Powered By Blogger

Senin, 08 Juni 2020

WAYANG RINGGIT PURWO GAYA KALIGESINGAN DAN PACORAN BAGELENAN (Pacor-Kutoarjo dan Kaligesing-Purworejo)


Foto.  Dalang Ki Kartoguno alias Ki Darmo sentiko Alias Mbah Gethuk Desa pacor, Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah bin Ki Tirtosono. Mbah Gethuk kelahiran tahun 1876, wafat tahun 1976*

            Banyak orang yang tidak tahu kalau Kabupaten Purworejo yang dulu masuk karesidenan Bagelen dan Ibukota Karesidenan Bagelen sekaligus kantor Residen Bagelen ada di Purworejo.

Kabupaten Purworejo sebagai pusat pemerintahan karesidenan bagelen dimana kantor eks Residen Karesidenan bagelen sekarang digunakan sebagai Kantor Bupati Purworejo, Kabupaten Purworejo adalah wilayah Karesidenan Bagelen sebelah Timur yang punya gaya Style gagrag Ringgit Purwo sendiri yang terkenal dengan gaya Gagrak Kaligesingan yang Diciptakan dan dirintis oleh generasi pertama dalang Ki Warsoguno desa kaligono, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.

Ki Warsoguno Belajar membuat Ringgit Purwo dengan tehnik seni tatah dan sungging dengan Dalang Ki Gondo Grumbung dari Loano, eyang Gondo Grumbung adalah Abdi dalem Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Di Era Hamengkubuwono V, dengan adanya kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itu menandakan era itu setelah perjanjian Giyanti.
Menurut Penuturan Ki Sutarko Hadiwacono Katerban, Eyang Gondo Grumbung berasal Dari Imogiri Bantul Yogyakarta yang lalu menetap Di Loano, yang sekarang Loano menjadi wilayah Kecamatan di Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa tengah.

Setelah Mbah Warsoguno belajar membuat wayang dengan tehnik seni tatah dan sungging dengan eyang Gondo Grumbung, lalu Ki warsoguno membuat Ringgit Purwo sendiri serta menciptakan gaya style ciptaan beliau sendiri yang dikenal dengan Style Gaya Gagrak Kaligesingan.

Wayang kulit dalam bahasa Jawa disebut Ringgit.
Ringgit Purwo atau wayang kulit purwa. Kata Purwa (pertama) dipakai untuk membedakan wayang jenis ini dengan wayang kulit yang lainnya. Banyak jenis wayang kulit mulai dari wayang wahyu, wayang sadat, wayang gedhog, wayang kancil, wayang pancasila dan sebagainya. Purwa berarti awal, wayang purwa diperkirakan mempunyai umur yang paling tua di antara wayang kulit lainnya. Kemungkinan mengenai berita adanya wayang kulit purwa dapat dilihat dari adanya Prasasti di abad ke 11 pada zaman pemerintahan Erlangga yang menyebutkan:
"Hanonton Ringgit manangis asekel muda hidepan, huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap"

yang artinya:
"Ada orang melihat wayang menangis, kagum, serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara"

Seni tatah dan sungging wayang Gaya Desa kaligono, Kaligesing (Kaligesingan, Kabupaten Purworejo) Bagelen ciptaan Mbah Warsoguno lalu dilanjutkan saudara nya yang ada di Eks Kabupaten Kutoarjo yaitu dalang Mbah Gethuk alias Ki Darmo Sentiko Alias Ki Kartoguno yang masyarakat menyebutnya Mbah Gethuk yang masa hidupnya tinggal di Desa Pacor kutoarjo, saat era itu sebelumTahun 1934 Kutoarjo adalah Kabupaten tersendiri.
Hubungan Kekerabatan Mbah Gethuk/Mbah Darmo Sentiko/Ki Kartoguno dengan Mbah Warsoguno yaitu Mbah Warsoguno adalah Paman Mertua dari Mbah Gethok.
Sejarah nya Mbah Ki Darmo Sentiko yang tinggal di desa Pacor, kutoarjo punya mertua seorang dalang dari tuk songo (Purworejo), dan mertuanya ini punya adik perempuan yang menikah dengan dalang Ki Warsoguno dari desa Kaligono, Kaligesing.

Jadi kesimpulannya Ki Warsoguno Karyo kaligono Kaligesing adalah Paman Mertuanya Mbah Ki Darmo Sentiko Desa Pacor, Kutoarjo, Yang setelah Tahun 1934 Kabupaten Kutoarjo digabungkan dengan kabupaten Purworejo, dan Kutoarjo status nya menjadi setingkat Kawedanan, di era Presiden Gusdur Kawedanan dihapus dan kutoarjo turun status dari kawedanan menjadi kecamatan. 
Sekarang Desa Pacor ada di Kecamatan kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.
Ki Warsoguno Karyo dari desa kaligono, Kaligesing Punya Istri Dua tapi tidak dikaruniai keturunan.

Foto. Makam Dalang Ki Warsoguno Karyo sekaligus merangkap pembuat dan pengrajin seni tatah juga sunggingan Gagrak Wayang Ringgit Purwo, beliau pencipta Gaya (Style) Gagrak Kaligesingan, Purworejo (bagelenan). Makam beliau ada di desa kaligono, kecamatan Kaligesing, Kabupaten purworejo, Propinsi Jawa Tengah.

Di Kabupaten Purworejo masyarakat hanya mengenal wayang gaya gagrak Yogyakarta dan wayang gaya gagrak Solo, atau pun wayang gaya gagrak Yogyakarta yang di bawa oleh Ki Timbul Hadiprayitno dan Ki Hadi Sugito, Ki Timbul adalah dalang kelahiran Jenar Purwodadi, Purworejo.

Foto contoh atau Sempel gaya gagrak kaligesingan yasan/buatan, tatahan, sunggingan mbah Ki Warsoguna Karyo Atau yasan Ki Warsoguno Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. 
babaran atau bertahun 1856*

Ringgit Purwo Yasan/Buatan Ki warsoguno dan Mbah Ki Darmo Sentiko berbahan dari kulit kebo bule dan sungu/tanduk kerbau bule dengan ciri khas warnanya coklat dan hitam. 
Kebo bule mempunyai papit/gapit warna putih.
Kalau tidak ada kerbau bule bisa dengan kulit kebo gudik/gudiken karena kulitnya kering.
tetapi menurut penuturan Mas Parikesit wayang kulit buatan mbah gethuk terkenal dengan gaya gagrak pacoran kutoarjo karena konon memiliki sedikit sekali perbedaan dengan wayang kulit gaya kaligono kaligesingan.

Berikut sejarah dan silsilah Mbah Gethuk alias dalang Ki Darmo sentiko yang nama kecilnya bernama Ki Kartoguno diawali dari kakek(Simbah) Buyutnya yang bernama Hardi Wijoyo alias Ki Redi Wijoyo alias Ki Redi bethitit Dalang dari Mataram, jadi Mbah Gethok adalah cicit alias buyut dari Mbah Redi Bethithit :

Mbah Redi Bethitit Sumare Ing Tepus adalah seorang Dalang yang asal-usulnya dari Mataram yang bernama Ki Dalang Hardi Wijoyo atau Redi Wijoyo tinggal di desa Wonoroto Ngombol, Dalang ini cukup terkenal di daerah Bagelen terutama di Purworejo dan Semawung (Kutoarjo) yang saat itu menjadi Kabupaten sendiri-sendiri.
Menurut Cerita rakyat, Ki Dalang Redi Wijoyo alias Ki Hardi Wijoyo, mendengar sayembara dari Bupati Semawung (Kutoarjo) yaitu Bupati Tumenggung Bantjik Kertonegoro Sawunggaling I, dan beliau berminat untuk mengikutinya dengan tujuan untuk menolong penduduk yang ketakutan karena ular raksasa yang ganas dan besar.

Ringgit Purwa Gaya Kaligesingan, Werkudara buatan yasan/buatan Mbah Gethok alias Ki Darmo Sentiko alias Ki Kartoguno, Desa Pacor : babaran tahun 1904*

Kemudian Ki Dalang Hardi Wijoyo menghadap Kanjeng Adipati Tumenggung Bantjik Kertonegoro Sawunggaling I untuk mengikuti sayembara dan mohon ditunjukkan tempat ular besar ganas itu berada, sang Adipati menyetujuinya dan diperintahkan seorang punggawa untuk mengantar ke tempat ular tersebut.
Setelah itu Ki Dalang mempersiapkan dirinya, dia memutuskan berjuang seorang diri, dengan memohon kepada Allah SWT secara batiniah dan secara lahiriah beliau ikhtiar mencari akal, bagaimana caranya melumpuhkan ular itu tanpa membahayakan dirinya sendiri.

            Teringatalah beliau saat berada di Mataram, di alun-alun Mataram sering diadakan acara Ramdogan macan yaitu pertunjukkan mengalahkan Harimau oleh para Ksatria Mataram. 
Harimau yang ganas dan kelaparan dibawa dalam sebuah kerangkeng yang disebut grogol, selama harimau ada dalam Grogol itu maka para penonton aman.
Maka Ki Dalang membuat grogol berbentuk sangkar seorang diri, kemudian setelah jadi di bawa ke tempat dimana ular ganas itu merajalela, dibawanya pula seekor kambing dan sebuah golok panjang untuk senjata melawan ular itu, kambing sebagai umpan ular ganas di ikatnya kambing itu di luar dekat grogol agar memudahkan Ki Dalang mengayunkan goloknya ke tubuh ular besar. Dengan bersenjatakan golok Ki Dalang masuk kedalam grogol dan menunggu ular tersebut datang.

            setelah beberapa waktu lamanya akhirnya ular tersebut datang, mengerikan dengan tubuh raksasa besar sekali dan panjang ular tersebut mendekati mangsannya yaitu kambing umpanan milik Ki Dalang, embikkan si kambing yang ketakutan menambah nafsu ular itu untuk segera menyerang, membelit dan melahanpnya, tapi tanpa di sadari sebilah Golok milik Ki Dalang telah siap membacok ular itu.
Dengan mulut lebar ular itu mencaplok kambing, dan disaat itu golok Ki Dalang di bacokkan ke kepala ular, ular kemudian marah dan kesakitan lalu grogol dibelitnya dengan kuat, namun Ki Dalang tetap aman. Dari dalam Grogol Ki Dalang terus menghujani ular itu dengan bacokan goloknya bertubi-tubi, darah bersimbah si ular pun bermandikan darahnya sendiri hingga lemas dan mati.
Orang-orang yang sembunyi melihat pertarungan Ki Dalang melawan ular raksasa besar itu akhirnya keluar dari persembunyian dan bersorak gembira, mereka berlari menghampiri grogol dan mengeluarkan Ki Dalang dari dalam grogol.

Ki Dalang Hardi Wijoyo dijunjung dan diarak menuju Kabupaten untuk dihadapkan kepada Adipati Semawung yaitu Tumenggung Bantjik Kertonegoro Sawunggaling I, sebagian lagi orang menggotong bangkai ular raksasa.
sepanjang jalan menuju Kabupaten,  masyarakat menyambut dengan sorak sorai dan riuh gembira.
Adipati Semawung, Tumenggung Bantjik Kertonegoro Sawunggaling I melaksanakan janjinya, beliau bersama sentana Kabupaten membawanya ke suatu daerah di utara Gunung Sinalangan yang sekarang disebut Gunung Tugel, disana Ki Dalang diperintahkan untuk “Ngembor” sekuat dan sekeras mungkin kemudian beberapa orang berdiri berurutan sampai kira-kira mereka dapat mendengar teriakan Ki Dalang yang paling jauh.
Orang yang paling jauh mendengar teriakan ( gemboran ) Ki Dalang untuk memasang patok tanda, maka tanah dari berdirinya Ki Dalang untuk berteriak atau gembor sampai patokan terakhir adalah milik Ki Dalang Hardi Wijoyo. Daerah itu disebut daerah Gembor sekarang masuk Desa Wirun Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah.
Sedangkan Ki Dalang bertempat tinggal di Desa Tepus Wetan, setelah wafat di makamkan Di Desa Tepus Wetan, Desa Tepus wetan sekarang masuk Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah. 
Setelah kejadian tersebut beliau terkenal dengan sebutan Redi Wijoyo atau “Mbah Redi Bethithit”.

Beliau yang menurunkan dalang-dalang di daerah Kutoarjo dan sekitarnya, sampai sekarang makamnya banyak diziarahi para Dalang dari mana saja.
Salah satu keturunan Ki Hardi Wijoyo adalah Dalang Ki Sutarko Hadiwacono dari kelurahan Katerban, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah.

Foto. Ki Putut Danardono bin Ki Sutarko Hadiwacono

Berikut nasab atau sorosilah Ki Redi Bethithit alias Ki Hardi Wijoyo alias Ki Redi Wijoyo Seorang Dalang dari Mataram

Ki Redi Wijoyo/Ki Redi Bethitit/Ki Hardi Wijoyo 
(Sumare ing Tepus Wetan, Kutoarjo)
              I
Ki Toguno/Ki Guno Perwito 
( Sumare Ing Wonoroto, Ngombol)
              I
Ki Tirtosono 
( Sumare ing desa Katerban, kutoarjo)
              I
Ki Kartoguno/Ki Gethuk/Ki Darmo Sentiko kelahiran tahun 1876, wafat tahun 1976
( Sumare ing Dewi, Bayan)
              I
Ki Darto Crito Karmoyo 
(Sumare ing desa Katerban, kutoarjo)
              I
Ki Sutarko Hadiwacono
              I
Ki Putut Danardono / Ki Parikesit

Foto keluarga Ki Gethok/Ki Kartoguno/Ki Darmo Sentiko

Makam Putra Mbah Gethuk sekaligus Dalang Wayang kulit juga penyungging penatah Wayang kulit di Kelurahan Katerban, Kutoarjo. Yang Bernama Ki Sidharto Citro Karmoyo.
Lahir Tahun 1921, wafat 20 Februari 1998 dalam usia 77 tahun


Ki Sidharto atau Mbah Sidharto adalah Putra Pertama salah satu Generasi pertama perintis Wayang kulit gaya Kaligesing yaitu Alm. Mbah Gethuk alias Ki Kartoguno.
Mbah Gethuk punya putra pertama saat usia 45 Tahun.

Mbah gethuk kelahiran tepus tahun 1876 dan wafat 1976 dalam usia 100 tahun, Sumare di Dewi Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Karena akhir Masa Tuanya dan hayatnya ikut salah satu putranya dari istri ketiganya yang bernama Ki Partono. 
Ki Partono sendiri dilahirkan oleh istri ketiga Mbah Gethuk di Katerban Tanggal 8 Januari 1944. Semenjak tulisan ini ditulis, usia Mbah Partono mendekati kepala delapan (8). Semoga Sehat selalu, panjang umur, dan semangat melestarikan ringgit kaligesingan dan pacoran.
Desa Dewi adalah tempat tinggal Bulik/Bibi kandung Mbah Gehuk, yang bernama Bulik Suyem (Mbah Suyem) Binti Ki Toguno. 
Mbah Suyem Punya Suami yang bernama Simbah Setrodikoro yang menjabat Lurah desa Dewi.
Yang berarti Mbah suyem adalah adik dari Romo/Bapak-nya Mbah Gethuk yang bernama Ki Tirtosono Bin Ki Toguno Bin Redi Betitit.
Dari Pernikahan Mbah Suyem dan Mbah Setrodikoro Lurah Dewi, melahirkan salah satu putra yang bernama Mbah Mangun Tinoyo.
Simbah Mangun Tinoyo Bin Setrodikoro mempunyai Putri yang bernama Mbah Jebrik. dan Mbah Jebrik diper-istri Mbah Gethuk.
yang bermakna Mbah Gethuk Menikahi cucu buliknya.
 
Foto. Ki partono bersama Makam Ramanipun/Ayahahndanya yaitu Ki Darmo Sentiko alias Ki Kartoguno alias Mbah Gethuk. Di TPU Desa Dewi, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo.

Dari tiga (3) Istri, Mbah Gethok berputra :
1. Sidarto
2. Sunarko
3. Sudarti
4. Partono
5. Dewoto
6. Dewati

Alm. Ki Sidharto Citro Karmoyo dengan istri pertama berputra :
1. Alm. Ki Sidargo
2. Ki Sutako Hadiwacono

Setelah istri pertama wafat, Ki Sidharto Citro Karmoyo dalam usia sekitar 68 tahunan menikah kembali dan berputra :
1. Wasi Handono isworo kelahiran Tahun 1986
2. Handani Widodoningrum
3. Kirono kasih
4. Niken anggraeni
Foto.     Almahrum Ki Sidharto Citro Karmoyo Putra Sulung/pertama Mbah Gethuk dari istri pertama, di dalam foto mbh dharto lagi mendalang
 
    Foto. Mbah Partono salah satu putra Mbah Gethuk dari istri ketiga  yang tinggal di desa Dewi Kecamatan Bayan
 

 
Foto. Perbedaan Ringgit Purwo Tokoh wayang Dursasana Gaya gagrak Bagelen Kaligesingan dan gaya gagrak bagelen pacoran  Sunggingan dan tatahan Yasan Ki Warsaguna Karyo Desa kaligono, kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo dengan sunggingan dan tatahan Yasan Ki Darmo Sentiko/Ki Kartaguna Desa Pacor Kecamatan kutoarjo, Kabupaten Purworejo.

            Demikian tulisan sederhana dan susunan Sorosilah atau silsilah yang sedikit berbasic pada Antropologi, Sains history, Historiografi, dan Sosiologi yang bersumber dari data-data dan sumber-sumber primer dan sekunder juga Empiris dan berhasil saya kumpulkan informasinya secara konkret juga bisa di observasi, ditulis, dan diukur baik melalui metode kuantitatif maupun kualitatif serta dapat diverifikasi kebenarannya secara obyektif juga kredibel sehinga informasinya benar-benar obyektif, sahih, terverifikasi, serta terkonfirmas juga terkoneksi antara satu sama lainnya juga dengan data lainnya. tulisan sederhana yang ilmiah ini semoga bermanfaat untuk Memperkaya Perspektif, Memperkaya wawasan, Memperkuat Literasi/budaya membaca, Melestarikan Ringgit Purwo gaya pacoran dan kaligesingan, mencintai budaya lokal daerah, menyatukan balung pisah, agar kita bisa memaknai hidup, memahami sejarah simbah-simbahnya dalam surviving(bertahan hidup), memahami akar rumputnya, memahami asal-usulnya, mempunyai rasa tawaduk kepada generasi tua,  mempunyai kemanusiaan, mempunyai adab, mempunyai sopan-santun, mempunyai tata krama, mempunyai andhap-asor, mempunyai rasa terimakasih kepada generasi tua, akhirnya hasilnya bisa memberikan doa kepada generasi tua, mengisi hidup ini dengan hal-hal yang positif, punya semangat hidup, punya gairah hidup, dan tidak kepaten obor, juga informasi tentang nilai-nilai, prinsip-prinsip termasuk budaya dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Terimakasih Kepada Nara sumber dan ahli waris serta saksi sejarah dari Mbah Gethuk dan Mbah Darto yang mau saya wawancarai, intrograsi, investigasi, dan verifikasi.

 Foto. Ki Partono Bin Kartoguno (Mbah Gethuk) bersama Saya, dan Ringgit Purwo hasil karya beliau, serta keris Pusaka peninggalan Mbah Gethuk.
Foto diambil di teras Rumah beliau, Desa Dewi

    Sebagai generasi yang hidup di Era Modern serba digital dan Era Disrupsi, Era generasi Strobery maka sangat Penting menyampaikan Pelestarian Budaya, Edukasi Budaya, Pengenalan dan Promosi Budaya, Pengetahuan dan pelajaran Sejarah, Nilai-nilai Budaya, Legacy Ajaran-ajaran norma-norma/wewaler dari leluhur, falsafah Ahlak Budipekerti dari Leluhur, Bahasa Daerah, Budaya asli daerah, karena itu adalah sebuah Bentuk Tanggung Jawab Sosial dan Kesadaran Kita. Kalau tidak maka akan hilang tergerus arus zaman. Perkembangan teknologi dan komunikasi, serta digitalisasi, termasuk AI (Articial Intelligence) dari awal sudah di prediksi akan membuat perubahan besar sekali yang drastis dan dramatis, perubahan tersebut mampu membuat lupa dan memutuskan zaman sekarang dan periode sebelumnya serta menggantikan sistem lama dan tatanan lama dengan sistem dan tatanan baru yang canggih, Belum Life Style atau gaya hidupnya. Akhirnya Memori Kolegtif dan Kesadaran Kolegtif Manusia bisa lupa bahkan hilang termasuk Identitas, kearifan lokal, akar rumput, Seni budaya, dan Budaya ke-timuran yang berlandaskan hati nurani dan kemanusian seperti gotong royong, sambatan, rewang, adab sopan santun, adab tutur kata, tepo seliro dsbnya.

Dimana setelah di analisa dari beberapa Sempel dan contoh generasi dari Pancer Simbah Ki Redhi Betitit sudah di generasi ke-7 alias Simbah Udheg-udheg

Berikut ini contoh sempel silsilah kekerabatan sampai dengan generasi ke-11 :

  1. Anak. (Ki Putut dardono)
  2. Bapak/Ibu. ( Ki Sutarko Hadiwacono)
  3. Simbah. (Ki Darto Karmoyo)
  4. Buyut. (Ki Kartoguno/Mbah Gethuk)
  5. Canggah. (Ki Toguno)
  6. Wareng. ( Ki Toguno)
  7. Udheg-Udheg. (Ki Redhi Betitit)
  8. Gantung Siwur.
  9. Gropak Sente.
  10. Debog Bosok.
  11. Galih Asem.
     Akhir kata bila ada kesalahan baik tulisan, ucapan, perbuatan, juga kata-kata yang tidak berkenan, saya memohon maaf sebesar-besarnya, serta mohon petunjuk, arahannya, juga saran dan kritiknya yang konstruktif dan membangun.  
    Semoga kita semua selalu dalam lindungan Alloh SWT,  Selalu diberikan nikmat kesehatan, umur yang panjang, diberikan keberuntungan, diberikan rezeki berupa kekuatan, keselamatam, kesehatan dan berupa materi pundi-pundi rupiah untuk ibadah... Aamiin... Aamiin.. Yaa Robbal Al-Amin.

Kutoarjo, 08 Juni 2020
Penulis : Ndandung Kumolo Adi
Email   : ndandungkumala@gmail.com
Nomor whatsaap : 0888-0391-6811 
Alamat : Perumahan Argopeni, Gang Bromo, No. 16, RT. 06, RW. 05, Kelurahan Kutoarjo, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah 54212

Sumber Referensi :
  1. Nara sumber ahli waris
  2. Ki Putut Danardono Bin Ki Sutarko Hadiwacono Bin Ki Sidharto Citro Karmoyo Bin Ki Kartoguno Bin Ki Tirtosono Bin Ki Toguno/Ki Guno Perwito
  3. Ki Parikesit Bin Ki Sutarko Hadiwacono Bin Ki Sidharto Citro Karmoyo Bin Ki Kartoguno Bin Ki Tirtosono Bin Ki Toguno/Ki Guno Perwito
  4. Ki Partono Bin Mbah Gethuk/Ki Kartoguno Bin Ki Tirtosono Bin Ki Toguno/Ki Guno Perwito
  5. Ki Dewoto Bin Mbah Gethuk/Ki Kartoguno Bin Ki Tirtosono Bin Ki Toguno/Ki Guno Perwito
  6. Wasi Handoyo Isworo Bin Ki Sidharto Citro Karmoyo Bin Ki Kartoguno Bin Ki Tirtosono Bin Ki Toguno/Ki Guno Perwito
  7. Cerita Rakyat Mbah Redi Betitit dan Padukuhan Gembor (wirun)

1 komentar:

Kutoarjo

Pawai pelajar Kutoarjo 19 Oktober 1949, sebagai Demo Pelajar Perdana setelah Agresi Militer Belanda II menjadi salah satu elemen penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia.

  PELAJAR KUTOARJO MELAKUKAN DEMO PERDANA BAGI INDONESIA   Foto. Demo pelajar pertama pasca Agresi Militer 2 guna memberi semangat juang Ten...

Kutoarjo