjaga, dan tidak menebang pohon tersebut secara sembarangan. Secara tidak langsung, mitos tersebut berperan dalam pelestarian pohon-pohon besar yang memiliki fungsi penting sebagai penyimpan cadangan air tanah, penyerap karbon, habitat satwa, peneduh alami, serta pembentuk lanskap budaya.
Dengan demikian, terlepas dari benar atau tidaknya kepercayaan tersebut, mitos tentang pohon kepuh merupakan bagian dari kearifan lokal yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam. Oleh karena itu, tradisi lisan tersebut patut dipahami sebagai warisan budaya yang memiliki nilai historis, ekologis, dan sosial bagi masyarakat.
Dan ada salah satunya Dusun Kepuh di Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo.
- Sebelah Utara: Berbatasan dengan wilayah Kecamatan Kemiri, khususnya Desa Kedunglo, Desa Rebug, dan Desa Dilem
- Sebelah Timur: Berbatasan dengan wilayah Kecamatan Kemiri dan Kecamatan Bayan, yaitu Desa Loning dan Desa Pucang Agung.
- Sebelah Selatan: Berbatasan dengan Desa Karangrejo, Kecamatan Kutoarjo.
- Sebelah Barat : Berbatasan dengan Desa Wirun, Kecamatan Kutoarjo.
Sejatininghidup02.blogspot.com
Referensi
- Backer, C.A. & Bakhuizen van den Brink Jr. Flora of Java.
- Heyne, K. Tumbuhan Berguna Indonesia.
- IPNI (International Plant Names Index).
- Plants of the World Online (POWO), Royal Botanic Gardens, Kew.
- USDA – Natural Resources Conservation Service (NRCS), Plant Profile.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar