Desa Tursino merupakan salah satu desa di Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, yang memiliki perjalanan sejarah panjang sejak masa perkembangan Islam di tanah Jawa, era Kerajaan Mataram, hingga masa Perang Diponegoro (1825–1830). Berdasarkan tradisi lisan masyarakat setempat, asal-usul nama Tursino berkaitan dengan tokoh Ki Ageng Tursuli yang dipercaya sebagai salah satu perintis awal wilayah tersebut. Desa ini juga memiliki keterkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro melalui jejak peristiwa peperangan yang dalam catatan lokal Babad Kedung kebo.
Pada masa Perang Jawa, Desa Tursino menjadi salah satu wilayah penting karena berkaitan dengan R.M. Soeromenggolo, seorang bangsawan keturunan Amangkurat I dan Brawijaya V yang dikenal sebagai pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro. R.M. Soeromenggolo juga dipercaya pernah menjabat sebagai glondong yang membawahi beberapa wilayah di sekitar Kutoarjo.
Artikel ini membahas sejarah dan perkembangan Desa Tursino meliputi asal-usul nama desa, legenda lokal, tokoh sejarah, pemerintahan desa, peninggalan budaya, serta berbagai jejak sejarah yang berkembang dari masa lampau hingga sekarang. Kajian ini disusun berdasarkan sumber tradisi lisan masyarakat, keterangan ahli waris tokoh, arsip peta kolonial, dan referensi sejarah lokal.
Peta Desa Tursino, peta karya Mayor De Stuers Menantu Jenderal De Cock, dibuat tahun 1825-1830 saat terjadi Perang Diponegoro
Dalam peta yang ditandai dengan tanda silang 2 pedang adalah lokasi peperangan pangeran Diponegoro dan Tursino juga menjadi tempat peperangan yang dulu tursino terkenal dengan nama Tjeblog
Peta beda jauh dengan peta sekarang dan banyak desa era sekarang yg belum muncul ataupun sengaja namanya tidak dimunculkan, juga titik koordinat desa bergeser, Hal ini wajar karena sang kartograf memetakan suatu wilayah masih secara manual belum menggunakan teknik atau ilmu pendukungnya seperti geodesi, fotogrametri dan semacamnya.
Peta Desa Tursino tahun 1855 buatan Geografer Belanda bernama Pieter Melvil Van Cambee dengan Judul "Kaart Van de residentie Bagelen 1855" dalam terjemahan bahasa Indonesia "peta karesidenan bagelen tahun 1855".
peta topografi tahun 1855 ini dengan skala 1:240000.
Nampak di era 1855 bermunculan desa-desa baru dan di era perang Diponegoro banyk nama-nama desa yg belum muncul atau saya rasa ada yg belum dimunculkan jg ada yg memang ada desa baru setelah perang Diponegoro selesai.
Locator Desa Tursino
Peta lokasi desa Tursino di kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purwoorejo di Jawa Tengah
Koordinat : 7°40'33"S 109°55'33"E
Luas .....
Populasi
- Total
2056 jiwa (2020)
- Kepadatan
....jiwa/km2
- Petani
525 orang
- Pedagang
29 orang
- Tentara
2 orang
- polisi
1 orang
- Pegawai Negeri Sipil
13 Orang
- Karyawan Swasta
......
- Buruh Harian Lepas
......
Demografi
- Suku bangsa
Jawa
- Agama
Islam dan Kristen.
- Bahasa
Indonesia, Jawa
- Kode area telepon
0275
Kode pos : 54252
Pembagian administratif
- Dusun
4 (empat)
Dusun 1
Dusun 2
Dusun 3
Dusun 4
- Rukun Warga (RW)
6 (enam)
- Rukun Tetangga (RT)
14 (empat belas)
Simbol khas Desa
- Flora resmi
....
- Fauna resmi
...
Situs web
.....
23. Gya umangkat pan lajëng lumaris, ingkang dados pëcalang ing ngarsa, Behi Rësadiwiryane, Jëng Pangran tindak sampun, samya munggah anënggël ardi, calang Gëgër Mënjangan, sëmana wus mudhun, anjog dhusun Baledana, lajëng budhal Pangeran sigra lumaris, wus prapteng ing Torsino.
Terjemahan : Segera berangkat kemudian berjalan, yang menjadi petugas keamanan berada di depan yaitu Hangabehi Reksodiwiryo, Sang Pangeran sudah berangkat, mereka mendaki memotong gunung, aman di Geger Menjangan, ketika itu sudah menuruni gunung, langsung menuju desa Baledono, terus berangkat Sang Pangeran segera berjalan, sudah sampai di Tursino.
24. Samya lërëb Torsino salatri, sarëng enjing pan samya lumampah, wus prapteng Pëkacangane, amung sipëng sadalu, sarëng enjing agya lumaris, wus lëpas lampahira, anjog ing Winangun, nulya
lajëng lampahira, sigra sipëng ler pëkën Kabumen nënggih, enjang age lumampah.
Terjemahan : Mereka beristirahat di Tursino semalam begitu pagi hari kemudian mereka berangkat, sudah sampai di Pekacangan, hanya menginap semalam, begitu pagi hari segera berangkat, sudah jauh perjalanannya, langsung menuju Kutowinangun(kebumen), kemudian terus perjalanannya, segera menginap di sebelah utara pasar Kebumen, pagi hari segera berangkat.
25. Lampahipun tan antara prapti, iya tanah ing Këlapagada, jajahan ngrema tanahe, pan lërëb tigang dalu, sarëng dintën Akat lumaris, prapteng dhusun Pamrihan, nulya enjingipun, Ngëbehi
Gorawëcana, lawan malih Ngëbehi Wangsacitreki, ngaturakën nuwala.
Terjemahan : Tidak lama perjalanannya sampai, iya di tanah Klapagada, jajahan datar tanahnya, kemudian beristirahat tiga malam, begitu hari Ahad berangkat, sampai desa Pamrihan, kemudian keesokan harinya, Hangabehi Gorowecono, dan lagi Hangabehi Wongsocitro, menyampaikan surat.
26. Sigra katur surat wusing tampi, dhatëng Gusti Pangran Sumayuda, amungël wau surate, sayogi surat katur, konjukipun ing Kangjëng Gusti, kopër dalëm bëndara, rinëksa ing dalu, anging tiwas awak
kula, kala dalu tinukup ing kraman ënting, pun Kërtapëngalasan.
Terjemahan : Segera disampaikan suratnya sesudah diterima, oleh Sang Pangeran Kusumoyudo, suratnya berbunyi, pantas surat itu disampaikan, disampaikan kepada Sang Pangeran, koper milik tuan, dijaga tadi malam, tetapi malang diri saya, ketika malam hari dirampok oleh para kraman/pemberontak/makar hingga habis, oleh Kertopengalasan.
27. Tiyang sekët kang nitih turanggi, ingkang ngampak dhatëng awak kula, turangga sekët dhatënge, pan numbak gangsal atus,
banderane gangsal winilis, aprang kawon kawula, kopër dalëm kërbut, kapale Gorawëcana, inggih kenging lan waos pun nyonyor Gusti, tumbake Wangsacitra.
Terjemahan : Lima puluh orang yang menunggang kuda, yang merampok kepada diri saya(Hangabehi Wongsocitro dan Hangabehi gorowecono), kedatangannya dengan lima puluh ekor kuda, dan tumbak lima ratus buah, benderanya terhitung lima buah, berperang saya kalah, koper paduka direbut, kuda milik Gorowecono, iya kena dan tombak
dirampas Tuan, tombak milik Wongsocitro.
28. Waos ulam inggih samya kenging, kang satunggal Kyai Wangsacitra, Jëng Pangran sangët krodane, sigra adandan gupuh, Jëng Pangeran umangkat aglis, sawadya bala kuswa, Kurnel datan
kantun, sëksana sampun lumampah, Jëng Pangeran kalawan para Kumpëni, dintën Këmis umangkat.
Terjemahan : Tombak ikan juga semua kena, yang sebuah adalah milik Kyai Wongsocitro, Sang Pangeran(Kusumoyudo) sangat marah, segera dia bersiap-siap dengan cepat, Sang Pangeran cepat berangkat, seluruh pasukan ikut, Sang Kolonel tidak ketinggalan, kemudian sudah berangkat, Sang
Pangeran dengan para Kumpeni, berangkat pada hari Kamis.
29. Langkung gancang lampahe Jëng Gusti, sampun prapteng ing panggonanira, Pangran Mangkudiningrate, panggih wontën Sëmawung, Pangran Mangkudiningrat iki, sadaya pra sëntana,
sërbanan sëdarum, këlawan rasukan jubah, kajëngipun Kumpëni arsa nglurugi, ken baris Winong kana.
Terjemahan : Sangat cepat perjalanan Sang Pangeran(Kusumoyudo), sudah sampai di tempatnya Pangeran Mangkudiningrat, bertemu di Semawung, Pangeran Mangkudiningrat ini(Pangeran mangkudiningrat sekalipun berpihak di Diponegoro tapi masih kerabat/saudara dengan Pangeran Kusumoyudo) para kerabat semua, memakai surban semua, dengan baju jubah, kehendak Kumpeni akan menyerbu, disuruh berbaris di Winong sana.
30. Sampun baris ing Winong kang desi, Jëng Pangeran pan lajëng lumampah, anare wontën Winonge, Pangran sawadyanipun, pan kabëkta marang Kumpëni, dhatëng biting Gëmbulan, Jëng
Pangran wus angsung, Pangeran Kusumayuda, sampun prapteng ing Winong lajëng abaris, sëmana kawarnaa.
Terjemahan : Sudah berbaris di desa Winong(sekarang desa Winong kecamatan kemiri) , Sang Pangeran kemudian terus berangkat, menginap di Winong, Sang Pangeran beserta pasukannya, kemudian dibawa oleh Kumpeni, ke benteng Gembulan, Sang Pangeran sudah memberi suguhan, Pangeran Kusumoyudo, sudah sampai di
Winong terus berbaris, ketika itu diceritakan.
31. Barisipun Pangran Adipati, wontën dhusun ing Winong sumahab, Jëng Pangran Sumayudane, wontën kraman anglurug, marang Winong angrampid baris, Basah Jayasundarga, saha balanipun, Tumënggung Danukusuma, saha wadya sëmana samya angiring, lan Basah Pëngalasan.
Terjemahan : Barisan Pangeran Adipati, berkumpul di desa Winong, Sang Pangeran Kusumoyudo, ada para makar datang menyerbu, ke Winong
mempersiapkan barisan, Basah Djoyosundargo, beserta pasukannya, Tumenggung Danukusumo, beserta pasukannya ketika itu semua mengiringi, serta Basah Pengalasan.
32. Ingkang dadya tëtindhihing baris, Jëng Pangeran Adipanagara, kalih dasa banderane, pan wontën kalih ewu, ingkang samya nitih
turanggi, wong satus kalih dasa, anëmpuh prangipun, Raden Arya Kërtapraja, ngajëngakën Jayasundarga prajurit, kang kidul prënahira.
Terjemahan : Yang menjadi pemimpin barisan, Sang Pangeran Diponegoro(Diponegoro Anom), dua
puluh benderanya, dan ada dua ribu orang, yang menunggang kuda, seratus dua puluh orang, menyerang dalam peperangan itu, Raden Aryo
Kertoprojo, menghadapi prajurit Djoyosundargo, di sebelah selatan letaknya.
33. Jasundarga pan lajëng kausir, ngantos dugi Selasinalangan, wetan Singalaba gone, Pangeran barisipun, aneng tëngah awor Kumpëni,
baris pëndhëm karsanya, lawan saradhadhu, kalih dasa langkung gangsal, mriyëmipun pan amung bëkta satunggil, mungsuh sami Pangeran.
Terjemahan : Djoyosundargo kemudian terus diusir, hingga sampai di Selosinalangan(Bukit sinalangan sekarang di administrasi desa Kaligesing kecamatan Kutoarjo), di sebelah timur Singolobo(Dusun Singolobo sekarang di administrasi desa karangrejo kecamatan Kutoarjo) tempatnya, Barisan Sang Pangeran, berada di tengah-tengah berbaur dengan Kumpeni, barisan terpendam kehendaknya, bersama serdadu, dua puluh orang lebih lima, meriamnya hanya membawa sebuah, melawan sesama Pangeran.
34. Jëng Pangeran Dipanëgareki, lajëng kawon pan sami lumajar, binujung wadya balane, dugi Torsino dhusun, Kangjëng Gusti wus wangsul malih, Pangran Kusumayuda, anjog gunung Jëblug, Den
Mayor Puspawinata, Ki Ngabehi Sadiwirya andon jurit, mungsuh Danukusuma.
Terjemahan : Sang Pangeran Diponegoro(Diponegoro Anom), kemudian kalah dan mereka melarikan diri, pasukannya diburu, sampai desa Tursino, Sang Pangeran sudah pulang
lagi, Pangeran Kusumoyudo, langsung menuju gunung Jeblug, Raden Mayor Puspowinoto, Ki Hangabehi Resodiwiryo terus berperang, melawan Danukusumo.
35. Lajëng kawon kraman wus malëncing, Raden Tumënggung Danukusuma, kausir dugi Gëmbore, sarëng sampun ing Bëdhug, Jëng Pangeran wus kondur sami, dhatëng Winong sëdyanya, saha
balanipun, wus tata amësanggrahan, sadayanya wadya bala samya mulih, dhatëng pondhokanira.
Terjemahan : Para Kraman/makar/pemberontak kemudian kalah dan sudah melarikan diri, Raden
Tumenggung Danukusumo, diusir sampai Gembor(Gembor sekarang di administrasi desa wirun kecamatan Kutoarjo), begitu sudah
sampai di Bedug, Sang Pangeran dan pasukannya kembali, tujuannya ke Winong, beserta pasukannya, sudah bersiap-siap untuk beristirahat, seluruh pasukannya semua pulang, ke penginapannya.
36. Sarëng wau dhatëng brandhal malih, wadya kraman jujug pësanggrahan, Pangeran Sumayudane, langkung kasësanipun, Jëng Pangeran dados prajurit, pan dereng ngantos dandan, kang dherek puniku, Kumpëni alit Rusëdhah, lawan malih saradhadhune winilis, gunggung rong puluh lima.
Terjemahan : Begitu para berandal datang kembali, pasukan makar langsung menuju tempat peristirahatan, Pangeran Kusumoyudo, sangat tergesa-gesa, Sang Pangeran menjadi prajurit, dan belum sampai bersiap-siap, yang mengikutinya itu, Kumpeni kecil bernama Rusedah, dan lagi serdadunya terhitung, jumlahnya dua puluh lima orang.
37. Mriyëmipun mung bëkta satunggil, lawan Kyai Behi Sadiwirya, inggih samya dherekake, Pangran Sumayudeku, sampun dugi pëcalangneki, kraman pan sampun cëlak, neng tëgal ngëndhanu,
Pangran masang sënjatanya, pan kasusu andhampeng mriyëm mring kali, mriyëm langkung kewëdan.
Terjemahan : Meriamnya hanya membawa sebuah, bersama Kyai Hangabehi Reksodiwiryo, juga mereka mengikuti, Pangeran Kusumoyudo, sudah
sampai prajurit pengamannya, kemudian para kraman/makar sudah dekat, di perkebunan membludag, Sang Pangeran memasang senjatanya, karenatergesa-gesa menempelkan meriam di sungai, meriamnya sangat merepotkan.
38. Nulya Pangran lajëng andhawuhi, dhatëng Mantri Behi Sadiwirya, dikakakën mapagake, Mantri tumandang maju, punang kraman dipun parani, dhatëng Rësadiwirya, tan dangu kapëthuk, kakalih
panji kang sura, gëgamane sënjata rolas winilis, Behi sigra nyënjata.
Terjemahan : Kemudian Sang Pangeran terus memberi perintah, kepada Mantri Hangabehi Reksodiwiryo, mengatakan untuk menghadangnya, Sang Mantri segera bertindak maju, para kraman/makar/pemberontak didatangi, oleh Reksodiwiryo,
tidak lama sudah bertemu, dua orang panji yang berani, persenjataannya terhitung dua belas buah, Sang Hangabehi segera menembak.
39. Panjinipun wau ingkang kenging, kang satunggal wau namanira, Pringgasëntika namane, këna ing tëpakipun, ingkang wau niba ing siti, nulya kapal lumajar, gya cinandhak gupuh, mring Ngabehi
Sadiwirya, ingkang nyandhak kapale sira Sang Panji, kenging sigra lumajar.
Terjemahan : Panjinya yang terkena, yang seorang bernama Pringgosentiko namanya, terkena telapaknya, yang jatuh ke tanah, kemudian kudanya
berlari, segera ditangkap dengan cepat, oleh Hangabehi Reksodiwiryo, yang menangkap kuda milik Sang Panji, kena segera berlari.
40. Tandang sigra wau Ki Ngabehi, lajëng bujung dhatëng kraman kathah, pan wus tëbih pambujunge, nuli sradhadhu nusul, mung
sadasa kathahireki, mring Behi Sadiwirya, sigra saradhadhu, anyënjata Panji sira, lajëng pëjah Tapriyoga sira Panji, kasupit wontën toya.
Terjemahan : Ki Hangabehi(Reksodiwiryo) segera bertindak, terus mengejar kepada para kraman/makar yang banyak, dan sudah jauh pengejarannya, kemudian para serdadu menyusul, hanya sepuluh orang jumlahnya, kepada Hangabehi Reksodiwiryo, segera serdadu, menembak Sang Panji, kemudian Panji Kertopriyogo mati, terjebak di dalam air.
41. Prajurite wau sira Panji, Tapriyoga namung kantun tiga, lajëng wau dipun ëdhrel, tëtiga parëng lampus, sënjatane dipun pëndhëti, sabubaring këraman, sënjata tëtëlu, waose kalih binëkta, nulya
katur dhatëng wau Kangjëng Gusti, Pangran Kusumayuda.
Terjemahan : Prajurit Sang Panji, Kertopriyogo hanya tinggal tiga orang, terus mereka diberondong, ketiganya mati bersama-sama, senjatanya semua
diambil, sesudah para kraman/makar bubar, tiga buah senjata, tombaknya dua buah dibawa, kemudian diserahkan kepada Sang Pangeran, Pangeran Kusumoyudo.
42. Sigra kondur dhatëng Winong malih, Jëng Pangeran wau mësanggrahan, aneng pasar ing Winonge, sarëng ing Këmisipun, Sadiwirya dipun dhawuhi, dhatëng Kangjëng Pangeran, samya
kinon ngecu, dhatëng dhusun Singalaba, barisira Jayasundarga ken gitik, sigra Behi parentah.
Terjemahan : Segera kembali ke Winong lagi, Sang Pangeran beristirahat, di pasar Winong, begitu hari Kamis, Resodiwiryo diperintah, oleh Sang Pangeran(Kusumoyudo), mereka disuruh merampok, ke desa Singolobo(singolobo sekarng terletak di desa karangrejo kecamatan Kutoarjo), disuruh menyerbu barisan pasukan Djoyosundargo, segera Sang Hangabehi(Reksodiwiryo) memerintahkan.
43. Iya dhatëng para kang prajurit, nulya prentah Ki Rësadiwirya, dhatëng wau Bëkël Sëren, Naladangsa ken ngecu, dhatëng Singalaba ing latri, Naladangsa Pakuthan, alon aturipun, inggih sandika kewala, abdi dalëm Rësadiwirya Ngëbehi, sarta tumut piyambak.
Terjemahan : Iya kepada para prajuritnya, kemudian Ki Reksodiwiryo memberi perintah, kepada Bekel Seren, Nolodongso disuruh merampok, ke
Singolobo(Singolobo sekarang terletak di desa karangrejo kecamatan Kutoarjo) pada malam hari, Nolodongso Pakutan, berkata pelan, iya bersedia saja, abdi paduka Hangabehi Reksodiwiryo, sendiri ikut serta.
44. Bëkta waos mung kawan daseki, sënjatanya tiga kathahira, wus prapta wau prënahe, bala umyang gumuruh, ingkang ngecu nulya ge prapti, ing wanci jam sadasa, baris bubar mawut, barise
Jayasundarga, Singalaba kinecu sëmana gusis, tukang gëndera pëjah.
Terjemahan : Membawa tombak hanya empat puluh buah, senjatanya tiga buah jumlahnya, sudah sampai di tempatnya, pasukan berteriak-teriak
bergemuruh, yang merampok kemudian segera sampai, pada waktu jam sepuluh, barisan bubar berhamburan, barisan Djoyosundargo, ketika itu
Singolobo(singolobo terletak di desa karangrejo kecamatan Kutoarjo) dirampok habis-habisan, pembawa benderanya mati.
45. Angsal tumbak satunggal lan kalih, sënjatane pan amung satunggal, lajëng samya mulih kabeh, wus prapteng prënahipun, tumbak bëdhil katur Jëng Gusti, dhatëng Kangjëng Pangeran, Kusumayudeku, Jëng Pangran alon ngandika, dhatëng Litnan
Lisëdhah wau Kumpëni, pan dhëm kopër wus prapta.
Terjemahan : (Dari merampok di singolobo yang sekarang terletak di administrasi Desa karangrejo kecamatan Kutoarjo) Memperoleh tombak satu buah dan dengan, senjatanya hanya sebuah, terus mereka kembali semua, sudah sampai di tempatnya, tombak dan senapan diserahkan kepada Sang Pangeran, Kusumoyudo itu, Sang Pangeran berkata pelan, kepada Letnan Lisedah Kumpeni itu, dan koper yang diharapkan sudah datang.
46. Pra Kumpëni bungahe këpati, dene kraman liwat sangking kathah, kang kenging kinecu kuwe, mring wong këdhik puniku, tumbak bëdhil dinëlëng sami, iya marang Walanda, sangët sukanipun, bëdhil tumbak akeh këna, samya tinon tumbak kinarya mateni, dhatëng tukang gëndera.
Terjemahan : Para Kumpeni sangat senang sekali, karena para kraman/makar/pemberontak terlalu sangat banyak, yang kena dirampok itu, oleh orang sedikit itu, tombak senapan dilihat oleh mereka, iya oleh Belanda, sangat senangnya, senapan tombak banyak yang kena, mereka melihat tombak yang dipakai membunuh, kepada si pembawa bendera.
47. Pra Kumpëni bungahe këpati, lakak-lakak sarta suka-suka, angëntrog-gëntrog wëntise, gëntiya kang winuwus, sarëng dintën Sënen marëngi, Gusti Kangjëng Pangeran, arsa den jak laju, amringkas kang desa-desa, Jëng Pangeran ngaturan ngarëp
pribadi, tindake Jëng Pangeran.
Terjemahan : Para Kumpeni sangat senang sekali, terbahak-bahak serta bersuka ria, menghentak-hentakkan betisnya, ganti yang diceritakan, begitu bertepatan dengan hari Senin, Sang Pangeran, hendak diajak bepergian, meringkus ke desa-desa, Sang Pangeran dipersilakan di depan sendiri, perjalanannya Sang Pangeran.
48. Duk sëmana pan samya lumaris, pra Kumpëni lawan Jëng Pangeran, wus lëpas wau lampahe, Kurnel lan saradhadhu, wus dumugi Torsino desi, wontën këraman kathah, barisipun agung, ingkang dadi senapatya, Jasundarga kalawan tumënggung siji, nama Danukusuma.
Terjemahan : Ketika itu mereka sudah berangkat, para Kumpeni dan Sang Pangeran, sudah jauh perjalanannya, Kolonel dan para serdadu, sudah sampai di desa Tursino ada banyak para kraman/makar/pembrontak di desa Tursino, pasukan/barisannya banyak yang menjadi panglima perang adalah Djoyosundargo dan seorang tumenggung, bernama Danukusumo.
49. Tekong Kërtapëngalasan nënggih, gya lumampah amapag Wëlanda, karëp ngajak ngamuk bae, dhatëng Kumpëni wau, ya ta sampun
kapëthuk nuli, aprang wontën ing marga, sadaya anëmpuh, sëmana lajëng apërang, aneng marga arame asilih ungkih, langkung rame kang yuda.
Terjemahan : Ya Tekong Kertopengalasan, segera berangkat menghadang Belanda, hendak mengajak mengamuk saja, kepada Kumpeni itu, ya kemudian
sudah bertemu, berperang di jalan, semua bertempur, ketika itu terus berperang, di jalan ramai saling menyerang, sangat ramai perangnya.
50. Tan adangu kraman sor ing jurit, dipun usir prapta ing Ngandhagan, Pëngalasan Tekong thekle, apan wus mlayu darung, balanira sadaya mamring, Pangran prapteng Ngandhagan, kraman sampun
mawur, dhatëng wau dhusun Soka, Raden Mayor Puspawinata Ngëbehi, Kyai Rësadiwirya.
Terjemahan : Tidak lama para kraman/makar/pemberontak kalah dalam peperangan itu, diusir sampai di Ngandagan(Ngandagan sekarang di administrasi Desa wirun kecamatan Kutoarjo), Tekong Pengalasan tangannya terluka, kemudian melarikan diri dengan kencang, semua pasukannya sepi, Sang Pangeran(Kusumoyudo) sampai Ngandagan, para makar sudah berhamburan, menuju desa Soko, Raden Hangabehi Mayor Puspowinoto, Kyai Reksodiwiryo.
51. Dikakakën ngusir kraman sami, pan kausir dhatëng dhusun Soka, këraman neng pinggir lepen, Kyai Sadiwiryeku, samya mëdal tëngahing sabin, lawan Puspawinata, wau kancanipun, wontën
prajurit tëtiga, bala kraman bëkta sënjata satunggil, tumbak kalih cacahnya.
Terjemahan : Disuruh mengusir para kraman/makar/pemberontak, kemudian diusir sampai desa Soko(sekarang terletak di desa sokoharjo kecamatan Kutoarjo), para kraman/makar di pinggir sungai, Kyai Reksodiwiryo itu, mereka lewat tengah sawah, dengan Puspowinoto, temannya, ada tiga orang prajurit, pasukan kraman/pemberontak yang membawa sebuah senjata, tombak dua buah jumlahnya.
52. Ya ta wau prajurit kang katri, gya sinëntak mring Rësadiwirya, lawan Puspawinatane, sënjata kang jinaluk, dhatëng wau Kyai Ngabehi, inggih Rësadiwirya, sënjatane iku, sineleh aneng ing
lëmah, apan lajëng tiyange dipun lamëngi, prajurit nulya pëjah.
Terjemahan : Ya ketiga prajurit itu, segera dibentak oleh Reksodiwiryo dan Puspowinoto, senjatanya diminta oleh Kyai Hangabehi(Reksodiwiryo), iya
Reksodiwiryo, senjatanya itu, diletakkan di atas tanah, dan kemudian orangnya dipedang oleh reksodiwiryo, prajurit itu kemudian mati.
53. Kang prajurit bëkta waos kalih, dyan jinaluk wau botën suka, lajëng tinumbak kramane, dhatëng prajuritipun, Sadiwirya Kyai Ngabehi, wong kalih pëjah jajar, tan tëbih genipun, Ngëbehi Rësadiwirya, lawan Mayor nama Puspawinateki, wus manjing
dhusun Soka.
Terjemahan : Prajurit yang membawa dua buah tombak, kemudian diminta tidak memberikan, kemudian ditombak para kraman/makar itu oleh prajuritnya Kyai Hangabehi Reksodiwiryo, kedua orang itu mati berjajar, tidak jauh tempatnya. Hangabehi Resodiwiryo dan Mayor yang bernama
Puspowinoto ini, sudah masuk desa Soko(Soko sekarang di administrasi desa Sokoharjo kecamatan Kutoarjo)
54. Wusnya dangu kraman ingkang dhëlik, gya sinëntak dhatëng Sadiwirya, këraman barëng kagete, tan etung kraman ambyur, aneng toya silëm ing kali, sërbane binuwangan, gundhul ting
pëndhusul, bëdhile samya binucal, wontën lepen akathah ingkang ngëmasi, den ëdrel sing dharatan.
Terjemahan : Sesudah lama para kraman/makar yang bersembunyi, segera dibentak oleh Reksodiwiryo, para makar bersama-sama terkejut, tanpa perhitungan para kraman/makar menceburkan diri, ke dalam air menyelam di sungai,
surbannya dibuang, gundul bermunculan, senapan mereka dibuang, di sungai banyak yang mati, diberondong dari daratan.
55. Kathah pëjah neng dhasaring warih, wëtëng jëmbling këkathahën toya, miwah ingkang tatu kabeh, sawidak kathahipun, kapalira
tiga kang mati, cacahe kapal pëjah, Sadiwirya iku, angsal kathah kang bandhangan, pan sënjata kalih wëlas kathahneki, waosipun wolulas.
Terjemahan : Banyak yang mati di dasar sungai, perut menggelembung kebanyakan air, serta yang terluka semua, enam puluh orang jumlahnya, kudanya tiga ekor yang mati, jumlah kudanya yang mati, Reksodiwiryo itu, memperoleh banyak rampasan, senjatanya dua belas buah jumlahnya,
tombaknya delapan belas buah.
56. Miwah angsal bandhangan Ngëbehi, pan gamëlan salendro larasnya, sarancak tiga kapale, sarëng sabubaripun, sakathahe kraman angungsi, Kurnel Klerës punika, lajëng wau nusul, dhatëng
dhusun ing Ngandhagan, sarëng sampun prapta ing dhusunireki, Kurnel ngrëmbag ron kamal.
Terjemahan : Serta Hangabehi memperoleh rampasan, gamelan laras slendro, seperangkat tiga ekor kudanya, begitu bubar, seluruh para kraman/makar mengungsi, Kolonel Cleerens itu, terus menyusul, ke desa Ngandagan(ngandagan sekarang terletak di desa wirun kecamatan Kutoarjo), begitu sudah sampai di desa ini, Sang Kolonel merundingkan daun asam.
(Sumber : R.A.A. Tjokronegoro alias Kyai Adipati Tjokrojoyo alias Ngabehi Reksodiwiryo, Babad Kedungkebo Pupuh XXIX Dhandanggula bait syair nomor 23-56.)
Tursino (bahasa Jawa: ꦏꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦥꦸꦂꦮꦉꦗ,) adalah sebuah Desa di kecamatan Kutoarjo kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah. Desa ini berbatasan dengan desa Karangrejo di sebelah selatan, Desa wirun di sebelah barat, desa Rebug, kedunglo, dilem di sebelah Utara, desa Loning di sebelah timur.
Sungai-sungai yang ada di desa tursino antara lain saluran Loning
Plaats van uitgave = Tempat terbit: Semarang (Samarang)
Verspreidingsgebied = Wilayah peredaran: Hindia Belanda (sekarang Indonesia)
Nummer = Nomor terbit: 203
Jaargang = Tahun terbit (volume): 79
Jika Jaargang 79 dihitung sejak awal penerbitan De Locomotief (1863), maka arsip tersebut di tahun 1930
Penerbit: De Groot, Kolff & Co.
Sejarah dan Legenda
Dahulu kala diceritakan setelah kerajaan Majapahit runtuh, oleh pengaruh Islam, kerajaan pindah dari Majapahit ( jawa timur ) ke Demak ( jawa tengah ).
Sultan yang pertama adalah Raden Patah.
Diceritakan setelah salah seorang wiratamtatama dari kerajaan Demak mengundurkan diri dari jabatannya dan permohonan dikabulkan oleh sang Sultan dan oleh sang Sultan dianjurkan/disarankan supaya untuk menguasai daerah selatan sekaligus menyebarkan Agama Islam, selain itu diwajibkan setahun sekali untuk menghadap ke Demak. Saran tersebut diterima oleh sang wirotomo, pengikut yang setia sebagai pengiringnya adalah :
1. Kyai Marchamah sebagai penasehat spiritual sang Wirotomo.
2. Ki Ageng Umbul/mbah Umbul bertugas membawa umbul-umbul kebesaran dan kebanggan kerajaan Demak.
3. Ki Ageng Kagok.
4. Ki Ageng Tursuli/mbah tursuli.
5. Gamel Ketosari tugasnya memelihara kuda.
6. Gamel Marchamah tugasnya memelihara kuda.
7. Nyai Gesing/mbah gesing.
Kyai Marchamah selalu berdampingan dengan sang Wirotomo yang bertugas sebagai penasehat spiritual juga memberikan pertimbangan-pertimbangan mengenai masalah umum dan bidang keagamaan khususnya ajaran Islam.
Sang Wirotomo mempunyai seekor kuda yang dapat terbang ( kuda Sembrani ). Kuda ini pemeliharaannya diserahkan kepada gamel ketosari dan gamel marchamah.
Berangkatlah sang wirotomo menuju ke arah selatan, rombongan sampailah di kaki gunung lawu, disini rombongan berjumpa dengan pelarian pasukan majapahit yang tidak mau tunduk kepada Demak, terjadilah peperangan. Tetapi karena rombongan sang Wirotomo jauh lebih kecil dan sedikit dari pasukan Majapahit, terpaksa mengundurkan diri dan melanjutkan perjalanan menuju arah Barat melalui daerah Mbagelen.
Sampailah rombongan disebuah hutan lebat yang terletak disebelah utara gunung tugel.
Oleh sang wirotomo rombongan diperintahkan untuk beristirahat, setelah dipandang cukup untuk beristirahat, pada hari itu juga diperintahkan membuka hutan/babat alas untuk pemukiman sang wirotomo.
Atas perintah sang wirotomo ke empat pengikut setianya juga diperintahkan membuka hutan untuk tanah pemukiman masing-masing, dimulai dari kaki gunung tugel sebelah utara.
Yang mendapat tugas :
1. Ki Ageng Kagok. ( bukti makamnya di desa kemadu )
2. Nayi Ageng Gesing. ( bukti makamnya di desa kaligesing )
3. Ki Aeng Umbul. ( bukti makamnya di desa karangrejo )
4. Ki Ageng Tursuli.( bukti makamnya di desa Tursino )
5. Wirotomo (bukti makam di Mutihan wirun)
Seperti para teman yang lain Ki ageng Tursuli membuka lahan hutan juga menjadikan areal persawahaan di sebelah timur dengan berjalan lancar tidak mengalami kesukaran – kesukaraan atau gangguan – gangguan.
Tempat pemukiman Ki Ageng Tursuli disebut tursulian, ucapan lama-lama berubah menjadi Tursinan, lalu menjadi Tursino sampai sekarang.
Di daerah Tursino ada sebuah daerah atau dusun yang bernama “Njeblog” konon terjadi perselisihan antara Ki ageng Umbul dengan Tokoh dari Pucang anom, peperanag ini terjadi selama tiga (3) hari.
Banyak pohon-pohon tumbang dan temapt ini samapai rata, dan hingga sekarang tempat itu disebut “Ngroto” letaknya disebelah timur laut desa Karangrejo.
Akhirnya kedua tokoh tersebut dipanggil oleh sang wirotomo dan dianjurkan berdamai, tetapi tokoh dari pucang anom tidak bersedia, lalu sang wirotomo menugaskan Kyai Marchamah untuk melayani tokoh dari Pucang anom
Terjadilah pertempuran sengit, tokoh pucang anom mengeluarkan pusaka andalannya berupa sebuah ALU. Sejak saat itu tokoh pucang anom disebut : Kyai sabuk Alu. Kyai marcomah juga mengeluarkan pusaka pamungkasnya berupa BEDHUG.
Bedhug dipukul seketika itu sabuk alu berubah menjai tiga (3) orang kembar lagi perkasa.
Bedhug terus dibunyikan ketiga orang itu terpental kearah tiga penjuru.
Pusaka alunya jatuh di daerah ki Ageng Tursuli tepatnya tempat jatuhnya pusaka sabuk alu tersebut menimbulkan bunyi yang sangat dahsyat bagaikan ledakan Bom (njeblog). Daerah itu sampai sekarang disebut “NJEBLOG”.
Cerita diatas memang masih perlu di kaji lagi apakah benar sejarah atau legenda, dengan melihat nisan-nisan makam di desa tursino yang umumnya bergaya Hamengkubuwanan atau era Tahun 1700-1800
Sedang R.M Soeromenggolo adalah generasi kedua sesepuh desa tursino pada masa perang Diponegoro/ Perang jawa tahun 1825-1830. R.M Soeromenggolo sendiri adalah seorang bangsawan keturunan Amngkurat I dan Brawijaya V yang mendukung dan menjadi pengikut setia Pangeran Diponegoro.
R.M Soeromenggolo awal mulanya tinggal di desa kiyangkongrejo bersama istri pertamanya yang berasal dari jogja. Akhirnya R.M Soeromenggolo pindah di desa tursino serta menjadi glondong yang membawahi desa tursino, desa Karangrejo, desa wirun, desa Kaligesing, desa kemadu, desa Soko Harjo. serta R.M. Soeromenggolo memperistri keturunan Ki Ageng Tursuli.
Pemerintahan :
Berikut Nama-nama Sesepuh/kamituwo Desa Tursino dan Lurah Desa Tursino dari masa ke masa :
- R. Soeromenggolo bin R.Ngabei Mertodiwiryo Keturunan Amangkurat I dan Brawijaya V. Soeromenggolo seorang Lurah Desa Tursino, Sekaligus gelondong yang membawahi desa tursino, wirun, Karangrejo, Kaligesing, kemadu, Sokoharjo. Juga merangkap sesepuh ataupun kepala desa Tursino pada tahun sekitar kurang-lebih 1800-an.
- R. Soerat Admojo putera dari R. Soeromenggolo yang melanjutkan sebagai glondong merangkap lurah Desa Tursino. Juga pada tahun 1800-an
- R. Martodimedjo bin R.M.
Soeromenggolo menjabat glondong dan Lurah Desa Tursino sekitarTahun
1900an.
Beliau Kepala Desa Tursino Pertama ( I ) Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945
5.
6.
dari tahun 1973 Sampai 1979.
Selain jadi Kepala Desa, bapak Pawiro Diharjo juga Pernah Menjabat Sebagai Congkok.
Nama Muda Beliau adalah Wal Qobri, Mendekati Usia Tua beliau berganti Nama Pawiro Diharjo
7.
8.
10.
11.
12.
Bapak. Priyono, menjabat sebagai kepala Desa Tursino Ke-sembilan ( IX ) Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Menjabat dari tahun 2017 sampai 2023
13.
Aktivitas ekonomi desa ini salah satunya bergantung pada sektor pertanian, di antaranya padi, jagung, ubi kayu dan hasil palawija lain juga Industri Pembibitan dan pengrajin gula Jawa.
Pariwisata :
Dalam bidang pariwisata desa Tursino punya "taman Baji Asri" yang di dalamnya terdapat kolam renang dan mainan anak-anak.
Masjid dan musholla desa Tursino :
1. Masjid Jami' Baitul Muhtadin.
2. Masjid Jami' Al isti'adah.
3. Musholla Jamius Salim.
4. Musholla Thoriqun Naja'
5. Musholla Al Amanah.
Foto, Artefak makam Gedong. Komplek makam sesepuh desa tursino.
Makam Umaro(pemimpin) dan ulama (Kyai).
Di situ dimakamkan Glondong R.M. Soeromenggolo bin R.Ngabei Mertodiwiryo keturunan Amangkurat I dan Brawijaya V.
Disitu juga ada makam seorang ulama dari tuk songo purworejo yang sengaja dipanggil R.M. Soeromenggolo untuk menjadi ulama desa yang bernama Kyai Raden Chasan Bin Syech Lukman hakim





















Tidak ada komentar:
Posting Komentar