SARASILAH R.M SOEROMENGGOLO SUMARE ING TURSINO KUTOARJO
LURAH PERDANA TURSINO MERANGKAP GLONDONG
1. Masjid Jami' Baitul Muhtadin.
2. Masjid Jami' Al isti'adah.
3. Musholla Jamius Salim.
4. Musholla Thoriqun Naja'
5. Musholla Al Amanah.
- Sedekah Jariyah
- Ilmu yang bermanfaat
- Anak (cucu dan keturunan) yang selalu mendo'a-kan
- Al Qur'an
- Hadist
- Sunanah Nabi
- Itjma
- Qiyas
- Itjihadh ulama-ulama terdahulu
- Mengamalkan Ajaran Islam Ahlu Sunnah Wal Jammaah, yang berpegang pada nilai-nilai :
- Tasammuh (toleransi)
- Tawassuth (moderat)
- Tawazzun (seimbang), dan
- 'Adalah (Adil)
- Interpretasinya terhadap Agama Islam dan budaya di Jawa,
- Tidak mewakili Fakta Realitas masyarakat Jawa,
- Tidak mencerminkan dinamika sosial yang lebih kompleks,
- Pendekatan dan kajian serta penelitian Clifford Geetrz juga mengabaikan faktor-faktor struktural, ke-ilmu-an Agama Islam (Al Qur'an, Hadist, Sunnah Nabi, Itjma, Qiyas, Itjihad, Sejarah Islam, Riwayat para sahabat, Tafsir Para Fukoha dan Imam Mahzab, dsbnya)
- Pendekatan, kajian, dan penelitian mengabaikan faktor historis yang mempengaruhi budaya.
- Geertz memandang Agama islam sebagai bagian integral dari sistem budaya, namun pandangan ini ditentang oleh ilmuwan-ilmuwan yang menekankan aspek-aspek sosial, politik, ekonomi dalam fenomena Agama Islam yang dianggap sebagai simbol semata.
- Sejarah berfungsi sebagai peneguh hati.
- Sejarah berfungsi sebagai pengajaran dan informasi. Sejarah merupakan Pendidikan (Ma'uidzah) Alloh terhadap kaum muslimin dan muslimat, sebagai peringatan dalam menjalani risalah Rasul. dalam surat al a'raf 176, Alloh SWT Berfirman : ...."maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah agar mereka berfikir". dengan Sejarah manusia di tuntut berpikir dalam arti menjadikan sejarah sebagai pelajaran dan peringatan untuk menentukan langkah selanjutnya.
- Sejarah berfungsi sebagai peringatan. selain menjelaskan fungsi sejarah, Al Qur'an juga menegaskan tentang akhir dari perjalanan sejarah. Sejarah juga berfungsi sebagai peringatan bagi generasi berikutnya melalui peristiwa yang menimpa generasi sebelumnya. (QS. 2:66 ; 4:84). Banyak ayat-ayat Al Qur'an yang memerintahkan untuk melakukan penelitian (tandzirun) terhadap peristiwa sejarah secara obyektif, ilmiah, dan sains history. (QS. 47:10 ; 12 : 109; 12 : 46).Melalui kajian sejarah yang kredibel, obyektif, akademik, dan bisa dipertanggungjawabkan maka peristiwa besar atau kecil akan disebut sejarah tapi bila tidak maka akan disebut dongeng belaka, mitos belaka, dan legenda belaka.
- Sejarah sebagai sumber kebenaran yang Obyektif dan Kredibel serta Tashdiq (membenarkan dan meneguhkan).Maksudnya adalah sejarah menjadi legalitas yang otentik (landasan kebenaran) dan petunjuk bagi manusia. orang yang memahami sejarah akan mengerti dan punya analisis yang logis bahwa kehidupan dimulai darimana, bagaimana menjalani hidup dan akan kemana tujuan hidup serta perjalanan hidup berakhir. jadi sejarah akan menerangi setiap langkah yang telah, sedang akan dijalani. (QS. 4 : 137-138 ; 12 : 111).
R.M. Soeromenggolo entah itu ditunjuk dan diangkat oleh Kraton atau masyarakat setempat dan diberi mandat jadi Lurah Desa Tursino sekaligus Glondong di utara gunung tugel kutoarjo yang meliputi Desa sokoharjo, Tepus, kemadu, kaligesing, wirun, karangrejo, dan Tursino.
"Soeromenggolo" adalah sebuah nama Gelar, entah itu gelar ke-Ningratan, entah itu gelar Ke-Pemimpinan, entah itu gelar ke-ilmuan. yang jelas itu adalah Asmo gelar. sehingga banyak sekali Nama Soeromenggolo, Sawunggaling, Diponegoro, Yudonegoro, Surokusumo, Djoyo Sundargo, Dipomenggolo, dan lain-lainnya di pulau Jawa terutama di era Mataram Islam karena "Soero" adalah nama Bulan di Kalender Islam dan kalender jawa dimana di era Raja Mataram Islam ke-3 yaitu Sultan Agung, kedua Kalender ini disatukan, orang jawa menyebut Bulan Muharram dengan nama bulan Suro dengan mengambil hari ke 10 bulan Muharram yang disebut Hari Asyyuro lalu disebut "Suro".
Penanggalan Jawa merupakan Sistem Kalender Tradisional yang berdasarkan peredaran Bulan, yang dikenal sebagai kalender Lunar. sejarah penanggalan jawa berasal dari sistem kalender Hindhu-Budha, lalu pengaruh Islam pada abad ke-15 masuk ke Nusantara atau jawa oleh para ulama alias kasta brahmana dengan memperkenalkan Kalender Hijriah, dan pada abad ke-17 Susuhunan Sultan Agung Raja Mataram Islam menciptakan Penanggalan jawa yang disatukan dengan Kalender Hijriah, menggabungkan kalender jawa/saka atau syamsiah alias matahari dengan kalender Hijriah yang menggunakan Qomariah atau Bulan. Penanggalan Jawa-Hijriah digukan secara resmi di jawa dari era Sultan Agung yaitu Juma'at Legi 8 Juli tahun 1633 Masehi atau Tahun Islam 1043 atau Tahun Jawa 1555 Saka sampai sekarang. sedangkan Kalender Jawa atau dusebut kalender Saka yangg menggunakan Syamsiah (matahari) sebagai acuan dimulai pada hari Sabtu 14 Maret 78 Masehi saat Penobatan Pabu Syaliwahono (Aji saka), sedangkan Kalender Hijriah atau Kalender Islam merupakan kalender yang sistemnya di mulai sejak ke-khalifan Umar bin Khatab yang berpatokan pada saat Nabi Muhammad SAW Hijrah dari Mekah ke Yastrib/Medinah untuk menghindari pembuhuhan yang akan dilakukan kaum kafir quraisy di mekah yang terjadi pada tahun 622 Masehi menurut Kalender Nabi Isa AS.
- Sura
- Sapar
- Mulud
- Bakda Mulud
- Jumadilawal
- Jumadilakir
- Rejeb
- Ruwah
- Pasa
- Sawal
- Dulkangidah
- Besar
- Menggunakan Bulan sebagai acuan.
- Jumlah Bulan adalah 12 yaitu Suro, sapar, mulud,bakda mulud, jumadilawal, jumadilakir, rejeb, ruwah, poso, syawal, dulkaidah, besar.
- Satu tahun berjumlah 354/8 hari atau 354 hari 9 jam
- Dalam jangka waktu 120 tahun terdapat kelebihan 1 hari yang harus dikurangi.
- dimulai pada Tahun 1555 bertepatan dengan tahun 1633 Masehi untuk kalender orang barat/kristen berpatokan pada kelahiran Nabi Isa As, dan 1043 Hijriyah untuk kalender Islam yang berpatokan dengan hijrah nabi muhammad SAW dadi Mekah ke Medinah.
- Umur bulan 30 dan 29 hari. bulan ganjil berusia 30 hari, sedangkan genap berusia 29 hari.
- Satu daur berjumlah 8 tahun, daur ini dinamakan dengan windu. sehingga asal-muasal istilah "Windu" berasal dari 8 tahun ini.
- Dari 8 tahun tersebut, ada 3 tahun panjang yaitu pada tahun ke-2,5,8 yang disebut dengan Wuntu jumlah hari dalam satu tahun wuntu adalah 355 hari.
- Tahun pendek adalah tahun ke 1,3,4,6,7 yang disebut dengan wastu. jumlah harinya ada 354 hari.
- Maing-masing tahun dalam satiu windu (8 tahun) tersebut diberikan istilah menggunakan huruf ababjadiyah sebagai berikut :
- Tahun ke-1 disebut Alip
- Tahun ke-2 disebut Ehe
- Tahun ke-3 disebut Jimawal
- Tahun ke-4 disebut Ze
- Tahun ke-5 disebut Dal
- Tahun ke-6 disebut Be
- Tahun ke-7 disebut Wawu
- tahun ke-8 disebut Jimakir.
Menurut ketentuan diatas, setiap 120 tahun terdapat kelebiahan 1 hari yang harus dibuang sehingga diabuatlah ketentuan untuk mengurangi satu hari pada tahun pamjang (Wuntu) yang dirumuskan dengan istilah " Huruf": dengan sistem huruf ini, akan diketahui hari dan pasaran pada tahun pertama (alip) dalam satu windu/daur. samapi dengan tulisan ini saya buat, terdapat emapat "huruf" yang sudah dilewati dan sedang dilewati, yaitu :
- Jami'yah Legi (jum'at-Legi), mulai tahun 1555 - 1627 Kalender Jawa-Islam
- Amiswon (Alip-Kamis-Pon), mulai tahun 1627-1747 Kalender Jawa-Islam
- Aboge alip-Rebo-Wage), mulai tahuhn 1747-867 kalender Jawa-Islam.
- Asapon (Alip-Selasa-Pon), mulai tahun 1867-1987 Kalender Jawa-Islam.
- Penanggalan Jawa-Islam masih digunakan dalam ritual keagamaan jawa non islam sampai sekarang
- digunakan untuk menentukan tanggal perayaan Hari Besar Agama seperti Nyepi, Idul Fitri, Maulud Nabi SAW, dan Idul Adha.
- Sebagai bagian dari Syiar Budaya Islami, Kearifan lokal, dan identitas jawa.
Ada sejarah penting di dalam Tarikh sejarah Islam dibulan Muharram/Suro, ini seperti :
- Keberanian Nabi Muhammad SAW dan sahabat dalam hijrah ke Mekah-Medinah melewati penderitaan dengan berjalan kaki ratusan kilometer dari Mekah ke Yastrib/Medinah,
- Juga cerita kepedihan yang terjadi di hari ke-10 bulan Muharram atau disebut Hari Asyuro yaitu Gugurnya cucu Nabi SAW Sayidina Husein RA di padang karbala,
- Diciptakan Nabi Adam AS,
- Diterimanya taubat Nabi Adam AS,
- Naik sejajarnya perahu Nabi Nuh AS dengan bukit Judi setelah banjir bandang besar,
- Dikeluarkan Nabi Yunus AS dari perut ikan paus,
- Diterimanya taubat Nabi Yunus AS,
- Dilahirkan Nabi Ibrahim AS,
- Dikeluarkan Nabi Yusuf dari Sumur setelah diceburkan saudara-saudaranya,
- Dipertemukan Nabi Yusuf AS dengan keluarganya,
- Disembuhkan penglihatan Nabi Yaqub AS,
- Dibukanya (dihilangkan) 'madhorot' yang mendera Nabi Ayyub AS,
- Diampuninya Nabi Daud AS,
- Terbelahnya Laut merah Untuk Nabi Musa AS dari kejaraan Fir'aun,
- Tenggelamnya Fir'aun di laut merah,
- Dilahirkannya Nabi Isa AS,
- Diangkatnya Nabi Isa AS ke langit,
- Dilindungi-Nya tubuh Ashabul Kahfi (para pemuda Bani Israil yang bersembunyi di dalam gua),
- Diciptakannya Ruh Nabi Muhammad SAW,
- Dikandungnya Nabi Muhhammad SAW di Rahim Ibunda Siti Aminah. Dan sebagainya.
- Berjanjen
- Yasin-tahlil
- Slametan Kematian ( 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari dan seterusnya)
- Kenduri
- Rejeban
- Ruwahan atau sadaranan di Makam Eyang Soeromenggolo
- Maulid Nabi
- Khotmil Qur'an atau khataman Qur'an serta Peserta di arak dengan Kuda keliling desa-desa
- Suroaan
- Rebo Wekasan
- Syabanan
- Mbubur Suro
- Tumpengan
- Berkatan/Sedekahan
- Brokohan
- Ngupati
- Mitoni
- Tingkeban
- Selapanan
- Sepasaran
- Walimahan
- Among-amongan
- Halal-bihalal
- Dan sebagainya
Kegiatan Sosial Kemasyarakatan yang masih dikakukan oleh warga Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa tengah serta menjadi Norma Sosial atau Wewaler juga Kebiasan lama yang luhur/mulia juga menjadi Budaya adat istiadat yang mulia dan relevan sepanjang zaman adalah :
- Musyawarah
- Gotong Royong
- Rewang/lagan
- Halal-bihalal
- Menengok saudara atau tetangga yang sakit ataupun yang baru melahirkan
- Sinoman
- Kerja Bakti
- Sambata Pembentukan Panitia Hajatan Pernikahan, Panitia Hari Besar Islam, Panitia HUT RI, Panitia kepemudaan, Panitia kelompok tani, Dsb.
- Menggali Kubur
- Ronda Malam
- Dan Sebagainya
Kita tidak tahu Seratus (100) tahun yang akan datang kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan dan Syiar Islami yang telah menjadi norma, Budaya, dan Istiadat yang luhur dan mulia juga relevan sepanjang zaman ini masih ada, berjalan, dan eksis ditengah gempuran zaman, arus Globalisasi, Era kecanggihan teknologi, Era Digital, Era Disrupsi, serta kedatangan para ulama di masyarakat, Sosial Media dan TV dengan Doktrin serta tafsir juga pemahaman Agama yang beraneka ragam dan bebeda-beda. Sehingga Syiar Islami berdasarkan Sunah dan ajaran Nabi Muhammad SAW, Al Qur'an, Hadist, Ijma, Qiyas, Ijihadh malah di Bid'ah-bid'ah-kan, disesatkan, di-musyrik-kan.
maka tanggung jawab juga kesadaran kita untuk memahami itu serta memberikan pengertian, nilai-nilai, dan pemahaman terhadap anak-cucu agar nantinya tidak salah kaprah.
"Menjaga kijing dan nisan makam tua adalah bentuk menjaga sejarah desa" Kijing, Jirat dan
nisan makam terutama Makam-makam tua adalah sebuah Artefak. Artefak adalah benda atau obyek buatan tangan manusia atau benda alam yang dimodifikasi oleh manusia yang memiliki nilai Sejarah, Seni,keindahan, budaya, dan Arkeologi. Nisan jirat eyang soeromenggolo adalah sebuah Artefak yang terbuat dari batu wadas yang biasanya di
buat oleh pengrajin makam dari penduduk lokal setempat ataupun tetanga desa dengan guratan-guratan, gaya/style, kaidah-kaidah, aturan-aturan, pakem-pakem tertentu, dan
nisan makam eyang R.M. Soeromenggolo bergaya "Mataram Boyolalen" yang
menurut sahabat saya seorang Akademisi Dosen UIN Sunan Kalijaga Gus Yaser Muhammad Arafat peneliti
Budaya Jawa, Sejarawan, sekaligus Filolog, Arkeologi, dan pengkaji bentuk
rancang bangun nisan jirat makam, beliau yang disemayamkan di makam itu (Eyang
Suromenggolo) mengambil sanad ke ilmuan dari daerah Boyolali. Yang di masa lalu tarekat disebut "sanad suluk".
Dilihat dari nisan jirat makam beliau menurut kajian dan penelitian Gus Yaser
yang dilakukan bertahun-tahun lamanya, menandakan beliau tugas nya sebagai
"Ngulama-Ksatrian", atau ulama kejadugan, kalau dianalogikan saat ini
adalah ulama militer.
Sejarah Bangsa ini adalah sejarah desa, bangsa ini berdiri diatas mayat-mayat para pembuka peradaban, merawat makam tua, pohon tua, masjid tua, langgar tua, belik tua, silsilah leluhur desa adalah merawat sejarah bangsa. untuk itu makam-makam tus sebagai artefak jangan sampai dirubah apalagi dihancurkan, pohon-pohon tua sebagai artefak hidup yang berada di makam-makam, belik, masjid, di pemukiman masyarakat seperti Kepuh, Ketileng, Bendo, Winong, Nogosari, Trembesi, mentaok dan sebagainya jangan ditebang, belik tua jangan dihancurkan, masjid tua jangan diribohkan karena itu semua saling berkaitan, saling terkoneksi, saling terkonfirmasi ditambah nanti peninggalan artefak di masyarakat desa seperti keris, tombak, pedang, payung, mimbasr masjid.
Generasi sekarang tidak tahu adanya Pohon Winong, Pohon bendo, Pohon Nogosari, Pohon Ketileng, Pohon Suren, Pohon Mentaok, Pohon Kecacil/Kosambi, Pohon Kemuning, Pohon Sambeng, Pohon Blambangan, Pohon Bungur, Pohon Tepus, Pohon Temon, Pohon Kemloko, Pohon Jombang, Pohon Kendal, Pohon Suren, Pohon Secang dan sebagainya. Nama-nama Desa dan Dusun di Jawa umumnya adalah toponim nama Pohon-pohon tua, yang sekarang jarang kita temui, sehingga ada desa tepus, desa winong, desa suren, desa kendal, desa kepuh, desa sambeng yang itu semua adalah nama-nama Pohon sehingga tidak heran ada puluhan nama desa winong di pulau jawa. tapi sayangnya generasi sekarang mengalami krisis pengetahuan tentang itu semua.
Dimakam atau kuburan kita bisa mempelajari Artefak jirat nisan makam, ukiran-ukiran jirat nisan, lekukan-lekukan jirat nisanm pahatan-pahatan jirat nisan makam, style makam, era makam dan sebagainya.
Berikut Nama-nama Sesepuh/kamituwo Desa Tursino dan Lurah Desa Tursino dari masa ke masa :
- R. Soeromenggolo bin R.Ngabei Mertodiwiryo Keturunan Amangkurat I dan Brawijaya V. Soeromenggolo seorang Lurah Desa Tursino, Sekaligus gelondong yang membawahi desa tursino, wirun, Karangrejo, Kaligesing, kemadu, Sokoharjo. Juga merangkap sesepuh ataupun kepala desa Tursino pada tahun sekitar kurang-lebih 1800-an.
- R. Soerat Admojo putera dari R. Soeromenggolo yang melanjutkan sebagai glondong merangkap lurah Desa Tursino. Juga pada tahun 1800-an
-
R. Tjokrosumarto, Tjokrosumarto bin R. Martodimedjo bin R.M. Soeromenggolo menjabat glondong dan Lurah Desa Tursino sekitar Tahun 1900an.
5.
6.
Menjabat dari tahun 1973 Sampai 1979.
Selain jadi Kepala Desa, bBapak Pawiro Diharjo juga Pernah Menjabat Sebagai Congkok.
Nama Muda Beliau adalah Wal Qobri, Mendekati Usia Tua beliau berganti Nama Pawiro Diharjo
7.
8.
10.
11.
12.
13.
RM.Soeromenggolo yang masih Keturunan Prabu Brawjaya V Majapahit, Sultan Agung Hanyorokusumo, Juga keturunan Susuhunan Amangkurat Agung I sedangkan istri beliau adalah Buyut dari Raja Mataram Susuhunan Prabu Amangkurat IV. R.M. Soeromenggolo menurut ceita folklor atau cerita tutur masyarakat juga menjadi Senopati Pendamping Pangeran Diponegoro, beliau adalah juga ahli beladiri yang ilmunya turun menurun dari leluhurnya. diceritakan bahwa di desa tursino pernah terjadi perang besar antara pengikut Pangeran Diponegoro melawan Belanda, dan itu tertulis di dalam buku sejarah di perpustakaan umum kutoarjo juga di Babad Kedungkebo karya Bupati Purworejo Perdana yaitu K.R.A.A. Tjokronegoro I yang mengisahkan perang jawa yang terjadi di tahun 1825-1830 yang berarti eksistensi Desa Tursino dan nama desa tursino saat perang jawa masih ada. serta melihat bentuk nisan jirat makam secara umum berlanggam atau bergaya Hamengkubuwanan kemungkinan Desa Tursino muncul di Abad 17-18 atau antara tahun 1600- 1700 Masehi.
RM. Soeromenggolo mempunyai dua istri, istri kedua adalah keturunan Ki Ageng Tursuli putri dari RM. Ketomenggolo/M.Sulaiman Bin BPH Singosari/RM. Sunaka Bin Susuhunan Prabu Amangkurat IV
Di Era Disrupsi, Era Kecanggihan Teknologi, Era AI (ARTICIAL INTELLIGENCE) alias Kecerdasan buatan, Era kecanggihan internet dan komunikasi. Apalagi generasi Z Kelahiran tahun 1997-2012, generasi Alpha kelahiran tahun 2013 - 2024, geerasi Beta kelahiran 2025 - 2039.serta memunculkan dan menciptakan generasi Strawbeery adalah generasi yang dimanja, yang ego apatis, yang lemah mentalnya, yang tidak bisa mandiri, gampang putus asa, gampang frustasi, gampang stress, gampang depresi, introvert, serta ketergantungan pada orang tua. Maka pendekatan sosialisasi, informasi, dan pelestarian lewat berbagai media dan strategi termasuk memanfaatkan teknologi, internet, sosial media menjadi sangat penting, fundamental, serta urgent di lakukan dan dibutuhkan terus menerus agar generasi muda tahu silsisilahnya, tahu sejarah leluhurnya dan desanya, tahu budayanya, tahu bahasa daerahnya, tahu akar rumputnya, tahu asal usulnya, tahu identitasnya. penelusururan silsilah, penelusuran sejarah, kajian bentuk nisan makam, kajian bentuk ukiran masjid dengan berbasis sains history, histiografi, antropologi, sosiologi, dan filolog merupakan upaya pelestarian, konversasi, dan menolak lupa, serta membangkitkan memori kolegtif.
Umumnya Makam-makam Sesepuh Desa atau daerah di makamkan di tengah-tengah paling Utara ataupun sedikit ke-tengah tapi masih di sisi utara, yang kemungkinan di sebelah utara ada makam-makam baru. dan Mkamnya umumnya di beri batas dan agak ditinggikan sebagai penghormatan atau adab. Sebagai bentuk adab, bakti, dan terimakasih generasi muda atau yang masih hidup kepada generasi tua yang sudah tiada Setiap bulan-bulan tertentu masyarakat desa,ataupun kota khususnya di Desa Tursino berkumpul dan bergotong royong melakukan bersih makam juga ruwahan atau nyadran di komplek makam para umaro dan ulama Desa Tursino yang didalamya ada makam Eyang R.M. Soeromenggolo bersama istri beliau R.A. Soeromenggolo, komplek makam tersebut oleh masyarakat desa tursino disebut makam "Gedong". Makam Gedong adalah komplek makam para Cikal bakal dan sesepuh desa di masa lalu dan warga masyarat juga para keturunan Eyang R.M. Soeromenggolo dan Kyai R.M. Chasan bin Syekh Lukman Hakim/RA Sansangid sudah tidak boleh dimakamkan disitu lagi, karena makam itu sudah menjad Artefak, simbol dan monumental masyarakat Desa Tursino. "Menjaga Makam Tua, Menjaga Makam Leluhur, Menjaga Nisan Makam agar tidak dirubah ataupun diganti adalah merawat dan menjaga Sejarah desa agar bisa diketahui, dikaji, diteliti, dibaca oleh generasi yang akan datang, nisan jirat maesan makam adalah artefak"
Menurut keterangan Bapak R. Wahyu Djatmiko, Eyang R.M. Soeromenggolo mempunyai kakak seperguruan yang menjadi Patih Kabupaten Semawung (Kabupaten Semawung sebelum berganti nama menjadi Kutoarjo) Era Bupati Adipati Sawunggaling II semawung, pada masa itu juga melewati masa Perang Besar Diponegoro tahun 1825 - 1830 M.
I. B.P.H Singosasari Bin Amangkurat IV, menikah dengan istri ke-?, Peputro :
I.1. R.M. Ketomenggolo alias R.M.Sulaiman bin R.M Sunaka alias Bandoro Pangeran Hayo Singosari bin Prabu Amangkurat IV Jawi mempuyai tiga putra :
I.1.1. R.M. Dityoyudo menikah dengan..?....., mempunyai tiga putra :
I.1.1.1. R.A. Mariyem menikah dengan Citro Menggolo, Peputro :
Nama-nama putra-putra Amangkurat IV Bin Pakubuwana I di Kartasura Hadiningrat :
Saat itu belum ada ketentuan nama/gelar raja, dimana Amangkurat IV yang adalah putra Susuhunan Pakubuwana I justru tidak mengambil gelar lanjutan yaitu Pakubuwana II, tetapi ia mengambil gelar Raja sebelumnya yaitu Amangkurat III. Jadi ia bergelar Amangkurat IV. Biasa juga disebut "Amangkurat Jawi" gelar anumerta yang menyiratkan penghormatan orang jawa karena keturunannya banyak yang menjadi Raja dan tokoh ulama.
Ini Nama-nama Putra-putrI Susuhunan Amangkurat IV Jawa :
- Pangeran Riya/Pangeran Pancoran/Kanjeng Gusti Pangeran Arya Mangku Negara * diasingkan/diselongakèn ke Kup (Tanjung Harapan/Cape of Good Hope, Afrika Selatan). Beliau Ayah Raden Mas Said - Adipati Mangkunagara I alias Pangeran Sambernyowo, pendiri Kadipaten Mangkunegaran yang otonom.
- Raden Mas Sandeya/Pangeran Arya Saloring Pasar/Pangeran Arya Ngabehi. - kemudian menjadi ulama bernama Kyai Nur Iman di Masjid Pathok Nagara Mlangi, Mataram. (sekarang Gamping, Sleman). yang salah satu putra Kyai Nur Iman Mlangi adalah RM Mansyur alias "Tuan Guru Loning"
- Raden Mas Gusti Prabu Suyasa - meneruskan tahta sebagai Raja Mataram bergelar Susuhunan Paku Buwana II di Kartasura. Kelak boyong kedaton ke Surakarta.
- Raden Mas Sujana/Pangeran Harya Karta Suriya/Pangeran Harya Mangku Bumi - kelak bertahta sebagai Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat bergelar Sultan Hamengku Buwana I. beliau Pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
- Raden Mas Lindhu/Raden Mas Bakti
- Raden Mas Budiman/Raden Mas Ragu/Pangeran Arya Danupaya - diselongaken ke Kup pada 1749. Kembali ke Mataram 1787
- Raden Mas Utara/Pangeran Arya Martasana/Pangeran Arya Dipa Negara I
- Raden Mas Sakti/Pangeran Arya Bumi Nata I
- Raden Mas Subakti
- Raden Mas Subrangta/Pangeran Harya Blitar
- Kanjeng Pangeran Harya Hadi Wijaya I
- Raden Mas Saidun/Radin Mas Karaton/Pangeran Harya Bumi Nata II - diselongaken ke Ceylon. Wafat disana 1783.
- Raden Mas Bakti/Pangeran Arya Pamot
- Raden Mas Ukir/Pangeran Harya Mataram II
- Raden Mas Sukara/Raden Mas Langkir/Pangeran Harya Prang Wadana
- Raden Mas Suradi/Radin Mas Yadi/Pangeran Harya Selarong
- Raden Mas Genter/Pangeran Harya Panular
- Raden Mas Surata/Raden Mas Langkir/Pangeran Harya Ranga
- Raden Mas Suyamal/Raden Mas Sardin/Pangeran Harya Dipasanta.
- Raden Mas Langkir/Pangeran Harya Martasana II
- Raden Mas Sunaka/Pangeran Harya Singasari - memberontak pada 1742 berpusat di Malang. Bergelar "Pangeran Prabujaya Adi Senapati ing Alaga." Ditumpas pada 1768. Wafat di Batavia
- Pangeran Harya Nata Brata
- Radin Ayu Dewi - menikah dengan Bupati Pesisir : Raden Harya Suralaya, Bupati Brebes
- Raden Ajeng Aminah/Radin Ayu Sukiya. - menikah dengan Kanjeng Radin Adipati Pringgalaya, Patih Kartasura 1742-1755.
- Raden Ajeng Siti Sundari/Raden Ayu Bengkring/Gusti Kanjeng Ratu Maduratna - menikah dengan Pangeran Cakra Adi-ning Rat IV, Panembahan Madura
- Raden Ayu Sibrangti. - menikah dengan Raden Mangkun Kusuma/Raden Temenggong Mangkupraya, Kedhu.
- Raden Ayu Inten. - menikah dengan Demang Urawan/Raden Purwa Kusuma/Pangeran Harya Purbaya II
- Raden Ayu Tajem. - menikah dengan Raden Mas Sudarsa/Raden Raksa Kusuma/Radin Ngabehi Wira Atmaya, Bupati Cengkalsewu & Pati 1740
- Raden Ayu Umit. - menikah dengan Raden Marta Kusuma/Radin Arya Sujanapura, Bupati Lembarawa dan Demak.
- Raden Ayu Jumantananda/Radin Ayu Inten II - menikah Raden Mas Sudarsa/Radin Raksa Kusuma/Radin Ngabehi Wira Atmaja. Bupati Cengkalsewu & Pati.
- Bandara Raden Ajeng Remke [Rembe]/Bandara Radin Ayu Adipati Danureja. - menikah Raden Temenggung Yudha Negara III Bupati Banyumas kemudian menjadi Raden Adipati Tumenggung Danureja I, Patih I Kasultanan Yogyakarta ( Putra Raden Temenggong Yudha Negara II, Bupati Banjumas )
Amangkurat IV bertahta selama 7 tahun dari 1719 - 1726. Dalam buku Carey, Pangeran Sambernyawa : "wafat karena sakit". Digantikan putranya dari GKR Amangkurat/Kencana/GKR Hageng : Gusti Prabu Suyasa (Pakubuwana II).
- Gelar Raden Mas (R.M) untuk laki-laki bagi keturunan Raja Grad atau generasi Ke-1 sampai 5 untuk Kasunan Surakarta Hadininrat, dan untuk Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat keturunan Raja dari grad atau generasi 1- 4. seperti grad ke-6 ke bawah hanya Raden (R) saja, kalau belum menikah R.B. (Raden Bagus)
- Gelar Raden ajeng (R.A) untuk wanita untuk keturunan Raja Grad atau generasi Ke-1 sampai 5 untuk Kasunan Surakarta Hadininrat, dan untuk Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat keturunan Raja dari grad atau generasi 1- 4 kalau sudah Belum Menikah adalah Raden Ajeng (R.Aj) dan kalau sudah menikah Radan Ayu (RAy). seperti grad ke-6 ke bawah hanya Raden Roro (Rr) saja, kalau sudah menikah Rngt. (Raden Nganten)
Eyang R.M. Soeromenggolo saat menjadi glondong pernah mengambil ulama dari Tuk songo Purworejo untuk dijadikan pemuka Agama serta mengurus bidang keagamaan bernama Kyai R.M. Chasan Bin Syech Lukman hakim, serta diberikan sebidang tanaah sawah seluas 400 ubin, status tanah tersebut sampai saat ini sebagai tanah bengkok untuk ulama yang mengelola masjid.
Syech Lukman Hakim menikah dengan putri Bendoro Pangeran Haryo Hangabei yang bernama R.A. Sangsangid/R.A. Lukman Hakim. Pangeran Hangabei adalah putra Hamengkubuwono I. R.M. Chasan menjadi pemuka Agama di desa Tursino
Sri Sultan Hamengkubuwono I
Pangeran Singosari Bin Amangkurat IV meninggalkan kraton dan bersekutu dengan keturunan Untung surapati di Jawa Timur, di Malang Pangeran singosari bersama anaknya yang bergelar Raden Mas memilih tinggal di pegunungan yang jauh dari kejaran dan cengkraman Kasultanan Ngayogyaskarta Hadiningrat yang bekerjasama dengan VOC. meskipun demikian Sri Sultan Hasmengkubuwono I sangat memperhatikan keberadaan Pangeran Singosari dan berulang kali membujuk untuk kembali dan hidup dengan penuh ketenangan di Yogyakarta, namun Pangeran Singosari menolak dan melakukan perlawan kecil. pada 16 Juli 1768 Pangeran Singasari bin Amangkurat IV berhasil ditangkap oleh gabungan VOC, Kasultanan Nayogyakarta Hadiningrat, dan Kasunan Surakarta Hadiningrat di daerah pegunungan malang serta di penjara di batavia dan wafat disana.
Dan kemungkinan Hipotesisnya R.M. Sulaiman alias R.M. Ketomenggolo alias Eyang Turusuli bersama rombongan adalah pelarian dari Malang setelah Ayahnya B.P.H Singosari tertangkap, dan ini masuk akal serta terkomfirmasi dari serat silsilah kekancingan juga gaya nisan makam yang umumnya bergaya Hamengkubuwanan.
BERIKUT SISILAH LANGSUNG DARI EYANG R.M. SOEROMENGGOLO
Babad Raja-Raja Jawa (Tumapel) , menurunkan putera :
I. R.M. Soeromenggolo Bin R. Ngabehi Mertodiwiryo + istri dari Tursino yang bernama R.A. Soeromenggolo Binti R.M. Ketomenggolo, mempunyai Enam (6) peputro yaitu :
1. R.A. Sulastri.
2. R.A. Soekarsih.
3. R. Soerat atmodjo ( menjadi Glondong kedua menggantikan ayahandanya ).
4. R.A. Mustirah.
5. R. Karsowirono.
6. R. Martodimedjo
I.1. R.A Sulastri + R. Pawirosedono (Lurah Loggung/Pucang agung Bayan), mempunyai 5 peputro :
I.1. 1. R.A. Napsiah
I.1. 2. R. Sastrotiwar.(Pucang Agung)
I.1. 3. R.A. Talkah.
I.1. 4. R.A. Partimah. (Malaysia)
I.1. 5. R.A. Parsilah. (Tursino)
I.2. R. A. Soekarsih/Mintarsih, mempunyai dua suami, yaitu :
I.2. A. R.A. Soekarsih + Surosentiko, peputro :
I.2. A.1. R.Nganten. Ambarwati
I.2. B. R.A. Soekarsih + Nojodiwiryo (Lurah Karangrejo), peputro :
I.2. B.1. R. Ngnten. Tijah ( Kepleng )
I.2. B.2. R. Ngnten sibeng (Mati bayi )
I.2. B.3. R. Joyo mintardjo
I.2. B.4. R. Wongsosedono
I.2. B.5. R. Karjodiwiryo
I.2. B.6. R. Tjokrodimedjo.
I.2. B.7. R Kaji munir.
I.3. R. Soerat Atmodjo.
R. Soerat Atmodjo mempunyai tiga istri yaitu :
I.3.A. R. Soerat Atmodjo + Ibu Den Nganten, peputro, :
I.3.A.1. R. Tjokro sukir.
I.3.A.2. R. Supraptodiharjo.
I.3.A.3. R. Surodiharjo
I.3.A.4. R. Ndojo.
I.3.A.5. R. Suwarno
I.3. B. R. Soerat Atmodjo + Ibu Kiswati. Peputro, :
I.3. B.1. R. Martosudarmo.
I.3. B.2. R. Burus.
I.3. B.3. Rr. Rembjuk.
I.3.C. R. Soerat Atmodjo + R.A. sutinah. Peputro :
I.3.C.1. Rr. Sulasikin.
I.3.C.2. Rr. Saodah.
I.3.C.3. Rr. Darusin.
I.4. R.A. Mustirah + Djorewijo (bayan). Peputro :
I.4.1. Rr. Mursih ( di singapura)
I.4.2 Rr...??...........+ Pawirontono
I.4.3. Rr. Mursiyem.
I.4.4. R. Karsodimedjo
I.5. KELUARGA R. KARSOWIRONO ( carik wetan )
R. Karsowirono + Surtinah (tursino), Peputro :
I.5.1. R Abdulah Maful.
I.5.2. R. Harjo Langsir.
I.6. R. Martodimedjo mempunyai tiga istri, yaitu :
I.6.A. R. Martodimedjo + Istri Pertama dari yogyakarta, Peputro :
Tidak punya anak
I.6.B. R. Martodimedjo + Istri Kedua, Peputro :
I.6.B.1. R. Tjokrosumarto
I.6.B.2. Rr. Suwarni
I.6.B.3. Rr. Suwarti
I.6.C. R. Martodimedjo + Istri ketiga (dari Wirun), Peputro :
I.6.C.1. R. Suwarto.
I.1.1. KELUARGA R.Nganten. NAPSIAH
R.Nganten. NAPSIAH +..............???, peputro :
1. Ada keturunannya nama Dullah tinggal di bengkalis kepulauan Riau dan punya anak empat.
I.1.2. R. Sastrotiwar (Pucang Agung) + R.Nganten Sri Maonah, peputro :
I.1.2.1. R. Nganten Sumarmi.
I.1.2.2. R. Nganten Sumiyati.
I.1.2.3. R. Sukir.
I.1.3. R. Nganten. Talkah.
I.1.4. R.A. Partimah/Fatimah + Sanen, Migrasi atau Hijrah dan menetap di Malaysia serta wafat disana, peputro :
I.1.4.1. Haji R. Maslan
I.1.4.2. Hajjah R.Nganten Masiem
I.1.4.3. Haji R. Masiran
I.1.4.4. R. Masimin
I.1.4.5. R. Malikin
I.1.4.6. R. Masimon alias Ahmad
I.1.4.7. R. Sayuti
I.1.4.8. Haji R. Miskan
I.1.4.9. R. Nganten Masirah
I.1.5. R.A. Parsilah + Pawirodiharjo/Wal qobri ( Lurah Tursino ), peputro :
I.1.5.1. Rr. Siti Parwati. (mati bayi)
I.1.5.2. R.Nganten Siti Sarumi (lampung/Jakarta).
I.1.5.3. R. Darsono (banyuwangi).
I.1.5.4. R. Slamet (Tursino).
I.1.5.5. R. Soeroto (Pituruh)
I.1.5.6. R. Supriyanto (lampung).
I.1.5.7. R.Nganten. Sriyani (palembang).
I.1.5.8. R.Nganten. Srihartini (kutoarjo).
I.1.5.9. R.Nganten. Sri Astuti (kutoarjo)
I.2.A.1. Keluarga R.A. Ambarwati + Tjokrodiwiryo/tjokrodimedjo, Peputro :
I.2.A.1.1. R. Nganten. Ranti.
I.2.A.1.2. R. Nganten. Lusiyem.
I.2.A.1.3. R. Kurmen ( Taruno sendjojo)
I.2.B.1. Keluarga R.A. Tijah ( kepleng ) + H. Umar/kenap (tepus kulon ), Peputro :
I.2.B.1.1. R. Tirtorejo.
I.2.B.1.2. R. Sarbini.
I.2.B.1.3. R.Nganten. Sarmi.
I.2.B.1.4. R.Nganten. Supiyah.
I.2.B.1.5. R.Nganten Fatimah.
I.2.B.1.6. R. Martodiwiryo.
I.2.B.1.7. R. Sajadi.
I.2.B.1.8. R. Dulah sulur.
I.2.B.1.9. R. Sadjadi
I.2.B.2. Rr. Sibeng (mati bayi )
I.2.B.3.. Keluarga R. Djojo Mintardjo + ..........???..., Peputro :
I.2.B.3.1. R. Abdullah Maful.
I.2.B.3.2. R. Ngantn. Siti Suminah.
I.2.B.4. R. Wongsosedono
I.2.B.5. Keluarga R. Karjodiwiryo (Slamet) Menikah dua kali yaitu :
I.2.B.5.a R. Karjodiwiryo ( slamet ) + Munfingah (wirun) , Peputro :
I.2.B.5.b. R. Karjodiwiryo ( Slamet ) + Istri kedua Tugirah (tursino), Peputro :
I.2.B.6. Keluarga Tjokrodimedjo (bentul) + R. Nganten. Saodah , Peputro :
I.2.B.6.1. R. Habib.
I.2.B.6.2. R. Anis.
I.2.B.6.3. R. Tri Atdmojo.
I.2.B.6.4. R. Nganten. Chotidjah.
I.2.B.6.5. R. Nganten. Tunsiah.
I.2.B.6.6. R. Nganten Siti Qurosiah.
I.3.a.1. Keluarga R. Tjokro Sukir + .....???........, Peputro :
I.3.a.1.1. R. Nganten. Patimi.
I.3.a.1.2. R. Nganten. Ratmi.
I.3.a.2. Keluarga R. supraptodiharjo + ............???............., Peputro :
I.3.a.2.1. R. Nganten. Jam.
I.3.a.2.2. R. Nganten. Nok.
I.3.a.2.3. R. Nganten. Drak.
I.3.a.2.4. R. Nganten. Laskar.
I.3.a.2.5. R. Nganten. Sanubari.
I.3.a.3. Keluarga R. Surodiharjo punya dua istri, yaitu :
I.3.a.3.A. R. Surodiharjo + istri pertama, Peputro :
I.3.a.3.B. R. Surodiharjo + Tugirah, Peputro :
I.3.a.4. Keluarga R. Ndojo + ...............???............., Peputro :
I.3.a.4.1. R. Nganten. Trini.
I.3.a.4.2. R. Nganten. Djatun.
I.3.b.1. Keluarga R. Martosudarmo mempunyai dua istri yaitu :
I.3.b.1. B. Keluarga R. Martosudarmo + istri Kedua, Peputro :
I.3.b.2. Keluarga R Burus + ........???.............., Peputro :
I.3.b.3. Keluarga R.Nganten. Rembjuk, Peputro :
I.3.b.3.1. R.Nganten. Asiah.
I.3.b.3.2. R. Ambyah.
I.3.b.3.3. R. Rachmat.
I.3.b.3.4. R.Nganten. Surotun.
I.3.b.3.5. R.Nganten. Sriejatun.
I.3.b.3.6. R.Nganten. Sulastri.
I.3.b.3.7. R.Nganten. Lasmini.
I.3.b.3.8. R.Nganten. Paniti.
I.3.c.1. Keluarga R.Nganten. Sulasikin + ..........???........, Peputro :
I.3.c.2. Keluarga R.Nganten. Saodah + .......???..............., Peputro :
I.3.c.2.1. R.Nganten. Subilin.
I.3.c.2.2. R.Nganten. Nupituwati.
I.3.c.2.3. R. Legono.
I.3.c.2.4. R.Nganten. Rochayu.
I.3.c.2.5. R. Trenggono.
I.3.c.2.6. R. Soeryo wibowo.
I.3c.3. keluarga R.Nganten. Durasin ( sejarahnya masih gelap ).
I.4.1. Keluarga R.Nganten. Mursih ( tinggal di singapura dan tak ada kabar ).
I.4.2. Keluarga .............Binti R.Nganten. Moestirah + Pawirontono, Peputro :
I.4.2.1. R. Kario Kaslan.
I.4.2.2. R.Nganten. Sri Maonah.
I.4.3. Keluarga R.Nganten. Mursiyem + .......??....., Peputro :
I.4.4. Keluarga R.Karsodimedjo + Insiah, Peputro :
I.4.4.1. R.Nganten. Rosninah.
I.4.4.2. R. Sawi.
I.4.4.3. R. Muhammad Khusaeni.
I.4.4.4. R. Kuntjung.
I.4.4.5. R. Recek.
I.4.4.6. R.Nganten. Sulastri.
I.4.4.7. R.Nganten. Suwarinsiah.
I.4.4.8. R.Nganten. Lasminah Sulasiyah.
I.4.4.9. R. Nganten. Chomsatun.
I.4.4.10. R. Nganten. Siti Chotimah.
I.4.4.11. mati bayi.
I.4.4.12. mati bayi.
I.5.1. Keluarga R Dulah Maful ( kamituwo ) + Kamini, Peputro :
I.5.1.1. R. Nganten. Sri Suci.
I.5.1.2. R. Suroso.
I.5.1.3. R. Nganten. Tari.
I.5.1.4. R. Sutopo.
I.5.1.5. R. Marsono.
I.5.2. Keluarga R. Hardjo Langsir ( carik Wetan ) + ...........??....., Peputro :
I.5.2.1. R. Budi.
I.5.2.2. R. Nganten. Lestari.
I.6.B.1. Keluarga R. Tjokro Sumarto (nk. sudjud ) (Glondong) mempunyai dua istri, yaitu :
I.6.B.1.b. Keluarga R. Tjokro Sumarto (nk. sudjud ) (glondong) + Istri II Anggominah, Peputro :
I.6.B.1.b.1. R. Nganten. Nawangsasih.
I.6.B.1.b.2. R. Nganten. Sri wardany.
I.6.B.1.b.3. R. Soemrahadi.
I.6.B.1.b.4. R. Nganten. Endang Riswaty.
I.6.B.1.b.5. R. Damar Sasongko.
I.6.B.1.b.6. R. Sunarko.
I.6.B.1.b.7. R. Wahyudjatmiko.
I.6.B.2. Keluarga R.Nganten. Suwarni + Pak Sep (kutowinangun), Peputro :
I.6.B.3. Keluarga R.Nganten. Suwarti + ..............??...., Peputro :
I.6.B.3.1. ...............
I.6.B.3.2. ...............
I.6.B.3.3. ...............
I.6.B.3 4. ...............
I.6.B.3.5. ...............
I.6.B.3.6. ...............
I.6.B.3 7. ...............
I.6.B.3.8. ...............
I.6.B.3.9. ...............
I.6.C.1. Keluarga R. Suwarto + ...........??............., Peputro :
I.6.C.1.1. R.Nganten. dr. Kusuma wartati.
I.6.C.1.2. R. Kusumo Waryadi.
I.6.C.1.3. R. Tri Kuswanto, SE
I.1.2.1. Keluarga R. Nganten. Sumarmi + Warodin ( pucang agung ), Peputro :
I.1.2.2. Keluarga R.Nganten Sumiyati + Tasripin (pucangagung ), Peputro :
I.1.2.2.1. R. Amat Soleh.
I.1.2.2.2. R. Nganten. Kusbanatun.
I.1.2.2.3. R. Nganten Sriyana
I.1.2.2.4. R. Amat kusni.
I.1.2.2.5. R. Nganten Wuryani.
I.1.2.2.7. R. Nganten. Miswati.
I.1.2.3. Keluarga R. Sukir ( TIDAK DIKETAHUI DATANYA ).
I.1.5.1.A. Keluarga R.Nganten Siti Sarumi d/a Lampung, mempunyai tiga suami yaitu :
I.1.5.1.A. R.Nganten Siti Sarumi + Dengan Suami Pertama adalah R. Tito Al Usman Bin R.M. Abdul Rochim Bin R.M. Chasan Bin R.A. Lukman Hakim d/a Tursino Krajan, Peputro :
I.1.5.1.A.1. R.Nganten. Sadiyah Mundati.
I.1.5.1.A.2. R.Nganten. Rohmah.
I.1.5.1.A.3. R. Muhammad Kuntadi.
I.1.5.1.A.4. R.Nganten. Tafifaah.
I.1.5.1.A.5. R. Widodo.
I.1.5.1. B. R.Nganten Siti Sarumi + Dengan Suami Ke-Dua, bernama Lukito (Tursino), Peputro :
I.1.5.1. B.1. R. Waset
I.1.5.1. B. R.Nganten Siti Sarumi + Suami Ke-Tiga bernama Suryana (Mas dii) di lampung, tidak punya keturunan.
I.1.5.2. Keluarga R. Darsono d/a Banyuwangi Jawa Timur, Punya dua istri,yaitu :
I.1.5.2.A. R. Darsono + Zaenab , peputro :
I.1.5.2.A.1. R. Nganten. Widiyanti (Banyuwangi)
I.1.5.2.A.2. R. Sunarko .(Banyuwangi)
I.1.5.2.A.3. R. Winanto. (Banyuwangi)
I.1.5.2.A.4. R. Widodo .(Banyuwangi)
I.1.5.2.B. R. Darsono + Rinting, Tanpa anak.
I.1.5.3. Keluarga Almahrum R. Slamet d/a Tursino + Solichah Binti Siddiq, Peputro :
I.1.5.4. Keluarga R. Soeroto + Titik d/a. Desa sambeng, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo , Peputro :
I.1.5.4.1. R.Nganten. Hidayati (Megulung lor).
I.1.5.4.2. R.Nganten. Hartati (Magelang).
I.1.5.5. Keluarga R. Supriyanto d/a Lampung, mempunyai dua istri, yaitu :
I.1.5.5.A. R. Supriyanto + Romlah, d/a. kampung sirampok, Kelurahan Srengsem, kecamatan panjang, Bandar lampung peputro :
I.1.5.5.B. R. Supriyanto + Hidayani, d/a. kampung sirampok, Kelurahan Srengsem, kecamatan panjang, bandarlampung Peputro :
I.1.5.5.B.1. R. Heri Purwoko.
I.1.5.5.B.2. R. Muhammad Choiril.
I.1.5.5.B.3. Rr. .......................
I.1.5.6. Keluarga R. Nganten Sri Haryani + Wagiran,mukim di Palembang Peputro :
I.1.5.6.1. R.Nganten. Nirwati.
I.1.5.6.2. R.Nganten Rimbawati.
I.1.5.6.3. R. Sapto Aji.
I.1.5.6.4. R.Nganten. Retno Puspita.
I.1.5.7. Keluarga R.Nganten. Sri Hartini d/a Tursino + Tarto Djaelani (Tegal Pantura), Peputro :
I.1.5.7.1. R.Nganten. Iin Indriarti.
I.1.5.7.2. R. Dwi Indriarto.
I.1.5.7.3. R. Nganten. Erni Susilo Prabawati.
I.1.5.7.4. R. Probo Juang Bebas Soro.
I.1.5.7.5. R. Arif Akhiria Hartono.
I.1.5.8. Keluarga R.Nganten.Sri Astuti d/a Kutoarjo + Hadi Soecipto Bin R Said Soerjo Dimedjo, Peputro :
I.1.5.8.1. R. N.K Adi.
I.1.5.8.2. R. Nganten. Shinta Dewi.
I.1.5.8.3. Rr. Hermin Setio Rini.
I.2a.1.1. Keluarga R.Nganten. Ranti + R. Ali Utomo, Peputro :
I.2a.1.1.1. R. Tadji.
I.2a.1.1 2. R. Tartoyo.
I.2a.1.1.3. R. Suwanto.
I.2a.1.1.4. R. Damar Suproyo.
I.2a.1.1.5. R. Nganten. Kunti.
I.2a.1.1.6. Rr. Kusti.
I.2a.1.2. Keluarga R. Nganten Lusiyem + H Agus, Peputro :
I.2a.1.1. R.Nganten Suhilwati
I.2a.1.2. R.Nganten Yuswati
I.2a.1.3. R.Nganten Wahyuni.
I.2a.1.4. R.Nganten Sulasmini.
I.2a.1.5. H R.Banji.
I.2a.1.3. Keluarga R. Kurmen Taruno senjojo mempunyai empat istri yaitu :
I.2a.1.3.c. R. Kurmen Taruno senjojo + Siti, peputro :
I.2a.1.3.d. Keluarga R. Kurmen Taruno senjojo + Poniah , Peputro :
I.2a.1.3.d.1. R.Nganten Sri pringatun.
I.2a.1.3.d.2. R.Nganten Sunarwati.
I.2a.1.3.d.3. R.Nganten Maryati.
I.2a.1.3.d.4. R.Nganten Buntingah.
I.2a.1.3.d.5. H. R. Syeh abdul qodir jaelani/bujang taruno.
I.2a.1.3.d.6. R.Nganten Susilowati.
I.3a.3b.1. keluarga R. Sugiri + ........................., Peputro :
I.3a.4.1. Keluarga R. Nganten Trini + Atmomiharjo (kel. Durasid), peputro :
I.3a.4.1. Keluarga Rr Djatun + .....
I.3b.1b.1. Keluarga R. Nganten Sukanti + A. Toha, peputro :
I.3b.1b.1.1. R. Sumilan.
I.3b.1b.1.2. R. Sudirman.
I.3b.1b.1.3. R. Sutarman.
I.3b.1b.1.4. R. Suyoto
I.2.B.1.1. R. Tirtorejo + ...... Peputro :
I.2.B.1.1.1, R. Sapardi
I.2.B.1.1.2. R. Sumaryo
I.2.B.1.2. R. Sarbini + H Yasin, Peputro :
I.2.B.1.2.1. R.Ngt Mutningatun
I.2.B.1.2.2. R. M Subadi
I.2.B.1.2.3. Jamirotun
I.2.B.1.2.4. Parotun
I.2.B.1.2.5. Sonhadi
I.2.B.1.2.6. Mairotun
I.2.B.1.2.7. Rutibatun
I.2.B.1.2.8. R. Suhadi
I.2.B.1.2.9. Mubarokatun
I.2.B.1.2.10. Turni
I.2.B.1.3. R.Nganten. Sarmi + Mangudimedjo (Lurah Tepus Wetan)
I.2.B.1.3.1. R. Suradi
I.2.B.1.3.2. Kuni
I.2.B.1.3..3. Lemi
I.2.B.1.3..4. R Mangunleksono
I.2.B.1.3.5. Rusmi
I.2.B.1.3.6. Tumpuk
I.2.B.1.4. R.Nganten. Supiyah + H Sleman (Pacor), Peputro :
I.2.B.1.4.1. R.Roni
I.2.B.1.4.2. R. Saprul
I.2.B.1.4.3. R. Sariman
I.2.B.1.4.4. Sakiyam
I.2.B.1.5. R.Nganten Fatimah + Kartosudirjo (secang), Peputro :
I.2.B.1.5.1. R. Ahmad Dawam
I.2.B.1.5.2. Muriyam
I.2.B.1.5.3. R. Daromi
I.2.B.1.5.4. R. Danuri
I.2.B.1.5.5. R. Barsi
I.2.B.1.6. R. Martodiwiryo + Tukinem (Tepus), Peputro :
I.2.B.1.6.1. R. Marsono
I.2.B.1.6.2. R. Muluyadi
I.2.B.1.6.3. R.Ngtn Sumarni
I.2.B.1.7.a. R. Sajadi + Istri Kedua Suminten (jogja), Peputro :
I.2.B.1.7.b.1. R. Sudiro
I.2.B.1.7.b.2. R. Harman
I.2.B.1.7.b. R. Sajadi + Istri Kedua Mini (tepus), Peputro :
I.2.B.1.7.b.1. R. Sunarko
I.2.B.1.7.b.2. R.Ng. Sunarti
I.2.B.1.8. R. Dulah Sulur + Salami (tepus kulon), Peputro :
I.2.B.1.9. R. Sadjadi + Mini (tepus), Peputro :
.
Di Dalam Babad Kedungkebo Pupuh XXIX Dhandanggula bait syair nomor 23-56
karya Ngabehi Reksodiwiryo alias Kyai Adipati Tjokrojoyo alias R.A.A.
Tjokronegoro I Bupati Pertama Purworejo menuliskan bahwa desa Tursino
pernah disinggahi dan menginap bersama Pangeran Kusumoyudo, selain itu
desa Tursino bersama desa Winong, desa Seren, desa Soko(sekarang
administrasi desa Sokoharjo) Ngandagan(sekarang administrasi Desa
wirun), Singolobo(sekarang administrasi desa karangrejo),
Sinalangan(sekarang administrasi Desa Kaligesing) dan Gembor(sekarang
administrasi Desa wirun) pernah menjadi kancah peperangan antara
pengikut Diponegoro yang disebut kraman alias pemberontak atau makar
melawan rombongan Reksodiwiryo dan kompeni Belanda.
Reksodiwiryo memperoleh banyak rampasan diantaranya senjatanya dua belas buah jumlahnya,
tombaknya delapan belas buah, seperangkat gamelan laras slendro, dan tiga ekor kuda
Berikut Babad Kedungkebo Pupuh XXIX Dhandanggula bait syair nomor 23-56 karya Ngabehi Reksodiwiryo :
23.
Gya umangkat pan lajëng lumaris, ingkang dados pëcalang ing ngarsa,
Behi Rësadiwiryane, Jëng Pangran tindak sampun, samya munggah anënggël
ardi, calang Gëgër Mënjangan, sëmana wus mudhun, anjog dhusun Baledana,
lajëng budhal Pangeran sigra lumaris, wus prapteng ing Torsino.
Terjemahan
: Segera berangkat kemudian berjalan, yang menjadi petugas keamanan
berada di depan yaitu Hangabehi Reksodiwiryo, Sang Pangeran sudah
berangkat, mereka mendaki memotong gunung, aman di Geger Menjangan,
ketika itu sudah menuruni gunung, langsung menuju desa Baledono, terus
berangkat Sang Pangeran segera berjalan, sudah sampai di Tursino.
24.
Samya lërëb Torsino salatri, sarëng enjing pan samya lumampah, wus
prapteng Pëkacangane, amung sipëng sadalu, sarëng enjing agya lumaris,
wus lëpas lampahira, anjog ing Winangun, nulya
lajëng lampahira, sigra sipëng ler pëkën Kabumen nënggih, enjang age lumampah.
Terjemahan
: Mereka beristirahat di Tursino semalam begitu pagi hari kemudian
mereka berangkat, sudah sampai di Pekacangan, hanya menginap semalam,
begitu pagi hari segera berangkat, sudah jauh perjalanannya, langsung
menuju Kutowinangun(kebumen), kemudian terus perjalanannya, segera
menginap di sebelah utara pasar Kebumen, pagi hari segera berangkat.
25.
Lampahipun tan antara prapti, iya tanah ing Këlapagada, jajahan ngrema
tanahe, pan lërëb tigang dalu, sarëng dintën Akat lumaris, prapteng
dhusun Pamrihan, nulya enjingipun, Ngëbehi
Gorawëcana, lawan malih Ngëbehi Wangsacitreki, ngaturakën nuwala.
Terjemahan
: Tidak lama perjalanannya sampai, iya di tanah Klapagada, jajahan
datar tanahnya, kemudian beristirahat tiga malam, begitu hari Ahad
berangkat, sampai desa Pamrihan, kemudian keesokan harinya, Hangabehi
Gorowecono, dan lagi Hangabehi Wongsocitro, menyampaikan surat.
26.
Sigra katur surat wusing tampi, dhatëng Gusti Pangran Sumayuda, amungël
wau surate, sayogi surat katur, konjukipun ing Kangjëng Gusti, kopër
dalëm bëndara, rinëksa ing dalu, anging tiwas awak
kula, kala dalu tinukup ing kraman ënting, pun Kërtapëngalasan.
Terjemahan
: Segera disampaikan suratnya sesudah diterima, oleh Sang Pangeran
Kusumoyudo, suratnya berbunyi, pantas surat itu disampaikan, disampaikan
kepada Sang Pangeran, koper milik tuan, dijaga tadi malam, tetapi
malang diri saya, ketika malam hari dirampok oleh para
kraman/pemberontak/makar hingga habis, oleh Kertopengalasan.
27. Tiyang sekët kang nitih turanggi, ingkang ngampak dhatëng awak kula, turangga sekët dhatënge, pan numbak gangsal atus,
banderane
gangsal winilis, aprang kawon kawula, kopër dalëm kërbut, kapale
Gorawëcana, inggih kenging lan waos pun nyonyor Gusti, tumbake
Wangsacitra.
Terjemahan : Lima puluh orang yang menunggang kuda,
yang merampok kepada diri saya(Hangabehi Wongsocitro dan Hangabehi
gorowecono), kedatangannya dengan lima puluh ekor kuda, dan tumbak lima
ratus buah, benderanya terhitung lima buah, berperang saya kalah, koper
paduka direbut, kuda milik Gorowecono, iya kena dan tombak
dirampas Tuan, tombak milik Wongsocitro.
28.
Waos ulam inggih samya kenging, kang satunggal Kyai Wangsacitra, Jëng
Pangran sangët krodane, sigra adandan gupuh, Jëng Pangeran umangkat
aglis, sawadya bala kuswa, Kurnel datan
kantun, sëksana sampun lumampah, Jëng Pangeran kalawan para Kumpëni, dintën Këmis umangkat.
Terjemahan
: Tombak ikan juga semua kena, yang sebuah adalah milik Kyai
Wongsocitro, Sang Pangeran(Kusumoyudo) sangat marah, segera dia
bersiap-siap dengan cepat, Sang Pangeran cepat berangkat, seluruh
pasukan ikut, Sang Kolonel tidak ketinggalan, kemudian sudah berangkat,
Sang
Pangeran dengan para Kumpeni, berangkat pada hari Kamis.
29.
Langkung gancang lampahe Jëng Gusti, sampun prapteng ing panggonanira,
Pangran Mangkudiningrate, panggih wontën Sëmawung, Pangran
Mangkudiningrat iki, sadaya pra sëntana,
sërbanan sëdarum, këlawan rasukan jubah, kajëngipun Kumpëni arsa nglurugi, ken baris Winong kana.
Terjemahan
: Sangat cepat perjalanan Sang Pangeran(Kusumoyudo), sudah sampai di
tempatnya Pangeran Mangkudiningrat, bertemu di Semawung, Pangeran
Mangkudiningrat ini(Pangeran mangkudiningrat sekalipun berpihak di
Diponegoro tapi masih kerabat/saudara dengan Pangeran Kusumoyudo) para
kerabat semua, memakai surban semua, dengan baju jubah, kehendak Kumpeni
akan menyerbu, disuruh berbaris di Winong sana.
30. Sampun baris
ing Winong kang desi, Jëng Pangeran pan lajëng lumampah, anare wontën
Winonge, Pangran sawadyanipun, pan kabëkta marang Kumpëni, dhatëng
biting Gëmbulan, Jëng
Pangran wus angsung, Pangeran Kusumayuda, sampun prapteng ing Winong lajëng abaris, sëmana kawarnaa.
Terjemahan
: Sudah berbaris di desa Winong(sekarang desa Winong kecamatan kemiri) ,
Sang Pangeran kemudian terus berangkat, menginap di Winong, Sang
Pangeran beserta pasukannya, kemudian dibawa oleh Kumpeni, ke benteng
Gembulan, Sang Pangeran sudah memberi suguhan, Pangeran Kusumoyudo,
sudah sampai di
Winong terus berbaris, ketika itu diceritakan.
31.
Barisipun Pangran Adipati, wontën dhusun ing Winong sumahab, Jëng
Pangran Sumayudane, wontën kraman anglurug, marang Winong angrampid
baris, Basah Jayasundarga, saha balanipun, Tumënggung Danukusuma, saha
wadya sëmana samya angiring, lan Basah Pëngalasan.
Terjemahan :
Barisan Pangeran Adipati, berkumpul di desa Winong, Sang Pangeran
Kusumoyudo, ada para makar datang menyerbu, ke Winong
mempersiapkan
barisan, Basah Djoyosundargo, beserta pasukannya, Tumenggung Danukusumo,
beserta pasukannya ketika itu semua mengiringi, serta Basah Pengalasan.
32. Ingkang dadya tëtindhihing baris, Jëng Pangeran Adipanagara, kalih dasa banderane, pan wontën kalih ewu, ingkang samya nitih
turanggi,
wong satus kalih dasa, anëmpuh prangipun, Raden Arya Kërtapraja,
ngajëngakën Jayasundarga prajurit, kang kidul prënahira.
Terjemahan : Yang menjadi pemimpin barisan, Sang Pangeran Diponegoro(Diponegoro Anom), dua
puluh
benderanya, dan ada dua ribu orang, yang menunggang kuda, seratus dua
puluh orang, menyerang dalam peperangan itu, Raden Aryo
Kertoprojo, menghadapi prajurit Djoyosundargo, di sebelah selatan letaknya.
33.
Jasundarga pan lajëng kausir, ngantos dugi Selasinalangan, wetan
Singalaba gone, Pangeran barisipun, aneng tëngah awor Kumpëni,
baris
pëndhëm karsanya, lawan saradhadhu, kalih dasa langkung gangsal,
mriyëmipun pan amung bëkta satunggil, mungsuh sami Pangeran.
Terjemahan
: Djoyosundargo kemudian terus diusir, hingga sampai di
Selosinalangan(Bukit sinalangan sekarang di administrasi desa Kaligesing
kecamatan Kutoarjo), di sebelah timur Singolobo(Dusun Singolobo
sekarang di administrasi desa karangrejo kecamatan Kutoarjo) tempatnya,
Barisan Sang Pangeran, berada di tengah-tengah berbaur dengan Kumpeni,
barisan terpendam kehendaknya, bersama serdadu, dua puluh orang lebih
lima, meriamnya hanya membawa sebuah, melawan sesama Pangeran.
34.
Jëng Pangeran Dipanëgareki, lajëng kawon pan sami lumajar, binujung
wadya balane, dugi Torsino dhusun, Kangjëng Gusti wus wangsul malih,
Pangran Kusumayuda, anjog gunung Jëblug, Den
Mayor Puspawinata, Ki Ngabehi Sadiwirya andon jurit, mungsuh Danukusuma.
Terjemahan
: Sang Pangeran Diponegoro(Diponegoro Anom), kemudian kalah dan mereka
melarikan diri, pasukannya diburu, sampai desa Tursino, Sang Pangeran
sudah pulang
lagi, Pangeran Kusumoyudo, langsung menuju gunung
Jeblug, Raden Mayor Puspowinoto, Ki Hangabehi Resodiwiryo terus
berperang, melawan Danukusumo.
35. Lajëng kawon kraman wus
malëncing, Raden Tumënggung Danukusuma, kausir dugi Gëmbore, sarëng
sampun ing Bëdhug, Jëng Pangeran wus kondur sami, dhatëng Winong
sëdyanya, saha
balanipun, wus tata amësanggrahan, sadayanya wadya bala samya mulih, dhatëng pondhokanira.
Terjemahan : Para Kraman/makar/pemberontak kemudian kalah dan sudah melarikan diri, Raden
Tumenggung Danukusumo, diusir sampai Gembor(Gembor sekarang di administrasi desa wirun kecamatan Kutoarjo), begitu sudah
sampai
di Bedug, Sang Pangeran dan pasukannya kembali, tujuannya ke Winong,
beserta pasukannya, sudah bersiap-siap untuk beristirahat, seluruh
pasukannya semua pulang, ke penginapannya.
36. Sarëng wau dhatëng
brandhal malih, wadya kraman jujug pësanggrahan, Pangeran Sumayudane,
langkung kasësanipun, Jëng Pangeran dados prajurit, pan dereng ngantos
dandan, kang dherek puniku, Kumpëni alit Rusëdhah, lawan malih
saradhadhune winilis, gunggung rong puluh lima.
Terjemahan :
Begitu para berandal datang kembali, pasukan makar langsung menuju
tempat peristirahatan, Pangeran Kusumoyudo, sangat tergesa-gesa, Sang
Pangeran menjadi prajurit, dan belum sampai bersiap-siap, yang
mengikutinya itu, Kumpeni kecil bernama Rusedah, dan lagi serdadunya
terhitung, jumlahnya dua puluh lima orang.
37. Mriyëmipun mung
bëkta satunggil, lawan Kyai Behi Sadiwirya, inggih samya dherekake,
Pangran Sumayudeku, sampun dugi pëcalangneki, kraman pan sampun cëlak,
neng tëgal ngëndhanu,
Pangran masang sënjatanya, pan kasusu andhampeng mriyëm mring kali, mriyëm langkung kewëdan.
Terjemahan
: Meriamnya hanya membawa sebuah, bersama Kyai Hangabehi Reksodiwiryo,
juga mereka mengikuti, Pangeran Kusumoyudo, sudah
sampai prajurit
pengamannya, kemudian para kraman/makar sudah dekat, di perkebunan
membludag, Sang Pangeran memasang senjatanya, karenatergesa-gesa
menempelkan meriam di sungai, meriamnya sangat merepotkan.
38.
Nulya Pangran lajëng andhawuhi, dhatëng Mantri Behi Sadiwirya, dikakakën
mapagake, Mantri tumandang maju, punang kraman dipun parani, dhatëng
Rësadiwirya, tan dangu kapëthuk, kakalih
panji kang sura, gëgamane sënjata rolas winilis, Behi sigra nyënjata.
Terjemahan
: Kemudian Sang Pangeran terus memberi perintah, kepada Mantri
Hangabehi Reksodiwiryo, mengatakan untuk menghadangnya, Sang Mantri
segera bertindak maju, para kraman/makar/pemberontak didatangi, oleh
Reksodiwiryo,
tidak lama sudah bertemu, dua orang panji yang berani, persenjataannya terhitung dua belas buah, Sang Hangabehi segera menembak.
39.
Panjinipun wau ingkang kenging, kang satunggal wau namanira,
Pringgasëntika namane, këna ing tëpakipun, ingkang wau niba ing siti,
nulya kapal lumajar, gya cinandhak gupuh, mring Ngabehi
Sadiwirya, ingkang nyandhak kapale sira Sang Panji, kenging sigra lumajar.
Terjemahan
: Panjinya yang terkena, yang seorang bernama Pringgosentiko namanya,
terkena telapaknya, yang jatuh ke tanah, kemudian kudanya
berlari, segera ditangkap dengan cepat, oleh Hangabehi Reksodiwiryo, yang menangkap kuda milik Sang Panji, kena segera berlari.
40. Tandang sigra wau Ki Ngabehi, lajëng bujung dhatëng kraman kathah, pan wus tëbih pambujunge, nuli sradhadhu nusul, mung
sadasa
kathahireki, mring Behi Sadiwirya, sigra saradhadhu, anyënjata Panji
sira, lajëng pëjah Tapriyoga sira Panji, kasupit wontën toya.
Terjemahan
: Ki Hangabehi(Reksodiwiryo) segera bertindak, terus mengejar kepada
para kraman/makar yang banyak, dan sudah jauh pengejarannya, kemudian
para serdadu menyusul, hanya sepuluh orang jumlahnya, kepada Hangabehi
Reksodiwiryo, segera serdadu, menembak Sang Panji, kemudian Panji
Kertopriyogo mati, terjebak di dalam air.
41. Prajurite wau sira
Panji, Tapriyoga namung kantun tiga, lajëng wau dipun ëdhrel, tëtiga
parëng lampus, sënjatane dipun pëndhëti, sabubaring këraman, sënjata
tëtëlu, waose kalih binëkta, nulya
katur dhatëng wau Kangjëng Gusti, Pangran Kusumayuda.
Terjemahan
: Prajurit Sang Panji, Kertopriyogo hanya tinggal tiga orang, terus
mereka diberondong, ketiganya mati bersama-sama, senjatanya semua
diambil,
sesudah para kraman/makar bubar, tiga buah senjata, tombaknya dua buah
dibawa, kemudian diserahkan kepada Sang Pangeran, Pangeran Kusumoyudo.
42.
Sigra kondur dhatëng Winong malih, Jëng Pangeran wau mësanggrahan,
aneng pasar ing Winonge, sarëng ing Këmisipun, Sadiwirya dipun dhawuhi,
dhatëng Kangjëng Pangeran, samya
kinon ngecu, dhatëng dhusun Singalaba, barisira Jayasundarga ken gitik, sigra Behi parentah.
Terjemahan
: Segera kembali ke Winong lagi, Sang Pangeran beristirahat, di pasar
Winong, begitu hari Kamis, Resodiwiryo diperintah, oleh Sang
Pangeran(Kusumoyudo), mereka disuruh merampok, ke desa
Singolobo(singolobo sekarng terletak di desa karangrejo kecamatan
Kutoarjo), disuruh menyerbu barisan pasukan Djoyosundargo, segera Sang
Hangabehi(Reksodiwiryo) memerintahkan.
43. Iya dhatëng para kang
prajurit, nulya prentah Ki Rësadiwirya, dhatëng wau Bëkël Sëren,
Naladangsa ken ngecu, dhatëng Singalaba ing latri, Naladangsa Pakuthan,
alon aturipun, inggih sandika kewala, abdi dalëm Rësadiwirya Ngëbehi,
sarta tumut piyambak.
Terjemahan : Iya kepada para prajuritnya,
kemudian Ki Reksodiwiryo memberi perintah, kepada Bekel Seren,
Nolodongso disuruh merampok, ke
Singolobo(Singolobo sekarang terletak
di desa karangrejo kecamatan Kutoarjo) pada malam hari, Nolodongso
Pakutan, berkata pelan, iya bersedia saja, abdi paduka Hangabehi
Reksodiwiryo, sendiri ikut serta.
44. Bëkta waos mung kawan
daseki, sënjatanya tiga kathahira, wus prapta wau prënahe, bala umyang
gumuruh, ingkang ngecu nulya ge prapti, ing wanci jam sadasa, baris
bubar mawut, barise
Jayasundarga, Singalaba kinecu sëmana gusis, tukang gëndera pëjah.
Terjemahan
: Membawa tombak hanya empat puluh buah, senjatanya tiga buah
jumlahnya, sudah sampai di tempatnya, pasukan berteriak-teriak
bergemuruh,
yang merampok kemudian segera sampai, pada waktu jam sepuluh, barisan
bubar berhamburan, barisan Djoyosundargo, ketika itu
Singolobo(singolobo terletak di desa karangrejo kecamatan Kutoarjo) dirampok habis-habisan, pembawa benderanya mati.
45.
Angsal tumbak satunggal lan kalih, sënjatane pan amung satunggal,
lajëng samya mulih kabeh, wus prapteng prënahipun, tumbak bëdhil katur
Jëng Gusti, dhatëng Kangjëng Pangeran, Kusumayudeku, Jëng Pangran alon
ngandika, dhatëng Litnan
Lisëdhah wau Kumpëni, pan dhëm kopër wus prapta.
Terjemahan
: (Dari merampok di singolobo yang sekarang terletak di administrasi
Desa karangrejo kecamatan Kutoarjo) Memperoleh tombak satu buah dan
dengan, senjatanya hanya sebuah, terus mereka kembali semua, sudah
sampai di tempatnya, tombak dan senapan diserahkan kepada Sang Pangeran,
Kusumoyudo itu, Sang Pangeran berkata pelan, kepada Letnan Lisedah
Kumpeni itu, dan koper yang diharapkan sudah datang.
46. Pra
Kumpëni bungahe këpati, dene kraman liwat sangking kathah, kang kenging
kinecu kuwe, mring wong këdhik puniku, tumbak bëdhil dinëlëng sami, iya
marang Walanda, sangët sukanipun, bëdhil tumbak akeh këna, samya tinon
tumbak kinarya mateni, dhatëng tukang gëndera.
Terjemahan : Para
Kumpeni sangat senang sekali, karena para kraman/makar/pemberontak
terlalu sangat banyak, yang kena dirampok itu, oleh orang sedikit itu,
tombak senapan dilihat oleh mereka, iya oleh Belanda, sangat senangnya,
senapan tombak banyak yang kena, mereka melihat tombak yang dipakai
membunuh, kepada si pembawa bendera.
47. Pra Kumpëni bungahe
këpati, lakak-lakak sarta suka-suka, angëntrog-gëntrog wëntise, gëntiya
kang winuwus, sarëng dintën Sënen marëngi, Gusti Kangjëng Pangeran, arsa
den jak laju, amringkas kang desa-desa, Jëng Pangeran ngaturan ngarëp
pribadi, tindake Jëng Pangeran.
Terjemahan
: Para Kumpeni sangat senang sekali, terbahak-bahak serta bersuka ria,
menghentak-hentakkan betisnya, ganti yang diceritakan, begitu bertepatan
dengan hari Senin, Sang Pangeran, hendak diajak bepergian, meringkus ke
desa-desa, Sang Pangeran dipersilakan di depan sendiri, perjalanannya
Sang Pangeran.
48. Duk sëmana pan samya lumaris, pra Kumpëni
lawan Jëng Pangeran, wus lëpas wau lampahe, Kurnel lan saradhadhu, wus
dumugi Torsino desi, wontën këraman kathah, barisipun agung, ingkang
dadi senapatya, Jasundarga kalawan tumënggung siji, nama Danukusuma.
Terjemahan
: Ketika itu mereka sudah berangkat, para Kumpeni dan Sang Pangeran,
sudah jauh perjalanannya, Kolonel dan para serdadu, sudah sampai di desa
Tursino ada banyak para kraman/makar/pembrontak di desa Tursino,
pasukan/barisannya banyak yang menjadi panglima perang adalah
Djoyosundargo dan seorang tumenggung, bernama Danukusumo.
49. Tekong Kërtapëngalasan nënggih, gya lumampah amapag Wëlanda, karëp ngajak ngamuk bae, dhatëng Kumpëni wau, ya ta sampun
kapëthuk
nuli, aprang wontën ing marga, sadaya anëmpuh, sëmana lajëng apërang,
aneng marga arame asilih ungkih, langkung rame kang yuda.
Terjemahan
: Ya Tekong Kertopengalasan, segera berangkat menghadang Belanda,
hendak mengajak mengamuk saja, kepada Kumpeni itu, ya kemudian
sudah
bertemu, berperang di jalan, semua bertempur, ketika itu terus
berperang, di jalan ramai saling menyerang, sangat ramai perangnya.
50.
Tan adangu kraman sor ing jurit, dipun usir prapta ing Ngandhagan,
Pëngalasan Tekong thekle, apan wus mlayu darung, balanira sadaya
mamring, Pangran prapteng Ngandhagan, kraman sampun
mawur, dhatëng wau dhusun Soka, Raden Mayor Puspawinata Ngëbehi, Kyai Rësadiwirya.
Terjemahan
: Tidak lama para kraman/makar/pemberontak kalah dalam peperangan itu,
diusir sampai di Ngandagan(Ngandagan sekarang di administrasi Desa wirun
kecamatan Kutoarjo), Tekong Pengalasan tangannya terluka, kemudian
melarikan diri dengan kencang, semua pasukannya sepi, Sang
Pangeran(Kusumoyudo) sampai Ngandagan, para makar sudah berhamburan,
menuju desa Soko, Raden Hangabehi Mayor Puspowinoto, Kyai Reksodiwiryo.
51.
Dikakakën ngusir kraman sami, pan kausir dhatëng dhusun Soka, këraman
neng pinggir lepen, Kyai Sadiwiryeku, samya mëdal tëngahing sabin, lawan
Puspawinata, wau kancanipun, wontën
prajurit tëtiga, bala kraman bëkta sënjata satunggil, tumbak kalih cacahnya.
Terjemahan
: Disuruh mengusir para kraman/makar/pemberontak, kemudian diusir
sampai desa Soko(sekarang terletak di desa sokoharjo kecamatan
Kutoarjo), para kraman/makar di pinggir sungai, Kyai Reksodiwiryo itu,
mereka lewat tengah sawah, dengan Puspowinoto, temannya, ada tiga orang
prajurit, pasukan kraman/pemberontak yang membawa sebuah senjata, tombak
dua buah jumlahnya.
52. Ya ta wau prajurit kang katri, gya
sinëntak mring Rësadiwirya, lawan Puspawinatane, sënjata kang jinaluk,
dhatëng wau Kyai Ngabehi, inggih Rësadiwirya, sënjatane iku, sineleh
aneng ing
lëmah, apan lajëng tiyange dipun lamëngi, prajurit nulya pëjah.
Terjemahan
: Ya ketiga prajurit itu, segera dibentak oleh Reksodiwiryo dan
Puspowinoto, senjatanya diminta oleh Kyai Hangabehi(Reksodiwiryo), iya
Reksodiwiryo,
senjatanya itu, diletakkan di atas tanah, dan kemudian orangnya
dipedang oleh reksodiwiryo, prajurit itu kemudian mati.
53. Kang
prajurit bëkta waos kalih, dyan jinaluk wau botën suka, lajëng tinumbak
kramane, dhatëng prajuritipun, Sadiwirya Kyai Ngabehi, wong kalih pëjah
jajar, tan tëbih genipun, Ngëbehi Rësadiwirya, lawan Mayor nama
Puspawinateki, wus manjing
dhusun Soka.
Terjemahan : Prajurit
yang membawa dua buah tombak, kemudian diminta tidak memberikan,
kemudian ditombak para kraman/makar itu oleh prajuritnya Kyai Hangabehi
Reksodiwiryo, kedua orang itu mati berjajar, tidak jauh tempatnya.
Hangabehi Resodiwiryo dan Mayor yang bernama
Puspowinoto ini, sudah masuk desa Soko(Soko sekarang di administrasi desa Sokoharjo kecamatan Kutoarjo)
54.
Wusnya dangu kraman ingkang dhëlik, gya sinëntak dhatëng Sadiwirya,
këraman barëng kagete, tan etung kraman ambyur, aneng toya silëm ing
kali, sërbane binuwangan, gundhul ting
pëndhusul, bëdhile samya binucal, wontën lepen akathah ingkang ngëmasi, den ëdrel sing dharatan.
Terjemahan
: Sesudah lama para kraman/makar yang bersembunyi, segera dibentak oleh
Reksodiwiryo, para makar bersama-sama terkejut, tanpa perhitungan para
kraman/makar menceburkan diri, ke dalam air menyelam di sungai,
surbannya dibuang, gundul bermunculan, senapan mereka dibuang, di sungai banyak yang mati, diberondong dari daratan.
55. Kathah pëjah neng dhasaring warih, wëtëng jëmbling këkathahën toya, miwah ingkang tatu kabeh, sawidak kathahipun, kapalira
tiga
kang mati, cacahe kapal pëjah, Sadiwirya iku, angsal kathah kang
bandhangan, pan sënjata kalih wëlas kathahneki, waosipun wolulas.
Terjemahan
: Banyak yang mati di dasar sungai, perut menggelembung kebanyakan air,
serta yang terluka semua, enam puluh orang jumlahnya, kudanya tiga ekor
yang mati, jumlah kudanya yang mati, Reksodiwiryo itu, memperoleh
banyak rampasan, senjatanya dua belas buah jumlahnya,
tombaknya delapan belas buah.
56.
Miwah angsal bandhangan Ngëbehi, pan gamëlan salendro larasnya,
sarancak tiga kapale, sarëng sabubaripun, sakathahe kraman angungsi,
Kurnel Klerës punika, lajëng wau nusul, dhatëng
dhusun ing Ngandhagan, sarëng sampun prapta ing dhusunireki, Kurnel ngrëmbag ron kamal.
Terjemahan
: Serta Hangabehi memperoleh rampasan, gamelan laras slendro,
seperangkat tiga ekor kudanya, begitu bubar, seluruh para kraman/makar
mengungsi, Kolonel Cleerens itu, terus menyusul, ke desa
Ngandagan(ngandagan sekarang terletak di desa wirun kecamatan Kutoarjo),
begitu sudah sampai di desa ini, Sang Kolonel merundingkan daun asam.
Sumber : R.A.A. Tjokronegoro alias Kyai Adipati Tjokrojoyo alias Ngabehi Reksodiwiryo, Babad Kedungkebo Pupuh XXIX Dhandanggula bait syair nomor 23-56.
Akhir kata bila ada kesalahan baik tulisan, ucapan, perbuatan, juga kata-kata yang tidak berkenan mohon di maafkan sebesar-besarnya, serta mohon petunjuk dan arahanya bila ada yang belum ditulis, salah penulisan, salah nama, Oleh karena itu mohom kritik dan saran yang Konstrustif.
Tulisan sederhana ini sebaga pengingat, menolak lupa, dan memori kolegtif bahwa kita ada dan eksis karena orang-orang dahulu, karena Para Simbah-simbah terutama Eyang Soeromenggolo yang dengan susah payah membangun desa beserta budaya dan adat-istiadatnya Juga bersusah payah membangun perekonomian Desa.
Saya harap ahli waris atau keturunan-keturunan yang melihat tulisan sederhana ini untuk dapat mengembangkan lagi susunananya sampai yang terakhir, supaya mudah untuk mengingat, mengidentifikasi, menganalisa, mengkorfirmasi, mengoneksi, dan tidak kepaten obor, juga umtuk memahami identitas diri ditengah era krisis identitas. semoga yang hanya tulisan sederhana ini bisa untuk menjadi bahan acuan dan sumber referensi serta yang paling penting sebagai sumber untuk memper-erat silaturahmi dan peseduluran/persaudaraan bahwa kita dari leluhur yang sama. Sekalipun kita sudah Mandiri sendiri-sendiri, punya rumah sendiri-sendiri, terpisah jarak ruang serta waktu dan tersebar di desa Tursino, Tersebar di Kabupaten Purworejo, bahkan tersebar di Seluruh Indonesia juga Luar Negeri.
Mari kita berdo'a bersama-sama, Semoga Semua keturunan Eyang R.M Soeromenggolo semuanya selalu dikuatkan dan ditetapkan Iman, Iksan, Islam-nya, Mendapatkan Syafa'at Nabi Besar Muhammad SAW di Yaumul akhir, Mendapatkan akhir hayat yang baik Khusnul khotimah, selalu diampuni segala dosa, kesalahan, dan kekilafanyannya, diterima Amal ibadahnya, selalu diberikan Nikmat Kesehatan, selalu diberikan keberuntungan, selalu dimudahkan segala urusan hajatnya, selalu direkatkan persaudaraan dan silaturahminya, Semoga Keluarga Besar Eyang Soeromenggolo Selalu di-Akur-kan, Selalu diberi Keselamatan, selalu diberikan Rezeki berupa materi dan non materi, serta diberikan limpahan Rezeki berupa pundi-pundi uang untuk ibadah, kanthi bagas waras, kalis ing rubeda nir ing sambikala.. Aamiin.. al Fatihah.
Sekali lagi Mohon Maaf lahir dan batin bila ada kesalahan, ucapan, tulisan, dan tindakan.
- Tanggal : 18 Juli 2020
- Ditulis dan disusun oleh : Ndandung Kumolo Adi
- Nomor HP/Whattssap : 0888-0391-6811
- Email : ndandungkumala@gmail.com
- Alamat : Perumahan Argo Peni, Gang Bromo, N0. 16, RT.06, RW.05, Kelurahan Kutoarjo, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah 54212
- Nara sumber ahli waris
- Bapak R. Sutoko Bin R. Margono Bin R. Karjodiwiryo/slamet Bin R.A. Nojodiwirjo Bin Soeromenggolo
- Almarhummah Suwargi Eyang putri R.Ngtn. Parsilah Binti R.A. Pawiro sedono (lurah pucang agung, bayan) Bin R.M. Soeromenggolo
- Almarhum Suwargi Simbah Pawiro Diharjo/Wal Qobri Bin Khasan Bahrun Bin Amat Rejo
- R. Soeroto Bin R.Ay. Pawiro diharjo (lurah tursino) Bin R.A. Pawiro sedono (lurah Pucang Agung) Bin R.M. Soeromenggolo
- Bu R.Ngt Lasminah Sulasiyah Binti R Karsodimedjo Bin R.A. Djorewijo Bin RM. Soeromenggolo. ibunya Mas Pur Jogoboyo yang sekarang menjadi Bayan ( Saudara sepupu simbah saya yang sering menyambangi Simbah saya R.Aj Parsilah)
- Kakanda Mas Sepupu saya, anak pertama dari Budhe Saya yaitu Budhe R.Ngt Siti Sarumi Bin R.Ay Pawiro Diharjo yaitu Mas R. Kuntadi bin Tito Al Usman bin R.M. Abdul Rochim bin R.M. Chasan Bin R.A Lukman Hakim
- Bapak R. Wahyu Jatmiko Bin R Tjokro Sumarto Bin R. Martodimedjo Bin R.M Soeromenggolo
- Bapak R.Sumardi Bin R Wanajir Bin R Muchidal Bin R Nirman Bin R.ngntn Tubro Bin R.Ngtm Mariyem Bin RM Dityoyudo Bin RM ketomenggolo Bin BPH Singosari Bin Prabu Amangkurat IV
- Almarhum Lik Pirngadi.
- Bu Fatimah
- Ust. M. Yaser Arafat, M.A seorang Akademisi, Arkeolog, Filolog, Sejarawan, Peneliti budaya jawa serta Dosen UIN Sunan Kalijaga
- Serat kekancingan
- Babad Kedung kebo ; Karya R.A.A Tjokronegoro I
- BPS Kabupaten Purworejo Tahun 2024
- Serat Kekancingan, Buku Sisilah yang disusun KRT.Yudodiprojo Kepala Tepas Darah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Tahun 1997












Tidak ada komentar:
Posting Komentar