R.M.A. Soerokusumo: Bupati Kutoarjo Kedua Era Kolonial Belanda (1858–1860)
Ndandung Kumolo Adi
Sejatininghidup.blogspot.com
Abstrak :
Artikel ini membahas sejarah Raden Mas Adipati (R.M.A.) Soerokusumo, Bupati Kutoarjo kedua pada masa pemerintahan kolonial Belanda yang menjabat sekitar tahun 1858–1860. Sebelum diangkat sebagai bupati, Soerokusumo merupakan putra Pangeran Balitar, seorang bangsawan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang turut berjuang bersama Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830). Tradisi keluarga, sumber-sumber sejarah, serta berbagai literatur menyebutkan bahwa Soerokusumo juga terlibat dalam perjuangan tersebut sejak usia muda dan kemudian memperoleh kepercayaan pemerintah kolonial untuk memimpin Kabupaten Kutoarjo sebagai bagian dari kebijakan stabilisasi keamanan pascaperang.
Artikel ini mengkaji latar belakang kehidupan, silsilah keluarga, kiprah perjuangan, pengangkatan sebagai Bupati Kutoarjo, serta kontribusinya dalam pembangunan pusat pemerintahan baru di Senepo yang kemudian berkembang menjadi Kota Kutoarjo. Pembahasan juga menyoroti kondisi sosial-politik Bagelen setelah berakhirnya Perang Diponegoro, termasuk kebijakan kolonial dalam merangkul sejumlah bekas pengikut Diponegoro guna meredam berbagai bentuk perlawanan dan gangguan keamanan yang masih berlangsung di wilayah tersebut.
Kajian disusun menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber-sumber yang digunakan meliputi arsip kolonial Belanda, Almanak van Nederlandsch-Indië tahun 1859 dan 1865, karya-karya ilmiah, buku sejarah, data silsilah keluarga, wawancara dengan ahli waris, serta observasi terhadap situs-situs sejarah yang berkaitan dengan R.M.A. Soerokusumo dan perkembangan Kabupaten Kutoarjo.
Melalui kajian ini diharapkan masyarakat, akademisi, mahasiswa, peneliti, pemerintah, serta pemerhati sejarah memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran R.M.A. Soerokusumo dalam perjalanan sejarah Kutoarjo, Bagelen, dan Purworejo pada masa transisi setelah Perang Diponegoro. Artikel ini diharapkan dapat memperkaya historiografi sejarah lokal, menjadi referensi ilmiah mengenai pemerintahan kolonial di wilayah Bagelen, serta mendorong pelestarian memori kolektif dan warisan sejarah daerah berdasarkan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tapi bila dihitung dari kekalahan Pangeran Diponegoro di bulan Maret 1830 dan kabupaten semawung/Kutoarjo menjadi kekuasaan full pemerintahan kolonial Belanda, R.M.T. Soeroekoesomoe menggantikan mertuanya K.R.A.A. "Noto Negoro" Sawunggaling II.
R.M. Soerokusumo menjabat Regent/Bupati Koetoardjo sejak tahun 1858 - 1860 dengan Gelar R.M.T.A. Soerokusumo.
Foto. Komplek makam keluarga Surokusuman di makam Ageng Loano.
Yang sekarang terletak di desa Loano, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
R.M. Soerokusumo menjabat Regent/Bupati Koetoardjo sejak tahun 1858 - 1860 dengan Gelar R.M.T.A. Soerokusumo.
Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor 1858
Menuliskan Pejabat Bupati Kutoarjo adalah Raden Tumenggung Ario Soerokoesomo
Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor 1859
Menuliskan Pejabat Bupati Kutoarjo adalah Raden Tumenggung Ario Soerokoesomo
Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor 1860
Menuliskan Pejabat Bupati Kutoarjo adalah Raden Tumenggung Ario Soerokoesomo
Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor Tahun 1858, Tahun 1859 dan Tahun 1860 merupakan sumber primer resmi pemerintah Hindia Belanda. Edisi ini termasuk seri Almanak en Naamregister yang diterbitkan untuk tahun 1827–1864, sebelum berganti nama menjadi Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië mulai tahun 1865.
Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor tahun 1858 menuliskan :
Personeel in de Binnenlanden.
Afdeeling Koetoardjo.
Radhen Toemenggoong Ario Soero Koesoemo, regent.
Radhen Mertoredjo, djaksa.
Hadjie Moehamat Soehoedo, panghoeloe.
Terjemahan
Pegawai Pemerintahan Bumiputra di Afdeling Kutoarjo
Raden Tumenggung Ario Soerokoesoemo — Bupati (Regent).
Raden Mertoredjo — Jaksa.
Haji Muhammad Suhudo — Penghulu.
Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor tahun 1859 menuliskan :
Personeel in de Binnenlanden.
Afdeeling Koetoardjo.
Radhen Toemenggoong Ario Soero Koesoemo, regent.
Radhen Mertoredjo, djaksa.
Hadji Moehamat Soehoedo, panghoeloe.
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia :
Pegawai Pemerintahan Bumiputra di Afdeling Kutoarjo
Afdeling Kutoarjo
Raden Tumenggung Ario Soerokoesoemo, Bupati (Regent).
Raden Mertoredjo, Jaksa Kabupaten.
Haji Muhammad Suhudo, Penghulu (kepala urusan agama Islam).
Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor tahun 1860 menuliskan :
Personeel in de Binnenlanden.
Afdeeling Koetoardjo.
Radhen Toemenggoong Ario Soero Koesoemo, regent.
Radhen Mertoredjo, djaksa.
Hadjie Moehamat Soehoedo, panghoeloe.
Terjemahan
Pegawai Pemerintahan Bumiputra di Afdeling Kutoarjo
Raden Tumenggung Ario Soerokoesoemo — Bupati (Regent).
Raden Mertoredjo — Jaksa.
Haji Muhammad Suhudo — Penghulu.
Data ini menunjukkan bahwa pada tahun 1858, 1859, dan 1860, jabatan Bupati Kutoarjo telah dipegang oleh Raden Tumenggung Ario Soerokoesoemo. Ini menjadi bukti primer bahwa paling lambat pada tahun tersebut beliau sudah menjabat sebagai Bupati Kutoarjo.
Untuk menentukan kapan tepatnya beliau mulai menjabat, dibandingkan dengan Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië 1857 tidak tercantum nama Raden Tumenggung Ario Soerokoesomo alias kosong belum ada Pejabat yang menjadi Bupati Kutoarjo setelah wafatnya Bupati Kutoarjo Raden Tumenggung Sawunggaling di tahun 1851. (Sumber : Koran Nederlandsche Staats-Courant, No. 275, Tanggal 20 November 1851, hlm. 3, rubrik "Batavia, 16 September": "Op den 3den September 1851 is overleden de regent van Koeto-Ardjo, Radhen Toemenggoeng Sawoong Galing." Tentang Wafatnya Bupati Kutoarjo Raden Tumenggung Sawunggaling di tahun 1851).
Sumber Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië Memperlihatkan bahwa Pejabat Bupati Kutoarjo kosong dari Tahun 1852 - 1857 atau selama 6 tahun.
- Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor 1858 Pejabat Bupati Kutoarjo tertulis Raden Tumenggung Ario Soerokoesomo.
- Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor 1859 masih tertulis Raden Tumenggung Ario Soerokoesomo.
- Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië Voor 1860 masih Tertulis Pejabat Bupati Kutoarjo dengan Nama Raden Tumenggung Ario Soerokoesomo
- Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië Voor 1861 Pejabat Bupati Kutoarjo sudah tidak tertulis pejabat Bupati Raden Tumenggung Ario Soerokosomo tapi tertulis Raden Tumenggung Pringgoatdmodjo.
Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië Voor 1861 Pejabat Bupati Kutoarjo tertulis dengan Nama Raden Tumenggung Pringgo Atdmodjo
Perbandingan antar edisi ini akan membantu mempersempit kronologi pergantian jabatan secara lebih akurat, yaitu Raden Tumenggung Ario Soerokoesomo menjabat Bupati Kutoarjo sekitar Tiga tahunan
Berdasarkan penelitian selama ini mengenai Kutoarjo, sumber ini juga memperkuat bahwa R.T. Ario Soerokoesoemo merupakan salah satu Bupati Kutoarjo pada pertengahan abad ke-19 dan namanya tercatat secara resmi dalam publikasi pemerintah Hindia Belanda.
Menurut cerita rakyat Karena situasi dan kondisi kabupaten semawung dan sekitarnya masih banyak sisa-sisa pengikut pangeran Diponegoro yang melakukan "Kraman" yaitu kejahatan, perampokan, dan pembegalan kepada Belanda dan antek-anteknya dengan tujuan untuk mengganggu stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan maka Belanda menganggap perlu untuk merangkul mantan pejuang perang Jawa/ Diponegoro, pengikut setia Pangeran Diponegoro untuk meredam pergolakan, salah satunya Dengan mengangkat R.M. Soerokusumo bin Pangeran Balitar I menjadi Bupati/Regent afdeling Koetoardjo, yang dulu Koetoardjo menjadi bagian wilayah dari kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
R.M. Soerokoesomo sendiri adalah menantu Bupati Kutoarjo yang Pertama yaitu K.R.A Nottonegoro Sawunggaling kaping II.
pasca perang Diponegoro masih ada perlawanan-perlawanan kecil dari para pengikut pangeran Diponegoro juga ada tradisi "Kraman" yaitu perampokan, kejahatan, dan pembegalan terhadap Belanda dan antek-anteknya, tujuan Kraman adalah untuk mengganggu stabilitas ekonomi dan keamanan Belanda.
pasca perang Diponegoro masih ada perlawanan-perlawanan kecil dari para pengikut pangeran Diponegoro juga ada tradisi "Kraman" yaitu perampokan, kejahatan, dan pembegalan terhadap Belanda dan antek-anteknya, tujuan Kraman adalah untuk mengganggu stabilitas ekonomi dan keamanan Belanda.
Waktu peristiwa Banjir Besar Yang Melanda Jawa Tengah Tahun 1861 serta Kabupaten Kutoarjo di karesidenan Bagelen dilanda paling parah di era Bupati Bupati Kutoarjo ketiga yaitu R.M.T. Pringgo Atdmodjo yang menjabat dari tahun 1860 - 1870 Salah satu kebijakan kolonial yang paling penting setelah bencana adalah pemindahan ibu kota Kabupaten Kutoarjo ke lokasi yang baru (Dari Semawung ke Senepo). Keputusan ini diambil karena kerusakan parah yang dialami Sungai Jali dan sekaligus dijadikan sebagai bentuk kompensasi melalui pemberian pekerjaan berupah kepada masyarakat (Putte, 1864).
dengan luas tanah 8 hektar ditambah tanah wakaf dari seorang ulama dibangunlah masjid Al Izhar, alun-alun, pendopo kabupaten dan rumah Bupati, pendopo Kepatihan dan rumah Patih.
Ayah R.M. Soerokusumo yang bernama Bendoro Pangeran Hario Balitar I juga adalah pengikut dan Pejuang Perang Diponegoro.
Ayah R.M. Soerokusumo yang bernama Bendoro Pangeran Hario Balitar I juga adalah pengikut dan Pejuang Perang Diponegoro.
Foto. Makam Istri Pangeran Balitar di Makam Ageng Loano Surokusuman
Pada masa awal perang Diponegoro atau perang Jawa tahun 1825 Pangeran Balitar, Pangeran Adiwonoto surjodiputro, kyai mojo, dan pangeran surenglogo mereka membangun kekuatan di selarong sebelah barat Yogyakarta. Dalam waktu singkat terbentuk tiga batalion militer dengan seragam lengkap, pasukan ini dipimpin Ali Basyah Sentot parwirodirjo yang tidak lain kemenakan HB II.
Dari Selarong inilah telah direncanakan penyerbuan ke Yogyakarta. Serangan pun dilancarkan, pasukan dari Selarong ini terdiri dari 3 batalion.
Batalion pertama dipimpin oleh pangeran abubakar bertugas masuk dari Jogja melalui timur Jogja pasukan pangeran abubakar berhasil menguasai Pakualaman dan mengobrak-abrik perkampungan cina.
Pangeran Adinegoro yang memimpin pasukan batalion kedua memasuki kota Yogyakarta dari utara dan mengusai ruas jalan menuju Magelang.
Batalion ketiga dipimpin oleh Pangeran Balitar yang menyerbu dari selatan Yogyakarta sekaligus menerobos kraton Jogja.
Sayang kemenangan itu tidak berlangsung lama, dibawah pimpinan Jenderal De kock pasukan Belanda dengan pasukan kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berhasil melakukan serangan balik pada 24 September 1825 . Pangeran abubakar, Pangeran Balitar I, pangeran Joyokusumo, dan pangeran hadisuryo tertangkap, namun dikemudian hari mereka mendapatkan pengampunan oleh Jenderal De kock (djamhari, 204: 44, 49, 54).
Pangeran Diponegoro membawa pasukan ke selarong dan membangun kekuatan lagi yg didukung oleh masyarakat luas. Ketika pangeran Diponegoro membentuk pasukan di selarong. R.M. Soerokusumo bin Pangeran Balitar yang saat itu berusia 18 tahun dipercaya menjadi wakil komandan batalyon, RM Soerokusumo terlibat dalam berbagai pertempuran hingga perang jawa berakhir tahun 1830.
Seusai perang Diponegoro, Pangeran Balitar I dan putranya R.M. Soerokusumo memperoleh pengampunan dari Belanda, mereka di izinkan kembali ke Jogja dengan segala hak kebangsawanan nya, namun mereka tidak berkeinginan untuk kembali ke lingkungan Kraton, keputusan itu sebagai sikap protes karena kehidupan kraton tenggelam dalam cengkeraman juga kontrol belanda.
Pangeran Diponegoro menjadi epos di kalangan masyarakat Jawa, beliaulah simbol kepahlawanan, keperkasaan, penjaga kebenaran, serta menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa.
Sebagai pemimpin, Pangeran Diponegoro dianggap memiliki kepribadian yang kuat serta legimitasi yang tinggi karena mendapatkan daulat dan amanah dari masyarakat jawa. Barang siapa ada diseberang Pangeran, ialah sang Angkara murka penghalang cita-cita luhur dan mulia bangsa nilai-nilai tersebut dipertahankan oleh kalangan masyarakat Jawa juga Trah Balitaran dan Trah Soerokusumo sampai sekarang.
Dari Selarong inilah telah direncanakan penyerbuan ke Yogyakarta. Serangan pun dilancarkan, pasukan dari Selarong ini terdiri dari 3 batalion.
Batalion pertama dipimpin oleh pangeran abubakar bertugas masuk dari Jogja melalui timur Jogja pasukan pangeran abubakar berhasil menguasai Pakualaman dan mengobrak-abrik perkampungan cina.
Pangeran Adinegoro yang memimpin pasukan batalion kedua memasuki kota Yogyakarta dari utara dan mengusai ruas jalan menuju Magelang.
Batalion ketiga dipimpin oleh Pangeran Balitar yang menyerbu dari selatan Yogyakarta sekaligus menerobos kraton Jogja.
Sayang kemenangan itu tidak berlangsung lama, dibawah pimpinan Jenderal De kock pasukan Belanda dengan pasukan kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berhasil melakukan serangan balik pada 24 September 1825 . Pangeran abubakar, Pangeran Balitar I, pangeran Joyokusumo, dan pangeran hadisuryo tertangkap, namun dikemudian hari mereka mendapatkan pengampunan oleh Jenderal De kock (djamhari, 204: 44, 49, 54).
Pangeran Diponegoro membawa pasukan ke selarong dan membangun kekuatan lagi yg didukung oleh masyarakat luas. Ketika pangeran Diponegoro membentuk pasukan di selarong. R.M. Soerokusumo bin Pangeran Balitar yang saat itu berusia 18 tahun dipercaya menjadi wakil komandan batalyon, RM Soerokusumo terlibat dalam berbagai pertempuran hingga perang jawa berakhir tahun 1830.
Seusai perang Diponegoro, Pangeran Balitar I dan putranya R.M. Soerokusumo memperoleh pengampunan dari Belanda, mereka di izinkan kembali ke Jogja dengan segala hak kebangsawanan nya, namun mereka tidak berkeinginan untuk kembali ke lingkungan Kraton, keputusan itu sebagai sikap protes karena kehidupan kraton tenggelam dalam cengkeraman juga kontrol belanda.
Pangeran Diponegoro menjadi epos di kalangan masyarakat Jawa, beliaulah simbol kepahlawanan, keperkasaan, penjaga kebenaran, serta menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa.
Sebagai pemimpin, Pangeran Diponegoro dianggap memiliki kepribadian yang kuat serta legimitasi yang tinggi karena mendapatkan daulat dan amanah dari masyarakat jawa. Barang siapa ada diseberang Pangeran, ialah sang Angkara murka penghalang cita-cita luhur dan mulia bangsa nilai-nilai tersebut dipertahankan oleh kalangan masyarakat Jawa juga Trah Balitaran dan Trah Soerokusumo sampai sekarang.
Foto. Makam R.M.T. Soerokusumo bin Pangeran Balitar I.
K.R.A.A Soerokusumo adalah Bupati Kutoarjo yang Ke-2.
Setelah K.R.M.T. Soerokusumo Bupati Koetoardjo tidak diteruskan oleh keturunan Soerokusumo tapi Belanda mengganti dengan kerabat dekat Kraton Yogyakarta lainnya yang bernama K.R.M.T. Pringgoatdmojo.
Makam R.M.T. Soerokusumo bersama ibunya istri dari Pangeran Balitar I ada di wilayah Kasunanan Surakarta, tepatnya di desa Loano. Karena Pangeran Balitar bin HB I mendapatkan Lemah Lungguh untuk Pangeran Yogyakarta di Loano.
Makam R.M.T. Soerokusumo bersama ibunya istri dari Pangeran Balitar I ada di wilayah Kasunanan Surakarta, tepatnya di desa Loano. Karena Pangeran Balitar bin HB I mendapatkan Lemah Lungguh untuk Pangeran Yogyakarta di Loano.
R.M.T. Soerokusumo banyak menurunkan keturunan-keturunan yang mewarnai blantika Perjuangan Nasional, Kemerdekaan RI, dan perpolitikan Nasional sebut saja Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo, Jenderal unggul, Suparjo rustam, Rusmin Nuryadin dan sebagainya.
Almanak Nederlandsch Indie Tahun 1865, yang disitu tertulis Bupati Kutoarjo R.M.T. PringgoAdmodjo dilantik menjadi Bupati Kutoarjo 21 Juni 1860. yang bisa ditarik kesimpulan R.M.A. Soeroekoseomo menjabat bupati kutoarjo berakhir di tahun 1860 dan digantikan oleh R.M.T. Pringgo Admodjo
Sumber Koran Het Soerabaiasch Handelsblad
Verschijnt dagelijks, zon- en feestdagen uitgezonderd
(Terbit setiap hari, kecuali hari Minggu dan hari raya)
32ste Jaargang (Tahun ke-32)
Donderdag, 20 November 1884
No. 269
Sumber Koran : Het Soerabaiasch Handelsblad, Tahun ke-32, No. 269, Kamis, 20 November 1884, artikel "Het aanstellen van voorname Inlandsche hoofden" ("Pengangkatan Para Kepala Bumiputra Terkemuka").
Menyebutkan Nama Bupati Kutoarjo yaitu Raden Toemenggoeng Ario Soerokoesomo dan Raden Toemenggoeng Sawunggaling
Isinya sebagai berikut :
Het aanstellen van voorname Inlandsche hoofden
De maleische bladen hebben de eigenaardigheid, dat ze zich bizonder veel bemoeien met het aanstellen, ontslaan en bevorderen van inlandsche hoofden, nog vrij wat meer dan de in de hollandsche taal, welke hier worden uitgegeven, zich bezig houden met de mutatiën in de europeesche ambtenaarswereld.
In den regel zit er bij die inlandsche beschouwingen wat achter en heeft men twee partijen, die ieder hunnen kandidaat aanprijzen en dien van de andere zijde trachten te negeren, in geval van vacatures.
Wij gelooven niet, dat deze tactiek ter bevordering van het eigenbelang bizonder veel geeft, maar toch wordt ze onvermoeid voortgezet, zoodat er slechts eene betrekking, welke ook, vacant is, die van dorpshoofd zelfs dikwijls niet uitgezonderd.
Van dat gearrewar en gescharrel behoeft de europeesche pers gewoonlijk geene notitie te nemen, doch we vonden in de Maleische Bazuin van 18 November een artikel, dat ook wel dat onderwerp behandelt, maar anders dan gewoonlijk, en daarom onze aandacht trok en hier genoemd wordt.
De schrijver, die zich voor deze gelegenheid den weidschen naam van Goentoer Atmodjo heeft gegeven, is nogal vrijloopig.
Als stelling werpt hij op, dat het beter is, als de regeering de ancienniteit volgt in het benoemen van regenten of de gouverneur-generaal daarbij zijn geheugen raadpleegt omtrent oude, bewezen diensten onder de inlandsche ambtenaren, dan wanneer de voordrachten der hoofden van gewestelijk bestuur worden in aanmerking genomen en daarnaar gehandeld.
In het laatste geval loopt de keus dikwijls verkeerd uit en tot bewijs daarvan haalt Goentoer Atmodjo de volgende voorbeelden aan:
Adipati Mangoenkoesoemo, regent van Ledok, bleek niet voor zijne taak berekend en werd op onderstand geplaatst. Van zijne nakomelingen kan men weinig of geene verwachting hebben en onder hen is tot heden niemand, die tot regent kan worden bevorderd.
Adipati Ario Djojodiningrat, regent van Karang-anjar, is gepensioneerd, omdat de dienst hem te zwaar viel en is op die plaats door geen zijner zonen opgevolgd als Toemenggoeng.
Toemenggoeng Ario Soerokoesoemo, regent van Koetoardjo, werd op onderstand geplaatst en geen van zijne kinderen is tot zijn opvolger gekozen.
Pangéran Blitar, regent van Ambal, kwam op onderstand, maar had onder zijne nakomelingschap geen opvolger.
Raden Adipati Poerbonegoro, voorzien van de gouden medaille, stierf, doch van zijne zonen is niemand tot heden regent kunnen worden.
Met de spruiten van Raden Toemenggoeng Sacoenggaling, regent van Koetoardjo, ging het niet beter.
Daarna houdt Goentoer Atmodjo eene vrij lange en overbodige redeneering over regentszonen, die in aanmerking zouden kunnen komen voor het regentschap van Ponorogo en haalt er zelfs den Solooschen prins Raden Mas Soesaryo bij, die, omdat hij in Holland geweest is en daar aan den koning is voorgesteld.
Dat betoog heeft wel iets van een sindirian (eene bespottelijke toespeling, voor den Europeaan dikwijls moeilijk te vatten, omdat hij met familieverhoudingen niet voldoende bekend is en bezwaarlijk kan nagaan, wanneer de inlander den ernst laat varen, om aan de spotternij te beginnen).
Doch wat er ook moge gebeuren, zegt de schrijver, laat ons vertrouwen op den Gouverneur-Generaal, die overwegingen voert, waar geen mensch in de wereld bij kan. Juist een inval voor een inlander.
En dan tracht hij nog den landvoogd lekker te maken, door te zeggen:
>"O, onze Excellentie van Rees is zulk een edel mensch! Toen hij van de Bagelen naar Soerabaja ging, nam hij een paar inlandsche ambtenaren mede en zorgde daar verder voor hun welzijn. Hij houdt er van hen te helpen, met wie reeds lang bekend is. Ook Goentoer Atmodjo verhief hij van mangga tos, mantri. Maka kita bilang jang Kangdjeng toean besar Gouverneur-Generaal jang baroe ini lebih jang boekan-boekan, mendjadi kasenengannja hamba-hambanja di Ned.-India, soepaja boleh tersiar dalem Ned.-India, bahwa dapet pendjadjian tatkala sekarang berdiri Radja moeda Nederlandsch-Indië enz.! enz.! enz.!"
Dat alles is zeer fraai en voorzeker zal van het bestuur van van Rees misschien niet een der schitterendste maar zeker eene der verdienstelijkste lichtzijden zijn: het in de bres springen voor het geringe, onaanzienlijke ambtenaartje tegenover zijne groote en machtige chefs, zooals nu reeds herhaaldelijk is gebleken, recht doende aan den kant, waar het was.
Maar daarom kunnen wij den schrijver geen gelijk geven, dat de gouverneur-generaal in het aanstellen van inlandsche hoofden slechts zijne reminiscentiën zou hebben te raadplegen, en geen acht te slaan op de voordrachten.
Het is reeds zoovele jaren geleden sedert de heer van Rees resident was en sedert dien tijd kan met de inlandsche hoofden, die hij als ambtenaar leerde kennen, zooveel gebeurd zijn, dat dit vertrouwen op het geheugen, hoe sterk dat moge wezen, hem wel eens in de keuze der personen zou kunnen doen mistasten.
Als regel moet worden aangenomen, dat de resident, die voordraagt, dit doet naar zijn beste weten en in het belang van land, volk en regeering, en dat daaraan volgende, zoover dit met dat belang niet in strijd komt.
En daarvan uitgaande, dient evenzeer als regel te gelden, dat de voorgedragene wordt benoemd.
U.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia :
"Pengangkatan Para Kepala Bumiputra Terkemuka
Surat kabar-surat kabar berbahasa Melayu memiliki kebiasaan yang khas, yaitu sangat sering mencampuri urusan pengangkatan, pemberhentian, dan kenaikan jabatan para kepala bumiputra. Bahkan, perhatian mereka terhadap hal itu jauh lebih besar dibandingkan surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Hindia Belanda, yang lebih banyak membahas mutasi di kalangan pegawai Eropa.
Pada umumnya, di balik pembahasan tersebut terdapat kepentingan tertentu. Biasanya muncul dua kelompok yang masing-masing mengajukan calon mereka sendiri, sambil berusaha menjatuhkan calon dari pihak lain apabila terjadi kekosongan jabatan.
Kami tidak percaya bahwa cara seperti itu banyak memberikan manfaat bagi kepentingan umum. Namun praktik tersebut terus dilakukan tanpa henti, sehingga hampir setiap jabatan yang lowong, bahkan jabatan kepala desa sekalipun, menjadi sasaran perebutan.
Pers Eropa biasanya tidak perlu memperhatikan segala keributan dan intrik semacam itu. Akan tetapi, kami menemukan sebuah artikel dalam Maleische Bazuin edisi 18 November yang membahas persoalan tersebut dengan cara yang berbeda dari biasanya. Karena itulah artikel tersebut menarik perhatian kami.
Penulisnya, yang untuk kesempatan ini menggunakan nama samaran Goentoer Atmodjo, mengemukakan pendapat yang cukup bebas.
Ia berpendapat bahwa akan lebih baik apabila pemerintah mengikuti asas senioritas dalam mengangkat para bupati, atau Gubernur Jenderal menggunakan ingatannya terhadap jasa-jasa lama yang telah dibuktikan oleh para pejabat bumiputra, daripada mengikuti usulan para kepala pemerintahan daerah (residen).
Menurutnya, apabila usulan para pejabat daerah dijadikan dasar pengangkatan, sering kali pilihan yang diambil justru keliru. Sebagai bukti, ia memberikan beberapa contoh.
Adipati Mangoenkoesoemo, Bupati Ledok, ternyata tidak cakap menjalankan tugasnya sehingga diberhentikan dengan memperoleh tunjangan pensiun (onderstand). Dari keturunannya pun hampir tidak ada harapan, dan hingga saat itu tidak seorang pun yang layak diangkat menjadi bupati.
Adipati Ario Djojodiningrat, Bupati Karanganyar, dipensiunkan karena merasa tugasnya terlalu berat. Setelah itu tidak seorang pun dari putra-putranya yang menggantikannya sebagai tumenggung.
Tumenggung Ario Soerokoesoemo, Bupati Kutoarjo, juga diberhentikan dengan tunjangan, dan tidak seorang pun dari anak-anaknya dipilih sebagai penggantinya.
Pangeran Blitar, Bupati Ambal, juga diberhentikan dengan tunjangan, tetapi tidak mempunyai keturunan yang dapat menjadi penerusnya.
Raden Adipati Poerbonegoro, penerima medali emas, meninggal dunia. Namun, hingga saat itu tidak seorang pun dari putra-putranya berhasil menjadi bupati.
Nasib keturunan Raden Tumenggung Sawoenggaling, Bupati Kutoarjo, juga tidak lebih baik.
Selanjutnya, Goentoer Atmodjo mengemukakan uraian yang cukup panjang mengenai para putra bupati yang dianggap layak menduduki jabatan Bupati Ponorogo. Ia bahkan menyinggung seorang pangeran dari Surakarta, Raden Mas Soesaryo, hanya karena yang bersangkutan pernah pergi ke Belanda dan diperkenalkan kepada Raja Belanda.
Pendapat tersebut mengandung unsur sindiran, yang bagi orang Eropa sering kali sulit dipahami karena mereka kurang mengenal hubungan kekeluargaan di kalangan bumiputra dan sulit membedakan kapan seseorang berbicara dengan sungguh-sungguh atau sedang menyindir.
Namun demikian, kata penulis itu, apa pun yang terjadi, kita hendaknya percaya kepada Gubernur Jenderal, karena beliau memiliki pertimbangan yang tidak dapat diketahui oleh siapa pun. Menurut penulis artikel ini, anggapan seperti itu hanyalah cara berpikir khas orang bumiputra.
Kemudian ia berusaha memuji Gubernur Jenderal Van Rees dengan mengatakan bahwa Van Rees adalah seorang yang sangat mulia. Ketika dipindahkan dari Karesidenan Bagelen ke Surabaya, ia membawa beberapa pejabat bumiputra bersamanya dan tetap memperhatikan kesejahteraan mereka. Ia senang membantu orang-orang yang telah lama dikenalnya. Bahkan, menurut penulis itu, Goentoer Atmodjo sendiri pernah diangkat olehnya dari seorang mantri.
Penulis kemudian mengutip sebuah pujian dalam bahasa Melayu yang pada intinya menyatakan bahwa Gubernur Jenderal yang baru sangat menyayangi para pegawai bumiputra di Hindia Belanda sehingga namanya akan selalu dikenang.
Semua itu memang terdengar indah. Bahkan, bisa jadi salah satu sisi terbaik dari pemerintahan Van Rees adalah kesediaannya membela pegawai kecil yang tidak memiliki kedudukan tinggi ketika mereka diperlakukan tidak adil oleh atasan-atasannya yang lebih berkuasa. Hal itu, menurut penulis, memang telah beberapa kali terbukti.
Akan tetapi, kami tidak sependapat dengan penulis tersebut apabila ia menghendaki agar Gubernur Jenderal mengangkat para kepala bumiputra hanya berdasarkan ingatan pribadinya terhadap orang-orang yang pernah dikenalnya, tanpa memperhatikan usulan resmi dari para residen.
Sudah bertahun-tahun berlalu sejak Van Rees menjabat sebagai residen. Selama waktu itu, banyak perubahan yang mungkin telah terjadi pada para pejabat bumiputra yang dahulu dikenalnya. Karena itu, jika hanya mengandalkan ingatan, betapapun kuatnya, bukan tidak mungkin ia akan keliru dalam memilih orang.
Sebagai suatu prinsip, harus diasumsikan bahwa seorang residen mengajukan calon berdasarkan pengetahuan terbaiknya serta demi kepentingan negara, rakyat, dan pemerintah. Oleh sebab itu, selama tidak bertentangan dengan kepentingan tersebut, usulan residen sepatutnya diikuti.
Dengan demikian, sebagai aturan umum, calon yang telah diajukan oleh residen seharusnya diangkat.
— U."
Catatan : Ini adalah artikel opini yang sedang mengkritik pendapat penulis lain (Goentoer Atmodjo).
Berikut kesimpulannya:
1. Adipati Mangoenkoesoemo, Bupati Ledok
Artikel menyatakan:
"bleek niet voor zijne taak berekend en werd op onderstand geplaatst."
Artinya:
"dianggap tidak cocok atau tidak mampu menjalankan tugasnya sehingga diberhentikan dengan tunjangan (onderstand/pensiun)."
Namun artikel tidak menjelaskan alasan konkretnya. Tidak ada data apakah karena administrasi, politik, kesehatan, atau konflik dengan pemerintah kolonial.
2. Adipati Ario Djojodiningrat, Bupati Karanganyar
Artikel menyebut:
"is gepensioneerd, omdat de dienst hem te zwaar viel."
Artinya:
"dipensiunkan karena tugas dinilai terlalu berat baginya."
Kalimat ini menunjukkan alasan resmi adalah ketidakmampuan melaksanakan beban jabatan, tetapi lagi-lagi tanpa penjelasan rinci.
3. Tumenggung Ario Soerokoesoemo, Bupati Koetoardjo
Artikel hanya menyebut:
"werd op onderstand geplaatst."
Artinya:
"diberhentikan dengan memperoleh tunjangan."
Tidak dijelaskan mengapa???..apa karena politik??, apa karena Tumenggung Soerokoesomo masih ada ikatan emosional dengan Perang jawa/Diponegoro??...
Jadi, artikel tidak mengatakan Tumenggung Ario Soerokoesomoe tidak cakap. Itu hanya contoh yang dipakai Goentoer Atmodjo untuk menunjukkan bahwa keturunan bupati tidak otomatis layak menjadi pengganti.
Mengapa anak-anak mereka tidak menjadi bupati?
Menurut artikel, alasannya adalah : Pemerintah kolonial tidak lagi otomatis mengangkat putra bupati sebagai penerus.
Anak-anak mereka dianggap tidak memenuhi syarat atau tidak dipilih.
Jabatan bupati mulai lebih mempertimbangkan rekomendasi Residen dan keputusan Gubernur Jenderal daripada faktor keturunan.
Ini mencerminkan perubahan kebijakan kolonial pada akhir abad ke-19, ketika sistem pewarisan jabatan mulai dibatasi.
Bagaimana nasib keturunan Raden Tumenggung Sawunggaling Bupati Kutoarjo???..
Artikel hanya mengatakan:
"Met de spruiten van Raden Toemenggoeng Sawoenggaling, regent van Koetoardjo, ging het niet beter."
Artinya:
"Nasib keturunan Raden Tumenggung Sawunggaling, Bupati Kutoarjo, juga tidak lebih baik."
Maknanya adalah: Tidak ada putra atau keturunannya yang berhasil menjadi Bupati Kutoarjo.
Penulis tidak menjelaskan lebih lanjut apakah mereka menjadi wedana, patih, atau pejabat lain.
Artikel koran Het Soerabaiasch Handelsblad. 20 November 1884. Tahun ke-32, No. 269. "Het aanstellen van voorname Inlandsche hoofden." Soerabaja: Kolff & Co sebenarnya sedang membahas perdebatan mengenai sistem pengangkatan bupati, bukan biografi para bupati tersebut.
Pesan utamanya adalah :
1. Penulis Goentoer Atmodjo menganggap pemerintah seharusnya lebih menghargai jasa keluarga para bupati lama.
2. Redaksi surat kabar Belanda menolak pendapat itu dan berpendapat bahwa pengangkatan harus berdasarkan rekomendasi Residen dan kemampuan calon, bukan karena keturunan.
3. Contoh Bupati Ledok, Karanganyar, Kutoarjo, Ambal, dan keturunan Sawunggaling dipakai sebagai argumen dalam perdebatan politik kolonial, sehingga tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta objektif mengenai kualitas pribadi mereka.
Untuk penelitian sejarah Kutoarjo, artikel ini lebih tepat digunakan sebagai sumber mengenai kebijakan kolonial terhadap suksesi jabatan bupati, bukan sebagai bukti bahwa para bupati tersebut benar-benar gagal atau bahwa keturunannya tidak kompeten.
By. Ndandung Kumolo Adi
Sumber Referensi :
- Narasumber Ahli waris
- Koran : Het Soerabaiasch Handelsblad. 20 November 1884. Tahun ke-32, No. 269. "Het aanstellen van voorname Inlandsche hoofden." Soerabaja: Kolff & Co
- Ramadhan KH, Buku "Perjalanan Anak Bumi" Biografi R.M.A.A. Koesoema Oetoyo
- Buku Bappeda tingkat II disusun tahun 1982
- Penadi, Radix, 1993 menemukan kembali jati diri bagelen. Lembaga study dan pengembangan sosial budaya. Purworejo
- Doorn. C.L. Schets Van De Ecomomiche ontwikkeling der Afdeeling Poerworejo.
- (Residentie kedoe) Weltervreden, G. Kolffs Co., 1926: 17 dikutip dari PM. Laksono, tradition in Javanese Sosial Sturcure kingdom and Countryside, Yogyakarta : Gajah mada university press 1990.
- Djamhari, Saleh Asad. 2014 strategi menjinakkan Diponegoro: stelsel benteng 1827-1830. Depok: komunitas Bambu.
- Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor Tahun 1858. disitu tertulis Bupati Kutoarjo adalah Raden Tumenggung Ario Soerokoesomoe.
- Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië voor Tahun 1859 disitu tertulis Bupati Kutoarjo adalah Raden Tumenggung Ario Soerokoesomoe.
- Almanak Nederlandsch Indie Tahun 1865, yang disitu tertulis Bupati Kutoarjo R.M.T. PringgoAdmodjo dilantik menjadi Bupati Kutoarjo 21 Juni 1860. yang bisa ditarik kesimpulan R.M.A. Soeroekoseomo menjabat bupati kutoarjo berakhir di tahun 1860 dan digantikan oleh R.M.T. Pringgo Admodjo











Tidak ada komentar:
Posting Komentar