Kyai Adipati Gagak Pranolo II : Bupati Ketanggungan, Panglima Perang Diponegoro, dan Ulama Hafiz Al-Qur'an
Sejatininghidup02.blogspot.com
Abstrak :
Artikel ini membahas sejarah Kyai Adipati Gagak Pranolo II, seorang Bupati Ketanggung (Tanggung) pada masa Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang kemudian bergabung dalam perjuangan Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa (1825–1830). Dalam perjuangan tersebut, beliau dikenal dengan gelar Basah Purwonegoro dan dipercaya sebagai salah satu panglima perang di wilayah Bagelen bagian timur yang memimpin perlawanan terhadap pasukan Hindia Belanda beserta sekutunya. Selain sebagai pemimpin pemerintahan dan panglima perang, tradisi keluarga serta sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa beliau merupakan seorang ulama yang hafiz Al-Qur'an dan menjadi leluhur sejumlah tokoh ulama di Purworejo.
Artikel ini mengulas riwayat hidup, perjuangan, silsilah keturunan, peninggalan sejarah, serta hubungan kekerabatan Kyai Adipati Gagak Pranolo II berdasarkan berbagai sumber, antara lain arsip kolonial Hindia Belanda, karya P.H. van Louw dan E.S. de Klerck (De Java-Oorlog van 1825–1830), kajian Peter Carey, wawancara dengan ahli waris, data silsilah keluarga, serta observasi terhadap situs-situs sejarah yang berkaitan dengan beliau. Pembahasan juga menyoroti proses penangkapan Basah Purwonegoro pada tahun 1828 dan dampaknya terhadap dinamika Perang Diponegoro di wilayah Bagelen.
Melalui kajian ini diharapkan masyarakat, akademisi, mahasiswa, peneliti, pemerintah, pemerhati sejarah, serta generasi muda dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran Kyai Adipati Gagak Pranolo II dalam sejarah lokal Purworejo, Bagelen, dan Perang Diponegoro. Artikel ini diharapkan menjadi salah satu referensi dalam upaya pelestarian sejarah, penguatan identitas lokal, serta pengembangan kajian mengenai tokoh-tokoh pejuang dan ulama di wilayah Bagelen berdasarkan sumber-sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kyai Adipati Gagak Pranolo II seorang Bupati sekaligus ulama yang hafidz Qur'an.
Kyai Adipati Gagak Pranolo II adalah kentol bagelen bagian timur seorang Bupati tanggung wilayah kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang mendukung, mengikuti, membela dan menjadi panglima perang pangeran Diponegoro dengan Gelar Basah Purwonegoro.
Menurut P.H. van Louw dan E.S. de Klerck dalam De Java-Oorlog 1825–1830 (1894–1909, Jilid IV, Bagian II, hlm. 711–715), "Ngabei Reksodiwiryo berhasil menangkap Basah Purwonegoro (Gagak Pranolo) beserta delapan orang pengawal pribadinya, hampir tanpa bantuan orang lain. Atas keberhasilan tersebut, pada Desember 1828 ia diangkat menjadi Bupati Tanggung dengan gelar Kyai Tumenggung Cokrojoyo."
Diperkuat berdasarkan rujukan Peter Carey yang mengutip bagian itu, isi pokok Louw dan De Klerck, De Java-Oorlog, Jilid IV, Bagian II, hlm. 711–715 adalah bahwa:
- Ngabei Reksodiwiryo berhasil menangkap Basah Purwonegoro (Gagak Pranolo).
- Penangkapan itu dilakukan hampir tanpa bantuan orang lain.
- Basah Purwonegoro ditangkap bersama delapan pengawal pribadinya.
- Atas jasanya tersebut, pada Desember 1828 Reksodiwiryo diangkat menjadi Bupati Tanggung dengan gelar Kyai Tumenggung Tjokrojoyo
Hal ini juga ditulis Peter Carey dalam Bukunya"Sisi Lain Diponegoro: Babad Kedung Kebo dan Historiografi Perang Jawa"
Pada edisi KPG tahun 2018 (dan cetakan-cetakan berikutnya), keterangan mengenai penangkapan Basah Purwonegoro oleh Ngabei Reksodiwiryo terdapat pada:
Halaman 151 (Bagian II: Babad Kedung Kebo).
Di halaman tersebut Peter Carey menulis bahwa:
"...pada Desember 1828 ia diangkat sebagai Bupati Tanggung dengan nama Kiai Tumenggung Cokrojoyo ketika ia berhasil menangkap, hampir tanpa bantuan orang lain, Basah Purwonegoro (nama asli Gagak Pranolo), bersama dengan delapan orang pengawal pribadinya..."
Kemudian Carey memberikan rujukan catatan kaki:Louw dan De Klerck 1894–1909, IV:711–715
Kesatuan militer perang pangeran Diponegoro menggunakan gaya style ala Jenissary Turki Usmani yang sangat disegani, terkenal, juga dikagumi seluruh umat Islam dunia.
Para panglima nya menggunakan gelar "Ali Pasha" lidah Jawa menyebutkan Basah
Basah Purwonegoro melakukan perlawanan sengit di Bagelen sebelah timur melawan Belanda dan antek-anteknya beliau juga menghadapi perang melawan pasukan yang dipimpin pangeran Kusumoyudo bin PB VI yang didalamnya ada Ngabei Reksodiwiryo.
Pada Bulan Desember Tahun 1828 Ngabei Reksodiwiryo diangkat sebagai Bupati Ketanggong dengan Gelar Kyai Adipati Tjokrodjojo, karena beliau berhasil menangkap, hampir tanpa bantuan orang lain, Basah Purwonegoro alias Gagak Pranolo (Bupati Ketanggong) bersama dengan delapan orang pengawal pribadinya (Sumber : Louw dan De Klerck 1894-1909, IV:II-715).
Para panglima nya menggunakan gelar "Ali Pasha" lidah Jawa menyebutkan Basah
Basah Purwonegoro melakukan perlawanan sengit di Bagelen sebelah timur melawan Belanda dan antek-anteknya beliau juga menghadapi perang melawan pasukan yang dipimpin pangeran Kusumoyudo bin PB VI yang didalamnya ada Ngabei Reksodiwiryo.
Foto Masjid kadipaten Tanggung peninggalan Bupati Tanggung K.R.M.T. Gagak Pranolo II seorang Bupati Tanggung wilayah kasunanan Surakarta Hadiningrat yg menjadi panglima perang pangeran Diponegoro di Bagelen timur bergelar Basah Purwonegoro.
Tumenggung Gagak Pranolo II seorang Bupati sekaligus ulama yang hafidz Qur'an Yang banyak menurunkan ulama-ulama.
Kemungkinan masjid peninggalan Gagak Pranolo II di desa Sidomulyo dulu di bakar oleh Belanda dan antek-anteknya.
Dulu masyarakat desa Sidomulyo dan sekitarnya menyebutnya masjid Bubrah karena masjid tersebut puluhan tahun hancur dan hanya tersisa pondasi dan empat umpak dari Yoni peninggalan kerajaan Mataram kuno
Alhamdulillah di era bupati purworejo Pak Marsaid masjid tersebut dipugar kembali walaupun tidak sesuai aslinya yang kemudian dinamai masjid Gagak Pranolo Al khavidz
Menurut Hipotesis Gagak Pranolo II saat itu sudah berumur sepuh sehingga tidak melakukan perlawanan intensif ketika ditangkap Reksodiworyo di tepi sungai bogowonto.
Setelah ditangkap basah purwonegoro Alias Gagak Pranolo II sang Hafidz Qur'an dihukum mati oleh Belanda.
Dan Reksodiwiryo tangaal 28 Desember 1828 diangkat oleh Belanda juga pihak kasunanan Surakarta sebagai Bupati Tanggung menggantikan Gagak Pranolo II yang sudah di eksekusi Mati.
Setelah ditangkap basah purwonegoro Alias Gagak Pranolo II sang Hafidz Qur'an dihukum mati oleh Belanda.
Dan Reksodiwiryo tangaal 28 Desember 1828 diangkat oleh Belanda juga pihak kasunanan Surakarta sebagai Bupati Tanggung menggantikan Gagak Pranolo II yang sudah di eksekusi Mati.
Reksodiworyo diberi gelar Raden Tumenggung Tjokrojoyo.
Menurut keterangan salah satu keturunan beliau yang bernama Bapak Rosyid Amin Gagak Pranolo II banyak menurunkan para ulama-ulama salah satu nya adalah komandan Hizbullah Purworejo Kyai Solihun dari Baledono yang mendapatkan bintang grilya yang kemudian menjadi kepala Depag Purworejo, juga Kyai Saifuddin Zuhri Komandan Hizbullah Jawa Tengah juga mendapatkan bintang grilya yang kemudian menjadi Menteri Agama RI.
Berikut silsilah atau Nasab dari Gagak Pranolo II yg saya dikasih silsilah dan foto makam oleh salah satu keturunan beliau yaitu pak Rosyid Amin.
Dari informasi pak Rosyid Amin Salah satu putra Pak Saifuddin Zuhri yang bernama Pak Lukman Hakim nurunin Bapaknya sempat menjaba Mentri Agama pada era presiden Jokowi kemarin. Berarti keturunan Gagak Pranolo II ada yang menjadi menteri Agama era Jokowi kemarin.
Suhunan Amngkurat I
I
Pangeran Singosari
I
R.A. Gagak Pranolo I + K.R.M.T. Gagak Pranolo I
I
K.R.M.T. Gagak Pranolo II
I
R.M. Mertodipo
I
R. Amirudin
I
R. Soerawijaya
I
R. Sokowijoyo
I
R. Joyorekso
I
R. Danukartiko
I
R. Hasan Bochori
I
R. H. Djokoriyo
I
R. H. Dahlan
I
Hj Aisyah
I
Rosyid Amin
____&&_&&&&____&&
Silsilah KRMT Gagak Pranolo II jalur Kediri dan Pajajaran :
Shri Aji Joyo Boyo (Kadhiri)
I
Prabu Djoyo Amijoyo
I
Prabu Djoyo amiseno
I
Prabu Kusumawicitro
I
Prabu Citrasoma
I
Prabu Poncodriyo
I
Prabu Angling driyo
I
Prabu Suwelocolo
I
Prabu Sri maha punggung II
I
Prabu Jayalengkara
I
Resi Gentayu
I
Prabu lembu amiluhur
I
Prabu ini Kertopati (prabu suryawisesa Jenggala)
I
Prabu Mahesa tandreman
I
Prabu Banjaransari
I
Prabu Mundingsari
I
Prabu Mundingwangi
I
Prabu Harjakusuma (prabu pamekas ing Pajajaran)
I
Harya Bangah
I
Adipati Anden I
I
Adipati Anden II
I
Kyai Tanggung
I
Kyai Godeg
I
Kyai Lebe
I
Kyai wayah
I
K.R.M.T Gagak Pranolo I menikah dengan putri Pangeran Singosari bin Amngkurat I sebut saja RA. Gagak Pranolo I binti Pangeran Singosari bin Amngkurat I
I
K.R.M.T Gagak Pranolo II
By. N. Kumolo Adi
Sumber Referensi :
- Narasumber Ahli waris
Menurut keterangan salah satu keturunan beliau yang bernama Bapak Rosyid Amin Gagak Pranolo II banyak menurunkan para ulama-ulama salah satu nya adalah komandan Hizbullah Purworejo Kyai Solihun dari Baledono yang mendapatkan bintang grilya yang kemudian menjadi kepala Depag Purworejo, juga Kyai Saifuddin Zuhri Komandan Hizbullah Jawa Tengah juga mendapatkan bintang grilya yang kemudian menjadi Menteri Agama RI.
Berikut silsilah atau Nasab dari Gagak Pranolo II yg saya dikasih silsilah dan foto makam oleh salah satu keturunan beliau yaitu pak Rosyid Amin.
Dari informasi pak Rosyid Amin Salah satu putra Pak Saifuddin Zuhri yang bernama Pak Lukman Hakim nurunin Bapaknya sempat menjaba Mentri Agama pada era presiden Jokowi kemarin. Berarti keturunan Gagak Pranolo II ada yang menjadi menteri Agama era Jokowi kemarin.
Suhunan Amngkurat I
I
Pangeran Singosari
I
R.A. Gagak Pranolo I + K.R.M.T. Gagak Pranolo I
I
K.R.M.T. Gagak Pranolo II
I
R.M. Mertodipo
I
R. Amirudin
I
R. Soerawijaya
I
R. Sokowijoyo
I
R. Joyorekso
I
R. Danukartiko
I
R. Hasan Bochori
I
R. H. Djokoriyo
I
R. H. Dahlan
I
Hj Aisyah
I
Rosyid Amin
____&&_&&&&____&&
Silsilah KRMT Gagak Pranolo II jalur Kediri dan Pajajaran :
Shri Aji Joyo Boyo (Kadhiri)
I
Prabu Djoyo Amijoyo
I
Prabu Djoyo amiseno
I
Prabu Kusumawicitro
I
Prabu Citrasoma
I
Prabu Poncodriyo
I
Prabu Angling driyo
I
Prabu Suwelocolo
I
Prabu Sri maha punggung II
I
Prabu Jayalengkara
I
Resi Gentayu
I
Prabu lembu amiluhur
I
Prabu ini Kertopati (prabu suryawisesa Jenggala)
I
Prabu Mahesa tandreman
I
Prabu Banjaransari
I
Prabu Mundingsari
I
Prabu Mundingwangi
I
Prabu Harjakusuma (prabu pamekas ing Pajajaran)
I
Harya Bangah
I
Adipati Anden I
I
Adipati Anden II
I
Kyai Tanggung
I
Kyai Godeg
I
Kyai Lebe
I
Kyai wayah
I
K.R.M.T Gagak Pranolo I menikah dengan putri Pangeran Singosari bin Amngkurat I sebut saja RA. Gagak Pranolo I binti Pangeran Singosari bin Amngkurat I
I
K.R.M.T Gagak Pranolo II
Foto makam Basah purwonegoro alias Gagak Pranolo II gunung_Pendem_Tanggung_Sidomulyo
Surat kekancingan dari R.Ngtn. Retno Andriastuti tinggal di desa wingkoharjo kecamatan ngombol Purworejo
Berikut silsilh dari surat kekancingan R. Ngt. Retno Andriastuti
Amangkurat I
I
Pangeran Singosari
I
R.A. Gagak Pranolo I
I
R.T. Gagak Pranolo II
I
R.T. Gagak Pranolo III (Gagak kumitir)
I
R.A. Sukodono + Demang tanggung
I
R. Tjokro lesono
I
R. Wongso lekaono
I
R. Udowiro
I
R. Muhammad Idris
I
R. Sutowiguno
I
R. Umar
I
R. Nganten Retno Andriastuti
Foto Makam Gagak Pranolo I di desa Sidomulyo Purworejo, nisan atau cungkup makam juga salah satu sumber primer, dari Style atau gaya makam, bentuk, simbol, dan corak ini adalah makam abad 19, makam seorang laki-laki, priyayi, ada simbol bulan sabit yang menandakan beliau adalah Ulama
By. N. Kumolo Adi
Sumber Referensi :
- Narasumber Ahli waris
- R.Ngtn. Retno Andriastuti
- Bapak Rosyid Amin
- Sumber : Louw dan De Klerck 1894-1909, IV:II-715
- Peter Carey: Sisi Lain Diponegoro: Babad Kedung Kebo dan Historiografi Perang Jawa Halaman 151 (Bagian II: Babad Kedung Kebo)











Tidak ada komentar:
Posting Komentar