Abstrak : Artikel ini mengkaji asal-usul K.H.R. Imam Puro atau Khasan Benawi sebagai ulama besar Tarekat Syattariyah yang berasal dari Desa Tepus, eks Kabupaten Kutoarjo, kini termasuk Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Pembahasan meliputi latar belakang keluarga, garis keturunan yang dikaitkan dengan Joko Umbaran, pendidikan keagamaan kepada Kromo Joyo di Desa Tepus dan Kiai Rofingi di Loning, hingga hijrah ke Ngemplak, Purworejo, tempat beliau mendirikan masjid dan pondok pesantren. Artikel ini juga mengulas pengaruh K.H.R. Imam Puro dalam perkembangan Tarekat Syattariyah di wilayah eks Karesidenan Bagelen serta menempatkan perjalanan hidup beliau dalam konteks sejarah abad ke-19. Selain itu, dibahas pula pandangan hasil sarasehan sejarah yang menghadirkan sejarawan Dr. Achmad Athoillah, M.A., sebagai upaya memperkuat kajian melalui pendekatan ilmiah dan bukti-bukti sejarah. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya historiografi lokal Purworejo serta mempertegas kontribusi K.H.R. Imam Puro dalam perkembangan Islam di Jawa.
K.H.R. Imam Pura atau biasa disebut Mbah Imam Puro bernama kecil Khasan Benawi, seorang keturunan ke-8 dari Joko Umbaran yang merupakan kerabat dekat Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam.
Mbah Imam Puro mempunyai Guru Ngaji pertama bernama Kromo Joyo seorang Kaum di desa Tepus Kutoarjo.
Mbah Imam Puro berasal dari Desa Tepus Kutoarjo, yang pada masa mbah imam puro, Tepus adalah wilayah eks Kabupaten Kutoarjo.
Yang sekarang menjadi desa Tepus wetan dan Tepus kulon kecamatan Kutoarjo kabupaten Purworejo Jawa tengah.
Setelah berguru ngaji ke kaum desa Tepus kromo Joyo beliau juga berguru Ngaji ke Mbah Kyai Rofingi Loning.
Setelah belajar agama Islam dari berbagai guru, juga belajar tarekat satoriyah di Mbah rofingi loning beliau lalu hijrah menetap ke Ngempak Purworejo dan mendirikan Pondok pesantren dan masjid di sana.
K.H.R. Imam Puro merupakan ulama besar tarekat satoriyah di Jawa pada masanya yang punya ribuan santri dan di kenal luas di eks Karesidenan Bagelen.
Pada masa beliau karesidenan bagelen masih ada baru 1 Agustus 1901 karesidenan bagelen di bubarkan oleh Belanda dan di gabungkan dengan karesidenan kedu.
Serta Mbah Imam Puro tidak se-era dengan Pangeran Diponegoro juga tidak terlibat perang Diponegoro.
Mbah imam puro kasareaken ing pereng bukit "Ngemplak Giger Menjangan" Candi Baledono Purworejo.
Ikuti sarasehan dengan tema "Meneladani Mbah Imam Puro" bersama sejarawan UGM jg dosen Sejarah UGM yg punya metode ilmiah dan realistis jg data2 bukti2 sejarah yang kuat tentang Mbah imam Puro serta menghasilkan Hipotesa yang logis bersama Sejarawan Dr. Amat atthoilah M.A.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=316098593324883&id=100047742347380&sfnsn=wiwspwa
🔴(LIVE) Puncak Gebyar Syawalan Ke- 1 GP Ansor Baledono 30 mei 2021
SARASEHAN
"Meneladani Mbah Imam Poero"
Bersama :
- Dr. Achmad Athoillah, MA
Sejarawan Islam Abad 19 & Alumni Doktoral Sejarah FIB UGM
- KH. Ahmad Hamid AK, S.Pd.I
Ketua Bani Imam Poero & Ketua MUI Kab. Purworejo
- M. Hidayatulloh ( Mbah Doyok )
Moderator


Tidak ada komentar:
Posting Komentar