De Overstrooming op Java: Banjir Besar Tahun 1861 di Kabupaten Kutoarjo dalam Kesaksian Surat Kabar Kolonial, Telegram Pemerintah Hindia Belanda, dan Laporan Teknik
Sejatininghidup02.blogspot.com
Abstrak :
Artikel ini mengkaji peristiwa banjir besar yang melanda Jawa bagian selatan, khususnya Karesidenan Bagelen, pada Februari 1861 dengan memberikan perhatian khusus pada wilayah Kabupaten Semawung (Kutoarjo). Kajian disusun melalui sintesis berbagai sumber primer kolonial, yaitu Javaasche Courant, Java Bode, Bataviaasch Handelsblad, Oostpost Soerabayasche Courant, Nieuwe Rotterdamsche Courant, Koloniaal Verslag 1861, Gedenkboek van den Watersnood in 1861, serta didukung karya Jhr. P.J. Boreel (1901) dan Van Doorn (1926). Hasil kajian menunjukkan bahwa bencana diawali oleh anomali iklim berupa kemarau panjang pada akhir tahun 1860 yang diikuti badai dan hujan ekstrem pada 19–23 Februari 1861. Kondisi tersebut menyebabkan meluapnya sungai-sungai utama di Jawa Tengah bagian selatan, terutama Sungai Bogowonto, Jali, dan Tepus, sehingga menimbulkan kerusakan besar pada permukiman, lahan pertanian, jaringan transportasi, serta mengakibatkan ratusan korban jiwa.
Kajian ini juga menunjukkan bahwa Kabupaten Kutoarjo merupakan salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah di Karesidenan Bagelen. Besarnya bencana tersebut mendorong pemerintah kolonial bersama para bupati di wilayah Bagelen untuk membenahi sistem pengelolaan air melalui pembangunan bendung, sodetan sungai, saluran drainase, dan kanal pengendali banjir. Di Kabupaten Kutoarjo, upaya tersebut diwujudkan melalui penataan aliran Sungai Jali dan pembangunan Kanal Saudagaran yang berkembang pada masa pemerintahan Bupati Pangeran Adipati Poerboatmodjo (1870–1910). Berdasarkan sumber-sumber kolonial, Poerboatmodjo juga dikenal aktif dalam organisasi yang bergerak di bidang pengelolaan lingkungan dan kehutanan di Hindia Belanda, beliau satu-satunya Bumiputera yang tergabung dalam organisasi tersebut. Beliau menunjukkan perhatian terhadap pengelolaan sumber daya alam pada masanya. Dengan demikian, banjir tahun 1861 tidak hanya menjadi salah satu bencana hidrologi terbesar di Jawa Tengah pada abad ke-19, tetapi juga menjadi titik penting dalam sejarah lingkungan serta mendorong perkembangan infrastruktur pengendalian banjir di wilayah eks Kabupaten Kutoarjo.
Upaya dan ikhtiar para generasi tua untuk meminimalisir banjir di bekas kabupaten Kutoarjo dibilang berhasil, tinggal sekarang generasi milenial meneruskan perjuangan para generasi tua untuk membangun drainase, tata kelola air, juga sumur serapan untuk menghilangkan titik-titik langganan banjir di musim penghujan seperti di kecamatan butuh, kecamatan pituruh, kecamatan grabag, kecamatan Ngombol, senepo dan sebagainya.
"Puncak terjadi banjir di kutoarjo pada tanggal 23 Februari 1861 ketika banjir besar setinggi 4,5 meter menggenangi Kota Kutoarjo." (Sumber : Jhr. P.J. Boreel. 1901. De verbetering der soedagaran leiding dalam de ingeneur no. 35)
Di tahun 1861 Kabupaten Kutoarjo dipimipin oleh Bupati ke-3 R.M.T Pringgoatmodjo, banjir di tahun itu meluluh lantakan Kota Kutoarjo dan sekitarnya, masjid rusak, beberapa tempat tertimbun sedimen banjir setinggi satu meter.
Banjir di bulan Februari tahun 1861 teryata tidak hanya terjadi di kabupaten Kutoarjo tapi juga di seluruh pesisir pantai selatan Jawa Tengah yang meliputi karesidenan Bagelen, karesidenan banyumas, Karesidenan Kedu, bahkan di Kasunanan Surakarta serta Kasultanan yogyakarta.
Overstrooming op Java yang ditulis Surat Kabar Nieuwe Rotterdamsche Courant pada 28 April 1861 disebutkan wilayah terdampak banjir di Jawa Tengah adalah Karesidenan Bagelen meliputi kabupaten Ledok/Wonosobo, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kutoarjo, Kabupaten Ambal, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Karanganyar.
Sedangkan Karesidenan Kedu meliputi Temanggung dan Magelang di kawasan yang sebenernya tinggi dari permukaan laut tapi ikut terdampak pula, Bahkan di Karesidenan Banyumas yang meliputi Banyumas, Purwokerto, Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga.
Selain itu wilayah Kasunanan Surakarta dan wilayah Kasultanan Yogyakarta juga turut terdampak hebat. Beberapa wilayah Jawa Timur seperti Surabaya dan Pacitan dilaporkan terkena banjir hebat. Demikian pula di Jawa Barat yaitu Krawang.(Sumber : Surat Kabar Nieuwe Rotterdamsche Courant pada 28 April 1861)
merujuk laporan dari surat kabar Java Bode 6 April 1861 mengenai banjir di wilayah Karesidenan Bagelen, bahwa sejak 25 Desember 1860 yang biasanya musim cuaca berhujan, justru mengalami kekeringan hebat dan panas yang luar biasa (jaargetijde buitengewone droogte en hitte). Situasi ini menimbulkan rekahan-rekahan tanah menganga di sejumlah tempat termasuk di perbukitan yang sangat berbahaya jika hujan deras turun secara tiba-tiba karena di kwatirkan tanah menjadi longsor.
Kekeringan itu berlangsung hingga akhir Januari 1861. dan Pada 19 Februari 1861 dilaporkan angin kencang mulai bertiup dari arah Barat Daya, lalu Sore hari 20 Februari, hembusan angin yang awalnya terputus-putus berubah menjadi badai yang ganas disertai dengan hujan lebat yang semakin meningkat intensitasnya selama 24 jam. Kemudian membentuk lingkaran besar, yang titik pusatnya terbentuk kira-kira di Kabupaten Kutoarjo, bahwa ini merupakan deskripsi dalam laporan kolonial, bukan hasil analisis meteorologi modern yang Menurut laporan Java Bode (6 April 1861), badai tersebut tampak membentuk pusaran dengan pusat yang diperkirakan berada di sekitar Kabupaten Kutoarjo."
di Kabupaten Ambal, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Ledok(Wonosobo) , dan Kabupaten Purworejo pohon beringin, pohon kanari, pohon asam, dan pohon jati terbesar berjumlah ratusan tumbang oleh kekuatan badai, Bahkan ranting tipis semak bambu pun tidak mampu berdiri akibat menahan hembusan angin yang kencang.
Puncaknya pada 21-22 Februari 1861, hujan deras terus menerus turun tanpa henti. Pada malam 22 hingga 23 Februari 1861 semua sungai, terutama yang berhulu di dataran tinggi Ledok, mulai meluap. Peluapan itu begitu tiba-tiba sehingga dalam waktu kurang dari satu jam ratusan desa dan ribuan hektar tanah terendam banjir, dan banyak keluarga yang sedang tidur nyenyak meninggal dalam gelombang air.
Di Kabupaten Purworejo air Sungai Bogowonto meluap dan luapaan airnya yang menyebabkan kerusakan terbesar di sana. Ketinggian air disebut, naik pada ketinggian yang belum pernah terjadi.
Pada malam 22 Februari, ketinggiannya mencapai 25 kaki di atas ketinggian air atau sekitar 7,62 meter. Arus yang mengamuk menyapu ke mana-mana di mana sebuah tikungan memotong jalannya, menyapu seluruh negeri, menyeret orang, ternak, rumah, dan pohon, bahkan pohon kelapa di jalurnya.
Jembatan Bogowonto akhirnya runtuh dan ayu-kayunya hanyut serta ditambah dengan ribuan batang pohon yang tumbang oleh aliran sungai atau terbawa oleh tanah, dilemparkan dengan kekuatan penghancur melintasi desa.
Sungai Jali dan Sungai Tepus di Kutoarjo meluap. Balok kayu banyak yang terbawa sampai ke jalan termasuk ke depan rumah kontrolir di jalan Kenari. Mayat seorang pribumi berjubah imam ditemukan di dalam sumur di pekarangan rumah sang kontrolir, yang kemudian dikenali sebagai haji, 8 paal (1 Paal setara dengan 1.509 meter atau dibulatkan menjadi 1 Paal = 1.5 kilometer) dari desa Loning.
Sebagaimana Bagelen dan Kedu yang dijadikan karesidenan pasca Perang Jawa berakhir (1831) demikian pula Banyumas. Karesidenan Banyumas meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purwokerto, Banjarnegara, Purbalingga.
Menurut laporan Javaasche Courant 2 sampai 6 Maret yang diringkaskan oleh Nieuwe Rotterdamsche Courant (28 April 1861) disebutkan pada malam 22-23 Februari, sungai Serayu sangat meluap sehingga air berada dalam jarak tiga puluh kaki dari jalan utama.
Air pasang datang begitu tiba-tiba sehingga penduduk harus mengungsi di atap dan di pepohonan. Beberapa penduduk Eropa telah menghabiskan 36 jam di atap. Mereka bahkan tidak bisa menyelamatkan pakaian mereka. Pada tanggal 25 Februari air sudah surut jauh. Rute besar ke pusat kota telah dibersihkan dari air. Hanya lapisan lumpur yang tersisa.
Kabupaten Kebumen yang berada di wilayah Karesidenan Bagelen mengalami sejumlah dampak banjir yang mematikan. Beberapa wilayah yang tercatat dalam surat kabar Java Bode pada 6 April 1861 adalah di Jlegi, bendung Bedegolan, Kutowinangun, Ambal.
Selain itu seluruh wilayah Prembun, sebagian besar Kedungtawon Kutowinangun dalam beberapa saat terendam banjir. Seperti halnya sungai Bogowonto, arus deras yang memotong lekukan di sepanjang tepian sungai, mengalir deras melalui desa dan ladang 148 desa menunjukkan pemandangan kehancuran yang mengerikan setelah air surut.
Di mana arus deras tidak membawa rumah-rumah, maka sejumlah rumah tergeletak runtuh dan berserakan di tanah. Di desa Kedoeg-soemoer, Ketjeme, Babat dan Tersobo, bahkan pohon kelapa pun tak luput. Di Djlegi, dari 151 jiwa, hanya 44 yang masih hidup. Semua yang lain binasa dalam gelombang.
Di Kabupaten Ambal, kerusakan di desa relatif kecil. Namun rawa-rawa besar di sana, meluap jauh melampaui tepiannya. Sehingga airnya menembus ke jalur desa Urut Sewu dan penduduk harus mengungsi ke tempat bukit pasir yang lebih tinggi.
Jika dalam laporan surat kabar Java Bode pada 6 April 1861 disebutkan di Ambal tidak ada korban, barangkali karena belum teridentifikasi dengan baik. Sementara dalam surat kabar Javaasche Courant 2 dan 6 Maret 1861 yang dikutip Nieuwe Rotterdamsche Courant 28 April 1861 disebutkan bahwa orang-orang Ambal telah melarikan diri ke bukit-bukit pasir.
Lebih dari 700 orang telah tewas. Sejak 26 Februari, situasinya membaik. Kabel telegraf telah digali hingga ke perbatasan Kedu. Sungai-sungai mulai surut pada tanggal itu. angka tersebut merupakan korban yang berhasil didata saat itu, karena kemungkinan jumlah sebenarnya lebih besar.
Sementara itu, debit air di Bendung Bedegolan mencapai ketinggian lebih dari 40 kaki atau kisaran 12,92 meter dan meluap mencapai desa Jlegi dan menghancurkan areal pesawahan dan rumah warga desa.
Di zaman dahulu, terdapat sebuah rawa besar bernama Rawa Wawar yang terhampar di antara perbatasan Kabupaten Kebumen dan Purworejo. Terbentuknya Rawa Wawar dipengaruhi oleh keberadaan bentangan bukit pasir di selatannya yang dikenal sebagai Urut Sewu.
Hal ini menyebabkan sejumlah sungai di utaranya tidak dapat mengalirkan airnya langsung ke laut dan menggenang menjadi sebuah rawa. Pada tahun 1830, dibangun sebuah jalan yang menghubungkan Kutoarjo dan Kebumen. Jalan tersebut membelah Rawa Wawar dan menurut kesaksian Residen Bagelen pertama Valck, jalan tersebut mengingatkannya pada sebuah tanggul. Pada tahun 1834, sebuah muara baru digali di Truntung sehingga air dari Sungai Luk Ulo dapat langsung mengalir ke laut. Sebagian hamparan rawa mengering dan akhirnya menjadi dataran baru yang dapat digunakan untuk kegiatan pertanian. Namun hal tersebut menyisakan masalah karena saat musim hujan dataran tersebut kerap tergenang banjir. Salah satu yang paling parah terjadi pada tahun 1861. Oleh karena itu, antara tahun 1861 dan 1870, sejumlah upaya dilakukan untuk membenahi sistem drainase di sana. Misalnya dengan membuat bendung di Sungai Kedungbener dan menggali saluran penghubung dari sungai itu ke Sungai Lok Ulo pada tahun 1861. Sumber : Van Doorn. 1926. Schets van de economische ontwikkeling der afdeeling Poerworedjo. Weltevreden : G. Kolff & Co.
Banjir Bandang Di Eks Kabupaten Kutoarjo dan seluruh Jawa Tengah bagian selatan termasuk solo di lukiskan oleh pelukis terkenal Raden Shaleh.
Banjir besar tahun 1861 merupakan salah satu bencana hidrologi terbesar dalam sejarah Jawa Tengah, khususnya wilayah bagian selatan, pada abad ke-19. Dampaknya yang sangat luas mendorong pemerintah kolonial bersama para bupati di Karesidenan Bagelen untuk melakukan berbagai upaya penanggulangan banjir melalui pembangunan infrastruktur pengelolaan air, seperti bendung, sodetan sungai, saluran drainase, serta perbaikan jaringan irigasi.
Di Kabupaten Kutoarjo, upaya tersebut diwujudkan melalui penataan aliran Sungai Jali dan pembangunan Kanal Saudagaran (Kali Pereng), yang berfungsi mengurangi luapan air menuju Kota Kutoarjo ketika musim penghujan. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam mengendalikan banjir sekaligus melindungi pusat pemerintahan, permukiman, dan lahan pertanian.
Dengan demikian, bencana tahun 1861 tidak hanya meninggalkan jejak penderitaan dan kerusakan yang mendalam, tetapi juga menjadi momentum penting lahirnya pembenahan sistem tata kelola air di wilayah eks Kabupaten Kutoarjo dan sekitarnya. Jejak upaya tersebut masih dapat dikenali hingga kini dan menjadi warisan sejarah yang menunjukkan pentingnya pengelolaan lingkungan serta mitigasi bencana bagi generasi masa kini dan mendatang.
Koran Surat Kabar Samarangsch Advertentie-Blad
van Vrijdag 1 Maart 1861. No. 9.
Menuliskan mengenai banjir besar Bulan Februari Tahun 1861 di Jawa
Menuliskan mengenai banjir besar Bulan Februari Tahun 1861 di Jawa termasuk melanda Kutoarjo adalah sebagai berikut :
EXTRA-BIJVOEGSEL
BEHOORENDE BIJ HET
Samarangsch Advertentie-Blad
van Vrijdag 1 Maart 1861. No. 9.
Kartasoera nabij Solo, 24 Febr. 1861.
God zij dank! ik ben gered! Gisteren middag 12 ure heb ik per prauw het dak van mijn huis kunnen verlaten, waarin ik den geheelen nacht, gezeten heb. 17 voet was het water in mijn huis toen ik het om twaalf uur verliet. De Europeanen zaten op de daken en schreeuwden om hulp. Hoevele Javanen dood zijn, mag God weten; overal lijken van mannen, vrouwen en kinderen, paarden, karbouwen enz.
Mijn geheele apotheek is vernield. Alle meubelen, mijne paarden verdronken. Gisteren avond is het water nog 1 voet gerezen.
De paarden van Mevrouw v. Z.... staan boven in de eerste verdieping van het huis van V.............. . Nooit zag men zulk eene ramp. ...
P.S. God zij dank! daar komt zoo even bericht, dat het water 2½ voet gezakt is. Mijn huis staat onbeschadigd. Alle Europeanen zijn op de wallen van het fort. Ik ga per prauw naar de stad. Deel dezen aan al mijne vrienden mede. Zeg aan den Heer B.... dat H.... met zijne dochters boven op het balkon stonden, toen ik om 12 uur in de prauw voorbij kwam. In het residentiehuis stond het water tot onder de stolp. In de kazerne bij den keizer 4 voet hoog. Ik hoor dat Dr. H...... in zijn huis gebleven is. Nooit heeft zoo iets op Solo plaats gehad. De hoogste bandjir van vroeger was 1 voet in mijn huis.
Afgezonden Zondag middag 2 uur van Kartasoera.
---
Terjemahan Bahasa Indonesia :
"Lampiran Khusus Surat Kabar Samarangsch Advertentie-Blad
Jumat, 1 Maret 1861, No. 9
Kartasura dekat Solo, 24 Februari 1861
Syukur kepada Tuhan! Aku selamat!
Kemarin siang pukul 12 saya akhirnya dapat meninggalkan atap rumah saya dengan menggunakan perahu, tempat saya bertahan sepanjang malam. Ketika saya meninggalkan rumah pada pukul dua belas siang, ketinggian air di dalam rumah mencapai 17 kaki (sekitar 5,18 meter).
Orang-orang Eropa berada di atas atap rumah sambil berteriak meminta pertolongan. Berapa banyak orang Jawa yang meninggal, hanya Tuhan yang mengetahui. Di mana-mana terlihat mayat laki-laki, perempuan, anak-anak, kuda, kerbau, dan hewan lainnya.
Seluruh apotek saya hancur. Semua perabot rumah tangga rusak, dan kuda-kuda saya tenggelam. Hingga tadi malam air bahkan masih naik sekitar 1 kaki lagi.
Kuda-kuda milik Nyonya v. Z.... kini berada di lantai dua rumah V......... Belum pernah terlihat bencana sebesar ini.
P.S. Syukur kepada Tuhan! Baru saja datang kabar bahwa air telah surut sekitar 2½ kaki. Rumah saya ternyata tetap utuh dan tidak rusak. Semua orang Eropa kini berada di benteng pertahanan. Saya akan pergi ke kota menggunakan perahu.
Sampaikan berita ini kepada semua sahabat saya. Beritahukan kepada Tuan B.... bahwa H.... bersama putri-putrinya masih berada di balkon lantai atas ketika saya melintas dengan perahu pada pukul 12 siang.
Belum pernah terjadi bencana seperti ini di Solo. Banjir tertinggi yang pernah terjadi sebelumnya hanya mencapai sekitar 1 kaki di dalam rumah saya.
Dikirim dari Kartasura pada hari Minggu pukul 2 siang."
Kesaksian ini mempunyai Nilai historis dan
merupakan sumber primer yang sangat penting mengenai banjir besar Februari 1861 di Jawa. Laporan ini memperlihatkan bahwa :
Di Kartasura–Solo tinggi genangan di dalam rumah mencapai 17 kaki (±5,18 meter).
Orang-orang menyelamatkan diri ke atap rumah dan dievakuasi menggunakan perahu.
Korban jiwa manusia dan ternak sangat banyak.
Kerusakan harta benda berlangsung secara luas.
Penulis menyebut banjir tersebut sebagai banjir terbesar yang pernah terjadi di Solo hingga saat itu.
Kesaksian ini memperkuat laporan-laporan sezaman dari Javaasche Courant, Nieuwe Rotterdamsche Courant, dan Java Bode bahwa banjir besar Februari 1861 merupakan bencana regional yang melanda sebagian besar Jawa Tengah, termasuk Kutoarjo, Bagelen, Kedu, Banyumas, Surakarta, Yogyakarta, hingga wilayah pesisir selatan.
Berdasarkan sintesis dari Javasche Courant, Java Bode, Bataviaasch Handelsblad, Oostpost Soerabayasche Courant, Nieuwe Rotterdamsche Courant, Koloniaal Verslag 1861, dan Gedenkboek van den Watersnood in 1861, kronologi banjir besar di Karesidenan Bagelen dapat disusun sebagai berikut :
- Kronologi Banjir Besar Bagelen Tahun 1861
- Akhir Desember 1860 – Januari 1861 Bagelen mengalami musim yang tidak biasa, yakni kekeringan dan hawa panas berkepanjangan. Tanah menjadi retak-retak sehingga daya serap air menurun ketika hujan datang.
- 19 Februari 1861 Angin kencang mulai bertiup dari arah barat daya, menandai perubahan cuaca yang ekstrem.
- 20 Februari 1861 Hujan deras mulai mengguyur wilayah Bagelen dan daerah sekitarnya. Intensitas hujan terus meningkat sepanjang malam.
- 21–23 Februari 1861 (Puncak Bencana) Badai disertai hujan sangat lebat menyebabkan sungai-sungai besar seperti Bogowonto, Progo, Serayu, dan Bengawan Solo meluap. Air bah menerjang Karesidenan Bagelen, terutama Koetoardjo (Kutoarjo), Prembun, Ambal, Ledok, dan wilayah menuju Kebumen. Sawah yang hampir panen hancur, ribuan bouw lahan pertanian terendam, rumah-rumah hanyut, jalan dan jembatan putus, serta jaringan telegraf rusak.
- 26–27 Februari 1861 Laporan resmi pertama diterbitkan dalam Javasche Courant. Disebutkan bahwa: Kerusakan di Prembun sama besarnya dengan Koetoardjo, Penduduk Ambal mengungsi ke gumuk pasir pantai, Lebih dari 700 orang diperkirakan meninggal di wilayah Ambal, Di Ledok korban diperkirakan sekitar 300 orang, Harga beras di Purworejo melonjak hingga Ζ20 per pikul karena jalur distribusi terputus.
- Awal Maret 1861 Air mulai surut. Jalur telegraf ke Magelang kembali berfungsi. Pemerintah kolonial mulai membuka kembali jalan menuju Kedu, meskipun kendaraan masih belum dapat melintas.
- 16–20 Maret 1861 Surat kabar Javasche Courant, Java Bode, Bataviaasch Handelsblad, dan Oostpost Soerabayasche Courant memuat laporan lanjutan mengenai besarnya kerusakan, korban jiwa, dan upaya perbaikan infrastruktur oleh pemerintah kolonial.
- 17 April 1861 Berita banjir Jawa mulai dimuat di surat kabar Belanda, termasuk De 's-Gravenhaagsche Nieuwsbode, sehingga bencana ini diketahui luas di negeri Belanda.
- 28 April 1861 Nieuwe Rotterdamsche Courant menerbitkan artikel "De Overstrooming op Java", yang merangkum kondisi di Bagelen, Kutoarjo, Kebumen, Ambal, dan Ledok berdasarkan laporan resmi pemerintah Hindia Belanda.
- Tahun 1862 J. Quack menerbitkan Gedenkboek van den Watersnood in 1861, yang mendokumentasikan banjir besar 1861 di Belanda maupun Hindia Belanda beserta data korban, kerusakan, dan bantuan pemerintah.
Untuk sejarah Kabupaten Kutoarjo, peristiwa banjir tahun 1861 sangat penting karena menunjukkan bahwa Kutoarjo merupakan salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah di Karesidenan Bagelen, sejajar dengan Prembun. Peristiwa ini juga berdampak besar pada pertanian, transportasi, komunikasi (telegraf), dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat, sehingga layak dijadikan satu bab tersendiri dalam sejarah Kabupaten Semawung/Kutoarjo.
Sintesis berbagai sumber primer menunjukkan bahwa banjir Februari 1861 merupakan bencana hidrometeorologi terbesar yang pernah tercatat di Karesidenan Bagelen pada abad ke-19. Kabupaten Semawung (Kutoarjo) termasuk wilayah yang menerima dampak paling berat bersama Prembun dan Purworejo. Besarnya kerusakan mendorong pemerintah kolonial melakukan pembenahan tata kelola air melalui pembangunan bendung, sodetan sungai, kanal, serta perbaikan jaringan drainase yang menjadi cikal bakal sistem pengendalian banjir di wilayah eks Kabupaten Kutoarjo pada paruh kedua abad ke-19.
Sumber :
- Jhr. P.J. Boreel. 1901. De verbetering der soedagaran leiding dalam de ingeneur no. 35
- Surat kabar Javaasche Courant 2 dan 6 Maret 1861
- Surat kabar Nieuwe Rotterdamsche Courant 28 April 1861
- Javaasche Courant tanggal 2 - 6 Maret yang diringkaskan oleh Nieuwe Rotterdamsche Courant 28 April 1861
- surat kabar Java Bode pada 6 April 1861
- Van Doorn. 1926. Schets van de economische ontwikkeling der afdeeling Poerworedjo. Weltevreden : G. Kolff & Co.
- Telegram kesaksian korban banjir di solo 1861
- Telegram Banjir Di Solo 1861
- Plakat batas banjir di solo pada 1861 di benteng Vastenburg
- Lukisan Karya Raden Saleh yang menggambarkan kengerian Banjir Bandang Di Jawa Tengah bagian selatan dan solo Tahun 1861
By. Nka




Tidak ada komentar:
Posting Komentar