Powered By Blogger

Senin, 17 Agustus 2026

SOEMARSONO: PEMUDA KUTOARJO, TOKOH 10 NOVEMBER 1945 DAN PENGGAGAS HARI PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN

 


SOEMARSONO: PEMUDA KUTOARJO, TOKOH 10 NOVEMBER 1945 DAN PENGGAGAS HARI PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN

By. Ndandung Kumolo Adi 

Abstrak :
Soemarsono merupakan salah satu tokoh pemuda yang memiliki peranan penting dalam dinamika Revolusi Indonesia, khususnya dalam perjuangan rakyat Surabaya pada 1945. Namun, namanya relatif kurang hadir dalam narasi sejarah populer mengenai Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Sejumlah sumber menyebut Soemarsono lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah, pada 26 Oktober 1921. Ia kemudian tampil sebagai salah satu pemimpin Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Surabaya dan terlibat dalam mobilisasi rakyat dalam menghadapi pasukan Sekutu setelah Proklamasi Kemerdekaan. Namanya juga berkaitan dengan usulan agar tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Dalam rapat Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BPKRI) pada 4 Oktober 1946, usulan tersebut disebut diterima dan kemudian diajukan kepada Presiden Soekarno. Peringatan Hari Pahlawan pertama kali dilaksanakan pada 10 November 1946.

Persoalan historiografis muncul karena perjalanan politik Soemarsono setelah Revolusi 1945 kemudian berkaitan erat dengan dinamika politik kiri dan Peristiwa Madiun 1948. Identitas politik tersebut berpengaruh terhadap posisi Soemarsono dalam historiografi Indonesia, khususnya pada masa Orde Baru. Artikel ini tidak bertujuan menghapus kontroversi politik Soemarsono, tetapi menguji persoalan yang lebih mendasar: apakah afiliasi politik seseorang pada suatu periode dapat dijadikan alasan untuk menghapus kontribusinya pada periode sejarah yang berbeda? Dengan menggunakan pendekatan sejarah kritis, artikel ini berpendapat bahwa kontribusi Soemarsono dalam Revolusi 1945 dan penggagasan Hari Pahlawan perlu dikaji kembali secara proporsional berdasarkan sumber sejarah. Pengkajian kembali tersebut tidak harus berarti memberikan pengultusan, melainkan menghadirkan historiografi yang lebih lengkap, kritis, dan berimbang. Dalam konteks sejarah lokal, kelahiran Soemarsono di Kutoarjo juga menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki hubungan dengan sejarah nasional melalui tokoh yang memainkan peranan penting dalam Revolusi Indonesia.

Kata kunci: Soemarsono, Kutoarjo, Pertempuran Surabaya, 10 November 1945, Hari Pahlawan, historiografi, sejarah lokal.


Pendahuluan

Sejarah bukan hanya persoalan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam suatu konflik politik. Sejarah juga merupakan persoalan mengenai siapa yang kemudian diingat, siapa yang dilupakan, dan bagaimana suatu masyarakat membentuk ingatan kolektif terhadap masa lalu.

Dalam konteks Revolusi Indonesia, Pertempuran Surabaya 10 November 1945 merupakan salah satu peristiwa yang memperoleh tempat sangat penting dalam historiografi nasional. Pertempuran tersebut kemudian menjadi dasar historis bagi peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November.

Dalam ingatan publik, nama-nama seperti Bung Tomo, Jenderal Sungkono, Gubernur Suryo, dan sejumlah tokoh militer lebih sering muncul ketika masyarakat membicarakan Pertempuran Surabaya. Akan tetapi, terdapat tokoh pemuda yang juga memiliki peranan penting dalam mobilisasi rakyat Surabaya, yaitu Soemarsono.

Soemarsono menarik untuk dikaji bukan hanya karena perannya dalam Revolusi 1945, tetapi juga karena ia merupakan putra kelahiran Kutoarjo. Sejumlah sumber menyebut bahwa Soemarsono lahir di Kutoarjo pada 26 Oktober 1921.

Dengan demikian, sejarah Soemarsono memiliki dua dimensi sekaligus: sejarah lokal Kutoarjo dan sejarah nasional Indonesia.

Persoalan kemudian muncul ketika perjalanan politik Soemarsono setelah 1945 dikaitkan dengan kelompok kiri dan Peristiwa Madiun 1948. Dalam perkembangan historiografi sesudahnya, terutama pada masa Orde Baru, posisi Soemarsono dalam narasi Pertempuran Surabaya semakin tersisih. Sumber-sumber mengenai dirinya bahkan menyebut bahwa namanya tidak tampil dalam diorama Monumen 10 November di Surabaya.

Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan historiografis:

Apakah kontribusi seorang tokoh pada suatu peristiwa sejarah dapat dihapus hanya karena perjalanan politiknya pada masa berikutnya???...

Pertanyaan tersebut penting karena sejarah harus mampu membedakan antara fakta kontribusi historis dan penilaian politik terhadap seorang tokoh.


Soemarsono, Pemuda Kelahiran Kutoarjo

Soemarsono lahir di Kutoarjo, Eks Kabupaten Kutoarjo, Hindia Belanda, Jawa Tengah, pada 26 Oktober 1921. Keterangan tersebut terdapat dalam sumber-sumber biografis yang membahas perjalanan hidupnya.

Keterangan mengenai Kutoarjo sebagai tempat kelahiran Soemarsono mempunyai arti penting bagi historiografi lokal. Selama ini sejarah Kutoarjo sering direkonstruksi melalui sejarah pemerintahan, perkembangan ekonomi, jaringan kereta api, pendidikan, agama, serta perjuangan bersenjata di wilayah Bagelen dan Purworejo.

Biografi Soemarsono memberikan perspektif tambahan bahwa Kutoarjo juga merupakan tempat kelahiran tokoh yang kemudian berperan dalam salah satu episode paling penting Revolusi Indonesia.

Namun, secara metodologis, tempat kelahiran tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa seluruh masa kanak-kanak dan pembentukan karakter politik Soemarsono berlangsung di Kutoarjo.

Karena itu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menemukan sumber primer mengenai keluarga, rumah kelahiran, pendidikan, dan lingkungan sosial Soemarsono di Kutoarjo.

Penelitian tersebut penting agar hubungan Soemarsono dengan Kutoarjo tidak berhenti pada keterangan biografis, tetapi dapat direkonstruksi sebagai bagian dari sejarah sosial masyarakat Kutoarjo.


Soemarsono dan Pergerakan Pemuda Surabaya

Setelah memasuki dunia pergerakan, Soemarsono kemudian aktif dalam organisasi pemuda di Surabaya.

Surabaya pada masa setelah Proklamasi merupakan salah satu pusat revolusi yang sangat dinamis. Pemuda, buruh, laskar, tentara, dan berbagai organisasi masyarakat berusaha mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan.

Dalam situasi tersebut, Soemarsono tampil sebagai salah satu tokoh penting Pemuda Republik Indonesia (PRI).

PRI merupakan salah satu organisasi pemuda terbesar di Surabaya. Sumber sejarah mengenai Soemarsono menyebut bahwa organisasi tersebut memiliki basis massa yang sangat besar dan berperan dalam mobilisasi rakyat Surabaya.

Peranan Soemarsono tidak dapat dipisahkan dari mobilisasi rakyat Surabaya sebelum dan selama pertempuran.

Menurut kesaksian yang dikutip dalam berbagai tulisan mengenai dirinya, Soemarsono tidak menempatkan dirinya sebagai satu-satunya tokoh utama Pertempuran Surabaya. Ia justru menegaskan bahwa pahlawan sebenarnya adalah rakyat Surabaya.

Pernyataan tersebut penting karena menunjukkan bahwa Soemarsono sendiri tidak membangun narasi kepahlawanan yang berpusat pada dirinya.


Soemarsono dalam Pertempuran 10 November 1945

Pertempuran Surabaya mencapai puncaknya pada 10 November 1945 setelah ketegangan antara rakyat Surabaya dan pasukan Sekutu semakin meningkat.

Dalam berbagai kesaksian mengenai peristiwa tersebut, Soemarsono disebut sebagai salah satu tokoh yang mengorganisasi dan menggerakkan kekuatan pemuda Surabaya.

Sumber sejarah yang mengutip Ben Anderson menyebut bahwa pada 28 Oktober 1945, ketika situasi Surabaya semakin tegang, Soemarsono sebagai Ketua PRI menggunakan radio untuk menyerukan perlawanan rakyat.

Sementara itu, penelitian dan buku Harsutejo menempatkan Soemarsono sebagai salah satu pemimpin perlawanan rakyat Surabaya 1945. Buku tersebut secara khusus berusaha merekonstruksi kembali peran Soemarsono yang dianggap kurang mendapat tempat dalam historiografi resmi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Pertempuran Surabaya tidak hanya merupakan sejarah tentang satu atau dua tokoh. Pertempuran tersebut merupakan perjuangan kolektif yang melibatkan organisasi pemuda, laskar, tentara, buruh, ulama, masyarakat kampung, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya.

Dalam konteks itu, Soemarsono merupakan salah satu simpul penting dalam mobilisasi pemuda.


Mengapa Soemarsono Kemudian Terlupakan???...

Pertanyaan mengenai hilangnya nama Soemarsono dari narasi populer Pertempuran Surabaya tidak dapat dijawab hanya dengan mengatakan bahwa ia "tidak berperan".

Justru sejumlah sumber menunjukkan adanya bukti dan kesaksian mengenai perannya.

Masalahnya terletak pada perkembangan politik Indonesia setelah 1945.

Soemarsono kemudian terlibat dalam dinamika politik kiri dan dikaitkan dengan Peristiwa Madiun 1948. Hubungan politik tersebut membuat biografinya memperoleh makna berbeda dalam historiografi Indonesia.

Dengan demikian, terdapat dua periode sejarah yang harus dipisahkan:

  1. Pertama, Soemarsono sebagai tokoh pemuda dan pelaku Revolusi 1945.
  2. Kedua, Soemarsono sebagai tokoh yang kemudian terlibat dalam dinamika politik kiri dan Peristiwa Madiun 1948.

Keduanya merupakan bagian dari perjalanan hidup orang yang sama, tetapi tidak boleh dicampuradukkan secara metodologis.

Seorang sejarawan dapat mengkritik pilihan politik Soemarsono pada 1948 tanpa harus menghapus perannya pada 1945.

Sebaliknya, mengakui kontribusinya pada 1945 juga tidak berarti membenarkan seluruh pilihan politiknya pada periode berikutnya.

Di sinilah prinsip kritik historiografi menjadi penting.


Soemarsono Pemuda Dari Kutoarjo Penggagas Hari Pahlawan

Salah satu aspek paling menarik dari biografi Soemarsono adalah keterkaitannya dengan lahirnya Hari Pahlawan 10 November.

Menurut sumber yang mengutip kesaksian mengenai Soemarsono, dalam rapat Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BPKRI) pada 4 Oktober 1946, Soemarsono mengusulkan agar tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Usulan tersebut disebut diterima secara bulat dan kemudian disampaikan kepada Presiden Soekarno. Peringatan Hari Pahlawan pertama kemudian dilaksanakan pada 10 November 1946 di Yogyakarta.

Ini adalah keterangan wawancara dengan Soemarsono dalam buku biografinya dan Apabila keterangan tersebut dapat dikonfirmasi melalui notulen rapat BPKRI, surat resmi, arsip Sekretariat Negara, atau sumber primer sezaman lainnya, maka kontribusi Soemarsono terhadap pembentukan tradisi peringatan Hari Pahlawan merupakan fakta historis yang sangat signifikan.

Karena itu, arsip mengenai rapat BPKRI 4 Oktober 1946 menjadi salah satu sumber primer paling penting yang perlu ditemukan dan diverifikasi.


Soemarsono Antara Kepahlawanan dan Politik

Permasalahan Soemarsono memperlihatkan bahwa konsep kepahlawanan tidak selalu terlepas dari politik.

Seseorang dapat mempunyai kontribusi besar dalam satu periode sejarah, tetapi kemudian memperoleh stigma politik akibat perkembangan sejarah pada periode berikutnya.

Dalam kasus Soemarsono, keterlibatannya dalam politik kiri dan kaitannya dengan Peristiwa Madiun 1948 menjadi bagian penting dari biografinya. Fakta tersebut tidak perlu disembunyikan.

Justru sejarah yang sehat adalah sejarah yang mampu mengatakan dua hal sekaligus:

Soemarsono mempunyai peran dalam Revolusi 1945; dan Soemarsono juga mempunyai perjalanan politik yang kontroversial setelahnya.

Keduanya bukan kontradiksi.

Sejarah tidak harus memilih antara "tokoh baik" atau "tokoh buruk". Sejarah harus menjelaskan apa yang dilakukan seseorang, kapan dilakukan, dalam konteks apa, dan berdasarkan sumber apa.

Pendekatan semacam ini akan menghasilkan historiografi yang lebih dewasa.


Apakah Soemarsono Layak Dikaji sebagai Calon Pahlawan Nasional???..

Pertanyaan apakah Soemarsono layak ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional merupakan persoalan yang berbeda dari pertanyaan apakah ia mempunyai kontribusi dalam Revolusi 1945.

Penetapan Pahlawan Nasional memiliki mekanisme dan persyaratan hukum tersendiri. Karena itu, artikel ini tidak bermaksud menetapkan bahwa Soemarsono secara otomatis memenuhi seluruh persyaratan tersebut.

Namun, dari perspektif sejarah, rekam jejak Soemarsono layak dikaji kembali secara serius.

Argumentasinya setidaknya mencakup tiga hal.

  1. Pertama, ia merupakan tokoh pemuda yang terlibat dalam mobilisasi rakyat Surabaya pada masa Revolusi 1945.
  2. Kedua, terdapat sumber yang menempatkannya sebagai salah satu pemimpin penting Pemuda Republik Indonesia dalam perjuangan Surabaya.
  3. Ketiga, terdapat sumber yang menyebut bahwa ia merupakan pengusul peringatan 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Namun, seluruh argumentasi tersebut tetap harus diuji melalui sumber primer dan dibandingkan dengan sumber-sumber lain.

Dengan demikian, pernyataan yang lebih akademis bukan:

"Soemarsono pasti harus menjadi Pahlawan Nasional."

Melainkan:

"Kontribusi Soemarsono dalam Revolusi 1945 dan sejarah lahirnya Hari Pahlawan layak dikaji kembali secara objektif sebagai bagian dari proses penilaian sejarah dan kemungkinan pengusulan kepahlawanan nasional."


Soemarsono sebagai Pelaku dan Saksi Sejarah Pertempuran Surabaya serta Peristiwa Madiun 1948

Soemarsono merupakan salah satu tokoh yang memiliki keterlibatan langsung dalam sejarah Revolusi Indonesia, khususnya Pertempuran Surabaya November 1945 dan pergolakan politik yang kemudian berkaitan dengan Peristiwa Madiun 1948. Ia lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah, pada 22 September 1921 dan meninggal dunia di Sydney, Australia, pada 8 Januari 2019 dalam usia 97 tahun.

Dalam sejumlah pemberitaan mengenai wafatnya, Soemarsono disebut sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam Pertempuran Surabaya 10 November 1945 sekaligus sebagai figur yang kemudian dikaitkan dengan Peristiwa Madiun 1948. Posisi tersebut menjadikan perjalanan hidupnya penting untuk dikaji karena mempertemukan dua episode sejarah Indonesia yang memiliki karakter berbeda: perjuangan bersenjata mempertahankan kemerdekaan pada 1945 dan konflik politik bersenjata pada 1948.

Keterangan mengenai pengalaman Soemarsono dalam Pertempuran Surabaya antara lain diperoleh melalui wawancara Dahlan Iskan yang kemudian dimuat secara bersambung di harian Jawa Pos pada Agustus 2009. Dahlan Iskan menyebut bahwa dirinya pernah berbicara dengan Soemarsono selama hampir lima jam ketika Soemarsono berada di Jakarta untuk mengunjungi anaknya sebelum kembali ke Australia. Dalam wawancara tersebut, pembicaraan mencakup pengalaman Soemarsono mengenai Pertempuran Surabaya serta pandangannya mengenai Peristiwa Madiun 1948.

Kesaksian tersebut menarik karena memperlihatkan bagaimana Soemarsono memandang kembali pengalaman sejarah yang pernah dijalaninya. Mengenai Pertempuran Surabaya, ia tidak menempatkan dirinya sebagai pusat kepahlawanan. Sebaliknya, ia menekankan bahwa perjuangan tersebut merupakan perjuangan rakyat. Pandangan ini penting secara historiografis karena memberikan perspektif dari seorang pelaku yang menolak pemusatan narasi kepahlawanan hanya pada tokoh-tokoh tertentu.

Dalam konteks sejarah Pertempuran Surabaya, posisi Soemarsono juga menarik untuk dibandingkan dengan figur-figur lain yang kemudian memperoleh tempat lebih kuat dalam narasi nasional, seperti Bung Tomo. Perbandingan tersebut tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan jasa antara satu tokoh dengan tokoh lainnya, melainkan untuk memahami bagaimana proses pembentukan ingatan sejarah bekerja. Tidak semua orang yang berperan dalam suatu peristiwa memperoleh tingkat pengakuan yang sama dalam historiografi maupun memori publik.

Persoalan menjadi lebih kompleks ketika perjalanan Soemarsono memasuki Peristiwa Madiun 1948. Namanya kemudian muncul dalam berbagai narasi mengenai konflik politik tersebut. Oleh sebab itu, kedudukannya tidak dapat dipahami hanya melalui satu perspektif. Ia perlu ditempatkan dalam konteks politik Indonesia pascakemerdekaan, konflik antarkekuatan politik, serta perubahan rezim dan perkembangan historiografi Indonesia.

Pada masa Orde Baru, Soemarsono mengalami penahanan dalam waktu yang panjang. Setelah dibebaskan, ia kemudian meninggalkan Indonesia dan menetap di Australia. Sejak saat itu, perjalanan hidupnya memasuki fase diaspora politik Indonesia. Ia menjalani sisa hidupnya di Australia dan wafat di Sydney pada 8 Januari 2019.

Dengan demikian, perjalanan Soemarsono memperlihatkan rangkaian sejarah yang panjang:

Kutoarjo → gerakan pemuda → Surabaya 1945 → Hari Pahlawan → Madiun 1948 → penahanan politik → Australia → wafat 2019.

Rangkaian tersebut menjadikan Soemarsono penting bukan hanya sebagai objek biografi, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk memahami hubungan antara sejarah lokal, sejarah Revolusi, sejarah politik Indonesia, dan sejarah diaspora. Kutoarjo menjadi titik awal perjalanan hidupnya, sedangkan Surabaya, Madiun, dan Australia menjadi ruang-ruang sejarah yang membentuk perjalanan biografisnya.

Karena itu, penelitian mengenai Soemarsono perlu ditempatkan dalam kerangka rekonstruksi sejarah berbasis sumber. Kesaksian dirinya, pemberitaan pers, arsip pemerintah, dokumen organisasi, sumber Belanda, sumber Australia, serta karya-karya historiografi mengenai Surabaya dan Madiun perlu dibandingkan secara kritis.

Dengan pendekatan tersebut, Soemarsono tidak harus ditempatkan sejak awal sebagai “pahlawan” ataupun “tokoh yang bersalah”, melainkan sebagai subjek sejarah yang kompleks, yang perjalanan hidupnya dapat diteliti melalui sumber, konteks, dan kritik historiografis. Justru dari posisi inilah penelitian terhadap Soemarsono dapat memberikan kontribusi bagi pemahaman sejarah Kutoarjo dan hubungannya dengan sejarah nasional Indonesia.

Kutoarjo, Soemarsono, dan Hubungan Sejarah Lokal dengan Sejarah Nasional

Bagi Kutoarjo, Soemarsono merupakan bagian penting dari sejarah lokal yang memiliki keterkaitan langsung dengan dinamika sejarah nasional Indonesia. Kelahirannya di Kutoarjo pada 22 September 1921 menempatkan daerah ini dalam biografi seorang tokoh muda yang kemudian memainkan peranan penting dalam pergolakan Revolusi Indonesia, khususnya di Surabaya pada 1945.

Dengan demikian, Kutoarjo tidak hanya dapat dipahami sebagai ruang berlangsungnya berbagai peristiwa sejarah lokal, tetapi juga sebagai tempat kelahiran seorang tokoh yang kemudian memasuki panggung sejarah nasional. Dalam konteks ini, biografi Soemarsono memberikan kemungkinan untuk membaca sejarah Kutoarjo tidak secara terpisah dari sejarah Indonesia, melainkan sebagai bagian dari jaringan peristiwa sejarah yang lebih luas.

Peran Soemarsono di Surabaya menjadi salah satu titik penting dalam hubungan tersebut. Ia terlibat dalam organisasi kepemudaan dan kemudian menjadi Ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), organisasi yang menghimpun kekuatan pemuda di Surabaya. Dalam perkembangan menuju Pertempuran 10 November 1945, PRI di bawah kepemimpinannya turut memainkan peranan dalam mobilisasi masyarakat dan pemuda.

Perjalanan Soemarsono kemudian berlanjut ke episode sejarah yang jauh lebih kontroversial, yaitu Peristiwa Madiun 1948. Karena keterlibatannya dalam dinamika politik dan militer pada masa tersebut, namanya kemudian tidak dapat dilepaskan dari perdebatan historiografis mengenai Madiun 1948. Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik balik dalam perjalanan politiknya sekaligus memengaruhi perjalanan hidupnya pada tahun-tahun berikutnya.

Menariknya, Soemarsono juga dikaitkan dengan gagasan menjadikan 10 November sebagai Hari Pahlawan. Dalam sejumlah sumber disebutkan bahwa gagasan tersebut disampaikan dalam rapat Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia pada 4 Oktober 1946 dan kemudian diterima untuk diajukan kepada Presiden Soekarno. Peringatan Hari Pahlawan pertama kali dilaksanakan pada 10 November 1946.

Perjalanan politik Soemarsono tidak berhenti pada pergolakan politik Indonesia pada akhir 1940-an. Akibat perkembangan politik yang dihadapinya, ia kemudian meninggalkan Indonesia dan menjalani kehidupan di Australia. Migrasi tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan biografinya karena sejak saat itu kehidupan Soemarsono berlangsung dalam konteks sejarah Indonesia sekaligus sejarah diaspora politik Indonesia di luar negeri.

Soemarsono, yang dikenal sebagai salah satu tokoh dalam sejarah Pertempuran Surabaya 10 November 1945 dan kemudian terlibat dalam pergolakan politik yang berkaitan dengan Peristiwa Madiun 1948, menetap di Australia hingga akhir hayatnya. Ia wafat di Sydney, Australia, pada 8 Januari 2019 dalam usia 97 tahun.

Oleh karena itu, perjalanan hidup Soemarsono dapat ditempatkan dalam suatu rangkaian historiografis:

Kutoarjo → Soemarsono → gerakan pemuda → Surabaya 1945 → gagasan Hari Pahlawan → Madiun 1948 → pergolakan politik → migrasi ke Australia → wafat 2019.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa sejarah lokal tidak selalu berhenti pada batas geografis suatu daerah. Seorang tokoh yang lahir di sebuah kota di Bagelen dapat bergerak ke ruang sejarah yang lebih luas dan kemudian menjadi bagian dari berbagai episode penting sejarah nasional, bahkan memiliki jejak kehidupan yang melampaui batas negara.

Dalam perspektif historiografi, kasus Soemarsono sekaligus menunjukkan pentingnya penelitian sejarah lokal melalui pendekatan biografis, mikrohistoris, dan konektivitas sejarah. Kutoarjo menjadi titik awal, sedangkan perjalanan Soemarsono memperlihatkan hubungan antara sejarah lokal, sejarah Revolusi Indonesia, dinamika politik nasional, dan sejarah diaspora politik Indonesia di Australia.

Dengan demikian, penelitian mengenai Soemarsono bukan semata-mata usaha untuk menempatkan kembali nama seorang tokoh dalam sejarah Kutoarjo. Lebih jauh, penelitian tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana sejarah lokal berkontribusi terhadap pembentukan sejarah nasional, bagaimana seorang tokoh lokal dapat memasuki arena sejarah nasional, serta bagaimana perjalanan politik dapat membawa seorang tokoh dari ruang lokal di Kutoarjo menuju Surabaya, Madiun, dan akhirnya Australia.

Pada saat yang sama, kasus Soemarsono memperlihatkan bahwa posisi seorang tokoh dalam historiografi tidak selalu bersifat tetap. Perubahan politik dapat memengaruhi bagaimana seorang tokoh dikenang, ditampilkan, atau justru kurang mendapat tempat dalam narasi sejarah arus utama. Karena itu, pembacaan kembali terhadap Soemarsono perlu dilakukan melalui penelitian sejarah yang menggunakan sumber-sumber yang beragam dan dapat diverifikasi.

Atas dasar itu, penelitian mengenai Soemarsono penting ditempatkan dalam kerangka rekonstruksi sejarah berbasis sumber, bukan semata-mata dalam kerangka pemberian penghargaan atau pembelaan terhadap seorang tokoh. Pertanyaan utamanya bukan hanya siapa Soemarsono, tetapi juga bagaimana perjalanan hidupnya dapat dibuktikan melalui sumber sejarah, bagaimana berbagai versi tentang dirinya terbentuk, serta bagaimana posisi Kutoarjo dapat ditempatkan secara proporsional dalam jaringan sejarah nasional Indonesia.

Dengan pendekatan tersebut, sejarah Soemarsono menjadi lebih dari sekadar biografi seorang tokoh. Ia menjadi sebuah jembatan historiografis yang menghubungkan Kutoarjo sebagai ruang sejarah lokal, Surabaya sebagai pusat pergolakan Revolusi, Madiun sebagai ruang konflik politik, dan Australia sebagai ruang diaspora politik Indonesia.

Dari perspektif inilah sejarah Kutoarjo dapat dibaca bukan sebagai sejarah yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari sejarah Indonesia yang lebih luas. Sejarah lokal bukan sekadar catatan mengenai apa yang terjadi di suatu tempat, tetapi juga mengenai bagaimana tempat tersebut melahirkan manusia, pengalaman, dan peristiwa yang kemudian berinteraksi dengan arus sejarah nasional bahkan sejarah internasional.

Dalam konteks tersebut, Soemarsono dapat ditempatkan sebagai salah satu contoh konkret bahwa sejarah Kutoarjo memiliki hubungan langsung dengan sejarah nasional Indonesia. Kelahiran seorang tokoh di Kutoarjo, kiprahnya dalam Revolusi di Surabaya, keterlibatannya dalam pergolakan politik 1948, hingga kehidupannya sebagai diaspora politik di Australia menunjukkan adanya kesinambungan ruang sejarah yang membentang jauh melampaui batas wilayah Kutoarjo itu sendiri.


Soemarsono: Tokoh Pemuda Kutoarjo dalam Revolusi Indonesia

Dari sumber Buku Soemarsono. Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah. Jakarta: Hasta Mitra, 2008. ISBN 978-979-8659-36-2., Harsutejo. Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2010. Informasi penerbitan dan peluncuran buku tercatat dalam laporan peluncurannya pada 10 November 2010., Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sekilas tentang Beberapa Tokoh yang Turut Terlibat dalam Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Dan Wilson. “In Memoriam Soemarsono: Tokoh Madiun 1948, Penggagas Hari Pahlawan.” YPKP 1965, 11 Januari 2019.

Soemarsono merupakan salah satu tokoh pemuda yang terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada masa Revolusi 1945–1949. Ia lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah, pada 22 September 1921. Sejak muda, Soemarsono telah aktif dalam dunia pergerakan dan berhubungan dengan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang dipimpin Amir Sjarifuddin.

Namanya kemudian dikenal luas dalam Pertempuran Surabaya 1945. Soemarsono menjadi Ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), salah satu organisasi pemuda terbesar di Surabaya. Dalam kedudukan tersebut ia berperan dalam mengorganisasi dan menggerakkan kekuatan pemuda serta rakyat Surabaya menghadapi pasukan Sekutu. Sumber Kementerian Pendidikan juga mencatat Soemarsono sebagai salah satu tokoh kunci dalam konflik November 1945 dan menyebut perannya sebagai Ketua PRI.

Selain keterlibatannya dalam Pertempuran Surabaya, Soemarsono kemudian menjadi salah satu tokoh yang berkaitan erat dengan Peristiwa Madiun 1948. Kedudukannya dalam peristiwa tersebut menjadi bagian paling kontroversial dalam perjalanan hidupnya. Kesaksiannya sendiri kemudian dibukukan dalam Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah, yang diterbitkan Hasta Mitra pada 2008. Buku tersebut berjumlah 434 halaman dan dikatalogkan sebagai karya biografi.

Dalam sejumlah sumber, Soemarsono juga disebut sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam pengusulan 10 November sebagai Hari Pahlawan. Namun, klaim tersebut perlu ditempatkan dalam konteks sumber dan diuji dengan dokumen sezaman agar tidak berubah menjadi klaim tunggal tanpa verifikasi.

Setelah Peristiwa Madiun, kehidupan Soemarsono mengalami perubahan besar. Ia kemudian menjalani kehidupan yang panjang di luar pusat kehidupan politik Indonesia. Pada masa Orde Baru ia pernah ditahan di Salemba dan akhirnya menetap di Australia sejak 1987. Soemarsono meninggal dunia pada 8 Januari 2019.

Soemarsono dengan demikian merupakan tokoh yang tidak dapat dipahami hanya melalui satu label politik. Ia adalah anak Kutoarjo yang kemudian menjadi salah satu pelaku penting Revolusi Indonesia, terutama dalam sejarah Pertempuran Surabaya 1945, tetapi juga terlibat dalam kontroversi politik Madiun 1948. Karena itu, sejarah hidupnya perlu dikaji melalui perbandingan berbagai sumber, baik kesaksian pelaku maupun arsip dan penelitian sejarah lainnya.


Kutoarjo dan Memori Sejarah Soemarsono

Bagi Kutoarjo, Soemarsono merupakan bagian penting dari sejarah lokal yang memiliki hubungan langsung dengan sejarah nasional.

Kelahirannya di Kutoarjo memberikan kesempatan bagi masyarakat setempat untuk memperluas pemahaman mengenai sejarah daerahnya.

Kutoarjo bukan hanya tempat berlangsungnya peristiwa lokal. Kutoarjo juga menjadi tempat lahir seseorang yang kemudian terlibat dalam salah satu episode paling penting Revolusi Indonesia.

Karena itu, Soemarsono dapat ditempatkan dalam suatu rangkaian historiografis:

Kutoarjo → Soemarsono → pergerakan pemuda → Surabaya 1945 → Hari Pahlawan → Madiun 1948 → pengasingan → Australia.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bagaimana sejarah lokal dapat terhubung dengan sejarah nasional dan bahkan sejarah transnasional.


Penutup

Soemarsono adalah tokoh sejarah yang kompleks.

Ia adalah pemuda kelahiran Kutoarjo yang kemudian tampil sebagai salah satu tokoh penting pergerakan pemuda Surabaya pada 1945. Ia terlibat dalam mobilisasi rakyat dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan setelah Proklamasi.

Ia juga dikaitkan dengan gagasan memperingati 10 November sebagai Hari Pahlawan, sebuah peringatan nasional yang hingga kini tetap hidup dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia.

Namun perjalanan politiknya setelah 1945, terutama keterkaitannya dengan politik kiri dan Peristiwa Madiun 1948, menyebabkan namanya memperoleh posisi kontroversial dalam sejarah Indonesia.

Kontroversi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghapus fakta sejarah mengenai kontribusinya pada periode sebelumnya.

Sebaliknya, kontribusinya pada 1945 juga tidak boleh digunakan untuk menghapus kontroversi politik yang kemudian melekat dalam biografinya.

Karena itu, persoalan Soemarsono sebaiknya ditempatkan dalam kerangka rekonstruksi historiografi, bukan sekadar rehabilitasi politik.

Pertanyaan terpenting bukanlah apakah Soemarsono harus dipuja atau dicela, melainkan:

Apakah sejarah Indonesia telah mencatat seluruh pelaku Revolusi secara proporsional berdasarkan sumber???..

Jika jawabannya belum, maka penelitian mengenai Soemarsono perlu dilakukan kembali.

Bagi Kutoarjo, penelitian tersebut juga memiliki arti khusus. Seorang pemuda yang lahir di Kutoarjo ternyata pernah berada di tengah pusaran Revolusi Indonesia dan menjadi salah satu tokoh yang namanya berkaitan dengan lahirnya Hari Pahlawan.

Karena itu, Soemarsono layak dikembalikan ke dalam ruang penelitian sejarah—bukan melalui mitologisasi, melainkan melalui sumber, kritik, dan verifikasi.

Penulis : Ndandung Kumolo Adi 
Sejatininghidup02.blogspot.com

Catatan Kaki

  1. Fadrik Aziz Firdausi, “In Memoriam Soemarsono: Tokoh Madiun 1948, Penggagas Hari Pahlawan,” Tirto.id, 8 Januari 2019. Sumber tersebut membahas posisi Soemarsono dalam Pertempuran Surabaya dan pengusulan Hari Pahlawan.

  2. Abi Mu'ammar Dzikri, “Biografi Soemarsono Sang Pencetus Hari Pahlawan 10 November,” Tirto.id, 9 November 2022, diperbarui 2 Juli 2025. Artikel tersebut membahas Soemarsono sebagai tokoh yang selama beberapa waktu kurang mendapat tempat dalam historiografi populer mengenai Pertempuran Surabaya.

  3. Bonnie Triana, “Bintang Perang Surabaya,” Historia, 7 November 2011, diperbarui 30 Juli 2025. Artikel tersebut menempatkan Soemarsono sebagai tokoh pemuda dalam Pertempuran Surabaya 1945.

  4. Harsutejo, Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2010. Buku tersebut secara khusus merekonstruksi peranan Soemarsono dalam perjuangan rakyat Surabaya. Informasi mengenai penerbitan dan pembahasan buku dapat dilihat dalam laporan peluncurannya.

  5. Anderson, Benedict R. O'G., Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944–1946. Ithaca: Cornell University Press, 1972. Karya ini penting untuk memahami konteks sosial-politik pemuda dan Revolusi Indonesia.

  6. Hario Kecik, Pemikiran Militer 1: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Kesaksian Hario Kecik merupakan salah satu sumber yang digunakan dalam pembahasan mengenai tokoh-tokoh perjuangan Surabaya.

  7. Harsutejo, Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan, 2010. Buku tersebut berupaya menempatkan kembali Soemarsono dalam sejarah perjuangan rakyat Surabaya.

  8. “Orang Kiri di Perang Surabaya,” Detik, 8 November 2015. Artikel tersebut membahas posisi Soemarsono sebagai Ketua PRI dan perannya dalam mobilisasi pemuda Surabaya.

  9. Firdausi, “In Memoriam Soemarsono: Tokoh Madiun 1948, Penggagas Hari Pahlawan.” Artikel tersebut mencatat keterangan bahwa usulan 10 November sebagai Hari Pahlawan dibawa Soemarsono dalam rapat BPKRI 4 Oktober 1946.

  10. Dzikri, “Biografi Soemarsono Sang Pencetus Hari Pahlawan 10 November.” Artikel tersebut juga membahas hubungan Soemarsono dengan politik kiri dan dampaknya terhadap posisi Soemarsono dalam historiografi.

  11. Soemarsono, Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah. Jakarta: Hasta Mitra, 2008. Karya kesaksian pelaku penting untuk digunakan sebagai sumber sejarah lisan/ego-document, tetapi tetap harus dikritik dan dibandingkan dengan sumber sezaman lainnya.

  12. Harsutejo, Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2010. Buku tersebut menjadi salah satu karya utama yang berusaha merekonstruksi peranan Soemarsono dalam perlawanan rakyat Surabaya.


Daftar Pustaka

Anderson, Benedict R. O'G. Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944–1946. Ithaca: Cornell University Press, 1972.

Dzikri, Abi Mu'ammar. “Biografi Soemarsono Sang Pencetus Hari Pahlawan 10 November.” Tirto.id, 9 November 2022, diperbarui 2 Juli 2025.

Firdausi, Fadrik Aziz. “In Memoriam Soemarsono: Tokoh Madiun 1948, Penggagas Hari Pahlawan.” Tirto.id, 8 Januari 2019.

Harsutejo. Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2010.

Kecik, Hario. Pemikiran Militer 1: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Nasution, A.H. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia. Bandung: Angkasa.

Notosusanto, Nugroho. Pertempuran Surabaya. Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1985.

Soemarsono. Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah. Jakarta: Hasta Mitra, 2008.

Triana, Bonnie. “Bintang Perang Surabaya.” Historia, 7 November 2011, diperbarui 30 Juli 2025.

“Orang Kiri di Perang Surabaya.” Detik, 8 November 2015.


Catatan penelitian penting

Untuk menjadikan tulisan ini lebih kuat sebagai penelitian sejarah Kutoarjo, selain sudah kuat bahwa Soemarsono adalah kelahiran Kutoarjo menurut penuturan beliau sebagai pelaku sejarah, syukur ada tiga sumber primer yang menurut saya harus diburu berikutnya:

  1. Akta/registrasi kelahiran Soemarsono untuk memastikan tempat dan tanggal lahir—terutama karena pernah muncul perbedaan tanggal dalam sumber sekunder.
  2. Notulen BPKRI tanggal 4 Oktober 1946 untuk menguji Penuturan beliau dan klaim bahwa Soemarsono mengusulkan 10 November sebagai Hari Pahlawan.
  3. Dokumen/arsip PRI Surabaya 1945 untuk memperkuat posisi Soemarsono sebagai pemimpin organisasi dan pelaku Revolusi.

Kalau tiga bukti primer itu berhasil ditemukan, tesis artikel ini akan jauh lebih kuat: bukan sekadar “Soemarsono adalah tokoh yang terlupakan”, tetapi dapat dibuktikan secara dokumenter bagaimana seorang pemuda kelahiran Kutoarjo berperan dalam Revolusi 1945 dan dalam pembentukan memori nasional Hari Pahlawan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kutoarjo

SOEMARSONO: PEMUDA KUTOARJO, TOKOH 10 NOVEMBER 1945 DAN PENGGAGAS HARI PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN

  SOEMARSONO: PEMUDA KUTOARJO, TOKOH 10 NOVEMBER 1945 DAN PENGGAGAS HARI PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN By. Ndandung Kumolo Adi  Abstrak : Soemar...

Kutoarjo