Powered By Blogger

Jumat, 17 Juli 2020

Sarasilah R.M. Soeromenggolo bin Raden Ngabei Mertodiwiryo Tursino Kutoarjo

Artikel atau sarasilah ini pernah saya share di internet pada hari Minggu, 28 Oktober 2012 sekarang kembali saya share lagi

SARASILAH R.M SOEROMENGGOLO SUMARE ING TURSINO KUTOARJO

LURAH PERDANA TURSINO MERANGKAP GLONDONG

     

            Assalamualaikum Warahmatullahi. Wabarakatuh..., Terimakasih Kepada Alloh SWT yang telah mencurahkan Rahmat dan Karunianya, terimakasih kepada seluruh saudara-saudari, pihak-pihak terutama Almarhumah Suwargi Simbah saya R.r. Parsilah Binti R.Ay. Pawiro Sedono Bin R.M. Soeromenggolo, Almahrum Suwargi Simbah Pawiro Diharjo Bin Khasan Bahrun Bin Amat Rejo, Pak Sutoko lurah tursino, Pakde Soeroto, Pak R.Wahyu Djatmiko, Bu R.Ngt Lasminah Sulasiyah Binti R Karsodimedjo Bin R.Ay. Djorewijo Bin R.M. Soeromenggolo, Bu Fatimah, Lik Pirngadi, Lik Sumardi, Mas R. Kuntadi Bin Tito Al Usman yang telah berkontribusi serta menjadi Narasumber untuk saya wawancarai, investigasi, dan intrograsi, sera memberikan data-data juga serat kekancingan sebagai Sumber Otentik baik Primer dan Sekunder Serta Empiris sebagai dasar dari tulisan dan Sorosilah yang sederhana ini. 
dan salah satu yang terdekat dengan keluarga kami serta sering sowan Ke Nenek Saya Rr. Parsilah Bin R.Ay. Pawiro Sedono (R.Ay. Sulastri, anak Pertama Eyang Soeromenggolo) adalah Bu R.Ngt Lasminah Sulasiyah Beliau adalah buyut Eyang Suromenggolo, yang dari Putri Eyang Soeromenggolo Nomer empat (4) yaitu R.Ay Mustirah adalah Nenek beliau. apalagi keluarga kami yaitu R.Ay. Sulastri adalah anak Pertama dari Eyang Soeromenggolo dan itu diakui dan diceritakan juga oleh R.Ngt. Lasminah Sulasiyah, Pak Sutoko, dan almarhum Bu Fatimah yang  menandakan terkonfirmasi, terkoneksi, dan ter-validasi dengan keluarga atau saudara-saudara lain yang dulu mendapatkan informasi awal bahkan pernah menjadi sebagai saksi hidup dan saksi sejarah. yang informasi itu sama dengan yang diberikan simbah saya RAy. Parsilah juga Pakdhe-pakdhe saya seperti Pakdhe Soeroto.

            Sholawat dan Salam Kepada Junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang selalu kita nantikan Syafa'at-Nya kelak di Yaumul Akhir... Aamiin.. Serta Al Fatihah kepada semua leluhur kita, Para Ulama dan Umaro Desa Tursino, Para Lurah-lurah Desa Tursino, khususnya Eyang R.M. Soeromenggolo Bin R.Ngabehi Mertodiwiryo bin R.M. Kertodimedjo bin Raden Tumenggung Kedoweran Ngee Mertodiwidjoyo bin R Bagus Mali/K.R.A.A.Yudonegoro II ( Bupati Banyumas ) bin Gusti Bagus Raden Ayu Yudonegoro I (Bandoro Klenting Kuning sumare ing tegal) binti R.M Sayidin /Sayidd Susuhunan Prabu Amangkurat Agung I sumare ing Tegal bin Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusumo sumare ing Pajimatan Imogiri.. Al Fatihah....
 
            Kerangka Pikir dalam penelitian dan tulisan sederhana ini di dasarkan Pada Realita fakta kenyataan pada Era Disrupsi, Era AI, Era digitalisasi, dan Era Kemajuan teknologi Revolusi industri ini kedepan tampaknya adanya kurang pembangunan karakter sehingga mengakibatkan Krisis Bahasa lokal daerah, Krisis adab Sopan-santun/Budipekerti, Krisis Budaya, Krisis Asal-usul, Krisis Silsilah, jati diri bangsa lemah, ketahanan budaya lemah, bahkan yang parah terjadi Krisis Identitas. oleh karena itu perlu daya upaya untuk pembentukan sikap moral yang baik dengan menanamkan nilai-nilai yang luhur, edukasi, sosialisasi, pelestarian, pengenalan budaya kearifan lokal guna meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyeleksi dan menyerap budaya global atau kebarat-baratan juga informasi-informasi yang tidak memberdayakan. 
Di Era Disrupsi, era kecanggihan teknologi, era AI (Articial Intelligence) alias kecerdasan buatan, era kecanggihan internet dan komunikasi. 
Pemerintah Republik Indonesia melalui BPS telah mengkategorikan dan memetakan juga mengklasifikasikan Generasi-generasi melalui tahun kelahiran sesuai dengan Dinamika kehidupan, dinamika politik, dinamika sosial, Skala Zaman, sejarah dan perkembangan yang muncul pada tahun-tahun tersebut yang mempengaruhi kehidupan juga psikologi mereka. misalnya generasi The Lost Generation yang lahir antara tahun 1883-1900 yang berdasarkan trauma perang dunia I, lalu generasi The Greatest generation kelahiran tahun 1901 - 1927 yang dikenal dengan semangat heroik pasca perang dunia II, setelah itu ada generasi Pree-Boomer kelahiran sebelum tahun 1928 - 1945, sebuah masa dimana dunia tengah mengalami krisis global
Apalagi Generasi Z kelahiran Tahun 1997 - 2012 yang tumbuh, lahir, dan hidup di era digital dan akses informasi tanpa batas yang berbeda dengan generasi sebelumnya. keterbukaan informasi membuat wawasan mereka luas, tetapi beban mental yang besar. keterpaparan terhadap media sosial, internet, google dan perkembangan teknologi membentuk karakter mereka, baik dalam cara bersosialisasi, cara begaul, cara adab sopan santun, cara bermasyarakat, cara belajar, cara bekerja, kehiduopan mereka sepenuhnya tergantung bahkan kecanduan teknologi juga menjadi kebutuhan pokok tapi merek rawan kehilangan identitas, rawan tidak punya adab sopan santun, rawan kehilangan sosial kemasyarakatan, rawan tidak tau asal-usul, rawan frustasi, rawan depresi, serta Ego-Apatis
Setelah itu Generasi Alpha kelahiran tahun 2013 - 2024, Generasi Beta kelahiran tahun 2025 - 2039. serta memunculkan generasi-generasi strowberry. Generasi Strawberry adalah generasi yang manja, yang ego apatis, yang lemah mentalnya, yang tidak bisa mandiri, gampang putus asa, gampang stres, gampang depresi, introvert, suka bergantung pada orang tua, yang kepeduliaan, sosial, dan kemanusiaanya kurang. serta secara spesifik mereka diciptkan oleh orang tuanya menjadi manja, bila anaknya sakit, jatuh, di bully temennya, di hukum gurunya di sekolah orang tuanya langsung panik setengah mati dengan sikap berlebihan sampai lapor kepala sekolah dan polisi. Generasi Strawbery lahir hidup dimana internet dan kemajuan teknologi muncul yang mirip seperti buah strawberry yang imut dan indah dari luar namun mudah rusak bila di tekan. 
Maka Pendekatan Sosialisasi, informasi, edukasi, dan pelestarian lewat berbagai cara dan media termasuk dengan memanfaatkan teknologi itu sendiri seperti internet, sosial media menjadi sangat penting, Fundamental, serta Urgen dilakukan dan dibutuhkan terus menerus. Penelusuran silsilah, Penelusuran Sejarah, Kajian, Penelitian berbasis Sains History, Histiografi, Antropologi, filolog, dan Sosiologi juga Empiris merupakan upaya menolak Lupa dan membangkitka Memori kolegtif, serta Kesadaran kolegtif untuk tidak kepaten obor, mengetahui identitas diri, menemukan jati diri yang sesungguhnya, merekatkan balung pisah, memupuk persaudaraan, memahami asal-usulnya, mengetahui simbah-simbahnya dan saudara-saudaranya, memupuk kesadaran, tidak tercabut dari akar rumputnya, menjadikan kita sebagai pribadi yang mandiri, dan sebagainya.
 
            Di Masyarakat atau Keluargas Besar harus ada yang peduli dan melestarikan Sejarah keluarganya atau Keluarga Besarnya, sekalipun akan disebut aneh serta beda dengan umumnya tidak masalah. toh mereka secara langsung dan tidak langsung akan memanfaatkan jasa penulisan silsilah dan sejarah keluarga besarnya, sekalipun tidak mengucapkan terima kasih. 
Sesuatu yang ditulis atau dicatata akan lebih obyektif serta tidak mudah lupa juga mempermudah identifikasi juga meng-observasi daripada yang tidak di tulis atau cerita tutur belaka. Budaya Menulis untuk masa depan memang perlu di-budayakan.
 
"Sejarah dan silsilah Perlu ditulis agar menolak lupa, serta dapat di ingat, diriwayatkan, dikaji, dimanfaatkan, juga disejarahkan secara Obyektif"
by. N.K. Adi
 
Keluarga Besar Eyang R.M. Soeromenggolo bukan sekedar keluarga tapi rumah besar bagi kita semua, seperti Pohon yang memberi teduh tanpa pilih kasih dan sentimen, mari kita menjaga kerukunanan, kebersamaan, Silaturahmi dan silsilah Keluaraga R.M. Soeromenggolo.
            Semoga tulisan yang sangat sederhana ini yang bersumber dari data-data dan sumber-sumber primer dan sekunder juga empiris yang berhasil saya kumpulkan informasinya secara konkret yang bisa diobservasi, ditulis, dan diukur baik melalui metode kuantitatif maupun kualitatif serta dapat diverifikasi kebenarannya. Empiris yaitu data yang saya peroleh dengan observasi langsung di lapangan menggunakan segenap panca indra saya, wawancara, intrograsi, dan investivigasi dengan segenap Responden, Saksi hidup dan Para pelaku sejarah langsung seperti Simbah saya Suwargi R.Ay. Parsilah Binti R.A. Pawiro Sedono Bin R.M. Soeromenggolo, Almahrum Suwargi Simbah Pawiro Diharjo Bin Khasan Bahrun Bin Amat Rejo, Pak Sutoko lurah tursino, Pakde Soeroto, Pak R.Wahyu Djatmiko, Bu R.Ngt Lasminah Sulasiyah Binti R Karsodimedjo Bin R.Ay. Djorewijo Binti R.M. Soeromenggolo, Bu Fatimah, Lik Pirngadi, Lik Sumardi, Mas R. Kuntadi Bin Tito Al Usman, keluarga besar, masyarakat serta sumber-sumber lainnya seperti BPS, Artefak Makam, Serat Kekancingan, Buku Sisilah yang disusun KRT.Yudodiprojo Kepala Tepas Darah Kerato Ngayogyakarta Hadiningrat Tahun 1997, Babad Kedung Kebo, Sahabat saya Gus yaser Arafat Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta seorang sejarawan, Arkeolog, Filolog, Peneliti nisan-nisan makam dan sumber-sumber lainya yang tidak bisa saya sebutkan. sehingga saya mendapatkan informasi yang obyektif, sahih, terverifikasi, kredibel, ilmiah, serta terkonfirmas juga terkoneksi antara satu sama lainnya. tulisan sederhana yang ilmiah ini mengajak saudara-saudari untuk mengenal, mengetahui, memahami saudara-saudaranya, asal-usulnya, riwayat atau sejarahnya, akar rumputnya, identitasnya, sehingga bisa memaknai hidup, mengetahui Start dan Finish diri kita sebagai seorang manusia, mengetahui tujuan hidup yang sesungguhnya, mendapatkan semangat hidup, memperkaya Perspektif, memperkuat Literasi, dan Pengetahuan yang berharga.bisa bermanfaat, memperkuat silaturahmi, memperkuat persaudaraan, memperkaya persepektif, memperkuat literasi/budaya membaca, Semoga bisa untuk semangat hidup, menemukan jati diri, menemukan identitas, Semoga bisa untuk menemukan saudara, Semoga bisa untuk menyatukan balung pisah, dan informasi juga pengetahuan yang berharga. 
Dan semoga tulisan ini bisa memperkuat Jati diri dan Identitas Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
 
            Yang Sekarang Luas Desa Tursino Adalah 1,74 Km², serta Jarak Desa Tursino dengan Kutoarjo sebagai Ibu Kota Kecamatan adalah 7 KM, Jumlah Rukun Warga-nya (RW) ada Enam (6), Jumlah Rukun Tetangga-nya (RT) ada Empat Belas (14), dengan Jumlah Penduduk Dua Ribu Seratus Tiga Puluh Tiga (2.133), jumlah penduduk laki-laki Seribu Delapan Puluh (1.080) dan Jumlah Penduduk Perempuan Seribu Lima Puluh Tiga (1.053) (Sumber BPS Kabupaten Purworejo di tahun 2024).
            Secara Geografis Desa Tursino berbatasan dengan Desa Karangrejo di sebelah Selatan, Desa wirun di sebelah Barat, Desa Rebug, Desa kedunglo, Dan Desa Dilem di sebelah Utara, Desa Loning dan Desa Pucang Agung di sebelah Timur. Sungai yang Melewati Desa Tursino adalah Saluran Loning dan Saluran Rebug, Mata Pencarian Penduduk Desa Tursino Umumnya Petani, Pedagang, dan Buruh.
Masjid dan musholla/Langgar desa Tursino :
1. Masjid Jami' Baitul Muhtadin.
2. Masjid Jami' Al isti'adah.
3. Musholla Jamius Salim.
4. Musholla Thoriqun Naja'
5. Musholla Al Amanah.

            Dengan menelusuri Silsilah, Asal-usul, Ikatan persaudaraan, sangat penting untuk memper-erat Persaudaraan atau Silaturahmi, Ngumpulke balung pisah, membangkitkan memori kolegtif sehingga tidak kepaten obor serta memahami perjuangan simbah-simbah, orang tua, dan leluhur dalam Surviving (Bertahan Hidup), Serta meminimalisir krisis identitas di era Globalisasi, kecanggihan teknologi, dan Era Disrupsi ini. dimana generasi muda sudah tidak peduli pada silsilah, pada asal-usul, pada sejarah, pada budaya, pada akar rumputnya, pada bahasa lokal daerah, pada bahasa ibu, pada bahasa lingustik.
Eyang kita Soromenggolo sudah ratusan tahun yang lalu bermukim dan hidup di desa Tursino dan tutup usia di situ, serta di makamkan di tanah milik pemerintah desa Tursino yang sudah di wakafkan untuk menjadi Tempat pemakamamn Umum (TPU), mari kita jaga dan rawat persaudarannya meskipun sudah sekian generasi, mari kita jaga dan rawat desa peninggalan eyang Soeromenggolo yaitu desa Tursino untuk menjadi desa yang aman, sejahtera, makmur, tertata, nir sambikolo.... mari kita jaga nilai-nilai dan norma-norma peninggalan leluhur kita, serta mari kita jaga makam leluhur kita sebagai bakti, penghormatan kepada mereka karena tanpa mereka kita tidak pernah ada di dunia ini. Makam leluhur adalah simbol pemersatu, bukti sejarah, serta simbol pengingat (monumental) akan kematian juga peran leluhur serta kenangan dan warisan/legacy yang mencerminkan semangat dan nilai-nilai orang yang meninggal.
apa kita rela makam leluhur kita tidak terawat, rusak, hancur, bahkan hilang?..  yang berati hilang juga sejarahnya, hilang juga eksistensinya, hilang juga nilai-nilainya, hilang juga persaudaran kekerabatan kita, hilang juga kepedulian kita, hilang juga hati nurani kita, hilang juga sebagian identitas dan jati diri kita. Memang Zaman, arus globalisasi, kecanggihan teknologo, AI, gaya hidup modern bagai tsunami yang besar yang merubah kehidupan kita secara drastis dan dramatis sehingga memutuskan hubungan kita dengan leluhur, memutuskan hubungan kita dengan sejarah atau masa lalu, memutuskan hubungan persaudaraan kita, menghilangkan nilai-nilai kemanusian juga hati nurani kita, serta semuanya orientasinya kepada materi Duit bukan lagi atas nama Kemanusiaan dan hati nurani.
 
            Deposit terbesar Bangsa Indonesia tidak cuma berwujud materi uang, tambang minyak, tambang emas, tambang nikel, tambang batubara dan sebagainya tapi juga Sumber Daya Manusia (SDM)-nya juga sejarah dan budayanya. sejarah dan budaya adalah hasil perjuangan dan pemikiran karya para leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi membentuk identitas unik bangsa Indonesia.
 
            Apa pentingnya memahami dan mengetahu Silsilah juga ikatan persaudaraan???.....
Nalar logika sederhananya yang mungkin bisa dipahami oleh orang awam adalah : kita tidak mungkin ada tanpa kedua (2) orang kita, kedua orang tua kita tidak mungkin ada tanpa adanya empat (4) simbah kita, empat simbah kita tidak mungkin ada tanpa adanya delapan (8) simbah buyut kita, delapan simbah buyut kita tidak mungkin ada tanpa adanya enam belas (16) simbah canggah kita, enam belas simbah canggah kita tidak mungkin ada tanpa tiga puluh dua (32) simbah wareng kita, tiga puluh dua simbah wareng kita tidak mungkin ada tanpa eksistensinya simbah udheg-udheg yang berjumlah enam puluh empat (64)..., dan seterusnya. 
Dan manusia juga adalah Mahluk Sosial dimana Budaya Ketimuran terutama Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, nilai-nilai kekerabatan, nilai-nilai adab sopan-santun, nilai-nilai ke-keluargaan, nilai-nilai gotong royong, nilai-nilai keadilan sosial, nilai-nilai musyawarah, nilai-nilai ta'awun, nilai-nilai kolaborasi, nilai-nilai persatuan, nilai-nilai saling tolong-menolong, nilai-nilai hati nurani, dan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai itu menjadi Ruh dan esensi dalam persaudaran Keluarga Besar bahkan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
ada dialog atau komunikasi yang setara tanpa membedakan status sosial, setiap orang memiliki posisi yang setara dalam perbedaan kapasitas, kontribusi, etnisitas, dan sosial namun memiliki tujuan bersama serta untuk merekatkan persaudaraan dan persatuaan. Maka menjaga komunikasi untuk menjaga persaudaraan itu sendiri sangatlah penting serta hilangkan Ego-Apatis juga sikapi dengan dewasa dan jiwa yang mulia.
dalam Sambatan, rewang, dan gotong royong bukan siapa yang mengatur atau siapa yang diatur namun berprinsip kepada dialog yang setara dan musyawarah untuk pemberdayaan dan kebaikan bersama. dimana setiap individu memberikan kontribusi sesuai posisi, kemampuan, dan keadaan. yang esensinya adalah menjalin persaudaraan yang langgeng, hidup bareng, mengerjakan sesuatu bersama-sama untuk menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, kekeluargaan, kemanusiaan, hati nurani, dan persatuan dalam bingkai keluarga Besar R.M. Soeromenggolo Bin R Ngabehi Mertodiwiryo yang Ber-Bhinika Tunggal Ika.
 
Mana bukti Berbakti alias Birul walidain/Bakti kita kepada generasi tua, orang tua, simbah-simbah, leluhur???..
 
Orang yang sudah meninggal Dunia cuma meninggalka Tiga (3) hal yang Pahalanya terus mengalir, yaitu :
  1. Sedekah Jariyah
  2. Ilmu yang bermanfaat
  3. Anak (cucu dan keturunan) yang selalu mendo'a-kan
Men-do'a-kan disini tentunya tidak cuma dirumah, di waktu setelah sholat tapi juga dengan menengok makam beliau-beliau, ziarah kubur, bersih makam. Apa tega makam simbah-simbah tidak terawat, terbengkalai, dan hilang dipakai orang lain karena tidak pernah ditengok, akhirnya bukti sejarah hilang serta anak cucu jadi kepaten obor. Agama Islam awalnya Melarang Ziarah kubur dikarenakan Zaman Nabi banyak orang Jahiliyah, tapi setelah itu Nabi Muhammad SAW Memperbolehkan dan menganjurkan, hal itu Tertera Dalam Hadist Shahih Nabi.
 
Nabi Muhammad SAW Bersabda dalam Hadist Shahihnya :
"Ketika seorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amanya kecuali Tiga (3), yakni Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh (Ketrunan,cucu, cicit, buyut, anak dst) yang berdoa untuknya." (Abu Hurairah)
Rosuulluh SAW Bersabda dalam hadist shahihnya :
"Dahulu saya melarang berziarah kubur, tapi (sekarang) berrziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan air mata, mengingatlah pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah)" (HR. Hakim).
 
Nabi Muhammad SAW Bersabda dalam hadist Shahihnya :
"Dahulu saya melarang berziarah kubur, tapi(sekarang) berziarahlah kalian" (HR. Muslim)

"Bangsa yang Survive dan unggul adalah bangsa yang dinamis, yang gemar merantau, mengembara, menjelajah, mengambil resiko dan konskwensi, bertebaran di muka bumi. sebaliknya, bangsa yang statis, jumud, lamban, enggan merantau, enggan berhijrah, akan tersingkir dari percaturan dunia. Dan orang jawa adalah suku perantau serta berani menerima resiko dan tidak pernah meninggalkan identitasnya sebagai orang jawa"
By. Ndandung Kumolo Adi
 
Sejarah mencatat kesuksesan bangsa Arab, Cina, Mongol, Spanyol yang dahulu dengan gagah berani menjelajah dunia dengan kapal. Dunia menyaksikan kedigdayaan Amerika Serikat sebagai negara Super Power dan Adi daya untuk saat ini, yang notabene mereka keturunan para perantau dari Eropa dan budak Negro dari Afrika serta bukan asli Pribumi Benua Amerika, Pribumi asli amerika salah satunya suku Indian. Sekarang Mayoritas Benua Amerika adalah Penduduk Eropa dan Afrika serta mereka yang memegang kepemerintahaan.
Dunia juga mengakui dan menyaksikan keunggulan Bangsa Palestina, bangsa Yahudi/Israel, bangsa kurdi yang selama ini pernah mengungsi ke mana-mana.
Q.S. 12:111, "Laqad kana fi qashasihim 'ibratun li ulil albab" yang artinya Sesungguhnya dalam sejarah terdapat pesan-pesan, hikmah yang penuh perlambang bagi orang-orang yang memahaminya.

"Kita harus tahu siapa kita, siapa diri kita, dan jati diri kita. dan untuk menemukan jati diri, satu hal yang harus dilakukan yaitu dengan penelusuran sejarah" 
By. Peter Carey Seorang Ilmuwan, Sejarawan Internasional
 
Firman Alloh SWT dalam Surat Al Hasyr ayat 10 : 
"Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansor) berdo'a : Yaa Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman (Ber-syahadat terlebih dahulu, Mendirikan Sholat fardhu dan Shoalat sunah terlebih dahulu, ber-puasa terlebih dahulu, ber-sedekah terlebih dahulu, ber-zakat lebih dahulu dari kami, ber-zikir terlebih dahulu dari kami, ber-sholawat terlebih dahulu dari kami,.. dsbnya..) lebih dahulu daripada kami dan jangan Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Yaa Tuhan kami, Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang"

Orang Jawa telah mempraktekan Surat Al Hasyr Ayat 10 tidak sekedar mendo'akan dalam tiap-tiap Sholat 5 waktu yang kadang mungkin lupa atau bahkan tidak di Do'a kan sama sekali kepada orang- orang yang sudah wafat dan yang telah beriman terlebih dahulu dari kita seperti  leluhur-leluhur, simbah-simbah, para generasi tua, pada saudara-saudara.
Tapi dipraktekan dengan peran kiprah nyataa yaitu dengan berziarah ke makam, Ruwahan, Sadranan selain itu untuk menyambungkan dan memperkuat Iman, Iksan, Islam. Juga "Birul walidain/bakti"
jadi ini bukan urusan Bid'ah hasanaha, Bid'ah Dholala, Chufarat. orang mau mem-fitnah atau buruk sangka dengan penghakiman musyrik, membangunkan dajjal, cari togel, meminta ke makam dsbnya terserah mereka mau buruk sangka, yang penting kita tidak seperti yang mereka tuduhkan, dan faktanya tidak semua begitu. Syiar budaya Islami dan Ziarah Kubur juga bukan urusan soal Ormas NU, Ormas Muhammadiyah, Ormas LDII, Ormas Persis, Ormas MUI, Ormas MTA, Ormas Al Irsyad, Gerakan Wahabi,Gerakan Manhaj Salafi dimana mereka baru muncul baru saja di abad-20 dan abad-19. sedangkan Ulama-ulama Jawa, Aulia-aulia jawa, Waliyuloh-waliyulloh tanah jawa telah mengamalkan terlebih dahulu termasuk ajaran-ajaran Islam dan Syiar Islami  beratus-ratus tahun yang lalu Di Abad-15 dengan adanya Wali Songo yang tetap berlandaskan dan berdasarkan kepada :
  1. Al Qur'an
  2. Hadist
  3. Sunanah Nabi
  4. Itjma
  5. Qiyas
  6. Itjihadh ulama-ulama terdahulu
  7. Mengamalkan Ajaran Islam Ahlu Sunnah Wal Jammaah, yang berpegang pada nilai-nilai :  
  • Tasammuh (toleransi)
  • Tawassuth (moderat)
  • Tawazzun (seimbang), dan 
  • 'Adalah (Adil) 
Mengikuti salah satu dari 2 (dua) imam yaitu Al-As'ari dan Al-Matudi dan mengikuti 4 (empat) Imam dalam Ubudiyah yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i,dan Hambaliyang tidak condong pada pemikiran Islam Puritan dan takfiri yang umumnya radikal, intoleransi, dan suka Menyesatkan, mem-Bid'ah-kan, juga meng-kafir-kan saudara se-Iman dan se-Muslim. Islam puritan menolak seperti Kenduri, tahlilan, Yasinan, Maulud Nabi, Berjanji, Sholawatan,,Ruwahan, sadranan, Merti deso, sedekah bumi, Brokohohan, Ngupati, Mitoni, Tingkeban, Selapanan, Rebo wekasan, Suro-an, dan sebagainya sekalipun itu semua adalah ajaran-ajaran Islam dan Syiar Islami berdasarkan Fiqih atau Al Qur'an, Hadist, Sunah Nabi, Itjma, Qiyas, Istihadjh. Dan itu semua adalah peninggalan para ulama dan aulia-aulia tanah jawa yang sekarang oleh generasi New hanya disebut kebudayaan dan adat istiadat.
 
            Padahal wajah Islam di Jawa peninggalan para Wali songo dan Aulia tidaklah ngawur disitu dijalankan Fiqih dan Sunnah Nabi seperti Silaturahmi, berdo'a ber-sama, ber-zikir bersama, ada hidangan sedekahan (berkataan/bancaan), ada infaq, ada baca Al Qur'an, ada baca Tahmid, ada baca Hamdalah, ada baca Takbir, ada baca Tasbih, ada baca Sholawat, ada Ceramah/tausiah dan sebagainya.
Para Wali songo dan Aulia-aulia tanah jawa meniru dalam men-Sinkretisme atau meniru Sunah Nabi Muhammad SAW dalam mengelola Budaya dan Adat-istiadat Pra-Islam atau sebelum Islam datang di Arab yang di Islamisasi oleh Nabi SAW. Jadi Islam sendiri awalnya Sinkretis salah satu contohnya Tarikh Sejarah Aqiqah, Puasa Assyuro dan sebagainya. dan sebenernya Ajaran-ajaran ke-Islama-an di Jawa bila dipelajari dengan ilmu Antropologi, bukanlah peninggalan Hindhu-Budha. tapi sayangnya dan sedihnya malah orang jawa yang tidak paham malah meng-iya-kan kalau praktek syiar agama Islam di Jawa adalah peninggalan Hindu-budha.
Terlebih dengan Penelitian, Kajian, dan Perspektif Clifford Geertz seorang Antropologi dari San fransisco Amerika dengan bukunya yang berjudul "The Relegion Of Java" yang diterbitkan tahun 1960 dan bukunya serta penelitiannya tidak menyajikan data-data teoritis-nya juga saintifik-nya, serta dia tidak paham sejarah Islam, ajaran-ajaran Islam, dan ke-ilmuan Agama Islam. Sehingga 'Buku Clifford Geertz menjadi Sumber Kesesesatan Antropologi' sampai sekarang dengan di-kotomi "Santri, Priyayi, dan Abangan". Banyak Ilmuwan-ilmuwan dalam Negeri juga Luar negeri yang menyanggah dan mengkritik penelian Clifford Geertz yang mempermasahkan, tentang :
  1. Interpretasinya terhadap Agama Islam dan budaya di Jawa, 
  2. Tidak mewakili Fakta Realitas masyarakat Jawa, 
  3. Tidak mencerminkan dinamika sosial yang lebih kompleks, 
  4. Pendekatan dan kajian serta penelitian Clifford Geetrz juga mengabaikan faktor-faktor struktural, ke-ilmu-an Agama Islam (Al Qur'an, Hadist, Sunnah Nabi, Itjma, Qiyas, Itjihad, Sejarah Islam, Riwayat para sahabat, Tafsir Para Fukoha dan Imam Mahzab, dsbnya) 
  5. Pendekatan, kajian, dan penelitian mengabaikan faktor historis yang mempengaruhi budaya. 
  6. Geertz memandang Agama islam sebagai bagian integral dari sistem budaya, namun pandangan ini ditentang oleh ilmuwan-ilmuwan yang menekankan aspek-aspek sosial, politik, ekonomi dalam fenomena Agama Islam yang dianggap sebagai simbol semata.
            Banyak kritikan terhadap Buku Geertz karena menimbulkan kesesasatan Antropologi sampai sekarang, salah satunya dalam kata pengantar Buku Geertz dari Bapak Taufik Abdullah seorang Akademisi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Akhirnya Buku Geertz ini dimanfaatkan oleh orang-orang Islam ber-pemahaman sebelah terutama Islam Radikal dan Puritan untuk menyerang Orang Islam yang suka Slametan, Syukuran, Tahlilan, Kenduri, Berzanji, Merti desa, Brokohan, Mitoni, Tedak Siten, Selapanan, Ruwahan, Selametan Kematian, Ziarah Kubur, memperingati Maulid Nabi SAW, dan sebagainya, dengan Istilah Tahayul, Bid'ah, Chufarat. bahkan sesat juga musyrik.
Islam Puritan dan Radikal bisa menjadi prinsip dan idiologi serta ada dimana saja tidak pandang Petani, ASN, Pegawai Negeri, Pedagang, TNI-Polri, Pejabat, orang tua, orang muda, status Sosial dan ekonomi bawah, menengahm atas, dan sebagainya. Apalagi Agama adalah Ranah Keyakinan, Ranah Dapur, Ranah Doktrin, juga Dogma
Banyak Penelitian, kajian, dan Buku karya tandingan yang menyanggah dan menampik penelitian buku Clifford Geertz yang berjudul The relegion of java, salah satunya buku "Islam Jawa" karya ilmuwan dan antropologi barat yang bernama Mark Woodward. dan Buku "Memahami Islam Jawa" Karya Ilmuwan Indonesia bernama Bambang Pranowo.

Yang bikin Identitas Jawa jadi negatif adalah penyelewangan dan Stigma film, banyak ajaran dan falsafah jawa salah satunya "Eling marang Gusti (Ingat pada Alloh SWT), Rukun marang sesama (akur dengan sesama manusia), Selaras karo alam (selaras dengan alam)."
akhirnya mereka orang jawa lahir di Jawa tapi tidak mengakui keturunan jawa, tidak menyerupai orang jawa dengan segala identitas akar rumputnya, entah jadi orang mana jadinya??....Orang tanpa identitas akhirnya jadi orang ilang/hilang serta asing di negeri sendiri.
 
"Sejarah itu ibarat ibu yang melahirkanmu, bila kamu melupakan sejarah sama saja kamu melupakan ibumu yang mempertaruhkan nyawanya demi kelahiranmu"
by. Ndandung Kumolo Adi

           Dulu Suwargi Simbah Putri saya yaitu R.Ay. Parsilah pernah ngendiko : "Jowo kui artinya SADAR.. Jowo ora bermakna Sewates Jeneng Suku opo pulau, tapi seng disebut menongso jowo kui artine Menungso seng Berkesadaran Tinggi, menungso seng berkesadaran Jati diri... salah siji ciri wong jowo kui supel, luwes, grapyak, seneng bebrayan, seneng ewang-ewang, seneng tetulung... lan iso dadi wong ndayak, iso dadi wong meduro, iso dadi wong bugis, iso dadi wong sundo, iso dadi wong lampung... lan liyan-liyanne.. wong njawani go sandangan pakaian ndayak yo luwes go pakaian sundo yo luwes, go pakaian bali yo luwes, go pakaian batak yo luwes, go pakaian lampung yo luwes, opo maneh pakaian arab yo luwes..lan seteruse.."
Maka siapa yang merasa orang Jawa tetapi tidak bisa memurnikan Kesadarannya, itu artinya dia telah lalai. Penjelasan saya ini tidak berkelompok-kelompok atau Sukuisme dan Rasis. Saya sedang menjelaskn pemaknaan tentang Jawa, dan bahkan Jawa dalam makna yang sebenarnya, bukan orang yang berkelompok-kelompok sebagai Suku. Orang Jawa bukan hanya Memantaskan busana, melainkan juga dibarengi memantaskan hati yang akhirnya menjadi kesatuan sikap dari dalam yaitu pikiran, tindakan, serta ucapan. Belajar menempatkan diri sekaligus belajar tahu diri, belajar empan papan. Menjadi orang Jawa itu bukan cuma Pakaian Jawa, Blangkon, dan keris. kalau cuma modal baju surjan dan blangkon semua orang bisa punya. Banyak kan orang Jawa yang kehilangan jawanya, hilang identitasnya, tidak mencerminkan budaya dan adab para pendahulunya, tidak Njawani dan parahnya malah alergi dengan seni budaya jawa serta dibilang musyrik, sesat, bid'ah serta dibilang kejawen dalam konotasi negatif. Padahal budaya, adat istiadat jawa adalah kebiasaan dan naluri orang jawa yang adiluhung bahkan bila dikaji, diteliti, dipelajari dengan antropologi budaya. Budaya jawa, kearifan lokal, tradisi jawa bersumber dari fiqih dan tentunya berlandaskan Qur'an, Hadist, Sunah rosul yang relevan sepanjang zaman dan bahkan tidak bertentangan dengan Agama apapun. Banyak orang suku Jawa malah membuat malu, mending bukan orang Suku Jawa tapi malah Njawani/berkesadaran tinggi. Orang yang udah njawani maka akan cinta damai, punya jiwa sosial, punya jiwa mulia, berjiwa besar, bijaksana, ngayomi, suka mengalah, punya adab sopan santun, Andap asor, Bicara lemah lembut tapi tegas, pandai menempatkan diri, tidak kehilangan Identitas, dan disukai banyak orang. Jawa/njawani = Kesadaran Tinggi. mau orang Arab, Amerika, China, Afrika, Suku Lampung, Suku Batak, Suku Sunda. Suku Bugis, Suku Minang dan sebagainya Tapi kalau Berkesadaran Tinggi berarti dia sudah Njawani.
   
            Kenapa kita harus belajar Sejarah, yang di dalamnya ada pelajaran, hikmah, informasi sisilah, informasi persaudaran, dan kekerabatan???...
Didalam Al Qur'an Surat Yusut ayat 111, Alloh SWT Berfirman :
"Sesungguhnya pada Kisah-kisah mereka(Para Nabi dan Rosul serta umat terdahulu) itu terdapat Pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai Akal(nalar logika akal sehat). Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman"
 
Meskipun ayat diatas ditujukan guna memahami dan mengambil pelajaran dari kisah-kisah (sejarah) Nabi terdahulu beserta umatnya, bukan berarti kita sebagai umat Muslim tidak perlu mengambil pelajaran, hikmah, atau nilai-nilai pendidikan, juga silsilah Keluarga besar kita, Simbah-simbah kita, Leluhur kita di masa lalu termasuk sejarah bangsa dan negara, dalam Surat Yusuf ayat 111 disebutkan bahwa Nalar logika akal sehat tetap jadi Acuan dan landasan.
 
            Dalam Surat Al Hasyr Ayat 18 dijelaskan "Wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad"(Perhatikan sejarahmu untuk masa depanmu). QS. 59:18
Hampir semua peristiwa penghancuran yang diceritakan dalam Al Qur'an dapat diamati, dikaji, diteliti dengan berbagai penelitian, kajian, arsip, histiografi, antropologi, Filolog, serta temuan-temuan arkeologis. Dalam penelitian ini kita akan berhubungan dengan jejak-jejak sisa peninggalan dari beberapa peristiwa penghancuran yang disebutkan di dalam Al Qur'an. sebagai contoh, temuan arkeologis menjelaskan banjir besar semasa Nabi Nuh as yang terjadi di daratan Mesopotamia. kemudian penggalian yang dilakukan ilmuwan arkeolog Sir Leonard Wooley di dataran Mesopotamia mengungkapkan adanya lapisan lumpur tanah liat setebal 2,5 m jauh di dalam bumi. penemuan ini menjadi bagian bukti penting bahwa banjir tersebut hanya terjadi di dataran Mesopotamia. bukti penggalian yang dilakukan Woolley di paparkan oleh seorang arkeolog Jerman, Werner Keller dalam bukunya "The Bible as History: a confirmation of the books". Bukti berikutnya ialah penemuan perahu Nabi Nuh as diatas Gunung Agri atau ararat Turki oleh Ilmuwan Noah's Ark Ministries Internasional ditemukan pada ketinggian 13.000 kaki di gunung Ararat, Turki Timur.
Ilmu Sejarah seperti sains History, Histiografi, Antropologi, Filolog, Arkeologi, Sosiologi, dan Konservasi menjadi vital dan sangat penting dalam Prosesi peningkatan Keimanan dan Ketakwaan Kepada Alloh SWT sehingga tidak sekedar yakin, tidak sekedar taklid(keyakinan buta), tidak sekedar doktrin, dan dogma tapi tetap menggunakan Nalar logika akal sehat, dan penggunaan Nalar logika akal sehat ini dipertegas oleh Alloh SWT lewat Firman-Nya di dalam Kitab suci Al Qur'an salah satunya Q.S Ali Imran ayat 190-191, Q.S Lukman ayat 11, Q.S Al Baqarah ayat 164, Q.S Al Ankabut ayat 43, Q.S Yunus ayat 101.
 
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi orang yang berakal" (QS. Ali Imran 190-191)
"Inilah ciptaan Alloh, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah" (QS Lukman ayat 11).
 QS Lukman ayat 11, dalam ayat ini Alloh menggunakan Qiyas (analogi) untuk mendorong manusia menggunakan nalar logika dalam mempertanyakan dan menyanggah kepercayaan pada sesembahan selain-Nya.
 
Untuk membangkitkan memori kolektif, kesadaran, kekayaan perspektif, literasi, menguatkan identitas, menemukan jati diri, menolak lupa, juga kepunahan maka perlu Pendekatan Sosialisasi, Informasi, penulisan, dan Pelestarian akan selalu dibutuhkan terus-menerus, Sebab Sejarah, Silsilah, Pengetahuan asal-usul, identitas, budaya, bahasa daerah, adat-istiadat, kearifan lokal, artefak-artefak, norma-norma dari leluhur, nilai-nilai dari leluhur, ikatan persaudaraan akan hilang tergerus zaman bila generasinya tidak punya kesadaran dan kepedulian. Dan semua karya manusia yang sedang hidup saat ini kelak menjadi Artefak, peninggalan sejarah bagi generasi mendatang dan akan dipelajari, dikaji, juga diteliti oleh generasi yang akan datang dengan berbagai ilmu salah satunya Arkeologi dan Filologi contohnya Nisan/kijing Makam, Rumah, Prasasti, Masjid, kaligrafi, Tosan aji, Pahatan Ukiran diatas batu ataupun kayu, foto-foto, dan sebagainya.
Praktek penghancuran dan perusakan Gedung-gedung tua, Nisan kijing makam tua, masjid-masjid tua yang dirubah bentuk aslinya harus dihindari dan dicegah dan diarahkan pada konsep Revitalisasi serta pengggunaan baru (New unes) dari bangunan cagar budaya dan bangunan bersejarah.
Tujuan mempelajari Sejarah salah satunya adalah untuk mendapatkan informasi dan pemahaman tentang asal usul, silsilah, identitas diri, jati diri, Perspektif, literasi, wawasan, khasanah budaya, dan kekayaan di bidang lainnya yang pernah diraih oleh simbah-simbahnya, leluhurnya, umat di masa lampau dan mengambil 'Ibrah (pelajaran) dari kejadian, peristiwa, kepribadian, dan fenomena tersebut.
Belajar sejarah yang di dalamnya ada silsilah, informasi kekerabatan dan persaudaraan dapat membentuk watak, karakter, dan kepribadiann yang unggul, Luhur, serta Mulia.
Menurut Kitab Suci Al Qur'an ada empat (4) fungsi sejarah yang terangkum dalam Firman Alloh SWT QS. 11/12O : 
"Dan semua kisah rasul-rasul, kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu kami teguhkan hatimu dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat(pelajaran) dan peringatan bagi orang yang beriman (QS Hud : 120).
 
Ke-empat fungsi itu, yaitu :
  1. Sejarah berfungsi sebagai peneguh hati.
  2. Sejarah berfungsi sebagai pengajaran dan informasi. Sejarah merupakan Pendidikan (Ma'uidzah) Alloh terhadap kaum muslimin dan muslimat, sebagai peringatan dalam menjalani risalah Rasul. dalam surat al a'raf 176, Alloh SWT Berfirman : ...."maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah agar mereka berfikir". dengan Sejarah manusia di tuntut berpikir dalam arti menjadikan sejarah sebagai pelajaran dan peringatan untuk menentukan langkah selanjutnya.
  3. Sejarah berfungsi sebagai peringatan. selain menjelaskan fungsi sejarah, Al Qur'an juga menegaskan tentang akhir dari perjalanan sejarah. Sejarah juga berfungsi sebagai peringatan bagi generasi berikutnya melalui peristiwa yang menimpa generasi sebelumnya. (QS. 2:66 ; 4:84). Banyak ayat-ayat Al Qur'an yang memerintahkan untuk melakukan penelitian (tandzirun) terhadap peristiwa sejarah secara obyektif, ilmiah, dan sains history. (QS. 47:10 ; 12 : 109; 12 : 46).Melalui kajian sejarah yang kredibel, obyektif, akademik, dan bisa dipertanggungjawabkan maka peristiwa besar atau kecil akan disebut sejarah tapi bila tidak maka akan disebut dongeng belaka, mitos belaka, dan legenda belaka.
  4. Sejarah sebagai sumber kebenaran yang Obyektif dan Kredibel serta Tashdiq (membenarkan dan meneguhkan).Maksudnya adalah sejarah menjadi legalitas yang otentik (landasan kebenaran) dan petunjuk bagi manusia. orang yang memahami sejarah akan mengerti dan punya analisis yang logis bahwa kehidupan dimulai darimana, bagaimana menjalani hidup dan akan kemana tujuan hidup serta perjalanan hidup berakhir. jadi sejarah akan menerangi setiap langkah yang telah, sedang akan dijalani. (QS. 4 : 137-138 ; 12 : 111).
            Secara Terminologis, kata "Sejarah" berasal dari Bahasa Arab, 'Syajaratun' yang berarti pohon. Secara istilah, kata ini memberikan gambaran sebuah pertumbuhan peradaban manusia dan Skala zaman dengan perlambang 'pohon' yang tumbuh bermula dari biji yang kecil menjadi pohon yang lebat, rindang, dan berkesinambungan. Maka sesungguhnya dari petumjuk Al Qur'an pengertian "Syajarah" berkaitan erat dengan perubahan. Perubahan yang bermakna gerak kehidupan dalam menerima dan menjalankan fungsinya sebaga Kholifah (Q,S. 2 : 30), Maka tugas dan kewajiban Manusia dimuka bumi adalah = "Menciptakan perubahan sejarah yang lebih baik" (Khalifah).
Sangat disayangkan bila seseorang individu manusia tidak tahu asal usulnya, tidak tau silsilahnya, tidak tahu simbah-simbahnya, dan saudara-saudaranya, tidak bisa bahasa daerahnya, tidak tahu sejarah para simbahnya juga leluhurnya apalagi sejarah kampungnya, daerahnya, juga negaranya. serta menganggap itu semua tidak penting, ironisnya bukti-bukti sejarah, artefak-artefak sejarah malah mereka jual bahkan hancurkan, serta buku-buku sejarah mereka ternyata di pustaka atau museum negara lain, peninggalan sejarah, artefak-artefak sejarah mereka anggap kotoran, rongsokan, dan seonggok kayu/batu/besi biasa. makam simbah-simbahnya jarang diziarahi juga tidak dikasih kijing, di-kijing pun dibiarkan hancur akhirnya nanti cucunya dan keturunannya kepaten obor. bahkan ada orang dan bangsa yang tidak mengenal peradabannya sendiri, leluhurnya sendiri, simbahnya sendiri, saudara-saudaranya sendiri, silsilahnya sendiri. bagi mereka tidak penting, Padahal suatu individu manusia bahkan bangsa tanpa tahu asal-usulnya, silsilahnya, tanpa budaya, dan sejarah adalah manusia yang mati, manusia yang tidak punya identitas, bangsa yang mati dan bangsa yang tidak punya identitas. Karena sebagian banyak dari pemikiran dan idiologi masyarakat bergantung pada asal-usulnya, peradaban, budaya, sejarah, dan kesadaran kolegtif. Bangsa ataupun manusia tanpa asal-usul, identitas, peradaban, dan sejarah tak ubahnya seperti boneka mainan kecil yang mudah dimainkan oleh orang lain.   
 
            Tidak kurang Tujuh (7) kali Alloh SWT menyuruh manusia untuk mempelajari kehidupan umat masa lampau untuk mengambil hikmah, Pelajaran, juga pengetahuan berharga seperti Surat Yusuf ayat 111, Surat Thaha Ayat 99, Surat Ali Imron Ayat 137, Surat Al Isra ayat 77, Surat al Ahzab ayat 62, surat Hud ayat 120, Surat Al anfal ayat 33, Surat An Naml ayat 69.
Banyak Hikmah dan Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian di masa lalu atau sejarah untuk masa kini dan masadepan. Hikmah dan pelajaran yang bsaik untuk diteladani, hikmah dan pelajaran yang buruk untuk dijauhi dan tidak di ulang.
Rosulloh SAW bersabda : "Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang beriman. Dimana saia menemukannya maka ambillah". (HR. at Tirmidzi)
 
            Gelondong adalah ketua lurah-lurah atau kordinator lurah-lurah dari beberapa desa, eyang Glondong Suromenggolo membawahi beberapa Desa. 
Sedangkan mertua Eyang R.M. Soeromenggolo yang bernama Eyang Ketomenggolo dimakamkan di makam Ketileng dibelakang SDN Tursino. Dan kemungkinan Hipotesisnya R.M. Sulaiman alias R.M. Ketomenggolo alias Eyang Turusuli bersama rombongan adalah pelarian dari Malang setelah Ayahnya B.P.H Singosari tertangkap dan dibawa ke Batavia, dan ini masuk akal serta terkonfirmasi dari serat silsilah kekancingan milik Lik Sumardi, juga gaya nisan makam yang umumnya bergaya Hamengkubuwanan (Era Tahun 1700-1800).

R.M. Soeromenggolo entah itu ditunjuk dan diangkat oleh Kraton atau masyarakat setempat dan diberi mandat jadi Lurah Desa Tursino sekaligus Glondong di utara gunung tugel kutoarjo yang meliputi Desa sokoharjo, Tepus, kemadu, kaligesing, wirun, karangrejo, dan Tursino. 

"Soeromenggolo" adalah sebuah nama Gelar, entah itu gelar ke-Ningratan, entah itu gelar Ke-Pemimpinan, entah itu gelar ke-ilmuan. yang jelas itu adalah Asmo gelar. sehingga banyak sekali Nama Soeromenggolo, Sawunggaling, Diponegoro, Yudonegoro, Surokusumo, Djoyo Sundargo, Dipomenggolo, dan lain-lainnya di pulau Jawa terutama di era Mataram Islam karena "Soero" adalah nama Bulan di Kalender Islam dan kalender jawa dimana di era Raja Mataram Islam ke-3 yaitu Sultan Agung, kedua Kalender ini disatukan, orang jawa menyebut Bulan Muharram dengan nama bulan Suro dengan mengambil hari ke 10 bulan Muharram yang disebut Hari Asyyuro lalu disebut "Suro". 

            Penanggalan Jawa merupakan Sistem Kalender Tradisional yang berdasarkan peredaran Bulan, yang dikenal sebagai kalender Lunar. sejarah penanggalan jawa berasal dari sistem kalender Hindhu-Budha, lalu pengaruh Islam pada abad ke-15 masuk ke Nusantara atau jawa oleh para ulama alias kasta brahmana dengan memperkenalkan Kalender Hijriah, dan pada abad ke-17 Susuhunan Sultan Agung Raja Mataram Islam menciptakan Penanggalan jawa yang disatukan dengan Kalender Hijriah, menggabungkan kalender jawa/saka atau syamsiah alias matahari dengan kalender Hijriah yang menggunakan Qomariah atau Bulan. Penanggalan Jawa-Hijriah digukan secara resmi di jawa dari era Sultan Agung yaitu Juma'at Legi 8 Juli tahun 1633 Masehi atau Tahun Islam 1043 atau Tahun Jawa 1555 Saka sampai sekarang. sedangkan Kalender Jawa atau dusebut kalender Saka yangg menggunakan Syamsiah (matahari) sebagai acuan dimulai pada hari Sabtu 14 Maret 78 Masehi saat Penobatan Pabu Syaliwahono (Aji saka), sedangkan Kalender Hijriah atau Kalender Islam merupakan kalender yang sistemnya di mulai sejak ke-khalifan Umar bin Khatab yang berpatokan pada saat Nabi Muhammad SAW Hijrah dari Mekah ke Yastrib/Medinah untuk menghindari pembuhuhan yang akan dilakukan kaum kafir quraisy di mekah yang terjadi pada tahun 622 Masehi menurut Kalender Nabi Isa AS.

Nama Bulan Kalender Jawa sudah terpengaruh Agama Islam sehingga ada :
  1. Sura
  2. Sapar
  3. Mulud
  4. Bakda Mulud
  5. Jumadilawal
  6. Jumadilakir
  7. Rejeb
  8. Ruwah
  9. Pasa
  10. Sawal
  11. Dulkangidah
  12. Besar
Hitungan Tahun Kalender Jawa Islam melanjutkan kalender Saka yaitu mulai dari tahun 1555 dengan ketentuan sebagai berikut :
  1. Menggunakan Bulan sebagai acuan.
  2. Jumlah Bulan adalah 12 yaitu Suro, sapar, mulud,bakda mulud, jumadilawal, jumadilakir, rejeb, ruwah, poso, syawal, dulkaidah, besar.
  3. Satu tahun berjumlah 354/8 hari atau 354 hari 9 jam
  4. Dalam jangka waktu 120 tahun terdapat kelebihan 1 hari yang harus dikurangi.
  5. dimulai pada Tahun 1555 bertepatan dengan tahun 1633 Masehi untuk kalender orang barat/kristen berpatokan pada kelahiran Nabi Isa As, dan 1043 Hijriyah untuk kalender Islam yang berpatokan dengan hijrah nabi muhammad SAW dadi Mekah ke Medinah.
  6. Umur bulan 30 dan 29 hari. bulan ganjil berusia 30 hari, sedangkan genap berusia 29 hari.
  7. Satu daur berjumlah 8 tahun, daur ini dinamakan dengan windu. sehingga asal-muasal istilah "Windu" berasal dari 8 tahun ini.
  8. Dari 8 tahun tersebut, ada 3 tahun panjang yaitu pada tahun ke-2,5,8 yang disebut dengan Wuntu jumlah hari dalam satu tahun wuntu adalah 355 hari.
  9. Tahun pendek adalah tahun ke 1,3,4,6,7 yang disebut dengan wastu. jumlah harinya ada 354 hari.
  10. Maing-masing tahun dalam satiu windu (8 tahun) tersebut diberikan istilah menggunakan huruf ababjadiyah sebagai berikut  : 
  • Tahun ke-1 disebut Alip
  • Tahun ke-2 disebut Ehe
  • Tahun ke-3 disebut Jimawal 
  • Tahun ke-4 disebut Ze 
  • Tahun ke-5 disebut Dal
  • Tahun ke-6 disebut Be
  • Tahun ke-7 disebut Wawu
  • tahun ke-8 disebut Jimakir.

Menurut ketentuan diatas, setiap 120 tahun terdapat kelebiahan 1 hari yang harus dibuang sehingga diabuatlah ketentuan untuk mengurangi satu hari pada tahun pamjang (Wuntu) yang dirumuskan dengan istilah " Huruf": dengan sistem huruf ini, akan diketahui hari dan pasaran pada tahun pertama (alip) dalam satu windu/daur. samapi dengan tulisan ini saya buat, terdapat emapat "huruf" yang sudah dilewati dan sedang dilewati, yaitu :

  1. Jami'yah Legi (jum'at-Legi), mulai tahun 1555 - 1627 Kalender Jawa-Islam
  2. Amiswon (Alip-Kamis-Pon), mulai tahun 1627-1747 Kalender Jawa-Islam
  3. Aboge alip-Rebo-Wage), mulai tahuhn 1747-867 kalender Jawa-Islam.
  4. Asapon (Alip-Selasa-Pon), mulai tahun 1867-1987 Kalender Jawa-Islam.
Contoh membaca "Huruf" diatas adalah setiap Windu/8 tahun pada tahun 1747-1867 kalender jawa-islam akan diawali dengan tahun alip yang pasti berada pada hari Rabu Wage (Aboge). sehingga tiap tahun ke-1 atau Alip akan jatuh pada hari Rabu wage.
Aboge dan Asapon adalah hurufdalam kalender jawa-islam yang memiliki masa waktu tersendiri. Orang zaman dahulu pada tahun 1912 masehi bertepatan dengan tahun 1842 kalender Jawa-Islam, merek pada "huruf" Aboge.

Perbedaan Kalender Jawa Hijriah/Islam dan Kalender Masehi (kalender Masehi diciptakan oleh kaum Nabi Isa AS, Yang berpatokan kepada kelahiran Nabi Isa AS) :
  1. Penanggalan Jawa-Islam masih digunakan dalam ritual keagamaan jawa non islam sampai sekarang
  2. digunakan untuk menentukan tanggal perayaan Hari Besar Agama seperti Nyepi, Idul Fitri, Maulud Nabi SAW, dan Idul Adha.
  3. Sebagai bagian dari Syiar Budaya Islami, Kearifan lokal, dan identitas jawa.

Ada sejarah penting di dalam Tarikh sejarah Islam dibulan Muharram/Suro, ini seperti :

  1. Keberanian Nabi Muhammad SAW dan sahabat dalam hijrah ke Mekah-Medinah melewati penderitaan dengan berjalan kaki ratusan kilometer dari Mekah ke Yastrib/Medinah, 
  2. Juga cerita kepedihan yang terjadi di hari ke-10 bulan Muharram atau disebut Hari Asyuro yaitu Gugurnya cucu Nabi SAW Sayidina Husein RA di padang karbala, 
  3. Diciptakan Nabi Adam AS, 
  4. Diterimanya taubat Nabi Adam AS, 
  5. Naik sejajarnya perahu Nabi Nuh AS dengan bukit Judi setelah banjir bandang besar, 
  6. Dikeluarkan Nabi Yunus AS dari perut ikan paus, 
  7. Diterimanya taubat Nabi Yunus AS, 
  8. Dilahirkan Nabi Ibrahim AS, 
  9. Dikeluarkan Nabi Yusuf dari Sumur setelah diceburkan saudara-saudaranya, 
  10. Dipertemukan Nabi Yusuf AS dengan keluarganya, 
  11. Disembuhkan penglihatan Nabi Yaqub AS, 
  12. Dibukanya (dihilangkan) 'madhorot' yang mendera Nabi Ayyub AS, 
  13. Diampuninya Nabi Daud AS, 
  14. Terbelahnya Laut merah Untuk Nabi Musa AS dari kejaraan Fir'aun, 
  15. Tenggelamnya Fir'aun di laut merah, 
  16. Dilahirkannya Nabi Isa AS, 
  17. Diangkatnya Nabi Isa AS ke langit, 
  18. Dilindungi-Nya tubuh Ashabul Kahfi (para pemuda Bani Israil yang bersembunyi di dalam gua), 
  19. Diciptakannya Ruh Nabi Muhammad SAW, 
  20. Dikandungnya Nabi Muhhammad SAW di Rahim Ibunda Siti Aminah.  Dan sebagainya.
            Bulan Suro kenapa orang Jawa tidak melakukan hajatan Pernikahan, foya-foya, dan sebagainya????.....
Jawabanya : "Boleh saja melaksanakan Hajatan pernikahan, acara besar di bulan Muharram/Suro serta tidak bikin kualat ataupun apes, karena dalil secara harfiah dan spesifik tidak ada" tapi "orang Jawa tidak melakukan Hajatan pernikahan ataupun Hajatan besar di bulan Suro/Muharram bukan karena takut jin, menyembah jin, menyembah nyai roro kidul, bukan karena danyang, bukan karena chufarat tapi semata-mata karena Ahlak, Kesadaran, dan adab juga kecintaan orang jawa kepada junjunganya Nabi Besar Muhammad SAW serta diharapkan Syafaatnya. Inilah ahlak orang jawa yang di gariskan  dan diajarkan oleh para Wali dan Ulama Jawa, yaitu berupa penghormatan kepada Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW dan ahli baitnya", berlandaskan dan berdasarkan Kanjeng Nabi SAW di Bulan Muharram/Suro lagi bersedih, lagi susah payah, lagi prihatin terusir dari kampungnya karena akan dibunuh Kaum Kafir Quraisy di Mekah dan meninggalkan Mekah ke Madinah dengan berjalan memutar dan tidak lazim, tanpa alas kaki, tanpa berbicara, untuk mengelabui orang-orang kafir yang akan membunuhnya, berjalan kurang lebih 12 hari dengan jarak ratusan kilometer ditengah padang pasir tandus, kakinya sampai pecah-pecah penuh darah, badannya kurus kering, kumal, berkubang debu, dan itu masih dikejar-kejar komplotan para pembunuh dari Mekkah. Beberapa Tahun kemudian pada tanggal 10 Muharam atau hari Asyuro cucu Nabi SAW bernama Sayidina Husain dibunuh dengan sadis serta dimutilasi dengan dipenggal kepalanya di padang karbala. "Dalam upaya merasakan Penderitaan Nabi Besar Muhammad SAW dan ahli baitnya, Maka orang Jawa tidak mau Hajatan Besar seperti Pernikahan di bulan Muharam/Suro. dan dialihkan menjadi memperbanyak amal ibadah dengan puasa, berzikir, tirakat, sedekah dan sebagainya". apalagi Nalar Logikanya Bulan Muharaam/Suro adalah bulan pertama di tahun baru Islam yang memang harus banyak intropeksi diri, refleksi diri, tafakur, evaluasi, mendekatkan diri kepada Alloh SWT.
Bahkan karena ingin merasakan penderitaan Nabi Muhammad SAW serta cinta kepada Nabi SAW orang Jawa juga Nusantara melaksanakan jalan kaki atau lampah ratri sambil tidak berbicara (topo bisu), sambil tanpa alas kaki, sambil berzikir, berjalan mubeng benteng, berjalan dari desa A ke desa B, Berjalan Muter Desa lalu di pojok-pojok desa Adzan baca do'a Qunut lalu ditutup iqomah, berjalan dari kota D ke Kota B.
Masalahnya justru kalau menikah di bulan Suro/Muharram  dengan salah satu tujuan untuk membuktikan bahwa menikah di bulan suro itu tidak apa-apa. kau bilang : "tidak ada dalilnya!! itu mitos!!!", nah ini berarti kau meremehkan sesuatu. meskipun kau bilaang bahwa tidak terjadi apa-apa, Tapi merendahkan sesuatu.
kau harus tahu bahwa Nusantara ini, terutama Jawa budaya dan tradisi 
dibangun di atas kaidah ; "Adat basandi syara', Syara' Basandi Kitabullah" 
yang artinya : Adat bersendikan Syariat, Syariat bersendikan Kitabulloh/Al Qur'an".
 
kalau dipelajari dan di teliti dengan Antropologi Budaya yang disebut Kebudayaan, Tradisi, dan Adat-istiadat di Jawa mengandung Ajaran dan Syiar Agama Islam yang berlandaskan Kepada Al Qur'an, Sunnah Nabi, Itjma, Qiyas, dan Ijtihad ulama-ulama terdahulu.
Tradisi Muslim Nusantara itu adalah dimensi batin Syariat. kalau kau tidak setuju tidak apa-apa. tapi jangan kau rendahkan. kau bisa bermasalah. kata orang jawa "Kualat", itu bukan kualat karena bulan Suro, tapi karena kamu merendahkan sesuatu.
 
            Orang yang mempertahankan Identitas, Mempertahankan Budaya, Mempertahankan Seni Budaya, Mempertahankan Kearifan Lokal, Mempertahankan Norma-norma Sosial, Mempertahankan artefak, Mempertahankan Cagar Budaya, Mempertahankan Warisan Leluhur, Mempertahan Adat-Istiadat, Mempertahankan adab sopan santun adalah Bukanlah Orang Primitif dan terbelakang di tengah kemajuan Zaman dan Kemajuan Teknologi Juga Era Disrupsi. Justru orang yang mempertahankan Budaya, Kearifan Lokal, Seni budaya, artefak, cagar budaya, adab sopan santun, adat-istiadat Ditengah Kemajuan Zaman juga Era Disrupsi adalah suatu kegiatan dan tindakan Positif serta terpuji yang mempertahankan dan menunjukkan kebanggan akan Identitas, menjaga Legacy, dan warisan leluhur dan merupakan pelestarian, pengenalan, juga pengembangan agar tidak kehilangan Jati diri dan identitas di tengah globalisasi serta era disrupsi dan era krisis identitas. 
        Sebaliknya Primitif dan terbelakang justru berlawanan dengan upaya aktif melestarikan, menjaga, memperkenalkan dan mengembangkan budaya, seni budaya, adat-istiadat, adab sopan santun dan warisan leluhur. Menjaga budaya, adat -istiadat, kearifan lokal bukan berarti menutup diri tapi tetep jangan sampai ketinggalan teknologi. dan memanfaatkan teknologi untuk menjaga dan melestarikan budaya, adat-istiadat, kearifan lokal itu sendiri
Budaya, adat istiadat, kearifan lokal, dan warisan leluhur adalah Pondasi suatu bangsa dan masyarakat yang berarti mempertahankan identitas, jati diri, asal-usul, dan nilai-nilai yang membentuk kita. apalagi umumnya Budaya jawa dan adat istiadat jawa mengandung nilai-nilai mulia, falsafah hidup, dan ajaran Agama Islam yang berdasarkan kepada Fiqih, Sehingga Relevan sepanjang zaman.
Generasi muda yang sadar dan punya panggilan jiwa mempunyai peran penting untuk mengajarkan kepada generasi yang akan datang, sebagai contoh menggunakan bahasa lokal daerah, menggunakan pakaiaan adat pada acara tertentu dan sebagainya
 
Syiar Islami atau oleh orang sekarang hanya disebut Budaya, Tradisi, Kearifan Lokal, dan Adat-istiadat yang masih berjalan di Desa Tursino atau dilaksankan oleh Level Pemerintah Desa Tursino Seperti Menyelenggarakan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Penduduk Desa Tursino umumnya  Adalah : 
  1. Berjanjen
  2. Yasin-tahlil
  3. Slametan Kematian ( 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari dan seterusnya)
  4. Kenduri
  5. Rejeban
  6. Ruwahan atau sadaranan di Makam Eyang Soeromenggolo
  7. Maulid Nabi
  8. Khotmil Qur'an atau khataman Qur'an serta Peserta di arak dengan Kuda keliling desa-desa 
  9. Suroaan
  10. Rebo Wekasan 
  11. Syabanan
  12. Mbubur Suro
  13. Tumpengan
  14. Berkatan/Sedekahan
  15. Brokohan 
  16. Ngupati
  17. Mitoni
  18. Tingkeban
  19. Selapanan
  20. Sepasaran 
  21. Walimahan 
  22. Among-amongan
  23. Halal-bihalal
  24. Dan sebagainya 

Kegiatan Sosial Kemasyarakatan yang masih dikakukan oleh warga Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa tengah serta menjadi Norma Sosial atau Wewaler juga Kebiasan lama yang luhur/mulia juga menjadi Budaya adat istiadat yang mulia dan relevan sepanjang zaman adalah :

  • Musyawarah
  • Gotong Royong
  • Rewang/lagan
  • Halal-bihalal
  • Menengok saudara atau tetangga yang sakit ataupun yang baru melahirkan
  • Sinoman
  • Kerja Bakti
  • Sambata Pembentukan Panitia Hajatan Pernikahan, Panitia Hari Besar Islam, Panitia HUT RI, Panitia kepemudaan, Panitia kelompok tani, Dsb.
  • Menggali Kubur
  • Ronda Malam 
  • Dan Sebagainya

Kita tidak tahu Seratus (100) tahun yang akan datang kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan dan Syiar Islami yang telah menjadi norma, Budaya, dan Istiadat yang luhur dan mulia juga relevan sepanjang zaman ini masih ada, berjalan, dan eksis ditengah gempuran zaman, arus Globalisasi, Era kecanggihan teknologi, Era Digital, Era Disrupsi, serta kedatangan para ulama di masyarakat, Sosial Media dan TV dengan Doktrin serta tafsir juga pemahaman Agama yang beraneka ragam dan bebeda-beda. Sehingga Syiar Islami berdasarkan Sunah dan ajaran Nabi Muhammad SAW, Al Qur'an, Hadist, Ijma, Qiyas, Ijihadh malah di Bid'ah-bid'ah-kan, disesatkan, di-musyrik-kan.

maka tanggung jawab juga kesadaran kita untuk memahami itu serta memberikan pengertian, nilai-nilai, dan pemahaman terhadap anak-cucu agar nantinya tidak salah kaprah.
 
 "Belajarlah dari sejarah, Karena bangsa yang lupa akan sejarahnya adalah Bangsa yang hilang (Kehilangan Identitas) dan Rakyat tanpa masa lalu adalah Rakyat yang tidak memiliki lagi jiwa semangat kejuangan, belajar dari Sejarah bukan berarti untuk hidup di masa lalu, tapi guna memetrik hikmah dari pelajaran sejarah"
By. Bung Karno Presiden Pertama Republik Indonesia

            Berlandaskan Tarikh sejarah di Bulan Muharram atau Suro itu. Untuk itu di Jawa Suro akhirnya dimaknai sebagai "Berani" seperti Nabi Muhammad SAW, Para sahabat, Para Nabi dan sebagainya yang berani menghadapi tantangan dan penderitaan di bulan itu. 
belum diketaui nama asli dari eyang Soeromenggolo. Suro sendiri artinya berani dan Menggolo artinya pemimpin pasukan, Yang bermakna "Pemimpin pasukan yang gagah berani"

  

Foto : Kijing Jirat Makam Glondong R.M. Soeromenggolo di Desa Tursino, kecamatan Kutoarjo, kabupaten Purworejo.
Nisan kijing jirat Makam Eyang Soeromenggolo dan makam-makam Tua lainya telah menjadi "Artefak" bukti sejarah.

            "Menjaga kijing dan nisan makam tua adalah bentuk menjaga sejarah desa" Kijing, Jirat dan nisan makam terutama Makam-makam tua adalah sebuah Artefak. Artefak adalah benda atau obyek buatan tangan manusia atau benda alam yang dimodifikasi oleh manusia yang memiliki nilai Sejarah, Seni,keindahan, budaya, dan Arkeologi. Nisan jirat eyang soeromenggolo adalah sebuah Artefak yang terbuat dari batu wadas yang biasanya di buat oleh pengrajin makam dari penduduk lokal setempat ataupun tetanga desa dengan guratan-guratan, gaya/style, kaidah-kaidah, aturan-aturan, pakem-pakem tertentu, dan nisan makam eyang R.M. Soeromenggolo bergaya "Mataram Boyolalen" yang menurut sahabat saya seorang Akademisi Dosen UIN Sunan Kalijaga Gus Yaser Muhammad Arafat peneliti Budaya Jawa, Sejarawan, sekaligus Filolog, Arkeologi, dan pengkaji bentuk rancang bangun nisan jirat makam, beliau yang disemayamkan di makam itu (Eyang Suromenggolo) mengambil sanad ke ilmuan dari daerah Boyolali. Yang di masa lalu tarekat disebut "sanad suluk".
Dilihat dari nisan jirat makam beliau menurut kajian dan penelitian Gus Yaser yang dilakukan bertahun-tahun lamanya, menandakan beliau tugas nya sebagai "Ngulama-Ksatrian", atau ulama kejadugan, kalau dianalogikan saat ini adalah ulama militer.

Betul saja beliau saat hidup adalah seorang Glondong yang menurut kajian Gus Yaser, Glondong adalah koordinator pasukan Dipanegaran dari masing-masing daerah, Glondong itu dibawah assisten wedana atau camat.
Dan gaya makam biasanya memakai sanad keilmuan seperti suluk/tarekat, juga ada simbol kasta atau tugas jabatan semasa hidupnya.
contoh artefak adalah : Jirat nisan makam, alat-alat batu, prasasti, logam dan tulang,gerabah, senjata-senjata logam, keris, pedang, dan lain-lain. 

Kepunahan pengetahuan tentang asal-usul, tentang silsilah, tentang sejarah kampungnya, tentang sejarah leluhurnya, tentang ikatan kekerabatan dan persaudaraan, tentang bahasa daerah, tentang budaya, tentang wewaler atau norma-norma dari leluhur, tentang adat-istiadat, tentang kearifan lokal maka akan terjadi ketercabutan dari akar rumput, kehilangan identitas, kehilangan jati diri, kehilangan karakter, kehilangan adab sopan-santun, termasuk kehilangan jati diri bangsa, serta kehilangan rasa tawaduk dan terimakasih kepada generasi tua, leluhur, para pahlawan. 
Kalau menurut Almarhum Suwargi Prof. Ir. Eko Budiharjo, MSc seorang Arsitek, Budayawan dan ilmuwan Indonesia yang pernah menuabat Rektor Undip periode 1998-2006, Pernah berkata : "Kota tanpa bangunan tua sama saja manusia tanpa ingatan. Manusia tanpa ingatan sama saja dengan orang gila, Kota tanpa ingatan berarti kota gila"
Kalau menurut saya bisa digubah kata-katanya yaitu :
" Desa tanpa tanpa ada Kijing Jirat Nisan Makam Tua sama saja manusia tanpa ingatan, Manusia tanpa ingatan sama saja dengan orang Gila, Desa tanpa ingatan berarti desa Gila"
By. Ndandung Kumolo Adi

              Sejarah Bangsa ini adalah sejarah desa, bangsa ini berdiri diatas mayat-mayat para pembuka peradaban, merawat makam tua, pohon tua, masjid tua, langgar tua, belik tua, silsilah leluhur desa adalah merawat sejarah bangsa. untuk itu makam-makam tus sebagai artefak jangan sampai dirubah apalagi dihancurkan, pohon-pohon tua sebagai artefak hidup yang berada di makam-makam, belik, masjid, di pemukiman masyarakat seperti Kepuh, Ketileng, Bendo, Winong, Nogosari, Trembesi, mentaok dan sebagainya jangan ditebang, belik tua jangan dihancurkan, masjid tua jangan diribohkan karena itu semua saling berkaitan, saling terkoneksi, saling terkonfirmasi ditambah nanti peninggalan artefak di masyarakat desa seperti keris, tombak, pedang, payung, mimbasr masjid.

Generasi sekarang tidak tahu adanya Pohon Winong, Pohon bendo, Pohon Nogosari, Pohon Ketileng, Pohon Suren, Pohon Mentaok, Pohon Kecacil/Kosambi, Pohon Kemuning, Pohon Sambeng, Pohon Blambangan, Pohon Bungur, Pohon Tepus, Pohon Temon, Pohon Kemloko, Pohon Jombang, Pohon Kendal, Pohon Suren, Pohon Secang dan sebagainya. Nama-nama Desa dan Dusun di Jawa umumnya adalah toponim nama Pohon-pohon tua, yang sekarang jarang kita temui, sehingga ada desa tepus, desa winong, desa suren, desa kendal, desa kepuh, desa sambeng yang itu semua adalah nama-nama Pohon sehingga tidak heran ada puluhan nama desa winong di pulau jawa. tapi sayangnya generasi sekarang mengalami krisis pengetahuan tentang itu semua.

Dimakam atau kuburan kita bisa mempelajari Artefak jirat nisan makam, ukiran-ukiran jirat nisan, lekukan-lekukan jirat nisanm pahatan-pahatan jirat nisan makam, style makam, era makam dan sebagainya. 

 Berikut Nama-nama Sesepuh/kamituwo Desa Tursino dan Lurah Desa Tursino dari masa ke masa :

  1. R. Soeromenggolo bin R.Ngabei Mertodiwiryo Keturunan Amangkurat I dan Brawijaya V. Soeromenggolo seorang Lurah Desa Tursino, Sekaligus gelondong yang membawahi desa tursino, wirun, Karangrejo, Kaligesing, kemadu, Sokoharjo. Juga merangkap sesepuh ataupun kepala desa Tursino pada tahun sekitar kurang-lebih 1800-an.
  2. R. Soerat Admojo putera dari R. Soeromenggolo yang melanjutkan sebagai glondong merangkap lurah Desa Tursino. Juga pada tahun 1800-an
  3. R. Tjokrosumarto, Tjokrosumarto bin R. Martodimedjo bin R.M. Soeromenggolo menjabat glondong dan Lurah Desa Tursino sekitar Tahun 1900an.

 
        Bapak Sindi dari Tursino Putat, Menjabat kepala Desa Tursino, yang menjabat dari Tahun 1946            sampai 1949. Beliau Kepala Desa Tursino Pertama ( I ) Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia         17 Agustus 1945

5.


    Bapak Muhammad Pandi dari Tursino Ngbrak, Menjabat kepala Desa Tursino Ke-dua ( II ) Setelah        Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Menjabat dari tahun 1956 sampai 1973.

6.


        Bapak. Wal Qobri alias Pawiro Diharjo dari Tursino Kepuh, menjabat sebagai kepala desa Tursino         Ke-tiga ( III ) Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945,
        Menjabat dari tahun 1973 Sampai 1979.
        Selain jadi Kepala Desa, bBapak Pawiro Diharjo juga Pernah Menjabat Sebagai Congkok.
        Nama Muda Beliau adalah Wal Qobri, Mendekati Usia Tua beliau berganti Nama Pawiro Diharjo 

7.


        Bapak. Suradi dari Tursino Putat depan Balai Desa, menjabat sebagai kepala Desa Tursino Ke-               empat ( IV ) Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Menjabat dari                        tahun 1979 Sampai 1989.

 8.


        Bapak. Chotim dari Krajan Tursino Kidul, Menjabat kepala desa Tursino Ke-lima ( V ) Setelah            Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Menjabat dari tahun 1990 sampai 1998.
 
9.


        Bapak. Sutoko dari Tursino Ngrapoh, Menjabat kepala desa Tursino Ke-enam ( VII ) Setelah                Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Menjabat dari tahun 1999 sampai 2007.

 10.


        Bapak. Nailun Kusnen dari Tursino Putat, menjabat kepala Desa Tursino Ke-tujuh ( VII ) Setelah            Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Menjabat dari tahun 2007 Sampai 2009.

11.


      Bapak. Habib Iriyanto dari Krajan Tursino Kidul, Menjabat kepala desa Tursino Ke-delapan ( VIII )       Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Menjabat dari tahun 2011 sampai 2016.

12.

        Bapak. Priyono dari Tursino Kepuh Njungprit, menjabat sebagai kepala Desa Tursino Ke-sembilan         ( IX ) Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Menjabat dari tahun                            2017 sampai 2023
 
13. 
        Bapak Ari Wibowo dari Tursino Ngrapoh, Menjabat Kepala Desa Tursino Ke-sepuluh ( X )                    Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Dari 11 Desember 2023                                sampai - Sekarang.

            RM.Soeromenggolo yang masih Keturunan Prabu Brawjaya V Majapahit, Sultan Agung Hanyorokusumo, Juga keturunan Susuhunan Amangkurat Agung I sedangkan istri beliau adalah Buyut dari Raja Mataram Susuhunan Prabu Amangkurat IV. R.M. Soeromenggolo menurut ceita folklor atau cerita tutur masyarakat juga menjadi Senopati Pendamping Pangeran Diponegoro, beliau adalah juga ahli beladiri yang ilmunya turun menurun dari leluhurnya. diceritakan bahwa di desa tursino pernah terjadi perang besar antara pengikut Pangeran Diponegoro melawan Belanda, dan itu tertulis di dalam buku sejarah di perpustakaan umum kutoarjo juga di Babad Kedungkebo karya Bupati Purworejo Perdana yaitu K.R.A.A. Tjokronegoro I yang mengisahkan perang jawa yang terjadi di tahun 1825-1830 yang berarti eksistensi Desa Tursino dan nama desa tursino saat perang jawa masih ada. serta melihat bentuk nisan jirat makam secara umum berlanggam atau bergaya Hamengkubuwanan  kemungkinan Desa Tursino muncul di Abad 17-18 atau antara tahun 1600- 1700 Masehi.

Sebelumnya eyang Suromenggolo pernah tinggal di Desa Kiyangkong, desa di selatan Semawung/Kutoarjo lalu saat Perang Jawa hijrah ke utara Gunung tugel dan jadi Lurah dan glondong disana.
Desa Kiyangkong adalah pemukiman penduduk Elit Jawa dan Tionghoa dari bukti nama-nama dusun, makam-makam tua, serta masjid tua juga Ada makam Eyang Djoyo Prabongso dan Tumenggung Surodirjo dimana tokoh-tokoh tersebut tercatat dan sering disebut dalam Babad Kedungkebo karya Bupati Perdana Purworejo K.R.A.A. Tjokronegoro I bahwa mereka pengikut Pangeran Diponegoro yang menjadi musuh bebuyutan Tjokronegoro I

RM. Soeromenggolo mempunyai dua istri, istri kedua adalah keturunan Ki Ageng Tursuli putri dari RM. Ketomenggolo/M.Sulaiman Bin BPH Singosari/RM. Sunaka Bin Susuhunan Prabu Amangkurat IV 

            Di Era Disrupsi, Era Kecanggihan Teknologi, Era AI (ARTICIAL INTELLIGENCE) alias Kecerdasan buatan, Era kecanggihan internet dan komunikasi. Apalagi generasi Z Kelahiran tahun 1997-2012, generasi Alpha kelahiran tahun 2013 - 2024, geerasi Beta kelahiran 2025 - 2039.serta memunculkan dan menciptakan generasi Strawbeery adalah generasi yang dimanja, yang ego apatis, yang lemah mentalnya, yang tidak bisa mandiri, gampang putus asa, gampang frustasi, gampang stress, gampang depresi, introvert, serta ketergantungan pada orang tua. Maka pendekatan sosialisasi, informasi, dan pelestarian lewat berbagai media dan strategi termasuk memanfaatkan teknologi, internet, sosial media menjadi sangat penting, fundamental, serta urgent di lakukan dan dibutuhkan terus menerus agar generasi muda tahu silsisilahnya, tahu sejarah leluhurnya dan desanya, tahu budayanya, tahu bahasa daerahnya, tahu akar rumputnya, tahu asal usulnya, tahu identitasnya. penelusururan silsilah, penelusuran sejarah, kajian bentuk nisan makam, kajian bentuk ukiran masjid dengan berbasis sains history, histiografi, antropologi, sosiologi, dan filolog merupakan upaya pelestarian, konversasi, dan menolak lupa, serta membangkitkan memori kolegtif.

Foto. Komplek makam Gedong disitu disemayamkan Para Sesepuh juga Cikal Bakal yaitu Umaro dan Ulama Desa Tursino.
Yaitu R.M. Soeromenggolo bin Raden Ngabei Mertodiwiryo dan Kyai Raden Chasan Bin Syech Lukman hakim. 
Kyai Chasan adalah kyai yang dipanggil eyang suromenggolo dari tuk songo purworejo untuk menjadi ulama

            Umumnya Makam-makam Sesepuh Desa atau daerah di makamkan di tengah-tengah paling Utara ataupun sedikit ke-tengah tapi masih di sisi utara, yang kemungkinan di sebelah utara ada makam-makam baru. dan Mkamnya umumnya di beri batas dan agak ditinggikan sebagai penghormatan atau adab. Sebagai bentuk adab, bakti, dan terimakasih generasi muda atau yang masih hidup kepada generasi tua yang sudah tiada Setiap bulan-bulan tertentu masyarakat desa,ataupun kota khususnya di Desa Tursino berkumpul dan bergotong royong melakukan bersih makam juga ruwahan atau nyadran di komplek makam para umaro dan ulama Desa Tursino yang didalamya ada makam Eyang R.M. Soeromenggolo bersama istri beliau R.A. Soeromenggolo, komplek makam tersebut oleh masyarakat desa tursino disebut makam "Gedong". Makam Gedong adalah komplek makam para Cikal bakal dan sesepuh desa di masa lalu dan warga masyarat juga para keturunan Eyang R.M. Soeromenggolo dan Kyai R.M. Chasan bin Syekh Lukman Hakim/RA Sansangid sudah tidak boleh dimakamkan disitu lagi, karena makam itu sudah menjad Artefak, simbol dan monumental masyarakat Desa Tursino.  "Menjaga Makam Tua, Menjaga Makam Leluhur, Menjaga Nisan Makam agar tidak dirubah ataupun diganti adalah merawat dan menjaga Sejarah desa agar bisa diketahui, dikaji, diteliti, dibaca oleh generasi yang akan datang, nisan jirat maesan makam adalah artefak" 

Menurut keterangan Bapak R. Wahyu Djatmiko, Eyang R.M. Soeromenggolo mempunyai kakak seperguruan yang menjadi Patih Kabupaten Semawung (Kabupaten Semawung sebelum berganti nama menjadi Kutoarjo) Era Bupati Adipati Sawunggaling II semawung, pada masa itu juga melewati masa Perang Besar Diponegoro tahun 1825 - 1830 M.

Kakak Seperguruan Eyang Suromenggolo itu bernama R.Ngabehi Djojo Probongso makamnya di belakang Masjid Jami' At-Takwa Pringgowijayan kutoarjo.

 

foto makam R. Ngabehi Djojo Prabongso, patih kutoarjo di belakang masjid At-takwa pringgowijayan.

 

 

 

Foto makam Raja Mataram ke-4 Sayidin Amangkurat I Agung bin Sultan Agung. di Tegal.

 

 

Foto. Makam BRA. Klenting Kuning Binti Amngkurat I.
BRA. Klenting Kuning adalah Istri Yudonegoro I Bupati Banyumas

 

Foto. Makam Raden Tumenggung Yudonegoro I Bupati Banyumas di Banyumas

I. B.P.H Singosasari Bin Amangkurat IV, menikah dengan istri ke-?, Peputro :

                     I.1. R.M. Tirto Kromo
                     I.2. R.M. Ketomenggolo/M.Sulaeman

I.1. R.M. Ketomenggolo alias R.M.Sulaiman bin R.M Sunaka alias Bandoro Pangeran Hayo Singosari         bin Prabu Amangkurat IV Jawi mempuyai tiga putra :

                    I.1.1. R.M. Dityoyudo bin RM Ketomenggolo bin BPH Singosari/RM. Sunaka bin Prabu                                 Amangkurat IV Jawa.
                    I.1.2. R.A. Soeromenggolo, Putri R.M. Ketomenggolo yang diper-istri R.M. Suromenggolo                               bin R. Ngabei Mertodiwiryo. Orang-orang biasa menyebutnya Raden Ayu                                              Soeromenggolo binti RM Ketomenggolo bin BPH Singosari/RM. Sunaka bin Prabu                               Amangkurat IV Jawa
                    I.1.3. R.A. Krentil./Eyang putih binti RM Ketomenggolo Bin BPH Singosari/RM. Sunaka                              bin Prabu Amangkurat IV Jawa

 I.1.1. R.M. Dityoyudo menikah dengan..?....., mempunyai tiga putra : 

                 I.1.1.1 R.A. Mariyem,  (Susunan keluarga sudah   dikembangkan oleh ahli warisnya yaitu                                             alhmahrum Mbah perngadi dan Lek Sumardi).
                 I.1.1.2. R. Durasid, dan
                 I.1.1.3. R.A. Tikem. (Susunan keluarga sudah  dikembangkan oleh ahli warisnya ).

Foto. Serat kekancingan dari jalur eyang R.M. Ketomenggolo Bin Pangeran Singosari Bin Amangkurat IV Jawa.
Eyang ketomenggolo adalah mertua dari Eyang R.M. Soeromenggolo.

 I.1.1.1. R.A. Mariyem menikah dengan Citro Menggolo, Peputro :

                    I.1.1.1.1. R. Tubro
                    I.1.1.1.2. R. Kurdi
                    I.1.1.1.3. ?
                    I.1.1.1.4. ?
                    I.1.1.1.5. ?
                    I.1.1.1.6. R. Kasan Mustari
                    I.1.1.1.7. R. Kasan Muhayat
                    I.1.1.1.8. R. Kasan Winangun
                    I.1.1.1.9. R. Kasan Makrub
                    I.1.1.1.10. R.A. Muniroh

Nama-nama putra-putra Amangkurat IV Bin Pakubuwana I di Kartasura Hadiningrat :

Saat itu belum ada ketentuan nama/gelar raja, dimana Amangkurat IV yang adalah putra Susuhunan Pakubuwana I justru tidak mengambil gelar lanjutan yaitu Pakubuwana II, tetapi ia mengambil gelar Raja sebelumnya yaitu Amangkurat III. Jadi ia bergelar Amangkurat IV. Biasa juga disebut "Amangkurat Jawi" gelar anumerta yang menyiratkan penghormatan orang jawa karena keturunannya banyak yang menjadi Raja dan tokoh ulama.
Ini Nama-nama Putra-putrI Susuhunan Amangkurat IV Jawa :

  1. Pangeran Riya/Pangeran Pancoran/Kanjeng Gusti Pangeran Arya Mangku Negara * diasingkan/diselongakèn ke Kup (Tanjung Harapan/Cape of Good Hope, Afrika Selatan). Beliau Ayah Raden Mas Said - Adipati Mangkunagara I alias Pangeran Sambernyowo, pendiri Kadipaten Mangkunegaran yang otonom.
  2. Raden Mas Sandeya/Pangeran Arya Saloring Pasar/Pangeran Arya Ngabehi. - kemudian menjadi ulama bernama  Kyai Nur Iman di Masjid Pathok Nagara Mlangi, Mataram. (sekarang Gamping, Sleman). yang salah satu putra Kyai Nur Iman Mlangi adalah RM Mansyur alias "Tuan Guru Loning"
  3. Raden Mas Gusti Prabu Suyasa - meneruskan tahta sebagai Raja Mataram bergelar Susuhunan Paku Buwana II di Kartasura. Kelak boyong kedaton ke Surakarta.
  4. Raden Mas Sujana/Pangeran Harya Karta Suriya/Pangeran Harya Mangku Bumi - kelak bertahta sebagai Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat bergelar Sultan Hamengku Buwana I. beliau Pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
  5. Raden Mas Lindhu/Raden Mas Bakti
  6. Raden Mas Budiman/Raden Mas Ragu/Pangeran Arya Danupaya - diselongaken ke Kup pada 1749. Kembali ke Mataram 1787
  7. Raden Mas Utara/Pangeran Arya Martasana/Pangeran Arya Dipa Negara I
  8. Raden Mas Sakti/Pangeran Arya Bumi Nata I
  9. Raden Mas Subakti
  10. Raden Mas Subrangta/Pangeran Harya Blitar
  11. Kanjeng Pangeran Harya Hadi Wijaya I
  12. Raden Mas Saidun/Radin Mas Karaton/Pangeran Harya Bumi Nata II -  diselongaken ke Ceylon. Wafat disana 1783.
  13. Raden Mas Bakti/Pangeran Arya Pamot
  14. Raden Mas Ukir/Pangeran Harya Mataram II
  15. Raden Mas Sukara/Raden Mas Langkir/Pangeran Harya Prang Wadana
  16. Raden Mas Suradi/Radin Mas Yadi/Pangeran Harya Selarong
  17. Raden Mas Genter/Pangeran Harya Panular
  18. Raden Mas Surata/Raden Mas Langkir/Pangeran Harya Ranga
  19. Raden Mas Suyamal/Raden Mas Sardin/Pangeran Harya Dipasanta.
  20. Raden Mas Langkir/Pangeran Harya Martasana II
  21. Raden Mas Sunaka/Pangeran Harya Singasari - memberontak pada 1742 berpusat di Malang. Bergelar "Pangeran Prabujaya Adi Senapati ing Alaga." Ditumpas pada 1768. Wafat di Batavia
  22. Pangeran Harya Nata Brata
  23. Radin Ayu Dewi - menikah dengan Bupati Pesisir : Raden Harya Suralaya, Bupati Brebes
  24. Raden Ajeng Aminah/Radin Ayu Sukiya. - menikah dengan Kanjeng Radin Adipati Pringgalaya, Patih Kartasura 1742-1755.
  25. Raden Ajeng Siti Sundari/Raden Ayu Bengkring/Gusti Kanjeng Ratu Maduratna - menikah dengan  Pangeran Cakra Adi-ning Rat IV, Panembahan Madura
  26. Raden Ayu Sibrangti. -  menikah dengan Raden Mangkun Kusuma/Raden Temenggong Mangkupraya, Kedhu.
  27. Raden Ayu Inten. - menikah dengan Demang Urawan/Raden Purwa Kusuma/Pangeran Harya Purbaya II
  28. Raden Ayu Tajem. - menikah dengan Raden Mas Sudarsa/Raden Raksa Kusuma/Radin Ngabehi Wira Atmaya,  Bupati  Cengkalsewu &  Pati 1740
  29. Raden Ayu Umit. - menikah dengan Raden Marta Kusuma/Radin Arya Sujanapura, Bupati Lembarawa dan Demak.
  30. Raden Ayu Jumantananda/Radin Ayu Inten II - menikah  Raden Mas Sudarsa/Radin Raksa Kusuma/Radin Ngabehi Wira Atmaja. Bupati  Cengkalsewu &  Pati.
  31. Bandara Raden Ajeng Remke [Rembe]/Bandara Radin Ayu Adipati Danureja. - menikah Raden Temenggung Yudha Negara III Bupati Banyumas kemudian menjadi Raden Adipati Tumenggung Danureja I, Patih I Kasultanan Yogyakarta ( Putra  Raden Temenggong Yudha Negara II, Bupati  Banjumas )


Amangkurat IV bertahta selama 7 tahun dari 1719 - 1726. Dalam buku Carey, Pangeran Sambernyawa : "wafat karena sakit". Digantikan putranya dari GKR Amangkurat/Kencana/GKR Hageng : Gusti Prabu Suyasa (Pakubuwana II).

terlihat pola nama para putra/putri Raja yang umumnya mempunyai tiga nama. Yaitu saat lahir, saat Akil baligh dan saat Menikah (Asma paring Ndalem).Tradisi ini masih dipakai, terdapat beberapa nama yg makin jarang dipakai.
Penyebutan keturunan Darah Ndalem Noto/Raja :
  1. Gelar Raden Mas (R.M) untuk laki-laki bagi keturunan Raja Grad atau generasi Ke-1 sampai 5 untuk Kasunan Surakarta Hadininrat, dan untuk Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat keturunan Raja dari grad atau generasi 1- 4. seperti grad ke-6 ke bawah hanya Raden (R) saja, kalau belum menikah R.B. (Raden Bagus)
  2. Gelar Raden ajeng (R.A) untuk wanita untuk keturunan Raja Grad atau generasi Ke-1 sampai 5 untuk Kasunan Surakarta Hadininrat, dan untuk Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat keturunan Raja dari grad atau generasi 1- 4 kalau sudah Belum Menikah adalah Raden Ajeng (R.Aj) dan kalau sudah menikah Radan Ayu (RAy). seperti grad ke-6 ke bawah hanya Raden Roro (Rr) saja, kalau sudah menikah Rngt. (Raden Nganten)

Foto. Makam Raden Tumenggung Yudonegoro II, Bupati Banyumas, di Banyumas. jirat nisan makam bergaya era Sultan Agung-Amangkurat

Eyang R.M. Soeromenggolo saat menjadi glondong pernah mengambil ulama dari Tuk songo Purworejo untuk dijadikan pemuka Agama serta mengurus bidang keagamaan bernama Kyai R.M. Chasan Bin Syech Lukman hakim, serta diberikan sebidang tanaah sawah seluas 400 ubin, status tanah tersebut sampai saat ini sebagai tanah bengkok untuk ulama yang mengelola masjid.

Syech Lukman Hakim menikah dengan putri Bendoro Pangeran Haryo Hangabei yang bernama R.A. Sangsangid/R.A. Lukman Hakim. Pangeran Hangabei adalah putra Hamengkubuwono I. R.M. Chasan menjadi pemuka Agama di desa Tursino

Sri Sultan Hamengkubuwono  I

                 I
Bendoro Pangeran Haryo (B.P.H.) Hangabei
                 I
R.A. Sangsaid/R.A Lukman Hakim menikah dengan Syech Lukman hakim
                I
R.M Chasan Bin R.A. Lukman Hakim (Sumare Ing Makam Gedong Desa Tursino)
               I
R.M. Abdul Rochim (Sumare Ing Makam Gedong Desa Tursino)
                I
R. Tito Al Usman (Sumare Ing TPU Makam Desa Tursino di luar tembok Gedong)

Foto. Surat kekancingan dari Pancer Hamengkubuwono I yang menurunkan Kyai R.M. Chasan Kyai Desa Tursino

 

foto. Komplek makam Ketileng (dinamakan Ketileng karena ada Pohon Ketileng) di beklakang SDN. Tursino. Tempat dimakamkannya  R.M. Ketomenggolo alias R.M. Sulaiman Bin BPH Singosari Bin Amangkurat IV di desa tursino Kecamatan Kutoarjo.
 
            Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 yang mengakibatkan Palilahan Nagari yaitu Mataram terbagi dua : Kasunan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, tidak menciptakan damai sepenuhnya. ada yang memicu ketidaksetujuan dari beberapa Pangeran di Mataram, salah satunya adalah R.M Sunaka alias Pangeran Singosari yang tidak lain adalah saudara dari Pangeran Mangkubumi alias Hamengkubuwono I dan saudara dari Pangeran Sanmdeyo alias Kyai Nur Imam Mlangi. Pangeran Singosari memilih memberontak. meskipun demikian Pangeran Singosari adalah seorang yang bermurah hati dan berkeinginan menyatukan Mataram kembali.
Pangeran Singosari memberontak saat umur 16 tahun (Sumber : Banteng terakhir Kesultanan Yogyakarta : Riwayat Raden Ronggo Prawirodirjo III dari madiun sekitar 1779-1810)

Pangeran Singosari Bin Amangkurat IV meninggalkan kraton dan bersekutu dengan keturunan Untung surapati di Jawa Timur, di Malang Pangeran singosari bersama anaknya yang bergelar Raden Mas memilih tinggal di pegunungan yang jauh dari kejaran dan cengkraman Kasultanan Ngayogyaskarta Hadiningrat yang bekerjasama dengan VOC. meskipun demikian Sri Sultan Hasmengkubuwono I sangat memperhatikan keberadaan Pangeran Singosari dan berulang kali membujuk untuk kembali dan hidup dengan penuh ketenangan di Yogyakarta, namun Pangeran Singosari menolak dan melakukan perlawan kecil. pada 16 Juli 1768 Pangeran Singasari bin Amangkurat IV berhasil ditangkap oleh gabungan VOC, Kasultanan Nayogyakarta Hadiningrat, dan Kasunan Surakarta Hadiningrat di daerah pegunungan malang serta di penjara di batavia dan wafat disana.

Dan kemungkinan Hipotesisnya R.M. Sulaiman alias R.M. Ketomenggolo alias Eyang Turusuli bersama rombongan adalah pelarian dari Malang setelah Ayahnya B.P.H Singosari tertangkap, dan ini masuk akal serta terkomfirmasi dari serat silsilah kekancingan juga gaya nisan makam yang umumnya bergaya Hamengkubuwanan.

BERIKUT SISILAH LANGSUNG DARI EYANG R.M. SOEROMENGGOLO 

Babad Raja-Raja Jawa (Tumapel) , menurunkan putera :

31. Tunggul Ametung , menurunkan putera :
30. Maesa Wong Ateleng. , menurunkan putera :
29. Maesa Cempaka / Ratu Angabhaya / Batara Narasinga , menurunkan putera :
28. Kertarajasa Jayawardana / Raden Wijaya , menurunkan putera :
27. Tri Buwana Tungga Dewi / Bhre Kahuripan II , menurunkan putera :
26. Bhre Pajang I , menurunkan putera :
25. Wikramawardana / Hyang Wisesa / R Cagaksali , menurunkan putera :
24. Kertawijaya / Bhre Tumapel III , menurunkan putera :
23. Rajasawardana / Brawijaya II , menurunkan putera :
22. Lembu Amisani / R. Putro / R. Purwawisesa , menurunkan putera :
21. Bhre Tunjung / Pandanalas / R. Siwoyo , menurunkan putera :
20. Kertabumi / Brawijaya V / R Alit / Angkawijaya , menurunkan putera :
19. Simbah Trah Tumerah : R Bondhan Kejawan / Lembupeteng Tarub , menurunkan putera :
18. Simbah Menya-Menya : R Depok/ Ki Ageng Getas Pandowo , menurunkan putera :
17. Simbah Menyaman : Bagus Sunggam Ageng Selo , menurunkan putera :
16. Simbah Ampleng : Ki Ageng Anis , menurunkan putera :
15. Simbah Cumpleng : Ki Ageng Pemanahan ( Mataram) , menurunkan putera :
14. Simbah Giyeng : R Danang Sutowijoyo/ Panembahan Senopati Ngbehi Loreng Pasar + Ratu Mas Putri Ki Ageng Panjawi Pati Cucu dari Kanjeng Sunan Kali Jogo, menurunkan putera :
13. Simbah Cendheng :  R Mas Jolang/ Panembahan Hadi Prabu Anyokrowati , menurunkan putera :
12. Simbah Gropak Waton : Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo sumare ing pajimatan Imogiri + Ratu Wetan, yaitu putri Tumenggung Upasanta bupati Batang (keturunan Ki Juru Martani ) , menurunkan putera :
11. Simbah Galih Asem : R.M Sayidin / Sayidd Sunan Prabu amangkurat Agung I sumare ing tegal , menurunkan putera :
10. Simbah Debog bosok : Gusti Bagus Raden Ayu Bandoro Klenting Kuning sumare ing tegal  + K.RAA.Yudonegoro I Bupati Banyumas sumare ing Banyumas, menurunkan putera :
9. Simbah Gropak Senthe : R Bagus Mali/K.RAA.Yudonegoro II ( banyumas ) sumare ing Banyumas, menurunkan putera :
8. Simbah Gantung Siwur : Raden Tumenggung Kedoweran Nge Mertodiwidjoyo, Sumare ing Pakuncen Gombong. menurunkan putera :
7. Simbah Udheg-Udheg : R.M Kertodimedjo sumare ing betji, menurunkan putera :
6. Simbah Wareng : R.Ng. Mertodiwiryo Sumare ing wedi, menurunkan putera :
5. Simbah Canggah : R.M. Soeromenggolo Sumare ing tursino (Lurah I dan Glondong  yang bermukim di Tursino Kutoarjo), menurunkan putera :
4. Simbah Buyut : R.A. Sulastri + R. Pawiro sedono ( Lurah Loggung bayan ) Sumare ing Pucang Agung, menurunkan putera :
3. Simbah : R.Ay. Parsilah + Wal Qobri/Pawiro Diharjo (Lurah Tursino) bin Khasan Bahrun bin Amat Rejo bin Surosentiko, Sumare ing Desa Tursino  :
2. Ibu/Bapak :
1. Anak

Foto. Makam Raden Tumenggung "Kendowoeran" (Kanduruhan) Raden Ngabei Mertodiwidjojo (bupati Roma) bin R. Bagus Mali alias Yudonegoro II (Bupati Banyumas) di komplek makam Pakuncen Gombong.
Raden Tumenggung Kendoerowan Ngabei Mertowidjoyo adalah Eyang Buyutnya R.M. Soeromenggolo

 

I.  R.M. Soeromenggolo Bin R. Ngabehi Mertodiwiryo + istri dari Tursino yang bernama R.A. Soeromenggolo Binti R.M. Ketomenggolo, mempunyai Enam (6) peputro yaitu :

      1. R.A. Sulastri.

      2. R.A. Soekarsih.

      3. R. Soerat atmodjo ( menjadi Glondong kedua menggantikan ayahandanya ).

      4. R.A. Mustirah.

      5. R. Karsowirono.

      6. R. Martodimedjo

 

I.1. R.A Sulastri + R. Pawirosedono (Lurah Loggung/Pucang agung Bayan), mempunyai 5 peputro :

     I.1. 1. R.A. Napsiah

     I.1. 2. R. Sastrotiwar.(Pucang Agung)

     I.1. 3. R.A. Talkah.

     I.1. 4. R.A. Partimah. (Malaysia)

     I.1. 5. R.A. Parsilah. (Tursino)

I.2. R. A. Soekarsih/Mintarsih, mempunyai dua suami, yaitu :

            I.2. A. R.A. Soekarsih + Surosentiko, peputro :

                        I.2. A.1. R.Nganten. Ambarwati

            I.2. B. R.A. Soekarsih + Nojodiwiryo (Lurah Karangrejo), peputro :

         I.2. B.1. R. Ngnten. Tijah ( Kepleng )

         I.2. B.2. R. Ngnten sibeng (Mati bayi )

         I.2. B.3. R. Joyo mintardjo

         I.2. B.4. R. Wongsosedono

         I.2. B.5. R. Karjodiwiryo

         I.2. B.6. R. Tjokrodimedjo.

         I.2. B.7. R Kaji munir.

I.3. R. Soerat Atmodjo.

       R. Soerat Atmodjo mempunyai tiga istri yaitu :

                 A. Den Nganten..?
                 B. Kiswati. 
                 C. R.Nganten Sutinah.

       I.3.A. R. Soerat Atmodjo + Ibu Den Nganten, peputro, :

           I.3.A.1. R. Tjokro sukir.

           I.3.A.2. R. Supraptodiharjo.

           I.3.A.3. R. Surodiharjo

           I.3.A.4. R. Ndojo.

           I.3.A.5. R. Suwarno

I.3. B.  R. Soerat Atmodjo + Ibu Kiswati. Peputro, :

           I.3. B.1. R. Martosudarmo.

           I.3. B.2. R. Burus.

           I.3. B.3. Rr. Rembjuk. 

I.3.C.  R. Soerat Atmodjo + R.A. sutinah. Peputro :

         I.3.C.1. Rr. Sulasikin.

         I.3.C.2. Rr. Saodah.

         I.3.C.3. Rr. Darusin.

I.4. R.A. Mustirah + Djorewijo (bayan). Peputro :

      I.4.1. Rr. Mursih ( di singapura)

      I.4.2  Rr...??...........+ Pawirontono

      I.4.3. Rr. Mursiyem.

      I.4.4. R. Karsodimedjo

I.5. KELUARGA R. KARSOWIRONO ( carik wetan )

     R. Karsowirono + Surtinah (tursino), Peputro :

     I.5.1. R Abdulah Maful.

     I.5.2. R. Harjo Langsir.

I.6. R. Martodimedjo mempunyai tiga istri, yaitu :

I.6.A. R. Martodimedjo + Istri Pertama dari yogyakarta, Peputro :

                 Tidak punya anak

 

I.6.B. R. Martodimedjo + Istri Kedua, Peputro :

I.6.B.1. R. Tjokrosumarto

                 I.6.B.2. Rr. Suwarni

                 I.6.B.3. Rr. Suwarti

 

I.6.C. R. Martodimedjo + Istri ketiga (dari Wirun), Peputro :

                 I.6.C.1. R. Suwarto.

I.1.1. KELUARGA R.Nganten. NAPSIAH

R.Nganten. NAPSIAH +..............???, peputro :

1. Ada keturunannya nama Dullah tinggal di bengkalis kepulauan Riau dan punya anak empat.

I.1.2. R. Sastrotiwar (Pucang Agung) + R.Nganten Sri Maonah, peputro :

         I.1.2.1. R. Nganten Sumarmi.

         I.1.2.2. R. Nganten Sumiyati.

         I.1.2.3. R. Sukir.

I.1.3. R. Nganten. Talkah.

 

I.1.4. R.A. Partimah/Fatimah + Sanen, Migrasi atau Hijrah dan menetap di Malaysia serta wafat disana, peputro :

     I.1.4.1. Haji R. Maslan

     I.1.4.2. Hajjah R.Nganten Masiem

     I.1.4.3. Haji R. Masiran

     I.1.4.4. R. Masimin

     I.1.4.5. R. Malikin

     I.1.4.6. R. Masimon alias Ahmad

     I.1.4.7. R. Sayuti

     I.1.4.8. Haji R. Miskan

     I.1.4.9. R. Nganten Masirah

I.1.5. R.A. Parsilah + Pawirodiharjo/Wal qobri ( Lurah Tursino ), peputro :

       I.1.5.1. Rr. Siti Parwati. (mati bayi)

       I.1.5.2. R.Nganten Siti Sarumi (lampung/Jakarta).

       I.1.5.3. R. Darsono (banyuwangi).

       I.1.5.4. R. Slamet (Tursino).

       I.1.5.5. R. Soeroto (Pituruh)

       I.1.5.6. R. Supriyanto (lampung).

       I.1.5.7. R.Nganten. Sriyani (palembang).

       I.1.5.8. R.Nganten. Srihartini (kutoarjo).

       I.1.5.9. R.Nganten. Sri Astuti (kutoarjo)

I.2.A.1. Keluarga R.A. Ambarwati + Tjokrodiwiryo/tjokrodimedjo, Peputro :

           I.2.A.1.1. R. Nganten. Ranti.

           I.2.A.1.2. R. Nganten. Lusiyem.

           I.2.A.1.3. R. Kurmen ( Taruno sendjojo)

I.2.B.1. Keluarga R.A. Tijah ( kepleng ) + H. Umar/kenap (tepus kulon ), Peputro :

           I.2.B.1.1. R. Tirtorejo.

           I.2.B.1.2. R. Sarbini.

           I.2.B.1.3. R.Nganten. Sarmi.

           I.2.B.1.4. R.Nganten. Supiyah.

           I.2.B.1.5. R.Nganten Fatimah.

           I.2.B.1.6. R. Martodiwiryo.

           I.2.B.1.7. R. Sajadi.

           I.2.B.1.8. R. Dulah sulur.

           I.2.B.1.9. R. Sadjadi

I.2.B.2.  Rr. Sibeng (mati bayi )

I.2.B.3.. Keluarga R. Djojo Mintardjo + ..........???..., Peputro :

           I.2.B.3.1. R. Abdullah Maful.

           I.2.B.3.2. R. Ngantn. Siti Suminah.

I.2.B.4. R. Wongsosedono

I.2.B.5. Keluarga R. Karjodiwiryo (Slamet) Menikah dua kali yaitu :

I.2.B.5.a R. Karjodiwiryo ( slamet ) + Munfingah (wirun) , Peputro :

                                    I.2.B.5.a.1. R. Margono/karjono.

I.2.B.5.b. R. Karjodiwiryo ( Slamet ) + Istri kedua Tugirah (tursino), Peputro :

                                    I.2.B.5.b.1. R. Soemardijo.

I.2.B.6. Keluarga Tjokrodimedjo (bentul) + R. Nganten. Saodah , Peputro :

             I.2.B.6.1. R. Habib.

             I.2.B.6.2. R. Anis. 

             I.2.B.6.3. R. Tri Atdmojo.

             I.2.B.6.4. R. Nganten. Chotidjah.

             I.2.B.6.5. R. Nganten. Tunsiah.

             I.2.B.6.6. R. Nganten Siti Qurosiah.

I.3.a.1. Keluarga R. Tjokro Sukir + .....???........, Peputro :

           I.3.a.1.1. R. Nganten. Patimi.

           I.3.a.1.2. R. Nganten. Ratmi.

I.3.a.2. Keluarga R. supraptodiharjo + ............???............., Peputro :

           I.3.a.2.1. R. Nganten. Jam. 

           I.3.a.2.2. R. Nganten. Nok.

           I.3.a.2.3. R. Nganten. Drak.

           I.3.a.2.4. R. Nganten. Laskar.

           I.3.a.2.5. R. Nganten. Sanubari.

I.3.a.3. Keluarga R. Surodiharjo punya dua istri, yaitu :

I.3.a.3.A. R. Surodiharjo + istri pertama, Peputro :

                        I.3.a.3.A.1. R. Sudjadi.
                        I.3.a.3.A.2. R. Sutjipto.
                        I.3.a.3.A.3. R. Nganten Rembun.

I.3.a.3.B. R. Surodiharjo + Tugirah, Peputro :

                        I.3.a.3.B.1. R. Sugiri.

I.3.a.4. Keluarga R. Ndojo + ...............???............., Peputro :

         I.3.a.4.1.  R. Nganten. Trini.

         I.3.a.4.2. R. Nganten. Djatun. 

I.3.b.1. Keluarga R. Martosudarmo mempunyai dua istri yaitu :

I.3.b.1. A. R. Martosudarmo + istri pertama, Peputro :
                        I.3.b.1. A.1. R.Nganten. Surotun.
                        I.3.b.1. A.2.  R.Nganten. ratmi.
                        I.3.b.1. A.3. R. Paridjo.
                        I.3.b.1. A.4. R. Prapti.
                        I.3.b.1. A.5. R. Gadi.
                        I.3.b.1. A.6. R.Nganten. Miskiratun.
                        I.3.b.1. A.7. R. Sungkowo.
                        I.3.b.1. A.8. R. Subowo.

            I.3.b.1. B.  Keluarga R. Martosudarmo + istri Kedua, Peputro :

                        I.3.b.1. B.1. R.Nganten. Sukanti.
                        I.3.b.1. B.2. R. Martono.
                        I.3.b.1. B.3. ..........................
                        I.3.b.1. B.4. .............................

I.3.b.2. Keluarga R Burus + ........???.............., Peputro :

                      I.3.b.2.1. R.Nganten. Sutin.
                      I.3.b.2.2. R.Nganten. Ratini.
                      I.3.b.2.3. R.Nganten. Patimah.
                      I.3.b.2.4. R.Nganten. Sukmariyah.

I.3.b.3. Keluarga R.Nganten. Rembjuk, Peputro :

           I.3.b.3.1. R.Nganten. Asiah.

           I.3.b.3.2. R. Ambyah.

           I.3.b.3.3. R. Rachmat.

           I.3.b.3.4. R.Nganten. Surotun.

           I.3.b.3.5. R.Nganten. Sriejatun.

           I.3.b.3.6. R.Nganten. Sulastri.

           I.3.b.3.7. R.Nganten. Lasmini.

           I.3.b.3.8. R.Nganten. Paniti.

I.3.c.1. Keluarga R.Nganten. Sulasikin + ..........???........, Peputro :

                                    I.3.c.1.1. R. Kusnaeni.

I.3.c.2. Keluarga R.Nganten. Saodah + .......???..............., Peputro :

           I.3.c.2.1. R.Nganten. Subilin.

           I.3.c.2.2. R.Nganten. Nupituwati.

           I.3.c.2.3. R. Legono.

           I.3.c.2.4. R.Nganten. Rochayu.

           I.3.c.2.5. R. Trenggono.

           I.3.c.2.6. R. Soeryo wibowo.

I.3c.3. keluarga R.Nganten. Durasin ( sejarahnya masih gelap ).

I.4.1. Keluarga R.Nganten. Mursih ( tinggal di singapura dan tak ada kabar ).

I.4.2. Keluarga .............Binti R.Nganten. Moestirah + Pawirontono, Peputro :

           I.4.2.1. R. Kario Kaslan.

           I.4.2.2. R.Nganten. Sri Maonah.

I.4.3. Keluarga R.Nganten. Mursiyem + .......??....., Peputro :

                                    I.4.3.1. R. Nganten. Maryonah

I.4.4. Keluarga R.Karsodimedjo + Insiah, Peputro :

           I.4.4.1. R.Nganten. Rosninah.

           I.4.4.2. R. Sawi.

           I.4.4.3. R. Muhammad Khusaeni.

           I.4.4.4. R. Kuntjung.

           I.4.4.5. R. Recek.

           I.4.4.6. R.Nganten. Sulastri.

           I.4.4.7. R.Nganten. Suwarinsiah.

           I.4.4.8.  R.Nganten. Lasminah Sulasiyah.

           I.4.4.9.  R. Nganten. Chomsatun.

           I.4.4.10. R. Nganten. Siti Chotimah.

           I.4.4.11. mati bayi.

           I.4.4.12. mati bayi.

I.5.1. Keluarga R Dulah Maful ( kamituwo ) + Kamini, Peputro :

           I.5.1.1. R. Nganten. Sri Suci.

           I.5.1.2. R. Suroso.

           I.5.1.3. R. Nganten. Tari.

           I.5.1.4. R. Sutopo.

           I.5.1.5. R. Marsono.

I.5.2. Keluarga R. Hardjo Langsir ( carik Wetan ) + ...........??....., Peputro :

            I.5.2.1. R. Budi.

            I.5.2.2. R. Nganten. Lestari.

I.6.B.1. Keluarga R. Tjokro Sumarto (nk. sudjud ) (Glondong) mempunyai dua istri, yaitu :

                        I.6.B.1.a. R. Tjokro Sumarto + Istri I Mumbyuh , Peputro :
                                                I.6.B.1.a.1. R. Nganten. Sumarah.

I.6.B.1.b. Keluarga R. Tjokro Sumarto (nk. sudjud ) (glondong) + Istri II Anggominah, Peputro :

             I.6.B.1.b.1. R. Nganten. Nawangsasih.

             I.6.B.1.b.2. R. Nganten. Sri wardany.

             I.6.B.1.b.3. R. Soemrahadi.

             I.6.B.1.b.4. R. Nganten. Endang Riswaty.

             I.6.B.1.b.5. R. Damar Sasongko.

             I.6.B.1.b.6. R. Sunarko.

             I.6.B.1.b.7. R. Wahyudjatmiko.

I.6.B.2. Keluarga R.Nganten. Suwarni + Pak Sep (kutowinangun), Peputro :

             - Belum mempunyai keturunan.

I.6.B.3. Keluarga R.Nganten. Suwarti + ..............??...., Peputro :

           I.6.B.3.1. ...............

           I.6.B.3.2. ...............

           I.6.B.3.3. ...............

           I.6.B.3 4. ...............

           I.6.B.3.5. ...............

           I.6.B.3.6. ...............

           I.6.B.3 7. ...............

           I.6.B.3.8. ...............

           I.6.B.3.9. ...............

 I.6.C.1. Keluarga R. Suwarto + ...........??............., Peputro :

           I.6.C.1.1. R.Nganten. dr. Kusuma wartati.

           I.6.C.1.2. R. Kusumo Waryadi.

           I.6.C.1.3. R. Tri Kuswanto, SE

 I.1.2.1. Keluarga R. Nganten. Sumarmi + Warodin ( pucang agung ), Peputro :

                                    I.1.2.1.1. R. Nganten Suwarni.

I.1.2.2. Keluarga R.Nganten Sumiyati + Tasripin (pucangagung ), Peputro :

           I.1.2.2.1. R. Amat Soleh.

           I.1.2.2.2. R. Nganten. Kusbanatun.

           I.1.2.2.3. R. Nganten Sriyana

           I.1.2.2.4. R. Amat kusni.

           I.1.2.2.5. R. Nganten Wuryani.

           I.1.2.2.7. R. Nganten. Miswati.

I.1.2.3. Keluarga R. Sukir ( TIDAK DIKETAHUI DATANYA ).

I.1.5.1.A. Keluarga  R.Nganten Siti Sarumi d/a Lampung, mempunyai tiga suami yaitu :

I.1.5.1.A. R.Nganten Siti Sarumi + Dengan Suami Pertama adalah R. Tito Al Usman Bin R.M. Abdul Rochim Bin R.M. Chasan Bin R.A. Lukman Hakim d/a Tursino Krajan, Peputro :

           I.1.5.1.A.1. R.Nganten. Sadiyah Mundati.

           I.1.5.1.A.2. R.Nganten. Rohmah.

           I.1.5.1.A.3. R. Muhammad Kuntadi.

           I.1.5.1.A.4. R.Nganten. Tafifaah.

           I.1.5.1.A.5. R. Widodo. 

                                    I.1.5.1. B. R.Nganten Siti Sarumi + Dengan Suami Ke-Dua, bernama Lukito                                                         (Tursino), Peputro :

I.1.5.1. B.1. R. Waset

 

I.1.5.1. B. R.Nganten Siti Sarumi + Suami Ke-Tiga bernama Suryana (Mas dii) di                  lampung, tidak punya keturunan.

I.1.5.2. Keluarga R. Darsono d/a Banyuwangi Jawa Timur, Punya dua istri,yaitu :

            I.1.5.2.A. R. Darsono +  Zaenab , peputro :

           I.1.5.2.A.1. R. Nganten. Widiyanti (Banyuwangi)

           I.1.5.2.A.2. R. Sunarko .(Banyuwangi)

           I.1.5.2.A.3. R. Winanto. (Banyuwangi)

           I.1.5.2.A.4. R. Widodo .(Banyuwangi)

I.1.5.2.B. R. Darsono + Rinting, Tanpa anak.

I.1.5.3. Keluarga Almahrum R. Slamet d/a Tursino + Solichah Binti Siddiq, Peputro :

                        I.1.5.3.1. R. Muhhamad Safingi/pingi.

I.1.5.4. Keluarga R. Soeroto + Titik d/a. Desa sambeng, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo , Peputro :

           I.1.5.4.1. R.Nganten. Hidayati (Megulung lor).

           I.1.5.4.2. R.Nganten. Hartati (Magelang).

 I.1.5.5. Keluarga R. Supriyanto d/a Lampung, mempunyai dua istri, yaitu :

I.1.5.5.A. R. Supriyanto + Romlah, d/a. kampung sirampok, Kelurahan                                 Srengsem, kecamatan panjang, Bandar lampung  peputro :

                                                I.1.5.5.A.1. R.Nganten. Nunung Mayawati.

I.1.5.5.B. R. Supriyanto + Hidayani, d/a. kampung sirampok, Kelurahan Srengsem, kecamatan panjang, bandarlampung Peputro :

             I.1.5.5.B.1. R. Heri Purwoko.

             I.1.5.5.B.2. R. Muhammad Choiril.

             I.1.5.5.B.3. Rr. .......................

I.1.5.6. Keluarga R. Nganten Sri Haryani + Wagiran,mukim di Palembang Peputro :

             I.1.5.6.1. R.Nganten. Nirwati.

             I.1.5.6.2. R.Nganten Rimbawati.

             I.1.5.6.3. R. Sapto Aji.

             I.1.5.6.4. R.Nganten. Retno Puspita.

I.1.5.7. Keluarga R.Nganten. Sri Hartini d/a Tursino + Tarto Djaelani (Tegal Pantura), Peputro :

             I.1.5.7.1. R.Nganten. Iin Indriarti.

             I.1.5.7.2. R. Dwi Indriarto.

             I.1.5.7.3. R. Nganten. Erni Susilo Prabawati.

             I.1.5.7.4. R. Probo Juang Bebas Soro.

             I.1.5.7.5. R. Arif Akhiria Hartono.

I.1.5.8. Keluarga R.Nganten.Sri Astuti d/a Kutoarjo + Hadi Soecipto Bin R Said Soerjo Dimedjo, Peputro :

             I.1.5.8.1. R. N.K Adi.

             I.1.5.8.2. R. Nganten. Shinta Dewi.

             I.1.5.8.3. Rr. Hermin Setio Rini.

I.2a.1.1. Keluarga R.Nganten. Ranti + R. Ali Utomo, Peputro :

               I.2a.1.1.1. R. Tadji.

               I.2a.1.1 2. R. Tartoyo.

               I.2a.1.1.3. R. Suwanto.

               I.2a.1.1.4. R. Damar Suproyo.

               I.2a.1.1.5. R. Nganten. Kunti.

               I.2a.1.1.6. Rr. Kusti.

I.2a.1.2. Keluarga R. Nganten Lusiyem + H Agus, Peputro :

I.2a.1.1. R.Nganten Suhilwati

I.2a.1.2. R.Nganten Yuswati

I.2a.1.3. R.Nganten Wahyuni.

I.2a.1.4. R.Nganten Sulasmini.

I.2a.1.5. H R.Banji.

I.2a.1.3. Keluarga R. Kurmen Taruno senjojo mempunyai empat istri yaitu :

I.2a.1.3.a. R. Kurmen Taruno senjojo + Siti chotijah, peputro : tidak punya anak
I.2a.1.3.b.  R. Kurmen Taruno senjojo + sadinun, peputro :
                                    I.2a.1.3.b.1. R. Sutrisno.
                                    I.2a.1.3.b.2. R. Konah

I.2a.1.3.c. R. Kurmen Taruno senjojo + Siti, peputro :

                                    I.2a.1.3.c.1. R.Nganten Sri rejeki

I.2a.1.3.d. Keluarga R. Kurmen Taruno senjojo + Poniah , Peputro :

                   I.2a.1.3.d.1. R.Nganten Sri pringatun.

                   I.2a.1.3.d.2. R.Nganten Sunarwati.

                   I.2a.1.3.d.3. R.Nganten Maryati.

                   I.2a.1.3.d.4. R.Nganten Buntingah.

                   I.2a.1.3.d.5. H. R. Syeh abdul qodir jaelani/bujang taruno.

                   I.2a.1.3.d.6. R.Nganten Susilowati.

I.3a.3b.1. keluarga R. Sugiri + ........................., Peputro :

                                    I.3a.3b.1.1. R.Nganten Dyah wahyuningrum.

I.3a.4.1. Keluarga R. Nganten Trini + Atmomiharjo (kel. Durasid), peputro :

                                    I.3a.4.1.1. R.Nganten Suciati.

 I.3a.4.1. Keluarga Rr Djatun + .....

I.3b.1b.1. Keluarga R. Nganten Sukanti + A. Toha, peputro :

                     I.3b.1b.1.1. R. Sumilan.

                     I.3b.1b.1.2. R. Sudirman.

                     I.3b.1b.1.3. R. Sutarman.

                     I.3b.1b.1.4. R. Suyoto

I.2.B.1.1. R. Tirtorejo + ...... Peputro :

    I.2.B.1.1.1, R. Sapardi

    I.2.B.1.1.2. R. Sumaryo

 

I.2.B.1.2. R. Sarbini + H Yasin, Peputro :

                                    I.2.B.1.2.1. R.Ngt Mutningatun

                                    I.2.B.1.2.2. R. M Subadi

                                    I.2.B.1.2.3. Jamirotun

                                    I.2.B.1.2.4. Parotun

                                    I.2.B.1.2.5. Sonhadi

                                    I.2.B.1.2.6. Mairotun

                                    I.2.B.1.2.7. Rutibatun

                                    I.2.B.1.2.8. R. Suhadi

                                    I.2.B.1.2.9. Mubarokatun

                                    I.2.B.1.2.10. Turni


I.2.B.1.3. R.Nganten. Sarmi + Mangudimedjo (Lurah Tepus Wetan)

                                        I.2.B.1.3.1. R. Suradi

                                        I.2.B.1.3.2. Kuni

                                        I.2.B.1.3..3. Lemi

                                        I.2.B.1.3..4. R Mangunleksono

                                        I.2.B.1.3.5. Rusmi

                                        I.2.B.1.3.6. Tumpuk

 

   I.2.B.1.4. R.Nganten. Supiyah + H Sleman (Pacor), Peputro :

                                         I.2.B.1.4.1. R.Roni

                                         I.2.B.1.4.2. R. Saprul

                                         I.2.B.1.4.3. R. Sariman

                                         I.2.B.1.4.4. Sakiyam

 

 I.2.B.1.5. R.Nganten Fatimah + Kartosudirjo (secang), Peputro :

                                          I.2.B.1.5.1. R. Ahmad Dawam

                                          I.2.B.1.5.2. Muriyam

                                          I.2.B.1.5.3. R. Daromi

                                          I.2.B.1.5.4. R. Danuri

                                          I.2.B.1.5.5. R. Barsi


 I.2.B.1.6. R. Martodiwiryo + Tukinem (Tepus), Peputro :

                                             I.2.B.1.6.1. R. Marsono

                                             I.2.B.1.6.2. R. Muluyadi

                                             I.2.B.1.6.3. R.Ngtn Sumarni

 

  I.2.B.1.7.a. R. Sajadi + Istri Kedua Suminten (jogja), Peputro :

                                             I.2.B.1.7.b.1. R. Sudiro

                                             I.2.B.1.7.b.2. R. Harman


I.2.B.1.7.b. R. Sajadi + Istri Kedua Mini (tepus), Peputro :

                                             I.2.B.1.7.b.1. R. Sunarko

                                             I.2.B.1.7.b.2. R.Ng. Sunarti


I.2.B.1.8. R. Dulah Sulur + Salami (tepus kulon), Peputro :

 

           I.2.B.1.9. R. Sadjadi + Mini (tepus), Peputro :

          

 

foto makam Bagus Raden Ayu/ BRA. Klenting Kuning binti Sampeyan Dalem Sunan Prabu Amangkurat Agung I, yang menjadi istri Bupati Banyumas Yudonegoro I.


Foto. R. Wahyu Djatmiko bersama keris milik Eyang R. Suremenggolo

            Di Dalam Babad Kedungkebo Pupuh XXIX Dhandanggula bait syair nomor 23-56 karya Ngabehi Reksodiwiryo alias Kyai Adipati Tjokrojoyo alias R.A.A. Tjokronegoro I Bupati Pertama Purworejo menuliskan bahwa desa Tursino pernah disinggahi dan menginap bersama Pangeran Kusumoyudo, selain itu desa Tursino bersama desa Winong, desa Seren, desa Soko(sekarang administrasi desa Sokoharjo) Ngandagan(sekarang administrasi Desa wirun), Singolobo(sekarang administrasi desa karangrejo), Sinalangan(sekarang administrasi Desa Kaligesing) dan Gembor(sekarang administrasi Desa wirun) pernah menjadi kancah peperangan antara pengikut Diponegoro yang disebut kraman alias pemberontak atau makar melawan rombongan Reksodiwiryo dan kompeni Belanda.
Reksodiwiryo memperoleh banyak rampasan diantaranya senjatanya dua belas buah jumlahnya,
tombaknya delapan belas buah, seperangkat gamelan laras slendro, dan tiga ekor kuda

Berikut Babad Kedungkebo Pupuh XXIX Dhandanggula bait syair nomor 23-56 karya Ngabehi Reksodiwiryo :

23. Gya umangkat pan lajëng lumaris, ingkang dados pëcalang ing ngarsa, Behi Rësadiwiryane, Jëng Pangran tindak sampun, samya munggah anënggël ardi, calang Gëgër Mënjangan, sëmana wus mudhun, anjog dhusun Baledana, lajëng budhal Pangeran sigra lumaris, wus prapteng ing Torsino.

Terjemahan : Segera berangkat kemudian berjalan, yang menjadi petugas keamanan berada di depan yaitu Hangabehi Reksodiwiryo, Sang Pangeran sudah berangkat, mereka mendaki memotong gunung, aman di Geger Menjangan, ketika itu sudah menuruni gunung, langsung menuju desa Baledono, terus berangkat Sang Pangeran segera berjalan, sudah sampai di Tursino.

24. Samya lërëb Torsino salatri, sarëng enjing pan samya lumampah, wus prapteng Pëkacangane, amung sipëng sadalu, sarëng enjing agya lumaris, wus lëpas lampahira, anjog ing Winangun, nulya
lajëng lampahira, sigra sipëng ler pëkën Kabumen nënggih, enjang age lumampah.

Terjemahan : Mereka beristirahat di Tursino semalam begitu pagi hari kemudian mereka berangkat, sudah sampai di Pekacangan, hanya menginap semalam, begitu pagi hari segera berangkat, sudah jauh perjalanannya, langsung menuju Kutowinangun(kebumen), kemudian terus perjalanannya, segera menginap di sebelah utara pasar Kebumen, pagi hari segera berangkat.

25. Lampahipun tan antara prapti, iya tanah ing Këlapagada, jajahan ngrema tanahe, pan lërëb tigang dalu, sarëng dintën Akat lumaris, prapteng dhusun Pamrihan, nulya enjingipun, Ngëbehi
Gorawëcana, lawan malih Ngëbehi Wangsacitreki, ngaturakën nuwala.

Terjemahan : Tidak lama perjalanannya sampai, iya di tanah Klapagada, jajahan datar tanahnya, kemudian beristirahat tiga malam, begitu hari Ahad berangkat, sampai desa Pamrihan, kemudian keesokan harinya, Hangabehi Gorowecono, dan lagi Hangabehi Wongsocitro, menyampaikan surat.

26. Sigra katur surat wusing tampi, dhatëng Gusti Pangran Sumayuda, amungël wau surate, sayogi surat katur, konjukipun ing Kangjëng Gusti, kopër dalëm bëndara, rinëksa ing dalu, anging tiwas awak
kula, kala dalu tinukup ing kraman ënting, pun Kërtapëngalasan.

Terjemahan : Segera disampaikan suratnya sesudah diterima, oleh Sang Pangeran Kusumoyudo, suratnya berbunyi, pantas surat itu disampaikan, disampaikan kepada Sang Pangeran, koper milik tuan, dijaga tadi malam, tetapi malang diri saya, ketika malam hari dirampok oleh para kraman/pemberontak/makar hingga habis, oleh Kertopengalasan.

27. Tiyang sekët kang nitih turanggi, ingkang ngampak dhatëng awak kula, turangga sekët dhatënge, pan numbak gangsal atus,
banderane gangsal winilis, aprang kawon kawula, kopër dalëm kërbut, kapale Gorawëcana, inggih kenging lan waos pun nyonyor Gusti, tumbake Wangsacitra.

Terjemahan : Lima puluh orang yang menunggang kuda, yang merampok kepada diri saya(Hangabehi Wongsocitro dan Hangabehi gorowecono), kedatangannya dengan lima puluh ekor kuda, dan tumbak lima ratus buah, benderanya terhitung lima buah, berperang saya kalah, koper paduka direbut, kuda milik Gorowecono, iya kena dan tombak
dirampas Tuan, tombak milik Wongsocitro.

28. Waos ulam inggih samya kenging, kang satunggal Kyai Wangsacitra, Jëng Pangran sangët krodane, sigra adandan gupuh, Jëng Pangeran umangkat aglis, sawadya bala kuswa, Kurnel datan
kantun, sëksana sampun lumampah, Jëng Pangeran kalawan para Kumpëni, dintën Këmis umangkat.

Terjemahan : Tombak ikan juga semua kena, yang sebuah adalah milik Kyai Wongsocitro, Sang Pangeran(Kusumoyudo) sangat marah, segera dia bersiap-siap dengan cepat, Sang Pangeran cepat berangkat, seluruh pasukan ikut, Sang Kolonel tidak ketinggalan, kemudian sudah berangkat, Sang
Pangeran dengan para Kumpeni, berangkat pada hari Kamis.

29. Langkung gancang lampahe Jëng Gusti, sampun prapteng ing panggonanira, Pangran Mangkudiningrate, panggih wontën Sëmawung, Pangran Mangkudiningrat iki, sadaya pra sëntana,
sërbanan sëdarum, këlawan rasukan jubah, kajëngipun Kumpëni arsa nglurugi, ken baris Winong kana.

Terjemahan : Sangat cepat perjalanan Sang Pangeran(Kusumoyudo), sudah sampai di tempatnya Pangeran Mangkudiningrat, bertemu di Semawung, Pangeran Mangkudiningrat ini(Pangeran mangkudiningrat sekalipun berpihak di Diponegoro tapi masih kerabat/saudara dengan Pangeran Kusumoyudo) para kerabat semua, memakai surban semua, dengan baju jubah, kehendak Kumpeni akan menyerbu, disuruh berbaris di Winong sana.

30. Sampun baris ing Winong kang desi, Jëng Pangeran pan lajëng lumampah, anare wontën Winonge, Pangran sawadyanipun, pan kabëkta marang Kumpëni, dhatëng biting Gëmbulan, Jëng
Pangran wus angsung, Pangeran Kusumayuda, sampun prapteng ing Winong lajëng abaris, sëmana kawarnaa.

Terjemahan : Sudah berbaris di desa Winong(sekarang desa Winong kecamatan kemiri) , Sang Pangeran kemudian terus berangkat, menginap di Winong, Sang Pangeran beserta pasukannya, kemudian dibawa oleh Kumpeni, ke benteng Gembulan, Sang Pangeran sudah memberi suguhan, Pangeran Kusumoyudo, sudah sampai di
Winong terus berbaris, ketika itu diceritakan.

31. Barisipun Pangran Adipati, wontën dhusun ing Winong sumahab, Jëng Pangran Sumayudane, wontën kraman anglurug, marang Winong angrampid baris, Basah Jayasundarga, saha balanipun, Tumënggung Danukusuma, saha wadya sëmana samya angiring, lan Basah Pëngalasan.

Terjemahan : Barisan Pangeran Adipati, berkumpul di desa Winong, Sang Pangeran Kusumoyudo, ada para makar datang menyerbu, ke Winong
mempersiapkan barisan, Basah Djoyosundargo, beserta pasukannya, Tumenggung Danukusumo, beserta pasukannya ketika itu semua mengiringi, serta Basah Pengalasan.

32. Ingkang dadya tëtindhihing baris, Jëng Pangeran Adipanagara, kalih dasa banderane, pan wontën kalih ewu, ingkang samya nitih
turanggi, wong satus kalih dasa, anëmpuh prangipun, Raden Arya Kërtapraja, ngajëngakën Jayasundarga prajurit, kang kidul prënahira.

Terjemahan : Yang menjadi pemimpin barisan, Sang Pangeran Diponegoro(Diponegoro Anom), dua
puluh benderanya, dan ada dua ribu orang, yang menunggang kuda, seratus dua puluh orang, menyerang dalam peperangan itu, Raden Aryo
Kertoprojo, menghadapi prajurit Djoyosundargo, di sebelah selatan letaknya.

33. Jasundarga pan lajëng kausir, ngantos dugi Selasinalangan, wetan Singalaba gone, Pangeran barisipun, aneng tëngah awor Kumpëni,
baris pëndhëm karsanya, lawan saradhadhu, kalih dasa langkung gangsal, mriyëmipun pan amung bëkta satunggil, mungsuh sami Pangeran.

Terjemahan : Djoyosundargo kemudian terus diusir, hingga sampai di Selosinalangan(Bukit sinalangan sekarang di administrasi desa Kaligesing kecamatan Kutoarjo), di sebelah timur Singolobo(Dusun Singolobo sekarang di administrasi desa karangrejo kecamatan Kutoarjo) tempatnya, Barisan Sang Pangeran, berada di tengah-tengah berbaur dengan Kumpeni, barisan terpendam kehendaknya, bersama serdadu, dua puluh orang lebih lima, meriamnya hanya membawa sebuah, melawan sesama Pangeran.

34. Jëng Pangeran Dipanëgareki, lajëng kawon pan sami lumajar, binujung wadya balane, dugi Torsino dhusun, Kangjëng Gusti wus wangsul malih, Pangran Kusumayuda, anjog gunung Jëblug, Den
Mayor Puspawinata, Ki Ngabehi Sadiwirya andon jurit, mungsuh Danukusuma.

Terjemahan : Sang Pangeran Diponegoro(Diponegoro Anom), kemudian kalah dan mereka melarikan diri, pasukannya diburu, sampai desa Tursino, Sang Pangeran sudah pulang
lagi, Pangeran Kusumoyudo, langsung menuju gunung Jeblug, Raden Mayor Puspowinoto, Ki Hangabehi Resodiwiryo terus berperang, melawan Danukusumo.

35. Lajëng kawon kraman wus malëncing, Raden Tumënggung Danukusuma, kausir dugi Gëmbore, sarëng sampun ing Bëdhug, Jëng Pangeran wus kondur sami, dhatëng Winong sëdyanya, saha
balanipun, wus tata amësanggrahan, sadayanya wadya bala samya mulih, dhatëng pondhokanira.

Terjemahan : Para Kraman/makar/pemberontak kemudian kalah dan sudah melarikan diri, Raden
Tumenggung Danukusumo, diusir sampai Gembor(Gembor sekarang di administrasi desa wirun kecamatan Kutoarjo), begitu sudah
sampai di Bedug, Sang Pangeran dan pasukannya kembali, tujuannya ke Winong, beserta pasukannya, sudah bersiap-siap untuk beristirahat, seluruh pasukannya semua pulang, ke penginapannya.

36. Sarëng wau dhatëng brandhal malih, wadya kraman jujug pësanggrahan, Pangeran Sumayudane, langkung kasësanipun, Jëng Pangeran dados prajurit, pan dereng ngantos dandan, kang dherek puniku, Kumpëni alit Rusëdhah, lawan malih saradhadhune winilis, gunggung rong puluh lima.

Terjemahan : Begitu para berandal datang kembali, pasukan makar langsung menuju tempat peristirahatan, Pangeran Kusumoyudo, sangat tergesa-gesa, Sang Pangeran menjadi prajurit, dan belum sampai bersiap-siap, yang mengikutinya itu, Kumpeni kecil bernama Rusedah, dan lagi serdadunya terhitung, jumlahnya dua puluh lima orang.

37. Mriyëmipun mung bëkta satunggil, lawan Kyai Behi Sadiwirya, inggih samya dherekake, Pangran Sumayudeku, sampun dugi pëcalangneki, kraman pan sampun cëlak, neng tëgal ngëndhanu,
Pangran masang sënjatanya, pan kasusu andhampeng mriyëm mring kali, mriyëm langkung kewëdan.

Terjemahan : Meriamnya hanya membawa sebuah, bersama Kyai Hangabehi Reksodiwiryo, juga mereka mengikuti, Pangeran Kusumoyudo, sudah
sampai prajurit pengamannya, kemudian para kraman/makar sudah dekat, di perkebunan membludag, Sang Pangeran memasang senjatanya, karenatergesa-gesa menempelkan meriam di sungai, meriamnya sangat merepotkan.

38. Nulya Pangran lajëng andhawuhi, dhatëng Mantri Behi Sadiwirya, dikakakën mapagake, Mantri tumandang maju, punang kraman dipun parani, dhatëng Rësadiwirya, tan dangu kapëthuk, kakalih
panji kang sura, gëgamane sënjata rolas winilis, Behi sigra nyënjata.

Terjemahan : Kemudian Sang Pangeran terus memberi perintah, kepada Mantri Hangabehi Reksodiwiryo, mengatakan untuk menghadangnya, Sang Mantri segera bertindak maju, para kraman/makar/pemberontak didatangi, oleh Reksodiwiryo,
tidak lama sudah bertemu, dua orang panji yang berani, persenjataannya terhitung dua belas buah, Sang Hangabehi segera menembak.

39. Panjinipun wau ingkang kenging, kang satunggal wau namanira, Pringgasëntika namane, këna ing tëpakipun, ingkang wau niba ing siti, nulya kapal lumajar, gya cinandhak gupuh, mring Ngabehi
Sadiwirya, ingkang nyandhak kapale sira Sang Panji, kenging sigra lumajar.

Terjemahan : Panjinya yang terkena, yang seorang bernama Pringgosentiko namanya, terkena telapaknya, yang jatuh ke tanah, kemudian kudanya
berlari, segera ditangkap dengan cepat, oleh Hangabehi Reksodiwiryo, yang menangkap kuda milik Sang Panji, kena segera berlari.

40. Tandang sigra wau Ki Ngabehi, lajëng bujung dhatëng kraman kathah, pan wus tëbih pambujunge, nuli sradhadhu nusul, mung
sadasa kathahireki, mring Behi Sadiwirya, sigra saradhadhu, anyënjata Panji sira, lajëng pëjah Tapriyoga sira Panji, kasupit wontën toya.

Terjemahan : Ki Hangabehi(Reksodiwiryo) segera bertindak, terus mengejar kepada para kraman/makar yang banyak, dan sudah jauh pengejarannya, kemudian para serdadu menyusul, hanya sepuluh orang jumlahnya, kepada Hangabehi Reksodiwiryo, segera serdadu, menembak Sang Panji, kemudian Panji Kertopriyogo mati, terjebak di dalam air.

41. Prajurite wau sira Panji, Tapriyoga namung kantun tiga, lajëng wau dipun ëdhrel, tëtiga parëng lampus, sënjatane dipun pëndhëti, sabubaring këraman, sënjata tëtëlu, waose kalih binëkta, nulya
katur dhatëng wau Kangjëng Gusti, Pangran Kusumayuda.

Terjemahan : Prajurit Sang Panji, Kertopriyogo hanya tinggal tiga orang, terus mereka diberondong, ketiganya mati bersama-sama, senjatanya semua
diambil, sesudah para kraman/makar bubar, tiga buah senjata, tombaknya dua buah dibawa, kemudian diserahkan kepada Sang Pangeran, Pangeran Kusumoyudo.

42. Sigra kondur dhatëng Winong malih, Jëng Pangeran wau mësanggrahan, aneng pasar ing Winonge, sarëng ing Këmisipun, Sadiwirya dipun dhawuhi, dhatëng Kangjëng Pangeran, samya
kinon ngecu, dhatëng dhusun Singalaba, barisira Jayasundarga ken gitik, sigra Behi parentah.

Terjemahan : Segera kembali ke Winong lagi, Sang Pangeran beristirahat, di pasar Winong, begitu hari Kamis, Resodiwiryo diperintah, oleh Sang Pangeran(Kusumoyudo), mereka disuruh merampok, ke desa Singolobo(singolobo sekarng terletak di desa karangrejo kecamatan Kutoarjo), disuruh menyerbu barisan pasukan Djoyosundargo, segera Sang Hangabehi(Reksodiwiryo) memerintahkan.

43. Iya dhatëng para kang prajurit, nulya prentah Ki Rësadiwirya, dhatëng wau Bëkël Sëren, Naladangsa ken ngecu, dhatëng Singalaba ing latri, Naladangsa Pakuthan, alon aturipun, inggih sandika kewala, abdi dalëm Rësadiwirya Ngëbehi, sarta tumut piyambak.

Terjemahan : Iya kepada para prajuritnya, kemudian Ki Reksodiwiryo memberi perintah, kepada Bekel Seren, Nolodongso disuruh merampok, ke
Singolobo(Singolobo sekarang terletak di desa karangrejo kecamatan Kutoarjo) pada malam hari, Nolodongso Pakutan, berkata pelan, iya bersedia saja, abdi paduka Hangabehi Reksodiwiryo, sendiri ikut serta.

44. Bëkta waos mung kawan daseki, sënjatanya tiga kathahira, wus prapta wau prënahe, bala umyang gumuruh, ingkang ngecu nulya ge prapti, ing wanci jam sadasa, baris bubar mawut, barise
Jayasundarga, Singalaba kinecu sëmana gusis, tukang gëndera pëjah.

Terjemahan : Membawa tombak hanya empat puluh buah, senjatanya tiga buah jumlahnya, sudah sampai di tempatnya, pasukan berteriak-teriak
bergemuruh, yang merampok kemudian segera sampai, pada waktu jam sepuluh, barisan bubar berhamburan, barisan Djoyosundargo, ketika itu
Singolobo(singolobo terletak di desa karangrejo kecamatan Kutoarjo) dirampok habis-habisan, pembawa benderanya mati.

45. Angsal tumbak satunggal lan kalih, sënjatane pan amung satunggal, lajëng samya mulih kabeh, wus prapteng prënahipun, tumbak bëdhil katur Jëng Gusti, dhatëng Kangjëng Pangeran, Kusumayudeku, Jëng Pangran alon ngandika, dhatëng Litnan
Lisëdhah wau Kumpëni, pan dhëm kopër wus prapta.

Terjemahan : (Dari merampok di singolobo yang sekarang terletak di administrasi Desa karangrejo kecamatan Kutoarjo) Memperoleh tombak satu buah dan dengan, senjatanya hanya sebuah, terus mereka kembali semua, sudah sampai di tempatnya, tombak dan senapan diserahkan kepada Sang Pangeran, Kusumoyudo itu, Sang Pangeran berkata pelan, kepada Letnan Lisedah Kumpeni itu, dan koper yang diharapkan sudah datang.

46. Pra Kumpëni bungahe këpati, dene kraman liwat sangking kathah, kang kenging kinecu kuwe, mring wong këdhik puniku, tumbak bëdhil dinëlëng sami, iya marang Walanda, sangët sukanipun, bëdhil tumbak akeh këna, samya tinon tumbak kinarya mateni, dhatëng tukang gëndera.

Terjemahan : Para Kumpeni sangat senang sekali, karena para kraman/makar/pemberontak terlalu sangat banyak, yang kena dirampok itu, oleh orang sedikit itu, tombak senapan dilihat oleh mereka, iya oleh Belanda, sangat senangnya, senapan tombak banyak yang kena, mereka melihat tombak yang dipakai membunuh, kepada si pembawa bendera.

47. Pra Kumpëni bungahe këpati, lakak-lakak sarta suka-suka, angëntrog-gëntrog wëntise, gëntiya kang winuwus, sarëng dintën Sënen marëngi, Gusti Kangjëng Pangeran, arsa den jak laju, amringkas kang desa-desa, Jëng Pangeran ngaturan ngarëp
pribadi, tindake Jëng Pangeran.

Terjemahan : Para Kumpeni sangat senang sekali, terbahak-bahak serta bersuka ria, menghentak-hentakkan betisnya, ganti yang diceritakan, begitu bertepatan dengan hari Senin, Sang Pangeran, hendak diajak bepergian, meringkus ke desa-desa, Sang Pangeran dipersilakan di depan sendiri, perjalanannya Sang Pangeran.

48. Duk sëmana pan samya lumaris, pra Kumpëni lawan Jëng Pangeran, wus lëpas wau lampahe, Kurnel lan saradhadhu, wus dumugi Torsino desi, wontën këraman kathah, barisipun agung, ingkang dadi senapatya, Jasundarga kalawan tumënggung siji, nama Danukusuma.

Terjemahan : Ketika itu mereka sudah berangkat, para Kumpeni dan Sang Pangeran, sudah jauh perjalanannya, Kolonel dan para serdadu, sudah sampai di desa Tursino ada banyak para kraman/makar/pembrontak di desa Tursino, pasukan/barisannya banyak yang menjadi panglima perang adalah Djoyosundargo dan seorang tumenggung, bernama Danukusumo.

49. Tekong Kërtapëngalasan nënggih, gya lumampah amapag Wëlanda, karëp ngajak ngamuk bae, dhatëng Kumpëni wau, ya ta sampun
kapëthuk nuli, aprang wontën ing marga, sadaya anëmpuh, sëmana lajëng apërang, aneng marga arame asilih ungkih, langkung rame kang yuda.

Terjemahan : Ya Tekong Kertopengalasan, segera berangkat menghadang Belanda, hendak mengajak mengamuk saja, kepada Kumpeni itu, ya kemudian
sudah bertemu, berperang di jalan, semua bertempur, ketika itu terus berperang, di jalan ramai saling menyerang, sangat ramai perangnya.

50. Tan adangu kraman sor ing jurit, dipun usir prapta ing Ngandhagan, Pëngalasan Tekong thekle, apan wus mlayu darung, balanira sadaya mamring, Pangran prapteng Ngandhagan, kraman sampun
mawur, dhatëng wau dhusun Soka, Raden Mayor Puspawinata Ngëbehi, Kyai Rësadiwirya.

Terjemahan : Tidak lama para kraman/makar/pemberontak kalah dalam peperangan itu, diusir sampai di Ngandagan(Ngandagan sekarang di administrasi Desa wirun kecamatan Kutoarjo), Tekong Pengalasan tangannya terluka, kemudian melarikan diri dengan kencang, semua pasukannya sepi, Sang Pangeran(Kusumoyudo) sampai Ngandagan, para makar sudah berhamburan, menuju desa Soko, Raden Hangabehi Mayor Puspowinoto, Kyai Reksodiwiryo.

51. Dikakakën ngusir kraman sami, pan kausir dhatëng dhusun Soka, këraman neng pinggir lepen, Kyai Sadiwiryeku, samya mëdal tëngahing sabin, lawan Puspawinata, wau kancanipun, wontën
prajurit tëtiga, bala kraman bëkta sënjata satunggil, tumbak kalih cacahnya.

Terjemahan : Disuruh mengusir para kraman/makar/pemberontak, kemudian diusir sampai desa Soko(sekarang terletak di desa sokoharjo kecamatan Kutoarjo), para kraman/makar di pinggir sungai, Kyai Reksodiwiryo itu, mereka lewat tengah sawah, dengan Puspowinoto, temannya, ada tiga orang prajurit, pasukan kraman/pemberontak yang membawa sebuah senjata, tombak dua buah jumlahnya.

52. Ya ta wau prajurit kang katri, gya sinëntak mring Rësadiwirya, lawan Puspawinatane, sënjata kang jinaluk, dhatëng wau Kyai Ngabehi, inggih Rësadiwirya, sënjatane iku, sineleh aneng ing
lëmah, apan lajëng tiyange dipun lamëngi, prajurit nulya pëjah.

Terjemahan : Ya ketiga prajurit itu, segera dibentak oleh Reksodiwiryo dan Puspowinoto, senjatanya diminta oleh Kyai Hangabehi(Reksodiwiryo), iya
Reksodiwiryo, senjatanya itu, diletakkan di atas tanah, dan kemudian orangnya dipedang oleh reksodiwiryo, prajurit itu kemudian mati.

53. Kang prajurit bëkta waos kalih, dyan jinaluk wau botën suka, lajëng tinumbak kramane, dhatëng prajuritipun, Sadiwirya Kyai Ngabehi, wong kalih pëjah jajar, tan tëbih genipun, Ngëbehi Rësadiwirya, lawan Mayor nama Puspawinateki, wus manjing
dhusun Soka.

Terjemahan : Prajurit yang membawa dua buah tombak, kemudian diminta tidak memberikan, kemudian ditombak para kraman/makar itu oleh prajuritnya Kyai Hangabehi Reksodiwiryo, kedua orang itu mati berjajar, tidak jauh tempatnya. Hangabehi Resodiwiryo dan Mayor yang bernama
Puspowinoto ini, sudah masuk desa Soko(Soko sekarang di administrasi desa Sokoharjo kecamatan Kutoarjo)

54. Wusnya dangu kraman ingkang dhëlik, gya sinëntak dhatëng Sadiwirya, këraman barëng kagete, tan etung kraman ambyur, aneng toya silëm ing kali, sërbane binuwangan, gundhul ting
pëndhusul, bëdhile samya binucal, wontën lepen akathah ingkang ngëmasi, den ëdrel sing dharatan.

Terjemahan : Sesudah lama para kraman/makar yang bersembunyi, segera dibentak oleh Reksodiwiryo, para makar bersama-sama terkejut, tanpa perhitungan para kraman/makar menceburkan diri, ke dalam air menyelam di sungai,
surbannya dibuang, gundul bermunculan, senapan mereka dibuang, di sungai banyak yang mati, diberondong dari daratan.

55. Kathah pëjah neng dhasaring warih, wëtëng jëmbling këkathahën toya, miwah ingkang tatu kabeh, sawidak kathahipun, kapalira
tiga kang mati, cacahe kapal pëjah, Sadiwirya iku, angsal kathah kang bandhangan, pan sënjata kalih wëlas kathahneki, waosipun wolulas.

Terjemahan : Banyak yang mati di dasar sungai, perut menggelembung kebanyakan air, serta yang terluka semua, enam puluh orang jumlahnya, kudanya tiga ekor yang mati, jumlah kudanya yang mati, Reksodiwiryo itu, memperoleh banyak rampasan, senjatanya dua belas buah jumlahnya,
tombaknya delapan belas buah.

56. Miwah angsal bandhangan Ngëbehi, pan gamëlan salendro larasnya, sarancak tiga kapale, sarëng sabubaripun, sakathahe kraman angungsi, Kurnel Klerës punika, lajëng wau nusul, dhatëng
dhusun ing Ngandhagan, sarëng sampun prapta ing dhusunireki, Kurnel ngrëmbag ron kamal.

Terjemahan : Serta Hangabehi memperoleh rampasan, gamelan laras slendro, seperangkat tiga ekor kudanya, begitu bubar, seluruh para kraman/makar mengungsi, Kolonel Cleerens itu, terus menyusul, ke desa Ngandagan(ngandagan sekarang terletak di desa wirun kecamatan Kutoarjo), begitu sudah sampai di desa ini, Sang Kolonel merundingkan daun asam.

Sumber : R.A.A. Tjokronegoro alias Kyai Adipati Tjokrojoyo alias Ngabehi Reksodiwiryo, Babad Kedungkebo Pupuh XXIX Dhandanggula bait syair nomor 23-56.

             

            Akhir kata bila ada kesalahan baik tulisan, ucapan, perbuatan, juga kata-kata yang tidak berkenan mohon di maafkan sebesar-besarnya, serta mohon petunjuk dan arahanya bila ada yang belum ditulis, salah penulisan, salah nama, Oleh karena itu mohom kritik dan saran yang Konstrustif

demikian tulisan ilmiah sederhana dari saya yang sedikit berbasis pada antropologi, histiografi, filolog, sosiologi, dan sains history juga Empiris. semoga bermanfaat untuk silaturahhmi, ngumpulke balung pisah, tidak kepaten obor, memperkaya perspektik, memperkaya wawasan, memperkuat literasi sehingga bisa memaknai hidup, menemukan jati diri, menemukan saudara, menemukan identitas ditengah kemajuan zaman yang deras ini. Sehingga kita tetap mempunyai hati nurani, rasa kemanusiaan, tawaduk kepada generasi tua, bakti kepada generasi tua, punya adab sopan santun, punya budi pekerti luhur, punya andhap asor, tidak sombong serta tidak malu untuk tegur sapa.

            Tulisan sederhana ini sebaga pengingat, menolak lupa, dan memori kolegtif bahwa kita ada dan eksis karena orang-orang dahulu, karena Para Simbah-simbah terutama Eyang Soeromenggolo yang dengan susah payah membangun desa beserta budaya dan adat-istiadatnya Juga bersusah payah membangun perekonomian Desa.

 
             Sebagai generasi yang hidup di Era Modern serba digital dan Era Disrupsi, termasuk Era generasi Strobery maka sangat Penting Menulis, menyampaikan Pengetahuan Silsilah persaudaraan dan kekerabatan juga pelajaran Sejarah, Nilai-nilai Budaya, Legacy Ajaran-ajaran norma-norma/wewaler dari leluhur, falsafah Ahlak Budipekerti dari Leluhur, Bahasa Daerah, terutama Silsilah Persaudaraan dan Kekerabatan kepada Anak-anak Sejak Dini. karena itu adalah sebuah Bentuk Tanggung Jawab Sosial dan Kesadaran Kita. Kalau tidak maka akan hilang tergerus arus zaman. Perkembangan teknologi dan komunikasi, serta digitalisasi, termasuk AI (Articial Intelligence) dari awal sudah di prediksi akan membuat perubahan besar sekali yang drastis dan dramatis, perubahan tersebut mampu membuat lupa dan memutuskan zaman sekarang dan periode sebelumnya serta menggantikan sistem lama dan tatanan lama dengan sistem dan tatanan baru, Belum Life Style atau gaya hidupnya. Akhirnya Memori Kolegtif dan Kesadaran Kolegtif Manusia bisa lupa bahkan hilang termasuk Budaya ke-timuran yang berlandaskan hati nurani dan kemanusian seperti gotong royong, sambatan, rewang, menggali kubur, adab sopan santun, adab tutur kata, tepo seliro dsbnya.

            Saya harap ahli waris atau keturunan-keturunan yang melihat tulisan sederhana ini untuk dapat mengembangkan lagi susunananya sampai yang terakhir, supaya mudah untuk mengingat, mengidentifikasi, menganalisa, mengkorfirmasi, mengoneksi, dan tidak kepaten obor, juga umtuk memahami identitas diri ditengah era krisis identitas. semoga yang hanya tulisan sederhana ini bisa untuk menjadi bahan acuan dan sumber referensi serta yang paling penting sebagai sumber untuk memper-erat silaturahmi dan peseduluran/persaudaraan bahwa kita dari leluhur yang sama. Sekalipun kita sudah Mandiri sendiri-sendiri, punya rumah sendiri-sendiri, terpisah jarak ruang serta waktu dan tersebar di desa Tursino, Tersebar di Kabupaten Purworejo, bahkan tersebar di Seluruh Indonesia juga Luar Negeri.

dan bisa berkumpul juga bertemu saat kita Ruwahan di Bulan ruwah di Makam Eyang Soeromenggolo, ataupun saat kita ziarah Kubur merawat Makam Eyang, serta suatu saat Semoga Keluarga Besar Soeromenggolo dapat berkumpul di acara Silaturahmi dan ramah-tamah.

            Mari kita berdo'a bersama-sama, Semoga Semua keturunan Eyang R.M Soeromenggolo semuanya selalu dikuatkan dan ditetapkan Iman, Iksan, Islam-nya, Mendapatkan Syafa'at Nabi Besar Muhammad SAW di Yaumul akhir, Mendapatkan akhir hayat yang baik Khusnul khotimah, selalu diampuni segala dosa, kesalahan, dan kekilafanyannya, diterima Amal ibadahnya, selalu diberikan Nikmat Kesehatan, selalu diberikan keberuntungan, selalu dimudahkan segala urusan hajatnya, selalu direkatkan persaudaraan dan silaturahminya, Semoga Keluarga Besar Eyang Soeromenggolo Selalu di-Akur-kan, Selalu diberi Keselamatan, selalu diberikan Rezeki berupa materi dan non materi, serta diberikan limpahan Rezeki berupa pundi-pundi uang untuk ibadah, kanthi bagas waras, kalis ing rubeda nir ing sambikala.. Aamiin.. al Fatihah.

Sekali lagi Mohon Maaf lahir dan batin bila ada kesalahan, ucapan, tulisan, dan tindakan.

Saya tutup dengan Istifar 3X...  Astafirullahaladzim, Astafirullahaladzim, Astafirullahaladzim
Wallahualam Bisawab, Walaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh..... 
 
  • Tanggal                                    : 18 Juli 2020
  • Ditulis dan disusun oleh          : Ndandung Kumolo Adi 
  • Nomor HP/Whattssap              : 0888-0391-6811
  • Email                                       : ndandungkumala@gmail.com
  • Alamat                                     : Perumahan Argo Peni, Gang Bromo, N0. 16, RT.06, RW.05, Kelurahan Kutoarjo, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah 54212
 
Sumber Referensi :
  1. Nara sumber ahli waris
  2. Bapak R. Sutoko Bin R. Margono Bin R. Karjodiwiryo/slamet Bin R.A. Nojodiwirjo Bin Soeromenggolo
  3. Almarhummah Suwargi Eyang putri R.Ngtn. Parsilah Binti R.A. Pawiro sedono (lurah pucang agung, bayan) Bin R.M. Soeromenggolo
  4. Almarhum Suwargi Simbah Pawiro Diharjo/Wal Qobri Bin Khasan Bahrun Bin Amat Rejo
  5. R. Soeroto Bin R.Ay. Pawiro diharjo (lurah tursino) Bin R.A. Pawiro sedono (lurah Pucang Agung) Bin R.M. Soeromenggolo
  6. Bu R.Ngt Lasminah Sulasiyah Binti R Karsodimedjo Bin R.A. Djorewijo Bin RM. Soeromenggolo. ibunya Mas Pur Jogoboyo yang sekarang menjadi Bayan ( Saudara sepupu simbah saya yang sering menyambangi Simbah saya R.Aj Parsilah)
  7.  Kakanda Mas Sepupu saya, anak pertama dari Budhe Saya yaitu Budhe R.Ngt Siti Sarumi Bin R.Ay Pawiro Diharjo yaitu Mas R. Kuntadi bin Tito Al Usman bin R.M. Abdul Rochim bin R.M. Chasan Bin R.A Lukman Hakim
  8. Bapak R. Wahyu Jatmiko Bin R Tjokro Sumarto Bin R. Martodimedjo Bin  R.M Soeromenggolo
  9. Bapak R.Sumardi Bin R Wanajir Bin R Muchidal Bin R Nirman Bin R.ngntn Tubro Bin R.Ngtm Mariyem Bin RM Dityoyudo Bin RM ketomenggolo Bin BPH Singosari Bin Prabu Amangkurat IV
  10. Almarhum Lik Pirngadi.
  11. Bu Fatimah
  12. Ust. M. Yaser Arafat, M.A seorang Akademisi, Arkeolog, Filolog, Sejarawan, Peneliti budaya jawa serta Dosen UIN Sunan Kalijaga
  13. Serat kekancingan
  14. Babad Kedung kebo ; Karya R.A.A Tjokronegoro I
  15. BPS Kabupaten Purworejo Tahun 2024
  16. Serat Kekancingan, Buku Sisilah yang disusun KRT.Yudodiprojo Kepala Tepas Darah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Tahun 1997

 

 

 

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kutoarjo

Pawai pelajar Kutoarjo 19 Oktober 1949, sebagai Demo Pelajar Perdana setelah Agresi Militer Belanda II menjadi salah satu elemen penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia.

  PELAJAR KUTOARJO MELAKUKAN DEMO PERDANA BAGI INDONESIA   Foto. Demo pelajar pertama pasca Agresi Militer 2 guna memberi semangat juang Ten...

Kutoarjo