Raden Mas Adipati Ario disingkat R.M.A.A Koesoemo Oetoyo bin R.M. Soejoedi Soetodikoesoemo (yang dulu pernah menjadi assisten wedono Bedog setelah itu menjadi Patih Pekalongan) Bin R.M.T. Soerokusumo (Bupati Koetoardjo).
Koesumo Oetoyo adalah cucu dari bupati kutoarjo ke-2 R.M.T. Soerokusumo.
R.M.A.A Koesoemo Oetoyo pernah menjabat Bupati Ngawi ( dari tahun. 1902 - 1905) dan Bupati Jepara (dari tahun 1905 - 1927) menggantikan Ayahnya R.A. Kartini yang bernama R.M.A.A. Sosroningrat yang wafat di tahun 1905 lalu Koesoemo Oetoyo ditunjuk untuk menggantikannya, Koesoemo Oetoyo waktu itu berusia 34 Tahun dan dianggap sepadan untuk menggantikan nama besar Sosroningrat ayahanda R.A. Kartini. Koesoemo Oetoyo meraih jabatan bergengsi sebagai Bupati Jepara.
Sumber primer Dalam Koloniaal Verslag 1902 (Laporan Tahunan Pemerintah Hindia Belanda) tertulis:
"De afgetreden regent van Ngawi, die ook geen zonen had geschikt om hem op te volgen, werd vervangen door RADEN MAS OETOIJO, tot dusver translateur voor de Javaansche taal te Soerakarta (1 April 1902)."
Terjemahan:
"Bupati Ngawi yang mengundurkan diri, yang juga tidak mempunyai putra yang layak untuk menggantikannya, digantikan oleh Raden Mas Oetojo, yang sebelumnya menjabat sebagai penerjemah bahasa Jawa di Surakarta. Pengangkatan tersebut mulai berlaku pada 1 April 1902
Sumber lain seperti Berita majalah Koloniaal Weekblad Donderdag 20 Maret 1902 halaman 2, (bukan koran harian) edisi no.11 tanggal terbit 20 Maret 1902.
Isi beritanya berbunyi:
"...Raden Mas Oetojo, translateur voor de Javaansche taal te Solo, nu door de Regeering aangewezen is om op te treden als regent van Ngawi met den titel Toemenggoeng. Men heeft nu nieuw bloed in Ngawi gebracht. Voor den jeugdigen, nauwelijks dertigjarigen Radhen Mas Oetojo is deze benoeming een groote onderscheiding..."
Terjemahan:
"Raden Mas Oetojo, yang sebelumnya menjabat penerjemah bahasa Jawa di Surakarta, kini oleh Pemerintah ditunjuk untuk menjabat sebagai Bupati (Regent) Ngawi dengan gelar Tumenggung. Dengan demikian, darah baru telah dibawa ke Ngawi. Bagi Raden Mas Oetojo yang masih sangat muda, baru sekitar tiga puluh tahun, pengangkatan ini merupakan suatu kehormatan besar."
Selain itu ada Sumber Koloniaal Verslag over het jaar 1902 (Laporan Tahunan Pemerintah Hindia Belanda Tahun 1902), diterbitkan di Den Haag, bagian Binnenlandsch Bestuur (Pemerintahan Dalam Negeri).
Isi laporan:
"De Regent van Ngawi werd vervangen door Raden Mas Oetojo, vroeger translateur voor de Javaansche taal te Soerakarta, met ingang van 1 April 1902."
Terjemahan:
"Bupati (Regent) Ngawi digantikan oleh Raden Mas Oetojo, yang sebelumnya menjabat sebagai penerjemah bahasa Jawa di Surakarta, efektif mulai tanggal 1 April 1902."
Koesoemo Oetoyo menjadi Bupati Ngawi pada usia 31 tahun, sebagai Bupati muda di kabupaten Ngawi, Koesoemo Oetoyo juga dipercaya masuk sebagai salah satu anggota komisi penyelidik penurunan kemakmuran rakyat (Mindere Welvaart Commissie) di Jawa dan Madura, yang dibentuk tahun 1903 atas inisiatif A.W.F. Idenburg selaku menteri urusan jajahan Belanda.
Berita Surat Kabar De Indiër, No. 282 Tahun II, Tanggal 2 Desember 1918. Tentang Koesomo Oetoyo, yang isi beritanya sebagai berikut :
Volksraadsleden
In een artikel van een nieuwe rubriek "Volksraadsleden" in de Neratja wordt de Regent van Japara, R.M. Toemenggoeng Koesoemo Oetoyo, aan een kritiek onderworpen.
De Regent is door schr. (Driestar) als eerste slachtoffer van zijn ontledingen gekozen, omdat dit Volksraadlid z.i. de meeste "antecedenten" bezit. als translateur te Soerakarta en redacteur van het maandblad Pewarta Prijaji naam, en men schonk hem de toenmaals gebruikelijk qualificatie van "verlicht Javaan".
Door zijn artikelen in de Pewarta Prijaji vestigde hij de aandacht op zich van de Regeering, die hem in 1903 Regent maakte van Ngawi (Madioen).
Deze verheffing van translateur-redacteur tot Regent zou thans hevige verontwaardiging hebben verwekt onder de jongere partij, maar toentertijd verheugden de Inlanders zich er over, daar zij in dien stap der Regeering een ter zijde zetten zagen van art. 69 R.R.-slotalinéa.
Dacht men Oetoyo liberaal, later bleek duidelijker en duidelijker hoe conservatief hij was, en in de Volksraad kan het nu ook blijken.
Bij de behandeling van het ontslag van den Regent van Bangkalan bereikte dit conservatisme wel het hoogtepunt.
Hier ziet men nu het verschil tusschen het adellijke sentiment der Javanen en de Europeesche tucht.
Daarom vreest schr. voor de gevolgen, indien straks Stbl. 1918 No. 674 inzake de ontvoogding van het Inl. Bestuur overal ingevoerd wordt.
Op goede gronden durft Driestar verklaren, dat de Regent Oetoyo, evenals de Ass. Resident Van der Jagt, een ambtenaar uit den tijd is.
Terjemahan Bahasa Indonesia :
Anggota-anggota Volksraad
Menurut penulis (Driestar), sang bupati dipilih sebagai tokoh pertama yang dibahas dalam ulasannya, karena menurutnya anggota Volksraad tersebut memiliki rekam jejak (antecedenten) yang paling banyak untuk dikaji.
Dengan ijazah akhir H.B.S. Semarang yang diperolehnya pada tahun 1891
Setelah bekerja sebagai penerjemah di Surakarta dan menjadi redaktur majalah bulanan Pewarta Prijaji, ia memperoleh julukan yang pada masa itu lazim diberikan kepadanya, yaitu "orang Jawa yang tercerahkan" (verlicht Javaan).
Melalui artikel-artikelnya di Pewarta Prijaji, ia menarik perhatian Pemerintah Hindia Belanda, yang kemudian mengangkatnya menjadi Bupati Ngawi (Karesidenan Madiun) pada tahun 1903.
Pengangkatan seorang mantan penerjemah dan redaktur menjadi bupati seperti itu, pada masa kini mungkin akan menimbulkan kecaman keras dari kalangan muda. Akan tetapi, pada waktu itu masyarakat bumiputra justru menyambutnya dengan gembira, karena mereka memandang langkah pemerintah tersebut sebagai bentuk pengesampingan ketentuan Pasal 69 Regeeringsreglement yang selama ini membatasi pengangkatan pejabat bumiputra.
Semula Oetoyo dianggap berpandangan liberal, tetapi kemudian semakin jelas bahwa ia sebenarnya bersikap konservatif, dan hal itu kini juga tampak dalam sidang-sidang Volksraad.
Dalam pembahasan mengenai pemberhentian Bupati Bangkalan, sikap konservatifnya bahkan mencapai puncaknya.
Oleh karena itu, penulis khawatir terhadap akibat yang mungkin timbul apabila Staatsblad 1918 Nomor 674 mengenai pembaruan atau pemberian kemandirian dalam pemerintahan bumiputra kelak diterapkan secara luas.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut, Driestar berani menyatakan bahwa Bupati Oetoyo, sebagaimana Asisten Residen Van der Jagt, merupakan seorang pejabat yang mewakili cara pandang zaman lama."
Kesimpulan Artikel surat kabar De Indiër (Semarang), No. 282, Tahun II, 2 Desember 1918. ini merupakan tulisan opini yang bersifat kritis, bukan berita faktual biasa. Penulis menggunakan perjalanan karier Oetoyo dari redaktur Pewarta Prijaji hingga menjadi Bupati Ngawi dan anggota Volksraad untuk berargumen bahwa Oetoyo telah berubah dari sosok yang dianggap progresif menjadi tokoh yang konservatif dalam kehidupan politik Hindia Belanda.
Dalam sebuah essainya, budayawan Pramoedya Ananta Toer, sebagaimana dikutip Nagazumi (1989:22), menyebutkan bahwa dari sejumlah Bupati di Jawa hanya ada empat orang saja yang pandai menulis dan berbicara dalam bahasa Belanda, mereka adalah Pangeran Ario Hadiningrat (Bupati Demak), R.M.A.A. Sosroningrat bupati Jepara, R A. Achmad Djajadiningrat Bupati Serang, dan R.M.T. Koesoemo Oetoyo Bupati Ngawi.
Koesoema Oetoyo berupa meningkatkan kesejahteraan dan martabat bangsanya. Dalam tulisannya di media cetak Hindia Belanda dan pidato-pidatonya di rapat-rapat "Boedi Oetomo", pidato-pidatonya di sidang Bupati se-Jawa maupun Dewan Rakyat (Volksraad) istilah "Anak Bumi" digunakan Koesoema Oetoyo untuk mengembalikan kepercayaan diri kaum pribumi, semua disiplin ilmu juga ilmu-ilmu barat harus dikuasi oleh anak bumi.
Menurutnya pendidikan dan identitas diri anak bumi merupakan suatu hal yang mutlak untuk menjadikan sosok bermartabat dan berkedudukan sejajar saat bernegosiasi dengan pihak kolonial Belanda.
Dalam konteks kekinian atau milenial, upaya memberikan beasiswa yang terus menjadi obsesi dan cita-cita Koesoemo Oetoyo, yang diharapkan dapat membuka mata hati para pemimpin di negeri ini untuk mengalokasikan dana beasiswa yang besar agar generasi muda terbebas dari kebodohan, kemiskinan, dan konservatisme.
Bagi pribadi Koesoemo Oetoyo identitas yang konsisten alias Daim juga berkarakter adalah simbol kekuatan tersendiri bagi Koesoema Oetoyo.
Misalnya pakaian sederhana dan berkarakter yang dipakai Mahatma Gandhi merupakan protes terhadap kemapanan, demikian juga dengan Koesoemo Oetoyo yang konsisten memakai kain batik, blangkon, dan anti memakai sepatu, kelihatan dengan cara ini kolonial Belanda di ingatkan untuk selalu memikirkan keberadaan Anak Bumi yang secara bertahap harus mendapatkan kemerdekaannya dan hidup sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Sementara itu Volksraad baru dibentuk pada 1918, lima tahun setelah Sedio Moeljo berdiri. Atau tiga tahun setelah Pangeran Adipati Poerboatdmodjo Pensiun jadi Bupati Kutoarjo tahun 1915. Volksraad merupakan dewan perwakilan yang beranggotakan wakil Eropa, pribumi, dan Timur Asing, meskipun pada awalnya hanya memiliki fungsi sebagai badan penasihat pemerintah kolonial.
Hubungan Volksraad dan Sedio Moeljo dapat dipahami sebagai berikut:
- Sedio Moeljo lebih dahulu hadir (1913) sebagai forum para bupati untuk menyampaikan gagasan dan usulan kepada pemerintah kolonial.
- Volksraad (1918) kemudian menjadi lembaga resmi yang menyediakan ruang lebih luas bagi pembahasan kebijakan pemerintahan, termasuk bagi wakil pribumi.
- Keduanya sama-sama mencerminkan berkembangnya partisipasi elite pribumi dalam pemerintahan kolonial, meskipun melalui mekanisme yang berbeda.
- Pengalaman para bupati dalam organisasi seperti Sedio Moeljo turut memperkuat tradisi musyawarah, penyusunan usul, dan koordinasi antardaerah, yang kemudian relevan ketika sebagian elite pribumi terlibat dalam Volksraad.
Dalam konteks Pangeran Poerbo Atmodjo, jabatan beliau sebagai Komisaris Sedio Moeljo menunjukkan bahwa sebelum Volksraad berdiri, beliau sudah aktif dalam organisasi antar bupati yang membahas kemajuan masyarakat Jawa dan Madura. Sedio Moeljo merupakan salah satu bentuk organisasi elite pribumi sebelum lahirnya Volksraad, dan keduanya merupakan bagian dari proses berkembangnya partisipasi politik serta administrasi pribumi pada masa Kebangkitan Nasional.
- 1870–1915: Pangeran Poerbo Atmodjo menjabat sebagai Bupati Kutoarjo.
- 1913: Menjadi Komisaris Regentenvereeniging "Sedio Moeljo", organisasi para bupati Jawa dan Madura.
- Tahun 1915: Pensiun sebagai Bupati Kutoarjo.
- 1918: Volksraad dibentuk oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Keikutsertaan Pangeran Poerbo Atmodjo sebagai Komisaris Regentenvereeniging 'Sedio Moeljo' pada tahun 1913 menunjukkan keterlibatannya dalam organisasi para bupati yang berupaya memajukan pendidikan, kesejahteraan, dan administrasi masyarakat Jawa dan Madura. Organisasi ini berdiri lima tahun sebelum pembentukan Volksraad pada 1918, sehingga dapat dipandang sebagai salah satu bentuk partisipasi elite birokrasi pribumi pada masa pra-Volksraad.
Salah satu pengurus Regentenvereeniging "Sedio Moeljo" yang kemudian menjadi anggota Volksraad adalah Raden Mas Tumenggung Ario Koesoemo Oetojo, Bupati Jepara. Beliau Cucu Bupati Kutoarjo Raden Tumenggung Ario Soerokoesomo. Riwayat perannya menunjukkan kesinambungan keterlibatan elite birokrasi pribumi dalam organisasi modern pada masa Kebangkitan Nasional, yaitu:
- 1905–1927: Menjabat sebagai Bupati Jepara.
- 1913: Menjadi Wakil Presiden Regentenvereeniging "Sedio Moeljo", sebagaimana diberitakan dalam Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, rubrik "Wat de Inlander Zegt", 9 Oktober 1913.
- 1918: Diangkat sebagai salah satu anggota Volksraad mewakili golongan pribumi.
- 1926–1936: Menjabat sebagai Ketua Budi Utomo.
- 1935: Diangkat sebagai Wakil Ketua Pertama Volksraad (Eerste Ondervoorzitter van den Volksraad).
R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo juga pernah aktif dan menjabat pada sejumlah organisasi dan lembaga antara lain sebagai Ketua Organisasi Pergerakan Politik Boedi Oetomo (dari tahun. 1926 s.d. 1936), anggota Dewan Pimpinan Harian Volksraad (parlemen Hindia Belanda) yang pertama yang didirikan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1918, serta Wakil Ketua Chuo Sangi In (Dewan Pertimbangan Pusat) yaitu badan yang dibentuk pada tahun 1943, diketuai Ir. Soekarno, dan bertugas mengajukan usul kepada pemerintah, menjawab pertanyaan mengenai politik, dan menyarankan tindakan yang perlu dilakukan oleh pemerintahan militer Jepang.
Judul surat kabar : De Locomotief: Samarangsch Handels- en Advertentie-blad, Tanggal terbit: 24 April 1902, Penerbit: De Groot, Kolff & Co. Tempat terbit: Semarang Nomor edisi: 94. Tahun terbit (Jaargang): Tahun ke-51 menuliskan berita pengumuman telegram khusus dari Bogor sebagai berikut :
aan "De Locomotief".
Uit Buitenzorg.
d.d. heden.
(Part. teleg. v/d Loc.)
Benoemingen enz.
Benoemd:
tot generaal-directeur van het krankzinnigengesticht te Lawang Dr. Lijkles;
tot regent van Ngawi de translateur op het translateur-bureau voor de Javaansche taal te Solo Raden Mas Oetoyo;
tot onderwijzer der 1e kl. Roekoff;
tot 3en commies bij de Algemeene Rekenkamer de klerk Isaaks;
tot 3en commies bij het dep. van B.B. de Heer Dankmeyer;
tot 3en opzichter-machineteller bij het Marine-Etablissement te Soerabaja Holm, en tot machineteller Sproakofski, beiden ambtenaren ter beschikking gesteld van den G.G. van N.I.
Ontslagen, eervol, op verzoek, uit 's lands dienst:
de onderwijzer der 1e kl. Van Vlodrop;
de regent van Ngawi Raden Toemenggoeng Poerwo Lil Projo;
de burger-schrijver van den geneeskundigen dienst Poentoroso;
Idem, eervol, uit zijne betrekking wegens ziekte als commies bij de Algemeene Rekenkamer Broede;
Verleend 1 jaar verlof naar Europa wegens langdurigen dienst aan:
den 1en luit. magazijnmeester der 2e kl. bij de Genie Reynders;
den 1en luit. der Inf. Niebold.
Berikut terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dengan mempertahankan gaya pengumuman resmi pemerintah pada masa Hindia Belanda :
Dari Buitenzorg (Bogor)
Tanggal hari ini
(Telegram khusus untuk De Locomotief)
Pengangkatan dan lain-lain
Diangkat:
Sebagai Direktur Jenderal Rumah Sakit Jiwa di Lawang, Dr. Lijkles.
Sebagai Bupati Ngawi, Raden Mas Oetoyo, yang sebelumnya menjabat sebagai penerjemah pada Biro Penerjemah Bahasa Jawa di Surakarta (Solo).
Sebagai guru kelas satu, Roekoff.
Sebagai komis (pegawai administrasi) tingkat tiga pada Badan Pemeriksa Keuangan Umum, juru tulis Isaaks.
Sebagai komis tingkat tiga pada Departemen Binnenlands Bestuur (Pemerintahan Dalam Negeri), Tuan Dankmeyer.
Sebagai pengawas mesin/pencatat mesin tingkat tiga pada Marine-Etablissement (Instalasi Angkatan Laut) di Surabaya, Holm; dan sebagai pencatat mesin, Sproakofski. Keduanya merupakan pegawai yang ditempatkan di bawah kewenangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Diberhentikan dengan hormat atas permintaan sendiri dari dinas pemerintah :
Guru kelas satu, Van Vlodrop.
Bupati Ngawi, Raden Toemenggoeng Poerwo Lil Projo.
Juru tulis sipil pada Dinas Kesehatan, Poentoroso.
Demikian pula, dengan hormat, karena alasan sakit, Broede, dari jabatannya sebagai komis pada Badan Pemeriksa Keuangan Umum.
Diberikan cuti selama satu tahun ke Eropa karena masa dinas yang panjang kepada:
Letnan Satu, Kepala Gudang Kelas II pada Korps Zeni, Reynders.
Letnan Satu Infanteri, Niebold.
"Sebagai Bupati Ngawi diangkat Raden Mas Oetoyo, yang sebelumnya menjabat sebagai penerjemah pada Biro Penerjemah Bahasa Jawa di Surakarta (Solo)."
Pengumuman ini merupakan bukti sezaman bahwa Raden Mas Oetoyo diangkat menjadi Bupati Ngawi setelah sebelumnya bertugas sebagai penerjemah (translateur) pada Biro Penerjemah Bahasa Jawa di Surakarta. Pada saat yang sama, Raden Toemenggoeng Poerwo Lil Projo diberhentikan dengan hormat atas permintaannya sendiri dari jabatan Bupati Ngawi. Ini merupakan sumber primer yang penting untuk menelusuri awal karier pemerintahan R.M. Koesomo Oetoyo Oetoyo.
R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo lahir di kebumen pada tanggal 13 Januari 1871 dengan nama Raden Mas Oetoyo. Ayahanda R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo, yaitu R.M. Soejoedi Soetodikoesoemo, ialah seorang pamong praja yang kemudian menjadi Patih di Pekalongan, yang merupakan putra Bupati Kutoarjo ke-6 K.R.A.A. Soerokoesoemo. R.M. Soerokoesoemo merupakan cucu Sultan Hamengku Buwono I.
Ibunda R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo, yaitu R.A. Soeratinem, ialah putri dari Raden Adipati Aroeng Binang IV, Bupati Kebumen.
Sekalipun kedua kakeknya berbeda politik, R.M. Soerokusumo mendukung politik pangeran Diponegoro serta ikut bergabung berperang melawan ketidakadilan dan kolonial Belanda untuk membela Kawulo alit dan kaum lemah serta mengangkat harkat dan martabat bangsanya.
Sedangkan Aroembinang IV menolak politik Pangeran Diponegoro yang bersamaa dengan Belanda ikut memerangi pengikut pangeran Diponegoro sampai menyebabkan Kolopaking IV yang membela Pangeran Diponegoro Gugur sabil.
Tapi Koesoemo Oetoyo berbangga kepada kakeknya R.M.T. Soerokusumo Bupati Kutoarjo yang Kedua juga kakek buyutnya pangeran Balitar I yang ikut di barisan terdepan pangeran Diponegoro, ikut berperang bersama pangeran Diponegoro melawan ketidakadilan, kesewenang-wenangan, penjajahan, membela Kawulo alit dan kaum lemah serta mengangkat harkat dan martabat bangsanya.
Epos Pangeran Diponegoro terpatri di dalam jiwanya bahwa Priyayi atau bangsawan atau orang kaya atau orang kuat harus wajib mengayomi dan melindungi Kawulo alit dan kaum lemah sekalipun Nyawa adalah taruhannya.
Berita Surat Kabar Belanda De Standard. Amsterdam: H. de Hoogh EN Co., No. 10.325, Tahun ke-34, 11 November 1905, adalah surat kabar nasional Belanda yang diterbitkan di Amsterdam, bukan surat kabar Hindia Belanda yang isi beritanya adalah sebagai berikut :
BINNENLAND.
AMSTERDAM, 10 November.
Het Regentschap Japara. Naar de N. Grt. verneemt, is met 3 October jl. Raden Mas Pandji Sosro Boesono, wedono van Bandjaran en tweede zoon van wijlen den verdienstelijken Regent van Japara, benoemd tot Regent van Ngawi, terwijl de tegenwoordige Regent van Ngawi, Raden Mas Oetoyo, te Japara komt.
Hieruit volgt, dat aan het der Indische Regeering toegeschreven voornemen om het Regentschap Japara op te heffen geen gevolg is gegeven, maar dat de aanspraken der met eere bekende familie van wijlen den Regent van Japara op opvolging in een regentschap, door de benoeming van des overledenen tweeden zoon te Ngawi, zijn erkend.
Berikut terjemahan artikel tersebut ke dalam bahasa Indonesia :
Amsterdam, 10 November
Jabatan Bupati Jepara
Menurut laporan N. Grt., pada 3 Oktober yang lalu, Raden Mas Pandji Sosro Boesono, Wedana Bandjaran dan putra kedua almarhum Bupati Jepara yang berjasa, telah diangkat menjadi Bupati Ngawi. Sementara itu, Bupati Ngawi yang sekarang, Raden Mas Oetoyo, dipindahkan ke Jepara.
Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa rencana Pemerintah Hindia Belanda untuk menghapus Kabupaten (Regentschap) Jepara ternyata tidak jadi dilaksanakan. Sebaliknya, hak atau kedudukan keluarga almarhum Bupati Jepara yang terhormat untuk tetap memperoleh jabatan bupati diakui oleh pemerintah, sebagaimana dibuktikan dengan pengangkatan putra keduanya sebagai Bupati Ngawi.'
Keterangan Sejarah dari berita diatas adalah Berita ini memberikan informasi penting bahwa:
- R.M. Pandji Sosro Boesono, yang sebelumnya menjabat sebagai Wedana Bandjaran, diangkat menjadi Bupati Ngawi pada 3 Oktober.
- R.M. Oetoyo dipindahkan dari jabatan Bupati Ngawi menjadi Bupati Jepara.
- Pemerintah Hindia Belanda tidak jadi menghapus Kabupaten Jepara, sebagaimana pernah direncanakan.
- Pengangkatan putra kedua almarhum Bupati Jepara dipandang sebagai bentuk pengakuan pemerintah terhadap hak dan kehormatan keluarga bupati tersebut.
Koesoemo Oetoyo sebagai salah satu tokoh Pergerakan Nasional dan salah satu tokoh Boedi Oetomo yang melalui kedudukannya sebagai wakil ketua Volksraad secara resmi berani mengajukan berbagai gagasannya membela kaum pribumi, bahkan juga mendukung petisi Soetardjo.
Menurut Koesoemo Oetoyo berjuang melalui diplomasi seringkali membawa hasil yang lebih bermakna, padahal sejak kecil ia selalu diceritakan tentang kakek dan kakek buyutnya Yaitu K.R.M.A Soerokusumo dan Pangeran Balitar yang ikut mengangkat senjata membantu pangeran Diponegoro melawan Belanda.
R.A.Kartini Secara khusus menulis tentang Koesoemo Oetoyo dalam korespondensinya yang dibukukan di buku dengan judul "Habis Gelap Terbitlah Terang"
Surat Kabar Belanda Haagsche Courant, No. 15.381, 's-Gravenhage, 29 Maret 1933 yang terbit di Belanda menuliskan sebagai berikut :
BATAVIA 29 Maart. (Aneta).
Het Volksraadspresidium.
De heer Koesoemo Oetoyo waarnemend.
Na het aftreden van den tot vice-president van den Raad van Ned.-Indië benoemden voorzitter van den Volksraad, den heer dr. J. W. Meyer Ranneft, zal de heer Koesoemo Oetoyo voorloopig optreden als voorzitter van den Volksraad en de heer de Hoor, indien hij dan hersteld zal zijn, als leider van het college van gedelegeerden, tot de regeering den opvolger van dr. Meyer Ranneft zal hebben benoemd, eventueel met inachtneming van een, overigens niet door de wet erkende of voorgeschreven, aanbeveling van den Volksraad.
De Vaderlandsche Club, P.P.B.B., en nationalistische fracties zullen moeilijk tevreden en candidaten buiten den Volksraad stellen, aangezien daardoor de waarborg van onpartijdigheid wordt geacht
---
(De heer Koesoemo Oetoyo zit voor "Boedi Oetomo" in den Volksraad. Hij werd gekozen als lid van 17 Mei 1921 tot 11 September 1922 en daarna sedert 19 Mei 1927.
De heer Koesoemo Oetoyo werd geboren 13 Januari 1871 te Keboemen (Zuid-Kedoe); hij bezocht gedurende 2 jaren een particuliere dessaschool, daarna de Europeesche lagere school en de H.B.S. te Semarang, waarvan hij het eindexamen met gunstig gevolg aflegde. Hij trad, na eenige (onbezoldigde?) hulpschrijversjaren te zijn geweest, in Mei 1902 in 's Lands dienst, werd in 1903 benoemd tot regent van Ngawi, in 1905 van Japara en in November 1923 gepensionneerd.
Hij was lid der commissie voor de herziening der Staatsinrichting en der z.g. decentralisatie-commissie. Voorts is hij lid der commissie in het belang van het bevloeiingswezen op Java en Madoera, van de commissie voor de wettelijke herziening van de H.I. onderwijsorganisatie en van nog enkele andere commissies.)
"Hindia Timur
Batavia, 29 Maret (Aneta)
Pimpinan Volksraad
Tuan Koesoemo Oetoyo menjadi pelaksana tugas.
Setelah Ketua Volksraad, Dr. J.W. Meyer Ranneft, mengundurkan diri karena diangkat menjadi Wakil Ketua Raad van Nederlandsch-Indië (Dewan Hindia Belanda), maka Koesoemo Oetoyo untuk sementara akan menjalankan tugas sebagai Ketua Volksraad. Adapun De Hoor, apabila kesehatannya telah pulih, akan memimpin Dewan Delegasi sampai pemerintah mengangkat pengganti tetap Dr. Meyer Ranneft, dengan kemungkinan memperhatikan rekomendasi dari Volksraad, meskipun rekomendasi tersebut sebenarnya tidak diatur ataupun diwajibkan oleh undang-undang.
Kelompok Vaderlandsche Club, P.P.B.B., dan fraksi-fraksi nasionalis diperkirakan akan sulit mencapai kesepakatan apabila mengajukan calon dari luar Volksraad, karena dianggap dapat mengurangi jaminan sikap tidak memihak.
Koesoemo Oetoyo mewakili Boedi Oetomo di Volksraad. Ia terpilih sebagai anggota untuk masa jabatan 17 Mei 1921–11 September 1922, kemudian kembali menjadi anggota sejak 19 Mei 1927.
Koesoemo Oetoyo lahir pada 13 Januari 1871 di Keboemen (Kebumen, Karesidenan Kedu Selatan). Ia menempuh pendidikan selama dua tahun di sebuah sekolah desa swasta, kemudian melanjutkan ke Europeesche Lagere School (ELS) dan Hogere Burgerschool (HBS) di Semarang, yang berhasil diselesaikannya dengan baik.
Selain itu, ia pernah menjadi anggota Komisi Peninjauan Kembali Tata Negara, Komisi Desentralisasi, Komisi Pengairan di Jawa dan Madura, Komisi Peninjauan Peraturan Organisasi Pendidikan Hindia Belanda, serta beberapa komisi penting lainnya."
Dari sumber Surat Kabar Belanda Haagsche Courant, No. 15.381, 's-Gravenhage, 29 Maret 1933. Maka ada Biografi singkat ini merupakan ringkasan resmi mengenai riwayat hidup dan karier K.R.T. Koesoemo Oetoyo, yang dimuat untuk memperkenalkannya ketika ia ditunjuk sebagai pelaksana tugas Ketua Volksraad, beliau lahir di Kebumen dan pernah Sekolah di HBS Semarang.
Berdasarkan artikel koran tersebut diatas, dapat disimpulkan beberapa hal penting mengenai R.M. Koesoemo Oetoyo :
- Menjadi Ketua Volksraad sementara. Pada tahun artikel ini diterbitkan, Koesoemo Oetoyo ditunjuk sebagai pelaksana tugas Ketua Volksraad setelah Dr. J.W. Meyer Ranneft diangkat menjadi Wakil Ketua Raad van Nederlandsch-Indië.
- Tokoh penting Boedi Oetomo. Ia duduk di Volksraad sebagai wakil organisasi Boedi Oetomo, menunjukkan perannya dalam organisasi pergerakan kaum priyayi.
- Lahir di Kebumen. Artikel menyebutkan bahwa ia lahir pada 13 Januari 1871 di Keboemen (Kebumen, Karesidenan Kedu Selatan).
- Pendidikan Barat. Ia menempuh pendidikan di sekolah desa, kemudian ELS, dan lulus dari HBS Semarang, sebuah sekolah menengah bergengsi pada masa Hindia Belanda.
- Karier birokrasi yang menanjak. Setelah menjadi juru tulis pembantu, ia masuk dinas pemerintah pada Mei 1902, diangkat menjadi Bupati Ngawi (1903), kemudian Bupati Jepara (1905), dan pensiun pada November 1923.
- Berperan dalam berbagai komisi penting. Setelah pensiun sebagai bupati, ia tetap dipercaya menjadi anggota berbagai komisi pemerintahan, seperti Komisi Peninjauan Tata Negara, Komisi Desentralisasi, Komisi Pengairan Jawa dan Madura, serta komisi pendidikan.
- Dipandang sebagai pejabat senior yang berpengalaman. Penunjukannya sebagai Ketua Volksraad sementara menunjukkan bahwa pemerintah dan kalangan Volksraad menganggapnya memiliki pengalaman, Pendidikan, pengaruh, wibawa, dan kemampuan memimpin.
Secara keseluruhan, artikel Surat Kabar ini merupakan biografi resmi singkat yang menegaskan bahwa K.R.T. Koesoemo Oetoyo adalah seorang birokrat dan tokoh politik bumiputra terkemuka pada masa Hindia Belanda, dengan karier yang berkembang dari pegawai pemerintah, menjadi Bupati Ngawi, Bupati Jepara, anggota Volksraad, hingga dipercaya menjabat pelaksana tugas Ketua Volksraad. Bagi penelitian sejarah, artikel ini menjadi sumber primer yang memperkuat kronologi kehidupan dan karier Koesoemo Oetoyo.
Koesoemo Oetoyo sekolah di ELS (Europeesche Lagere School) Purworejo pada tahun 1878, ELS adalah sekolah khusus untuk orang Belanda dan hanya orang tertentu yang bisa masuk sekolah elit itu, dan tidak semua kota kabupaten memiliki sekolah ELS, karena sekolah ini di dirikan untuk melayani komonitas Belanda dan jarang anak pribumi yang bisa masuk sekolah elit itu, masa kecil Koesoema Oetoyo ada di kutoarjo juga di daerah Bedog Bagelen karena ayahnya menjadi assisten wedono Bedog daerah purworejo.
Koesoemo Oetoyo lulus dari ELS Purworejo(Sekarang gedung berubah total menjadi SMP N 2 Purworejo) pada tahun 1885, tepat sesuai jadwal waktu 7 tahun (1878 - 1885)
Setelah sekolah di ELS Purworejo beliau melanjutkan studinya di HBS Semarang di tahun 1885 bersamaan dengan ayahnya R.M Soetodikoesoemo mendapatkan jabatan baru sebagai Patih Pekalongan, akhirnya mereka pindah ke Pekalongan.
Salah satu putra Koesoemo Oetoyo, yaitu R.A.A. Soemitro Koesoemo Oetoyo, juga pernah menjabat sebagai Bupati Jepara (dari tahun. 1942 s.d. 1950) pada masa pendudukan Jepang sampai dengan awal masa kemerdekaan Indonesia.
R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo dalam kiprahnya sebagai anggota Volksraad antara lain dikenal dengan “Mosi Koesoemo Oetoyo” yang dibacakan di hadapan persidangan College van Gedelegeerden Volksraad. Dalam mosi yang berjudul “Tidak Aman Hati di Antara Penduduk Negeri” itu, Koesoemo Oetoyo meminta penjelasan tentang tindakan Pemerintah Hindia Belanda menangkap sejumlah pimpinan pergerakan bangsa Indonesia. Banyak kalangan kemudian menyebut mosi ini sebagai “Mosi Keresahan” karena dalam pidatonya Koesoemo Oetoyo beberapa kali menggunakan ungkapan ‘perasaan hati yang tidak aman’. Keresahan Koesoemo Oetoyo itu kemudian diteruskan oleh MH Thamrin melalui persidangan-persidangan di Volksraad, khususnya tentang proses pemahaman dan cara-cara penggeledahan yang tidak tertib. Hal ini mendapat perhatian dari seluruh golongan masyarakat agar HAM dan harkat kemerdekaan warga negara lebih dihormati.
Surat Kabar Belanda Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië. Semarang, No. 142, Tahun XI, 5 November 1934. Menuliskan sebagai berikut :
NAAR DEN VOLKSRAAD
Inheemsche Candidaten op Java en Madoera
Bij het Volksraadsstembureau te Batavia zijn ingediend van de Kieskringen I, II en III, resp. West-, Midden- en Oost-Java niet minder dan 137 candidatenlijsten!
Uit dit cijfer moge reeds duidelijk zijn, dat wij bij het taxeeren van de vermoedelijke candidatenlijsten zeer aan den lagen kant waren, toen wij in een vorig artikel het aantal schatten op 260, d.w.z. voor geheel Indië.
Zooals men weet telt ons „politiek" Indië in totaal niet minder dan 130 locale raden, d.w.z. gemeenteraden, regentschapsraden, en andere instellingen, zooals Minahasaraad, Raad van Ogan Ilir, enz. enz.
De drie hierboven genoemde Inheemsche kringen hebben wel hun beste beentje voor gezet en candidaten met klinkende namen en belangrijke posities naar voren gebracht.
Aan de hand der hier voor ons liggende officieele candidatenlijsten blijkt ook, dat, geheel in overeenstemming met onze beschouwingen, verschillende lijsten opgevuld werden met namen van candidaten van rechts en links dooreen gemengd.
Voor kieskring I, West-Java, vindt men een 14-tal candidaten, die nummer 1 op de lijsten voorkomen en die dus een kans maken voor den Volksraad, daar bij de stemming alleen die namen worden genoteerd, die bovenaan prijken.
...genoteerd, die bovenaan prijken.
Deze candidaten zijn voor West-Java de volgende: Wiraatmadja (P.P.B.B.), M. H. Thamrin, Soeria Nata Atmadja (regent van Serang), de Regent van Batavia, Mr. Soeripto, Arifin [landrechter Mr. Cornelis], R.A.A. Wiranata Koesoema Soerialamihardjo, Oto Iskandar, Hasan Soemadipradja (regent van Bandoeng), Wirata Nataningrat (regent van Tasikmalaja) en R.A.A.M. Achmad (regent van Koeningan).
Uit deze lijsten blijkt, dat Iskander, Wiranata Koesoema en Thamrin aan de spits staan. Indien dus op deze lijsten voldoende stemmen vallen, dan hebben zij alle drie kans voor de bezetting van het aantal zetels van West-Java (volgens de bepalingen heeft kieskring I recht op 3 plaatsen).
Candidaten in Midden-Java, die boven de lijst staan, zijn de volgende: R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo, Kasimo, Hermen Kartawisastra, Wiranata Koesoema, Moesa Al Mahfoeld, Gandasoebrata (oud-Regent van Banjoemas), R.A.A. Iskander (regent van Karanganjar), Mr. Soeripto, R.A.A. Danosoegondo (regent van Magelang) en de regent van Temanggoeng.
Zooals wij ook reeds meldden, staat de naam van den heer Koesoemo Oetoyo op vele lijsten, evenals die van Wiranata Koesoema en Hermen. Deze drie maken een goede kans.
De candidaten, die voor Oost-Java als nummer 1 staan genoteerd, zijn: Mr. Latuharhary, M. Soetardjo, Soeroso, R.A.A. Tjakraningrat (regent van Bangkalan), Tabrani, Wiranata Koesoema, Prawoto, Wirjopranoto, Soepardjo, Poedjo (regent van Probolinggo), ...
De candidaten, die voor Oost-Java als nummer 1 staan genoteerd, zijn: Mr. Latuharhary, M. Soetardjo, Soeroso, R.A.A. Tjakraningrat (regent van Bangkalan), Tabrani, Wiranata Koesoema, Prawoto, Wirjopranoto, Soepardjo, Poedjo (regent van Probolinggo), R.A.A. Sosroboesono (regent van Ngawi).
In Oost-Java maakt, althans volgens de ingediende lijsten, de nationalist Soeroso een goede kans, evenals M. Soetardjo, aldus het „Nieuws”.
Berikut terjemahan lengkap artikel tersebut ke dalam bahasa Indonesia.
Menuju Volksraad
Calon-Calon Pribumi di Jawa dan Madura
Di kantor pemungutan suara Volksraad di Batavia telah diajukan tidak kurang dari 137 daftar calon dari daerah pemilihan I, II, dan III, masing-masing untuk Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Dari jumlah tersebut sudah dapat dipahami bahwa perkiraan kami mengenai jumlah daftar calon dalam artikel sebelumnya ternyata terlalu rendah, ketika kami memperkirakan jumlahnya sekitar 260 daftar untuk seluruh Hindia Belanda.
Sebagaimana diketahui, "Hindia Belanda yang berpolitik" memiliki tidak kurang dari 130 dewan lokal, yaitu dewan kota (gemeenteraad), dewan kabupaten (regentschapsraad), serta berbagai lembaga lain seperti Dewan Minahasa, Dewan Ogan Ilir, dan lain-lain.
Ketiga daerah pemilihan pribumi tersebut benar-benar telah mengajukan calon-calon terbaik mereka, yakni tokoh-tokoh yang memiliki nama besar dan kedudukan penting.
Berdasarkan daftar calon resmi yang berada di hadapan kami, tampak pula bahwa, sebagaimana telah kami perkirakan sebelumnya, berbagai daftar calon diisi dengan tokoh-tokoh dari berbagai kelompok politik, baik dari kalangan kanan maupun kiri.
Untuk Daerah Pemilihan I (Jawa Barat) terdapat sekitar 14 calon yang menempati urutan pertama dalam daftar. Dengan demikian mereka mempunyai peluang untuk terpilih menjadi anggota Volksraad, karena dalam pemungutan suara hanya nama yang berada di urutan pertama pada setiap daftar yang diperhitungkan.
Calon-calon tersebut untuk Jawa Barat adalah: Wiraatmadja (P.P.B.B.), M.H. Thamrin, Soeria Nata Atmadja (Bupati Serang), Bupati Batavia, Mr. Soeripto, Arifin (Landrechter/Pengadilan Negeri Cornelis), R.A.A. Wiranata Koesoema Soerialamihardjo, Oto Iskandar, Hasan Soemadipradja (Bupati Bandung), Wirata Nataningrat (Bupati Tasikmalaya), dan R.A.A.M. Achmad (Bupati Kuningan).
Dari daftar-daftar tersebut tampak bahwa Iskander, Wiranata Koesoema, dan Thamrin berada pada posisi teratas. Oleh karena itu, apabila daftar-daftar tersebut memperoleh suara yang cukup, maka ketiganya memiliki peluang besar untuk mengisi tiga kursi Volksraad yang menjadi jatah Jawa Barat.
Untuk Jawa Tengah, calon-calon yang berada di urutan pertama daftar adalah R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo, Kasimo, Hermen Kartawisastra, Wiranata Koesoema, Moesa Al Mahfoeld, Gandasoebrata (mantan Bupati Banyumas), R.A.A. Iskandar (Bupati Karanganyar), Mr. Soeripto, R.A.A. Danosoegondo (Bupati Magelang), dan Bupati Temanggung.
Sebagaimana telah kami beritakan sebelumnya, nama Koesoemo Oetoyo tercantum dalam banyak daftar calon, demikian pula Wiranata Koesoema dan Hermen. Ketiga tokoh tersebut mempunyai peluang yang besar untuk terpilih.
Untuk Jawa Timur, calon-calon yang menempati urutan pertama dalam daftar adalah: Mr. Latuharhary, M. Soetardjo, Soeroso, R.A.A. Tjakraningrat (Bupati Bangkalan), Tabrani, Wiranata Koesoema, Prawoto, Wirjopranoto, Soepardjo, Poedjo (Bupati Probolinggo), dan R.A.A. Sosroboesono (Bupati Ngawi).
Di Jawa Timur, setidaknya menurut daftar calon yang telah diajukan, tokoh nasionalis Soeroso memiliki peluang yang baik untuk terpilih, demikian pula M. Soetardjo, sebagaimana diberitakan oleh surat kabar Nieuws.
---
Kesimpulan dari surat Kabar Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië, No. 142, Tahun XI, Semarang, 5 November 1934. Yang Edisi 5 November 1934 itu penting karena memuat artikel mengenai pemilihan anggota Volksraad (Naar den Volksraad). Dalam artikel tersebut, R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo disebut sebagai salah satu calon utama dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah, bahkan dijelaskan bahwa namanya tercantum dalam banyak daftar calon dan dinilai memiliki peluang besar untuk terpilih. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 1934 Koesoemo Oetoyo masih memiliki pengaruh politik yang kuat dan dikenal luas di kalangan pemerintahan maupun masyarakat Hindia Belanda. ini menunjukkan bahwa R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo merupakan salah satu calon terkuat dalam pemilihan anggota Volksraad untuk Daerah Pemilihan Jawa Tengah. Bahkan surat kabar tersebut secara khusus menyebut bahwa nama Koesoemo Oetoyo muncul dalam banyak daftar calon, sehingga ia bersama Wiranata Koesoema dan Hermen Kartawisastra dinilai memiliki peluang besar untuk terpilih. Penyebutan khusus ini menunjukkan bahwa Koesoemo Oetoyo merupakan tokoh bumiputra yang dikenal luas dan memiliki pengaruh politik yang signifikan pada masanya.
R.M.A.A Koesoemo Oetoyo memang diketahui berteman baik dengan MH Thamrin. Pertemanan mereka tidak hanya sebatas ketika berada dalam Volksraad, namun mereka juga bersama-sama mengelola Fonds Nasional, sebuah badan yang menerbitkan buku-buku yang berisikan cerita-cerita perjalanan mengejar cita-cita suci, mengejar Indonesia merdeka. Hasil penjualan buku-buku tersebut digunakan untuk membantu kegiatan-kegiatan pergerakan nasional.
Bersama MH Thamrin pula Koesoemo Oetoyo mengadakan peninjauan ke Sumatera Timur dalam rangka melakukan penyelidikan terhadap nasib buruh perkebunan yang sangat menderita akibat adanya poenale sanctie. Poenale sanctie adalah peraturan yang menetapkan bahwa pekerja yang melarikan diri akan dicari dan ditangkap polisi kemudian dikembalikan kepada mandor/pengawasnya. Penyelidikan mereka tersebut pada akhirnya membawa hasil dengan dihapuskannya lembaga poenale sanctie.
Pada usia senjanya, di awal tahun 1950-an, Koesoemo Oetoyo masih aktif sebagai anggota Badan Sensor Film. Pada masa itu ia bekerja sama dengan Maria Ulfah Santoso, seorang aktivis pergerakan nasional dari generasi sesudahnya. Kepercayaan untuk menjadi anggota Badan Sensor Film tersebut antara lain berhubungan dengan kesukaan Koesoemo Oetoyo menonton film, di samping bahwa ia juga dikenal sebagai seorang budayawan dan memegang teguh etiket dan etika sosial.
R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo wafat pada tanggal 26 Mei 1953. Beberapa bulan sebelum wafat ia masih sempat memperingati ulang tahunnya yang ke-82 pada tanggal 13 Januari 1953 bersama para sahabat, di antaranya Ki Hajar Dewantara.
Koesoemo Oetoyo dimakamkan di Taman Makam Pekuncen, Yogyakarta. Biografinya tertuang dalam buku "Perjalanan Panjang Anak Bumi" yang diprakarsai oleh Ramadhan KH.
Saat ini nama R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo diabadikan sebagai nama sebuah jalan (Jln. Kusumo Utoyo) di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Pangeran Diponegoro menjadi epos di kalangan masyarakat Jawa ia adalah simbol jiwa kepahlawanan, keperkasaan, penjaga kebenaran, serta menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsanya. Sebagai pemimpin Pangeran Diponegoro mempunyai kepribadian dan karakter yang kuat serta legimitasi yang tinggi karena mendapatkan amanah dari rakyatnya, barang siapa ada di seberang sang pangeran Diponegoro, ialah sang Angkara murka. Nilai-nilai tersebut berkembang dan dipertahankan masyarakat Jawa, termasuk Trah Bupati Kutoarjo yang Ke-2 R.M.T. Soerokusumo. Koesoemo Oetoyo tumbuh dalam epos Pangeran Diponegoro, ia bangga menjadi cucu Soerokusumo yang ikut mendampingi Pangeran Diponegoro berperang membela rakyatnya, Kesadaran itu membentuk karakter, mental, jiwa dan kepribadian Koesoemo Oetoyo.
Seperti umumnya Trah pengikut pangeran Diponegoro, Koesoemo Oetoyo merasa menerima wasiat dan tali estafet juga informasi DNA agar menjadikan keluarganya sebagai generasi penerus dan pewaris sejarah semangat perjuangan pangeran Diponegoro untuk membela Kawulo alit dan kaum lemah juga mengangkat harkat dan martabat bangsanya.
Banyaknya pemberitaan mengenai R.M. Koesoemo Oetoyo di berbagai surat kabar Hindia Belanda maupun Belanda menunjukkan bahwa ia merupakan salah satu tokoh bumiputra yang memiliki kedudukan dan pengaruh penting dalam birokrasi serta kehidupan politik Hindia Belanda pada awal abad ke-20
By. N.Kumolo Adi
Sumber Referensi :
- Regeering Almanak Voor Nederlandsch - Indie Tahun 1903, Halaman 208 yang memuat Susunan Pejabat Afdeling Ngawi dengan Regent Raden Mas Toemenggoeng Oetoyo dan dilantik 23 April 1902
- Koloniaal Verslag 1902 (Laporan Tahunan Pemerintah Hindia Belanda)1 April 1902 tentang "Bupati Ngawi yang mengundurkan diri, yang juga tidak mempunyai putra yang layak untuk menggantikannya, digantikan oleh Raden Mas Oetojo, yang sebelumnya menjabat sebagai penerjemah bahasa Jawa di Surakarta. Pengangkatan tersebut mulai berlaku pada 1 April 1902
- Koloniaal Weekblad, No. 11, Donderdag (Kamis), 20 Maret 1902, hlm. 2. Tentang Raden Mas Oetojo, yang sebelumnya menjabat penerjemah bahasa Jawa di Surakarta, kini oleh Pemerintah ditunjuk untuk menjabat sebagai Bupati (Regent) Ngawi dengan gelar Tumenggung
- Koloniaal Verslag over het jaar 1902 (Laporan Tahunan Pemerintah Hindia Belanda Tahun 1902), diterbitkan di Den Haag, bagian Binnenlandsch Bestuur (Pemerintahan Dalam Negeri). Tentang Bupati Ngawi di ganti oleh Raden Koesomo Oetoyo
- Surat Kabar De Indiër (Semarang), No. 282, Tahun II, 2 Desember 1918.
- Surat Kabar De Locomotief: Samarangsch Handels- en Advertentie-blad. Semarang: De Groot, Kolff & Co., 24 April 1902, No. 94, Jaargang 51
- Surat Kabar De Standard. Amsterdam: H. de Hoogh EN Co., No. 10.325, Tahun ke-34, 11 November 1905. adalah surat kabar nasional Belanda yang berpengaruh dan diterbitkan di Amsterdam.
- Surat kabar : Haagsche Courant. 's-Gravenhage: A. Sijthoff Jr., No. 15.381, 29 Maret 1933. merupakan surat kabar yang diterbitkan di 's-Gravenhage (Den Haag), pusat pemerintahan Belanda. Meskipun beredar terutama di wilayah Den Haag, surat kabar ini juga sering memuat berita mengenai Hindia Belanda.
- Surat Kabar Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië. Semarang, No. 142, Tahun XI, 5 November 1934.
- Sejarah Bupati Ngawi
- Mosi Koesoemo Oetoyo
- Poenale sanctie
- Buku biografi "Perjalanan Panjang Anak Bumi"




















Tidak ada komentar:
Posting Komentar