Powered By Blogger

Selasa, 09 Juni 2020

Cerita Rakyat Asal Usul Desa Tursino dan Desa-Desa di Utara Gunung Tugel Kutoarjo

Cerita Rakyat Asal Usul Desa Tursino dan Desa-Desa di Utara Gunung Tugel Kutoarjo

Ndandung Kumolo Adi 
Sejatininghidup02.blogspot.com

Abstrak :
Artikel ini memuat cerita rakyat mengenai asal usul Desa Tursino dan beberapa desa di wilayah utara Gunung Tugel (Sinalangan), Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Cerita rakyat merupakan kisah yang hidup dan berkembang secara turun-temurun dalam masyarakat serta diwariskan melalui tradisi lisan. Cerita rakyat mengandung nilai budaya, kepercayaan, adat istiadat, dan pandangan hidup masyarakat setempat. Dalam kajian sejarah, cerita rakyat termasuk tradisi lisan (oral tradition) yang dapat menjadi petunjuk awal dalam penelitian sejarah, meskipun kebenarannya tetap perlu dikaji dan dibandingkan dengan sumber-sumber primer, seperti prasasti, naskah kuno, arsip, dokumen resmi, maupun bukti arkeologis.

Salah satu bentuk cerita rakyat adalah legenda, yaitu kisah yang dipercaya masyarakat pernah benar-benar terjadi pada masa lampau dan umumnya berkaitan dengan asal usul suatu tempat, tokoh, benda, atau peristiwa tertentu. Walaupun mengandung unsur sejarah, legenda merupakan bagian dari folklor yang berkembang melalui tradisi lisan sehingga isi ceritanya dapat mengalami perubahan dari generasi ke generasi.

Cerita rakyat yang disajikan dalam artikel ini mengisahkan perjalanan Wirotomo beserta para pengikutnya setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit dan berkembangnya Kesultanan Demak. Di dalamnya disebutkan tokoh-tokoh seperti Ki Ageng Tursuli, Ki Ageng Umbul, Ki Ageng Kagok, Nyai Ageng Gesing, dan Kyai Marchamah yang dipercaya sebagai perintis pembukaan permukiman di wilayah utara Gunung Tugel. Sebagai bagian dari warisan budaya takbenda, cerita ini mencerminkan ingatan kolektif, nilai budaya, dan identitas masyarakat setempat. Oleh karena itu, artikel ini disusun sebagai upaya mendokumentasikan tradisi lisan masyarakat Kutoarjo sekaligus memberikan pemahaman bahwa isi cerita merupakan warisan folklor yang perlu dikaji secara kritis melalui sumber-sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan. Jadi jangan dipercaya karena cerita rakyat dan legenda beda dengan sejarah.

Oleh karena itu, artikel ini disusun sebagai upaya mendokumentasikan tradisi lisan masyarakat Kutoarjo sekaligus memberikan pemahaman bahwa cerita rakyat dan legenda merupakan bagian dari warisan folklor yang memiliki nilai budaya. Meskipun dapat mengandung unsur sejarah, isi cerita tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai fakta sejarah tanpa didukung oleh sumber-sumber primer dan hasil penelitian sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sumber cerita    :     

  • Cerita Rakyat Masyarakat Utara Gunung Tugel
  • Buku penyajian  keputihan di perpustakaan umum kutoarjo dan purworejo
  • Ahli waris daerah mutihan
  • Sejarah Purworejo dan Kutoarjo
Cerita Rakyat ini Disusun kembali : Penilik dinas pendidikan dan kebudayaan Kab Purworejo Khususnya UPTD Kec. Kutoarjo

                Dahulu kala diceritakan setelah kerajaan Majapahit runtuh, oleh pengaruh Islam, kerajaan pindah dari Majapahit ( jawa timur ) ke Demak ( jawa tengah ).
Sultan yang pertama adalah Raden Patah.
                Diceritakan setelah salah seorang Wiratamtatama dari kerajaan Demak mengundurkan diri dari jabatannya dan permohonan dikabulkan sang Sultan dan oleh sang Sultan dianjurkan/disarankan supaya untuk menguasai daerah selatan sekaligus menyebarkan Agama Islam, selain itu diwajibkan setahun sekali untuk menghadap ke Demak. Saran tersebut diterima oleh sang Wirotomo, pengikut yang setia sebagai pengiringnya adalah :
  1. Kyai Marchamah sebagai penasehat spiritual sang Wirotomo.
  2. Ki Ageng Umbul/mbah Umbul bertugas membawa umbul-umbul kebesaran dan kebanggan kerajaan Demak.
  3. Ki Ageng Kagok.
  4. Ki Ageng Tursuli/mbah tursuli.
  5. Gamel Ketosari tugasnya memelihara kuda.
  6. Gamel Marchamah tugasnya memelihara kuda.
  7. Nyai Gesing/mbah gesing.
Kyai Marchamah selalu berdampingan dengan sang Wirotomo yang bertugas sebagai penasehat spiritual juga memberikan pertimbangan-pertimbangan mengenai masalah umum dan bidang keagamaan khususnya ajaran Islam.
Sang Wirotomo mempunyai seekor kuda yang dapat terbang ( kuda Sembrani ). Kuda ini pemeliharaannya diserahkan kepada Gamel ketosari dan Gamel marchamah.
Berangkatlah sang wirotomo menuju ke arah selatan, rombongan sampailah di kaki gunung lawu, disini rombongan berjumpa dengan pelarian pasukan Majapahit yang tidak mau tunduk kepada Demak, terjadilah peperangan. Tetapi karena rombongan sang Wirotomo jauh lebih kecil dan sedikit dari pasukan Majapahit, terpaksa mengundurkan diri dan melanjutkan perjalanan menuju arah Barat melalui daerah Mbagelen.
Sampailah rombongan disebuah hutan lebat yang terletak disebelah utara Gunung Sinalangan/tugel.
Oleh sang wirotomo rombongan diperintahkan untuk beristirahat, setelah dipandang cukup untuk beristirahat, pada hari itu juga diperintahkan membuka hutan/babat alas untuk pemukiman sang Wirotomo.

                Atas perintah sang Wirotomo ke empat pengikut setianya juga diperintahkan membuka hutan untuk tanah pemukiman masing-masing, dimulai dari kaki gunung tugel sebelah utara.
Yang mendapat tugas :
  1. Ki Ageng Kagok. ( bukti makamnya di desa kemadu )
  2. Nyai Ageng Gesing. ( bukti makamnya di desa kaligesing )
  3. Ki Aeng Umbul. ( bukti makamnya di desa karangrejo )
  4. Ki Ageng Tursuli.( bukti makamnya di desa Tursino )
  5. Kyai Marchamah (bukti makam di Mutihan wirun)

Seperti para teman yang lain Ki Ageng Tursuli membuka lahan hutan juga menjadikan areal persawahaan di sebelah timur dengan berjalan lancar tidak mengalami kesukaran – kesukaraan atau gangguan – gangguan.
Tempat pemukiman Ki Ageng Tursuli disebut Tursulian, ucapan lama-lama berubah menjadi Tursinan, lalu menjadi Tursino sampai sekarang.

Di daerah Tursino ada sebuah daerah atau dusun yang bernama “Njeblog” konon terjadi perselisihan antara Ki Ageng Umbul dengan Tokoh dari Pucang Anom (Daerah njeblog tursino memang dekat dengan perbatasan Desa Pucang Anom/agung), Peperanangan ini terjadi selama tiga (3) hari.
Banyak pohon-pohon tumbang dan tempat ini sampai rata, dan hingga sekarang tempat itu disebut “Ngroto” letaknya disebelah timur laut desa Karangrejo.
Akhirnya kedua tokoh tersebut dipanggil oleh sang Wirotomo dan dianjurkan berdamai, tetapi tokoh dari pucang anom tidak bersedia, lalu sang wirotomo menugaskan Kyai Marchamah untuk melayani tokoh dari Pucang anom
Terjadilah pertempuran sengit, tokoh pucang anom mengeluarkan pusaka andalannya berupa sebuah ALU. Sejak saat itu tokoh pucang anom disebut : Kyai Sabuk Alu. Kyai Marcomah juga mengeluarkan pusaka pamungkasnya berupa BEDHUG.
Bedhug dipukul seketika itu sabuk alu berubah menjai tiga (3) orang kembar lagi perkasa.
Bedhug terus dibunyikan ketiga orang itu terpental kearah tiga penjuru.
Pusaka alunya jatuh di daerah ki Ageng Tursuli tepatnya tempat jatuhnya pusaka sabuk alu tersebut menimbulkan bunyi yang sangat dahsyat bagaikan ledakan Bom (njeblog). Daerah itu sampai sekarang disebut “NJEBLOG”.


                                                                                       Kutoarjo, 20 Februari            

An. Kepala Kantor Depdikbud Kec Kutoarjo Penilik kebudayaan,


                                                                                                M.P. DARMODJO
                                                                                                NIP. 130 044 300


By. N. K.Adi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kutoarjo

SOEMARSONO: PEMUDA KUTOARJO, TOKOH 10 NOVEMBER 1945 DAN PENGGAGAS HARI PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN

  SOEMARSONO: PEMUDA KUTOARJO, TOKOH 10 NOVEMBER 1945 DAN PENGGAGAS HARI PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN By. Ndandung Kumolo Adi  Abstrak : Soemar...

Kutoarjo