Powered By Blogger

Senin, 03 Agustus 2026

Pacuan Kuda Bagelen Tahun 1890: Pengakuan terhadap Pangeran Adipati Poerboatdmojo, Bupati Koetoardjo (1870–1915), sebagai Bupati Paling Senior di Karesidenan Bagelen Berdasarkan Berita De Bagelensche Wedrennen dalam De Nieuwe Vorstenlanden

 

Koran De Bagelensche Wedrennen yang dimuat dalam De Nieuwe Vorstenlanden No. 111, XXIe Jaargang, 1 Oktober 1890, yang mengutip Soerabaijasch Courant.

Pacuan Kuda Bagelen Tahun 1890: Pengakuan terhadap Pangeran Adipati Poerboatdmojo, Bupati Koetoardjo (1870–1915), sebagai Bupati Paling Senior di Karesidenan Bagelen Berdasarkan Berita De Bagelensche Wedrennen dalam De Nieuwe Vorstenlanden

Abstrak :
Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber utama penelitian berupa berita De Bagelensche Wedrennen yang dimuat dalam De Nieuwe Vorstenlanden No. 111, XXIe Jaargang, 1 Oktober 1890, yang mengutip Soerabaijasch Courant. Analisis dilakukan dengan membandingkan isi berita dengan data administrasi kolonial serta penelitian sejarah lokal mengenai Kabupaten Semawung (Koetoardjo).

Artikel ini mengkaji penyelenggaraan Pacuan Kuda Bagelen tahun 1890 berdasarkan berita berjudul De Bagelensche Wedrennen yang dimuat dalam De Nieuwe Vorstenlanden No. 111, XXIe Jaargang, 1 Oktober 1890, yang mengutip Soerabaijasch Courant. Sebagai sumber primer sezaman, berita tersebut memberikan gambaran mengenai rangkaian kegiatan yang meliputi pameran kuda, perlombaan pacuan, upacara penyerahan hadiah, pertunjukan sandiwara, permainan rakyat, pesta kostum, serta jamuan resmi yang dihadiri pejabat pemerintah kolonial dan elite pribumi.

Kajian ini menunjukkan bahwa Pacuan Kuda Bagelen bukan sekadar ajang olahraga, melainkan perhelatan resmi pemerintah kolonial yang berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan antara pejabat Eropa dan elite pribumi, sekaligus memperlihatkan struktur pemerintahan dan kehidupan sosial di Karesidenan Bagelen pada akhir abad ke-19. Berita tersebut juga memberikan perhatian khusus kepada Adipati Koetoardjo, Pangeran Adipati Poerboatmodjo, yang disebut sebagai bupati paling senior (den oudsten regent) dan mewakili para bupati dalam menjawab pidato Residen. Selain itu, kuda milik Bupati Koetoardjo digunakan dalam perlombaan kaum gentleman, Asisten Wedana Plandi dari Afdeling Koetoardjo meraih juara, serta tiga kepala desa dari wilayah Kabupaten Semawung (Koetoardjo), yaitu Goepit, Bedono Kloewoeng, dan Patoet Wetan, menjadi pemenang dalam Pacuan Kepala Desa.

Temuan ini memperkuat bukti bahwa Koetoardjo memiliki kedudukan politik, administratif, dan simbolik yang penting di lingkungan Karesidenan Bagelen pada masa kolonial. Di samping itu, berita tersebut menjadi sumber berharga bagi penelitian sejarah lokal karena memuat data mengenai pejabat, wilayah administrasi, serta nama-nama desa yang sebagian besar masih dapat diidentifikasi hingga sekarang. Oleh karena itu, De Bagelensche Wedrennen merupakan sumber primer yang penting untuk merekonstruksi sejarah pemerintahan, kehidupan sosial, dan prestise Kabupaten Semawung (Koetoardjo) pada penghujung abad ke-19.

PACUAN KUDA BAGELEN

De Nieuwe Vorstenlanden, No. 111, XXIe Jaargang, 1 Oktober 1890, halaman pertama, artikel "De Bagelensche Wedrennen". Keterangan: De Nieuwe Vorstenlanden, 1 Oktober 1890, "De Bagelensche Wedrennen", dikutip dari Soerabaijasch Courant.

Tulisan Belanda dalam koran De Nieuwe "Vorstenlanden, 1 Oktober 1890, "De Bagelensche Wedrennen" tertulis sebagai berikut :

"De Bagelensche Wedrennen. Den 24en September werden de 32 beste paarden uitgezocht voor de races en had de paardententoonstelling plaats. Na afloop van de tentoonstelling gingen de Jury en vele belangstellenden naar de tribune waar de prijzen werden uitgereikt. De Resident, tevens president van de commissie, hield een flinke toespraak in het Maleisch die door den oudsten regent, de Adipati van Koetoardjo, in het Javaansch werd beantwoord. 's Middags kwamen veel vreemden te Poerworedjo aan, waaronder de Residenten van Solo en Kedoe. In den vroegen morgen van den 26en kwamen de leden van de commissie in de Sociëteit bijeen om van daar naar het residentie-huis te gaan om den President af te halen. Op het terrein gekomen werd de baan rondgereden en namen daarna allen plaats op de tribune waar de President de openingsrede hield. Toen begonnen de wedrennen. a. 8 ritten van dessahoofden 4 aan 4. Kapala-beker. Winners: de dessahoofden van Tambeng, afdeeling [Poerworedjo]; Gesing Moetian (Keboemen); Goepit (Koeto-Ardjo); Karang Samboeng (Keboemen); Bedono Kloewoeng (Koeto-Ardjo); Patoet Wetan (Koeto-Ardjo); Tangoeng (Poerworedjo); en Renteng (Keboemen). b. gentlemen-race, waarbij mededingers de heeren Dom en Beijer. De eerste, gezeten op het paard van den Regent van Koetoardjo gaf den tweeden 150 m. vóór. De laatste was winner. c. Burnabij Lautier-beker. Eerste winner de Assistent-Wedono van Plandi, afdeeling Koetoardjo en tweede de Assistent-Wedono van Ngalian, afd. Keboemen. Na afloop der races groote reunie in de sociëteit waar het zeer gezellig toeging en 's avonds te 9 ure voorstelling van de tooneelvereeniging Oefening en Genoegen. Het opgevoerde blijspel „Schaakmat” is zeer goed gespeeld. Uitgemunt hebben de dames M. en W. en de heeren v. D. en K. De nieuwe coulissen maakten een goed effect. Den tweeden dag der races begonnen deze te 8 ure en liepen spoedig af. 's Middags te 4 ure hadden volksspelen plaats op de aloon-aloon en 's avonds te 9 ure had een zeer geanimeerd „Bal costumé” in de sociëteit plaats, waarop veel pret is gemaakt en dat tot in den vroegen morgen duurde. Voor de inlandsche hoofden was een feest georganiseerd in de woning van het districtshoofd. Alles is in zeer goede orde en op luisterrijke wijze geschied en een ieder draagt een aangename herinnering bij zich van de Bagelensche wedrennen in '90. (Soer. Ct.)"

Berikut terjemahan lengkap ke dalam bahasa Indonesia :

"Pacuan Kuda Bagelen

Pada 24 September, dipilih 32 ekor kuda terbaik untuk mengikuti perlombaan pacuan, dan pada hari itu juga diselenggarakan pameran kuda.

Setelah pameran berakhir, para anggota dewan juri beserta banyak pengunjung menuju tribun tempat hadiah-hadiah dibagikan. Residen, yang juga menjabat sebagai ketua panitia, menyampaikan pidato yang bersemangat dalam bahasa Melayu, kemudian dijawab dalam bahasa Jawa oleh bupati tertua, Adipati Koetoardjo.

Pada siang harinya, banyak tamu dari luar tiba di Purworejo, di antaranya Residen Solo dan Residen Kedu.

Pada pagi hari tanggal 26 September, para anggota panitia berkumpul di gedung Sociëteit. Dari sana mereka menuju rumah Residen untuk menjemput ketua panitia. Setelah tiba di arena perlombaan, lintasan pacuan terlebih dahulu diperiksa dengan berkeliling, kemudian semua peserta dan tamu mengambil tempat di tribun, tempat ketua panitia menyampaikan pidato pembukaan.

Sesudah itu perlombaan pacuan kuda pun dimulai.

a. Delapan pacuan antar kepala desa (Piala Kepala Desa)

Para pemenangnya adalah kepala-kepala desa dari:
Tambeng (Afdeling Purworejo);
Gesing Moetian (Kebumen);
Goepit (Koetoardjo);
Karang Sambung (Kebumen);
Bedono Kloewoeng (Koetoardjo);
Patoet Wetan (Koetoardjo);
Tangoeng (Purworejo); dan
Renteng (Kebumen).

b. Pacuan Kuda Kaum Gentleman

Pesertanya adalah Tuan Dom dan Tuan Beijer. Peserta pertama, yang menunggang kuda milik Bupati Koetoardjo, memberikan keunggulan awal sejauh 150 meter kepada lawannya. Meskipun demikian, peserta yang terakhir (Tuan Beijer) akhirnya tampil sebagai pemenang.

c. Piala Burnaby Lautier

Juara pertama diraih oleh Asisten Wedana Plandi dari Afdeling Koetoardjo, sedangkan juara kedua diraih oleh Asisten Wedana Ngalian dari Afdeling Kebumen.

Setelah seluruh perlombaan selesai, diadakan pertemuan besar di gedung Sociëteit yang berlangsung dengan sangat meriah. Pada pukul 9 malam diselenggarakan pertunjukan sandiwara oleh perkumpulan drama Oefening en Genoegen ("Latihan dan Kesenangan").

Lakon komedi berjudul "Schaakmat" (Skakmat) dimainkan dengan sangat baik.

Penampilan yang paling menonjol diperlihatkan oleh Nona M., Nona W., serta Tuan v. D. dan Tuan K. Latar panggung yang baru memberikan kesan yang sangat baik.

Pada hari kedua perlombaan, pacuan dimulai pukul 08.00 pagi dan seluruh rangkaian perlombaan berlangsung dengan lancar.

Pada pukul 16.00 diadakan berbagai permainan rakyat di alun-alun, sedangkan pada pukul 21.00 diselenggarakan bal kostum (Bal costumé) di gedung Sociëteit. Pesta tersebut berlangsung sangat meriah dan penuh kegembiraan hingga dini hari.

Bagi para kepala pribumi, juga diselenggarakan sebuah pesta di kediaman Kepala Distrik.

Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan tertib, megah, dan sukses, sehingga setiap orang membawa pulang kenangan yang menyenangkan mengenai Pacuan Kuda Bagelen tahun 1890.

(Sumber: Soerabaijasch Courant)."

Keterangan: Singkatan "Soer. Ct." merupakan kependekan dari Soerabaijasch Courant (atau Soerabayasche Courant pada ejaan tertentu), yaitu surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Surabaya. Singkatan semacam ini lazim dipakai surat kabar kolonial untuk menunjukkan sumber berita yang dikutip dari koran lain.

Kesimpulan : Berita "De Bagelensche Wedrennen" menunjukkan bahwa Pacuan Kuda Bagelen tahun 1890 bukan sekadar perlombaan olahraga, melainkan sebuah perhelatan resmi pemerintah kolonial yang mempertemukan pejabat Belanda, para bupati, kepala distrik, asisten wedana, kepala desa, dan masyarakat. Acara ini berlangsung selama beberapa hari dengan rangkaian kegiatan berupa pameran kuda, perlombaan pacuan, upacara penyerahan hadiah, pertunjukan sandiwara, permainan rakyat, pesta kostum, serta jamuan resmi.

Dalam berita tersebut, Adipati Koetoardjo yang tidak lain adalah Pangeran Adipati Poerboatdmojo menjabat Bupati Kutoarjo 1870 - 1915 memperoleh perhatian khusus. Ia disebut sebagai "den oudsten regent" (bupati tertua atau paling senior) dan dipercaya mewakili para bupati untuk memberikan jawaban atas pidato Residen. Selain itu, kuda milik Bupati Koetoardjo juga digunakan dalam perlombaan kaum gentleman, sedangkan Asisten Wedana Plandi dari Afdeling Koetoardjo berhasil menjadi juara pada salah satu nomor perlombaan.

Berita ini memiliki makna bahwa pada akhir abad ke-19, Koetoardjo merupakan salah satu pusat kekuasaan pribumi yang memiliki kedudukan terhormat di Karesidenan Bagelen. Pengakuan terhadap Adipati Koetoardjo (Adipati Poerboatdmojo) sebagai bupati tertua menunjukkan adanya penghormatan atas senioritas dan wibawanya di antara para bupati lainnya.

Di sisi lain, penyelenggaraan pacuan kuda memperlihatkan bagaimana pemerintah kolonial menggunakan kegiatan sosial dan olahraga sebagai sarana mempererat hubungan dengan elite pribumi. Acara tersebut menjadi ruang interaksi antara pejabat Eropa dan para pemimpin lokal dalam suasana yang lebih bersifat seremonial daripada administratif. Delapan pacuan antar kepala desa (Piala Kepala Desa) Para pemenangnya adalah kepala-kepala desa dari Regenchap/Kabupaten Kutoarjo, Yaitu Goepit (Kedung gupit) yang sekarang menjadi Desa Kalikotes, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo. Bedono Kloewoeng yang sekarang menjadi desa Bedono kluwung, kecamatan kemiri, Kabupaten Purworejo . Patoet Wetan yang sekarang menjadi Desa Patut Rejo kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo.

Nilai Sejarah :
  1. Sumber primer sezaman. Berita ini merupakan bukti langsung mengenai penyelenggaraan Pacuan Kuda Bagelen tahun 1890.
  2. Membuktikan kedudukan Adipati Koetoardjo. Penyebutan "den oudsten regent, de Adipati van Koetoardjo" merupakan bukti bahwa Bupati Koetoardjo diakui sebagai bupati paling senior di lingkungan Karesidenan Bagelen pada saat itu.
  3. Mencerminkan struktur pemerintahan kolonial. Berita memperlihatkan hubungan antara Residen, para bupati, kepala distrik, asisten wedana, dan kepala desa dalam sebuah kegiatan resmi.
  4. Menunjukkan peran Koetoardjo dalam kehidupan regional. Koetoardjo tidak hanya berperan sebagai wilayah administratif, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial, olahraga, dan pemerintahan di tingkat karesidenan.
  5. Menggambarkan kehidupan sosial masyarakat kolonial. Adanya pameran kuda, sandiwara, permainan rakyat, pesta kostum, dan jamuan resmi menunjukkan bahwa kegiatan pemerintahan sering dipadukan dengan hiburan dan pergaulan sosial.
  6. Memberikan data historis mengenai desa dan pejabat lokal. Berita ini mencatat nama-nama desa, afdeeling, serta pejabat seperti Asisten Wedana Plandi dan Ngalian, sehingga menjadi sumber penting untuk penelitian sejarah lokal Bagelen, Purworejo, Kebumen, dan khususnya Koetoardjo.

Signifikansi bagi sejarah Koetoardjo Bagi kajian sejarah Kabupaten Kutoarjo (Koetoardjo), berita ini memperkuat pemahaman bahwa pada tahun 1890 Koetoardjo memiliki posisi yang menonjol dalam struktur pemerintahan Karesidenan Bagelen. Pengakuan terhadap Adipati Koetoardjo sebagai bupati paling senior, keterlibatan pejabat-pejabat Koetoardjo dalam perlombaan, serta penggunaan kuda milik bupati dalam ajang bergengsi tersebut menunjukkan bahwa Koetoardjo memiliki prestise politik, sosial, dan simbolik yang tinggi di tingkat regional. Temuan ini menjadi bukti penting untuk merekonstruksi peran Koetoardjo dalam sejarah pemerintahan dan kehidupan masyarakat Bagelen pada akhir abad ke-19.

By. Ndandung Kumolo Adi 

Daftar Pustaka :
  1. Sumber Primer : De Nieuwe Vorstenlanden. 1890. "De Bagelensche Wedrennen." No. 111, XXIe Jaargang, 1 Oktober 1890, hlm. 1. Yogyakarta. (Artikel dikutip dari Soerabaijasch Courant). Soerabaijasch Courant. 1890. "De Bagelensche Wedrennen." Surabaya. (Sumber asli yang dikutip oleh De Nieuwe Vorstenlanden).
Sumber Pendukung :
  1. Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië. Berbagai edisi. Batavia: Landsdrukkerij.
  2. Koloniaal Verslag. Berbagai edisi. Batavia: Landsdrukkerij.
Baca juga : https://sejatininghidup02.blogspot.com/2026/07/pangeran-poerbo-atmodjo-sebagai.html

https://sejatininghidup02.blogspot.com/2020/05/pangeran-purboatmodjo-bupati-kutoarjo.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kutoarjo

Hotel Van Laar Berpindah Tangan: Penjualan Hotel Kolonial di Purworejo dalam Koran De Locomotief (25 Februari 1930)

Koran De Locomotief edisi Selasa, 25 Februari 1930, "Midden-Java-Pagina "  POERWOREDJO  Kunstkringnieuws. Hotel Van Laar.   Abstra...

Kutoarjo