SOEMARSONO: PEMUDA KUTOARJO, TOKOH 10 NOVEMBER 1945 DAN PENGGAGAS HARI PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN
By. Ndandung Kumolo Adi
Soemarsono merupakan salah satu tokoh pemuda yang memiliki peranan penting dalam dinamika Revolusi Indonesia, khususnya dalam perjuangan rakyat Surabaya pada 1945. Namun, namanya relatif kurang hadir dalam narasi sejarah populer mengenai Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Sejumlah sumber menyebut Soemarsono lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah, pada 26 Oktober 1921. Ia kemudian tampil sebagai salah satu pemimpin Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Surabaya dan terlibat dalam mobilisasi rakyat dalam menghadapi pasukan Sekutu setelah Proklamasi Kemerdekaan. Namanya juga berkaitan dengan usulan agar tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Dalam rapat Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BPKRI) pada 4 Oktober 1946, usulan tersebut disebut diterima dan kemudian diajukan kepada Presiden Soekarno. Peringatan Hari Pahlawan pertama kali dilaksanakan pada 10 November 1946.
Persoalan historiografis muncul karena perjalanan politik Soemarsono setelah Revolusi 1945 kemudian berkaitan erat dengan dinamika politik kiri dan Peristiwa Madiun 1948. Identitas politik tersebut berpengaruh terhadap posisi Soemarsono dalam historiografi Indonesia, khususnya pada masa Orde Baru. Artikel ini tidak bertujuan menghapus kontroversi politik Soemarsono, tetapi menguji persoalan yang lebih mendasar: apakah afiliasi politik seseorang pada suatu periode dapat dijadikan alasan untuk menghapus kontribusinya pada periode sejarah yang berbeda? Dengan menggunakan pendekatan sejarah kritis, artikel ini berpendapat bahwa kontribusi Soemarsono dalam Revolusi 1945 dan penggagasan Hari Pahlawan perlu dikaji kembali secara proporsional berdasarkan sumber sejarah. Pengkajian kembali tersebut tidak harus berarti memberikan pengultusan, melainkan menghadirkan historiografi yang lebih lengkap, kritis, dan berimbang. Dalam konteks sejarah lokal, kelahiran Soemarsono di Kutoarjo juga menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki hubungan dengan sejarah nasional melalui tokoh yang memainkan peranan penting dalam Revolusi Indonesia.
Kata kunci: Soemarsono, Kutoarjo, Pertempuran Surabaya, 10 November 1945, Hari Pahlawan, historiografi, sejarah lokal.
Pendahuluan
Sejarah bukan hanya persoalan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam suatu konflik politik. Sejarah juga merupakan persoalan mengenai siapa yang kemudian diingat, siapa yang dilupakan, dan bagaimana suatu masyarakat membentuk ingatan kolektif terhadap masa lalu.
Dalam konteks Revolusi Indonesia, Pertempuran Surabaya 10 November 1945 merupakan salah satu peristiwa yang memperoleh tempat sangat penting dalam historiografi nasional. Pertempuran tersebut kemudian menjadi dasar historis bagi peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November.
Dalam ingatan publik, nama-nama seperti Bung Tomo, Jenderal Sungkono, Gubernur Suryo, dan sejumlah tokoh militer lebih sering muncul ketika masyarakat membicarakan Pertempuran Surabaya. Akan tetapi, terdapat tokoh pemuda yang juga memiliki peranan penting dalam mobilisasi rakyat Surabaya, yaitu Soemarsono.
Soemarsono menarik untuk dikaji bukan hanya karena perannya dalam Revolusi 1945, tetapi juga karena ia merupakan putra kelahiran Kutoarjo. Sejumlah sumber menyebut bahwa Soemarsono lahir di Kutoarjo pada 26 Oktober 1921.
Dengan demikian, sejarah Soemarsono memiliki dua dimensi sekaligus: sejarah lokal Kutoarjo dan sejarah nasional Indonesia.
Persoalan kemudian muncul ketika perjalanan politik Soemarsono setelah 1945 dikaitkan dengan kelompok kiri dan Peristiwa Madiun 1948. Dalam perkembangan historiografi sesudahnya, terutama pada masa Orde Baru, posisi Soemarsono dalam narasi Pertempuran Surabaya semakin tersisih. Sumber-sumber mengenai dirinya bahkan menyebut bahwa namanya tidak tampil dalam diorama Monumen 10 November di Surabaya.
Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan historiografis:
Apakah kontribusi seorang tokoh pada suatu peristiwa sejarah dapat dihapus hanya karena perjalanan politiknya pada masa berikutnya???...
Pertanyaan tersebut penting karena sejarah harus mampu membedakan antara fakta kontribusi historis dan penilaian politik terhadap seorang tokoh.
Soemarsono, Pemuda Kelahiran Kutoarjo
Soemarsono lahir di Kutoarjo, Eks Kabupaten Kutoarjo, Hindia Belanda, Jawa Tengah, pada 26 Oktober 1921. Keterangan tersebut terdapat dalam sumber-sumber biografis yang membahas perjalanan hidupnya.
Keterangan mengenai Kutoarjo sebagai tempat kelahiran Soemarsono mempunyai arti penting bagi historiografi lokal. Selama ini sejarah Kutoarjo sering direkonstruksi melalui sejarah pemerintahan, perkembangan ekonomi, jaringan kereta api, pendidikan, agama, serta perjuangan bersenjata di wilayah Bagelen dan Purworejo.
Biografi Soemarsono memberikan perspektif tambahan bahwa Kutoarjo juga merupakan tempat kelahiran tokoh yang kemudian berperan dalam salah satu episode paling penting Revolusi Indonesia.
Namun, secara metodologis, tempat kelahiran tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa seluruh masa kanak-kanak dan pembentukan karakter politik Soemarsono berlangsung di Kutoarjo.
Karena itu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menemukan sumber primer mengenai keluarga, rumah kelahiran, pendidikan, dan lingkungan sosial Soemarsono di Kutoarjo.
Penelitian tersebut penting agar hubungan Soemarsono dengan Kutoarjo tidak berhenti pada keterangan biografis, tetapi dapat direkonstruksi sebagai bagian dari sejarah sosial masyarakat Kutoarjo.
Soemarsono dan Pergerakan Pemuda Surabaya
Setelah memasuki dunia pergerakan, Soemarsono kemudian aktif dalam organisasi pemuda di Surabaya.
Surabaya pada masa setelah Proklamasi merupakan salah satu pusat revolusi yang sangat dinamis. Pemuda, buruh, laskar, tentara, dan berbagai organisasi masyarakat berusaha mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan.
Dalam situasi tersebut, Soemarsono tampil sebagai salah satu tokoh penting Pemuda Republik Indonesia (PRI).
PRI merupakan salah satu organisasi pemuda terbesar di Surabaya. Sumber sejarah mengenai Soemarsono menyebut bahwa organisasi tersebut memiliki basis massa yang sangat besar dan berperan dalam mobilisasi rakyat Surabaya.
Peranan Soemarsono tidak dapat dipisahkan dari mobilisasi rakyat Surabaya sebelum dan selama pertempuran.
Menurut kesaksian yang dikutip dalam berbagai tulisan mengenai dirinya, Soemarsono tidak menempatkan dirinya sebagai satu-satunya tokoh utama Pertempuran Surabaya. Ia justru menegaskan bahwa pahlawan sebenarnya adalah rakyat Surabaya.
Pernyataan tersebut penting karena menunjukkan bahwa Soemarsono sendiri tidak membangun narasi kepahlawanan yang berpusat pada dirinya.
Soemarsono dalam Pertempuran 10 November 1945
Pertempuran Surabaya mencapai puncaknya pada 10 November 1945 setelah ketegangan antara rakyat Surabaya dan pasukan Sekutu semakin meningkat.
Dalam berbagai kesaksian mengenai peristiwa tersebut, Soemarsono disebut sebagai salah satu tokoh yang mengorganisasi dan menggerakkan kekuatan pemuda Surabaya.
Sumber sejarah yang mengutip Ben Anderson menyebut bahwa pada 28 Oktober 1945, ketika situasi Surabaya semakin tegang, Soemarsono sebagai Ketua PRI menggunakan radio untuk menyerukan perlawanan rakyat.
Sementara itu, penelitian dan buku Harsutejo menempatkan Soemarsono sebagai salah satu pemimpin perlawanan rakyat Surabaya 1945. Buku tersebut secara khusus berusaha merekonstruksi kembali peran Soemarsono yang dianggap kurang mendapat tempat dalam historiografi resmi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa Pertempuran Surabaya tidak hanya merupakan sejarah tentang satu atau dua tokoh. Pertempuran tersebut merupakan perjuangan kolektif yang melibatkan organisasi pemuda, laskar, tentara, buruh, ulama, masyarakat kampung, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya.
Dalam konteks itu, Soemarsono merupakan salah satu simpul penting dalam mobilisasi pemuda.
Mengapa Soemarsono Kemudian Terlupakan???...
Pertanyaan mengenai hilangnya nama Soemarsono dari narasi populer Pertempuran Surabaya tidak dapat dijawab hanya dengan mengatakan bahwa ia "tidak berperan".
Justru sejumlah sumber menunjukkan adanya bukti dan kesaksian mengenai perannya.
Masalahnya terletak pada perkembangan politik Indonesia setelah 1945.
Soemarsono kemudian terlibat dalam dinamika politik kiri dan dikaitkan dengan Peristiwa Madiun 1948. Hubungan politik tersebut membuat biografinya memperoleh makna berbeda dalam historiografi Indonesia.
Dengan demikian, terdapat dua periode sejarah yang harus dipisahkan:
- Pertama, Soemarsono sebagai tokoh pemuda dan pelaku Revolusi 1945.
- Kedua, Soemarsono sebagai tokoh yang kemudian terlibat dalam dinamika politik kiri dan Peristiwa Madiun 1948.
Keduanya merupakan bagian dari perjalanan hidup orang yang sama, tetapi tidak boleh dicampuradukkan secara metodologis.
Seorang sejarawan dapat mengkritik pilihan politik Soemarsono pada 1948 tanpa harus menghapus perannya pada 1945.
Sebaliknya, mengakui kontribusinya pada 1945 juga tidak berarti membenarkan seluruh pilihan politiknya pada periode berikutnya.
Di sinilah prinsip kritik historiografi menjadi penting.
Soemarsono Pemuda Dari Kutoarjo Penggagas Hari Pahlawan
Salah satu aspek paling menarik dari biografi Soemarsono adalah keterkaitannya dengan lahirnya Hari Pahlawan 10 November.
Menurut sumber yang mengutip kesaksian mengenai Soemarsono, dalam rapat Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BPKRI) pada 4 Oktober 1946, Soemarsono mengusulkan agar tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Usulan tersebut disebut diterima secara bulat dan kemudian disampaikan kepada Presiden Soekarno. Peringatan Hari Pahlawan pertama kemudian dilaksanakan pada 10 November 1946 di Yogyakarta.
Ini adalah keterangan wawancara dengan Soemarsono dalam buku biografinya dan Apabila keterangan tersebut dapat dikonfirmasi melalui notulen rapat BPKRI, surat resmi, arsip Sekretariat Negara, atau sumber primer sezaman lainnya, maka kontribusi Soemarsono terhadap pembentukan tradisi peringatan Hari Pahlawan merupakan fakta historis yang sangat signifikan.
Karena itu, arsip mengenai rapat BPKRI 4 Oktober 1946 menjadi salah satu sumber primer paling penting yang perlu ditemukan dan diverifikasi.
Soemarsono Antara Kepahlawanan dan Politik
Permasalahan Soemarsono memperlihatkan bahwa konsep kepahlawanan tidak selalu terlepas dari politik.
Seseorang dapat mempunyai kontribusi besar dalam satu periode sejarah, tetapi kemudian memperoleh stigma politik akibat perkembangan sejarah pada periode berikutnya.
Dalam kasus Soemarsono, keterlibatannya dalam politik kiri dan kaitannya dengan Peristiwa Madiun 1948 menjadi bagian penting dari biografinya. Fakta tersebut tidak perlu disembunyikan.
Justru sejarah yang sehat adalah sejarah yang mampu mengatakan dua hal sekaligus:
Soemarsono mempunyai peran dalam Revolusi 1945; dan Soemarsono juga mempunyai perjalanan politik yang kontroversial setelahnya.
Keduanya bukan kontradiksi.
Sejarah tidak harus memilih antara "tokoh baik" atau "tokoh buruk". Sejarah harus menjelaskan apa yang dilakukan seseorang, kapan dilakukan, dalam konteks apa, dan berdasarkan sumber apa.
Pendekatan semacam ini akan menghasilkan historiografi yang lebih dewasa.
Apakah Soemarsono Layak Dikaji sebagai Calon Pahlawan Nasional???..
Pertanyaan apakah Soemarsono layak ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional merupakan persoalan yang berbeda dari pertanyaan apakah ia mempunyai kontribusi dalam Revolusi 1945.
Penetapan Pahlawan Nasional memiliki mekanisme dan persyaratan hukum tersendiri. Karena itu, artikel ini tidak bermaksud menetapkan bahwa Soemarsono secara otomatis memenuhi seluruh persyaratan tersebut.
Namun, dari perspektif sejarah, rekam jejak Soemarsono layak dikaji kembali secara serius.
Argumentasinya setidaknya mencakup tiga hal.
- Pertama, ia merupakan tokoh pemuda yang terlibat dalam mobilisasi rakyat Surabaya pada masa Revolusi 1945.
- Kedua, terdapat sumber yang menempatkannya sebagai salah satu pemimpin penting Pemuda Republik Indonesia dalam perjuangan Surabaya.
- Ketiga, terdapat sumber yang menyebut bahwa ia merupakan pengusul peringatan 10 November sebagai Hari Pahlawan.
Namun, seluruh argumentasi tersebut tetap harus diuji melalui sumber primer dan dibandingkan dengan sumber-sumber lain.
Dengan demikian, pernyataan yang lebih akademis bukan:
"Soemarsono pasti harus menjadi Pahlawan Nasional."
Melainkan:
"Kontribusi Soemarsono dalam Revolusi 1945 dan sejarah lahirnya Hari Pahlawan layak dikaji kembali secara objektif sebagai bagian dari proses penilaian sejarah dan kemungkinan pengusulan kepahlawanan nasional."
Soemarsono sebagai Pelaku dan Saksi Sejarah Pertempuran Surabaya serta Peristiwa Madiun 1948
Soemarsono: Tokoh Pemuda Kutoarjo dalam Revolusi Indonesia
Soemarsono merupakan salah satu tokoh pemuda yang terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada masa Revolusi 1945–1949. Ia lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah, pada 22 September 1921. Sejak muda, Soemarsono telah aktif dalam dunia pergerakan dan berhubungan dengan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang dipimpin Amir Sjarifuddin.
Namanya kemudian dikenal luas dalam Pertempuran Surabaya 1945. Soemarsono menjadi Ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), salah satu organisasi pemuda terbesar di Surabaya. Dalam kedudukan tersebut ia berperan dalam mengorganisasi dan menggerakkan kekuatan pemuda serta rakyat Surabaya menghadapi pasukan Sekutu. Sumber Kementerian Pendidikan juga mencatat Soemarsono sebagai salah satu tokoh kunci dalam konflik November 1945 dan menyebut perannya sebagai Ketua PRI.
Selain keterlibatannya dalam Pertempuran Surabaya, Soemarsono kemudian menjadi salah satu tokoh yang berkaitan erat dengan Peristiwa Madiun 1948. Kedudukannya dalam peristiwa tersebut menjadi bagian paling kontroversial dalam perjalanan hidupnya. Kesaksiannya sendiri kemudian dibukukan dalam Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah, yang diterbitkan Hasta Mitra pada 2008. Buku tersebut berjumlah 434 halaman dan dikatalogkan sebagai karya biografi.
Dalam sejumlah sumber, Soemarsono juga disebut sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam pengusulan 10 November sebagai Hari Pahlawan. Namun, klaim tersebut perlu ditempatkan dalam konteks sumber dan diuji dengan dokumen sezaman agar tidak berubah menjadi klaim tunggal tanpa verifikasi.
Setelah Peristiwa Madiun, kehidupan Soemarsono mengalami perubahan besar. Ia kemudian menjalani kehidupan yang panjang di luar pusat kehidupan politik Indonesia. Pada masa Orde Baru ia pernah ditahan di Salemba dan akhirnya menetap di Australia sejak 1987. Soemarsono meninggal dunia pada 8 Januari 2019.
Soemarsono dengan demikian merupakan tokoh yang tidak dapat dipahami hanya melalui satu label politik. Ia adalah anak Kutoarjo yang kemudian menjadi salah satu pelaku penting Revolusi Indonesia, terutama dalam sejarah Pertempuran Surabaya 1945, tetapi juga terlibat dalam kontroversi politik Madiun 1948. Karena itu, sejarah hidupnya perlu dikaji melalui perbandingan berbagai sumber, baik kesaksian pelaku maupun arsip dan penelitian sejarah lainnya.
Kutoarjo dan Memori Sejarah Soemarsono
Bagi Kutoarjo, Soemarsono merupakan bagian penting dari sejarah lokal yang memiliki hubungan langsung dengan sejarah nasional.
Kelahirannya di Kutoarjo memberikan kesempatan bagi masyarakat setempat untuk memperluas pemahaman mengenai sejarah daerahnya.
Kutoarjo bukan hanya tempat berlangsungnya peristiwa lokal. Kutoarjo juga menjadi tempat lahir seseorang yang kemudian terlibat dalam salah satu episode paling penting Revolusi Indonesia.
Karena itu, Soemarsono dapat ditempatkan dalam suatu rangkaian historiografis:
Kutoarjo → Soemarsono → pergerakan pemuda → Surabaya 1945 → Hari Pahlawan → Madiun 1948 → pengasingan → Australia.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bagaimana sejarah lokal dapat terhubung dengan sejarah nasional dan bahkan sejarah transnasional.
Penutup
Soemarsono adalah tokoh sejarah yang kompleks.
Ia adalah pemuda kelahiran Kutoarjo yang kemudian tampil sebagai salah satu tokoh penting pergerakan pemuda Surabaya pada 1945. Ia terlibat dalam mobilisasi rakyat dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan setelah Proklamasi.
Ia juga dikaitkan dengan gagasan memperingati 10 November sebagai Hari Pahlawan, sebuah peringatan nasional yang hingga kini tetap hidup dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia.
Namun perjalanan politiknya setelah 1945, terutama keterkaitannya dengan politik kiri dan Peristiwa Madiun 1948, menyebabkan namanya memperoleh posisi kontroversial dalam sejarah Indonesia.
Kontroversi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghapus fakta sejarah mengenai kontribusinya pada periode sebelumnya.
Sebaliknya, kontribusinya pada 1945 juga tidak boleh digunakan untuk menghapus kontroversi politik yang kemudian melekat dalam biografinya.
Karena itu, persoalan Soemarsono sebaiknya ditempatkan dalam kerangka rekonstruksi historiografi, bukan sekadar rehabilitasi politik.
Pertanyaan terpenting bukanlah apakah Soemarsono harus dipuja atau dicela, melainkan:
Apakah sejarah Indonesia telah mencatat seluruh pelaku Revolusi secara proporsional berdasarkan sumber???..
Jika jawabannya belum, maka penelitian mengenai Soemarsono perlu dilakukan kembali.
Bagi Kutoarjo, penelitian tersebut juga memiliki arti khusus. Seorang pemuda yang lahir di Kutoarjo ternyata pernah berada di tengah pusaran Revolusi Indonesia dan menjadi salah satu tokoh yang namanya berkaitan dengan lahirnya Hari Pahlawan.
Karena itu, Soemarsono layak dikembalikan ke dalam ruang penelitian sejarah—bukan melalui mitologisasi, melainkan melalui sumber, kritik, dan verifikasi.
Sejatininghidup02.blogspot.com
Catatan Kaki
-
Fadrik Aziz Firdausi, “In Memoriam Soemarsono: Tokoh Madiun 1948, Penggagas Hari Pahlawan,” Tirto.id, 8 Januari 2019. Sumber tersebut membahas posisi Soemarsono dalam Pertempuran Surabaya dan pengusulan Hari Pahlawan.
-
Abi Mu'ammar Dzikri, “Biografi Soemarsono Sang Pencetus Hari Pahlawan 10 November,” Tirto.id, 9 November 2022, diperbarui 2 Juli 2025. Artikel tersebut membahas Soemarsono sebagai tokoh yang selama beberapa waktu kurang mendapat tempat dalam historiografi populer mengenai Pertempuran Surabaya.
-
Bonnie Triana, “Bintang Perang Surabaya,” Historia, 7 November 2011, diperbarui 30 Juli 2025. Artikel tersebut menempatkan Soemarsono sebagai tokoh pemuda dalam Pertempuran Surabaya 1945.
-
Harsutejo, Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2010. Buku tersebut secara khusus merekonstruksi peranan Soemarsono dalam perjuangan rakyat Surabaya. Informasi mengenai penerbitan dan pembahasan buku dapat dilihat dalam laporan peluncurannya.
-
Anderson, Benedict R. O'G., Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944–1946. Ithaca: Cornell University Press, 1972. Karya ini penting untuk memahami konteks sosial-politik pemuda dan Revolusi Indonesia.
-
Hario Kecik, Pemikiran Militer 1: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Kesaksian Hario Kecik merupakan salah satu sumber yang digunakan dalam pembahasan mengenai tokoh-tokoh perjuangan Surabaya.
-
Harsutejo, Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan, 2010. Buku tersebut berupaya menempatkan kembali Soemarsono dalam sejarah perjuangan rakyat Surabaya.
-
“Orang Kiri di Perang Surabaya,” Detik, 8 November 2015. Artikel tersebut membahas posisi Soemarsono sebagai Ketua PRI dan perannya dalam mobilisasi pemuda Surabaya.
-
Firdausi, “In Memoriam Soemarsono: Tokoh Madiun 1948, Penggagas Hari Pahlawan.” Artikel tersebut mencatat keterangan bahwa usulan 10 November sebagai Hari Pahlawan dibawa Soemarsono dalam rapat BPKRI 4 Oktober 1946.
-
Dzikri, “Biografi Soemarsono Sang Pencetus Hari Pahlawan 10 November.” Artikel tersebut juga membahas hubungan Soemarsono dengan politik kiri dan dampaknya terhadap posisi Soemarsono dalam historiografi.
-
Soemarsono, Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah. Jakarta: Hasta Mitra, 2008. Karya kesaksian pelaku penting untuk digunakan sebagai sumber sejarah lisan/ego-document, tetapi tetap harus dikritik dan dibandingkan dengan sumber sezaman lainnya.
-
Harsutejo, Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2010. Buku tersebut menjadi salah satu karya utama yang berusaha merekonstruksi peranan Soemarsono dalam perlawanan rakyat Surabaya.
Daftar Pustaka
Anderson, Benedict R. O'G. Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944–1946. Ithaca: Cornell University Press, 1972.
Dzikri, Abi Mu'ammar. “Biografi Soemarsono Sang Pencetus Hari Pahlawan 10 November.” Tirto.id, 9 November 2022, diperbarui 2 Juli 2025.
Firdausi, Fadrik Aziz. “In Memoriam Soemarsono: Tokoh Madiun 1948, Penggagas Hari Pahlawan.” Tirto.id, 8 Januari 2019.
Harsutejo. Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2010.
Kecik, Hario. Pemikiran Militer 1: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Nasution, A.H. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia. Bandung: Angkasa.
Notosusanto, Nugroho. Pertempuran Surabaya. Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1985.
Soemarsono. Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah. Jakarta: Hasta Mitra, 2008.
Triana, Bonnie. “Bintang Perang Surabaya.” Historia, 7 November 2011, diperbarui 30 Juli 2025.
“Orang Kiri di Perang Surabaya.” Detik, 8 November 2015.
Catatan penelitian penting
Untuk menjadikan tulisan ini lebih kuat sebagai penelitian sejarah Kutoarjo, selain sudah kuat bahwa Soemarsono adalah kelahiran Kutoarjo menurut penuturan beliau sebagai pelaku sejarah, syukur ada tiga sumber primer yang menurut saya harus diburu berikutnya:
- Akta/registrasi kelahiran Soemarsono untuk memastikan tempat dan tanggal lahir—terutama karena pernah muncul perbedaan tanggal dalam sumber sekunder.
- Notulen BPKRI tanggal 4 Oktober 1946 untuk menguji Penuturan beliau dan klaim bahwa Soemarsono mengusulkan 10 November sebagai Hari Pahlawan.
- Dokumen/arsip PRI Surabaya 1945 untuk memperkuat posisi Soemarsono sebagai pemimpin organisasi dan pelaku Revolusi.
Kalau tiga bukti primer itu berhasil ditemukan, tesis artikel ini akan jauh lebih kuat: bukan sekadar “Soemarsono adalah tokoh yang terlupakan”, tetapi dapat dibuktikan secara dokumenter bagaimana seorang pemuda kelahiran Kutoarjo berperan dalam Revolusi 1945 dan dalam pembentukan memori nasional Hari Pahlawan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar