MEMURNIKAN NIAT
Banyak di kehidupan ini seseorang manusia yang niatnya sudah tidak murni lagi penuh nafsu, ego, keserakahan, pamrih, dan ambisius juga kepentingan pribadi.
Misalnya niat untuk menikah, niat untuk bekerja, niat sedekah, niat berpolitik, niat magang lurah/Bupati/DPR/gubernur, niat menolong orang lain, niat dalam kegiatan ritual keagamaan misalnya puasa, zikir, sholat, infak, dan sebagainya.
Hanya satu yang bisa saya lihat yaitu seorang orang tua yang menafkahi dan menghidupi anak istrinya yang rata-rata niatnya tulus dan ikhlas tanpa syarat tapi dalam perjalanan menafkahi anak istrinya kadang banyak juga mendapatkan uang secara tidak halal misalnya korupsi, culas, mencuri dan sebagainya sekalipun kelihatannya niatnya murni untuk menafkahi dan menghidupi anak istrinya. Kelihatan secara kasat mata memang niatnya murni ibadah tapi sebetulnya bisa jadi niatnya tidak murni karena mendapatkan uang dengan secara tidak sah dan halal, hualohualam bisawab.
Berikut dalil Al-Qur'an dan hadis sahih yang sangat relevan dengan tema "Memurnikan Niat".
Dalil Al-Qur'an :
1. QS. Al-Bayyinah [98]: 5
"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus..."
Ayat ini merupakan dalil utama tentang keharusan mengikhlaskan niat hanya kepada Allah.
2. QS. Az-Zumar [39]: 2
"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya."
3. QS. Az-Zumar [39]: 11
"Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya."
4. QS. Al-An'am [6]: 162
"Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam."
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh amal seorang mukmin hendaknya diniatkan hanya untuk Allah.
Hadis Shahih :
1. Hadis tentang niat (Muttafaq 'alaih)
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya."
HR. Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907
Ini adalah hadis paling utama dalam pembahasan niat.
2. Hadis Qudsi tentang keikhlasan
"Allah Ta'ala berfirman: Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amalan yang mempersekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya itu."
HR. Muslim No. 2985
Hadis ini menjelaskan bahwa amal yang tidak ikhlas tidak diterima oleh Allah.
3. Hadis tentang orang pertama yang dihisab pada hari kiamat
"Di antaranya ada orang yang berilmu, dermawan, dan berjihad, tetapi amal mereka ditolak karena dilakukan untuk dipuji manusia, bukan karena Allah."
HR. Muslim No. 1905
Hadis ini menjadi peringatan keras agar menjauhi riya' dan menjaga kemurnian niat.
Dalil yang paling kuat dan sering dijadikan landasan tema memurnikan niat adalah:
QS. Al-Bayyinah: 5, QS. Az-Zumar: 2, QS. Al-An'am: 162, HR. Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907 ("Innamal a'malu binniyat"), HR. Muslim No. 2985 (Hadis Qudsi tentang ikhlas), HR. Muslim No. 1905 (Amal yang ditolak karena riya')
Keenam dalil tersebut sudah sangat kuat dan berasal dari Al-Qur'an serta hadis-hadis sahih
Lebih-lebih niat menikah kalau niat menikah hanya dilandasi nafsu, keserakahan, kesenangan belaka tanpa diniati ibadah maka jadinya akan kacau.
Rasullullah SAW pernah bersabda bahwa "menikah itu untuk menyempurnakan setengah agama". Karena dengan menikah orang yang berpikir dengan akal sehat akan mudah mendapatkan hidayah, Inayah, juga pencerahan.
Menikah adalah tahapan hidup yang baru dengan lebih banyak tanggung jawab, ujian-ujian, cobaan-cobaan dan segala konsekuensinya.
Kehidupan setelah menikah akan 360 derajat berubah, yang awalnya semaunya sendiri, pengen menang sendiri, egois, setelah menikah kita harus melibatkan pasangan terutama dalam pengambilan keputusan.
Kita tidak bisa memastikan bahwa kondisi keuangan suami akan selamanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga.
Kita juga tak dapat memastikan pasangan kita awal kita kenal romantis dan baik akan selamanya romantis dan baik seperti saat awal kita mengenalnya. Kita juga tak dapat memastikan nanti tak akan ada keluhan saat merawat anak dengan segala dinamikanya.
Dinamika rumah tangga sungguh lebih kompleks dan rumit bagaikan kapal ditengah badai dengan ombak setinggi pohon kelapa, di dalam rumah tangga ada dua kepala yang akan tinggal satu atap serta dua keluarga, Keduanya membawa masa lalu masing-masing, membawa karakter, dan pola pikir alias mindset juga kebiasaan hidup yang berbeda-beda.
Rumit??... Atau menjadi takut untuk menikah karena membaca tulisan ini?...
Saya sebenarnya tidak bermaksud menakuti dan menikah memang tidak semenakutkan itu selagi kita dan pasangan sudah sama-sama siap lahir batin dengan niat ibadah.
Dan pernikahan itu sakral broww...
Dalam pernikahan tentu saja ada bahagia, suka dan duka tidak melulu prihatin atau menyedihkan.
Namun lupakan jika keinginan menikah hanya sebagai sebuah nafsu, pelampiasan karena telah menyerah dengan beban-beban kehidupan yang melelahkan dan menguras emosi.
Menikahlah untuk ibadah.
Dan termasuk tulisan-tulisan ku ini apakah sudah murni ibadah atau hanya sekedar pencitraan, sok bijak, sok suci, sok sejarawan, sok pinter, iseng-iseng, dan sebagainya terserah anda yang menilai...
Yang pasti niatku hanya aku dan Tuhan yang tahu. Serta yang berhak menilai adalah Tuhan
Ayo kita murnikan niat untuk ibadah kepada Allah SWT.
Nka
Selamat Siang..
02 Juni 2020 pukul 12. 36 WIB


Tidak ada komentar:
Posting Komentar