Powered By Blogger

Minggu, 26 Maret 2023

Raden Ngabehi Djoyo Probongso dalam Catatan Babad Kedung Kebo: Perspektif Historiografi Lokal Purworejo

 


Raden Ngabehi Djoyo Probongso dalam Catatan Babad Kedung Kebo: Perspektif Historiografi Lokal Purworejo

Ndandung Kumolo Adi 
Sejatininghidup02.blogspot.com

Abstrak :
Artikel ini membahas keberadaan tokoh Raden Ngabehi Djoyo Probongso berdasarkan penelusuran dalam sumber historiografi lokal, khususnya Babad Kedung Kebo karya R.A.A. Tjokronegoro I, Bupati Perdana Purworejo. Nama Raden Ngabehi Djoyo Probongso disebut dalam beberapa bagian pupuh Babad Kedung Kebo yang menggambarkan perjalanan sejarah wilayah Bagelen, terutama pada masa pergolakan politik dan peperangan di tanah Jawa. Penulisan ini bertujuan untuk mengungkap jejak tokoh tersebut, kedudukannya dalam narasi babad, serta keterkaitannya dengan tokoh-tokoh lain yang muncul dalam sejarah Purworejo dan Perang Jawa (1825–1830). Kajian ini menggunakan pendekatan sejarah lokal dengan menempatkan Babad Kedung Kebo sebagai sumber utama, kemudian dipahami dalam konteks sosial dan politik pada zamannya. Melalui kajian ini diharapkan Raden Ngabehi Djoyo Probongso dapat lebih dikenal sebagai bagian dari warisan sejarah dan budaya Bagelen.

Nama Raden Ngabehi Djoyo Probongso sebagai seorang pejuang perang jawa/perang Diponegoro banyak ditulis oleh Bupati perdana Purworejo yaitu R.A.A. Tjokronegoro di dalam Buku Babad Kedung Kebo, salah satunya bait Durmo XXXII Karya R.A.A. Tjokronegoro I Bupati Perdana Purworejo

Nomor 39. Lawan malih pangeran Diponegoro(Diponegoro Anom Putra Pangeran Diponegoro) gagah ganggas tan gigrig, datan gugup gagap , gegesnya tan ginega, ngugugu santrijan nengih berbaris kwalandan , gorawatjana behi.

Nomor 40. Ra ngira ki rangga mertaprawira , ngilen nggenira ngusir budjung Djayasundarga, lawan Djajaprabangsa, lawan Djajaprawiraki, Djajadimedja kraman mandek narungi

Nomor 41. Juritira ki Tumenggung djakrajaja mimisnya sampun enting telas kang sudawa seksana sani nglempak, sedja ambeg sureng djurit ki Tjakrajaya tata titi patitis

Nomor 42. Jam setunggal nggenira abratajuda genti ungkih-ingungkih , wadya tjakrajayan, sinendjata Mring kraman seksana satunggal kenging pilinganira sigra niba ing siti.

Nomor 43. Nuljo pelor pinendet mring tjakradjaja tan lebet nggenja kanin ,  rineksa pangeran
Nenggih datan palastra jata resasemitaki ajun-ajunan lan prabangsakeki

Nomor 44. Sasemita ingajat arsa winateng lawan mungsuhireki menggung djaja pragota resasemita ngiwar watang'e tiba ing siti kebandang mengsah.
Resasemita nggendring.

Nomor 45. Barisra ki Tumenggung Tjakradjaja sedaya sami wingwrin, obat mimis telas binunjang mring kraman, sedaya tan anggudili, mladjar sar saran sigra Kumpeni prapti.

Terjemahan nya kurang lebih seperti ini :

39. Dan lagi pangeran Diponegoro(Diponegoro Anom Putra Pangeran Diponegoro) gagah beringas dan tidak takut , tidak merasa gugup dan gusar  geges tan ginega menuruti jiwa Ksatria, berbaris melawan Belanda, behi gorawacana.

40. Tidak menduga Ki Rangga mertaprawira ke barat mengusir dan mengejar Djoyosundargo, Djoyoprobongso, Djoyoprawiro, Djoyodimejo sebagai barisan pemberontak/kraman malah mereka berhenti dan melawan.

41. Perangnya ki Tumenggung Tjokrodjoyo( gelar lain Ngabehi Reksodiwiryo adalah Tjokrojoyo saat menjadi Bupati Tanggung dan Tjokronegoro saat menjadi Bupati Purworejo) pelurunya sudah habis, habis yang sudawa kemudian semuanya nglempak bersedia untuk perang jarak dekat, Ki Tjokrodjoyo siap Hati-hati dan waspada.

42. Jam satu mereka berperang bergantian serang menyerang, prajurit nya tjokrodjoyo diserang oleh para musuh/kraman/pemberontak(Pengikut Diponegoro) kemudian ada satu yang terkena pelipisnya dan terjatuh di tanah.

43. Kemudian peluru di pelipisnya diambil oleh Tjokrodjoyo, dia tidak terluka parah, dijaga Tuhan Yang Maha Esa, dia tidak meninggal .
Saat itu Resasemita berhadap-hadapan langsung dengan Djoyoprobongso.

44. Resamita ingin membentangkan tombaknya kepada lawannya/Djoyoprobangso.
Tumenggung djaja pragota resasemita berlari sampai tombaknya jatuh di tanah dan diambil musuh/djoyoprobangso.
Resasemita berlari terbirit-birit.

45. Barisan ki Tumenggung Tjokrodjoyo semua merasa takut , kehabisan amunisi peluru, dikejar oleh para pembrontak/Kraman sehingga berlari tak peduli arah, berlari tunggang langgang. Lalu segera datang bantuan para kompeni.

Sumber : R.A.A. Tjokronegoro I Alias Tjokrodjoyo alias Ngabehi Reksodiwiryo, Babad Kedung kebo, Durmo XXXII bait syair nomor 39-45

Foto. Makam Raden Ngabehi Djoyo Probongso di belakang masjid Jami At-Takwa Pringgowijayan perbatasan Desa Kiyangkong Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo.


BY. Ndandung Kumolo Adi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kutoarjo

SOEMARSONO: PEMUDA KUTOARJO, TOKOH 10 NOVEMBER 1945 DAN PENGGAGAS HARI PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN

  SOEMARSONO: PEMUDA KUTOARJO, TOKOH 10 NOVEMBER 1945 DAN PENGGAGAS HARI PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN By. Ndandung Kumolo Adi  Abstrak : Soemar...

Kutoarjo