Sumber-sumber primer merupakan fondasi penting dalam penulisan sejarah lokal. Salah satu di antaranya adalah surat kabar resmi pemerintah Kerajaan Belanda, Nederlandsche Staats-Courant, yang memuat berita mengenai wafatnya Raden Tumenggung Sawunggaling, Bupati Koeto-Ardjo (Kutoarjo), pada tahun 1851. Artikel ini mengulas isi pemberitaan tersebut sekaligus menunjukkan nilai historisnya sebagai bukti primer dalam merekonstruksi kronologi pemerintahan Kabupaten Kutoarjo pada pertengahan abad ke-19.
Dalam penelitian sejarah, surat kabar sezaman merupakan salah satu sumber primer yang memiliki nilai penting karena mencatat berbagai peristiwa pada masa terjadinya. Selain laporan pemerintahan, almanak, dan arsip kolonial, berita surat kabar juga sering memberikan informasi mengenai pengangkatan maupun wafatnya pejabat pemerintah Hindia Belanda.
Salah satu berita penting bagi sejarah Kutoarjo dimuat dalam Nederlandsche Staats-Courant No. 275, edisi 20 November 1851, halaman 3, pada rubrik "Batavia, 16 September." Di tengah laporan mengenai kondisi kesehatan masyarakat di Residensi Pekalongan, terdapat sebuah kalimat singkat yang menjadi informasi penting bagi sejarah pemerintahan Kutoarjo.
Berita Wafat Bupati Kutoarjo
Berita tersebut berbunyi:
"Op den 3den September 1851 is overleden de regent van Koeto-Ardjo, Radhen Toemenggoeng Sawoong Galing."
Terjemahan:
"Pada tanggal 3 September 1851 telah meninggal dunia Bupati Koeto-Ardjo (Kutoarjo), Raden Tumenggung Sawunggaling."
Walaupun hanya terdiri atas satu kalimat, informasi tersebut memiliki arti yang sangat penting karena secara tegas menyebutkan nama pejabat, jabatan, wilayah pemerintahan, serta tanggal wafatnya.
Konteks Berita, Kalimat mengenai wafatnya Raden Tumenggung Sawunggaling tidak berdiri sendiri, melainkan berada di antara laporan mengenai wabah demam di beberapa distrik Residensi Pekalongan, seperti Seragie Simbang, Soeba, Kalisalak, dan Keboemen. Laporan tersebut menyebutkan bahwa sejak 27 Juli hingga 16 Agustus 1851 sebanyak 2.236 orang terserang demam, dengan 39 orang meninggal dunia.
Dokter sipil yang menyusun laporan menyatakan bahwa penyebab penyakit diperkirakan berkaitan dengan kondisi wilayah yang rendah dan berawa, perubahan cuaca yang tidak menentu, serta penggunaan beras hasil panen baru secara berlebihan.
Setelah menyampaikan berita mengenai wafatnya Bupati Koeto-Ardjo, laporan kemudian berlanjut dengan pemberitaan mengenai wabah disentri dan demam di Distrik Blinjoe, Residensi Bangka.
Teks asli (Belanda) :
Batavia, 16 September.
In de districten Seragie Simbang, Soeba, Kalisalak en Keboemen, van de residentie Pekalongan, hebben zich in den laatsten tijd vele koortslijders vertoond.
Volgens rapport van den civielen geneesheer aldaar, zijn van 27 Julij tot 16 Augustus 1851, door de koorts aangetast 2236 individuen, van welke, tot heden, 39 waren overleden, 217 hersteld en 26 onder behandeling gebleven.
De bevolking had geen gebrek aan voedsel; de oorzaak der ziekte werd door den geneesheer gezocht in de lage moerassige ligging der streken, de ongewone afwisselende weersgesteldheid, en in het onmatig gebruik van pasgeoogsten rijst.
"Op den 3den September 1851 is overleden de regent van Koeto-Ardjo, radhen toemenggoeng Sawoong Galing."
In het district Blinjoe (residentie Banka) heerschten, in de maanden Julij en Augustus jl., op onderscheidene plaatsen hevige dysenteriën en koortsen, waaraan de lijders, meestal op den 8sten of 10den en soms reeds op den 2den of 3den dag, bezweken.
Er is geneeskundige hulp verstrekt, zoover het doenlijk was.
Volgens het berigt van den eerst onlangs gezonden officier van gezondheid, vertoonden de door hem waargenomen gevallen geene verschijnselen van cholera-morbus.
---
Terjemahan bahasa Indonesia
Batavia, 16 September.
Di distrik Seragi Simbang, Soeba, Kalisalak, dan Keboemen yang termasuk Residensi Pekalongan, dalam beberapa waktu terakhir muncul banyak penderita demam.
Menurut laporan dokter sipil setempat, sejak 27 Juli hingga 16 Agustus 1851, sebanyak 2.236 orang terserang demam. Dari jumlah tersebut, hingga saat laporan dibuat, 39 orang meninggal dunia, 217 orang telah sembuh, dan 26 orang masih menjalani perawatan.
Penduduk tidak mengalami kekurangan bahan makanan. Menurut dokter tersebut, penyebab penyakit diperkirakan berasal dari kondisi wilayah yang rendah dan berawa, perubahan cuaca yang tidak menentu, serta konsumsi beras hasil panen baru secara berlebihan.
"Pada tanggal 3 September 1851 telah meninggal dunia Bupati Koeto-Ardjo (Kutoarjo), Raden Tumenggung Sawunggaling."
Di Distrik Blinjoe (Residensi Bangka), selama bulan Juli dan Agustus yang lalu, di berbagai tempat terjadi wabah disentri dan demam yang berat. Para penderitanya umumnya meninggal pada hari ke-8 atau ke-10, bahkan ada yang wafat pada hari ke-2 atau ke-3 setelah terserang penyakit.
Bantuan medis telah diberikan sejauh keadaan memungkinkan.
Menurut laporan petugas kesehatan yang baru saja dikirim ke daerah tersebut, kasus-kasus yang diamatinya tidak menunjukkan gejala kolera (cholera morbus).
Nilai Historis, Bagi sejarah Kutoarjo, berita ini mempunyai arti penting karena merupakan sumber primer yang secara eksplisit menyatakan bahwa Raden Tumenggung Sawunggaling wafat pada 3 September 1851. Informasi tersebut melengkapi data yang selama ini diperoleh dari Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië, arsip pemerintahan kolonial, serta sumber-sumber sezaman lainnya.
Sebagai surat kabar resmi pemerintah Kerajaan Belanda, Nederlandsche Staats-Courant memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi sehingga layak dijadikan rujukan dalam penyusunan kronologi pemerintahan Kabupaten Kutoarjo pada abad ke-19.
Penemuan berita ini memperlihatkan bahwa surat kabar kolonial tidak hanya berisi laporan politik dan ekonomi, tetapi juga menyimpan informasi penting mengenai sejarah pemerintahan daerah di Hindia Belanda. Berita singkat mengenai wafatnya Raden Tumenggung Sawunggaling menjadi bukti bahwa penelitian sejarah lokal akan semakin kuat apabila didukung oleh sumber-sumber primer yang sezaman.
Dengan demikian setelah wafatnya Bupati Kutoarjo Raden Tumenggung Sawunggaling 3 September Tahun 1851, Maka Pejabat Bupati Kutoarjo kosong selama 6 tahun dari tahun 1852 - 1857 dan ini terkonfirmasi, dan terverifikasi dengan Sumber Primer sezaman yaitu Almanak en Naam Register van Nederlandsch Indie voor 1851 sampai dengan Almanak en Naam Register van Nederlandsch Indie voor 1857.
Berdasarkan Almanak en Naam Register tahun 1852–1857, nama Bupati Koeto-Ardjo tidak tercantum. Berdasarkan bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa jabatan Bupati Koeto-Ardjo(Kutoarjo) jelas mengalami kekosongan atau belum diisi secara definitif selama periode tersebut.
Baru di tahun 1858 Pejabat Bupati Kutoarjo yang tertulis dalam Almanak en Naam Register van Nederlandsch Indie voor 1858 adalah Raden Tumenggung Ario Soerokoesomo.
Yang menurut sumber geneologis, sumber silsilah dari generasi ke generasi dan tutur, Atau Menurut tradisi genealogi keluarga dan silsilah yang diwariskan antargenerasi, Raden Tumenggung Ario Soerokoesomo adalah Menantu dari Almarhum Raden Tumenggung Sawunggaling.
Setelah wafatnya Raden Tumenggung Sawunggaling maka Pribumi lokal wilayah Kutoarjo dan sekitarnya sekaligus trah Adipati Pragola Pati berhenti menjadi Bupati Kutoarjo.
Raden Tumenggung Ario Soerokoesomo juga menjadi Bupati Kutoarjo sampai 3 tahun ini bisa dilihat di Almanak en Naam Register van Nederlandsch Indie voor 1858 - 1860. Dan di Almanak en Naam Register van Nederlandsch Indie voor 1861 Pejabat Bupatinya tercantum Raden Tumenggung Pringgo atdmodjo.
Menyebutkan Nama Bupati Kutoarjo yaitu Raden Toemenggoeng Ario Soerokoesomo dan Raden Toemenggoeng Sawunggaling https://sejatininghidup02.blogspot.com/2026/07/sumber-koran-het-soerabaiasch.html
Dengan demikian, Nederlandsche Staats-Courant No. 275 tanggal 20 November 1851 dapat dijadikan salah satu rujukan utama untuk memastikan kronologi wafat Raden Tumenggung Sawunggaling, Bupati Koeto-Ardjo (Kutoarjo), pada 3 September 1851.
Almanak en Naam Register van Nederlandsch Indie voor 1856. Pejabat Bupati Kutoarjo kosong
Almanak en Naam Register van Nederlandsch Indie voor 1855. Jabatan Bupati Kutoarjo kosong
Almanak en Naam Register van Nederlandsch Indie voor 1851, Pejabat Bupati Kutoarjo Raden Tumenggung Sawunggaling, tahun 1851 bertepatan dengan wafat/tutup usia beliau sesuai yang diberitakan Koran Nederlandsche Staats-Courant. No. 275. Kamis, 20 November 1851, hlm. 3, rubrik "Batavia, 16 September."
Sejatininghidup02.blogspot.com
1. Koran Nederlandsche Staats-Courant. No. 275. Kamis, 20 November 1851, hlm. 3, rubrik "Batavia, 16 September."











Tidak ada komentar:
Posting Komentar