De Overstrooming op Java: Banjir Besar Tahun 1861 di Kabupaten Kutoarjo dalam Kesaksian Surat Kabar Kolonial, Telegram Pemerintah Hindia Belanda, Instruksi Pemerintah Hindia Belanda, dan Laporan Teknik
Sejatininghidup02.blogspot.com
Abstrak :
Artikel ini mengkaji peristiwa banjir besar yang melanda Jawa bagian selatan, khususnya Karesidenan Bagelen, pada Februari 1861 dengan memberikan perhatian khusus pada wilayah Eks Kabupaten Kutoarjo. Kajian disusun melalui sintesis berbagai sumber primer kolonial, yaitu Javaasche Courant, Java Bode, Bataviaasch Handelsblad, Oostpost Soerabayasche Courant, Nieuwe Rotterdamsche Courant, Koloniaal Verslag 1861, Gedenkboek van den Watersnood in 1861, serta didukung karya Jhr. P.J. Boreel (1901) dan Van Doorn (1926). Hasil kajian menunjukkan bahwa bencana diawali oleh anomali iklim berupa kemarau panjang pada akhir tahun 1860 yang diikuti badai dan hujan ekstrem pada 19–23 Februari 1861. Kondisi tersebut menyebabkan meluapnya sungai-sungai utama di Jawa Tengah bagian selatan, terutama Sungai Bogowonto, Jali, dan Tepus, dan sebagainya sehingga menimbulkan kerusakan besar pada permukiman, lahan pertanian, jaringan transportasi, serta mengakibatkan ratusan korban jiwa.
Kajian ini juga menunjukkan bahwa Kabupaten Kutoarjo merupakan salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah di Karesidenan Bagelen. Besarnya bencana tersebut mendorong pemerintah kolonial bersama para bupati di wilayah Bagelen untuk membenahi sistem pengelolaan air melalui pembangunan bendung, sodetan sungai, saluran drainase, dan kanal pengendali banjir. Di Kabupaten Kutoarjo, upaya tersebut diwujudkan melalui penataan aliran Sungai Jali dan pembangunan Kanal Saudagaran yang berkembang pada masa pemerintahan Bupati Pangeran Adipati Poerboatmodjo (1870–1910). Berdasarkan sumber-sumber kolonial, Pangeran Poerboatmodjo juga dikenal aktif dalam organisasi yang bergerak di bidang pengelolaan lingkungan dan kehutanan di Hindia Belanda, beliau satu-satunya Bumiputera yang tergabung dalam organisasi tersebut. Beliau menunjukkan perhatian terhadap pengelolaan sumber daya alam pada masanya. Dengan demikian, banjir tahun 1861 tidak hanya menjadi salah satu bencana hidrologi terbesar di Jawa Tengah pada abad ke-19, tetapi juga menjadi titik penting dalam sejarah lingkungan serta mendorong perkembangan infrastruktur pengendalian banjir di wilayah eks Kabupaten Kutoarjo.
Indonesia merupakan wilayah yang secara alamiah rawan terhadap bencana karena kondisi geografis dan geologinya. Terletak di pertemuan beberapa lempeng tektonik serta memiliki sistem hidrologi yang kompleks, Indonesia memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai peristiwa alam ekstrem, termasuk bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor (Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2025). Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, bencana didefinisikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan serta penghidupan masyarakat (Tanoyo & Sari, 2022).
Meskipun demikian, kajian mengenai sejarah bencana di Indonesia, khususnya yang terjadi sebelum abad ke-20, masih relatif sedikit dan bersifat terfragmentasi. Pemahaman mengenai bagaimana masyarakat masa lalu merespons serta beradaptasi terhadap bencana dalam kerangka politik dan sosial yang dibentuk oleh kekuasaan kolonial juga masih belum komprehensif. Kurangnya perhatian terhadap kajian ini menyebabkan hilangnya berbagai informasi berharga mengenai ketahanan masyarakat lokal, respons sosial, serta dampak ekonomi jangka panjang yang dibentuk oleh dinamika bencana di masa lalu.
Salah satu peristiwa hidrometeorologi terbesar yang belum memperoleh perhatian akademik secara proporsional adalah banjir besar dan tanah longsor yang melanda wilayah selatan Pulau Jawa pada 21–23 Februari 1861 (Quack, 1862; Watersnood, 1861). Dalam arsip kolonial, peristiwa ini dikenal dengan sebutan Watersnood (bencana banjir besar). Berbagai surat kabar kolonial, seperti Javasche Courant dan Java Bode, mengonfirmasi bahwa bencana tersebut terjadi secara bersamaan di lima karesidenan utama, yaitu Surakarta, Yogyakarta, Kedu, Banyumas, dan Bagelen (Binnenlandsche Berigten, 1861; Watersnood, 1861; Watersnood op Java, 1861).
Bencana ini dipicu oleh meluapnya sejumlah sungai besar, antara lain Bengawan Solo, Serayu, Progo, dan Bogowonto, yang mengakibatkan kerusakan luas pada permukiman, lahan persawahan, serta berbagai infrastruktur penting. Selain menimbulkan kerusakan fisik yang besar, banjir tersebut juga menyebabkan hilangnya harta benda dan banyak korban jiwa (Batavia, 1861).
Ironisnya, besarnya dampak bencana tersebut tidak menjadikan peristiwa tahun 1861 sebagai Kekuatan banjir yang sangat dahsyat mengubah bentang alam Karesidenan Bagelen. Arus air membawa gelondongan kayu, semak belukar, serta berbagai material berat yang menghancurkan segala sesuatu yang dilaluinya (Batavia, 1861b).
Dampak langsung banjir sangat parah dan meluas. Selain menimbulkan banyak korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan kerusakan besar terhadap infrastruktur di seluruh wilayah karesidenan. Distrik Kutoarjo, Prembun, dan Kebumen dilaporkan mengalami kerusakan yang sangat berat. Bahkan Kutoarjo digambarkan dalam laporan kolonial sebagai wilayah yang "hampir terhapus dari muka bumi" (Binnenlandsche Berigten, 1861; Quack, 1862).
Berikut transkripsi dan terjemahan dari cuplikan iklan Java-Bode: Nieuws-, Handels- en Advertentieblad voor Nederlandsch-Indië, No. 36, Batavia, 7 Mei 1862, hlm. iklan. Nomor iklan (1833)
Transkripsi (Bahasa Belanda) :
Aan Kunstminnaars wordt bekend gemaakt dat van af Zaturdag den 10den tot en met Woensdag den 14den dezer, van 's morgens 8 tot 12 ure, in de audiëntiezaal in het Paleis te Weltevreden zullen worden tentoongesteld:
De Schilderstukken van onzen stadgenoot, den Schilder RADEN SALEH, voorstellende de
Watersnood in 1861 op Java en de Megamedong.
Terjemahan Bahasa Indonesia :
"Kepada para pecinta seni diberitahukan bahwa mulai hari Sabtu tanggal 10 hingga Rabu tanggal 14 bulan ini, setiap pukul 08.00 sampai 12.00 pagi, di ruang audiensi Istana di Weltevreden akan dipamerkan:
Lukisan-lukisan karya sesama warga kota kita, pelukis Raden Saleh, yang menggambarkan : Banjir Besar di Jawa pada tahun 1861 dan Megamendung."
Pengumuman ini merupakan bukti primer yang sangat penting. Isinya menunjukkan bahwa :
- Raden Saleh mengadakan pameran lukisan di Istana Weltevreden (Batavia).
- Salah satu lukisan yang dipamerkan berjudul "Watersnood in 1861 op Java" (Banjir Besar di Jawa Tahun 1861).
- Lukisan tersebut dipamerkan kepada publik hanya beberapa bulan setelah bencana terjadi, sehingga dapat dianggap sebagai respons artistik yang sangat dekat dengan peristiwa banjir 1861.
Penyebutan "Watersnood in 1861 op Java" menegaskan bahwa banjir tersebut dipandang sebagai bencana yang melanda Jawa secara luas, bukan hanya satu daerah tertentu.
Bagi penelitian mengenai banjir Bagelen tahun 1861, iklan ini merupakan sumber primer yang sangat kuat karena menghubungkan peristiwa banjir tersebut dengan representasi visual oleh Raden Saleh, salah satu pelukis paling terkemuka di Hindia Belanda.
Upaya dan ikhtiar para generasi tua untuk meminimalisir banjir di bekas kabupaten Kutoarjo dibilang berhasil, tinggal sekarang generasi milenial meneruskan perjuangan para generasi tua untuk membangun drainase, tata kelola air, juga sumur serapan untuk menghilangkan titik-titik langganan banjir di musim penghujan seperti di kecamatan butuh, kecamatan pituruh, kecamatan grabag, kecamatan Ngombol, senepo dan sebagainya.
Dari halaman tersebut dapat ditranskripsikan sebagai berikut :
Gewestelijk Bestuur (Bagelen)
Personeel in de Binnenlanden
Afdeeling Koeto-Ardjo
Regent: Radhen Toemenggoeng Pringgo Atmodjo — 21 Junij 1860.
Djaksa: Radhen Sosro Koesoemo — 4 Januarij 1862.
Panghoeloe: Hadjie Mohamat Soehoedo.
Data tersebut menegaskan bahwa pada tahun 1865 pemerintahan Afdeeling Koeto-Ardjo dipimpin oleh:
R.M.T. Pringgo Atmodjo sebagai Regent (Bupati), diangkat 21 Juni 1860.
Raden Sosro Koesoemo sebagai Jaksa, diangkat 4 Januari 1862.
Haji Mohamat Soehoedo sebagai Penghulu.
Di bagian atas halaman juga tercantum pejabat tingkat Karesidenan Bagelen, yaitu:
Resident: P. J. Serlé (22 November 1864).
Regent Purworejo: Radhen Toemenggoeng Tjokro Negoro (20 Agustus 1856).
Halaman ini sangat penting karena menunjukkan bahwa Kabupaten Kutoarjo (Koeto-Ardjo) pada tahun 1865 masih merupakan afdeeling tersendiri dalam Karesidenan Bagelen, dengan struktur pemerintahan bumiputra yang lengkap (Bupati, Jaksa, dan Penghulu). Ini merupakan bukti primer yang sangat kuat untuk penelitian
Perubahan nama pada tahun 1865 bukan sekadar pergantian judul, melainkan juga mencerminkan penyempurnaan format, sistem penyajian, dan cakupan informasi pemerintahan. Apabila Almanak en Naamregister lebih berfungsi sebagai almanak dan daftar nama pejabat beserta struktur administrasi pemerintahan, maka Regerings-almanak menyajikan data yang lebih lengkap, sistematis, dan rinci.
Salah satu perbedaan yang paling penting adalah pencantuman tanggal pengangkatan (pelantikan) pejabat secara lebih konsisten dan sistematis. Informasi tersebut sangat membantu dalam merekonstruksi kronologi pemerintahan, karena memungkinkan peneliti mengetahui waktu mulai menjabatnya seorang pejabat, seperti residen, asisten residen, bupati (regent), jaksa (djaksa), penghulu (panghoeloe), maupun pejabat pemerintahan lainnya.
Bagi penelitian sejarah lokal, khususnya sejarah pemerintahan Kabupaten Kutoarjo, Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië memiliki nilai yang sangat penting karena memuat tanggal pengangkatan para pejabat. Sebagai contoh, dalam Regerings-almanak tahun 1865 tercatat bahwa Radhen Toemenggoeng Pringgo Atmodjo diangkat sebagai Regent Koeto-Ardjo pada 21 Juni 1860. Informasi semacam ini tidak hanya memperjelas kronologi pergantian pejabat, tetapi juga menjadi dasar yang kuat dalam rekonstruksi sejarah pemerintahan daerah berdasarkan sumber primer dan Tragedi Banjir di Kutoarjo Bulan Februari tahun 1861 Pejabat Bupati nya adalah Raden Tumenggung Pringgoatdmojo, sampai terjadi perpindahan ibu kota kabupaten akibat Banjir tersebut.
Dengan demikian, meskipun fungsi utama kedua almanak tersebut tetap sama sebagai referensi administrasi resmi Pemerintah Hindia Belanda, Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië memberikan informasi yang lebih rinci sehingga menjadi sumber primer yang lebih kaya bagi penelitian sejarah administrasi, birokrasi, dan pemerintahan kolonial di Indonesia.
"Puncak terjadi banjir di kutoarjo pada tanggal 23 Februari 1861 ketika banjir besar setinggi 4,5 meter menggenangi Kota Kutoarjo." (Sumber : Jhr. P.J. Boreel. 1901. De verbetering der soedagaran leiding dalam de ingeneur no. 35)
Di tahun 1861 Kabupaten Kutoarjo dipimipin oleh Bupati ke-3 R.M.T Pringgoatmodjo (1860 - 1870), banjir di tahun itu meluluh lantakan Kota Kutoarjo dan sekitarnya, masjid rusak, beberapa tempat tertimbun sedimen banjir setinggi satu meter. Salah satu kebijakan kolonial yang paling penting setelah bencana adalah pemindahan ibu kota Kabupaten Kutoarjo ke lokasi yang baru (Dari Semawung ke Senepo). Keputusan ini diambil karena kerusakan parah yang dialami Sungai Jali dan sekaligus dijadikan sebagai bentuk kompensasi melalui pemberian pekerjaan berupah kepada masyarakat (Sumber : Putte, F. van de. (1864). Koloniaal Verslag 1861. I.D. Fransen van de Putte selaku Minister van Koloniën (Menteri Urusan Koloni) Koloniaal Verslag over 1861 adalah laporan tahunan resmi Pemerintah Belanda kepada Staten-Generaal (Parlemen Belanda) mengenai keadaan Hindia Belanda pada tahun 1861. Laporan ini diterbitkan pada tahun 1864 dan ditandatangani oleh Putte, F. Van De. (1864). Koloniaal Verslag 1861. Kemink en Zoon. https://archive.org/details/UNIVERSITEITLEIDEN-DIG-KOLONIAAL-VERSLAG-1861/page/n449/mode/2up )
Sekilas kebijakan tersebut tampak sebagai bentuk kepedulian pemerintah kolonial. Namun, hipotesisnya bahwa kemungkinan besar langkah tersebut juga bertujuan meredam gejolak politik lokal, dengan mengakomodasi keinginan para penguasa daerah dan masyarakat yang enggan kembali ke kawasan lama yang telah mengalami kehancuran akibat banjir.
Di sisi lain, kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah kolonial mulai mempertimbangkan faktor-faktor nonfisik, seperti trauma masyarakat dan preferensi sosial, dalam proses rekonstruksi wilayah.
Akibatnya, bencana tahun 1861 menghasilkan perubahan permanen terhadap tata ruang dan jaringan transportasi Bagelen, termasuk pemindahan tetap jalur jalan antara Purworejo dan Sapuran (Bleeker, 1871).
Banjir di bulan Februari tahun 1861 teryata tidak hanya terjadi di kabupaten Kutoarjo tapi juga di seluruh pesisir pantai selatan Jawa Tengah yang meliputi karesidenan Bagelen, karesidenan banyumas, Karesidenan Kedu, bahkan di Kasunanan Surakarta serta Kasultanan yogyakarta.
Overstrooming op Java yang ditulis Surat Kabar Nieuwe Rotterdamsche Courant pada 28 April 1861 disebutkan wilayah terdampak banjir di Jawa Tengah adalah Karesidenan Bagelen meliputi kabupaten Ledok/Wonosobo, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kutoarjo, Kabupaten Ambal, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Karanganyar.
Sedangkan Karesidenan Kedu meliputi Temanggung dan Magelang di kawasan yang sebenernya tinggi dari permukaan laut tapi ikut terdampak pula, Bahkan di Karesidenan Banyumas yang meliputi Banyumas, Purwokerto, Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga.
Selain itu wilayah Kasunanan Surakarta dan wilayah Kasultanan Yogyakarta juga turut terdampak hebat. Beberapa wilayah Jawa Timur seperti Surabaya dan Pacitan dilaporkan terkena banjir hebat. Demikian pula di Jawa Barat yaitu Krawang.(Sumber : Surat Kabar Nieuwe Rotterdamsche Courant pada 28 April 1861)
merujuk laporan dari surat kabar Java Bode 6 April 1861 mengenai banjir di wilayah Karesidenan Bagelen, bahwa sejak 25 Desember 1860 yang biasanya musim cuaca berhujan, justru mengalami kekeringan hebat dan panas yang luar biasa (jaargetijde buitengewone droogte en hitte). Situasi ini menimbulkan rekahan-rekahan tanah menganga di sejumlah tempat termasuk di perbukitan yang sangat berbahaya jika hujan deras turun secara tiba-tiba karena di kwatirkan tanah menjadi longsor.
Kekeringan itu berlangsung hingga akhir Januari 1861. dan Pada 19 Februari 1861 dilaporkan angin kencang mulai bertiup dari arah Barat Daya, lalu Sore hari 20 Februari, hembusan angin yang awalnya terputus-putus berubah menjadi badai yang ganas disertai dengan hujan lebat yang semakin meningkat intensitasnya selama 24 jam. Kemudian membentuk lingkaran besar, yang titik pusatnya terbentuk kira-kira di Kabupaten Kutoarjo, bahwa ini merupakan deskripsi dalam laporan kolonial, bukan hasil analisis meteorologi modern yang Menurut laporan Java Bode (6 April 1861), badai tersebut tampak membentuk pusaran dengan pusat yang diperkirakan berada di sekitar Kabupaten Kutoarjo."
di Kabupaten Ambal, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Ledok(Wonosobo) , dan Kabupaten Purworejo pohon beringin, pohon kanari, pohon asam, dan pohon jati terbesar berjumlah ratusan tumbang oleh kekuatan badai, Bahkan ranting tipis semak bambu pun tidak mampu berdiri akibat menahan hembusan angin yang kencang.
Puncaknya pada 21-22 Februari 1861, hujan deras terus menerus turun tanpa henti. Pada malam 22 hingga 23 Februari 1861 semua sungai, terutama yang berhulu di dataran tinggi Ledok, mulai meluap. Peluapan itu begitu tiba-tiba sehingga dalam waktu kurang dari satu jam ratusan desa dan ribuan hektar tanah terendam banjir, dan banyak keluarga yang sedang tidur nyenyak meninggal dalam gelombang air.
Di Kabupaten Purworejo air Sungai Bogowonto meluap dan luapaan airnya yang menyebabkan kerusakan terbesar di sana. Ketinggian air disebut, naik pada ketinggian yang belum pernah terjadi.
Pada malam 22 Februari, ketinggiannya mencapai 25 kaki di atas ketinggian air atau sekitar 7,62 meter. Arus yang mengamuk menyapu ke mana-mana di mana sebuah tikungan memotong jalannya, menyapu seluruh negeri, menyeret orang, ternak, rumah, dan pohon, bahkan pohon kelapa di jalurnya.
Jembatan Bogowonto akhirnya runtuh dan ayu-kayunya hanyut serta ditambah dengan ribuan batang pohon yang tumbang oleh aliran sungai atau terbawa oleh tanah, dilemparkan dengan kekuatan penghancur melintasi desa.
Sungai Jali dan Sungai Tepus di Kutoarjo meluap. Balok kayu banyak yang terbawa sampai ke jalan termasuk ke depan rumah kontrolir di jalan Kenari. Mayat seorang pribumi berjubah imam ditemukan di dalam sumur di pekarangan rumah sang kontrolir, yang kemudian dikenali sebagai haji, 8 paal (1 Paal setara dengan 1.509 meter atau dibulatkan menjadi 1 Paal = 1.5 kilometer) dari desa Loning.
Sebagaimana Bagelen dan Kedu yang dijadikan karesidenan pasca Perang Jawa berakhir (1831) demikian pula Banyumas. Karesidenan Banyumas meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purwokerto, Banjarnegara, Purbalingga.
Menurut laporan Javaasche Courant 2 sampai 6 Maret yang diringkaskan oleh Nieuwe Rotterdamsche Courant (28 April 1861) disebutkan pada malam 22-23 Februari, sungai Serayu sangat meluap sehingga air berada dalam jarak tiga puluh kaki dari jalan utama.
Air pasang datang begitu tiba-tiba sehingga penduduk harus mengungsi di atap dan di pepohonan. Beberapa penduduk Eropa telah menghabiskan 36 jam di atap. Mereka bahkan tidak bisa menyelamatkan pakaian mereka. Pada tanggal 25 Februari air sudah surut jauh. Rute besar ke pusat kota telah dibersihkan dari air. Hanya lapisan lumpur yang tersisa.
Kabupaten Kebumen yang berada di wilayah Karesidenan Bagelen mengalami sejumlah dampak banjir yang mematikan. Beberapa wilayah yang tercatat dalam surat kabar Java Bode pada 6 April 1861 adalah di Jlegi, bendung Bedegolan, Kutowinangun, Ambal.
Selain itu seluruh wilayah Prembun, sebagian besar Kedungtawon Kutowinangun dalam beberapa saat terendam banjir. Seperti halnya sungai Bogowonto, arus deras yang memotong lekukan di sepanjang tepian sungai, mengalir deras melalui desa dan ladang 148 desa menunjukkan pemandangan kehancuran yang mengerikan setelah air surut.
Di mana arus deras tidak membawa rumah-rumah, maka sejumlah rumah tergeletak runtuh dan berserakan di tanah. Di desa Kedoeg-soemoer, Ketjeme, Babat dan Tersobo, bahkan pohon kelapa pun tak luput. Di Djlegi, dari 151 jiwa, hanya 44 yang masih hidup. Semua yang lain binasa dalam gelombang.
Di Kabupaten Ambal, kerusakan di desa relatif kecil. Namun rawa-rawa besar di sana, meluap jauh melampaui tepiannya. Sehingga airnya menembus ke jalur desa Urut Sewu dan penduduk harus mengungsi ke tempat bukit pasir yang lebih tinggi.
Bangunan-bangunan yang terbuat dari bambu dan kayu hanyut seluruhnya. Sementara itu, bangunan batu, seperti rumah Auditeur dan Wakil Bupati (Vice-Regent), meskipun tidak roboh, mengalami kerusakan berat. Di Purworejo, angin kencang turut merusak jalan-jalan serta menumbangkan pohon-pohon asam berukuran besar (Batavia, 1861).
Surat edaran A. Loudon tersebut dikeluarkan atas nama Pemerintah Hindia Belanda dan berisi instruksi kepada para kepala pemerintahan daerah untuk menggalang bantuan bagi korban banjir besar Jawa Tengah tahun 1861.
Dalam konteks tahun 1861, atasan langsung A. Loudon adalah Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud, yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada periode 1856–1861. Dengan demikian, surat edaran yang ditandatangani A. Loudon merupakan dokumen resmi administrasi pemerintah kolonial yang dilaksanakan atas kewenangan Gubernur Jenderal.
Dalam laporan Surat Edaran Loudon, A. (Algemeen Secretaris van de Nederlandsch-Indische Regering). Circulaire aan de Hoofden van het Gewestelijk Bestuur. Dimuat dalam rubrik Binnenlandsche Berigten, De Stem. Christelijk Tijdschrift, 3 Mei 1861, hlm. 211–213. Menuliskan sebagai berikut
Berikut transkripsi teks yang tampak pada gambar :
BINNENLANDSCHE BERIGTEN.
's Gravenhage, den 27sten April 1861.
Aan de heden ontvangen Javasche couranten, loopende tot den 13den Maart jl., ontleenen wij de onderstaande berigten.
Batavia, 1 Maart. — Als een vervolg van onze berigten omtrent de vreeselijke overstroomingen in Midden-Java, voorkomende in ons nommer van den 27sten Februarij, kunnen wij thans nog het volgende mededeelen.
Bagelen. — Volgens een van den resident ontvangen telegram, van 26 Februarij, is de verwoesting in het district Prembon, sorterende onder Keboemen, even groot als te Koetoe-ardjo.
De reeds rijpende padi is geheel verloren.
Het lage gedeelte van het aangrenzende Kedong-dawong heeft evenzeer geleden.
Vele menschen zijn omgekomen.
Het water overstroomde duizenden bouws der schoonste padivelden.
De bevolking van Ambal was gevlugt naar de duinen.
Meer dan 700 personen zijn omgekomen.
Sedert 26 Februarij is de staat van zaken verbeterd.
De telegraafdraad is tot aan de grens van Kadoe uitgegraven.
De rivieren waren op dien datum aan het vallen. De verslagenheid was echter nog groot. De rijst kostte te Poerworedjo op 26 Februarij, door gebrek aan toevoer, ƒ 2 à ƒ 2½ den pikol. Op den 27sten was dat voedingsmiddel aldaar niet meer te koop, doch den volgenden dag weder voor ƒ 1½ verkrijgbaar.
Een telegraphisch berigt, dd. 28 Februarij, geeft een beknopt overzicht der laatste rampen, te weten:
In het Ledoksche zijn alle bruggen, zonder uitzondering, weggespoeld, behalve eenige op den weg naar Sapoeran.
Bij de 200 personen zijn in die afdeeling omgekomen, terwijl de overstrooming groote schade heeft berokkend aan wegen, huizen en dessa's, doch minder aan de sawa's.
In Zuid-Bagelen zijn zes kapitale bruggen vernield, waarvan vier op binnenwegen en twee op den grooten postweg onder Poerworedjo. Hier zijn 500 menschen omgekomen.
Koetoe-ardjo en half Keboemen zijn verwoest; terwijl Karnar-anjar en Poerworedjo grootendeels zijn gespaard. Ambal is bijna geheel overstroomd. De halfrijpe padi van 15,000 bouws (waarvan twee derde gedeelten in Mei aanstaande weder beplantbaar zijn) is geheel verloren.
Twintig duizend huisgezinnen of een zevende gedeelte der bevolking zijn van have en goed beroofd en tijdelijk zonder leefstof.
Alle waterleidingen zijn verzand, beschadigd of vernield. De zoutpakhuizen zijn gespaard gebleven.
Het aantal noodlijdenden wordt geschat op 50,000. Van Koetoe-ardjo heeft twee derde der bevolking zich tijdelijk verspreid.
De dessa's stonden nog immer onder water.
Te Poerworedjo was de neerslagtigheid van hoofden en bevolking op den 28sten Februarij weder verminderd.
Kedoe. — Even als in de residentiën Bagelen, Banjoemas en Soerakarta heeft ook de overstrooming in dit gewest veel onheil en schade aangerigt.
De zwelling van de Progo is ontzettend geweest; honderden huizen zijn weggeslagen, terwijl onderscheidene kapitale bruggen en een aantal kleinere zijn vernield.
Het water is op den avond van den 23sten Februarij jl. binnen een paar uren tot 30 voet gerezen, waardoor geheele dessa's en vele sawa's zijn vernield.
212
Nagenoeg 300 menschen zijn door het water omgekomen.
In het Temanggoengsche zijn twee dessa's in modderpoelen herschapen; ruim 50 lijken lagen op de oppervlakte verspreid.
Ook hebben aardstortingen vele huizen en menschen bedolven.
Het verlies aan vee is groot.
Door den resident werd getracht de gemeenschap met Bagelen zoo veel mogelijk te openen, doch de aardstortingen op de wegen zijn te groot om spoedig te kunnen worden opgeruimd.
Voedsel is voldoende voorhanden, maar duur, ten gevolge van overgrooten uitvoer naar Bagelen.
Volgens nadere berigten was op den 1sten Maart jl. de communicatie te paard naar Bagelen hersteld, evenals de telegraaf tot aan de grenzen der residentie.
Aan de wegen en de herstelling der bruggen wordt voortdurend gewerkt, en vorderen de werkzaamheden goed.
De schade aan de velden is in vergelijking met Bagelen en Banjoemas zeer gering.
De bevolking, ook der plaatsen, welke last door de overstrooming hebben geleden, is weder tot den landbouwarbeid teruggekeerd.
Banjoemas. — In den nacht van den 22sten op den 23sten Februarij is de Serajoe-rivier zoodanig gezwollen, dat het water tot op 30 voet op den grooten weg stond.
De vloed kwam zoo plotseling op, dat de ingezetenen de wijk hebben moeten nemen op de daken en in de boomen.
Sommige Europeesche ingezetenen hebben 36 uren op de daken doorgebragt.
Zij hebben zelfs hunne kleederen niet kunnen redden.
Op den 25en Februarij was het water veel gezakt.
De groote route naar het centrum van de stad was van water bevrijd. Alleen is een laag modder overgebleven.
De ellende is groot. De geheele bevolking vond gelegenheid gehad, voor zoover zij niet per prauw reeds gered was, te voet naar het gebied der wijk te nemen.
De regent van Banjoemas doet even als de resident, al het mogelijke om in den nood der bevolking te voorzien. Van alle zijden worden voedingsmiddelen aangebragt.
Het schouwspel van de hoofdplaats Banjoemas is hartverscheurend; het getal verdronken menschen was op 27 Februarij nog niet te ramen.
Alle paarden, koebeijen enz. zijn verdronken.
Alle steenen gebouwen zijn beschadigd en ontzet, en de bamboezen woningen voor het grootste gedeelte bezweken.
De Europeesche ingezetenen zijn allen gered.
Een telegram van 26 Februarij luidt als volgt:
Afdeeling Tjilatjap. Op de hoofdplaats is alles wel; het district Adiredjo is ten deele overstroomd geweest.
Afdeeling Poerbolinggo. Vele dessa's hebben geleden; de ramp is betrekkelijk gering.
Afdeeling Poerwokerto. Vele dessa's zijn geteisterd; voor de voeding der bevolking in nood wordt gezorgd.
Afdeeling Bandjar-Negara. De bruggen zijn weggespoeld en de communicatie met de bergdistricten en met Wonosobo is verbroken. Overigens bestaat er geen gevaar voor de bevolking.
Afdeeling Banjoemas. De districten Kaliredjo en Poerworedjo zijn grootendeels overstroomd, waardoor veel schade is aangerigt.
Het district Soekaradja heeft veel geleden, het district Banjoemas heeft ontzettend veel schade geleden. De ramp gaat alle beschrijving te boven.
Tegen de huizen zijn slijk, boomstammen, werktuigen enz., tot drie manslengten opgestuwd.
Den 26sten Februarij was het water gezakt, doch de gevolgen waren nog verspreid met boomen en ruïnen van huizen.
De geheele vallei is overdekt met eene laag modder, die op sommige plaatsen 4 à 5 voet hoog is; 2700 menschen werden dien dag van voedsel voorzien.
De resident bevond zich met 40 Europeanen in een kleine bamboezen woning. Aan het openen der kantoren kon voorvooreerst niet gedacht.
De geest der bevolking was goed. Het dadelijk verstrekken van rijst had hierop zeer gunstig geïnfluenceerd.
Al de gevangenen zijn op het oogenblik van den uitersten nood losgelaten; anders waren zij verdronken.
Er kon aan hunne wederopvatting voor het oogenblik nog niet worden gedacht.
De talrijke lijken en krengen, die de vallei begonnen tot bederf over te gaan en ontwikkelden den hoogst onaangenamen stank.
Op den 1sten Maart waren reeds ongeveer 1000 lieden uit verschillende districten aan het werk om de lijken en krengen op te ruimen.
In de stad werden vele diefstallen gepleegd, vermoedelijk door de losgelaten gevangenen en ander slecht volk.
De politie kan nog niet geregeld werken.
Op den 28sten Maart werd door het bestuur aan 6845 personen voeding verstrekt.
Er zijn dooden voor het vervolg op de heuvelen opgeslagen.
De stemming van de bevolking en Europeesche ingezetenen was gunstig.
Van regeringswege worden te Batavia twee schepen, beladen met levensmiddelen, naar Tjilatjap gezonden.
Aan de hoofden van het gewestelijk bestuur op en buiten Java is van regeringswege de navolgende circulaire gerigt:
> Uit het officieel nieuwsblad heeft UEG. vernomen de ramp, die centraal-Java getroffen heeft.
Ten gevolge van een te voren nimmer in die mate gekenden hoogen waterstand en daaruit gevolgde uitgebreide overstrooming, is menig huisgezin, voor zoover het niet in den watervloed verzwolgen werd, in diepen rouw gedompeld. Ook de op verschillende plaatsen waargenomen aardstortingen droegen daartoe bij.
Groot is het verlies, dat aan menschenlevens, aan bezittingen en aan overvloed gewas te betreuren is.
Maar hoe bewogen ook met het lot van hen, die zoo geheel onvoorbereid en vroegtijdig getroffen, niet minder medelijden dwingt af het ongelukkig lot dergenen, die in de zoo zwaar geteisterde streken gespaard gebleven zijn en wier vooruitzigt bij gemis aan de eerst noodige voedingsmiddelen in waarheid rampzalig heet mag.
Wat in de magt der Regering lag, om die zoo zeer gevreesde onheilen vooreerst te voorkomen, is gedaan.
Het ligt evenwel niet in de magt der Regering alles te doen. Menschlievendheid eischt, dat een ieder die hulp verschaffe, welke in zijn vermogen ligt. Burgerpligt vordert, dat ieder ingezetene het zijne bijdrage tot hetgeen leniging aanbrengen kan bij algemeene ramp.
Een beroep op die medewerking werd in Nederlandsch-Indië nimmer onverhoord gelaten. Nog nimmer werd dit beroep met zooveel kans op algemeene deelneming gedaan als thans, en men zag zich vleijen, dat ook dit beroep in Nederland weêrklank vinden zal.
Ten einde hen die door geldelijke bijdragen tot het hierboven omschreven doel wenschen mede te werken, daartoe de gelegenheid te verschaffen, is het meest doelmatig voorgekomen de hoofden van gewestelijk bestuur op te dragen, om, ieder in zijn gewest, zonder verwijl de noodige lijsten te doen circuleren en van hetgeen bijgedragen mogt worden wekelijks opgave te doen in het officieel nieuwsblad, zullende wijders de directeur van financiën en overige betrokken autoriteiten omtrent de overmaking en aanwending der gelden van de vereischte voorschriften worden voorzien.
UEG. gelieve aan het vorenstaande verlangen van den Gouverneur-Generaal ten spoedigste de vereischte uitvoering te geven.
"Berita Dalam Negeri
Den Haag, 27 April 1861
Dari surat kabar-surat kabar Jawa yang baru kami terima hingga edisi 13 Maret yang lalu, kami mengambil berita-berita berikut.
Batavia, 1 Maret
Sebagai lanjutan dari pemberitaan kami mengenai banjir besar yang mengerikan di Jawa Tengah, sebagaimana telah dimuat dalam edisi kami tanggal 27 Februari, kini kami dapat menyampaikan keterangan berikut.
Bagelen
Menurut telegram yang diterima Residen, bertanggal 26 Februari, kerusakan di Distrik Prembun, yang termasuk wilayah Kebumen, sama besarnya dengan yang terjadi di Koetoardjo (Kutoarjo).
Padi yang telah hampir masak seluruhnya musnah.
Daerah rendah di wilayah Kedongdawong yang berbatasan dengannya juga mengalami penderitaan yang sama.
Banyak orang meninggal dunia.
Air menggenangi ribuan bouw (satuan luas tanah pada masa kolonial) sawah terbaik.
Penduduk Ambal mengungsi ke bukit-bukit pasir di tepi pantai.
Lebih dari 700 orang meninggal dunia.
Sejak 26 Februari, keadaan mulai membaik.
Jaringan telegraf telah berhasil diperbaiki hingga perbatasan Karesidenan Kedu.
Pada saat itu air sungai mulai surut. Meskipun demikian, suasana duka masih sangat mendalam. Di Poerworedjo (Purworejo), pada tanggal 26 Februari, harga beras akibat terputusnya pasokan mencapai 2 hingga 2½ gulden per pikul. Pada tanggal 27 Februari beras bahkan tidak lagi tersedia untuk dibeli. Namun keesokan harinya kembali tersedia dengan harga sekitar 1½ gulden per pikul.
Sebuah telegram bertanggal 28 Februari memberikan ringkasan bencana terbaru sebagai berikut.
Di wilayah Ledok, semua jembatan tanpa kecuali hanyut terbawa arus, kecuali beberapa jembatan di jalan menuju Sapuran.
Sekitar 200 orang meninggal di wilayah tersebut. Banjir menyebabkan kerusakan besar pada jalan, rumah, dan desa-desa, tetapi kerusakan pada sawah relatif lebih ringan.
Di Bagelen Selatan, enam jembatan utama hancur, empat berada di jalan-jalan pedalaman dan dua di Jalan Raya Pos menuju Poerworedjo. Di wilayah ini sekitar 500 orang meninggal dunia.
Koetoardjo dan setengah wilayah Kebumen mengalami kehancuran, sedangkan Karanganyar dan Poerworedjo sebagian besar terhindar dari kerusakan berat. Ambal hampir seluruhnya terendam banjir.
Padi yang sedang setengah masak di lahan seluas 15.000 bouw—sekitar dua pertiganya masih dapat ditanami kembali pada bulan Mei mendatang—musnah seluruhnya.
Sebanyak 20.000 keluarga, atau sekitar seper tujuh dari jumlah penduduk, kehilangan harta benda mereka dan untuk sementara waktu tidak memiliki sumber penghidupan.
Seluruh saluran air mengalami pendangkalan, kerusakan, atau hancur. Gudang-gudang garam tetap selamat.
Jumlah penduduk yang membutuhkan bantuan diperkirakan mencapai 50.000 orang.
Di Koetoardjo, sekitar dua pertiga penduduknya terpaksa mengungsi untuk sementara.
Desa-desa masih tetap tergenang air.
Di Poerworedjo, pada tanggal 28 Februari, suasana duka dan kepanikan di kalangan para pejabat serta penduduk mulai berkurang.
Kedoe
Seperti halnya di Karesidenan Bagelen, Banyumas, dan Surakarta, banjir di wilayah Kadoe juga menimbulkan banyak korban dan kerusakan.
Luapan Sungai Progo sangat dahsyat; ratusan rumah hanyut terbawa arus, sementara sejumlah jembatan besar dan banyak jembatan kecil hancur.
Pada malam 23 Februari yang lalu, permukaan air naik hingga sekitar 30 kaki hanya dalam beberapa jam, sehingga seluruh desa dan banyak sawah mengalami kehancuran.
Berikut terjemahan bahasa Indonesia halaman 212
---
Hampir 300 orang meninggal dunia akibat banjir.
Di wilayah Temanggung, dua desa berubah menjadi lautan lumpur; lebih dari 50 jenazah ditemukan berserakan di permukaan.
Selain itu, tanah longsor menimbun banyak rumah beserta penghuninya.
Kerugian berupa ternak sangat besar.
Residen berusaha sekuat tenaga untuk membuka kembali hubungan komunikasi dengan Bagelen, tetapi longsor di sepanjang jalan terlalu parah sehingga pembersihannya tidak dapat segera diselesaikan.
Persediaan bahan makanan masih mencukupi, namun harganya mahal karena sebagian besar dikirim ke Bagelen.
Menurut laporan lanjutan, pada 1 Maret hubungan perjalanan dengan menunggang kuda menuju Bagelen telah pulih, demikian pula jaringan telegraf hingga perbatasan karesidenan.
Perbaikan jalan dan pembangunan kembali jembatan terus dilakukan, dan pekerjaan tersebut menunjukkan kemajuan yang baik.
Kerusakan lahan pertanian di wilayah ini, dibandingkan dengan Bagelen dan Banyumas, relatif ringan.
Penduduk, termasuk mereka yang berasal dari daerah yang terdampak banjir, telah kembali mengerjakan lahan pertanian mereka.
Banyumas
Pada malam 22–23 Februari, Sungai Serayu meluap sedemikian besar sehingga air mencapai ketinggian sekitar 30 kaki di jalan raya utama.
Banjir datang begitu mendadak sehingga penduduk terpaksa menyelamatkan diri ke atap rumah dan ke pepohonan.
Beberapa penduduk Eropa bertahan selama 36 jam di atas atap rumah.
Bahkan pakaian mereka pun tidak sempat diselamatkan.
Pada 25 Februari, air telah surut cukup banyak.
Jalan utama menuju pusat kota telah bebas dari genangan; hanya lapisan lumpur yang masih tertinggal.
Penderitaan masyarakat sangat besar. Seluruh penduduk yang belum diselamatkan dengan perahu terpaksa mengungsi dengan berjalan kaki ke daerah yang lebih tinggi.
Bupati Banyumas, sebagaimana halnya Residen, melakukan segala upaya untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang tertimpa bencana. Bahan makanan didatangkan dari berbagai penjuru.
Pemandangan di ibu kota Banyumas sangat memilukan. Hingga 27 Februari, jumlah korban yang tenggelam masih belum dapat dipastikan.
Seluruh kuda, sapi, dan ternak lainnya mati tenggelam.
Semua bangunan batu mengalami kerusakan berat, sedangkan sebagian besar rumah bambu roboh.
Seluruh penduduk Eropa berhasil diselamatkan.
Sebuah telegram tertanggal 26 Februari melaporkan:
Distrik Cilacap. Di ibu kota distrik keadaan tetap aman; Distrik Adirejo sempat mengalami banjir di beberapa bagian.
Distrik Purbalingga. Banyak desa terdampak, tetapi tingkat kerusakannya relatif ringan.
Distrik Purwokerto. Banyak desa mengalami kerusakan; kebutuhan pangan bagi penduduk yang terdampak telah diupayakan.
Distrik Banjarnegara. Jembatan-jembatan hanyut terbawa arus dan hubungan dengan daerah pegunungan serta Wonosobo terputus. Namun demikian, tidak terdapat ancaman serius bagi keselamatan penduduk.
Distrik Banyumas. Distrik Kaliredjo dan Poerworedjo sebagian besar terendam banjir sehingga menimbulkan kerusakan yang besar.
Distrik Soekaradja mengalami penderitaan yang berat, sedangkan Distrik Banyumas menderita kerusakan yang sangat dahsyat. Besarnya bencana ini melampaui segala gambaran.
Di sekitar rumah-rumah menumpuk lumpur, batang-batang pohon, peralatan, dan berbagai benda lainnya hingga setinggi sekitar tiga kali tinggi badan manusia.
Pada 26 Februari, air telah surut, tetapi akibatnya masih tampak jelas; pohon-pohon tumbang dan reruntuhan rumah berserakan di mana-mana.
Seluruh lembah tertutup lapisan lumpur yang di beberapa tempat mencapai 4–5 kaki. Pada hari itu 2.700 orang menerima bantuan makanan.
Residen bersama 40 orang Eropa berlindung di sebuah rumah bambu kecil. Untuk sementara waktu, pembukaan kembali kantor-kantor pemerintahan belum memungkinkan.
Semangat masyarakat tetap baik. Pembagian beras secara cepat memberikan pengaruh yang sangat positif terhadap keadaan mereka.
Pada saat bahaya mencapai puncaknya, seluruh tahanan dibebaskan. Jika tidak, mereka akan tenggelam.
Untuk sementara waktu belum mungkin dilakukan penangkapan kembali terhadap mereka.
Banyaknya mayat manusia dan bangkai hewan yang memenuhi lembah mulai membusuk dan menimbulkan bau yang sangat menyengat.
Pada 1 Maret, sekitar 1.000 orang dari berbagai distrik telah dikerahkan untuk mengumpulkan dan membersihkan mayat serta bangkai hewan tersebut.
Di kota terjadi banyak pencurian, yang diduga dilakukan oleh para tahanan yang telah dibebaskan maupun oleh para penjahat lainnya.
Kepolisian masih belum dapat menjalankan tugasnya secara normal.
Pada 28 Maret, pemerintah telah menyalurkan bantuan makanan kepada 6.845 orang.
Jenazah-jenazah kemudian dimakamkan di daerah perbukitan untuk mencegah dampak lebih lanjut.
Semangat masyarakat maupun penduduk Eropa tetap baik.
Atas perintah pemerintah, dua kapal bermuatan bahan makanan diberangkatkan dari Batavia menuju Cilacap.
Kepada para kepala pemerintahan daerah di Pulau Jawa maupun di luar Jawa, pemerintah mengirimkan surat edaran berikut.
Berdasarkan berita resmi, Tuan tentu telah mengetahui bencana yang menimpa Jawa Tengah.
Akibat naiknya permukaan air yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga mencapai tingkat setinggi itu, serta banjir besar yang menyertainya, banyak keluarga—apabila tidak tersapu oleh banjir—telah tenggelam dalam duka yang mendalam. Tanah longsor yang terjadi di berbagai tempat semakin memperparah penderitaan tersebut.
Kerugian berupa hilangnya nyawa manusia, harta benda, serta hasil panen yang melimpah sangatlah besar.
Namun, sebesar apa pun rasa iba terhadap mereka yang secara tiba-tiba dan tanpa persiapan tertimpa musibah, nasib mereka yang selamat di daerah-daerah yang paling parah terdampak juga sama menyedihkannya, karena mereka kehilangan bahkan kebutuhan pangan yang paling mendasar.
Pemerintah telah melakukan segala sesuatu yang berada dalam kewenangannya untuk mencegah dan mengurangi bencana tersebut.
Akan tetapi, pemerintah tidak mungkin mengatasi semuanya seorang diri. Perikemanusiaan menuntut agar setiap orang memberikan bantuan sesuai dengan kemampuannya. Sebagai kewajiban warga negara, setiap penduduk hendaknya menyumbangkan sesuatu yang dapat membantu meringankan penderitaan akibat bencana umum ini.
Seruan seperti ini di Hindia Belanda belum pernah diabaikan. Bahkan, belum pernah ada seruan yang memiliki peluang sebesar sekarang untuk memperoleh dukungan masyarakat. Diharapkan pula agar seruan ini mendapat sambutan yang baik di Negeri Belanda.
Agar mereka yang ingin memberikan bantuan berupa sumbangan uang memperoleh kesempatan untuk melakukannya, para kepala pemerintahan daerah diminta segera menyusun dan mengedarkan daftar sumbangan di wilayah masing-masing, serta setiap minggu melaporkan jumlah sumbangan yang diterima melalui surat kabar resmi. Direktur Keuangan beserta instansi terkait akan diberikan petunjuk mengenai tata cara pengiriman dan penggunaan dana tersebut.
Yang Mulia Gubernur Jenderal mengharapkan agar instruksi ini segera dilaksanakan.
Sekretaris Jenderal,
A. Loudon
Korban jiwa yang ditimbulkan sangat mengerikan. Sebanyak 1.558 orang dilaporkan meninggal dunia di Karesidenan Bagelen, termasuk 819 orang dewasa, jumlah yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain yang terdampak (Putte, 1864). Surat kabar kolonial memberikan rincian tragedi tersebut. Di Distrik Loano, lebih dari 200 orang meninggal dunia, sedangkan di Bagelen Selatan korban mencapai sekitar 500 orang (sumber: Loudon, A. (Algemeen Secretaris van de Nederlandsch-Indische Regering). Circulaire aan de Hoofden van het Gewestelijk Bestuur. Dimuat dalam rubrik Binnenlandsche Berigten, De Stem. Christelijk Tijdschrift, 3 Mei 1861, hlm. 211–213.).
Bahkan para pemimpin lokal yang seharusnya melindungi masyarakat tidak luput dari bencana. Banyak kepala desa dan pejabat pribumi kehilangan anggota keluarganya. Hal ini menunjukkan bahwa kehancuran akibat banjir menjangkau seluruh lapisan masyarakat (Batavia, 1861).
Di bidang infrastruktur, kerusakan menyebabkan lumpuhnya sarana transportasi dan komunikasi. Di Bagelen Selatan, enam jembatan besar hancur, termasuk dua jembatan penting pada Jalan Raya Pos di sebelah selatan Purworejo. Di Distrik Ledok, hampir seluruh jembatan rusak atau hanyut sehingga hanya tersisa satu jembatan yang masih dapat digunakan (Loudon, A. (Algemeen Secretaris van de Nederlandsch-Indische Regering). Circulaire aan de Hoofden van het Gewestelijk Bestuur. Dimuat dalam rubrik Binnenlandsche Berigten, De Stem. Christelijk Tijdschrift, 3 Mei 1861, hlm. 211–213.).
Kerusakan tersebut diperparah oleh jebolnya tanggul serta rusaknya jalan di antara Kali Gebang dan Kali Jali (Batavia, 1861). Selain itu, jaringan telegraf yang menghubungkan Kutoarjo dengan Magelang terputus di lima lokasi karena tertimbun lumpur (De Overstrooming op Java, 1861). Akibatnya, komunikasi resmi antarwilayah terhenti dan koordinasi penanggulangan bencana menjadi sangat terhambat. Putusnya jalur transportasi juga mengisolasi desa-desa terpencil sehingga distribusi bantuan mengalami banyak kendala. Keadaan ini menunjukkan bahwa bencana alam tersebut sekaligus memperlihatkan kegagalan sistem logistik dan komunikasi kolonial dalam menghadapi keadaan darurat.
Banjir tahun 1861 juga memberikan pukulan berat terhadap perekonomian Karesidenan Bagelen yang saat itu berada di bawah sistem kolonial. Koloniaal Verslag tahun 1861 mencatat kerugian mencapai 681.271,63 gulden, menjadikan Bagelen sebagai wilayah dengan kerugian terbesar di antara seluruh daerah yang terdampak (Putte, 1864).
Sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung perekonomian, mengalami kehancuran hampir total. Sekitar 31.834 hektare sawah dan lahan tanaman palawija tertutup lumpur dan pasir dengan ketebalan antara satu hingga tiga meter. Luas kerusakan tersebut mencapai empat kali lipat dibandingkan yang dialami Karesidenan Banyumas, sehingga memperlihatkan betapa dahsyatnya dampak banjir di Bagelen (Putte, F. van de. (1864). Koloniaal Verslag 1861. I.D. Fransen van de Putte selaku Minister van Koloniën (Menteri Urusan Koloni) Koloniaal Verslag over 1861).
Komoditas ekspor penting seperti nila (indigo) juga mengalami kerusakan besar. Ribuan hektare lahan tanaman nila rusak sehingga panen harus ditunda (Putte, F. van de. (1864). Koloniaal Verslag 1861. I.D. Fransen van de Putte selaku Minister van Koloniën (Menteri Urusan Koloni) Koloniaal Verslag over 1861). Selain itu, sistem irigasi mengalami kehancuran hampir menyeluruh. Hampir seluruh saluran pengairan sawah rusak akibat terjangan arus deras dan endapan lumpur (Wijck, 1865).
Di Distrik Ambal, banjir menghancurkan sekitar 15.000 rumpun padi, sehingga musim tanam berikutnya pada bulan Mei terganggu (Loudon, 1861). Di wilayah selatan Jalan Raya Pos, genangan air yang datang dari berbagai arah menimbulkan persoalan drainase yang serius. Rawa Wawar, yang merupakan satu-satunya jalur pembuangan air menuju laut melalui Kali Lerang, tidak mampu lagi menampung limpasan dari Sungai Jali, Gebang, Kedungtawon, dan Bener. Akibatnya, sekitar 8.000 petak sawah di sekitar rawa mengalami kerusakan berat. Banyak saluran irigasi lainnya juga rusak, sementara ribuan hektare lahan pertanian tertutup lumpur (Quack, 1862; Wijck, 1865).
Banjir juga menghilangkan berbagai aset produktif masyarakat. Sebanyak 10.141 rumah roboh atau hanyut, yang sebagian besar merupakan rumah berbahan bambu dan kayu. Selain itu, 848 ekor kerbau, 1.090 ekor sapi, dan 83 ekor kuda dilaporkan mati atau hilang. Sebanyak 16.976 petak sawah dan 2.170 lahan tanaman nila terendam sehingga hasil panennya rusak (Batavia, 1861).
Lebih dari dua juta pohon musnah akibat banjir, sementara kegiatan penanaman tahunan mengalami penundaan (Sumber : Putte, F. van de. (1864). Koloniaal Verslag 1861. I.D. Fransen van de Putte selaku Minister van Koloniën (Menteri Urusan Koloni) Koloniaal Verslag over 1861). Diperkirakan sekitar 50.000 penduduk kehilangan seluruh harta bendanya, termasuk peralatan bertani dan persediaan bahan makanan yang mereka miliki (Wijck, 1865).
Bagian ini merupakan inti deskripsi kehancuran akibat banjir 1861. Salah satu temuan yang paling penting adalah keterangan sumber primer kolonial yang menyatakan bahwa Kutoarjo "hampir terhapus dari muka bumi" (virtually erased from the face of the earth), yang menunjukkan bahwa wilayah tersebut termasuk kawasan yang mengalami dampak paling dahsyat.
Jika dalam laporan surat kabar Java Bode pada 6 April 1861 disebutkan di Ambal tidak ada korban, barangkali karena belum teridentifikasi dengan baik. Sementara dalam surat kabar Javaasche Courant 2 dan 6 Maret 1861 yang dikutip Nieuwe Rotterdamsche Courant 28 April 1861 disebutkan bahwa orang-orang Ambal telah melarikan diri ke bukit-bukit pasir.
Lebih dari 700 orang telah tewas. Sejak 26 Februari, situasinya membaik. Kabel telegraf telah digali hingga ke perbatasan Kedu. Sungai-sungai mulai surut pada tanggal itu. angka tersebut merupakan korban yang berhasil didata saat itu, karena kemungkinan jumlah sebenarnya lebih besar.
Sementara itu, debit air di Bendung Bedegolan mencapai ketinggian lebih dari 40 kaki atau kisaran 12,92 meter dan meluap mencapai desa Jlegi dan menghancurkan areal pesawahan dan rumah warga desa.
Di zaman dahulu, terdapat sebuah rawa besar bernama Rawa Wawar yang terhampar di antara perbatasan Kabupaten Kebumen dan Purworejo. Terbentuknya Rawa Wawar dipengaruhi oleh keberadaan bentangan bukit pasir di selatannya yang dikenal sebagai Urut Sewu.
Hal ini menyebabkan sejumlah sungai di utaranya tidak dapat mengalirkan airnya langsung ke laut dan menggenang menjadi sebuah rawa. Pada tahun 1830, dibangun sebuah jalan yang menghubungkan Kutoarjo dan Kebumen. Jalan tersebut membelah Rawa Wawar dan menurut kesaksian Residen Bagelen pertama Valck, jalan tersebut mengingatkannya pada sebuah tanggul. Pada tahun 1834, sebuah muara baru digali di Truntung sehingga air dari Sungai Luk Ulo dapat langsung mengalir ke laut. Sebagian hamparan rawa mengering dan akhirnya menjadi dataran baru yang dapat digunakan untuk kegiatan pertanian. Namun hal tersebut menyisakan masalah karena saat musim hujan dataran tersebut kerap tergenang banjir. Salah satu yang paling parah terjadi pada tahun 1861. Oleh karena itu, antara tahun 1861 dan 1870, sejumlah upaya dilakukan untuk membenahi sistem drainase di sana. Misalnya dengan membuat bendung di Sungai Kedungbener dan menggali saluran penghubung dari sungai itu ke Sungai Lok Ulo pada tahun 1861. (Sumber : Van Doorn. 1926. Schets van de economische ontwikkeling der afdeeling Poerworedjo. Weltevreden : G. Kolff & Co.)
Banjir Bandang Di Eks Kabupaten Kutoarjo dan seluruh Jawa Tengah bagian selatan termasuk solo di lukiskan oleh pelukis terkenal Raden Shaleh.
Banjir besar tahun 1861 merupakan salah satu bencana hidrologi terbesar dalam sejarah Jawa Tengah, khususnya wilayah bagian selatan, pada abad ke-19. Dampaknya yang sangat luas mendorong pemerintah kolonial bersama para bupati di Karesidenan Bagelen untuk melakukan berbagai upaya penanggulangan banjir melalui pembangunan infrastruktur pengelolaan air, seperti bendung, sodetan sungai, saluran drainase, serta perbaikan jaringan irigasi.
Di Kabupaten Kutoarjo, upaya tersebut diwujudkan melalui penataan aliran Sungai Jali dan pembangunan Kanal Saudagaran (Kali Pereng), yang berfungsi mengurangi luapan air menuju Kota Kutoarjo ketika musim penghujan. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam mengendalikan banjir sekaligus melindungi pusat pemerintahan, permukiman, dan lahan pertanian.
Dengan demikian, bencana tahun 1861 tidak hanya meninggalkan jejak penderitaan dan kerusakan yang mendalam, tetapi juga menjadi momentum penting lahirnya pembenahan sistem tata kelola air di wilayah eks Kabupaten Kutoarjo dan sekitarnya. Jejak upaya tersebut masih dapat dikenali hingga kini dan menjadi warisan sejarah yang menunjukkan pentingnya pengelolaan lingkungan serta mitigasi bencana bagi generasi masa kini dan mendatang.
Koran Surat Kabar Samarangsch Advertentie-Blad
van Vrijdag 1 Maart 1861. No. 9.
Menuliskan mengenai banjir besar Bulan Februari Tahun 1861 di Jawa
Menuliskan mengenai banjir besar Bulan Februari Tahun 1861 di Jawa termasuk melanda Kutoarjo adalah sebagai berikut :
EXTRA-BIJVOEGSEL
BEHOORENDE BIJ HET
Samarangsch Advertentie-Blad
van Vrijdag 1 Maart 1861. No. 9.
Kartasoera nabij Solo, 24 Febr. 1861.
God zij dank! ik ben gered! Gisteren middag 12 ure heb ik per prauw het dak van mijn huis kunnen verlaten, waarin ik den geheelen nacht, gezeten heb. 17 voet was het water in mijn huis toen ik het om twaalf uur verliet. De Europeanen zaten op de daken en schreeuwden om hulp. Hoevele Javanen dood zijn, mag God weten; overal lijken van mannen, vrouwen en kinderen, paarden, karbouwen enz.
Mijn geheele apotheek is vernield. Alle meubelen, mijne paarden verdronken. Gisteren avond is het water nog 1 voet gerezen.
De paarden van Mevrouw v. Z.... staan boven in de eerste verdieping van het huis van V.............. . Nooit zag men zulk eene ramp. ...
P.S. God zij dank! daar komt zoo even bericht, dat het water 2½ voet gezakt is. Mijn huis staat onbeschadigd. Alle Europeanen zijn op de wallen van het fort. Ik ga per prauw naar de stad. Deel dezen aan al mijne vrienden mede. Zeg aan den Heer B.... dat H.... met zijne dochters boven op het balkon stonden, toen ik om 12 uur in de prauw voorbij kwam. In het residentiehuis stond het water tot onder de stolp. In de kazerne bij den keizer 4 voet hoog. Ik hoor dat Dr. H...... in zijn huis gebleven is. Nooit heeft zoo iets op Solo plaats gehad. De hoogste bandjir van vroeger was 1 voet in mijn huis.
Afgezonden Zondag middag 2 uur van Kartasoera.
---
Terjemahan Bahasa Indonesia :
"Lampiran Khusus Surat Kabar Samarangsch Advertentie-Blad
Jumat, 1 Maret 1861, No. 9
Kartasura dekat Solo, 24 Februari 1861
Syukur kepada Tuhan! Aku selamat!
Kemarin siang pukul 12 saya akhirnya dapat meninggalkan atap rumah saya dengan menggunakan perahu, tempat saya bertahan sepanjang malam. Ketika saya meninggalkan rumah pada pukul dua belas siang, ketinggian air di dalam rumah mencapai 17 kaki (sekitar 5,18 meter).
Orang-orang Eropa berada di atas atap rumah sambil berteriak meminta pertolongan. Berapa banyak orang Jawa yang meninggal, hanya Tuhan yang mengetahui. Di mana-mana terlihat mayat laki-laki, perempuan, anak-anak, kuda, kerbau, dan hewan lainnya.
Seluruh apotek saya hancur. Semua perabot rumah tangga rusak, dan kuda-kuda saya tenggelam. Hingga tadi malam air bahkan masih naik sekitar 1 kaki lagi.
Kuda-kuda milik Nyonya v. Z.... kini berada di lantai dua rumah V......... Belum pernah terlihat bencana sebesar ini.
P.S. Syukur kepada Tuhan! Baru saja datang kabar bahwa air telah surut sekitar 2½ kaki. Rumah saya ternyata tetap utuh dan tidak rusak. Semua orang Eropa kini berada di benteng pertahanan. Saya akan pergi ke kota menggunakan perahu.
Sampaikan berita ini kepada semua sahabat saya. Beritahukan kepada Tuan B.... bahwa H.... bersama putri-putrinya masih berada di balkon lantai atas ketika saya melintas dengan perahu pada pukul 12 siang.
Belum pernah terjadi bencana seperti ini di Solo. Banjir tertinggi yang pernah terjadi sebelumnya hanya mencapai sekitar 1 kaki di dalam rumah saya.
Dikirim dari Kartasura pada hari Minggu pukul 2 siang."
Kesaksian ini mempunyai Nilai historis dan
merupakan sumber primer yang sangat penting mengenai banjir besar Februari 1861 di Jawa. Laporan ini memperlihatkan bahwa :
Di Kartasura–Solo tinggi genangan di dalam rumah mencapai 17 kaki (±5,18 meter).
Orang-orang menyelamatkan diri ke atap rumah dan dievakuasi menggunakan perahu.
Korban jiwa manusia dan ternak sangat banyak.
Kerusakan harta benda berlangsung secara luas.
Penulis menyebut banjir tersebut sebagai banjir terbesar yang pernah terjadi di Solo hingga saat itu.
Kesaksian ini memperkuat laporan-laporan sezaman dari Javaasche Courant, Nieuwe Rotterdamsche Courant, dan Java Bode bahwa banjir besar Februari 1861 merupakan bencana regional yang melanda sebagian besar Jawa Tengah, termasuk Kutoarjo, Bagelen, Kedu, Banyumas, Surakarta, Yogyakarta, hingga wilayah pesisir selatan.
Berdasarkan sintesis dari Javasche Courant, Java Bode, Bataviaasch Handelsblad, Oostpost Soerabayasche Courant, Nieuwe Rotterdamsche Courant, Koloniaal Verslag 1861, dan Gedenkboek van den Watersnood in 1861, kronologi banjir besar di Karesidenan Bagelen dapat disusun sebagai berikut :
- Kronologi Banjir Besar Bagelen Tahun 1861
- Akhir Desember 1860 – Januari 1861 Bagelen mengalami musim yang tidak biasa, yakni kekeringan dan hawa panas berkepanjangan. Tanah menjadi retak-retak sehingga daya serap air menurun ketika hujan datang.
- 19 Februari 1861 Angin kencang mulai bertiup dari arah barat daya, menandai perubahan cuaca yang ekstrem.
- 20 Februari 1861 Hujan deras mulai mengguyur wilayah Bagelen dan daerah sekitarnya. Intensitas hujan terus meningkat sepanjang malam.
- 21–23 Februari 1861 (Puncak Bencana) Badai disertai hujan sangat lebat menyebabkan sungai-sungai besar seperti Bogowonto, Progo, Serayu, dan Bengawan Solo meluap. Air bah menerjang Karesidenan Bagelen, terutama Koetoardjo (Kutoarjo), Prembun, Ambal, Ledok, dan wilayah menuju Kebumen. Sawah yang hampir panen hancur, ribuan bouw lahan pertanian terendam, rumah-rumah hanyut, jalan dan jembatan putus, serta jaringan telegraf rusak.
- 26–27 Februari 1861 Laporan resmi pertama diterbitkan dalam Javasche Courant. Disebutkan bahwa: Kerusakan di Prembun sama besarnya dengan Koetoardjo, Penduduk Ambal mengungsi ke gumuk pasir pantai, Lebih dari 700 orang diperkirakan meninggal di wilayah Ambal, Di Ledok korban diperkirakan sekitar 300 orang, Harga beras di Purworejo melonjak hingga ƒ20 per pikul karena jalur distribusi terputus.
- Awal Maret 1861 Air mulai surut. Jalur telegraf ke Magelang kembali berfungsi. Pemerintah kolonial mulai membuka kembali jalan menuju Kedu, meskipun kendaraan masih belum dapat melintas.
- 16–20 Maret 1861 Surat kabar Javasche Courant, Java Bode, Bataviaasch Handelsblad, dan Oostpost Soerabayasche Courant memuat laporan lanjutan mengenai besarnya kerusakan, korban jiwa, dan upaya perbaikan infrastruktur oleh pemerintah kolonial.
- 17 April 1861 Berita banjir Jawa mulai dimuat di surat kabar Belanda, termasuk De 's-Gravenhaagsche Nieuwsbode, sehingga bencana ini diketahui luas di negeri Belanda.
- 28 April 1861 Nieuwe Rotterdamsche Courant menerbitkan artikel "De Overstrooming op Java", yang merangkum kondisi di Bagelen, Kutoarjo, Kebumen, Ambal, dan Ledok berdasarkan laporan resmi pemerintah Hindia Belanda.
- 3 Mei 1861 Surat edaran banjir 1861 ditandatangani James Loudon sebagai Sekretaris Jenderal Pemerintah Hindia Belanda. Loudon, A. (Algemeen Secretaris van de Nederlandsch-Indische Regering). Circulaire aan de Hoofden van het Gewestelijk Bestuur. Dimuat dalam rubrik Binnenlandsche Berigten, De Stem. Christelijk Tijdschrift, 3 Mei 1861, hlm. 211–213.
- Tahun 1862 J. Quack menerbitkan Gedenkboek van den Watersnood in 1861, yang mendokumentasikan banjir besar 1861 di Belanda maupun Hindia Belanda beserta data korban, kerusakan, dan bantuan pemerintah.
- Tahun 1864 . Putte, F. van de. (1864). Koloniaal Verslag 1861. I.D. Fransen van de Putte selaku Minister van Koloniën (Menteri Urusan Koloni) Koloniaal Verslag over 1861 adalah laporan tahunan resmi Pemerintah Belanda kepada Staten-Generaal (Parlemen Belanda) mengenai keadaan Hindia Belanda pada tahun 1861. Laporan ini diterbitkan pada tahun 1864 dan ditandatangani oleh Putte, F. Van De. (1864
Untuk sejarah Kabupaten Kutoarjo, peristiwa banjir tahun 1861 sangat penting karena menunjukkan bahwa Kutoarjo merupakan salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah di Karesidenan Bagelen, sejajar dengan Prembun. Peristiwa ini juga berdampak besar pada pertanian, transportasi, komunikasi (telegraf), dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat, sehingga layak dijadikan satu bab tersendiri dalam sejarah Kabupaten Semawung/Kutoarjo.
Sintesis berbagai sumber primer menunjukkan bahwa banjir Februari 1861 merupakan bencana hidrometeorologi terbesar yang pernah tercatat di Karesidenan Bagelen pada abad ke-19. Kabupaten Semawung (Kutoarjo) termasuk wilayah yang menerima dampak paling berat bersama Prembun dan Purworejo. Besarnya kerusakan mendorong pemerintah kolonial melakukan pembenahan tata kelola air melalui pembangunan bendung, sodetan sungai, kanal, serta perbaikan jaringan drainase yang menjadi cikal bakal sistem pengendalian banjir di wilayah eks Kabupaten Kutoarjo pada paruh kedua abad ke-19.
Analisis mengenai hubungan banjir 1861 dengan kebijakan kolonial, perubahan tata guna lahan serta dampaknya pada masyarakat karesidenan bagelen khususnya kabupaten Kutoarjo
Sejak berakhirnya Perang Jawa (1830), Karesidenan Bagelen dimasukkan ke dalam sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa). Pemerintah kolonial memperluas lahan tanaman ekspor, terutama nila (indigo) dan kopi, serta memperkuat birokrasi kolonial hingga tingkat kabupaten dan desa. Tujuan utamanya adalah meningkatkan produksi komoditas ekspor untuk kepentingan kas pemerintah kolonial, bukan untuk memperkuat ketahanan lingkungan maupun kesejahteraan masyarakat. Campur tangan besar-besaran pemerintah kolonial dalam sektor pertanian selama masa Cultuurstelsel (Sistem Tanam Paksa) menyebabkan puluhan ribu keluarga petani mengalokasikan tenaga kerja dan lahannya demi kepentingan ekonomi kolonial. Penanaman tanaman nila (indigo) yang memerlukan pengawasan terus-menerus selama sekitar tujuh bulan memaksa banyak laki-laki meninggalkan sawah pangan mereka, sehingga tanaman pangan sering kali tidak terurus.
Proses eksploitasi ini diperkuat oleh sistem perdagangan yang terpusat. Hasil produksi pemerintah kolonial dikirim melalui Pelabuhan Cilacap, sedangkan hasil produksi masyarakat pribumi diangkut melalui jalur darat menuju karesidenan-karesidenan di sekitarnya (Veth, 1861). Kondisi tersebut menyebabkan Bagelen menjadi wilayah yang secara ekonomi sangat bergantung pada daerah lain (Dipradja & Sampurno, 2023).
Meningkatnya kebutuhan tenaga kerja dan lahan selama pelaksanaan Cultuurstelsel juga memicu ledakan jumlah penduduk. Dengan luas sawah yang terbatas untuk setiap keluarga, pertambahan penduduk tidak diimbangi dengan perluasan lahan pertanian. Masyarakat desa dipaksa mencari cara agar lahan yang sempit mampu menghidupi jumlah penduduk yang terus bertambah.
Fenomena ini mencerminkan semakin rumitnya pengelolaan sawah melalui kerja sama yang semakin intensif dan sistem bagi hasil yang semakin kompleks, tetapi tanpa peningkatan kesejahteraan masyarakat per kapita (Syahbuddin, 2018).Dalam kondisi terdesak, masyarakat mengonsumsi apa pun yang masih tersisa. Koloniaal Verslag tahun 1861 juga mencatat penurunan tajam jumlah ternak, karena banyak hewan dipotong sebagai sumber makanan selama krisis pascabanjir (Putte, F. van de. (1864). Koloniaal Verslag 1861. I.D. Fransen van de Putte selaku Minister van Koloniën (Menteri Urusan Koloni) Koloniaal Verslag over 1861).
Tragedi ini juga mengguncang tatanan sosial dan pemerintahan desa. Laporan resmi mengenai banjir 1861 mencatat meninggalnya sejumlah kepala desa dan anggota keluarga pejabat pribumi, termasuk lima anak Asisten Wedana serta istri Kepala Distrik Kutoarjo (Quack, 1862). Kehilangan tersebut menciptakan kekosongan kepemimpinan pada saat masyarakat sedang menghadapi masa yang paling kritis.
Di tengah kekacauan itu, tindak pencurian dan penjarahan meningkat, terutama di wilayah Kemiri (Batavia, 1861). Selain itu, muncul pula gerakan perlawanan berskala kecil terhadap pemerintah kolonial di perbatasan Bagelen dan Yogyakarta, meskipun segera berhasil dipadamkan oleh pemerintah (Putte, 1864).
Walaupun demikian, masyarakat Bagelen menunjukkan tingkat ketahanan sosial yang luar biasa. Laporan kolonial menyebutkan bahwa masyarakat tetap tenang dan penuh semangat, serta memperlihatkan keteguhan yang patut dicontoh dalam menghadapi berbagai upaya provokasi setelah bencana (Sumber : Putte, F. van de. (1864). Koloniaal Verslag 1861. I.D. Fransen van de Putte selaku Minister van Koloniën (Menteri Urusan Koloni) Koloniaal Verslag over 1861 adalah laporan tahunan resmi Pemerintah Belanda kepada Staten-Generaal (Parlemen Belanda) mengenai keadaan Hindia Belanda pada tahun 1861. Laporan ini diterbitkan pada tahun 1864).
Sikap tenang dan solidaritas tersebut bukan berasal dari bantuan pemerintah, melainkan dari modal sosial yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Mereka tidak menunggu bantuan dari luar, tetapi segera bergerak membantu diri sendiri.
Setelah air surut, masyarakat bergotong royong membersihkan lumpur, memperbaiki saluran air, serta membangun kembali rumah-rumah mereka dengan memanfaatkan kayu-kayu yang terbawa arus banjir (Batavia, 1861; Wijck, 1865).
Semangat gotong royong menjadi mekanisme utama bertahan hidup dalam masyarakat yang mengalami involusi pertanian. Walaupun kerusakan infrastruktur menyebabkan banyak desa terisolasi, kerja sama antarmasyarakat menjadi kunci utama pemulihan (Batavia, 1861).
Ketahanan ini menunjukkan kemampuan masyarakat Bagelen untuk bangkit dari bencana dengan mengandalkan sumber daya dan modal sosial yang telah dimiliki jauh sebelum datangnya pemerintahan kolonial.
Perubahan tata guna lahan menjadi salah satu faktor yang memperbesar dampak banjir. Sebagian lahan sawah dan tanah produktif dialihkan untuk tanaman ekspor. Kepadatan penduduk meningkat sangat pesat sehingga permukiman meluas ke dataran rendah dan bantaran sungai. Kawasan rawa dan daerah resapan di dataran Bagelen semakin dimanfaatkan untuk pertanian dan permukiman. Sungai-sungai seperti Sungai Bogowonto, Sungai Jali, Sungai Tepus, Gebang, Lokulo, dan Lerang menerima limpasan yang lebih besar, sementara dataran rendah Bagelen memang secara alami merupakan kawasan rawan genangan.
Walaupun belum ada bukti langsung bahwa pemerintah kolonial menyebabkan banjir melalui penggundulan hutan secara masif, kebijakan eksploitasi agraria dan intensifikasi pertanian telah menciptakan kerentanan struktural, sehingga ketika hujan ekstrem terjadi pada Februari 1861, dampaknya menjadi jauh lebih besar daripada sekadar bencana alam.
- hancurnya permukiman penduduk,
- rusaknya sawah, irigasi, dan lahan pertanian.
- terputusnya jalan dan jembatan yang menghubungkan Kutoarjo dengan Purworejo dan daerah lain,
- banyaknya korban jiwa, termasuk aparat desa dan keluarga para pejabat pribumi;
- menurunnya produksi pangan serta tanaman ekspor sehingga masyarakat kehilangan sumber penghidupan.
Pemerintah kolonial memang mengalokasikan dana untuk perbaikan infrastruktur dan penataan kembali wilayah terdampak. Namun, tujuan utamanya adalah memulihkan kemampuan produksi ekonomi kolonial, terutama agar hasil pertanian dan tanaman ekspor kembali mengalir. Dengan demikian, rehabilitasi pascabencana lebih berorientasi pada kepentingan ekonomi pemerintah kolonial daripada pembangunan ketahanan masyarakat lokal.
Kabupaten Kutoarjo dilebur dengan Kabupaten Purworejo Pada 1 Januari 1934 (Sumber : Linck, 1935:1) disebabkan karena Resesi Dunia, setelah itu Kutoarjo turun statusnya sebagai ibukota Kawedanan dari Kabupaten Purworejo, Berdasarkan sumber resmi pemerintah kolonial Hindia Belanda, Kabupaten Koetoardjo (Kutoarjo) dihapuskan pada tahun 1933. Amar keputusan tersebut dimuat dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indië 1933 No. 310 (Lembaran Negara Hindia Belanda Tahun 1933 Nomor 310).
Keputusan ini merupakan bagian dari reorganisasi pemerintahan kolonial akibat kebijakan penghematan pada masa Depresi Besar (Malaise). Melalui kebijakan tersebut, beberapa kabupaten dihapus dan wilayahnya digabungkan dengan kabupaten lain.
Untuk Koetoardjo, wilayahnya kemudian digabungkan ke Kabupaten Purworejo, dan perubahan administrasi tersebut mulai berlaku pada 1 Januari 1934. Keterangan ini juga diperkuat oleh : Linck, J. A. (1935). De Reorganisatie van het Binnenlandsch Bestuur in Nederlandsch-Indië. Batavia: Landsdrukkerij dan Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1934, yang sudah tidak lagi mencantumkan Kabupaten Koetoardjo sebagai kabupaten tersendiri.
- 1933 → Terbit Staatsblad van Nederlandsch-Indië No. 310 Tahun 1933 yang menetapkan penghapusan Kabupaten Koetoardjo.
- 1 Januari 1934, Keputusan mulai diberlakukan; Kabupaten Koetoardjo resmi dihapus dan wilayahnya dimasukkan ke Kabupaten Purworejo.
Ini merupakan dasar hukum yang paling otoritatif mengenai berakhirnya status Kabupaten Koetoardjo pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Dengan demikian, banjir besar 1861 di Karesidenan Bagelen khususnya Kabupaten Kutoarjo dapat dipahami sebagai hasil interaksi antara faktor alam (curah hujan ekstrem, meluapnya Sungai Bogowonto dan sungai-sungai lainnya, serta topografi dataran rendah) dengan faktor struktural kolonial (Cultuurstelsel, perubahan tata guna lahan, intensifikasi pertanian, dan kepadatan penduduk). Oleh karena itu, besarnya kerusakan yang terjadi bukan semata-mata disebabkan oleh kekuatan alam, melainkan juga oleh kerentanan sosial-ekonomi yang telah dibentuk oleh kebijakan kolonial sejak dekade 1830-an. Analisis ini memberi perspektif bahwa bencana 1861 merupakan bencana ekologis sekaligus bencana kolonial, karena dampaknya diperparah oleh struktur ekonomi dan tata ruang yang dirancang untuk kepentingan eksploitasi kolonial.
Penulis : Ndandung Kumolo Adi
Sumber :
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2025). Indeks Risiko Bencana Indonesia Tahun 2024.
- Jhr. P.J. Boreel. 1901. De verbetering der soedagaran leiding dalam de ingeneur no. 35
- Loudon, A. (Algemeen Secretaris van de Nederlandsch-Indische Regering). Circulaire aan de Hoofden van het Gewestelijk Bestuur. Dimuat dalam rubrik Binnenlandsche Berigten, De Stem. Christelijk Tijdschrift, 3 Mei 1861, hlm. 211–213.
- s Gravenhage, 26 April 1861.H. Joffers, v.d.m.: Dimuat dalam rubrik Binnenlandsche Berigten, De Stem halaman 214. Den Haag, 26 April 1861.
- Oostpost Soerabayasche Courant (19 Maret 1861), Nederlandsch-Indie
- Koran Java-Bode: Nieuws-, Handels- en Advertentieblad voor Nederlandsch-Indië, No. 36, Batavia, 7 Mei 1862, hlm. iklan. Nomor iklan 1833 pada cuplikan yang di tandai adalah nomor iklan yang muncul pada pengumuman pameran lukisan Raden Saleh di edisi Java-Bode.
- Surat Kabar Samarangsch Advertentie-Blad, Extra-Bijvoegsel, 1 Maret 1861, No. 9, memuat laporan "Kartasoera nabij Solo, 24 Feb. 1861", "Poerworedjo, 25 Februari 1861", "Telegram", dan "Ingezonden Stukken" mengenai banjir besar di Jawa tahun 1861.
- Watersnood op Java. (1861). De ’s-Gravenhaagsche Nieuwsbode.
- Watersnood. (1861). Java Bode, 1–6.
- De 's-Gravenhaagsche Nieuwsbode (1861). Watersnood op Java.
- Surat kabar Javaasche Courant 2 dan 6 Maret 1861
- Surat kabar Nieuwe Rotterdamsche Courant 28 April 1861
- Javaasche Courant tanggal 2 - 6 Maret yang diringkaskan oleh Nieuwe Rotterdamsche Courant 28 April 1861
- Binnenlandscge Berigten. (1861, February 27). Javasche Courant, 2.
- surat kabar Java Bode pada 6 April 1861
- Van Doorn. 1926. Schets van de economische ontwikkeling der afdeeling Poerworedjo. Weltevreden : G. Kolff & Co.
- Putte, F. van de. (1864). Koloniaal Verslag 1861. I.D. Fransen van de Putte selaku Minister van Koloniën (Menteri Urusan Koloni) Koloniaal Verslag over 1861 adalah laporan tahunan resmi Pemerintah Belanda kepada Staten-Generaal (Parlemen Belanda) mengenai keadaan Hindia Belanda pada tahun 1861. Laporan ini diterbitkan pada tahun 1864 dan ditandatangani oleh Putte, F. Van De. (1864). Koloniaal Verslag 1861. Kemink en Zoon. https://archive.org/details/UNIVERSITEITLEIDEN-DIG-KOLONIAAL-VERSLAG-1861/page/n449/mode/2up
- Quack, J. (1862). Gedenkboek van den Watersnood in 1861.
- Veth, P. (1861). Aardrijkskundig en Statistisch Woordenboek van Nederlandsch-Indië.
- Wijck, H. C. Van Der. (1865). Koloniale Staatkunde: Een Beroep of het Nederlandsche Volk. Martinus Nijhoff
- Bleeker, P. (1871). Algemeene Vergadering van 14 November 1871: Middelen van Gemeenschap op Java.
- Bleeker. (1867). De Bevolkingsdichtheid Van Java en Madura Op Het Einde Van 1864. Bijdragen Tot de Taal-, Land-En Volkenkunde van Nederlandsch-Indië,
- Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indië 1861, Yang mencatat Pejabat Bupati Kutoarjo adalah Raden Tumenggung Pringgo Atdmodjo.
- Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië Tahun 1865, yang menuliskan Bahwa Pejabat Bupati Kutoarjo adalah Raden Tumenggung Pringgo Atdomojo dan di lantik 21 Juni 1860
- Dipradja, N.D.M.W. & Sampurno, S.R.L.A. (2023). Perkebunan Indigo di Karesidenan Bagelen pada Periode Sistem Budidaya (Cultuurstelsel) 1830–1870.
- Dos Santos, T. (1970). The Structure of Dependence.
- Syahbuddin. (2018). Involusi Pertanian di Jawa 1830–1900 dan Dampaknya terhadap Kehidupan Masyarakat Desa.
- Tanoyo, B. & Sari, N.A. (2022). Banjir Banyumas dalam Arsip Memorie van Overgave.
- Oemarmadi, R. & Poerbosewojo, M.K. (1964). Babad Banjumas.
- Telegram kesaksian korban banjir di solo 1861
- Telegram Banjir Di Solo 1861
- Plakat batas banjir di solo pada 1861 di benteng Vastenburg
- Lukisan Karya Raden Saleh yang menggambarkan kengerian Banjir Bandang Di Jawa Tengah bagian selatan dan solo Tahun 1861
- Peta Karesidenan Bagelen Tahun 1868, berdasarkan hasil survei lapangan yang dilakukan sejak 1857. Topografi kaart der Residentie Bagelen : opgenomen ten gouvernements gevolge besluit dd. 26 Mei 1857 no. 4 di bawah pimpinan Kolonel Directeur der genie WC von Schierbrand door den Kapitein RF de Seijff en 1e. teekenaar der Genie K. Wilsen onder medehulp van Strauss.
- Peta Karesidenan Bagelen Tahun 1855 yang dibuat Geografer Belanda bernama Pieter Melvil Vaan Carnbee dengan judul "Kaart Van Residentie Bagelen 1855" yang artinya Peta Karesidenan Bagelen Tahun 1855. merupakan bagian dari Atlas van Nederlandsch-Indië berskala 1:240.000, memuat nama-nama distrik, tetapi belum menunjukkan batas distrik secara rinci dan kualitas penggambaran reliefnya masih terbatas
- Cutter, S., & Hewitt, K. (1984). Interpretations of Calamity from the Viewpoint of Human Ecology. Geographical Review, 74(2), 226-228. https://doi.org/10.2307/21410
- Staatsblad van Nederlandsch-Indië No. 310 Tahun 1933
- Linck, J. A. (1935). De Reorganisatie van het Binnenlandsch Bestuur in Nederlandsch-Indië. Batavia: Landsdrukkerij















Tidak ada komentar:
Posting Komentar