BAGIKU MENULIS ADALAH IBADAH
Sejatininghidup02.blogspot.com
Abstrak:
Artikel ini menguraikan makna menulis sebagai salah satu bentuk ibadah apabila dilandasi niat yang ikhlas karena Allah SWT serta bertujuan menyebarkan ilmu yang benar dan bermanfaat. Pembahasan didasarkan pada dalil-dalil Al-Qur'an, seperti Surah Al-'Alaq ayat 1–5 dan Surah Al-Qalam ayat 1, serta hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ tentang keutamaan ilmu yang bermanfaat dan anjuran menyampaikan ilmu kepada sesama. Artikel ini juga menegaskan bahwa kegiatan menulis, khususnya dalam bidang sejarah, merupakan ikhtiar untuk menjaga ingatan kolektif, melestarikan warisan budaya, meluruskan informasi yang keliru, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi mendatang. Dengan demikian, menulis tidak sekadar menjadi aktivitas intelektual, tetapi juga dapat bernilai amal jariyah selama tulisan tersebut terus memberikan manfaat bagi pembacanya.
Bagiku menulis adalah ibadah dan bukan hobi disela-sela kesibukan, bukan pula sebagai profesi, apa lagi hanya sekedar iseng-iseng saja. Sekalipun ada banyak orang menulis untuk dijadikan profesi.
tulisan itu dituntut untuk dapat memberikan pengaruh yang baik kepada para pembaca karena apa yang kita tuliskan sama halnya dengan apa yang kita lakukan semuanya akan diminta pertanggungjawaban, kita punya Tuhan Allah SWT yang mengetahui dan menyaksikan segala apa yang dilakukan oleh manuusia sama begitu pula dengan sebuah tulisan yang kita tulis.
Saya selalu berusaha menulis beberapa tulisan yang masih sangat sederhana kadang juga acak-acakan serta ada humor dan tehnik agar pembaca tidak bosan.
Menulis adalah ibadah untuk menyadarkan diri sendiri dan pembaca, mengajak dan membawa diri sendiri dan pembaca agar senantisa "eling lan Waspodo" menjadi ingat kepada Allah, dekat dengan Allah dan lebih mengenal-Nya. Semoga apa yang saya niatkan dapat berpengaruh kepada saya pribadi dan orang-orang yang membaca tulisan saya, karena sesungguhnya segala sesuatu bergantung pada apa yang kita niatkan.
An-nawawi berkata: syair(menulis, puisi,pantun, dsbny) itu hukumnya boleh selama tidak terdapat didalamnya hal-hal yang keji dan sejenisnya, juga telah tertulis dalam kitab suci Al-quran :
"Dan penyair-penyair(penulis, pantun, puisi, dsbnya) itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasannya mereka mengembara di tiap-tiap lembah. Dan bahwasannya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut nama Allah dan mendapatkan kemenangan sesudah menderita kezaliman" (QS.Asy-Su'ara: 224-227)
Jadi ketika seorang penulis, penyair, puitis, atau pembuat karya lainnya tidak membuat kedustaan dalam karyanya dan menggunakannya untuk dakwah itu syah-syah saja.
Nka
Rabu, 03 Juni 2029
06.33
tulisan itu dituntut untuk dapat memberikan pengaruh yang baik kepada para pembaca karena apa yang kita tuliskan sama halnya dengan apa yang kita lakukan semuanya akan diminta pertanggungjawaban, kita punya Tuhan Allah SWT yang mengetahui dan menyaksikan segala apa yang dilakukan oleh manuusia sama begitu pula dengan sebuah tulisan yang kita tulis.
Saya selalu berusaha menulis beberapa tulisan yang masih sangat sederhana kadang juga acak-acakan serta ada humor dan tehnik agar pembaca tidak bosan.
Menulis adalah ibadah untuk menyadarkan diri sendiri dan pembaca, mengajak dan membawa diri sendiri dan pembaca agar senantisa "eling lan Waspodo" menjadi ingat kepada Allah, dekat dengan Allah dan lebih mengenal-Nya. Semoga apa yang saya niatkan dapat berpengaruh kepada saya pribadi dan orang-orang yang membaca tulisan saya, karena sesungguhnya segala sesuatu bergantung pada apa yang kita niatkan.
An-nawawi berkata: syair(menulis, puisi,pantun, dsbny) itu hukumnya boleh selama tidak terdapat didalamnya hal-hal yang keji dan sejenisnya, juga telah tertulis dalam kitab suci Al-quran :
"Dan penyair-penyair(penulis, pantun, puisi, dsbnya) itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasannya mereka mengembara di tiap-tiap lembah. Dan bahwasannya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut nama Allah dan mendapatkan kemenangan sesudah menderita kezaliman" (QS.Asy-Su'ara: 224-227)
Jadi ketika seorang penulis, penyair, puitis, atau pembuat karya lainnya tidak membuat kedustaan dalam karyanya dan menggunakannya untuk dakwah itu syah-syah saja.
beberapa dalil Al-Qur'an dan hadis yang sangat relevan.
Dalil Al-Qur'an :
1. Surah Al-'Alaq ayat 1–5
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan... Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
Ayat ini menunjukkan kemuliaan ilmu dan pena (qalam) sebagai sarana menyampaikan pengetahuan.
2. Surah Al-Qalam ayat 1
ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
"Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan."
Allah bersumpah dengan pena dan apa yang ditulis, menunjukkan betapa mulianya aktivitas menulis yang benar.
3. Surah Az-Zumar ayat 9
"...Katakanlah, 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'..."
Ayat ini menegaskan keutamaan ilmu, yang salah satu cara penyebarannya adalah melalui tulisan.
Hadis :
1. Amal jariyah Rasulullah ﷺ bersabda:
"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya."
(HR. Muslim No. 1631)
Tulisan yang mengajarkan ilmu dan terus dibaca orang dapat menjadi bagian dari ilmu yang bermanfaat.
2. Menyampaikan ilmu Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat."
(HR. Sahih al-Bukhari)
Hadis ini menjadi dorongan untuk menyebarkan ilmu, termasuk melalui tulisan.
3. Keutamaan orang yang menunjukkan kepada kebaikan Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya."
(HR. Muslim No. 1893)
Tulisan yang mengajak kepada kebaikan dan meluruskan sejarah dapat termasuk dalam makna hadis ini.
Menulis bisa menjadi ibadah apabila: diniatkan karena Allah, berisi ilmu yang benar dan bermanfaat, tidak mengandung kebohongan atau fitnah, serta memberi manfaat bagi orang lain.
Untuk blog sejarah seperti yang saya kelola, menulis dengan penelitian yang jujur, menyebutkan sumber, dan melestarikan sejarah lokal merupakan bentuk penyebaran ilmu yang dapat menjadi amal yang terus mengalir manfaatnya selama tulisan tersebut dibaca dan dimanfaatkan.
contoh nyata bagaimana tulisan sejarah dapat menjadi amal jariyah, misalnya menyelamatkan sejarah Kutoarjo dari kepunahan.
Ayo mari kita menulis dan menjaga sejarah serta budaya dan kearifan lokal daerah kita masing-masing
Ayo mari kita menulis dan menjaga sejarah serta budaya dan kearifan lokal daerah kita masing-masing
Nka
Rabu, 03 Juni 2029
06.33


Tidak ada komentar:
Posting Komentar