Gambar Rancang Bangun dan Denah Stasiun Keretapi Kutoarjo dalam Spoorwegstations op Java (Railway Stations in Java) karya Van Ballegoijen de Jong,
Sumber: Van Ballegoijen de Jong, Spoorwegstations op Java (Railway Stations in Java), Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 1993, hlm. 148.
Foto.
Stasiun Kereta Api Kutoarjo, stasiun kebanggaan masyarakat kutoarjo
Sejarah Berdirinya Stasiun Koetoardjo dan Jalur Kereta Api Yogyakarta–Cilacap Tahun 1884–1887
Ndandung Kumolo Adi
Sejatininghidup02.blogspot.com
Abstrak :
Artikel ini mengkaji sejarah berdirinya Stasiun Koetoardjo (Kutoarjo) sebagai bagian dari pembangunan jalur kereta api Yogyakarta–Cilacap pada masa Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Penelitian disusun menggunakan metode sejarah dengan memanfaatkan sumber primer berupa Staatsblad, Regerings Almanak, koran-koran Belanda seperti Bataviasch Handelsblad dan Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, serta literatur perkeretaapian. Hasil kajian menunjukkan bahwa jalur kereta api yang melintasi Kutoarjo dibangun berdasarkan Staatsblad Nomor 110 Tahun 1884 dan diresmikan pada Juli 1887. Kehadiran Stasiun Kutoarjo menjadi faktor penting dalam perkembangan Kota Kutoarjo sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Kutoarjo di Masa lalu sekaligus simpul transportasi yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan Pelabuhan Cilacap. Selain mendukung distribusi hasil bumi, logistik militer, dan mobilitas penduduk, stasiun ini juga memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Hingga kini, Stasiun Kutoarjo tetap menjadi salah satu aset strategis transportasi di Jawa Tengah serta memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting untuk dilestarikan sebagai warisan perkeretaapian Indonesia.
Peta topografi Koetoardjo, survei 1901–1903. Kita bisa melihat posisi dan letak Stasiun Kutoarjo, Rumah Bupati, Alun-alun, Pasar, dan sebagainya
[Koetoardjo : hermeten in 1901–1903]
Pembuat: Topographisch Bureau, Batavia
Terbit: 1906
Penerbit: Topographisch Bureau Batavia
Koleksi: Leiden University Libraries
Stasiun
Besar Kutoarjo adalah stasiun Besar tipe A Kebanggan masyarakat Kota/Kecamatan
Kutoarjo, Provinsi Jawa Tengah, Stasiun
Kutoarjo Beralamat di Jalan Merpati Kutoarjo Nomer 1, Kelurahan
Semawung Daleman, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa
Tengah, Kode Pos : 54212. Stasiun Kutoarjo termasuk dalam Daerah Operasi (DAOPS) V
Purwokerto, dengan ketinggian +16 m diatas permukaan laut yang
terletak di Km 478+845, stasiun kutoarjo berkode 2040, singkatan stasiun kutoarjo adalah KTA. Stasiun Kutoarjo Salah satu Aset Strategis kota Kutoarjo yang menguntungkan dan memberikan
dampak nyata juga signifikan baik langsung maupun tidak langsung bagi denyut nadi Per-ekonomian ribuan masyarakat Kota Kutoarjo dan
sekitarnya.
Stasiun Kereta Api Kutoarjo ada semenjak Era Bupati Koetoardjo Pangeran Adipati Purboatdmodjo Tahun 1887, yang menjabat Bupati dari Tahun 1870-1915. di sekitar stasiun kutoarjo banyak sekali bangunan-bangunan era kolonial sebagai perumahan para pegawai kereta api.
Kabupaten Koetoardjo dihapuskan pada tahun 1933. Amar surat penghapusan itu tercantum dalam Lembaran Negara Hindia Belanda No.310 Tahun 1933, Alasan penghapusannya adalah kebijakan penghematan (bezuiniging beleid) pasca resesi dunia pada 1930. Dalam catatan sejarah dulu kutoarjo merupakan pusat pemerintahan kabupaten, karena krisis Depresi Besar (juga dikenal sebagai krisis malaise) (bahasa Inggris: Great Depression) adalah sebuah peristiwa menurunnya tingkat ekonomi yang terjadi secara dramatis di seluruh Dunia yang terjadi mulai tahun 1929 dan berlangsung selama sekitar 10 tahunan. Kabupaten Kutoarjo Digabungkan dengan Kabupaten Purworejo pada 1 Januari 1934 (Sumber : Linck, 1935:1) setelah Bupati Kutoarjo yang terakhir K.R.A.A. Purbohadikoesomoe Wafat 2 April 1933 (Sumber:Koran Het
Niuews Van Den Dag" Voor nederlandsch-Indie terbit hari senin tanggal 3
April tahun 1933).
Setelah itu Kutoarjo turun statusnya sebagai ibukota Kawedanan dari Kabupaten Purworejo, Berdasarkan sumber resmi pemerintah kolonial Hindia Belanda, Kabupaten Koetoardjo (Kutoarjo) dihapuskan pada tahun 1933. Amar keputusan tersebut dimuat dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indië 1933 No. 310 (Lembaran Negara Hindia Belanda Tahun 1933 Nomor 310). Keputusan ini merupakan bagian dari reorganisasi pemerintahan kolonial akibat kebijakan penghematan pada masa Depresi Besar (Malaise). Melalui kebijakan tersebut, beberapa kabupaten dihapus dan wilayahnya digabungkan dengan kabupaten lain.
Untuk Koetoardjo, wilayahnya kemudian digabungkan ke Kabupaten Purworejo, dan perubahan administrasi tersebut mulai berlaku pada 1 Januari 1934. Keterangan ini juga diperkuat oleh : Linck, J. A. (1935). De Reorganisatie van het Binnenlandsch Bestuur in Nederlandsch-Indië. Batavia: Landsdrukkerij dan Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1934, yang sudah tidak lagi mencantumkan Kabupaten Koetoardjo sebagai kabupaten tersendiri.
Dengan demikian, secara kronologis :
- 1933 → Terbit Staatsblad van Nederlandsch-Indië No. 310 Tahun 1933 yang menetapkan penghapusan Kabupaten Koetoardjo.
- 1 Januari 1934, Keputusan mulai diberlakukan; Kabupaten Koetoardjo resmi dihapus dan wilayahnya dimasukkan ke Kabupaten Purworejo.
Ini merupakan dasar hukum yang paling otoritatif mengenai berakhirnya status Kabupaten Koetoardjo pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Terhitung dari kekalahan Pangeran Diponegoro di Bulan Maret 1830, Bupati Perdana Kabupaten Kutoarjo adalah K.R.A. Notto Negoro Sawonggaling Kaping II (Sumber : Regenering Almanak Nederlandsch-Indisch Tahun 1831). Mungkin bila Kota Kutoarjo tidak ada Stasiun Kutoarjo, Kota
Kutoarjo menjadi kota yang kurang berkembang.
Bagi yang peka dan cerdas Transportasi memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang aktivitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi masyarakat serta merupakan urat nadi dalam pembangunan ekonomi suatu daerah, kota, dan negara. Oleh karena itu keberhasilan pembangunan dibidang ekonomi harus ditunjang dengan pengembangan sistim transportasi yang baik, nyaman, tertib, cepat, berkesinambungan, dan terkoneksi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.
keberadaan Terminal besar, Stasiun Besar, Bandara, juga pelabuhan logikanya sangat mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar.
Dengan akses transportasi dan jalan yang baik sehingga mudah mendapatkan kebutuhan, suplay dan mengirim barang atau kebutuhan pun mudah dikirim dan didapatkan serta menghemat energi, ongkos, juga pengeluaran serta mempermudah segala hal. masyarakat dari jauh akan berbondong-bondong ke Stasiun, Terminal, Bandara juga pelabuhan untuk menggunakan jasa transportasi yang tersedia disitu sehingga Stasiun, Bandara, Pelabuhan, Terminal menjadi salah satu tujuan pusat keramaian. para pedagang, tukang ojek, tukang becak, angkutan kecil, ojek online, Penjual tiket dan jasa-jasa lainnya akhirnya menggantungkan hidupnya dari keberadaan eksistensi stasiun, terminal, pelabuhan, dan bandara. ruko-ruko dan minimarket berdiri disitu. lapangangan pekerjan pun terbuka disitu dari security, cleaning servis, tukang parkir dan sebagainya.
Sayangnya fasilitas masyarakat seperti Stasiun, Terminal, Pasar dan sebagainya tidak diperhatikan oleh masyarakat setempat dengan cara ikut berperan dalam menjaga, merawat, dan memelihara.
Kita bisa lihat di Pantai utara jawa/pantura banyak pelabuhan sehingga banyak kotanya yang maju juga UMR nya tinggi.
Di jawa Tengah bagian selatan hanya punya satu pelabuhan yaitu di cilacap itupun sekarang kurang berfungsi. Makanya di zaman belanda, Belanda membangun rel kereta api dari jogja ke pelabuhan cilacap yang melewati Kutoarjo untuk mempermudah mengangkut barang, hasil bumi, sumber daya alam juga logistik militer ke pelabuhan atau dari pelabuhan. biasanya hasil bumi dan sumber daya alam dikirim lewat pelabuhan menggunakan kapal di bawa ke eropa atau negeri belanda untuk kebutuhan dalam negeri belanda juga untuk diperjual-belikan ke pasar eropa.
Coba bayangkan bila akses transportasi sulit, jauh (tidak dekat dengan bandara, pelabuhan, stasiun, terminal), jalan rusak, akses ke pelabuhan/bandara/stasiun/terminal tidak terjangkau alias jauh, maka ongkos menjadi tinggi, menguras tenaga, lambat, barang-barang kebutuhan menjadi mahal karena akses transportasi yang sulit atau untuk mendapatkan sesuatu harus pergi jauh.
Dengan adanya akses transportasi, Stasiun, Terminal, bandara, bahkan pelabuhan akan menunjang sektor pariwisata dan pertanian.
Pelabuhan, Bandara, Stasiun kereta api, terminal bus, pasar, pusat keramaian, gedung sekolahan, gedung rumah sakit mempermudah masyarakat dalam usahanya untuk mencapai kesejahteraan (kemakmuran suatu keadaan dimana manusia dapat memenuhi kebutuhannya, baik barang maupun jasa). Sedangkan, Lalulintas dan Angkutan Jalan diselanggarakan untuk terwujudnya pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang aman, selamat, tertib, lancar, dan terpadu dengan moda angkutan lain untuk mendorong perekonomian nasional, memajukan kesejahteraan umum, memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, serta mampu menjunjung tinggi martabat bangsa.
UU No 22 Tahun 2009 Tentang LLAJ "tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang dimaksud dengan Lalu Lintas adalah gerak kendaraan dan orang di Ruang Lalu Lintas Jalan."
Dengan demikian pengertian ekonomi transportasi merupakan kajian tentang peran dan fungsi transportasi dalam menunjang aktivitas masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup guna terwujudnya kehitudap masyarakat yang adil makmur.
Transportasi memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat dan merupakan urat nadi dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Oleh karena itu keberhasilan pembangunan dibidang ekonomi harus ditunjang dengan pengembangan sistem transportasi yang baik, nyaman, tertib dan terkoneksi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.
Manfaat transportasi secara ekonomi meliputi :
- Membantu Perpindahan Arus Manusia dan Barang ke Berbagai Wilayah. Dukungan transportasi yang baik menjadikan kehidupan perekonomian suatu daerah, kota, bahkan, negara lebih optimal karena seluruh kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Dukungan transportasi dapat membuat manusia berpindah dengan cepat dari satu tempat ke tempat lain. Berbagai urusan mendasar dapat diselesaikan dengan cepat, termasuk dengan penyelesaian barang yang didistribusikan dengan cepat ke seluruh wilayah dan menjaga stabilitas harga barang. sehingga, kebutuhan masyarakat disemua daerah dapat terpenuhi dengan baik.
- Transportasi Menunjang Perkembangan Pembangunan. Ketika transportasi mampu mengirimkan manusia dan barang ke berbagai wilayah maka kedua unsur tersebut (manusia dan barang) dapat membantu pembangunnan di wilayah yang terjangkau. Barang yang dikirimkan juga termasuk materi pembangunan infrastruktur. Semakin maju dan mudahnya akses transportasi maka akan mudah mendukung pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah.
Sejarah berdirinya
stasiun Kutoarjo dimulai dari pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan
Yogyakarta-Cilacap, Setelah melalui berbagai lobi, muswarah, perencanaan dan
perhitungan, maka Staatspoorwegen memulai pembangunan jalur kereta yang
terbentang dari Cilacap hingga Yogyakarta pada tahun 1884 (Sumber : Staatsblad (lembaran negara) No.
110, 20 Juli 1884)
Berdasarkan Gambar dalam Spoorwegstations op Java (Railway Stations in Java) karya Van Ballegoijen de Jong, bangunan Stasiun Kutoarjo terdiri atas sembilan ruangan. Ukuran bangunan stasiun ini sedikit lebih besar dibandingkan dengan Stasiun Purworejo. Selain bangunan utama stasiun, kompleks Stasiun Kutoarjo juga dilengkapi dengan depo penyimpanan lokomotif yang ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan depo di Purworejo. Pada masa tersebut, depo Kutoarjo berada di bawah pengawasan insinyur kelas satu W. G. Muijderman. (Sumber: Van Ballegoijen de Jong, Spoorwegstations op Java (Railway Stations in Java), Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 1993, hlm. 148.)
Weefsters te Koetoardjo, KITLV 5602.tiff1,861 × 1,347; 7.19 MB.
“Para perempuan penenun di Kutoarjo. Sekitar 1925. Koleksi KITLV 5602. Foto tidak diketahui pembuatnya. Sumber: Leiden University Libraries/KITLV.”
Sejarah berdirinya Stasiun Kutoarjo tidak terlepas dari pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Yogyakarta-Cilacap dimana di cilacap ada pelabuhan terbesar di jawa bagian selatan sehingga dengan adanya jalur kereta api dari jogja sampai cilacap akan lebih terkoneksi sehingga mempermudah mengangkut barang-barang ke pelabuhan yang akan diangkut ke kapal dan di bawa ke negeri belanda atau ke pasar eropa, selain itu logistik militer dan perlengkapan lainya dari belanda yang akan di kirim ke jawa akan mudah dikirim dengan cepat, selain itu pelayanan jasa transmigrasi juga ber-Haji bagi orang islam bisa lewat pelabuhan cilacap. jalur kereta pertama kali dirintis perusahaan swasata Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij yang menghubungkan Semarang dengan Yogyakarta sejak tahun 1863. Sesudah itu, pemerintah kolonial berharap agar seluruh Pulau Jawa juga dapat dilewati oleh jalur kereta. Namun dengan kegagalan yang menimpa Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij di masa awal, pemerintah kolonial mengambil alih kepentingan pembangunan jalur kereta dengan melahirkan jawatan kereta Staatspoorwegen ( SS ). Staatspoorwegen akhirnya melirik hubungan Yogyakarta dengan kota-kota di pantai selatan Jawa seperti Kutoarjo, Gombong, dan Cilacap, apalagi cilacap menjadi satu-satunya pelabuhan besar di pesisir selatan Jawa belum digarap oleh N.I.S.M. di Gombong dan di dekat kutoarjo yaitu Purworejo terdapat garnisun militer penting yang tentunya membutuhkun logistik militer yang harus terkoneksi dengan pelabuhan. Karena itulah, Staatspoorwegen yang saat itu di bawah H.G. Derx meresmikan jalur kereta yang terbentang dari Cilacap hingga Yogyakarta pada 20 Juli 1887 yang melewati kutoarjo. Pembangunannya diborong oleh Burgerlijke Openbare Werken. Sekalipun jalur kereta api Kutoarjo ke Purworejo telah ada di tahun 1887, namun bangunan Stasiun Purworejo baru dibangun pada tahun 1901. Dperkirakan Bentuk bangunan Stasiun Kutoarjo sama dengan stasiun purworejo tapi karena perkembangan zaman bangunan aslinya hilang.

Gambar. Peta Rel Kereta Api Jawa dan Madura
Tahun 1888, terlihat di tahun itu Kutoarjo sudah dilewati
Perincian pembangunan jalur Djocjacarta-Tjilatjap, karena
penyelesaian yang dibangun kereta api negara sejak 1875 di Jawa telah
memperoleh jalur sepanjang 865 kilometer, yang telah menghabiskan biaya sekitar
67.835.000 florin. Pembangunan Kereta Api diperintahkan oleh Undang-Undang 20
Juli 1884, ditetapkan oleh Lembaran Negara No. 110.(Sumber : Koran Bataviasch Handelsbla, Tertanggal 16 Juli 1887)
Jika dihitung dari mulai pembangunan 20 juli 1884 sampai
peresmian tanggal 16 juli 1887, maka pembangunan selesai dalam waktu waktu
Kurang-lebih 3 Tahunan.
Foto Pelabuhan Cilacap di Era Kolonial
Tanggal 17 Juni
1864, Gubernur Jenderal Mr. L. A. J. W. Baron. Sloet van Beele membuka jalur
kereta api pertama di Jawa, yang saat itu merupakan bagian dari Hindia Belanda.
Jalur ini milik
Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (Perusahaan Kereta Api Hindia
Belanda), dan jalur pertama yang beroperasi adalah antara Semarang dan
Tanggung, dibuka pada 10 Agustus 1867 yang berjarak 26 km dengan lebar jalur
1.435 mm (lebar jalur SS - Staatsspoorwegen adalah 1.067 mm atau yang sekarang
dipakai), atas permintaan Raja Willem I untuk keperluan militer di Semarang
maupun hasil bumi ke Gudang Semarang (Sumber:History of Railways in Indonesia-http://keretapi.tripod.com/history.html
)
Jalur pertama ini
dibuka pada tahun 1867, dan pada tahun 1870 jalur kereta api telah diperpanjang
hingga 110 kilometer, sehingga memungkinkan untuk melakukan perjalanan dari
Semarang ke Solo. Namun NIS menderita kerugian besar dan membutuhkan dukungan
pemerintah untuk menyelesaikan perawatan primer, hingga Yogyakarta. Sementara
itu, dihitung bahwa akan lebih murah untuk tidak membangun jalur kereta api
dengan jalur normal (lebar 143,5 cm), tetapi dengan jalur sempit 106,7
sentimeter. Kemudian dinyatakan dalam undang-undang bahwa jalur kereta api
seharusnya hanya dibangun di jalur pengukur itu.
Stasiun Kutoarjo adalahy Bangunan Cagar Budaya yang harus dipertahankan ke-Orginilitasnya, sehingga bila ada pengembangan dan perluasan pihak PT. KAI Persero wajib lapor dinas Pariwisata dan Kebudayaan ataupun Cagar Budaya
Jalur kereta api
pertama dengan jalur yang lebih sempit dibangun oleh NIS antara Batavia
(sekarang Jakarta) dan Buitenzorg (sekarang Bogor). Pembangunan kereta api di
Jawa kemudian berjalan sangat cepat dan pada tahun 1888 dua jaringan terpisah
telah dibuat. Jaringan Jawa Tengah dan Jawa Timur menghubungkan kota Semarang,
Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Jaringan Jawa Barat menghubungkan
Batavia dengan Buitenzorg, Sukabumi, Bandoeng (sekarang Bandung), Bekasi dan
Tandjoeng Priok (sekarang Tanjung Priok, pelabuhan Jakarta). Selain itu, ada
jalur pendek di Tegal di Jawa Tengah, tidak terhubung ke jalur lain. Tidak semua jalur
di atas dibangun oleh NIS. Pemerintah liberal Belanda sebenarnya menginginkan
perusahaan swasta untuk membangun kereta api, tetapi karena masalah keuangan di
NIS dan kepentingan strategis kereta api, pemerintah memutuskan untuk membangun
kereta api itu sendiri. Kereta api dibangun mulai 1876 dan seterusnya dengan
nama Staatspoor en Tramwegen Nederlandsch-Indie (SS).
Untuk melayani
kebutuhan pengiriman hasil bumi (Sumber daya alam) dari Indonesia, maka Pemerintah Kolonial
Belanda sejak tahun 1876 telah membangun berbagai jaringan kereta api, dengan
muara akhir pada pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dan Tanjung Perak Surabaya.
Semarang meskipun strategis, tetapi tidak ada pelabuhannya untuk barang,
sehingga barang dikirim ke Batavia atau Soerabaja (Sumber:GEDENKBOEK der Staatsspoor en Tramwegen in Nederlandsch Indie
(1875-1925), Buku Kenang-kenangan kereta api dan trem di Hindia Belanda untuk
masa laporan tahun 1875-1925, oleh S.A. Reitsma (Redaktur), Dinas Informasi
Topografi Hindia Belanda - Jatinegara 1925)
Sumber : Koran Bataviasch Handelsbla,
Tertanggal 16 Juli 1887
“De feesteljjke
opening der Staatsspoorweglijn van Djocja naar Poerworedjo en van
laatstgenoemde plaata naar Tjilatjap heeft voor zoover het eerste gedeelte van
die lijn betreft, plaats gehad.
Z.E de Gouverneur-
Generaal ia heden morgen te 7.30 uur van Djocja vertrokken; is de stations
Patoekan, Roewoeloe, Sedaijoe, Sontolo en Kali Menoer voorbij gestoomd en te
Wates aangekomen te 8 22 uur.
Van die plaats
vertrok men weder 6 minister later; Kedoendang door tot Wodjo, zjjn de de
grenshalte tusschen de residentien Djocjakarta en Bagelen.
Te 9.2 nur van
Wodjo vertrokken, zjjn de stations Djenar en Moentelan gepasseerd en kwam de
trein te 9.40 uur te Koetoardjo, de 10.15 uur te Poerworedjo aan.
Op deze plaata
bljjft Z. E. tot Maandag aanstaande, op welken dag de ljjn
Poerworedjo-Tjilatjap zal worden ge- opend. De loop van den feesttrein is op
dien dag vastgesteld als volgt:
Poerworedjo Vertrek 7.0 uur
Koetoeardjo
Aankomst 7.20 Vertrek 7.21
Keboemen Aankomst
8.9 Vertrek 8.15
Karang-Anjar
Aankomst 8.88 Vertrek 8.89
Gombong Aankomst
8.53 Vertrek 8.54
Idjoe Aankomst 9.7
Vertrek 9.17
Kemradjen Aankomst
9.43 Vertrek 9.49
Maos Aankomst 10.28
Vertrek 10.30
Tjilatjap Aankomst 11.5
Hieronder volgen eenige
bizonderheden omtrent den aanleg van de lijn Djocjacarta-Tjilatjap, door het
gereed komen waarvan de sedert 1875 gebouwde staatsspoorwegen op Java eene
lengte ran 865 kilometers hebben verkregen, waaraan besteed is een bedrag van
ongeveer ƒ 67.835 000.
De aanleg van den
Spoorweg werd bevolen bjj de Wet van 20 Juli 1884, afgekondigd bjj Staatsblad
no. 110”
Terjemahan Indonesia adalah sebagai berikut :
“Pembukaan Jalur
Kereta Api Meriah dari Djocja ke Purworedjo dan yang terakhir menuju Tjilatjap
tengah berlangsung,sejauh menyangkut bagian pertama dari jalur tersebut. Z.E.
Gubernur Jenderal meninggalkan Djocja pukul 7:30 pagi ini; stasiun Patukan,
Roewulu, Sedaijoe, Sontolo dan Kali Menoer telah lewat dan tiba di Wates pada
pukul 8:22 malam. Sementara 6 pembantu lainnya kemudian berangkat dari tempat
itu; Kedoendang ke Wodjo, batas perhentian antara tempat tinggal Djocjakarta
dan Bagelen.
Berangkat jam 9.2
pagi dari Wodjo, stasiun Djenar dan Moentelan lewat dan kereta tiba jam 9.40
pagi di Koetoardjo, dan jam 10.15 pagi di Purworedjo.
Di lokasi ini Z.E.
akan tetap sampai Senin, pada hari mana Purworedjo-Tjilatjap akan dibuka.
Perjalanan kereta pesta ditentukan pada hari itu sebagai berikut:
Poerworedjo
Keberangkatan 7,0 jam (berangkat)
Koetoeardjo 7.20
(datang) 7.21 (berangkat)
Keboemen 8.9
(datang) 8.15 (berangkat)
Karang-Anjar 8.88
(datang) 8.89 (berangkat)
Gombong 8.53
(datang) 8.54 (tiba)
Idjoe 9.7 (datang)
9.17 (berangkat)
Kemradjen 9,44
(datang) 9,49 (berangkat)
Maos 10.28 (datang)
10.30 (berangkat)
Tjilatjap 11.5
(datang)
Di bawah ini adalah
beberapa perincian pembangunan jalur Djocjacarta-Tjilatjap, karena penyelesaian
yang dibangun kereta api negara sejak 1875 di Jawa telah memperoleh jalur
sepanjang 865 kilometer, yang telah menghabiskan biaya sekitar 67.835.000
florin.
Pembangunan Kereta
Api diperintahkan oleh Undang-Undang 20 Juli 1884, tetapkan oleh Lembaran
Negara No. 110”
Koran Bataviasch
Handelsblad bertanggal 16 Juli 1887 diatas mengabartkan bahwa pada Tanggal 16 Juli 1887 adalah tanggal
dimana "Pembukaan Resmi" Jalur Kereta Api Negara dari Yokyakarta ke
Purworejo dan terakhir ke Cilacap oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Otto
van Rees, Kereta berangka pukul 7.30 pagi dari Yogyakarta dengan tujuan
Kutoarjo, Di dalam kereta tersebut, terdapat gubernur jenderal Otto van Rees
beserta rombongannya. Kereta sampai di Kutoarjo pada 9.40 pagi dan dilanjutkan
dengan perjalanan menuju Purworejo yang tiba di sana pada pukul 10.15 pagi.
Sumber: Officieele Reisgids der Staatsspoorwegen Op Java, en
van de Partikuliere Spoor en Tramwegen
Jadwal perjalanan kereta api jurusan
Purworejo menuju Kutoarjo tahun 1891. Rangkaian kereta yang dijalankan adalah
kereta campuran yaitu sebuah lokomotif uap yang menarik kereta penumpang dan
gerbong barang, Di sini tidak tertera halte lain di sepanjang jalur Purworejo-Kutoarjo karena saat itu
halte-halte tersebut belum dibangun.
Dalam sehari ada 5 kali perjalanan
dari Stasiun Purworejo menuju Stasiun Kutoarjo Sbb :
1. Kereta no. 16, berangkat pukul
06.00 sampai tujuan pukul 06.20 (20 menit).
2. Kereta no. 18, berangkat pukul
08.22 sampai tujuan pukul 08.44 (22 menit).
3. Kereta no. 20, berangkat pukul
10.05 sampai tujuan pukul 10.25 (20 menit).
4. Kereta no. 22, berangkat pukul
13.54 sampai tujuan pukul 14.14 (20 menit).
5. Kereta no. 24, berangkat pukul
15.20 sampai tujuan pukul 15.40 (20 menit).
Foto. Stasiun Kutoarjo bila dilihat dari arsitektur bangunan
dan ketuaan, stasiun kutoarjo lebih tua dari stasiun purworejo. stasiun
kutoarjo adalah salah satu cagar budaya kota kutoarjo, sayang ada sedikit
perubahan-perubahan dan penambahan sehingga tidak terlihat tua dan eksotis semoga masyarakat dan PT KAI memperhatikan UU Cagar Budaya.
Sumber
: Pemberitahuan dari sebuah koran belanda
Tahun 1931 tentang Kereta Api Negara
STAATSSPOORWEGEN
BELANGRIJKE VERLAGING
van vrachtprijzen voor het vervoer
van diverse artikelen met ingang van 15 juli 1931.
van CHERIBON naar het lijnvak
GOMBONG KEBOEMEN-KOETOARDJO - POERWOREDJO
en van TJILATJAP en TJILATJAPHAVEN
naar het lijnvak PREMBOEN-KOETOARDJO - POERWOREDJO.
Vrachtprijzen per 1000 K.G.
|
|
Oud
|
Nieuw
|
|
Buitenlandsche thee van CHERIBON
naar POERWOREDJO
|
f 24.20
|
F 11.50
|
|
Buitenlandsche meel van TJILATJAP
naar KOETOARDJO
|
f 12.80
|
f 9.50
|
|
Provisien en dranken van CHERIBON
naar POERWOREDJO
|
f 23.40
|
f 11.50
|
|
Koopmansgoederen en kramerijen van
TJILATJAP naar KOETOARDJO
|
f 14
|
f 9.50
|
Ook de vrachtprijzen voor de
artikelen Portlandeement, dakijzer, goeniezakken, hars, manufacturen enz,
worden belangrijk verlaagd. voorts heeft aanzienlijke vrachtverlaging van
SUIKER van CHERIBON naar KRAWANG en TJIANDJOER Inlichtingen verstrekken de
inspectiebureau's en de stationschefs
VLUG - VEILIG - GOEDKOOP
Terjemahan :
KERETA API NEGARA
PENURUNAN YANG SIGNIFIKAN
dalam tarif angkutan untuk
pengangkutan berbagai barang yang berlaku mulai tanggal 15 Juli 1931.
dari cheribon ke seksi jalur GOMBONG
KEBOEMEN-KOETOARDJO - POERWOREDJO
dan dari TJILATJAP dan
TJILATJAPHAVEN ke seksi jalur PREMBOEN-KOETOARDJO - POERWOREDJO
Tarif pengiriman per 1000 K.G.
|
|
Lama
|
Baru
|
|
Teh asing dari CHERIBON ke
POERWOREDJO
|
f 24.20
|
F 11.50
|
|
Tepung asing dari TJILATJAP ke
KOETOARDJO
|
f 12.80
|
f 9.50
|
|
Bekal dan minuman dari CHERIBON
sampai POERWOREDJO
|
f 23.40
|
f 11.50
|
|
Toko barang dagangan dan kerajinan
dari TJILATJAP sampai KOETOARDJO
|
f 14
|
f 9.50
|
tarif pengangkutan untuk
barang-barang elemen Portland, besi atap, karung goenie, resin, gorden, dll.
juga berkurang secara signifikan. selanjutnya, pengurangan signifikan
pengiriman GULA dari CHERIBON ke KRAWANG dan TJIANDJOER Informasi disediakan
oleh Biro Inspeksi dan Kepala stasiun.
CEPAT - AMAN - MURAH
Sumber : Koran Aid de preangerbode Dinsdag 26 September
1950.
Gambar. Peta Rel Kereta Api Jawa dan Madura
Tahun 1913
Ada peristiwa sejarah yang heroik di stasiun kutoarjo saat perang kemerdekaan, Setelah kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 usaha melucuti tentara Jepang banyak terjadi, termasuk di kutoarjo.
Di kutoarjo hampir terjadi insiden besar untung ada bekas perwira menengah PETA . Kejadian pada akhir bulan Oktober 1945 ada kereta api dari barat menuju jogja melewati stasiun Kutoarjo membawa gerbong yang berisi penuh senjata dan peluru. Ratusan Pemuda Kutoarjo membawa bambu runcing berdatangan mengepung kereta api di stasiun Kutoarjo dan meminta tentara Jepang untuk menyerahkan senjatanya, mulanya Jepang tidak mau menyerah akan tetapi dengan dibantu seorang bekas perwira menengah PETA sebagai juru bicaranya kemudian Jepang mau menyerahkan persenjataan nya. Ternyata semangat "Bosido" Yang dimiliki tentara Jepang telah luntur karena kekalahan perang Dunia, semangat bosido adalah semangat pantang menyerah, jika perlu bunuh diri menancapkan bayonet ke perut.
Sroehardoyo ( Kelak menjadi Panglima Kostrad Brigjen TNI RM Sroehardoyo 1966-1970) bertemu dengan eks Chudanco PETA Sarbini di Stasiun Kutoarjo dan mengutarakan maksudnya karena ia sadar jika menggunakan kekerasan akan menemui kesulitan, Maka Sroehardoyo menggunakan cara Diplomasi yang disetujui Sarbini. Perundingan berjalan lancar
Persenjataan hasil melucuti tentara Jepang di Stasiun kutoarjo adalah modal awal BKR yang kemudian menjadi TKR untuk membentuk satu Resimen TKR di Purworejo dengan persenjataan lengkap dibawah pimpinan Kolonel Mukahar (Bekas Cudanco Peta) .
Selanjutnya tentara Jepang yang dilucuti di kutoarjo ditawan di tangsi Tuk songo Purworejo. (Sumber :Drs. Iman Pratignyo Dkk. Buku Sejarah Perjuangan Tentara Pelajar Halaman 11-13 dan Majalah Wira volume 56/No.40/september-oktober 2015 halaman 8)
Foto. Depo Sarana Kereta Api Kutoarjo
Stasiun Kutoarjo juga punya Depo Sarana Kutoarjo, Dipo Sarana adalah bengkel perbaikan dan perawatan lokomotif, khususnya kereta api. Pada pengoperasian perkeretaapian Indonesia, khususnya yang dioperasikan oleh Kereta Api Indonesia, depo lokomotif tidak hanya merawat lokomotif yang dialokasikan untuk depo tersebut, namun juga merawat lokomotif milik Depo lain. Hampir di setiap daerah operasi, setidaknya ada satu Depo lokomotif induk yang memiliki lokomotif-lokomotif besar.
Dipo Lokomotif Kutoarjo disingkat KTA di Daop V Purwokerto diantarannya adalah Sawunggalih Utama, Kutojaya Utara, Bogowonto, Kutojaya Selatan dan sebagainya
Dipo lokomotif di suatu daerah operasi tidak hanya merawat lokomotif milik dipo tersebut, namun juga merawat lokomotif milik dipo lain. Hampir di setiap daerah operasi, setidaknya berada satu dipo lokomotif induk yang memiliki lokomotif-lokomotif luhur, seperti lokomotif CC201, CC203, bahkan CC204. Tidak hanya lokomotif luhur ataupun baru yang berada. Bahkan beberapa dipo lokomotif memiliki lokomotif langka dan lokomotif tua. Seperti di Dipo Lokomotif Cirebon yang memiliki lokomotif CC200. Tidak hanya lokomotif yang lengkap, tetapi fasilitas-fasilitas penunjang yang lengkap pula, seperti turn table (pemutar rel) yang berfungsi bagi memutar lokomotif. Berada pula dipo lokomotif yang memiliki kereta derek (crane) yang suatu ketika diperlukan jika terjadi PLH (peristiwa luar biasa hebat). Dipo lokomotif ini tersebar di pulau Jawa maupun di pulau Sumatra.
Dipo Lokomotif di Pulau Jawa Dipo-dipo lokomotif luhur yang terdapat di pulau Jawa antara lain :
1. Dipo lokomotif Cipinang CPN Daop I Jakarta.
2. Dipo Lokomotif Jatinegara JNG Daop I Jakarta.
3. Dipo Lokomotif Tanah Abang THB Daop I Jakarta.
4. Dipo Lokomotif Bandung BD Daop II Bandung.
5. Dipo Lokomotif Cirebon CN Daop III Cirebon
6. Dipo Lokomotif Semarang Poncol SMC Daop IV Semarang.
7. Dipo Lokomotif Purwokerto PWT Daop V Purwokerto.
8. Dipo Lokomotif Kutoarjo KTA Daop V Purwokerto.
9. Dipo Lokomotif Yogyakarta YK Daop VI Yogyakarta.
10. Dipo lokasi Solo Balapan SLO Daop VI Yogyakarta.
11. Dipo Lokomotif Madiun MN Daop VII Madiun.
12. Dipo Lokomotif Sidotopo SDT Daop VIII Surabaya.
13. Dipo Lokomotif Malang ML Daop VIII Surabaya.
13. Dipo Lokomotif Jember JR Daop IX Jember.
Dipo Jatinegara salah satu dipo lokomotif tersibuk. Selain wajib mengurus lokomotif sendiri, dipo ini wajib mengurus lokomotif tamu milik dipo lain. Dipo ini berada di Jalan Pisangan Baru Raya No. 1 Jatinegara, Jakarta Timur. Dipo lokomotif ini memiliki lokomotif CC201 dan CC203 bagi meladeni dinasan kereta api barang dan kereta api penumpang.
Beberapa dipo lokomotif kecil ataupun yang berstatus sub dipo di pulau Jawa antara lain :
1. Dipo Lokomotif Rangkasbitung RK Daop I Jakarta
2. Dipo Lokomotif Cianjur CJ Daop II Bandung
3. Dipo Lokomotif Cibatu CBT Daop II Bandung
4. Dipo Lokomotif Banjar BJR Daop II Bandung
5. Dipo Lokomotif Tegal TG Daop IV Semarang
6. Dipo Lokomotif Cepu CU Daop IV Semarang
7. Dipo Lokomotif Ambarawa ARW Daop IV Semarang
8. Dipo Lokomotif Cilacap CP Daop V Purwokerto
9. Dipo Lokomotif Kertosono KTS Daop VII Madiun
10. Dipo Lokomotif Kediri KD Daop VII Madiun
11. Dipo Lokomotif Blitar BL Daop VIII Surabaya
12. Dipo Lokomotif Banyuwangi BW Daop IX Jember
13. Dipo Lokomotif Jombang JG Daop VII Madiun
14. Dipo Lokomotif Jatinegara (JNG)
Foto
Bung Karno saat pidato di Stasiun Kutoarjo, stasiun kebanggaan masyarakat
kutoarjo.
Hasil
jepretan nya eyangnya Mas Agus jerapah dari kelurahan Katerban kutoarjo.
Sejarah membuktikan kalau Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno pernah berkunjung ke Kutoarjo dan Pituruh. Salah satunya di Stasiun KAI Kutoarjo dan Desa Ngandagan Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.
Harapan nya semoga nanti Pemkab Purworejo memberi perubahan nama Jalan di depan Stasiun KAI Kutoarjo dengan Nama Jalan Ir. Soekarno, yang tentunya dengan dasar dilakukan kajian yang mendalam melalui diskusi dengan menghadirkan sekaligus mendengar masukan dari para pemerhati sejarah, ahli waris pemilik bukti sejarah, tokoh masyarakat, juga para pelaku usaha dan stakeholder lain.
ada sejumlah alasan Historis, filosofis, motivasi, sugesti, dan yuridis mengapa perubahan nama jalan itu perlu dilakukan. Pertama untuk alasan filosofis, pemerintah perlu mengganti nama jalan untuk menghargai dan mengenang jasa para pahlawan Nasional dan mengenang jasa dari para tokoh lokal daerah di Purworejo-Kutoarjo, seperti salah satu pendiri Budi Utomo dar Grabag yaitu DR. dr Moch Soeleiman, juga Nama-nama Bupati Ex Kabupaten Kutoarjo seperti Adipati Sawunggaling, R.M.A. Soerokoesomoe, R.M.T. Pringgo Admodjo, Pangeran Adipati Poerbo Admodjo, K.R.A.A. Poerbo Hadikoesomoe.
Stasiun Kutoarjo Sebagai Pusat Jasa Pelayanan transportasi massal sesuai kepadatan
Penduduk dan Kebutuhan masyarakat juga Kemajuan Peradaban dari masa ke masa harus meng-upgrade untuk meningkatkan Sarana Prasarana dan
Fasilitas Juga Kualitas Pelayanan. Bangunan diperluas dan diperlebar tanpa
merubah bangunan pokok sebagai cagar Budaya, mengingat bangunan Stasiun Kutoarjo
Adalah Bangunan Tua dan Cagar Budaya, Tempat Parkir Harus diperluas, menjaga kebersihan, menjaga ketertiban, menjaga keamanan, menjaga keselamatan, menjaga kenyamanan, ramah tamah, kualitas pelayanan di tingkatkan, dan
sebagainya.
Sedangakan stasiun Purworejo dibuat
untuk mendukung logistik kemiliteran karena kota Purworejo adalah kota
yang relatif baru, didirikan oleh pemerintah penjajah Hindia Belanda
sebagai tangsi militer Belanda atau Garnizun, juga untuk menghubungkan dua kota besar yaitu Kota Kutoarjo dan Kota Purworejo sekalipun pada akhirnya Kabupaten Kutoarjo dan Kabupaten Purworejo digabungkan oleh Belanda pada Tahun 1934. Jalur rel kota kutoarjo dan kota purworejo sangat pendek hanya sekitar 11 km, Pada tahun 1980-an jalur ini sempat dinonaktifkan lalu jalur ini kembali diaktifkan terbatas pada tahun 1990-an untuk mendukung operasi kereta api penumpang di jalur utama lintas selatan. Pada bulan November 2010, jalur kereta api ini sepenuhnya dinonaktifkan dan stasiun Purworejo ditutup.
|
Kode Stasiun
|
Nama Stasiun
|
Singkatan
|
Alamat
|
Letak
|
Ketinggian
|
Status
|
|
2040
|
Kutoarjo
|
KTA
|
Jln. Stasiun Kutoarjo 1 Semawung Daleman, Kutoarjo, Jawa Tengah 54212
|
Km 478+845
|
+16 m
|
Beroperasi
|
|
|
Besole
|
BRS
|
|
Km 2+493
|
|
Tidak Beroperasi
|
|
2053
|
Batoh
|
BOH
|
|
3+906
|
|
Tidak Beroperasi
|
|
2052
|
Grantung
|
GRA
|
|
Km 5+907
|
|
Tidak Beroperasi
|
|
2051
|
Kenteng
|
KTG
|
|
Km 8+467
|
|
Tidak Beroperasi
|
|
2050
|
Purworejo
|
PWR
|
Jln. Mayjen Sutoyo, Kota Purworejo
|
Km 11+668
|
+63 m
|
Tidak Beroperasi
|
Stasiun Kutoarjo adalah Stasiun Utama dan Besar Kelas A, sehingga menjadi Pemberangkatan Awal dan pemberhentian Ujung. Stasiun Kutoarjo memiliki Beberapa Rangkaian Gerbong Kereta Api yaitu Sawunggalih/Sawunggaling, Kutojaya, dan Prambanan Ekspres (Prameks). Stasiun Kutoarjo dikelola oleh PT. KAI Persero.
Demikian tulisan artikel ilmiah saya yang sederhana, dan telah melewati proses kajian dan riset sera Eempirik juga mencari data pendukung atau referensi sumber primer dan sekunder yang shahih untuk obyektivitas, kredibilitas, juga validasi serta bisa di klarifikasi.
Tulisan ini saya tulis untuk menolak lupa khususnya kepada diri saya sendiri, serta umumnya kepada masyarakat Indonesia
mohon kritik dan saran yang Konstruktif
Kutoarjo, 14 Juli 2021
Ditulis Oleh : Ndandung Kumolo Adi, Pencinta dan Pengamat Sejarah, Budaya, dan Heritage Ex Kabupaten Kutoarjo.
Email : ndandungkumala@gmail.com
Whatsaapp : 0888-0391-6811
Sumber :
- Staatsblad (lembaran negara) No.
110, 20 Juli 1884).
- Koran Het
Niuews Van Den Dag" Voor nederlandsch-Indie terbit hari senin tanggal 3
April tahun 1933.
- Linck, 1935:1
- Regenering Almanak Nederlandsch-Indisch Tahun 1831.
- Van Ballegoijen de Jong, Spoorwegstations op Java (Railway Stations in Java), Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 1993, hlm. 148.
- Peta Rel Kereta Api Jawa dan Madura
Tahun 1888 dan 1913
- Koran Bataviasch Handelsbla, Tertanggal 16 Juli 1887.
- History of Railways in Indonesia - http://keretapi.tripod.com/history.html.
- GEDENKBOEK der Staatsspoor en Tramwegen in Nederlandsch Indie
(1875-1925), Buku Kenang-kenangan kereta api dan trem di Hindia Belanda untuk
masa laporan tahun 1875-1925, oleh S.A. Reitsma (Redaktur), Dinas Informasi
Topografi Hindia Belanda - Jatinegara 1925.
- Officieele Reisgids der Staatsspoorwegen Op Java, en
van de Partikuliere Spoor en Tramwegen.
- Koran Aid de preangerbode Dinsdag 26 September
1950.
- Drs. Iman Pratignyo Dkk. Buku Sejarah Perjuangan Tentara Pelajar Halaman 11-13.
- Majalah Wira volume 56/No.40/september-oktober 2015 halaman 8